Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur. Mikosis yang mengenaipermukaan badan, yaitu kulit, rambut, dan kuku disebut mikosis superficialis. Mikosis yangmenyerang alat di bawah kulit, misalnya traktus intestinalis, traktus respiratorius, traktusurogenitalis, susunan kardiovaskuler, susunan saraf sentral, otot, tulang, dan kadang-kadangkulit disebut mikosis profunda. Insidens mikosis superficialis cukup tinggi di Indonesia karena menyerangmasyarakat luas. Indonesia merupakan negara tropis beriklim panas dan lembab, higienesebagian masyarakat masih kurang, adanya sumber penularan di sekitarnya, penggunaanobat-obatan antibiotik, steroid, dan sitostatika yang meningkat, adanya penyakit kronis danpenyakit sistemik lainnya. Pitiriasis versikolor atau panu sudah lama dikenal. Pada tahun 1889 Baillon memberinama Malassezia furfur pada jamur penyebab pitiriasis versikolor, yang merupakan komensalkulit normal pada folikel pilosebaseus. Alasan mengapa multiplikasi ragi tersebut sampaiterjadi dan menimbulkan lesi kulit pada orang-orang tertentu belum diketahui. Dalam makalah ini akan dibahas secara singkat tentang mikosis dan pembagiannya.Makalah ini lebih diarahkan ke mikosis superficial tentang pitiriasis versikolor ( golongan nondermatofitosis ).

BAB II MIKOSIS

II.1. DEFINISI Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur. II.2. SINONIM Penyakit jamur II.3. KLASIFIKASI Penyakit jamur atau mikosis dibagi menjadi : 1. Mikosis superficialis Mikosis superficialis dibagi dalam 2 kelompok yaitu: a. Dermatofitosis Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkanoleh jamur dermatofita. Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakankeratin. Dermatofita ini termasuk kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3genus, yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton (EMMONS,1934). Hingga kini dikenal sekitar 40 jenis spesies dermatofita, masing-masing 2spesies Epidermophyton, 17 spesies Microsporum, dan 21 spesies Trichophyton. Dermatofitosis dibagi menjadi dermatomikosis, trikomikosis, danonikomikosis berdasarkan bagian tubuh manusia yang terserang. Berdasarkanlokasi, dikenal bentuk-bentuk: Tinea kapitis Tinea barbae Tinea kruris Tinea pedis et manum Tinea unguium Tinea korporis

Selain bentuk-bentuk diatas masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus yaitu : Tinea imbrikata Tinea favosa/favus Tinea fasialis Tinea aksilaris Tinea sirsinata Tinea arkuata Tinea inkognito

b. Nondermatofitosis Nondermatofitosis terdiri dari: Pitiriasis versikolor Piedra hitam Piedra putih Tinea nigra palmaris Otomikosis Keratomikosis Mikosis Superfisial Adalah infeksi yang disebakan oleh jamur yang menyerang pada daerah superfisial, yaitu kulit, rambut, kuku. 1. Tinea versicolor : Merupakan infeksi ringan yang nampak dan terjadi akibat pertumbu han Malassezia furfur yang tidak terkendali. Dalam bahasa local dikenal sebagai panu. Klinis : Muncul bercak putih kekuningan disertai rasa gatal pada kulit dada, punggung,axila leher dan perut bagian atas. Daerah yang terserang akan mengalami depigmentasi. Pencegahan: dengan menjaga kebersihan badan dan pakaian serta menghindari penularan. Pengobatan : 1 % selenium sulfida yang digunakan setiap dua hari selama 15 menitkemudian dicuci. Pada kasus yang berkaitan dengan kateter adalah dengan mengangkatkateter yang terpasang. 2. Tinea nigra : Infeksi pada lapisan kulit (stratum korneum) akibat serangan Exophialaweneckii. Klinis : Muncul bercak-bercak (makula) berwarna coklat kehitaman. Bercak tersebutterisi oleh hifa bercabang, bersepta, dan sel-sel yang bertunas, akan tetapi tetap terlihatdatar menempel pada kulit (tidak membentuk bagian yang menonjol, seperti sisik ataupun reaksi yang lain) Pencegahan : dengan menjaga kebersihan badan dan pakaian serta menghindari penul aran. Pengobatan : Pemberian asam undersilenat atau anti jamur azol. 3. Piedra : Dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu White Piedra disebabkan oleh Trichosporon Beigelli dan Black Piedra diakibatkan oleh Piedraia hortae. Klinis : terbentuknya nodul hitam keras di sekitar rambut kepala (Black piedra) terbentuk nodul yang lebih halus pada rambut ketiak, kemaluan, janggut. Pengobatan : Pemotongan rambut dan pemalkaian anti jamur tropikal. 4. Tinea Flavosa : Infeksi pada kulit kepala, kulit badan yang tidak berambut dan berkukudisebabkan oleh Trichopyton schoenleinii. Klinis : Gejala awal berupa bintik-bintik putih pada kuli kepala kemudian membesar membentuk kerak yang berwarna kuning kotor, Kerak sangat lengket, bila diangkat akanmeninggalkan luka basah. Dapat menyebabkan kebotakan yang menetap.

5. Otomycosis : Infeksi pada telinga luar dan liang telinga disebabkan oleh seranganAspergillus, Penicillium, Mocor, Rhizpus, Candida. Klinis : muncu rasa gatal dan sakit pada lubang telinga dan kulit sekitar. Jika terjadiinfeksi skunder oleh bakteri, akan menjadi bernanah.

2. Mikosis intermediate Mikosis intermediate adalah penyakit jamur yang mengenai lapisan kulit (stratum korneum, rambut, dan kuku ), dan alat-alat dalam.Kandidosis adalah penyakit jamur yang bersifat akut, subakut disebabkan olehspesies candida yang menyerang mulut, vagina, kulit, kuku, bronkus, atau paru. Kandidosis dibedakan secara klinik: a. Kandidosis selaput lendir Kandidosis oral Perleche Vulvovaginitis Balanitis atau balanopostitis Kandidosis mukokutan kronik b. Kandidosis kutis Kandidosis intertriginosa Kandidosis perianal Kandidosis kutis generalisata Paronikia dan onikomikosis Kandidosis kutis granulomatosa c. Kandidosis sistemik Endokarditis Meningitis Pielonefritis Septikemia Mikosis Kutan Adalah infeksi yang disebakan oleh jamur yang menyerang pada daerah superfisial yangterkeratinisasi , yaitu kulit, rambut, kuku. Tidak ke jaringan yang lebih dalam. 1. Tinea pedis (kaki atlet) : Infeksi menyerang jaringan antara jarijari kaki dan berkembang menjadi vesikel-vesikel kecil yang pecah dan mengeluarkan cairan encer,disebabkan oleh Trichophyton rubrum, T. Mentagrophytes, Epidemirmophytonf loccosum. Klinis : Kulit antara jari kaki mengalami pengelupasan dan kulit pecah-pecah, dapat jugaterjadi infeksi skunder.Pencegahan : Jaga kebersihan badan dan lingkungan. Pengobatan : Fase akut : rendam dalam kalium permanganat 1 : 5000 sampai peradanganmereda, kemudian berikan bahan kimia anti jamur (asam benzoat, asam salisilat, krimasam undersilat, krim mikonazol). Pada fase menahun : Berikan bahan kimia krim antijamur pada waktu malam dan bahankimia bedak antijamur pada siang hari.

2. Tinea Korporis, Tinea Kurtis (Kurap) : Menyerang kulit tubuh yang tidak berambut,disebabkan oleh serangan jamur T. Rubrum, T metagrophytes, E. floccosum . Hifatumbuh aktif ke arah pinggir cincin stratum korneum yan belum terserang. Klinis : Sering menimbulkan lesi anuler kurap, dengan bagian tengah bersisik dikelili ngi oleh pingiran merah meninggi sering mengandung volikel. Waktu hifamenjadi tua dan me misahkan diri menjadi artrospora, sel-sel yang mengandungartrosphora mengelupas, sehinga pada beberapa kasus terdapat bagian tengah yang bersih pada lesi kurap. Pencegahan : Jaga kebersihan badan dan lingkungan.Pengobatan : Gunakan asam ben zoat, asam salisilat, krim asam undersilat, krimmikonazol. 3. Tinea kaptitis (kurap kulit kepala) : Infeksi microsporumterjadi pada masa kanakkanak dan biasanya aka sembuh pada saat memasuki masa puberitas. Sedangkan jika infeksi disebabkan oleh Trichophyon yang tidak diobati akan menetap sampai dewasa. Klinis : infeksi dimulai pada kulit kepala , selanjutnya ermofita tumbuh ke bawahmen gikuti dinding keratin folikel rambut. Infeksi pada rambut terjadi di atas akar rambut.Rambut menjadi mudah patah dan meninglakna potongannya yang pendek. Pada bagiankulit kepala yang botak terlihat bentuk kemerahan, edema, bersisik dan membentuk vesikel, pada kasus yang lebih parah dapat menyebabkan peradangan dan mengarah padamikosis sistemik. Pencegahan : Jaga kebersihan badan dan lingkungan. Kasus-kasus sporadis biasanyadiperoleh dari anjing atau kucing. Mencegah penggunaan gunting dan alat cukur untuk bersama. Hindari kontak dengan orang yang terinfeksi.Pengobatan : pada infeksi kuli kepala rambut dapat dicabut degan tangan, sering keramasdan mengunakan krim antijamur mikonizol.

Mikosis Subkutan Adalah Infeksi oleh jamur yang mengenai kulit, mengenai lapisan bawah kulit meliputi otot dan jaringan konektif (jaringan subkutis) dan tulang. 1. Sporotrichosis : Akibat infeksi Sporothrix schenckii, yang merupakan jamur deganhabitat pada tumbuh-tumbuhan atau kayu. Invasi terjadi ke dalam kulit melalui trauma,kemudian menyebar melalui aliran getah bening. Klinis : Terbentuk abses atau tukak pada lokasi yang terinfeksi, Getah bening menjaditebal, Hampir tidak dijumpai rasa sakit, terkadang penyebaran infeksi terjadi juga pada persendian dan paru-paru. Akibat secara histologi adalah terjadinya peradangan menahun, dan nekrosis. Pengobatan : Pada kasus infeksi dapat sembuh dengan sendirinya walaupun menahun, meskipun demikian dapat juga diberikan Kalium iodida secara oral selama beberapa minggu. 2. Kromoblastosis : infeksi kulit granulomatosa progresif lambat yang disebabkan olehFonsecaea pedrosoi, Fronsecaea compacta, Phialophora verrucosa, Cladosporium

carrionii. Habitat jamur ini adalah di daerah tropik, terdapat di dalam tumbuhan atautanah, di alam berada dalam keadaan saprofit. Klinis : Terbentuknya nodul verrucous atau plaque pada jaringan subkutan. Jamur masuk melalui trauma ke dalam kulit biasanya pada tungkai atau kaki, terbentuk pertumbuhan mirip kutil tersebar di aliran getah bening Pencegahan : Pemakaian sepatu pada saat beraktifitas di lingkungan terbuka ( lapangantanah, sawah, kebun dll.) Pengobatan : Dilakukan pembedahan pada kasus lesi yang kecil, sedangkan untuk lesiyang lebih besar dilakukan kemoterapi dengan flusitosin atau itrakonazol. 3. Mycetoma (madura foot) : Infeksi pada jaringan subkutan yang disebabkan oleh jamur Eumycotic mycetoma dan atau kuman (mikroorganisme) mirip jamur yang dise butActinomycotic mycetoma. Klinis : ditandai dengan pembengkakan seperti tumor dan adanya sinus yang bernanah. Jamur masuk ke dalam jaringan subkutan melalui trauma, terbentuk abses yang dapatmeluas sampai otot dan tulang. Jamur terlihat terlihat sebagai granula padat dalam nanah. Jika tidak diobati maka lesi-lesi akan menetap dan meluas ke dalam dan ke perifer sehingga berakibat pada derormitas. Pencegahan : Pemakaian sepatu pada saat beraktifitas di lingkungan terbuka ( lapangantanah, sawah, kebun dll.) Pengobatan : dengan kombinasi streptomisin, trimetropin-sulfametoksazol, dan dapson pada fase dini sebelum terjadi demorfitas. Pembuatan drainase melaui pembedahan dapatmembantu penyembuhan.

3. Mikosis Profunda Dikenal beberapa penyakit jamur profunda yang klinis dan manisfestasinya berbeda satu dengan yang lainnya. CONNANT dkk. (1977) misalnya mencantumkan dalam bukunya Manual of Clinical Mycology pelbagai penyakit, yaitu: Aktinomikosis Nokardiosis Aktinomikosis misetoma Blastomikosis Parakoksidiodomikosis Lobomikosis Koksidiodomikosis Histoplasmosis Histoplasmosis Afrika Kriptokokosis Geotrikosis Aspergillosis Fikomikosis Sporotrikosis Maduromikosis Rinosporidiosis

Kromoblastomikosis Infeksi yang disebabkan jamur Dermatiaceae (berpigmen coklat) Diantara penyakit jamur profunda yang disebutkan di atas, aktinomikosis menurut RIPPON (1974) sudah bukan penyakit jamur asli. Ia cenderung memasukkan Actinomyces dan Nokardia atau bacteria like fungi ini dalam golongan bakteri. Mikosis profunda biasanya terlihat dalam klinik sebagai penyakit kronik dan residif. Manisfestasi klinis morfologik dapat berupa tumor, infiltrasi peradangan vegetatif, fistel, ulkus, atau sinus, tersendiri maupun bersamaan. Mikosis Sistemik Adalah infeksi jamur yang mengenai organ internal dan jaringan sebelah dalam. Seringkali tempat infeksi awal adalah paru-paru, kemudian menyebar melalui darah.Masingmasing jamur cenderung menyerang organ tertentu. Semua jamur bersifat dimorfik, artinya mempunyai daya adaptasi morfologik yang unik terhadap pertumbuhandalam jaringan atau pertumbuhan pada suhu 37 o C. Mikosis subkutan akut kerapkali juga berdampak pada terjadinya mikosis sistemik melalui terjadinya infeksi skunder. 1. Blastomikosis : infeksi yang terjadi melalui saluran pernafasan, menyerang pada kulit, paru-paru, organ vicera tulang dan sistem syaraf yang diakibatkan oleh jamur Blastomycetes de matitidis dan Blastomycetes brasieliensi Klinis : Kasusnya bervariasi dari ringan hinga berat, pada kasus ringan biasanya dapatsembuh dengan sendirinya. Berbagai gejala umum akibat mikosis ini tidak dapat dibedakan dengan infeksi pernafasan bawah akut lain ( demam, batuk, berkeringatmal am). Jika terjadi penyebaran maka dapat mengakibatkan timbulnya lesi-lesi pada kulitdi permukaan terbuka (leher,muka, lengan dan kaki).Pengobatan : melalui pembe rian ketokonazol dan intrakonazolselama 6 bulan akan bermanfaat. 2 . Kokodiodomikosis : disebabkan oleh Coccidiodes immitis yang hidup di tanah,mikosi s ini menyerang paru-paru. Klinis : Infeksi dapat terjadi melalui inhalasi, gejala yang umum timbul adalah demam, batuk, sakit kepala, kompleks gejala tersebut dikenal sebagai demam valley atau desertrheumatism, dan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya. Pengobatan : setelah sembuh dari infeksi primer oleh Coccidiodes immitis biasanya telahterbentuk imunitas terhadap infeksi serupa. Pada kasus penderita dengan difisiensi imunmaka diberikan amfoterisin B dan diikuti dengan pemberian azol oral dalam beberapa bulan. 3.Hitoplasmosis : Disebabkan oleh Hitoplasma capsulatum, jamur ini hidup pada tanah dengan kandungan nitrogen tinggi (tanah yang terkontaminasi dengan kotoran unggas atau ternak)

Klinis : Infeksi terjadi melalui proses pernafasan. Konidia yang terhirup diliputi oleh makrovag areolar akhir-nya berkembang menjadi sel-sel bertunas.Meskipun infeksi d a p a t m e n ye b a r s e c a r a c e p a t n a m u n 9 9 % i n f e k s i b e r s i f a t a s i m t o m a t i k . G e j a l a y a n g timbul berupa sindroma flu yang dapat sembuh dengan sendirinya. Pada kasus penderitadengan defisiensi imun, hipoplasmosis dapat berakibat pada terjadinya pembengkakanlimpa dan hati, demam tinggi , anemia. Juga dapat terjadi tukak-tukak pada hidung, mulutlidah, dan usus halus. Pengobatan : Setelah sembuh dari infeksi ini maka akan terbentuk imunitas dalam tingkattertentu yang mencegah terjadinya infeksi serupa. Jika infeksi telah menyerbar maka pemberian amfoterisin B sering kali dapat menyembuhkan. Akan tetapi pada penderitaAIDS diperlukan terapi khusus. 4. Parakoksidiomikosis : Mikosis yang diakibatkan oleh jamur Paracoccidioides brasilie nsis ( Blastomyces brasiliensis). Organisme infektif terhirup pada proses pernafasan. Klinis : Gejala yang terlihat antara lain adalah pembesaran kelenjar getah bening atau gang-guan gastrointestinal. Pada awal infeksi akan terbentuk lesi-lesi pada paru-paru, kemudian penyebarannya terjadi menuju limpa, hati, selaput mukosa dan kulit. Pengobatan: pemberian sulfoamida secara oral, terbukti efektif pada Parakoksidiomikosisringan, jika penaganan tersebut belum menunjukkan hasil yang berarti maka diberikanketo-konazol, sedangkan pada kasus yang lebih berat, maka digunakan Amfoterisin.

BAB III PEWARNAAN

Macam-macam pewarnaan : 1. Pewarnaan KOH KOH 10% dan Tinta Parker berwarna blue-black. 2. Pewarnaan Lacto Phenol Cotton Blue. Phenol berfungsi untuk mematikan jamur. Glycerol mengawetkan preparat dan mencegah presipitasi dari cat dan Cotton blue berfungsi untuk mewarnai jamur menjadi biru. 3. Pewarnaan Haematoxylin & Eosin (H&E) adalah pengecatan yang dilakukan pertama kali karena berguna untuk diagnosis histologis penyakit jamur. Sayangnya tidak semua jamur tampak oleh pengecatan ini. 4. Pewarnaan Periodic Acid- Schiff (PAS) Jamur yang tidak terwarnai oleh pengecatan Haematoxylin & Eosin, biasanya dapat diwarnai dengan pengecatan PAS. Tetapi tidak semua jamur dapat diwarnai dengan PAS, terkadang juga diperlukan pengecatan Gomori Methenamine Silver. 1. Pewarnaan KOH Bahan-bahan: KOH 10% dan Tinta Parker berwarna blue-black Cara kerja: 1. Dengan menggunakan ose, ambil satu tetes larutan KOH 10% dan letakkan pada object glass. 2. Panaskan needle. 3. Ambil spesimen kulit. 4. Kemudian campurkan dengan larutan KOH 10% pada object glass tadi. Panaskan needle kembali. 5. Panaskan ose, ambil satu tetes larutan tinta Parker dan campurkan dengan larutan KOH dan spesimen kulit pada object glass tadi. 6. Kemudian tutup dengan cover glass. 7. Panaskan beberapa saat diatas api. 8. Sediaan siap dilihat dibawah mikroskop. 2. Pewarnaan Lacto Phenol Cotton Blue Bahan-bahan: - Phenol 20 g - Lactic acid 20 ml - Glycerol 40 g

- Cotton blue 0.05 g Cara kerja: 1. Panaskan ose. 2. Ambil larutan LCB dan letakkan pada object glass. 3. Panaskan ose kembali. 4. Panaskan needle. 5. Dinginkan needle. 6. Ambil koloni jamur. 7. Kemudian campurkan dengan larutan LCB pada object glass tadi. 8. Setelah itu, tutup dengan cover glass dan lihat hasilnya di mikroskop. 3. Pewarnaan Haematoxylin & Eosin Bahan-bahan: a. Aquadest b. Gill's Haematoxylin c. Ammonia Water d. Alkohol 70% e. Alkoholik Eosin 1% Cara kerja: 1. Ambil preparat yang sudah dideparafinisasi. 2. Letakan pada baskom pengecat. 3. Tetesi preparat dengan Gill's Haematoxylin dengan memakai pipet pasteur beberapa tetes sampai menutupi jaringan. 4. Diamkan selama 3 menit, lalu bilas dengan aquadest sampai bersih. 5. Masukan preparat ke dalam ammonia water selama beberapa detik, sampai jaringan menjadi biru. 6. Bilas dengan aquadest sampai bersih. 7. Masukan preparat ke dalam alkohol 70%, selama 30 detik. 8. Tetesi alkoholik eosin 1% sampai menutupi jaringan. Diamkan selama 3 menit. 9. Lalu tetesi alkohol 70% sampai menutupi jaringan selama 30 detik. 10. Lakukan dehirasi. 11. DEHIDRASI: Celupkan preparat pada alkohol absolut I selama 30 detik. Celupkan preparat pada alkohol absolut II selama 30 detik. Celupkan preparat pada Xylene I selama 30 detik. Celupkan preparat pada Xylene II selama 30 detik.

12. Ambil cover glass kemudian tetesi cover glass dengan entelan dan tutup dengan preparat.

13. Diamkan sampai kering. 14. Siap diperiksa dibawah mikroskop. 4. Pewarnaan Periodic Acid Schiff Bahan - bahan: 1. Reagen Schiff 2. Ammonia water 3. Gill's haematoxylin 4. Larutan periodic acid 1% 5. Timer 6. Preparat 7. Aquadest Cara kerja: 1. Ambil preparat yang sudah di deparafinisasi. 2. Letakkan pada baskom pengecatan. 3. Tetesi preparat dengan Periodic acid 1% dengan memakai pipet pasteur beberapa tetes sampai jaringan tertutup dengan Periodic Acid 1%. 4. Diamkan selama 10 menit, lalu bilas dengan aquadest. 5. Letakkan preparat dibawah air kran yang mengalir selama 5 menit. 6. Tetesi preparat dengan reagen Schiff beberapa tetes sampai jaringan tertutup dengan reagen Schiff. 7. Diamkan selama 10 menit, lalu bilas dengan aquadest. 8. Letakkan preparat dibawah air kran yang mengalir selama 5 menit. 9. Tetesi preparat dengan Gill's haematoxylin beberapa tetes sampai jaringan tertutup dengan Gill's haematoxylin. 10. Diamkan selama 1 menit, lalu bilas dengan aquadest. 11. Celupkan preparat dalam Ammonia water sampai preparat berwarna merah kebiruan. 12. Bilas dengan aquadest. 13. Lakukan dehidrasi. 5. Pewarnaan Gomori Methenamine Silver (GMS) Bahan Pengecatan Gomori Methenamine Silver: 1. Aquadest 2. Chromic acid 5% 3. Sodium bisulfite 1% 4. Gold chloride 0,1% 5. Sodium thiosulfate 2%

6. Light green 7. Aquabi-dest Cara Kerja: 1. Siapkan preparat yang telah dideparafinisasi, dan letakan pada baskom pengecat. 2. Tetesi preparat dengan chromic acid 5% dengan 3. Menggunakan pipet pasteur beberapa tetes sampai menutupi jaringan. 4. Dan didiamkan selama 1 jam. Lalu bilas dengan aquadest sampai bersih. 5. Tetesi preparat dengan sodium bisulfite 1%, sampai menutupi jaringan. 6. Dan didiamkan beberapa detik, untuk menghilangkan sisa chromic acid. 7. Lalu bilas dengan aquadest sampai bersih. 8. Bilas preparat dalam aquabi-dest. Lakukan hal ini 34 kali. 9. Masukan preparat ke dalam larutan kerja methenamine silver dalam waterbath dengan suhu 58C selama 10 menit atau lebih, tergantung dari macam jaringan dan jenis jamur yang dicat (biasanya antara 1060 menit). 10. Setelah 10 menit atau lebih (sebelumnya harap dicek di bawah mikroskop), ambil preparat dalam waterbath dan jaringan harus berwarna coklat kekuningan. 11. Setelah jaringan berwarna coklat kekuningan, ambil preparat dalam waterbath. 12. Kemudian bilas preparat dengan aquabi-dest. Lakukan hal ini 34 kali. 13. Setelah itu ambil preparat dan letakkan preparat pada baskom pengecat. 14. Tetesi preparat dengan gold chloride 0,1% dengan menggunakan pipet pasteur sampai menutupi jaringan. 15. Dan didiamkan selama 3 menit. 16. Lalu bilas dengan aquabi- dest beberapa detik. 17. Kemudian tetesi preparat dengan sodium thiosulfate 2%, sampai menutupi jaringan. Dan didiamkan selama 5 menit. 18. Setelah itu bilas dengan aquadest sampai bersih. 19. Tetesi preparat dengan light green sampai menutupi jaringan. Dan didiamkan selama 30 detik. 20. Kemudian bilas dengan aquadest sampai bersih. 21. Setelah itu tetesi preparat dengan alkohol 70% sampai menutupi jaringan. Dan diamkan selama 30 detik. 22. Lakukan Dehidrasi 23. Ambil cover glass, kemudian tetesi cover glass dengan entellan dan tutup dengan preparat. 24. Kemudian didiamkan sampai kering. 25. Siap diperiksa di bawah mikroskop. 6. Pewarnaan Gomori Methenamine Silver Haematoxylin & Eosin (GMS-H&E) BahanBahan: 1. Aquadest

2. Chromic acid 5% 3. Sodium bisulfite 1% 4. Gold chloride 0,1% 5. Sodium thiosulfat 2% 6. Aquabi-dest 7. Gill's haematoxylin 8. Ammonia water 9. Alkohol 70% 10. Alkoholik eosin 1% Cara Kerja: 1. Siapkan preparat yang telah dideparafinisasi, dan letakkan pada baskom pengecat. 2. Tetesi preparat dengan chromic acid 5% dengan menggunakan pipet pasteur beberapa tetes sampai menutupi jaringan. 3. Kemudian diamkan selama 1 jam. 4. Lalu bilas dengan aquadest sampai bersih. 5. Tetesi preparat dengan Sodium Bisulfite 1%. 6. Dan diamkan beberapa detik, untuk menghilangkan sisa chromic Setelah itu bilas dengan aquadest sampai bersih. 7. Bilas preparat dalam aquabi-dest. Lakukan hal ini 3 4 kali. 8. Masukkan preparat ke dalam larutan kerja methenamine silver dalam waterbath dengan suhu 58C selama 10 menit atau lebih, tergantung dari macam jaringan dan jenis jamur yang dicat (biasanya antara 10 60 menit). 9. Setelah10 menit atau lebih (sebelumnya harap dicek dibawah mikroskop), ambil preparat dalam waterbath dan jaringan harus berwarna coklat kekuningan. 10. Setelah jaringan berwarna coklat kekuningan ambil preparat dalam waterbath. 11. Kemudian bilas preparat dalam aquabi-dest. Lakukan hal ini 34 kali. 12. Setelah itu ambil preparat dan letakan preparat pada baskom pengecat. 13. Tetesi preparat dengan gold chloride 0,1% dengan menggunakan pipet pasteur sampai menutupi jaringan. 14. Diamkan selama 3 menit. 15. Bilas dengan aquabi-dest sampai bersih. 16. Kemudian tetesi preparat dengan sodium thiosulphate 2%, sampai menutupi jaringan. Dan didiamkan selama 5 menit. 17. Setelah itu bilas dengan aquadest sampai bersih. 18. Tetesi preparat dengan Gill's haematoxylin beberapa tetes sampai menutupi jaringan. 19. Didiamkan selama 2 menit. 20. Lalu bilas dengan aquadest sampai bersih. 21. Masukkan preparat ke dalam ammonia water selama beberapa detik, sampai jaringan menjadi biru.

22. Setelah itu bilas dengan aquadest sampai bersih. 23. Tetesi preparat dengan alkohol 70% sampai menutupi jaringan. 24. Didiamkan selama 30 detik. 25. Tetesi preparat dengan alkoholik eosin 1% sampai menutupi jaringan. 26. Didiamkan selama 1 menit. 27. Tetesi preparat dengan alkohol 70% sampai menutupi jaringan. 28. Dan didiamkan selama 30 detik. 29. Celupkan preparat ke dalam alkohol absolut I selama 30 detik. 30. Celupkan preparat ke dalam alkohol absolut II selama 30 detik. 31. Celupkan preparat ke dalam xylene I selama 30 detik. 32. Celupkan preparat ke dalam xylene II selama 30 detik. 33. Ambil cover glass kemudian tetesi cover glass dengan entellan, dan tutup dengan preparat. 34. Kemudian didiamkan sampai kering. 35. Siap diperiksa dibawah mikroskop.