Anda di halaman 1dari 15

http://badrussetiawan1.blogspot.com/2009/04/penangananpasca-panen-pengemasan_02.

html Thursday, April 2, 2009


Penanganan Pasca Panen & Pengemasan Sayuran
Sayuran setelah dipanen masih tetap mengalami proses hidup, dalam arti masih berlangsungnya respirasi, menyerap oksigen (O2) serta memproduksi CO2 dan gas ethylene. Respirasi sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat kesegaran, sehingga akan mempengaruhi atau menyebabkan penurunan kualitas sayuran. Proses respirasi ini ada yang berjalan lambat seperti bawang, kentang, ubi jalar; ada yang berjalan sedang seperti kol/kubis, tomat, kentang muda, mentimun; ada yang berjalan cepat seperti buncis; dan ada yang berjalan sangat cepat seperti jagung manis. Kualitas suatu sayuran tidak dapat ditingkatkan atau diperbaiki setelah dipanen, akan tetapi hanya dapat dipertahankan. Cara untuk dapat mempertahankan kualitas tersebut antara lain dengan melakukan: 1. Penanganan pasca panen secara baik 2. Penyimpanan di tempat yang cocok/ideal 3. Pengemasan yang benar. Beberapa kerugian yang diakibatkan oleh penanganan pasca panen yang kurang benar antara lain : 1. Penurunan bobot berat 2. Mechanical injury : - Memar yang menyebabkan penurunan mutu - Goresan pada lapisan pelindung kulit yang bisa menyebabkan masuknya bakteri. 3. Mempercepat kematangan sehingga menurunkan shelf life 4. Perubahan warna 5. Penampilan dari sayuran tersebut kurang menarik : - Layu - Keriput

Beberapa cara penanganan pasca panen yang tepat antara lain : 1. Menurunkan suhu produk sayuran secepat mungkin. Setiap jenis produk sayuran memerlukan suhu yang berbeda-beda. Sebagai contoh : sayuran daun biasanya disimpan pada suhu antara 0 4 C, sedangkan untuk sayuran buah biasanya disimpan pada suhu 10 14 C. 2. Kurangi kemungkinan penguapan (transpirasi). 3. Sayuran yang sensitive terhadap gas ethylene jangan dicampur dengan sayuran yang mudah memproduksi ethylene. 4. Penanganan pada waktu panen harus hati-hati (jangan sembrono dan kasar). Di samping penanganan pasca panen yang harus dilakukan secara benar faktor pengemasan juga perlu diperhatikan. Tujuan pengemasan antara lain adalah : 1. 2. 3. 4. Menghambat penurunan bobot berat akibat transpirasi. Meningkatkan citra produk. Menghindari/mengurangi kerusakan pada waktu pengangkutan. Sebagai alat promosi.

Posted by Badrus at 1:10 AM

Jumat, 21 Oktober 2011


Prospek Budidaya Kubis
TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN AGRIBISNIS PROSPEK AGRIBISNIS TANAMAN KUBIS

Disusun Oleh : Kelompok 5 M Gilang Ramadhan Inez Saraswati Raka Sukma Wijaya Supriyani Rikky Triyadi 240110090080 240110090087 240110090122 240110090135 240110097001

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Tanaman Kubis atau kol pada mulanya merupakan tanaman liar di daerah subtropik. Tanaman kubis ini berasal dari Eropa dan Asia kecil, terutama tumbuh di daerah Great Britain dan Mediterania. Asal-usul tanaman kubis budidaya diduga berasal dari kubis liar yang tumbuh di sepanjang pantai Laut Tengah, Inggris, Denmark, dan sebelah Utara Perancis Barat serta pantai Glamorgan. Pada mulanya kubis liar tumbuh menahun dan dua musin, kemudian oleh orang Eropa dipanen biji-bijinya. Dari sejumlah 5000 tanaman diperoleh 70.000 biji kubis yang selanjutnya ditanam kembali. Pada tahapan ini diketemukan turunan tanaman kubis yang akarakarnya membengkak dan daun-daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Orang-orang Inggris purba menemukan tanaman kubis membentuk bulatan seperti telur, sehingga mereka menyebutnya dengan nama Celtic Bresic. Penemuan tanaman kubis sejak tahun 2000 1500 sebelum Masehi (SM) oleh orang-orang Mesir dan Yunani kuno. Pemeliharaan tanaman kubis pertama kali terjadi di Eropa, dan setelah melampaui waktu 100 tahun tanaman ini menjadi popular sebagai bahan makanan. Sehingga sebagian kalangan menyebutkan tanaman kubis yang ada sekarang merupakan hasil seleksi dari tumbuhan kubis liar yang tumbuh sejak 2000 tahun yang lalu. Pada abad IX, kubis sudah tersebar di benua Eropa dan Amerika yang didatangkan oleh kolonialisasi di kawasan tersebut. Sebelum abad XIV di Inggris baru mengenal kubis yang bentuk daunnya membulat seperti kulit batang tanaman. Sekitar abad XIX pelajaran dan memelihara tanaman kubis telah dilakukan di Hokaido Jepang. Pada tahun 1970 kubis telah tersebar ke seluruh dunia, yang terdiri dari 20 negara Eropa, 18 negera Asia, dan meluas ke Negara-negara lain di kawasan Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

1.2 Daerah penyebaran Tanaman kubis didatangkan ke Indonesia belum ada keterangan yang pasti, tetapi diduga pada abad XVII dan XIX yang dibawa oleh Bangsa Belanda dan Spanyol. Pusat pertanaman kubis di Indonesia umumnya di dataran tinggi. Beberapa daerah yang dikenal sebagai pusat penyebaran kubis adalah Cipanas ( Cianjur), Pangalengan, Lembang, Argalingga dan Punten (Malang). Daerah-daerah yang banyak ditanami tanaman kubis diantaranya Cipanas,

Lembang, Pangalengan, Garut, Argalingga,

Wonosobo,

Bedegul

(Bali) dan daerah

pengembangan lainnya yang tidak hanya terkonsentrasi di pulau jawa saja.

1.3 Kegunaannya Kubis atau kol dikonsumsi sebagai sayuran daun, diantaranya lalap mentah dan masak, lodeh, campuran bak mie, lotek, pecel, asinan dan aneka makanan lainnya. Di Argalingga (Majalengka), tunas kubis dipelihara setelah dipanen kropnya yang ternyata laku dijual ke pasaran ekspor dengan tingkat harga beberpa kali lipat dari harga kropnya. Tunas kubis ini dipesan oleh Singapura dan Malaysia untuk bahan lalap, juga dijadikan asinan. Selain untuk makanan, tanaman kubis dapat dijadikan sebagai obat, yaitu dapat menyembuhkan penyakit Hyper acidita yang diakibatkan oleh pengeluaran asam lambung berlebih.

1.4 Mengenal tanaman kubis Berdasarkan tata nama sistematika botani, tanaman kubis diklasifikasikan ke dalam : 1. Division 2. Subdivision 3. Kelas 4. Ordo 5. Family 6. Genus 7. Spesies : Spermatophyte : Angiospermae : dicotyledonae : Papavorales : Cruciferae ( Brassicaceae) : Brassica : Brassica oleracea L. var. capitata.L. Berikut ini adalah lima jenis tanaman kubis yang telah umum dibudidayakan di dunia : 1. Kubis krop atau kol, kubil telur. Jenis kubis ini memiliki cirri-ciri daun-daunnya dapat saling menutup satu sama lain membentuk krop (telut). 2. Kubis daun atau kubis stek. Jenis kubis ini ditandai dengan daun-daunnya tidak dapat membentuk krop, sehingga dikenal dengan nama kubis kale. 3. Kubis umbi, atau popular disebut Kohirabi. Jenis kubis ini memiliki cirri pada pangkal batang nya dapat membentuk umbi yang berbentuk bulat samapai bundar. Umbi dan daun-daunnya enak disajikan lalap atau disayur.

4. Kubis tunas atau kubis babat, atau popular disebut Brussels Sprouot . Ciri-ciri kubis ini adalah tunas samping kiri dan kanan sampai bagian atas membentuk crop kecil dengan diameter 2,5 5 cm , sehingga dalam satu tangkai terdiri dari puluhan krop kecil. 5. Kubis bunga. Kubis bunga memiliki cirri-ciri dapat membentuk massa bunga yang berawrna putih atau putih kekuningan, sedangkan massa bunga broccoli berwarna hijau atau hijaukebiruan. Diantara kelima jenis kubis di atas hanya kubis krop dan kubis bunga yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia.

BAB II ISI

2.1 Sarana dan prasarana budidaya kubis Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang proses budidaya kubis adalah bibit, pupuk organic, pupuk buatan, dan pestisida serta penyewaan lahan. 1. Benih yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Benih utuh, artinya tidak luka atau tidak cacat. b. Benih harus bebas hama dan penyakit. c. Benih harus murni, artinya tidak tercampur dengan biji-biji atau benih lain serta bersih dari kotoran. d. Benih diambil dari jenis yang unggul atau stek yang sehat. e. Mempunyai daya kecambah 80%. f. Benih yang baik akan tenggelam bila direndam dalam air.

Penyiapan benih dimaksudkan untuk mempercepat perkecambahan benih dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Cara-cara penyiapan adalah sebagai berikut : a. Sterilisasi benih, dengan merendam benih dlam larutan fungisida dengan dosis yang dianjurkan atau dengan menggunakan air panas pada suhu 55o C selama 15 30 menit. b. Penyeleksian benih, dengan merendamkan biji ke dalam air , dimana benih yang baik akan tenggelam. c. Rendamkan benih selama lebih kurang 12 jam atau sampai dengan benih terlihat pecah agar benih cepat berkecambah. Pada teknik penyemaian benih, hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan lokasi penyemaian antara lain: tanah tidak mengandung hama dan penyakit,mendapatkan penyinaran matahari yang cukup, dan dekat dengan sumber air bersih. Adapun penyemaian dapat dilakukan dengan cara penyemaian di bendengan, penyemaian di bumbung, dan penyemaian langsung. Berikut ini merupakan cara pemeliharaan penyemaian agar bibit tumbuh dengan baik. a) Melakukan penyiraman setiap hari pagi dan sore yang tergantung pada cuaca. b) Pengaturan buka dan tutup naungan penyemaian c) Penyiangan terhadap tanaman pengganggu d) Pemupukan larutan urea dengan konsentrasi 0,5 gram/liter dan penyemprotan pestisida denga dosis dari yang diperlukan e) Pemberian insektisida dan fungisida untuk mengusir hama pengganggu. Pupuk yang dibutuhkan untuk budidaya kubis dengan luasan satu hektar diantaranya pupuk organik sebanyak 16.785 kg dan pupuk buatan yang terdiri dari : 1. NPK 2. Urea 3. PONSKA 4. KNO3 5. PROGIB 6. SUPERGIRO 785 kg 357 kg 357 kg 5 kg 7 kg 2 kg

Selain pupuk dan bibit sarana lain yang diperlukan dalam budidaya kubis adalah pestisida. Rincian penggunaan pestisida pada lahan satu hektar: 1. Insektisida 57,44 liter

2. Fungisida 10,71 kg Sedangkan pengadaan lahan dapat menyewa dengan harga pada kisaran Rp. 2.500.000,00. Lahan yang digunakan sebaiknya lahan yang telah ditanami tanama Cruciferae. Sebelumnya untuk mengetahui kecocokan lahan dilakukan pengukuran pH dan analisis tanah tentang kandungan bahan organiknya.

2.2 Sistem budidaya kubis Pada system budidaya kubis ini dimulai dengan mempersiapkan lahan. Tahapan pertama persiapan lahan adalalah tanah digemburkan dan dibalik dengan dicangkul atau dibajak sedalam 40-50 cm, dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan diberi pupuk dasar. Kemudian, dibiarkan terkena sinar matahari selama 1-2 minggu untuk memberikan kesempatan oksidasi gas-gas beracun dan membunuh sumber-sumber protein. Setelah lahan dibiarkan 1-2 minggu kemudian tahapan selanjutnya adalah pembuatan bendengan. Bendengan dibuat dengan arah Timur-Barat, lebar 80-100 cm, tinggi 35 cm dan panjang nya tergantung keadaan lahan. Lebar parit antara bendengan lebih kurang 40 cm (parit pembuangan air PPA 60cm) dengan kedalaman 30 cm. Selanjutnya bendengan diberi kapur yang berfungsi untuk menaikan pH tamah dan mencegah kekurangan unsure hara mikro dan makro. Dosis pengapuran bergantung kisaran angka Ph tanah. Umumnya antara 1-2 ton kapur per hektar. Jenis kapur yang digunakan antara lain calsit dan dolimit. Bendengan siap tanam diberi pupuk dasar yang banyak mengandung unsure Nitrogen dan Kalium, yaitu Za, Urea, TSP, dan KCL masing-masing 250 kg, serta Borax atau Borate 10-20 kg/ha. Untuk pemberian pupuk kandang besarnya 0.5 kg setiap tanaman kubis. Kubis telur hendaknya ditanam pada permulaan musim kemarau, agar terhindar dari berbagai macam penyakit dan hama di musim penghujan. 1. Waktu tanam yang baik yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00-10.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00, karena pengaruh sinar matahari dan temperatur tidak terlalu tinggi. Cara penanaman tanaman kubis adalah sebagai berikut : 1. Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang atau, ditanam bersama dengan bumbungnya, bila disemai pada polybag plastik maka dikeluarkan terlebih dahulu dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuktepuk secara perlahan hingga bibit keluar dari polybag.

2. Bila disemai dalam bedengan diambil dengan solet (sistem putaran), caranya menggambil bibit beserta tanahnya sekitar 2,5-3 cm dari batang sedalam 5 cm. 3. Bibit segera ditanam pada lubang dengan memberi tanah halus sedikit-demi sedikit dan tekan tanah perlahan agar benih berdiri tegak. 4. Siram bibit dengan air sampai basah benar. Setelah tahap penanaman selesai, selanjutnya adalah proses pemeliharaan tanaman kubis yang telah ditanam. Adapun tahapan pemeliharaan tanaman kubis adalah : a. Penjarangan dan Penyulaman Penjarangan dilakukan saat pemindahan bibit ke lahan, yaitu saat bibit berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai (semaian biji) atau berumur 28 hari (semaian stek). Bila bibit disemai pada bumbung maka penjarangan tidak dilakukan. Sedangkan penyulaman hampir tidak dilakukan karena umur tanaman yang pendek (2-3 bulan). b. Penyiangan dilakukan bersama dengan penggemburan tanah sebelum pemupukan atau bila terdapat tumbuhan lain yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Penyiangan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam karena dapat merusak sistem perakaran tanaman, bahkan pada akhir penanaman sebaiknya tidak dilakukan. c. Pembubunan Pembumbunan dilakukan bersama penyiangan dengan mengangkat tanah yang ada pada saluran antar bedengan ke arah bedengan berfungsi untuk menjaga kedalaman parit dan ketinggian bedeng dan meningkatkan kegemburan tanah d. Perempelan Perempelan cabang/tunas-tunas samping dilakukan seawal mungkin untuk menjaga tanaman induk agar pertumbuhan sesuai harapan, sehingga zat makanan terkonsentrasi pada pembentukan bunga seoptimal mungkin. e. Pemupukan Pemupukan susulan I dilakukan dengan urea 1gram per tanaman melingkari tanaman dengan jarak 3 cm disaat tanaman kelihatan hidup untuk mendorong pertumbuhan. Pemupukan kedua dilakukan pada umur 10-14 hari dengan dosis 3-5 gram, dengan jarak 7-8 cm. Pemupukan ketiga dilakukan pada umur 3-4 minggu dengan dosis 5 gram pada jarak 7-8 cm. Bila pertumbuhan belum optimal dapat dilakukan pemupukan lagi pada umur 8 minggu. f. Pengairan dan Penyiraman

Waktu pemberian air sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada musim kemarau, pengairan perlu dilakukan 1-2 hari sekali, terutama pada fase awal pertumbuhan dan pembentukan bunga. g. Waktu Penyemprotan Pestisida Untuk pencegahan, penyemprotan dilakukan sebelum hama menyerang tanaman atau secara rutin 1-2 minggu sekali dengan dosis ringan. Untuk penanggulangan, penyemprotan dilakukan sedini mungkin dengan dosis tepat, agar hama dapat segera ditanggulangi. Jenis dan dosis pestisida yang digunakan dalam menanggulangi hama sangat beragam tergantung dengan hama yang dikendalikan dan tingkat populasi hama tersebut. h. Pengendalian Hama Penyakit Hama ulat kubis (Plutella maculipennis), dikendalikan dengan cara mencari, kemudian membinasakannya dan selalu dalam pengamatan, bila jumlah ulat belum begitu banyak. Bila jumlah ulat semakin banyak, dan pengendalian secara mekanis kurang efisien lagi, maka dapat disemprot dengan pestisida Bayrusil 250 EC, Dicarzol 25 SP, dsb. Ulat krop (Crocidolomia binatalis). Pengendalian dilakukan seperti pada ulat daun. Busuk hitam (Xanthomonas campestris). Tanda-tandanya adalah tepi daunnya basah, akhirnya mongering; urat-urat daun hingga batang tampak hitam; pertumbuhan kerdil, kropnya kecil, bahkan kadang-kadang mati. Pengelolaannya, kubis yang sudah berumur 5 minggu jangan disiang lagi.

Berikut ini merupakan tabel produksi kubis Indonesia 1995- 2003

2.3 Penanganan pengolahan hasil budidaya kubis Tanaman kubis dapat dipetik kropnya setelah besar, padat dan umur berkisar antara 3 - 4 bulan setelah penyebaran benih. Hasil yang didapat rata-rata untuk kubis telur 20 - 60 ton/ha dan kubis bunga 10 -15 ton/ha. Ciri-ciri kemasakan kubis adalah sebagai berikut: a. Krop kubis mengeras dengan cara menekan krop kubis,

b. Daun berwarna hijau mengkilap, c. Daun paling luar sudah layu.

d. Besar krop kubis telah terlihat maksimal.

Pemungutan hasil jangan sampai terlambat, karena kropnya akan pecah (retak), kadangkadang akan menjadi busuk. Sedangkan untuk kubis bunga, jika terlambat bunganya akan pecah dan keluar tangkai bunga, hingga mutunya menjadi rendah. Cara Panen Pemetikan yang kurang baik akan menimbulkan kerusakan mekanis yang menyebabkan krop kubis terinfeksi patogen sehingga mudah pembusukan. Langkah-langkah dalam memetik kubis: a. Pilih kubis yang telah tua dan siap dipetik b. Petik kubis dengan menggunakan pisau yang tajam dan bersih. Pemotongan dilakukan pada bagianpangkal batang kubis c. Urutan pemetikan adalah dimulai dengan kubis yang sehat baru kemudian dilakukan pemetikan pada kubis yang telah terkena infeksi patogen.

Pasca Panen a. Pengumpulan Setelah dipetik, kubis dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan kubis yang tinggi kwalitas dan kwantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk dan dilemparlempar. b. Penyortiran dan Penggolongan Penyortiran untuk memisahkan krop kubis baik dan bermutu dari yang kurang baik atau rusak, seperti retak, lecet dan kerusakan lainnya. Penggolongan bertujuan untuk mengolongkan krop ke dalam mutu kelas I, kelas II dan seterusnya berdasarkan jumlah daun pembungkus krop, keseragaman bentuk, keseragaman ukuran, kepadatan krop, kadar kotoran maksimum, kecacatan kubis maksimum dan panjang batang kubis maksimum. Berdasarkan SNI 01-3174-1998 untuk kubis segar. Berdasarkan SNI kubis, kubis digolongkan dalam empat ukuran : Kecil : < 500 gram/butir Sedang : 501 1000 gram/butir Besar : 1001 1800 gram/butir Sangat besar : > 1801 gram/butir Berikut ini criteria yang harus dipenuhi berdasarkan SNI-01-3174-1998 Sedangkan berdasarkan permintaan segmen pasar adalah pada tabel berikut c. Penyimpanan

Penyimpanan kubis harus memperhatikan varietas kubis, suhu, kelembaban dan kadar air. Pada suhu 32-35 derajat F dan kelembaban udara 92-95%, kubis dapat disimpan 4-6 bulan (kubis kadar air tinggi) dan 12 bulan (kubis kadar air rendah) dengan kehilangan berat sebesar 10%. d. Pengemasan dan Pengangkutan Pengemasan dilakukan dengan plastik polyethylene dan dalam pengangkutan kemasan perlu dimasukkan ke dalam kotak atau peti kayu (field boxes) dengan kapasitas 25-30 kg/peti.

2.4 Sistem pemasaran kubis Rantai pasokan kubis merupakan saluran yang memungkinkan: 1. Produk kubis bergerak dari produsen ke konsumen 2. Pembayaran, kredit dan modal kerja bergerak dari konsumen ke produsen kubis 3. Teknologi diseminasikan diantara partisipan rantai pasokan, misalnya diantara produsen, pengepak dan pengolah 4. Hak kepemilikan berpindah dari produsen kubis ke pengepak atau pengolah, kemudian ke pemasar 5. Informasi mengenai permintaan konsumen serta preferensinya mengalir dari pedagang pengecer ke produsen kubis Lokasi geografis sentra produksi kubis memungkinkan produk sayuran tersebut dipasarkan tidak hanya Rantai untuk pasokan memenuhi yang kebutuhan pada lokal, dasarnya tetapi juga antar bentuk

wilayah/regional.

terjadi

merupakan

pelayanan yang sudah melembaga untuk menjembatani produsen dan konsumen sayuran. Intervensi pemerintah terhadap rantai pasok kubis ini cenderung terbatas pada dukungan ketersediaan infrastruktur fisik, misalnya jalan dan bangunan pasar.Tataniaga kubis seluruhnya ditangani oleh pihak swasta. Hal ini mengimplikasikan bahwa rantai pasok kubis secara umum cenderung beroperasi berdasarkan kekuatan penawaran dan permintaan. Beberapa jenis rantai pasok kubis adalah: 1. produsen transporter/pengangkut pedagang pengumpul desa atau bandar pedagang pengumpul antar wilayah transporter/pengangkut pedagang besar/ grosir pedagang pengecer - konsumen 2. produsen transporter/pengangkut pedagang pengumpul desa atau bandar transporter/pengangkut pedagang besar/grosir pedagang pengecer - konsumen

3. produsen pedagang komisioner - transporter/pengangkut pedagang pengumpul desa atau bandar transporter/pengangkut pedagang besar/grosir pedagang pengecer - konsumen 4. Produsen pengepak - transporter/pengangkut supermarket - konsumen Rantai pasokan pertama dan kedua diestimasi menyerap sekitar 80% dari total pasok kubis. Sisanya sekitar 20% dipasarkan melalui rantai pasok ketiga dan keempat. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa rantai pasokan kubis masih didominasi oleh rantai pasokan tradisional yang outlet utamanya adalah pasar-pasar tradisional.

2.5 Sistem kelembagaan budidaya kubis Lemabaga-lembaga yang terkait dengan budidaya kubis yang dimulai dari prapanen sampai dengan pasca panen terkait berbagai lembaga-lembaga yang terdiri atas lembaga keuangan, seperti perbankan dalam penyediaan modal usaha atau sebagai sarana transaksijual beli pdoduk dalam jumlah besar. Selain itu lambaga lain yang terkait dengan budidaya agribisnis diantaranya dimulai dari kelompok-kelompok tani di tingkat pedesaan yang dinaungi oleh Dinas Pertanian setempat melalui Balai Penyuluhan Pertanian. Dari aspek pemasaran kelembaggan yang menaungi para petani dalam mengatur pemasaran kubis adalah dengan adanya koperasi Tani, sehingga memudahkan para petani kubis dalam memasarkan produknya. Semua lembagalembaga yang terkait mulai dari kelompok tani hingga pusat dan lembaga lain sebagai pihak swasta yang menunjang proses agribisnis budidaya kubis ini akan mempengaruhi keberhasilan dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah budidaya kubis.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari paper tentang budidaya kubis ini adalah sebagai berikut : 1. Kubis merupakan tanaman yang berasal dari benua Eropa dan Mesir yang pertama kali ditemukan sekitar 2000-1500 SM 2. Pusat pertumbuhan tanaman kubis di Indonesia umumnya di dataran tinggi

3. Sarana dan prasaran budidaya kubis meliputi bibit, lahan, pupuk, insektisida. 4. System budidaya atau produksi kubis mencapuk proses penyemaian bibit, pembuatan bendengan, penanaman, dan pemeliharaan. 5. Pemanenan tanaman kubis setelah berumur 3-4 bulan setelah penyebaran benih, dan hasil yang didapatkan untuk kubis telur 20-60 ton/ ha sedangkan untuk kubis bunga 10-15 ton/ha 6. Proses penanganan pasca panen tanaman kubis meliputi kegiatan pengumpulan, penyortiran, pengemasan dan pengangkutan. 7. Rantai pasok kubis secara umum cenderung beroperasi berdasarkan kekuatan penawaran dan permintaan pasar dan masih didominasi oleh rantai pasokan tradisional yang outlet utamanya adalah pasar-pasar tradisional. 8. Kelembaggan pada budidaya kubis mencakup semua elemen petani dai tingkat desa hingga pusat ditambah dengan lembaga swasta yang membantu dalam hal permodalan.

3.2 Saran 14 Dalam penyusunan paper ini tentunya masih terdapat berbagai kesalahan-kesalahan baik dari segi isinya maupun cara penulisannya . Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di massa yang akan datang. DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga Witono, dkk..2004. Profil Komoditas Kubis. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Departemen Pertanian M. Siradjuddin.2005.Thesis Prospek dan Perkembangan Agribisnis Kubis di Kabupaten Gowa. Makasar : Program Pasca Sarjana Unhas. Rukmana R. 1994. Bertanam Kubis. Yogyakarta : Kanisius http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/%282%29%20soca-endang%20lestari%20 kelembagaan%20pemasaran.pdf. Diakses pada tanggal 20Maret 2011

http://binaukm.com/2011/02/peluang-usaha-budidaya-kobis. Diakses tanggal 21 Maret 2011.

http://triyadirikky06.blogspot.com/2011/10/prospek-budidaya-kubis.html