Anda di halaman 1dari 32

Materi-1

PENGUKURAN KADAR AIR TANAH

1. METODE GRAVIMETRI
Pendahuluan
Air tanah berada dalam pori, baik mikro maupun makro dan sifat-sifatnya sangat dipengaruhi oleh tanah yang bersangkutan. Tanah yang mempunyai tekstur halus sehingga luas permukaannya per satuan berat lebih besar akan mampu menahan air lebih banyak dan lebih kuat dari pada tanah kasar. Hal ini dapat terjadi karena tanah halus mengandung lebih banyak partikel yang berukuran koloid. Air dalam tanah tidak stabil, tergantung pada sifat fisik tanah, adanya irigasi dan curah hujan, gaya gravitasi, perbedaan tinggi tempat dan penguapan air dalam tanah. Tanah yang semula jenuh air akibat irigasi atau hujan, semakin lama kandungan airnya akan menurun oleh adanya faktor-faktor di atas. Pada suatu saat gaya gravitasi sudah tidak mampu lagi menarik air dari pori tanah, pada saat itu air ditahan oleh partikel tanah dengan kekuatan yang sama atau lebih besar dari gaya gravitasi. Kandungan lengas pada saat ini dinamakan kapasitas lapangan. Biasanya pada keadaan ini sebagian besar air menempati pori mikro. Karena adanya evaporasi dan transpirasi tanaman, maka air tanah akan menurun jumlahnya. Pada suatu saat tanaman tidak mampu lagi menyerap air dalam jumlah yang mencukupi kebutuhannya dan akhirnya menjadi layu. Semula tanaman hanya layu sementara, akan tetapi kalau kandungan air tanah terus menurun akhirnya akan menjadi layu permanen dan mati. Kandungan lengas pada saat seperti ini disebut titik layu, biasanya setara dengan tekanan 15 atmosfer.

Alat dan Bahan


1. Kaleng timbang 2. Timbangan 3. Oven 4. Desikator

Cara Kerja
1. Timbang kaleng timbang kosong.

2. Ambil contoh tanah, masukkan dalam kaleng timbang dan timbang . 3. Keringkan dalam oven dengan suhu 105 oC selama 24 jam. 4. Keluarkan dari oven dan dinginkan dalam desikator. 5. Setelah dingin timbang berat keringnya. 6. Hitung kadar airnya dengan rumus : Kadar lengas = (Massa Air) / (Massa Tanah Kering).....g g-1

2. METODE NEUTRON PROBE


Pendahuluan
Neutron probe atau neutron moisture meter (NMM) merupakan metode tidak langsung untuk mengukur kadar lengas tanah. Kadar lengas dihitung dengan mengukur air dalam thermalisasi neutron cepat yang diemisikan oleh sumber radioaktif. Sumber radioaktif terdiri dari kombinasi 241AmBe, 241Am mengemisi partikel dan kemudian menghasilkan reaksi nuklir dengan Be. Pancaran neutron terjadi ketika partikel alpha dari Amiricium memancar mengenai serbuk Beryllium. Partikel alpha menumbuk atom Beryllium menghasilkan neutron cepat dengan energi 5 juta elektonvolts (5MEV). Maka penulisan simbul AmBe, berarti Americum sebagai sumber alpha dan dicampur dengan Be sebagai sumber neutron. Kemudian pancaran neutron ini dideteksi dengan detektor tabung Helium-3. Dan resultan signalnya ditampakkan dengan elektronis sebagai indeks kelembaban tanah. Neutron yang dipancarkan dan mempunyai energi sekitar 5 MEV itu bersifat neutron cepat, kita ketahui bahwa detektor Helium hanya mampu mengukur neutron lambat (neutron Thermal). Tumbukan neutron cepat dengan inti atom yang besar akan menghasilkan ikatan kembali neutron dengan melepaskan sedikit energi, tumbukan dengan lintasan elektron sekitar 1/1840 berat (massa) neutron akan dapat melepaskan banyak energi. Kehilangan energi yang paling besar bila bertumbukan dengan unsur yang mempunyai massa sama. Atom yang banyak dijumpai dalam tanah yang mempunyai massa yang sama dengan neutron serta dapat menurunkan energi neutron cepat adalah Hidrogen. Inilah yang terjadi bila neutron cepat menumbuk atom Hidrogen, maka energinya menurun menjadi neutron thermal sehingga dapat terukur oleh detektor di dalam probe. Tabung pelindung (probe) perlu dipasang dalam tanah, bahan yang terbaik yaitu Alluminium sebab sangat transparan baik untuk neutron cepat dan neutron thermal. Pengeboran untuk lubang tabung alluminium harus dibuat yang pas dengan ukuran tabung, sehingga tidak ada aliran air bebas dalam rongga diantara tabung dan tanah saat turun hujan atau irigasi dan saat kering tidak berisi udara. Keuntungan metode ini pembacaan dapat diambil berulang-ulang pada satu tempat, pengukurannya sangat cepat, dan dapat dikalibrasikan dengan kadar lengas volumetrik. Kelemahannya sulit untuk pengukuran pada lapisan dekat permukaan tanah sebab banyak neutron yang hilang keluar, juga neutron thermal dapat diikat oleh unsur-unsur B, Fe, dan Cl dalam tanah. Yang perlu diperhatikan dalam metoda ini

harus benar-benar memakai prinsip proteksi radiasi, yaitu : waktu pengukuran harus cepat, perlu ada jarak antara operator dan alat, serta perlu pelindung radiasi.

Pengenalan Komponen Neutron Probe


1. Identifikasi komponen Neutron probe atau neutron moisture meter terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sumber neutron berenergi tinggi (241AmBe). Detektor neutron thermal (tabung berisi gas Helium). Amplifier dan sirkuit untuk mendeteksi pancaran partikel neutron thermal. Ratescaler untuk menghasilkan display jumlah pulsa (cacah) per detik pada waktu yang ditentukan. Penahan polypropylene untuk mereduksi pancaran radiasi saat penyimpanan dan kotak pengangkut yang bisa mereduksi pancaran sinar gamma. Batery sebagai sumber tenaga sirkuit/pulsa. Kunci untuk menahan probe di dalam penahan radiasi. Komponen untuk pengisian batery.

Gambar 1.1. Neutron probe 2. Tes probe di dalam penahan radiasi Ambil beberapa kali bacaan dan rata-rata, kemudian bandingkan dengan nilai yang tertempel pada dinding tempat probe. Nilai bacaan harus ada diantara 10 cps (cacah per detik).

Bila tidak, mungkin : Batery kurang arus Probe tidak tepat didalam shield Kerusakan di sistem elektronik

Pengambilan bacaan standart di dalam air (RW)


1. Pengaruh posisi probe saat pembacaan 1. Catat dimensi tangki (kedalaman tangki, diameter, jarak ujung tabung dengan permukaan air). 2. Ambil bacaan 16 detik pada setiap interval kedalaman 5 cm dari dasar tabung sampai ujung (masing-masing 3 ulangan). 3. Gambar kurva hubungan hasil bacaan dengan kedalaman 4. Tentukan daerah dimana bacaan tampak konstan dan tentukan kedalaman yang optimum untuk bacaan standart. 2. Prosedur pembacaan standart (RW) 1. Turunkan probe kedalam tabung pembantu (acces tube) sampai kedalaman 30 cm (counter depth = 60 cm). 2. Ambil 5 kali bacaan dengan waktu pencacahan 64 detik dan hitung rataratanya. 3. Plot nilai rata-rata tersebut setiap kali membaca pada kertas grafik. 4. Untuk menunjukkan waktu pencacahan mana yang terbaik itu dihitung dengan standart deviasinya :

SD R t

0, 5

Dimana R adalah nilai cacah dan t adalah waktu pembacaan. Bila R besar maka untuk memperkecil kesalahan (error) maka waktu pembacaan harus lebih panjang.

Instalasi tabung dengan metode Guide Tube


1. Letakkan plate pada permukaan lahan. 2. Tepat pada lubang di tengah-tengah plate bor sedalam 15 cm (dengan bor spiral tanpa sambungan). 3. Tancapkan guide tube kedalam lubang secara vertikal/tegak. 4. Bor 15 cm melalui guide tube (dengan sambungan bor). 5. Keluarkan bor dan tumbuk guide tube dengan penumbuk. 6. Sambil mengeluarkan tanah dari dalam guide tube perlu dicatat adanya perubahan tekstur atau warna tanah. Dalam menumbuk guide tube jangan sampai jauh melebihi lubang bor, karena akan sulit dalam mengeluarkan tanah dari dalam tabung. 7. Keluarkan tanah hancur dengan bor sekitar setebal 15 cm. 8. Ulangi pekerjaan di atas sampai kedalaman yang diinginkan, guide tube tinggalkan sekitar 10-15 cm.

9. Keluarkan gude tube dengan dongkrak yang telah disediakan. 10. Masukkan tabung alumunium 1,5 inchi kedalam lubang yang telah dibuat. 11. Potong tabung alumunium dan tinggalkan 10 cm dari permukaan tanah. Dan haluskan bekas potongan dengan alat penghalus khusus. 12. Beri tanda atau kode urut tabung pada bagian dasar karet penutup, tutup tabung dengan penutup karet tersebut. Bila perlu tambah pelindung tutup lain agar lebih aman. 13. Instalasi tabung dengan cara ini terutama untuk tabung berukuran lebih dari 100 cm.

Instalasi tabung dengan bor tanah


1. Buat lubang dengan bor tanah sampai kedalaman sekitar 100 cm. 2. Masukkan tabung PVC/Aluminium diameter 1 inci yang bagian ujung bawah telah ditutup dengan penutup dan sisakan 10 cm di atas permukaan tanah. 3. Isi rongga diantara tabung dan tanah dengan pasta tanah/lumpur, untuk mendapatkan kontak yang baik antara tabung dan tanah. 4. Tutup bagian atas tabung dengan plastik atau penutup PVC dan beri label identitas.

Pengukuran profil kadar lengas


1. Catat data pelengkap : lokasi penelitian, tanggal pengamatan, nama pengamat, kode probe dan rate scaler, persamaan kalibrasi, kondisi lahan, dsb. 2. Ambil bacaan standart dalam air (RW) sebanyak lima kali dalam waktu masingmasing 64 detik. 3. Buka tutup tabung. 4. Tancapkan neutron probe di atas tabung, buka rate scaler, buka kunci probe dengan memutar kunci ke posisi horisontal. Masukkan probe ke dalam tabung sesuai dengan kedalaman yang dikehendaki. Kedalaman dapat dibaca pada counter depth dikurangi dengan tinggi pipa dari permukaan tanah. 5. Ambil bacaan 16 detik dan diulang tiga kali pada masing-masing kedalaman. 6. Interpretasi datanya.

Penentuan kalibrasi lapangan dan efek permukaan


1. Ambil bacaan dengan interval 10 cm dan gunakan waktu 16 detik, cari daerah yang mempunyai kadar air merata. 2. Ambil bacaan 64 detik sebanyak 8 kali pada kedalaman yang dipilih. 3. Hitung kadar lengasnya dengan persamaan kalibrasi yang telah ditentukan. 4. Penentuan efek permukaan : a. Setelah lapisan tanah di permukaan dihilangkan 5 cm baca 16 detik sebanyak 3 kali. Ambil rata-ratanya dan berapa rasionya terhadap nilai bacaan pada kedalaman untuk kalibrasi. b. Hilangkan setebal 10 cm lagi dan lakukan pembacaan seperti di atas. c. Hilangkan setebal 10 cm berikutnya dan lakukan pembacaan seperti di atas. d. Nilai rasio yang terakhir ini yang digunakan untuk mengkoreksi bacaan pada kedalaman 10 cm. 5. Ambil contoh tanah utuh pada kedalaman standart untuk kalibrasi sebanyak 5 contoh. 6. Tentukan kadar air gravimetrik darisampel yang diambil dan cari rata-ratanya.

7. Bandingkan hasil penentuan dengan Neutron Probe dan hasil penentuan secara gravimetrik. Perhitungan perubahan kadar lengas 1. Hitung total kandungan lengas dalam profil tanah dalam satuan (mm) dari dua interval waktu pengamatan. 2. Bandingkan dari hasil pengukuran dari dua waktu pengamatan tersebut. 3. Gambar perubahan profil lengas yang telah diamati.

3. TEKNIK RESISTENSI ELEKTRIK (GYPSUM BLOCK)


Pendahuluan
Berbagai usaha untuk mempelajari permasalahan penggunaan air oleh tanaman secara langsung, hanya dapat terlaksana dengan baik jika cukup data kadar air tanah. Data tersebut untuk melengkapi data pengukuran curah hujan dan evapotranspirasi. Bila data pengukuran kadar air yang diperlukan jumlahnya sedikit, maka dapat dilakukan dengan metode gravimetrik. Tetapi diperlukan data yang lebih rinci, pengukuran kadar air perlu dilakukan secara interval waktu dan dalam periode yang cukup panjang. Dalam hal ini maka metode gravimetrik tidak mungkin dapat mendukung,karena metode ini memakan waktu dan tidak mungkin pengambilan contoh tanah dilakukan berulang-ulang dalam satu tempat. Untuk mengatasi masalah ini, maka teknik resistensi elektrik (electrical resistance) dapat diterapkan. Keuntungannya unit resistensi dapat ditanam pada berbagai kedalaman sesuai dengan keperluan dan resistensi elektriknya dapat dibaca dengan cepat, dapat dibaca secara berulang-ulang dalam satu tempat dalam interval waktu yang diperlukan. Kelemahan teknik ini sangat dipengaruhi oleh kadar garam dalam larutan tanah dan diperlukan kalibrasi untuk menanggulangi pengaruh histerisis tanah.

Alat dan Bahan


1. Dua buah elektroda (kasa stainless steel 14 mesh) - Elektroda dalam (65 x 12 mm dengan salah satu ujung ada 3 serat menonjol sepanjang 12 mm) - Elektroda luar (65 x 40 mm dengan salah satu ujung ada 3 serat menonjol sepanjang 12 mm) 2. Kabel dobel 3. Konektor (diameter 5 mm) 4. Kain nilon tipis (panjang 150 mm lebar 75 mm) 5. Lem Araldite 6. Timbangan 7. Oven 8. Alat ukur resistensi listrik

Cara Kerja
A. Pembuatan unit resistensi nylon

1. Potong elektroda sesuai ukuran dan sambung bagian ujung yang menonjol dengan kabel melalui konektor. 2. Isi ujung-ujung konektor dengan lem araldite, ini untuk memperkuat sambungan dan untuk mengisolir sambungan dari air. 3. Tunggu sampai lem mengeras (lebih kurang jam). 4. Bungkus elektroda bagian dalam secara kuat dengan kain nylon sehingga masing-masing sisi elektroda terbungkus kain 5 kali. Pada ujung-ujung elektroda terdapat kelebihan kain sepanjang 5 mm. 5. Letakkan elektroda bagian dalam yang telah terbungkus kain nylon di tengah elektroda luar. Bungkusan elektroda luar menyelimuti elektroda dalam (elektroda dalam sebagai pusatnya). 6. Beri tekanan 30 MN/m2 (2 ton/inci2) dengan alat press hidrolik pada unit resistensi tersebut, maksudnya agar kontak antar elektroda dan nylon menjadi lebih sempurna. B. Pembuatan unit resistensi gypsum blok 1. Setelah membuat unit resistensi nylon sesuai tahapan 1-6 (A). 2. Siapkan potongan tabung PVC diameter 1 panjang 10 cm dan tutup bagian ujungnya dengan penutup karet. 3. Letakkan unit resistensi nylon di tengah-tengah tabung (bagian ujung bawah dan samping tidak menempel tabung PVC). 4. Campur 44 gram Calsium Sulfat (Plaster of Paris) dengan 36 ml air. Aduk hingga rata sampai membentuk pasta. 5. Masukkan pasta tersebut ke dalam tabung PVC yang dalamnya telah ada unit resistensinya. Dan tunggu sampai mengeras atau mengering (> jam). 6. Setelah kering dan keras, keluarkan gypsum blok dari dalam tabung PVC. C. Kalibrasi unit resistensi 1. Beri tanda atau kode pada kabel untuk masing-masing unit resistensi. 2. Siapkan kotak kosong yang kira-kira cukup berisi 1 kg tanah, timbang beserta unit resistensinya. 3. Siapkan tanah kira-kira cukup untuk mengisi kotak. Basahi tanah tersebut dengan air pada tempat lain. 4. Masukkan tanah basah tersebut ke dalam kotak dan benamkan unit resistensi di dalam tanah. 5. Tunggu beberapa saat agar mencapai kesetimbangan. 6. Ukur resistensi elektrik (R) dan timbang kotak dan isinya. 7. Ukur secara periodik sesuai dengan proses penurunan kadar air tanah. Buat pasangan bacaan resistensi dan berat kotak + isinya. 8. Setelah bacaan terakhir, keluarkan tanah dari dalam kotak dan tentukan kadar airnya. D. Perhitungan kadar lengas tanah Berat kotak + unit resistensi = Wkotak

Kadar air sampel = M akhir Berat kotak + unit + tanah basah = Wakhir Maka, berat kering tanah dalam kotak

Wtanah Wakhir Wkotak M akhir 1


Sehingga, kadar air tanah pada saat pembacaan resistensi dapat dihitung :

Mn Wn Wkotak Wtanah Wtanah

Dimana : Wn = berat kotak + unit + tanah pada saat pembacaan ke (n). D. Penggunaan di lapangan 1. Tanam unit gypsum blok dalam tanah pada kedalaman yang diperlukan. 2. Beri kode atau catatan pada masing-masing unit gypsum blok. 3. Ukur resistensi elektrik pada tiap interval pengamatan dengan alat ukur resistensi. 4. Tentukan kadar lengas tanah sesuai hasil bacaan resistensi dengan menggunakan kalibrasi yang telah dibuat sebelumnya.

4. DENGAN THETA PROBE (ML.2x)


1. Pendahuluan
Kadar air tanah atau lengas tanah yaitu banyaknya air yang ada dalam ruang pori tanah yang ditahan oleh berbagai potensial. Pengukurannya dapat menggunakan berbagai metode/alat baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu : gravimetrik, neutron probe, tethaprobe, profileprobe, gypsum block, capacitance probe dan tensiometer. Modul ini akan menjelaskan cara pengukuran kadar air tanah dengan alat Tetha Probe type ML2x dan Profile Probe type PR2/4. Pencatatan data pengukuran dapat menggunakan Moisture Meter type HH2 dan Soil Moisture Logger type DL6. Output hasil pengukuran dapat dibaca dan diolah dengan PC menggunakan bantuan perangkat lunak DL6-SW1 dan HH2Read.

2. Moisture Meter Tipe HH2

HH2 meter ini dapat dihubungkan dengan berbagai jenis sensor analog, yaitu : ML 1, ML 2, ML 2x, PR1, PR2, EQ2. Meter ini mensuplai arus ke sensor yang digunakan dan mengukur voltase signal yang kembali. Tampilannya langsung dalam mV dan atau dikonversi ke dalam unit lain tergantung sensor yang digunakan dan informasi yang tersedia. HH2 meter mengkonversi bacaan mV menjadi unit kadar lengas dengan menggunakan tabel konversi dan parameter spesifik tanah. Untuk menghemat baya batery, meter akan mati displaynya secara otomatis bila dalam waktu 1 menit tidak digunakan, untuk membangunkannya kembali tekan 1x tombol Esc. Bila tombol Esc ditekan lagi meter baru akan mati

Gambar 1.2. Moisture Meter tipe HH2

2.1. Cara Setup HH2 Meter


1. Hidupkan HH2 meter dengan menekan tombol Esc. 2. Pengaturan data. Untuk melihat menu ini pilih Option, Data kemudian atur masing-masing (Plot ID, Sample, Device ID, Root Depth, Sensor Depth). 3. Plot ID (identitas plot yang diukur). Anda dapat melabel setiap lokasi pengukuran dengan Plot ID. Pilihannya : A Z dan defaultnya A. Tekan Esc pilih Option,Data,Plot ID. Tekan Set-Option-Data-Set-Plot ID-Set pilih apa labelnya - Set-Scroll bawah . 4. Sample, nomor sampel secara otomatis ditandai secara urut setiap pembacaan yang disimpan. Nomornya : 1 sampai 2000, defaultnya 1. Pilih Option, Data, Sample. Tekan Set-Option-Data-Set-Sample-Set pilih apa labelnya SetScroll bawah. 5. Device ID, anda dapat menomori bacaan dengan Device ID. Pilihannya : 0 sampai 255 dan defaultnya 0. Pilih Option, Data, Device ID. Tekan : SetOption-Data-Set-Device ID-Set pilih apa nomornya Set-Scroll bawah. 6. Root Depth, ini sangat diperlukan bila menginginkan mengetahui kondisi defisit lengas tanah. Pilihannya : 0 sampai 9950 mm defaultnya 0. Pilih Option, Data,

Root Depth. Tekan : Set-Option-Data-Set-Root Depth-Set pilih angka yang sesuai Set-Scroll bawah. 7. Sensor Depth, bacaan dapat diberi label sesuai dengan kedalaman tanah. Pilihannya : 0 sampai 9950 mm defaultnya 0. Pilih Option, Data, Sensor Depth. Tekan : Set-Option-Data-Set-Sensor Depth-Set pilih angka yang sesuai Set-Esc untuk kembali ke menu utama. 8. Device, ini untuk memilih alat ukur apa yang digunakan. Option-Data-Scroll bawah-Device-Set pilih ML2 atau PR2 Set- Esc untuk kembali menu Option. 9. Soil Type, jenis tanah yang digunakan untuk perhitungan bacaan. Pilihannya : Mineral, Organic, Soil 1, Soil 2,....... Soil 5 defaultnya Mineral. Setup dalam HH2 meter hanya untuk tanah Mineral dan Organik, tanah yang lain dapat dapat diformat menggunakan Soil Set-Up (tersedia sampai 5 jenis tanah). Pilih : Option, Soil Type pilih Mineral atau Organic. Tekan : Scroll bawah pada menu Option sampai Soil Type Set pilih jenis tanah Set Esc untuk kembali ke menu utama. 10. Soil Set-Up, digunakan untuk mendefinisikan secara empiris dari parameter tanah (a0 & a1) untuk mengkonversi permitivity (mV) menjadi bacaan kadar lengas. Juga digunakan untuk mendefinisikan kapasitas lapang, yang diperlukan untuk pembacaan defisit lengas tanah. Untuk tanah standart : Mineral (a0 = 1.6 dan a1 = 8.4) dan Organik (a0 = 1.3 dan a1 = 7.7). Untuk tanah lain tersedia pilihan : a0 = -49.9 50.0 defaultnya 1.0 dan a1 = 0.1 50.0 defaultnya 7.0. Pilih : Option, Soil Set-Up dan pilih salah satu Soil 1 sampai Soil 5. Isikan nilai a0 dan a1 dengan Scroll bawah/atas dan akhiri dengan tombol Set. 11. Field Capasity, definisikan nilai kapasitas lapang untuk penghitungan defisit lengas tanah. Pilihan tersedia : 0 1 m3 m-3 defaultnya 0.38. Tekan Set untuk memilih Option, Soil Set-Up menu Soil names pilih One Set pilih Capasity pilih nilainya dengan Scroll Set. 12. Display Unit, pilih unit yang digunakan dalam pengukuran baik yang ditampilkan atau yang tersimpan. 13. Date and Time, agar saat pembacaan dapat diketahui dengan pasti. 14. Status, Mem (satus memori yang terpakai), Batt (umur batery yang tersisa), Reading# (jumlah bacaan yang ada dalam memori HH2). 15. Remote, pilih Option, Remote untuk menghubungkan dengan PC.

2.2. Cara Install Software HH2Read pada PC


1. HH2Read dapat bekerja pada Windows 95 sampai XP 2. Masukkan CD HH2Read dalam cd-drive. 3. Jika autorun dapat bekerja, maka PC akan langsung membaca dan menginstalnya. 4. Jika tidak, dari menu Start pilih Settings, Control Panel. 5. Dalam Control Panel pilih Add/Remove Programs 6. Dalam Add/Remove Programs, Properties pilih tab Install/Uninstall. 7. Klik Install dan ikuti petunjuk dalam layar, maka software akan terinstall dalam PC. 8. Install juga Excel add-in yang disebut Dataset Import Wizard.

3. Pengukuran Kadar Lengas dengan Theta Probe Tipe ML2x

Theta probe tipe ML-1, ML-2 dan ML-2x adalah alat ukur kadar air volumetrik (v) dengan dasar respon terhadap perubahan konstanta dielektrik dari tanah kondisi lembab. Perubahan tersebut dikonversi menjadi voltase DC dalam mV, kemudian dikonversi menjadi kadar lengas dalam HH2 moisture meter dengan menggunakan tabel linierisasi dan parameter-parameter tipe tanah. Kadar lengas tanah volumetrik adalah rasio antara volume air yang ada dan total volume sampel dan diekspresikan sebagai persentase (% vol) atau rasio (m3.m-3).

Gambar 1.3. Theta Probe tipe ML2x

3.1. Cara Pembacaan Theta Probe ML2x


1. Setel Device menjadi ML2

2. Pilih kode plot (Plot ID) A sampai Z, kode alat (Device ID) yaitu 0 sampai 255, kedalaman perakaran (Root Depth) nilainya dari 0 sampai 9950 dan kedalaman sensor (Sensor Depth) nilainya dari 0 sampai 9999 mm. 3. Masukkan data kapasitas lapangan (Field Capacity) dalam menu Soil Set-Up bila diinginkan perhitungan defisit lengas tanah. 4. Pilih nomor sampel (Sample) yaitu 0 sampai 2000, selanjutnya akan membuat urutan nomor secara otomatis. 5. Pilih nilai dan unit bacaan ML2x yang akan ditampilkan (Display) dan disimpan (m3.m-3; %vol) 6. Setel tanggal dan jam (Date and Time). 7. Kemudian hubungkan Sensor ML2x dengan HH2.

8. Tekan tombol Read, bila berhasil, meter akan menampilkan bacaan :

9. Tekan tombol Store untuk menyimpan data, kemudian tekan Esc untuk melanjutkan bacaan berikutnya. 10. Tekan tombol Read lagi untuk bacaan berikutnya.

3.2. Upload Data ke PC


1. Hubungkan HH2-meter dengan PC dengan kabel RS232 melalui port COM1 atau COM2. 2. Dari menu Options dalam HH2 meter pilih Remote kemudian tekan tombol Set. 3. Jalankan HH2Read pada PC, tampilan layarnya sebagai berikut : 4. Pilih perintah Retrieve untuk mengeluarkan data yang tersimpan dalam HH2 meter. 5. Data yang tersimpan dalam PC dalam bentuk file format terpisahkan koma (. CSV) dan dapat dibuka dalam Microsoft Excel melalui Dataset Import Wizard.

3.3. Ringkasan Opsi untuk Theta Probe ML2x

Menu

Kerjanya, Catatan, Cetak tebal (default)

Data Plot Id Sample Tentukan label plot (A . Z) Tentukan nomor sampel (1 . 2000)

Device Id Root Depth Sensor Depth Erase Device Soil Type Soil Set-Up Organic Mineral Soil 1 5 a0 a1 Capacity Display

Tentukan ID alat (0 . 255) Tentukan kedalaman akar (0 .. 9950mm) Tentukan kedalaman sensor (0 .. 9999 mm) No (cancels aksi), Yes (menghapus semua data yang tersimpan dalam memori) Pilih alat yang digunakan untuk pembacaan, pilihannya : ML1, ML2, EQ1, EQ2, PR1, PR1-special, EC2, WET Tipe tanah yang diukur, pilihannya : Organic, Mineral, Soil 1 . 5 Tentukan karakter dari berbagai tipe tanah Tentukan kapasitas lapangan untuk tanah organic 0 .. 38 .. 100%vol Tentukan kapasitas lapangan untuk tanah Mineral 0 ..38 .. 100%vol

Tentukan ao untuk tanah 1 n, -49.4 1.0 50.0 Tentukan a1 untuk tanah 1 n, 0.1 7.0 50.0 Tentukan kapasitas lapangan tanah 1 n, 0 0.38 1 m3 m-3 Pilih nilai dan unit untuk penampilan, pilihannya : m3 m-3, %vol, mmDef, mV, mmDef + m3 m-3, mm def + %vol, m3 m-3 + mV, %vol + mV, mm def + mV Penampilan dan untuk set tanggal dan jam Tampilan tanggal Tampilan jam Tampilan informasi status Tampilan sumber informasi Tampilan versi Koneksi dengan layar PC

Date and Time Set Date Set Jam Status Resources Versions Remote

3.4. Display Unit


Unit m3 m-3 Keterangan kadar lengas volumetrik dalam meter kubik air per meter

kubik tanah %Vol mm Defisit mV mm Deficit + m3 m-3 mm Defisit + %vol m3 m-3 + mV %vol + mV mm Deficit + mV kadar air volumetrik sebagai persentase defisit lengas tanah dalam mm sensor output dalam milivolt defisit lengas tanah dalam mm dan kadar air volumetrik dalam m3 m-3 defisit lengas tanah dalam mm dan kadar air volumetrik dalam %vol kadar air volumetrik dalam m3 m-3 dan sensor output dalam milivolt kadar air dalam persentase dan sensor output dalam milivolt defisit lengas tanah dalam mm dan output sensor dalam milivolt

Materi-2
PENGUKURAN INFILTRASI

1. PENDAHULUAN
Bila air ditambahkan ke permukaan tanah baik melalui hujan atau irigasi, sebagian akan masuk ke dalam tanah dan sebagian yang tidak bisa masuk akan mengalir di permukaan. Infiltrasi adalah proses masuknya air ke dalam tanah, biasanya dengan aliran ke bawah melalui seluruh atau sebagian permukaan tanah. Laju proses ini sesuai dengan laju penambahan air dan akan menentukan banyaknya air yang masuk ke dalam mintakat perakaran serta banyaknya kemungkinan runoff. Sehingga laju infiltrasi tidak hanya mempengaruhi ketersediaan air bagi tanaman tetapi juga besarnya limpasan permukaan yang dikenal sebagai penyebab erosi tanah. Laju infiltrasi didefinisikan sebagai volume aliran (flux) air yang mengalir ke dalam profil per unit luas permukaan tanah. Bila suatu saat air mulai menggenang di permukaan tanah berarti laju penambahan air di permukaan tanah telah melampaui laju infiltrasi tertinggi. Laju infiltrasi maksimum ini dinamakan kapasitas infiltrasi atau infiltrability. Laju infiltrasi dengan intensitas pemberian air yang konstan dan kontinyu (baik dari hujan maupun irigasi sprinkler) umumnya konstan di awal proses kemudian menurun dan akhirnya mencapai laju yang relatif konstan. Kapasitas infiltrasi atau laju infiltrasi maksimum tergantung dari beberapa faktor, yaitu : waktu, kadar air awal, daya hantar air jenuh, keadaan permukaan tanah dan ada tidaknya lapisan kedap.

2. METODE RING GANDA


Alat dan Bahan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ring ganda Alat pemukul Stopwatch Plastik Penggaris Embar/Galon/Tandon air Air

Cara Kerja
1. Bersihkan permukaan tanah yang akan diukur infiltrasinya. 2. Pasanglah silinder ganda dengan menancapkan masuk sekitar 10 cm ke dalam tanah, permukaan silinder dijaga agar tetap rata.

3. Tutuplah permukaan tanah di dalam silinder /ring yang kecil dengan lembaran plastik agar tidak rusak saat ditungi air. 4. Isilah ruangan diantara ring besar dan kecil dengan air sampai ketinggian 1 cm dari bibir ring bagian atas. 5. Isilah ring kecil dengan air secara hati-hati sampai tinggi permukaan air sama dengan yang di bagian luar. 6. Mulai pengukuran dengan menarik lembaran plastik dari dalam ring kecil dan bersamaan menghidupkan stopwatch dan juga mencatat tinggi permukaan pada awal pembacaan. 7. Amati dan catat tinggi permukaan air dalam ring kecil setiap 1 menit (tergantung dari cepat atau lambatnya penurunan muka air dalam ring). 8. Permukaan air dalam ring ini dapat dipertahankan dengan dua cara : a Menambahkan air dengan cepat apabila permukaan air sudah menurun pada tinggi tertentu untuk mengembalikan ke ketinggian semula.

Gambar 2.1. Ring ganda metode falling head

b Mempertahankan permukaan air selalu tetap, misalnya ada tandon air yang dihubungkan dengan slang plastik yang ujungnya diatur pada kedalaman tertentu dari permukaan air (metode constant head)

Gambar 2.2. Ring ganda metode constant head

3. METODE BALON PLASTIK


Prinsip Metode Balon Plastik
Laju infiltrasi pada tanah tergenang seperti contohnya pada lahan tanaman padi sawah, dapat diukur dengan menggunakan metode balon plastik. Air yang keluar dari balon plastik dan masuk ke dalam tanah pada satuan waktu tertentu, merupakan laju infiltrasi pada tanah tergenang tersebut. Air dalam balon plastik sebelumnya telah diketahui volumenya.

Alat dan Bahan


1. Balon plastik 2. Gelas ukur 3. Timbangan 4. Selang 5. Kaleng bekas cat (dipotong dan dilubangi 2) 6. Klem selang 7. Air 8. Alat penunjuk waktu

Gambar 2.3. Kaleng dan balon plastik

Cara Kerja
1. Pasang kaleng secara tegak (bagian yang tertutup ada di atas) sampai terbenam air genangan dan udara dalam kaleng keluar, sehingga ada kontak antara air dalam kaleng dengan air dari balon. 2. Sambungkan lubang pada kaleng dan balon plastik dengan menggunakan selang plastik, sehingga air dari balon plastik akan dapat keluar melalui selang tersebut. 3. Catat waktu mulai pengukuran. 4. Setelah tepat pada waktu yang diingikan, lepaskan sambungan balon plastik dan ukur volume air yang tersisa dalam balon plastik tersebut. 5. Selisih volume air awal dan selesai pengukuran merupakan air yang masuk ke dalam tanah dalam satuan waktu yang ditentukan.

Gambar 2.4. Pengukuran infiltrasi metode balon plastik

Materi-3
PENETAPAN KURVA pF

PENDAHULUAN
Air dalam tanah berada diantara padatan tanah atau matriks tanah, yaitu yang dinamakan ruang pori tanah. Bila kondisi jenuh maka semua pori terisi dengan air dan sebaliknya bila tidak ada air maka dikatakan tanah itu kering. Ada hubungan antara jumlah air yang ada dalam pori tanah (kadar air tanah) dengan kekuatan ikatan antara air dengan padatan atau matriks tanah (potensial matriks). Makin banyak air dalam pori tanah (kadar air tinggi) maka kekuatan ikatannya makin lemah (potensial matriks rendah) dan sebaliknya. Hubungan ini dapat digambarkan dalam sebuah kurva antara potensial matriks yang digambar dalam skala logaritmik (sumbu Y) dengan kadar air tanah sebagai sumbu X. Kurva ini yang disebut dengan kurva pF atau kurva karakteristik penahanan air tanah, bentuknya sangat khas untuk setiap jenis tanah. Oleh karena itu penentuan bentuk hubungan ini selalu diperlukan untuk setiap macam contoh tanah. Kurva ini sangat penting peranannya untuk memberi informasi sifat dan ciri tanah tertentu. Kegunaan kurva pF ini antara lain : dapat memberi gambaran distribusi ukuran pori, batas kapasitas lapangan dan titik layu serta kapasitas menahan air tersedia bagi tanaman.

ALAT DAN BAHAN


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bak perendam sampel Kotak pasir (Sand box) Kotak kaolin (Kaolin box) Pressure chamber Pressure plate (1 bar dan 15 bar) Timbangan Oven

Gambar 3.1. Sand box (a)dan Plate pressure (b)

CARA KERJA
a. Persiapan contoh tanah
1. Ambil contoh tanah dari lapangan (contoh utuh/clod dan contoh hancur) 2. Jenuhkan untuk contoh tanah utuh dalam ring, dengan merendam dalam air (jangan sampai permukaan contoh tanah terendam dengan air). Untuk yang bentuk clod jenuhkan di atas bak pasir atau spon basah. 3. Tanda bahwa contoh tanah sudah mencapai kondisi jenuh bila permukaan contoh tanah tampak semua porinya sudah terisi air.

b. Kesetimbangan pada tekanan di atas -0,3 bar


1. Kesetimbangan pada pF rendah (antara 0 sampai 2.5) dapat dilakukan dengan cara menghisap air dari contoh tanah melalui pasir atau kaolin (bak pasir atau bak kaolin). 2. Contoh tanah yang digunakan harus utuh dalam ring atau bentuk clod, karena penahanan air pada potensial rendah tergantung oleh kondisi pori. 3. Letakkan contoh tanah yang sudah dijenuhkan di atas permukaan pasir/kaolin dalam bak, kemudian beri hisapan sesuai dengan pF 1, pF 1.5, pF 2 dan pF 2.5. Harus terjadi kontak yang baik antara permukaan dasar contoh tanah dengan pasir/kaolin. 4. Pertahankan hisapan tersebut sampai kesetimbangan tercapai (setelah 4 sampai 10 hari tergantung tekstur tanahnya). 5. Setelah tercapai kesetimbangan tentukan kadar air pada masing-masing hisapan tersebut.

c. Kesetimbangan pada tekanan di bawah -0,3 bar

1. Pada tekanan ini dipergunakan piring bertekanan (pressure plate) yang dimasukkan dalam chamber. Contoh tanah yang digunakan contoh hancur/biasa. 2. Siapkan pressure plate, rendam dalam air bersih semalam agar semua porinya tidak terisi udara. 3. Ambil contoh tanah hancur sekitar satu sendok makan dan buat pasta. 4. Masukkan plate dalam chamber dan sambung selang untuk pengatusan air ke luar, kemudian letakkan ring-ring kecil dari potongan PVC di atas plate. 5. Letakkan pasta tanah dalam ring kecil di atas plate. 6. Tutuplah chamber dengan teliti pasang pengaitnya, kemudian beri aliran gas udara kering sampai pada tekanan 0.03 bar (pF 3) dan 15 bar (pF 4.2). 7. Pertahankan kondisi tekanan gas kesetimbangan (sekitar 3-5 hari). sesuai pengukuran sampai tercapai

8. Setelah setimbang keluarkan contoh tanah dari pressure plate apparatus, kemudian tentukan kadar airnya. d. Gambar Kurva pF Gambarlah pada suatu sistem salib sumbu antara logaritma tekanan negatif (pF) pada sumbu y dan kadar air pada tekanan yang bersangkutan pada sumbu x. Kadar air ini sebaiknya dihitung berdasarkan volume (volume air per volume tanah).

e. Rekonstruksi Bak pasir/kaolin


1. Secara periodik harus dilakukan rekonstruksi bak pasir atau bak kaolin, agar hisapannya tetap sempurna. 2. Kontruksi jaringan saluran pengatusan atau drainase, letaknya di bagian dasar bak.

Gambar 3.2. Skema saluran pengatusan 3. Penyusunan lapisan pasir seperti skema berikut :

Gambar 3.3. Skema konstruksi kotak pasir 4. Penyusunan lapisan kaolin seperti skema berikut :

Gambar 3.4. Skema kontrusi kotak kaolin

Materi-4 PENGUKURAN DEBIT DENGAN CURRENT METER (SWOFFER 2100)

A. Cara Pengoperasian
1. Lepas tutup pelindung sensor

BUKA TUTUPNYA

2. Pasang ROTOR PROPELLER dengan menggunakan kunci L 1/16. Sekrup ada disamping bodi sensor, jangan kencang-kencang hanya pas di leher as. Bila terlalu kencang dapat merusak as atau menyebabkan pecah.

3. Sambungkan kabel ke Swoffer Meter melalui SOCKET, rapatkan konektornya.

SOCKET

4. Putar switch pada Swoffer Meter ke posisi CALIBRATE. Display akan terbaca 186 (untuk unit FPS) atau 610 (untuk unit meter per detik). Pilih unit pengukuran FEET/METERS dengan cara merubah switch di dalam kotak batery.

CALIBRATE

5. Putar switch ke posisi COUNT. Putar propeler dan lihat bacaan pada display Swoffer Meter, bacaan akan meningkat sesuai dengan banyaknya perputaran propeler (RPM). Terdapat 4 nilai bacaan pada LCD setiap putaran propeller.

COUNT

6. Putar switch ke posisi MINIMUM pilihan waktu pengukuran.

7. Tekan dan lepaskan tombol RESET ke posisi NOL pada display.

B. PENGUKURAN VELOSITAS 8. Keluarkan batang aluminium (Guide Rod) dari tabung penyimpan, sambung potongan batang aluminium sesuai kedalaman pengukuran (tiap batang panjangnya 1 m). Pasang kaki (FOOT) pada ujung salah satu batang dan sekrup.

9. Pasang slider dengan lubang untuk kabel menghadap ke atas, eratkan dengan memutar sekrup plastik pada bagian ujung slider.

10. Pasang sensor (SENSOR WAND) pada SLIDER dan kencangkan dengan sekrup yang ada di bagian samping dengan kunci L.

11. Setel letak slider sesuai dengan kedalaman pengukuran (0,6 x kedalaman aliran) dari dasar aliran (FOOT), dengan cara naik dan turunkan slider kemudian dieratkan kembali. 12. Pasang tutup (TOP CAP & POINTER) di bagian atas batang pembantu (GUIDE ROT), arahkan POINTER searah dengan arah SENSOR + PROPELLER.

13. Masukkan SENSOR + PROPELLER ke dalam aliran air dan arahkan tegak lurus dengan arah aliran air. 14. Tekan tombol START, maka pengukuran akan mulai bekerja. 15. Kecepatan aliran air akan terbaca pada Swoffer Meter, data yang tercatat pada LCD merupakan rata-rata hasil pengukuran sesuai dengan waktu pembacaan

Waktu :

Min Med Max

= 1,5 detik = 6,0 detik = 30,0 detik

16. Untuk mengulangi bacaan, awali dengan tekan dan lepaskan tombol RESET agar bacaan kembali ke posisi NOL.

C. Perhitungan Rata-rata Velositas Secara Vertikal


Current meter mengukur kecepatan aliran (velositas) pada tiap titik di dalam segmen bidang penampang melintang aliran. Pengukuran debit memerlukan perhitungan rata-rata kecepatan aliran dari masing-masing titik pengukuran didalam masing-masing segmen. Kecepatan aliran rata-rata dalam segmen penampang melintang aliran secara tegak dapat didekati dengan membuat pengukuran pada berbagai kedalaman. Current meter tidak dapat digunakan mengukur pada titik dekat dasar aliran air, minimal harus berjarak 0,5 feet(15 cm). Berikut berbagai metode perhitungan debit rata-rata secara vertikal. 1. Vertical velocity curve method Metode ini , dilakukan dalam satu seri pengukuran dimulai dari permukaan air sampai dasar aliran dengan interval kedalaman di antara 0,1 sampai 0,9 dari total kedalaman. Observasi selalu diambil pada 0,2; 0,6 dan 0,8 kedalaman aliran. Kemudian hasilnya di plot dalam kurva hubungan antara velositas dan prosen kedalaman, sehingga dapat dihasilkan koefisien standart velositas secara vertikal. 2. Two-Point method Metode ini menggunakan pengukuran velositas pada 0,2 dan 0,8 kedalaman di bawah permukaan. Rata-rata dari dua pengukuran ini merupakan velositas rata-rata secara vertikal. Metode ini sering digunakan oleh US Geological Survey dan memberikan hasil yang akurat dan konsisten. Metode dua titik ini biasanya berada dalam kisaran 1% nilai rata-rata kebenaran rata-rata velositas secara vertikal. 3. Six-Tenths Depth Method Metode ini memakai pendekatan bahwa pengukuran pada titik 0,6 kedalaman sebagai nilai rata-rata velositas secara vertikal. Ini sangat cocok bila digunakan pada

aliran yang tinggi muka air (stage) nya cepat berubah dan pengukuran harus dilakukan dengan cepat. 4. Three-Point Method Metode ini merupakan kombinasi antara metode dua titik (two-point method) dan 0,6 x kedalaman (six-tenths depth methods) dan menggunakan pengukuran velositas 0,2; 0,6 dan 0,8 kedalaman. Rata-rata velositas dihitung dengan rumus : V rata-rata = (V 0,2 + V 0,8)/4 + (V 0,6)/2 Metode memberikan penekanan pada titik pengukuran 0,2 dan 0,8 kedalaman, cara ini biasanya hasilnya kurang reliabel. 5. Two-tenths Depth Method Metode ini mengukur velositas pada titik 0,2 x kedalaman. Hasil pengukuran cara ini paling tidak reliabel dibandingkan metode two-point atau six-tenths depth methods. Tetapi digunakan pada situasi yang tidak memungkinkan untuk pengukuran 0,6 atau 0,8 x kedalaman. 6. Subsurface Velocity Method Pengukuran dalam metode ini dilakukan acak di bawah permukaan air . Kedalaman pengukuran minimal 2 feet(0,61m) di bawah permukaan air. Metode ini ditrapkan bila kedalaman air tidak dapat ditentukan dengan tepat. 7. Surface Velocity Method Pada kanal alami digunakan koefisien velositas 0,85 atau 0,86 untuk menghitung velositas rata-rata. Sedang pada kanal halus digunakan koefisien 0,90. 8. Five-Point Method Observasi dilakukan pada titik 0,2; 0,6 dan 0,8 kedalaman di bawah permukaan air. Juga dilakukan observasi pada dekat permukaan air dan didasar aliran. Velositas rata-rata dihitung dengan rumus : V rata-rata = 0,1(V permukaan + 3V 0,2 + 3V 0,6 + 2V 0,8 + V dasar) 9. Six-Point Method Observasi dilakukan pada titik-titik 0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8 kedalaman di bawah permukaan air, dan ditambah pula pengukuran pada dekat permukaan dan di dasar aliran. Velositas rata-rata dihitung dengan rumus : V rata-rata = 0,1(V permukaan + 2V 0,2 + 2V 0,4 + 2V 0,6 + 2V 0,8 + Vdasar)

Gambar 4.1. Titik lokasi pengukuran