P. 1
Askep Tumor Otak

Askep Tumor Otak

|Views: 97|Likes:
Dipublikasikan oleh Karssa Atma Dijaya

More info:

Published by: Karssa Atma Dijaya on Nov 16, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2013

pdf

text

original

PATHWAY

etiologi Pertumbuhan sel otak abnormal Tumor otak Mengganggu fungsi spesifik bagian otak tempat tumor Timbul manifestasi klinik/gejala lokal sesuai fokal tumor Masa dalam otak bertambah Penekanan jaringan otak terhadap sirkulasi darah & O2 Penurunan suplay O2 ke jaringan otak akibat obstruksi sirkulasi otak Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke sub arachnoid Hidrochepalus

Hipoksia cerebral Kompensasi takipnea Pola nafas tidak efektif Perubahan perfusi jaringan cerebral Akumulasi CO2 di cerebral (CO2 reseptor vasodilatasi)

Kerusakan pembuluh darah otak Perpindahan cairan intravaskuler ke jaringan serebral ↑ volume intrakranial ↑ TIK Kelebihan volume cairan

Kompensasi (butuh waktu berhari-hari sampai berbulanbulan) dengan cara : 1. ↓ volume darah intracranial 2. ↓ volume cairan cerebrospinal 3. ↓ kandungan cairan intra sel 4. mengurangi sel-sel parenkim

Kompensasi kurang cepat Kompresi batang otak Iritasi pusat vagal di medula oblongata Muntah proyektil Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Statis vena cerebral Obstruksi sistem cerebral Obstruksi drainage vena retina Papil edema Kompresi saraf optikus (N. III/IV) Gangguan penglihatan Perubahan persepsi visual

Nyeri kepala

Perubahan perfusi jaringan cerebral

Bergesernya ginus medialis labis temporal ke inferion melalui insisura tentorial Herniasi cerebral

PK. kematian

Tumor cerebellum Gangguan fungsi cerebellum (atur sikap badan / aktifitas oto dan keseimbangan) Pusing, ataxia, otot tidak terkoordinasi Resiko cidera

Tumor di enchepalon (otak tengah) - Thalamus (penghubung sensasi somatic, lihat, dengar dari organ ke kortek serebri) - Berperan dalam integrasi sensoris interprestais secara kasar (visual, auditory, tektil, temperatur, pain dan tas sensation) Gangguan sensori Resiko cidera

Tumor di meningen/ infracranial

Tumor korteks motorik Perubahan suplai darah Nekrosis jar.otak Perubahan kepekaan neuron Gangguan hantaran listrik otak Kejang Resiko cidera

Tumor cerebrum / telenchepalon (cerebral hemisphere) Iobus temporalis Iobus frontalis - Pusat pendengaran (sebagai motor (membedakan korteks, pemantau suara) gerak bicara, - Pusat bicara aktivitas mental, (mengerti aktivitas jari bagaimana tangan) mengucapkan huruf & Gangguan mendengarkannya kepribadian, - Pusat memori perubahan status - Pusat organ vital emosional & & emosi tingkah laku & disintegritasi perilaku mental - Kerusakan kurang merawat kontruksi verbal diri - Perubahan persepsi sensori, pandangan (halusinasi) - Dimensia Iobus oksipital (visual center, visual speech center, atur kemampuan)

Gangguan Hipotalamus kepribadian, - Atur temperatur konfusi, - Atur cairan dan gangguan gaya elektrolit berjalan - Tidur/ terbangun/ terjaga - Intake makanan - Emosi Resiko - Kontrol endokrin/ cidera respon seksual - Resiko perubahan suhu tubuh - Ketidakseimbangan cairan & elektrolit - Resti nutrisi krg dr kebutuhan

Gangguan visual, hemiomapia, homonimus kontralateral Perubahan persepsi sensori visual

Nyeri kepala Perubahan rasa nyaman nyeri

Gangguan fs. penghubung tingkat kewaspadaan kesadaran Impuls dari atas ke cortex cerebri terganggu Penurunan akfititas Tertidur ↑ aktifitas Terjaga terus/ tidak bisa tidur

Epitalamus Gangguan fungsi pusat affectory (penciuman)

Perubahan pola tidur

Perubahan persepsi sensori penciuman

Iobus parentalis (sebagai penerima & pembeda impuls sensori : nyeri sentuhan, suhu Resiko cidera

A. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Data klien b. Riwayat kesehatan       Keluhan utama Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit keluarga

c. Pemeriksaan fisik B1 : sesak, RR : 26x/mnt, sianosis, terdapat penggunaan otot

bantu nafas, cuping hidung B2 : hipertensi, nadi : >100x/mnt, akral dingin, CRT : >2 dtk,

SaO2 : 70%, B3 :kejang, penurunan kesadaran, pusing, nyeri kepala,

gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan, B4 B5 B6 :: mual, muntah proyektil, anoreksia : lemah

B. ANALISA DATA DATA DS : klien mengeluh sesak DO : klien tampak menggunakan otot bantu napas, klien tampak sianosis, pernapasan cuping hidung, RR : 26x/mnt DS : klien mengeluh nyeri pada kepala Trauma jaringan Nyeri ETIOLOGI Depresi system saraf pusat PROBLEM Ketidakefektifan Pola Napas

DO : klien tampak kesakitan, skala nyeri 7, Nadi : 105x/mnt, TD : 150/100mmHg DS : klien mengatakan badannya terasa lemah DO : klien tampak lemas, akral teraba dingin, CRT : > 2dtk, sianosis, SaO2 : 70% DS : DO : mual, muntah proyektil, penurunan napsu makan. DS: DO: penurunan kesadaran, pusing, gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan Perubahan fungsi serebral Resti Cedera sekunder Mual muntah Resti Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh Penurunan aliran darah sekunder Perubahan Perfusi Jaringan Serebral

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan depresi system saraf pusat akibat tumor otak yang ditandai dengan klie mengeluh sesak, klien tampak menggunakan otot bantu napas, klien tampak sianosis, pernapasan cuping hidung, RR : 26x/mnt. 2. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan sekunder akibat tumor yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada daerah kepala, klien tampak kesakitan, skala nyeri 7, Nadi : 105x/mnt, TD : 150/100mmHg. 3. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan aliran darah sekunder akibat obtruksi jaringan otak yang ditandai dengan klien

mengatakan badannya terasa lemah, klien tampak lemas, akral teraba dingin, CRT : > 2dtk, sianosis, SaO2 : 70%. 4. Resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah. 5. Resti cedera berhubungan dengan perubahan fungsi serebral sekunder akibat tumor otak.

D. INTERVENSI DAN RASIONAL Ketidakefektifan pola pernafasan dapat teratasi setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 jam dengan criteria hasil: a. Klien kooperatif  Jelaskan pada klien dan keluarga tindakan yang akan diberikan R/ agar klien mengerti dan kooperatif b. Klien tidak mengeluh sesak    Berikan posisi semi fowler R/ meningkatkan ekspansi paru Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian O2 R/ Memenuhi kebutuhan O2 ke seluruh tubuh Tanyakan pada klien apakah masih mengeluh sesak R/ untuk mengetahui apakah klien masih merasa sesak atau tidak c. Klien tidak tampak sianosis  Observasi warna kulit wajah klien R/ untuk mengetahui tanda-tanda sianosis d. Klien tidak menggunakan otot bantu nafas  Observasi penggunaan otot bantu nafas R/ untuk mengetahui papakah klien masih merasa sesak atau tidak e. RR dalam batas normal 16-20x/mnt  Observasi RR klien R/ untuk mengetahui pernafasan klien normal atau tidak

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->