Anda di halaman 1dari 20

Fungsi Komunikasi Massa

A. Fungsi Komunikasi massa menurut Dominick (2009:29-35) : 1. Surveillance (pengawassan) Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama: (a). warning or beware surveillance (pengawasan peringatan); (b). instrumental surveillance (pengawasan instrumental). Fungsi pengawasan peringatan terjadi ketika media massa menginformasikan tentang ancaman dari angin topan, meletusnya gunung merapi, kondisi yang memprihatinkan, tayangan inflasi atau adanya serangan militer. Peringatan ini dengan serta merta dapat menjadi ancaman. Sebuah stasiun televisi mengelola program untuk menayangkan sebuah peringatan atau menayangkannya dalam jangka panjang. Sebuah surat kabar memuat secara berseri, bahwa polusi udara dan pengangguran. Kendati banyak informasi yang menjadi peringatan atau ancaman serius bagi masyarakat yang dimuat oleh media, banyak pula orang yang tidak mengetahui tentang ancaman itu. Fungsi pengawasan instrumental adalah pemyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Berita tentang film apa yang sedang dimainkan di bioskop, bagaimana harga-harga saham di bursa efek, produk-produk baru, ide-ide tentang mode, resep masakan dan sebagainya adalah contoh-contoh pengawasan instrumental. Majalah People dan Reader Digest menampilkan fungsi pengawasan instrumental. 2. Interpretation (penafsiran) Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya memasok fakta dan data. Tetapi juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat dan ditayangkan. Contoh nyata penafsiran media dapat dilihat pada halaman tajuk rencana (editorial) surat kabar. Penafsiran ini berbentuk komentar dan opini yang ditujukan kepada khalayak pembaca, serta dilengkapi perspektif (sudut pandang) terhadap berita yang disajikan pada halaman lainnya. Penafsiran tidak terbatas pada tajuk rencana. Rubrik artikel yang disajikanpun memberikan analisis kasus di belakang peristiwa yang menjadi berita utama, misalnya tentang kebijakan pemerintah, pemilihan umum dan lainnya. Selain surat kabar, radio siaran dan televisi pun

memiliki fungsi penafsiran, seperti tayangan acara Bedah Editorial di Metro TV, dan tayangan penafsiran sejenis lainnya. Tujuan penafsiran media ingin mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas wawasan dan membahasnya lebih lanjut dalam komunikasi anarpersona atau komunikasi kelompok. 3. Linkage (pertalian) Media massa dapat menyatakan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu. Contoh kasus di Indonesia adalah kasus Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sebelumnya menjabat Menko Polkam dalam jajaran kabinet gotong royong presiden Megawati Soekarnoputri. Ketika beliau jarang diajak rapat kabinet dan kemudian mengundurkan diri, maka tayangan beritanya di televisi, radio siaran dan surat kabar telah menaikan pamor Partai Demokrat yang mencalonkan SBY sebagai presiden. Dalam pemilu 2004 lalu, perolehan suara Partai Demokrat mencuat dan mengalahkan partai besar sebelumnya, seperti Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Bulan Bintang (PBB). Masyarakat yang tersebar telah dipertalikan oleh media massa untuk memilih partai demokrat. Kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan yang sama tetapi terpisah secara geografis dipertalikan atau dihubungkan oleh media. 4. Tranmission of Values (Penyevbaran Nilai-Nilai) Fungsi penyebaran nilai tidak terlalu terlihat. Fungsi ini juga disebut socialization (sosialisasi). Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu mengadopsi prilaku dan nilai kelompok. Media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu ditonton, didengar dan dibaca. Media massa memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa yang mereka harapkan. Dengan kata lain, media mewakili kita dengan model peran yang kita amati dan harapan untuk menirunya. Sebuah penelitian menunjukan bahwa banyak remaja belajar tentang prilaku berpacaran dari menonton film dan acara televisi yang mengisahkan tentang pacaran, termasuk pacaran yang agak liberal atau bebas, di antara semua media massa, televisi sangat berpotensi untuk terjadinya sosialisasi (penyebaran nilai-nilai) pada anak muda, terutama anakanak yang telah melampaui usia 16 tahun, yang banyak menghabiskan waktunya menonton televisi dibanding kegiatan lain kecuali tidur. Beberapa pengamat memperingatkan kemungkinan terjadinya disfungsi jika televisi menjadikan salurannya terutama untuk sosialisasi (penyebaran nilai-nilai). Sebagai contoh, maraknya tayangan kekerasan di stasiun televisi dapat membentuk

sosialisasi bagi anak muda yang menontonnya, yang membuat anak muda berpikir bahwa metode kekerasan adalah wajar dalam memecahkan persoalan hidup. 5. Entertainment (Hiburan) Sulit dibantah lagi bahwa pada kenyataannya hampir semua media menjalankan fungsi hiburan. Televisi adalah media massa yang mengutamakan sajian hiburan. Hampir tiga perempat bentuk siaran televisi tiap hari merupakan tayangan huburan. Begitu pun siaran radio siarannya banyak memuat acara hiburan. Memang ada beberapa stasiun televisi dan radio siaran yang lebih mengutamakan tayangan berita. Demikan pula halnya dengan majalah. Tetapi ada beberapa majalah yang lebih mengutamakan berita seperti Time dan News Week, Tempo dan Gatra. Melalui berbagai macam program acara yang ditayangkan televisi, khalayak dapat memperoleh hiburan yang dikehendakinya. Melalui berbagai macam acara di radio siaran pun masyarakat dapat menikmati hiburan. Sementara surat kabar dapat melakukan hal tersebut dengan memuat cerpen, komik, teka-teki silang dan berita yang mengandung human intersest (sentuhan manusiawi). Berdasarkan hasil penelitian siarang langsung olahraga yang ditayangkan televisi dan media massa telah meningkatkan jumlah penonton yang menyaksikan olahraga. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat seorang ahli sosiologi John Tulamin dan Charles Page (dalam Rakhmat, 1996) yang menyatakan bahwa meningkatnya olahraga secara luar biasa sebagai hiburan massa setelah berakhirnya Perang Dunia II, sebagaian besar merupakan hasil dari televisi. Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur tiada lain tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan menbaca berita-berita ringan atau melihat tayangan hiburan di televisi dapat membuat pikiran khalayak segar kembali. B. Fungsi Komunikasi Menurut Effendy (dalam Elvinaro, 2007:18-20) 1. Fungsi informasi Fungsi memberikan informasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Berbagai informasi dibutuhlkan oleh khalayak media massa yang bersangkutan sesuai dengan kepentingannya. Khalayak sebagai makhluk sosial akan selalu merasa haus akan informasi yang terjadi. Sebagian informasi didapat bukan dari sekolah atau tempat bekerja melainkan dari media. Kita belajar musik, politik, ekonomi, hukum, seni, sosiologi, psikologi, komunikasi dan hal lain dari media. Kita belajar menggunakan keterampilan menggunakan komputer, memasak, menjahit dan sebagainya dari media. Kita mengenal tempat-

tempat bersejarah yang ada didunia juga dari media elektronik (terutama film) dan media cetak yaitu buku-buku sejarah. Khalayak media massa berlangganan surat kabar, majalah, mendengarkan radio siaran atau menonton televisi karena mereka ingin mendapatkan informasi tentang peristiwa yang terjadi di muka bumi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan, diucapkan atau dilihat orang lain. 2. Fungsi Pendidikan Media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayaknya (mass education). Karena media massa banyak menyajikan hal-hal yang sifatnya mendidik. Salah satu cara mendidik yang dilakukan media massa adalah melalui pengajaran nilai, etika serta aturan-aturan yang berlaku kepada pemirsa atau pembaca. Media massa melakukannya melalui drama, cerita, diskusi dan artikel. Contohnya dalam televisi swasta ada acara pendidikan bagi inu dan balita yang dipandu oleh orang-orang yang berkompeten dalam bidang-bidang yang ada kaitannya dengan pendidikan anak. Semua situasi ini nilai-nilai yang harus dianut masyarakat, tidak diungkapkan secara langsung, tetapi divisualisasikan dengan contoh-contoh tentang bagaimana mendidik anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, apa makanan yang layak, bagaimana merawat bayi yang baik, bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak balita dan sebagainya. 3. Fungsi Memengaruhi Fungsi memengaruhi dari media massa secara implisit terdapat pada tajuk/editorial, features, iklan, artikel dan sebagainya. Khalayak dapat terpengaruh oleh iklan-iklan yang ditayangkan oleh televisi ataupun surat kabar, seperti contoh berikut: Keluarga petani yang hidup di desa mempunyai kebiasaan mencuci rambut dengan menggunakan air rendaman sapu merang yang telah dibakar lebih dahulu. Apa yang terjadi setelah keluarga petani tersebut memiliki pesawat televisi dan menonton tayangan iklan shampo yang dibintangi artis favoritnya?. Kebiasaan yang sudah berlangsung sejak lama, sekarang mengalami perubahan. Dari mencuci rambut dengan memakai air rendaman sapu marang yang dibakar diganti dengan shampo yang ada diiklan televisi. Contoh lain misalnya dalam media cetak surat kabar, fungsi memengaruhi dapat dilihat antara lain dalam ruang atau kolom khusus iklan atau artikel yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak terlihat sebagai suatu artikel yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak terlihat sebagai suatu artikel yang isinya mempromosikan suatu produk. Artikel tersebut biasanya memuat tulisan tentang sesuatu analisis terhadap produk makanan atau elektronik yang baru

komputer, internet dan sebagainya. Khalayak terpengaruh oleh pesan-pesan dalam tulisan tersebut sehingga tanpa sadar khalayak melakukan tindakan sesuai dengan yang diinginkan oleh media tersebut. C. Fungsi-fungsi Komunikasi Massa Menurut Nurudin (2007:63-93): 1. Informasi Fungsi informasi merupakan fungsi paling penting yang terdapat dalam komunikasi massa. Komponen paling penting untuk mengetahui fungsi informasi ini adalah berita-berita yang disajikan. Iklan pun dalam beberapa hal memiliki fungsi memberikan informasi di samping fungsi-fungsi lain. Jurnalisme makana sudah seharusnya dijalankan pers untuk menjelaskan lebih lanjut fungsi informasi. Artinya fungsi pers adalah melaporkan peristiwa di dalam masyarakat yang lebih kompleks dan memberikan makna terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Seharusnya pers mengumpulkan sebanyak-banyaknya materi yang diperlukan untuk membuat kejadian dan makna kejadian bersangkutan bisa dipahami oleh publik. Ini berarti pers tidak lagi melaporkan sesuatu dengan satu dimensi (dari satu sudut pandang saja), tetapi multidimensi dan mengungkapkan latar belakangnya. Oleh karena itu berita yang baik menekankan tentang, masa lalu, keadaan masa kini harus tetap aktual dan berperspektif masa depan. 2. Hiburan Fungsi hiburan untuk media elektronik menduduki posisi yang paling tinggi dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Masalahnya, masyarakat kita masih menjadikan televisi sebagai media hiburan. Dalam sebuah keluarga televisi bisa sebagai perekat keintiman keluarga itu karena masing-masing anggota keluarga mempunyai kesibukan sendiri-sendiri, misalnya suami dan istri kerja seharian sedangkan anak-anak sekolah. Setelah kelelahan dengan aktivitasnya masing-masing, ketika malam hari berada dirumah, kemungkinan besar mereka menjadikan televisi sebagai media hiburan sekaligus sarana untuk berkumpul bersama keluarga. Hal ini mendudukan televisi sebagai alat utama hiburan (untuk melepaskan lelah). Acara hiburan itu juga dianggap perekat keluarga karena dapat ditonton bersama-sama sambil bercanda atau ngemil. Hal ini sangat berbeda dengan media cetak. Media cetak biasanya tidak menempatkan hiburan pada posisi paling atas, tetapi informasi. Namun demikian media cetak pun tetap harus memfungsikan hiburan. Gambar-gambar berwarna yang muncul di setiap halaman, adanya tekateki, dan cerita bergambar menjadi beberapa ciri bahwa media cetak juga memberikan layanan

hiburan. Hal itu mengapa terbitan hari minggu akan diisi rubrik-rubtik yang menghibur. Karena pembaca pembaca surat kabar menikmati hari minggu untuk santai bersama keluarga. 3. Persuasi Fungsi persuasif komunikasi massa tidak kalah pentingnya dengan fungsi informasi dan hiburan. Banyak bentuk tulisan yang kalau diperhatikan sekilas hanya berupa informasi, tetapi jika diperhatikan lebih jeli ternyata terdapat fungsi persuasi. Tulisan pada tajuk rencana, artikel dan surat pembaca merupakan contoh tulisan persuasif. Aktivitas public relation dan promosi khusus dalam komunikasi tatap muka juga menjadi bentuk dari fungsi persuasi. Bahkan jika aktivitas PR dan promosi khusus dilakukan melalui media massa, semua itu tidak lepas dari usaha untuk memengaruhi orang lain, misalnya iklan shampo di televisi yang mengatakan boleh keramas setiap hari. Tujuan iklan ini yaitu memengaruhi penonton untuk mengikuti apa yang dikatakan iklan tersebut. Lebih khusus lagi adalah memengaruhi agar penonton memakai shampo yang diiklankannya tersebut. Banyak hal yang dibaca, didengar dan dilihat khalayak penuh dengan kepentingan persuasif ini. Kampanye politik yang secara periodik menyita perhatian kita di media massa, hampir murni persuasif. Berita-berita yang berasal dari pemerintah pada semua tingkatan mempunyai dasar propaganda yang bertujuan untuk memengaruhi. Apa yang dilihat, didengar, dan dibaca khalayak di media didesain untuk memengaruhinya. Ratusan film dibuat di Amerika setiap tahun berhubungan dengan informasi dan khususnya persuasif. Media massa seringkali membuat atau mengukuhkan nilai-nilai yang sudah kita yakini sebelumnya. Orang religius memiliki kecenderungan mendengarkan acara-acara televisi yang berbau religius. Dalam posisi ini media mampu mengukuhkan nilai yang diyakini seseorang. Media massa juga mampu menggerakan seseorang untuk berbuat sesuatu hal dan tidak berbuat hal lain, misalnya dalam iklan. Media massa dalam beberapa kasus dapat menunjukan sebuah etika. Media massa mampu menunjukan mana etika yang baik dan mana yang tidak baik. Pemberitaan tentang korupsi seorang pejabat pemerintah, sama artinya media massa sedang menawarkan etika lain bahwa mereka yang korupsi itu tidak baik dan jangan diikuti. 4. Transmisi Budaya Transmisi budaya merupakan salah satu fungsi komunikasi massa yang paling luas, meskipun paling sedikit dibicarakan. Transmisi budaya hadir dalam berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak penerimaan individu. Dan beberapa bentuk komunikasi menjadi

bagian dari pengalaman dan pengetahuan individu. Melalui individu komunikasi menjadi bagian dari pengalaman kolektif kelompok, publik, audience berbagai jenis dan individu bagian dari suatu massa. Hal ini merupakan pengalaman kolektif yang direfleksikan kembali melalui bentuk komunikasi, tidak hanya melalui media massa, tetapi juga dalam seni, ilmu pengetahuan dan masyarakat. Warisan kemudian adalah dampak akumulasi budaya dan masyarakat sebelumnya yang telah menjadi bagian dari hak asasi manusia. Hal itu ditransmisikan oleh individu, orang tua, kawan sebaya, kelompok primer atau sekunder dan proses pendidikan. Budaya komunikasi tersebut secara rutin dimodifikasi oleh pengalaman baru yang didapat. Sementara itu secara historis umat manusia telah dapat melewati atau menambahkan pengalaman baru dari sekarang untuk membimbingnya ke masa depan. Manusia tidak hanya dapat mengakumulasi pengalamannya, tetapi mereka telah membuktikan dapat menyortir dan menyaring di antara ingatan. 5. Mendorong Kohesi Sosial Kohesi yang dimaksud di sini adalah penyatuan. Artinya, media massa mendorong masyarakat untuk bersatu. Dengan kata lain, media massa merangsang masyarakat untuk memikirkan dirinya bahwa bercerai-berai bukan keadaan yang baik bagi kehidupan mereka. Media massa yang memberitakan arti pentingnya kerukunan hidup umat beragama, sama saja media massa itu mendorong kohesi sosial. Termasuk disini media massa yang mampu meliput beritanya dengan teknik cover both sides (meliputi dua sisi yang berbeda secara seimbang) atau bahkan all sides (meliputi dari banyak segi suatu kejadian). Dalam posisi ini media massa secara tidak langsung berperan dalam mewujudkan kohesi sosial. Dalam bahasa popular kohesi sosial sama artinya dengan integrasi. Sebab media massa yang tidak bosa menerapkan prinsip berita berimbang tidak dapat mendorong penyatuan masyarakat atau dengan kata lain, media massa hanya menciptakan disintegrasi sosial. Dengan kata lain kalau kita membicarakan fungsi media massa sebagai penyatu masyarakat, kita juga perlu memperbincangkan peluang munculnya permusuhan dan konflik di masyarakat akibat pemberitaan media massa. 6. Pengawasan Berita tentang aktivitas gunung Papandayan merupakan salah satu pelaksanaan dari fungsi pengawasan peringatan yang dilakukan komunikasi massa melalui media massa. Dengan kata lain, Media cetak sedang melaksanakan fungsi pengawasan peringatan. Berita tersebut

memperingatkan masyarakat sekitar, khususnya untuk waspada terhadap aktivitas gunung tersebut karena kemungkinan letusan yang lebih dahsyat akan muncul sewaktu-waktu. Dari berita tersebut diharapkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan atau kalau perlu mengungsi sementara. Dari berita itu juga diharapkan pemerintah setempat bertindak cepat untuk mnegeluarkan peringatan kepada warganya akan bahaya letusan gunung berapi.sementara itu fungsi kedua dari fungsi pengawasan adalah pengawasan instrumental (instrumental surveillance). Aktualisasi diri fungsi ini adalah penyebaran informasi yang berguna bagi masyarakat. Harga kebutuhan bahan sehari-hari merupakan informasi penting yang sangat dibutuhkan masyarakat. Termasuk disini adalah informasi tentang produk-produk baruyang ada dipasaran dan berita tentang jadwal acara televisi atau film-film yang ada digedung bioskop. 7. Korelasi Fungsi korelasi yang dimaksud disini adalah fungsi yang menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungannya. Erat kaitannya dengan fungsi ini adalah peran media massa sebagai penghubung antara berbagai komponen masyarakat. Sebuah berita yang disajikan oleh seorang reporter akan menghubungkan antara narasumber (salah satu unsur bagian masyarakat) dengan pembaca surat kabar (unsur bagian masyarakat lain). Antar unsur masyarakat ini bisa saling berkomunikasi satu sama lain melalui media massa. Misalnya masyarakat menginginkan agar pemerintah dijalankan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang benar. Banyak hal yang sudah dilakukan baik melalui pernyataan sikap, unjuk rasa maupun demonstrasi. Fakta-fakta yang dilakukan masyarakat ini kemudian disiarkan lewat media massa untuk ditujukan kepada khalayak yang lebih luas. Kemudian pemerintah membaca atau menonton aksi yang dilakukan masyarakat tersebut dan menaggapinya bahwa selama ini bahwa pemerintah sudah melaksanakan prinsip-prinsip itu walaupun masih banyak kekurangan atau menanggapi dan berjanji akan melaksanakan apa yang diproteskan masyarakatnya. Dalam posisi ini media menjadi penghubung (korelasi) antara masyarakat dengan pemerintah. 8. Pewarisan Sosial Dalam hal ini media massa berfungsi sebagai seorang pendidik, baik yang menyangkut pendidikan formal maupun informal yang mencoba meneruskan atau mewariskan suatu ilmu pengetahuan, nilai, norma, pranata, dan etika dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. Ada kemungkinan media assa akan mengukuhkan nilai-nilai sosial yang sudah ada dalam masyarakat.

Namun, media menawarkan ide-ide baru yang justru bertolakbelakang dengan nilai-nilai yang sudah disepakati, juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan beberapa film atau sinetron justru lebih banyak melawan budaya yang tidak sesuai tuntunan zaman. manusia pada dasarnya mempunyai kekuatan untuk menarik pengalaman masa lalu dan menambahkannya berdasarkan pengalaman masing-masing untuk dijadikan petunjuk di masa datang. Orang tua biasanya akan mendasarkan pengalaman masa lalu dari orang lain ditambah pengalaman dirinya sendiri untuk merencanakan masa depannya atau nagkan mendidik anaknya berdasarkan apa yang melekat pada dirinya itu. 9. Melawan kekuasaan dan kekuatan Represif Dalam kurun waktu yang lama, komunikasi massa dipahami secara linier memerankan fungsifungsi klasik seperti yang diungkapkan sebelumnya. Hal yang dilupakan oleh banyak orang adalah bahwa komunikasi massa bisa menjadi sebuah alat untuk melawan kekuasaan dan kekuatan represif. Komunikasi massa berperan memberikan informasi, tetapi informasi yang diungkapkannya ternyata mempunyai motif-motif tertentu untuk melawan kemapanan. Memang diakui bahwa komunikasi massa juga bisa berperan untuk memperkuat kekuasaan tetapi juga bisa sebaliknya. Sekedar untuk menyebut contoh adalah media massa di Indonesia pra dan pasca mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan yang sudah dikuasai selama 32 tahun tanpa control secara efektif. Media massa saat itu larut arus pemikiran masyarakat yang sudah bosan dengan kekuasaan represif Ode Baru. Media massa tidak lagi memberitakan kejadian-kejadian yang berasal dari informasi resmi pemerintah, tetapi melakukan investigasi kelapangan. Media massa tidak sekedar meneruskan perkataan pejabat pemerintah yang cenderung menutup-nutupi suatu kejadian yang sebenarnya, tetapi justru ikut membongkar kasus ketidakadilan yang dilakukan pemerintah. Tidak tanggung-tanggung setiap kejahatan yang dilakukan pejabat Negara ditelanjangi habis-habisan. Hal ini menjadi bukti bahwa media massa ikut melawan kekuasaan dan kekuatan represif. 10. Menggugat Hubungan Trikotomi Hubungan trikotomi adalah hubungan yang bertolakbelakang antara tiga pihak. Dalam kajian komunikasi hubungan trikotomi melibatkan pemerintah, pers dan masyarakat. Ketiga pihak ini dianggap tidak pernah mencapai sepakat karena perbedaan kepentingan masing-masing pihak. Hal demikian bisa dimaklumi karena ketiganya mempunyai tuntutan yang berbeda satu

sama lain ketika menghadapi persoalan. Pemerintah biasanya akan memposisikan diri sebagai pihak yang paling berkuasa dan menentukan atas masyarakat dan pers. Jika dihambarkan seperti segitiga sama kaki, pemerintah berada di posisi paling atas sedangkan dibawahnya menginjak pers dan masyarakat, yang berarti pemerintah mempunyai kekuasaan atas keduanya. Hubungan trikotomi tersebut tidak demokratis. Disinilah komunikasi massa melalui media massa memiliki tugas penting untuk mengubah trikotomi yang tidak adil tersebut. Media massa melalui beritaberita yang berbobot mengungkap peristiwa yang bertendensi politik tinggi, tetapi mampu mengungkapkan, mengkritik kebobrokan pemerintah yang korup dan tidak adil manifestasi dan fungsi tersebut.

Proses Komunikasi Massa


A. Model Alir Dua Tahap Menurut Nurudin (2007:140-143) Sebenarnya dalam komunikasi massa dikenal model alir satu tahap (one step flow model), tetapi model ini sudah banyak ditinggalkan oleh ilmuwan komunikasi. Masalahnya, model alir satu tahap memiliki banyak kekurangan dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan media massa beserta dampak yang ditimbulkannya saat ini. Model alir satu tahap banyak dipengaruhi media massa era Perang Dunia II yang mengatakan bahwa media massa sangat kuat memengaruhi benak audience. Sementara itu, audience sendiri dianggap tidak mempunyai kekuatan untuk menghindar atau pasif dari pesan-pesan media massa. Dengan melihat perkembangan media massa berserta pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, muncullah model alir dua tahap (two step flow model) sebagai penyempurnaan model alir satu tahap. Model ini pertama kali dikenalkan oleh Paul Lazarfeld, Bernard Berelson, dan H. Gaudet dalam Peoples Choice (1994). Dalam penelitian mereka ditemukan bahwa pesan media massa sangat kecil dalam memengaruhi calon presiden yang dipilih oleh masyarakat. Mereka lebih banyak dipengaruhi oleh para pemimpin opini (opinion leader). Jadi, media massa membawa pengaruh pada pemimpin opini, sedangkan pemimpin opini memengaruhi pendapat pengikutnya yang bersifat antarpribadi Devito (dalam Nurudin, 2007:140-143). Dalam model ini diterangkan bahwa media massa tidak langsung atau memengaruhi audience, tetapi melalui perantaraan pihak lain. Pihak lain yang dimaksud adalah pemimpin opini/pemuka pendapat tersebut. Model ini didasari oleh bukti bahwa efek media massa terbatas, bahwa masyarakat menerima terpaan media massa secara tidak langsung yakni melalui

perantaraan. Pengaruh yang mengenai audience tidak disebabkan oleh terpaan media massa, tetapi pihak lain. Jadi, pemimpin opini di sini berfungsi sebagai penerusan pesan-pesan media massa. Bahkan pesan-pesan yang diterima audience sudah diinterpretasikan oleh para pemimpin opini tersebut. Model ini sangat sederhana. Kelemahan model ini adalah hanya mengamati alir pesan yang disiarkan media massa dan sampai ke audience. Model ini juga tidak menunjukan bagaimana dampak media massa terhadap perilaku audience. Sebab, semua perubahan berasal dari interpretasi pemimpin opini meskipun pesan-pesan yang disampaikannya berasal dari media massa. Akan tetapi terlepas dari kritikan yang dikemukakan, yang jelas model alir dua tahap ini bisa menggambarkan model dalam komunikasi. Model ini sebenarnya lebih cocok di lingkungan pedesaan dengan tingkat pendidikan yang begitu baik. Dalam lingkungan seperti itu, seseorang yang mempunyai kedudukan, pendidikan dan wibawa tinggi akan menjadi pemimpin opini. Bahkan pemimpin opini lebih dipercaya daripada pesan-pesan media massa. Hal itu tidak berarti bahwa peran media massa tidak ada. Peran media massa tetap ada hanya akses langsungnya ke media massa diambil alih oleh para pemimpin opini tersebut. Kemudian para pemimpin opini meneruskannya pada para pengikutnya. Model ini tidak begitu berlaku untuk menggambarkan proses komunikasi diperkotaan. Alasannya masyarakat kota lebih percaya media massa dan bukan pada pemimpin opini. Bahkan berbicara opini seperti yang dimaksud dalam kehidupan di desa sangat sulit ditemukan di perkotaan.

Gambar. Model alir dua tahap

B. Model Alir Banyak Tahap Model ini mengatakan bahwa ada hubungan timbal balik dari media ke khalayak (yang juga berinterkasi satu sama lain), kembali ke media, kemudian kembali lagi ke khalayak, dan seterusnya. Menurut Nurudin (2007:144-146) melalui model alir banyak tahap, pemirsa

menerima pesan-pesan media massa bisa secara langsung ataupun tidak. Tidak langsung berarti mereka menerima pesan-pesan dari media massa melalui pemimpin opini atau kontak langsung dengan media massa. Bahkan individu bisa mendapatkan informasi dari individu yang lain. Misalnya seorang individu menerima pesan melalui pemimpin opininya (setelah disebarkan melalui kelompok), kemudian individu itu mencari informasi lain dari individu yang lain. Atau bisa juga seorang individu menerima pesan dari kelompoknya, tetapi ia juga bisa mendapatkan informasi lain dari kelompok yang lain pula. Kita dipengaruhi dan memengaruhi orang lain. Misalnya anda mungkin mendengar dari radio bahwa pasar saham akan guncang. Seorang kawan anda mungkin memperkuat keyakinan ini. Surat kabar sore justru mengemukakan keraguan atas keyakinan anda atau malah barangkali memberikan alasan-alasan yang kuat bagi anda untuk mengubah keyakinan tersebut. Diskusi dengan keluarga atau orang lain mungkin akan membuat anda mempertimbangkan kembali keyakinan anda, demikian seterusnya. Intinya model alir banyak tahap merupakan gabungan dari beberapa model (model alir satu tahap dan model alir dua tahap). Model alir multi tahap tampaknya lebih akurat dalam menjelaskan apa yang terjadi dalam pembentukan opini dan sikap. Paling tidak, model ini penting untuk mengilustrasikan bahwa setiap orang dipengaruhi oleh media massa itu sendiri atau komunikasi antar pribadi bahkan memengaruhi media massa dan orang lain. Model alir banyak tahap dapat dikatakan lebih akurat dibanding model alir yang lain dalam menggambarkan arus pesan media massa kepada khalayak.

Gambar. Model banyak tahap

C. Model Melvin De Fleur

Menurut Nurudin (2007:147-148) dalam model De Fleur, sumber dan pemancar tidak berada di satu posisi. Baginya antara sumber dengan pemancar berbeda tahapnya dalam aktivitas komunikasi massa. Saluran menjadi media massa yang mampu menyebarkan pesan-pesan yang dikemukakan sumber. Sementara itu fungsi penerima pesan adalah sebagai orang yang dikenal sasaran pesan yang disebarkan dan penginterpretasi pesannya. Tujuannya adalah menguraikan pesan dan sumber makna interpretasi penerima. Hal ini sama dengan fungsi otak. Umpan balik adalah respon dari tujuan kepada sumber. Model ini tidak menekankan fakta bahwa gangguan boleh mencapuri banyak hal dalam proses komunikasi massa dan tidak semata-mata diidentifikasi dengan saluran atau media. Titik tekan utama model De Fleur ini adalah untuk mencapai berbagai pengertian makna pesan antara sumber dengan tujuan.

Gambar. Model Malvin De Fluer

D. Model Michael W. Gamble dan Teri Kwal Gamble Menurut Nurudin (2007:148-151)) model komunikasi massa yang dikemukakan oleh Gamble dan Gamble bisa dijadikan sebagai alat untuk membedakannya dengan model komunikasi secara umum. Peralatan media massa menjadi alat utama yang harus ada dalam komunikasi massa. Media massa telah memperluas pikiran dan perasaan manusia (baik individu maupn kelompok). Disini media telah berperan untuk melayani semua kepentingan komunikasi manusia. Jika diringkas sumber pesan mengalirkan pesan yang diedit oleh penapis informasi. Kemudian pesan tersebut disebarkan melalui peralatan media massa, lalu diterima oleh audience. Proses penerimaan pesan yang dilakukan oleh audience dipengaruhi oleh berbagai gangguan. Alur pesan selanjutnya audience memberikan umpan balik pada pengirim pesan melalui berbagai

macam saluran. Saluran itu bisa berupa media massa atau melalui saluran lain, seperti telepon, surat, faksimili dan lain-lain. Sekedar contoh, pembaca surat kabar bisa mengirim umpan balik terhadap pesan yang disajikan melalui media massa yang bersangkutan. Misalnya kesalahan data yang pernah diberitakannya. Hal ini merupakan salah satu bentuk umpan balik yang dilakukan pembaca terhadap surat kabar tersebut melalui saluran media massa (surat pembaca). Namun pembaca surat kabar juga bisa mengirim umpan balik melalui telepon atau bentuk saluran yang lain. Misalnya protes terhadap pemuatan gambar atau foto yang salah tempat, foto yang sebenarnya harus menggambarkan suasana demonstrasi mahasiswa karena laporan utamanya tentang demonstrasi mahasiswa justru dimuat gambar lain, atau bisa jadi protes karena surat kabar itu terkesan berat sebelah di dalam berita-berita yang disajikannya. Ada satu ciri lain yang menyertai model ini ketika seorang audience merespons pesan-pesan yang dikemukakan lewat surat kabar kemudian menyampaikannya kepada pengelola surat kabar, bagi gamble dan gamble ia berposisi sebagai komunikator dia memberikan umpan balik. Sementara itu pihak pengelola media, karena menerima pesan dari komunikan (yang berposisi sebagai komunikator), berposisi sebagai komunikan lantaran ia menerima pesan dari penerima pesan yang berposisi sebagai komunikator. Jadi pengelola media massa menyebarkan pesan di satu sisi, penerima pesan menyebarkan umpan balik yang sebenarnya juga pesan di sisi lain. Proses penyebaran dan penerimaan pesan tersebut terus berjalan tanpa henti. Masing-masing (baik komunikator maupun komunikan). Sama-sama penting di dalam proses komunikasi massa tersebut. Ada kalanya komunikator menjadi komunikan atau sebaliknya, dilihat dari siapa yang lebih dahulu mengedarkan pesanpesannya. Model ini seolah mengatakan antara sumber dengan penerima pesan sama kedudukannya. Bahkan sulit dibedakan mana sumber dan mana penerima pesan. Yang jelas media massa sekedar alat atau instrumen di dalam komunikasi massa yang memberikan kesempatan untuk merekam dan mengirimkan informasi dan pengalaman secara cepat kepada audience yang tersebar dan heterogen. Misalnya mereka memperluas ide dan gagasan manusia dengan kemampuan mengatasi ruang dan waktu. Bahkan bisa dikatakan media massa bisa mengirimkan pesan dengan skala yang tidak terbatas.

Gambar. Model Gamble dan Gamble

E. Model HUB Model ini dikemukakan oleh Ray Eldon Hiebert, Donald F. Ungrait, dan Thomas W. Bohn, HUB sendiri berarti Hiebert Ungrait Bohn. Menurut Nurudin (2007:151-154) model ini bisa dikatakan lebih komplit. Model komunikasi massa HUB adalah model lingkaran yang dinamis dan berputar terus-menerus. Model HUB adalah model lingkaran konsentris yang bergetar sebagai sebuah rangkaian prose aksi-reaksi. Komunikator berada berada ditengah-tengah pusaran air. Artinya komunikator menyebarkan pesan keluar. Di dalam proses penyebaran ide dan gagasan, komunikator dibantu oleh media amplification (pengerasan media). Pengerasan ini juga berarti perluasan (extension). Tujuannya adalah agar pesan yang dikeluarkan sejelas dan sekomplit mungkin misalnya ide dan gagasan komunikator dalam televisi diperluas, dikeraskan suaranya oleh volume televisi kepada para penontonnya. Sementara dalam media cetak, idea tau gagasan komunikator diperluas oleh jangkuan media cetak. Pesan tidak sekedar bisa dinikmati secara terbatas seperti kalau kita melakukan komunikasi interpersonal atau komunikasi kelompok, tetapi pesan-pesan itu diperluas kepada audience yang jumlahnya besar. Jadi saluran komunikasi massa berfungsi memperluas jangkauan siarannya. Ada banyak faktor yang ikut memengaruhi proses peredaran pesan-pesannya. Jika diperinci ada komunikator, kode, penapis informasi, media massa itu sendiri, pengatur, penyaring, komunikan dan efek. Semua elemen ini ikut membentuk pesan apa yang akan disiarkan/diedarkan oleh komunikasi massa. Model HUB juga mengakui bahwa ada gangguan atau pemutarbalikan fakta yang turut serta dalam proses penyebaran pesan. Gangguan itu bisa berarti gangguan saluran (gambar tidak jelas, salah cetak,

suara tidak jernih, dan lain-lain) atau gangguan yang berhubungan dengan kesalahan komunikator dalam menyandi pesan, serta pemutarbalikan fakta. Pemutarbalikan fakta ini sangat terlihat ketika media meliput perang. Karena kepentingan politik kelompok tertentu, media massa sengaja memutarbalikan fakta dalam memberikan statistik jumlah korban perang atau karena kurang mengadakan check dan recheck. Media massa hanya memberitakan peristiwa dari satu segi/kelompok. Bisa juga media massa sengaja membela satu kelompok dan memojokkan kelompok lain. Meskipun sebenarnya hal demikian tidak boleh terjadi, fakta itu sangat riil terjadi dalam proses peliputan yang dilakukan media massa. Jadi munculnya gangguan atau bahkan pemutarbalikan fakta adlah suatu keniscayaan.

Gambar. Model HUB

F. Model Black dan Whirney Jay Black dan Frederick C. Whitney dalam bukunya Introduction to mass communication (1988) memperkenalkan model yang lebih umum. Dia membagi proses komunikasi menjadi empat wilayah, yakni sumber, pesan, umpan balik dan audience. Menurut Nurudin (2007:154156) Masing-masing mempunyai ciri yang berbeda ciri ini umumnya melekat pada komunikasi massa. Model ini kurang begitu detail menampilkan elemen-elemen dalam komunikasi massa, misalnya model ini tidak memberikan peranan gatekeeper sebagai penapis atau palang pintu informasi. Hal ini sangat berbeda dengan model lainnya yang menekankan adanya gatekeeper dalam proses komunikasi massa. Namun sebenarnya model sederhana ini dapat memudahkan untuk memahami proses alur pesan yang berjalan akan tetapi, terlepas dari kekurangan yang menyertainya, model Black dan Whitney telah menggambarkan proses dalam komunikasi massa. Paling tidak penggagas model ini memassukkan seorang sumber yang dengan sengaja ingin

memengaruhi mass audience (sebagai salah satu ciri komunikan dalam komunikan), pesan yang berpeluang mengalami gangguan atau kegaduhan karena memakai saluran media massa, audience itu sendiri yang beragam minat dan kepentingan dalam memanfaatkan pesan-pesan media massa dan umpan balik yang tertunda dan multiefek karena pesan tersebut ditanggapi secara beragam oleh audience satu sama lain, sehingga akan memunculkan efek yang berlainan satu sama lian.

Gambar. Model Black dan Whitney

G. Model Bruce Westley dan Malcol McLean Menurut Nurudin (2007:156-157) model yang dibangun oleh Westley dan McLean ini sangat menekankan peran gatekeeper dalam proses komunikasi massa. X menunjuk pada peristiwa atau sumber informasi (misalnya kejadian atau pembicaraan yang dikirim pada audience tertentu), sedangkan A adalah komunikator dalam komunikasi massa yang diperankan oleh seorang reporter. Ia mendeskripsikan kejadian atau pembicaraan tersebut dalam sebuah berita. Sementara itu, C adalah gatekeeper yang diperankan oleh seorang editor yang menghapus, menekankan kembali atau menambahkan laporan yang ditulis reporter berdasarkan peristiwa yang diliputnya dengan kata lain. Kemudian B adalah audience yang membaca, mendengarkan atau melihat kejadian yang sudah dilaporkan gatekeeper setelah sebelumnya ditulis reporter. Pembaca dengan ketepatan atau kepentingan beritanya. Editor bisa juga menyediakan umpan balik kepada reporter. Dengan melihat model tersebut, posisi seorang reporter dengan seorang editor berbeda. Meskipun dalam praktiknya demikian, keduanya bisa menambah dan mengurangi suatu fakta yang disajikan. Reporter, misalnya sebenarnya dengan liputannya telah membuat tulisan yang disesuaikan dengan keadaan dirinya. Ini jelas peran gatekeeper, tetapi dua orang itu membedakan. Model tersebut seolah menekankan kedudukan antara reporter dan editor terpisah. Padahal dalam kajian komunikasi massa keduanya adalah komunikator (wakil dari lembaga

media massa). Tidak perlu dirisaukan perbedaan model lain dengan yang sudah disebutkan dibagian awal, yang jelas model itu tetap bisa menggambarkan proses komunikasi massa. Bisa jadi Westley dan McLean hanya mencoba membuat model lebih detail.

Gambar. Model Westley dan Mclean

H. Model Maletzke Menurut Nurudin (2007:158) model yang dikemukakan oleh ilmuwan Jerman Maletzke (1963) ini di awal perkembangannya secara sederhana menggambarkan peran media massa bawah tanah di Berlin. Jika silihat sekilas, model komunikasi massa ini sangat rumit. Akan tetapi jika diperhatikan sevara saksama judtru lebih sederhana. Model ini merupakan penggembangan dari model umum komunikasi yang sering dinamakan Communicator , Medium (M), dan Receiver . Bahkan jika diperhatikan hampir menyerupai model Berlo (Model S-M-C-R). tidak banyak keistimewaan model Maletzke ini. Bahkan model ini terlalu detail sehingga justru kelihatan sangat umum. Misalnya bagaimana lingkungan komunikator berpengaruh terdapat apa yang akan disiarkan dan apa yang terjadi pada diri penerima pesannya.

Gambar. Model Malatzke

I. Model Bryant dan Wallace Menurut Nurudin (2007:159) model dari Bryan dan Wallace ini khas untuk mengamati model arus pesan dalam media radio dan televisi. Misalnya ada pesan yang disebarkan dengan memakai peralatan pengeras suara (yang terkait erat dengan unit-unit lainnya) dan di sisi lain ada pendengar yang juga berkaitan erat dengan unit-unit yang mengitari pendengar. Ada juga umpan balik yang dilakukan pendengar memiliki seperangkat nilai, motivasi, perasaan, sikap tertentu yang berasal dari lingkungannya dan memengaruhi proses penerimaan serta penyebaran pesanpesannya. Secara khusus model ini tidak memasukkan gatekeeper dalam proses peredaran pesan. Oleh karena itu model ini bisa dikatakan masih terlalu umum di dalam menggambarkan model komunikasi massa. Sebab sebagaimana kita ketahui gatekeeper adalah hal yang mutlak harus ada dalam saluran komunikasi massa yang merupakan elemen utamanya.

Gambar. Model Bryant dan Wallace