Anda di halaman 1dari 45

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK TAMAN KANAK-KANAK

Tugas Akhir Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Prasyarat Kelulusan pada Progran Diploma II

Oleh: Nuraeni 1403204044

PENDIDIKAN GURU TAMAN KANAK-KANAK FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

HALAMAN PENGESAHAN

Tugas Akhir berjudul Pengaruh Pola Asuh Orang tua terhadap Pembentukan kepribadian Anak Usia Taman Kanak-kanak setelah mendapat koreksi dan perbaikan seperlunya dinyatakan sah sebagai prasyarat kelulusan pada program Diploma II Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Disahkan di semarang pada:

Hari

Tanggal :

Mengetahui, Dosen pembimbing Dosen penguji

Drs. Sukardi, M.Pd NIP. 131676923

Amirul Mukminin, S.Pd NIP. 132307557

Ketua Program Studi D2 PGTK

Dra. Hj. Sri S. Dewanti, H., M.Pd NIP. 131413200

SARI

Nuraeni. 2006. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Kepribadian Anak Usia Taman Kanak-kanak. Tugas Akhir, Program studi D-2 Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Pembimbing: Drs. Sukardi, M.Pd Kata kunci: Pola asuh, orang tua, kepribadian, anak Pembelajaran tentang sikap, perilaku, dan bahasa yang baik sehingga terbentuklah kepribadian anak yang baik pula, perlu diterapkan sejak dini. Kenyataan yang terjadi di masyarakat, bahwa tanpa disadari semua perilaku serta kepribadian orang tua yang baik ataupun tidak ditiru oleh anak. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak usia taman kanak-kanak. Model atau gaya pengasuhan orang tua terdapat empat macam yaitu: (1) pola asuh demokratis, (2) pola asuh otoriter, (3) pola asuh permisif, (4) pola asuh penelantar. Pola asuh orang tua yang baik untuk pembentukan kepribadian anak adalah pola asuh orang tua yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi orang tua juga nengawasi dan mengendalikan anak. Sehingga akan terbentuklah karakteristik anak yang dapat mengontrol diri, anak yang mandiri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi sters dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru. Sikap orang tua yang mendukung pembentukan kepribadian anak yang baik (1) penanaman pekerti sejak dini, (2) mendisiplinkan anak, (3) menyayangi anak secara wajar, (4) menghindari pemberian label malas, (5) hati-hati dalam menghukum anak. Strategi dalam pembentukan kepribadian anak (1) tekankan segi positif, (2) jaga agar peraturan tetap sederhana, (3) bersikap proaktif, (4) mengarahkan kembali perilaku yang salah, (5) mengatasi transisi, (6) negosiasi dan kompromi, (7) jangan membuat alasan, (8) hindari kontrol lewat rasa bersalah. Anak prasekolah belajar cara berinteraksi melalui mencontoh, berbagi, dan menjadi teman baik. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama bagi anak yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Kondisi dan latar belakang keluarga yang berbeda menyebabkan berbeda pula pola asuh yang diberikan sehingga kepribadian yang terbentuk tiap individu akan berbeda. Cara pengasuhan orang tua yang bekerja dan tidak bekerja berbeda. Begitu pula dengan gaya pengasuhan orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi dan yang rendah. Dan juga pola asuh orang tua yang tingkat perekonomian menengah keatas dan manangah kebawah. Masing-masing

pola asuh yang diberikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Berdasarkan pemaparan dalam penulisan ini, beberapa saran yang sekiranya dapat dilaksanakan adalah (1) dalam pengasuhan anak orang tua harus memperhatikan tingkat perkembangan anak, (2) semua perilaku orang tua yang baik dan buruk akan ditiru oleh anak, oleh karena itu orang tua harus menjaga setiap perilakunya sehingga anak akan meniru sikap positif dari orang tua. (3) pola asuh orang tua harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak pada saat itu, ada kalanya orang tua bersikap demokratis, adakalanya juga harus bersikap otoriter, ataupun bersikap permisif.

MOTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO: Jadikanlah kerjamu adalah ibadahmu dan jadikanlah jabatanmu adalah amanah-Nya Manfaatkanlah waktu luangmu, karena ia tidak akan pernah kembali dan jangan biarkan waktu itu terbuang sia-sia Hargailah anak-anakmu dan perhaluslah budi pekertinya (H.R. Muslim) Tiada pemberian terbaik dari orang tua kepada anaknya melebihi budi pekerti yang mulia. (H.R. Tirmidzi dan Hakim)

PERSEMBAHAN: 1. Bapak Darto dan Ibu Carnesih tercinta yang selalu berdoa dan memberi motivasi dalam pelaksanaan studi 2. Adikku Tri Kurnia Wati tersayang yang selalu membuatku tersenyum 3. Drs. Sukardi M.Pd Dosen pembimbing Tugas Akhir 4. Amirul Mukminin S.Pd Dosen penguji Tugas Akhir 5. Teman-temanku seperjuangan dan Nabila Kos yang selalu membantu dalam setiap hal 6. Pembaca yang budiman

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rakhmat-Nya, dan dengan petunjuk-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir sebagai syarat dalam kelulusan Program D2 PGTK dengan lancar. Tugas Akhir yang disusun penulis dengan judul Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak Usia Taman Kanak-kanak sangat bermanfaat sekali bagi orang tua dan guru TK, khususnya bagi penulis sebagai calon pengasuh dalam keluarga dan pendidik di Taman Kanak-kanak. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini tidak akan sukses tanpa bantuan orang lain. Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Dra. S. S. Dewanti H., M.Pd ketua program D2 PGTK 2. Drs. Sukardi M.Pd Dosen pembimbing Tugas Akhir 3. Teman-teman dan semua pihak yang telah memberi dukungan dalam menyelesaikan penulisan Tugas Akhir ini Tiada gading yang tak retak, tiada sesuatu di dunia ini yang sempurna. Demikian pula Tugas Akhir ini. Kritik dan saran dari berbagai pihak sangatlah penulis harapkan agar dalam penulisan berikutnya lebih baik.

Semarang, Juli 2006

Penulis

DAFTAR ISI

halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................. i HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... ii SARI .......................................................................................................... iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................. v KATA PENGANTAR .............................................................................. vi DAFTAR ISI ............................................................................................. vii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................ 2 C. Tujuan .................................................................................. 2 D. Pembatasan Masalah ............................................................ 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pola Asuh Orang Tua dan Kepribadian ............. 3 B. Macam-macam Pola Asuh Orang Tua ................................. 4 C. Pola Kepribadian .................................................................. 6 BAB III PEMBAHASAN A. Penerapan Pola Asuh yang Baik Bagi Pembentukan Kerpribadian Anak ............................................................... 10 B. Pola Asuh Orang Tua yang Menyimpang ............................ 16

C. Sikap

Orang

Tua

yang

Mendukung

Pembentukan

Kepribadian Anak yang Baik ............................................... 19 D. Strategi Dalam Pembentukan Kepribadian Anak ................ 22 E. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap pembentukan Kepribadian Anak ................................................................ 27 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan .......................................................................... 34 B. Saran ..................................................................................... 35 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Usia Prasekolah adalah usia yang rentan bagi anak. Pada usia ini anak mempunyai sifat imitasi atau meniru terhadap apapun yang telah dilihatnya. Orang-orang dewasa yang paling dekat dengan anak adalah orang tua. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak yang mempunyai pengaruh sangat besar. Haryoko (1997: 2) berpendapat bahwa lingkungan sangat besar pengaruhnya sebagai stimulans dalam perkembangan anak. Orang tua mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan kepribadian anak. Kenyataan yang terjadi di masyarakat, bahwa tanpa disadari semua perilaku serta kepribadian orang tua yang baik ataupun tidak ditiru oleh anak. Anak tidak mengetahui apakah yang telah dilakukanya baik atau tidak. Karena anak usia prasekolah belajar dari apa yang telah dia lihat. Pembelajaran tentang sikap, perilaku dan bahasa yang baik sehingga akan terbentuknya kepribadian anak yang baik pula, perlu diterapkan sejak dini. Orang tua merupakan pendidik yang paling utama, guru serta teman sebaya yang merupakan lingkungan kedua bagi anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1978) yang mengungkapkan bahwa orang yang paling penting bagi anak adalah orang tua, guru dan teman sebaya dari merekalah anak mengenal sesuatu yang baik dan tidak baik.

Pendidikan dalam keluarga yang baik dan benar, akan sangat berpengaruh pada perkembangan pribadi dan sosial anak. Kebutuhan yang diberikan melalui pola asuh, akan memberikan kesempatan pada anak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sebagian dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Oleh karena itu, penulis akan membahas suatu permasalahan yang berjudul Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat disusun suatu permasalahan yaitu bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak.

C. Tujuan Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak usia TK.

D. Pembatasan Masalah Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, penulis membatasai usia prasekolah yaitu 4 tahun. Sedangkan kajiannya terbatas pada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kepribadian anak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pola Asuh Orang Tua dan Kepribadian 1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu kewaktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif. 2. Pengertian Kepribadian Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris personality. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin persona yang berarti topeng. Menurut Gordon W All Port personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system, that determines his unique adjustment to his environment. Menurut bangsa Roma, persona berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain, bukan dari sebenarnya. Aktor menciptakan dalam pikiran penonton, suatu impresi dari tokoh yang diperankan di atas pentas, bukan impresi dari tokoh itu sendiri. Dari konotasi kata persona inilah, gagasan umum mengenai kepribadian sebagai kesan yang diberikan seseorang pada orang lain diperoleh. Apa yang dipikir, dirasakan dan siapa dia sesungguhnya termasuk dalam keseluruhan make up psikologis seseorang dan sebagian besar terungkapkan melalui perilaku. karena itu,

kepribadian bukanlah suatu atribut yang pasti dan spesifik, melainkan merupakan kualitas perilaku total seseorang. Berdasarkan definisi Allport, kepribadian ialah susunan sistemsistem psikofisik yang dinamai dalam diri suatu individu yang unik terhadap lingkungan.

B. Macam-macam Pola Asuh Orang tua Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua: 1. Pola asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. 2. Pola asuh Otoriter Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua

tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya. 3. Pola asuh Permisif Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak. 4. Pola asuh Penelantar Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya. Menurut Diane Baumrind dalam Djiwandono (1989: 23-24) pola asuh orang tua dapat diidentifikasikan menjadi 3, yaitu: 1. Pola asuh Demokratis Pola asuh orang tua yang demokratis pada umumnya ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak. Mereka membuat semacam aturan-aturan yang disepakati bersama. Orang tua yang

demokratis ini yaitu orang tua yang mencoba menghargai kemampuan anak secara langsung. 2. Pola asuh Otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan orang tua yang melarang anaknya dengan mengorbankan otonomi anak. Menurut Danny (1986: 96), pola asuh otoriter mempunyai aturan-aturan yang kaku dari orang tua. 3. Pola asuh Permisif Pola asuh permisif ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas kepada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan keinginan anak. Moesono (1993: 18) menjelaskan bahwa pelaksanaan pola asuh permisif atau dikenal pula dengan pola asuh serba membiarkan adalah orang tua yang bersikap mengalah, menuruti semua keinginan, melindungi secara berlebihan, serta memberikan atau memenuhi semua keinginan anak secara berlebihan.

C. Pola Kepribadian Istilah pola berarti desain atau konfigurasi. Dalam hal pola kepribadian, sistem-sistem psikofisik yang beragam yang membentuk kepribadian individu saling berkaitan, dan yang satu mempengaruhi yang lain. Dua komponen utama pola kepribadian adalah inti konsep diri dan jari-jari roda sifat-sifat yang dipersatukan dan dipengaruhi inti. 1. Komponen Pola Kepribadian a) Konsep Diri

Konsep diri sebenarnya ialah konsep seseorang dari siapa dan apa dia tau. Konsep ini merupakan bayangan cermin ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan dengan orang lain terhadapnya. Konsep diri ideal ialah gambaran seseorang mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakannya. Setiap macam konsep diri mempunyai aspek fisik dan psikologis. Aspek fisik terdiri dari konsep yang dimiliki individu tentang penampilannya, kesesuaian dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam hubungan dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan tubuhnya dimata orang lain. Aspek psikologis terdiri dari konsep individu tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Mula-mula kedua aspek ini terpisah, tetapi selama kanak-kanak secara bertahap aspek-aspek ini menyatu. b) Sifat Sifat-sifat adalah kualitas perilaku atau pola penyesuaian spesifik, misalnya reaksi terhadap frustasi, cara menghadapi masalah, perilaku agresif dan defensif, dan perilaku terbuka atau tertutup di hadapan orang lain. Ciri tersebut terintegrasi dengan dan dipengaruhi oleh konsep diri. Beberapa di antaranya terpisah dan berdiri sendiri, sementara yang lain bergabung dalam sindroma atau pola perilaku yang berhubungan. Sifat-sifat mempunyai dua ciri yang menonjol:

1) Individualitas, yang diperlihatkan dalam variasi kuantitas ciri tertentu, dan bukan dalam kekhasan ciri bagi orang itu 2) Konsisten, yang berarti bahwa orang itu bersikap dengan cara yang hampir sama dalam situasi dan kondisi serupa 2. Perkembangan Pola Kepribadian Pola kepribadian merupakan hasil pengaruh hereditas dan lingkungan. Thomas dan kawan-kawan mengatakan, kepribadian dibentuk oleh temperamen dan lingkungan yang terus menerus saling mempengaruhi. Mereka selanjutnya menerangkan bahwa jika kedua pengaruh itu harmonis, orang dapat mengharap perkembangan anak yang sehat, jika tidak harmonis, masalah perilaku hampir pasti akan muncul (93). Terdapat tiga faktor yang menentukan perkembangan kepribadian; faktor bawaan, pengalaman awal, dan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan selanjutnya. Pola tersebut sangat erat hubunganya dengan kematangan ciri fisik dan mental yang merupakan unsur bawaan individu. Ciri-ciri ini menjadi landasan bagi struktur pola kepribadian yang dibangun melalui pengalaman belajar. Melalui belajar, sikap terhadap diri dan metode khas untuk menanggapi orang dan situasi, sifat-sifat kepribadian didapatkan melalui pengulangan dan kepuasan yang diberikannya. Pengalaman belajar yang awal terutama didapat dirumah dan pengalaman kemudian diperoleh dari berbagai lingkungan diluar rumah.

Tekanan sosial dirumah, sekolah dan kelompok teman sebaya juga mempengaruhi corak sifat-sifat kemudian hari. Bila agresivitas diperkuat karena dianggap ciri yang sesuai dengan jenis kelamin untuk anak lakilaki, anak akan berusaha belajar bersikap agresif.

BAB III PEMBAHASAN

A. Penerapan Pola Asuh yang Baik bagi Pembentukan Kepribadian Anak Anak adalah buah hati orang tua yang merupakan harapan masa depan. Oleh karena itu, anak harus dipersiapkan agar kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, bermoral dan berkepribadian yang baik berguna bagi masyarakat. Untuk itu, perlu dipersiapkan sejak dini. Anak sangat sensitif terhadap sikap lingkungannya dan orang-orang terdekatnya. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat mempengaruhi kepribadian anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui bagaimana cara mengasuh anak dengan baik sehingga terbentuklah kepribadian yang baik pula. Kepribadian anak terbentuk dengan melihat dan belajar dari orangorang disekitar anak. Keluarga adalah orang yang terdekat bagi anak dan mempunyai pengaruh yang sangat besar. Segala perilaku orang tua yang baik dan buruk akan ditiru oleh anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menerapkan sikap dan perilaku yang baik demi pembentukan kepribadian anak yang baik. Pola asuh yang baik untuk pembentukan kepribadian anak yang baik adalah pola asuh orang tua yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi orang tua juga mengendalikan anak. Sehingga anak yang juga hidup dalam mansyarakat, bergaul dengan lingkungan dan tentunya anak mendapatkan pengaruh-pengaruh dari luar yang mungkin dapat merusak

kepribadian anak, akan dapat dikendalikan oleh orang tua dengan menerapkan sikap-sikap yang baik dalam keluarga serta contoh atau tauladan dari orang tua. Orang tua yang bisa dianggap teman oleh anak akan menjadikan kehidupan yang hangat dalam keluarga. Sehingga antara orang tua dan anak mempunyai keterbukaan dan saling memberi. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, gagasan, keinginan, perasaan, serta kebebasan untuk menanggapi pendapat orang lain. Anak-anak yang hidup dengan pola asuh yang demikian akan menghasilkan karakteristik anak yang dapat mengontrol diri, anak yang mandiri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stres dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru. Pengasuhan anak perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Perkembangan anak dipengaruhi faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. 1. Faktor bawaan Sifat yang dibawa anak sejak lahir seperti penyabar, pemarah, pendiam, banyak bicara, cerdas atau tidak cerdas. Keadaan fisik seperti warna kulit, bentuk hidung sampai rambut. Faktor bawaan merupakan warisan dari sifat ibu dan bapak atau pengaruh sewaktu anak berada dalam kandungan, misalnya pengaruh gizi, penyakit dan lain-lain. Faktor bawaan dapat mempercepat, menghambat atau melemahkan pengaruh dari lingkungan.

Tidak dapat dibandingkan anak yang satu dengan anak yang lain tanpa memperhitungkan faktor ini. 2. Faktor lingkungan Faktor dari luar diri anak yang mempengaruhi proses perkembangan anak. Meliputi suasana dan cara pendidikan lingkungan tertentu, lingkungan rumah atau keluarganya dan hal lain seperti sarana dan prasarana yang tersedia misalnya alat bermain atau lapangan bermain. Faktor lingkungan dapat merangsang berkembangya fungsi tertentu dari anak yang dapat menghambat atau mengganggu kelangsungan perkembangan anak. Pengaruh yang sangat besar dan sangat menentukan dirinya nanti sebagai orang dewasa adalah ketika anak berusia dibawah 6 tahun, sehingga lingkungan keluarga sangat perlu diperhatikan. Hakikat mengasuh anak adalah proses mendidik agar kepribadian anak dapat berkembang dengan baik, ketika dewasa menjadi bertanggung jawab. Pola asuh yang baik menjadikan anak berkepribadian yang kuat, tidak mudah putus asa dan tangguh menghadapi tekanan hidup. Sebaliknya pola asuh yang salah menjadikan anak rentan terhadap stres, mudah terjerumus pada hal-hal yang negatif. Mengasuh anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak baik jasmani, intelektual, emosional, keterampilan, norma dan nilai-nilai. Hakikat mengasuh anak meliputi pemberian kasih sayang dan rasa aman, sekaligus disiplin dan contoh yang baik. Karenanya diperlukan suasana kehidupan keluarga yang stabil dan bahagia.

Cara mengasuh anak harus sesuai dengan tahap perkembangan. Perkembangan anak, sejak dalam kandungan sampai umur 6 tahun, merupakan pondasi dalam membentuk kepribadian anak. Perkembangan ini dibagi 4 tahap, tiap tahapan mempunyai ciri dan tuntutan perkembangan tersendiri. Kebutuhan perkembangan anak meliputi kebutuhan mental, emosional dan sosial. Cara mengasuh anak yang sesuai dengan perkembangan anak, dibagi dalam 4 tahap sebagai berikut: 1. Sejak dalam kandungan Kesehatan anak di dalam kandungan dipengaruhi oleh keadaan kesehatan ibunya. Bila ibu sakit fisik (misalnya infeksi), maka anak dalam kandungan dapat tertular. Bila ibu stres, anak dalam kandungan juga dapat terpengaruh. Karena itu, ibu perlu mempersiapkan diri dengan baik agar anak dalam kandungan sehat fisik dan mental. Ibu perlu menjaga pikiran dan perasaan supaya anaknya nanti tidak rewel dan mudah menyesuaikan diri. Suara ibu adalah suara yang sering di dengar anak. Suara keras atau lembut ibu akan diikuti anak setiap waktu. Bapak dan ibu perlu menjaga percakapannya supaya anak terbiasa mendengarkan dan mudah meniru yang baik-baik nantinya. Ibupun harus tenang. Jika ibu sering cemas, sedih, ketakutan dan marah, maka setelah lahir anak bisa menjadi rewel, selalu gelisah dan sukar menyesuaikan diri.

2. Sejak lahir sampai 1,5 tahun Sejak lahir anak sepenuhnya bergantung pada orang lain terutama ibu atau pengasuhnya. Anak perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya. Tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya diri pada lingkungannya. Bila rasa percaya tidak dapat, maka timbul rasa tidak aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap untuk menyampaikan keinginannya. Tangisan pada bayi menunjukkan bahwa ia membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud tangisan bayi. ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Dengan

pemberian asi, bayi akan di dekap ke dada sehingga merasakan kehangatan tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih sayang antara bayi dan ibunya. Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu dan anak pada tahap ini akan menyebabkan tergangunya pembentukan rasa aman dan rasa percaya diri. Ganguan yang dapat timbul pada tahap ini adalah kesulitan makan, mudah marah, menolak sesuatu yang baru, sikap dan tingkah laku yang seolah-olah ingin melekat pada ibu dan menolak lingkungan. 3. Usia 1,5 sampai 5 tahun Tahap ini merupakan tahap pembentukan kebiasaan diri. Aspek psikososialnya, anak bergerak dan berbuat sesuai kemauan sendiri, meraih apa yang bisa dijangkau, dapat menuntut apa yang dikehendaki atau menolak apa yang tidak dikehendaki. Pada tahap ini, akan tertanam dalam

diri anak perasaan otonomi diri seperti makan sendiri, pakai baju sendiri dan lain-lain. Hal ini menjadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri dikemudian hari. Orang tua hendaknya mendorong agar anak dapat bergerak bebas, menghargai dan meyakini kemampuannya. Jika terdapat gangguan dalam mencapai rasa otonomi diri, anak akan dikuasai rasa malu, ragu-ragu serta pengekangan diri yang berlebihan. Sebaliknya dapat juga terjadi melawan dan berontak. Gangguan yang timbul pada tahap ini, anak sulit makan, suka ngadat dan ngambek, menentang dan keras kepala, suka menyerang atau agresif. Konsep ruang dan sebab akibat mulai berkembang. Mulai mengenal nama-nama di sekitarnya dan mulai menggolongkan serta membedakan benda berdasarkan kegunaannya. Bahasa mulai berkembang dan mulai menirukan kata-kata dan perilaku orang disekitarnya walaupun anak belum mengerti. 4. Usia 3 sampai 6 tahun (prasekolah) Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya dan meniru kegiatan sekitarnya, libatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tetapi tidak mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin.

Pada tahap ini seorang ayah mempunyai peran yang penting bagi anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang pada ibunya dan anak perempuan lebih sayang pada ayahnya. Melalui peristiwa ini anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki dan lainlain. Ia dapat pula mengalami perasaan takut dan cemas. Dalam hal ini, kerjasama ayah dan ibu sangat penting artinya. Yang diperlukan anak seusia ini adalah melatih kemampuan fisik, kemampuan berfikir, mendorong anak bergaul dan mengembangkan angan-angan. Pada tahap ini aspek intelektualnya mulai berkembang lebih nyata tentang konsep ruang dan waktu, mulai mengenal betuk-bentuk dua dan tiga dimensi, warna-warna dasar, simbol-simbol angka, matematika dan huruf. Ganguan yang dapat timbul pada tahap ini adalah masalah pergaulan dengan teman, pasif dan takut berbuat sesuatu, takut mengemukakan sesuatu serta kurang kemauan, masalah belajar dan merasa bersalah.

B. Pola Asuh Orang Tua yang Menyimpang Pola asuh orang tua yang menyimpang berarti suatu pola yang berbeda dari pola yang umum diantara anak dengan siapa mereka bergaul. Dan karena perbedaan ini, anak merasa bahwa mereka menarik perhatian. Sebagai contoh, anak yang orang tuanya jauh lebih tua dari orang tua teman sebaya atau anak yang mempunyai orang tua tiri sementara teman bermainnya mempunyai orang tua kandung, menginterpretasikan hal ini sebagai tanda mereka berbeda.

Pola asuh orang tua yang menyimpang berbahaya untuk penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Anak cenderung menilai perbedaan itu searti dengan inferioritas. Siapa saja yang berbeda dari mereka, dengan standar ini dianggap inferior. Bila anak dinilai inferior oleh kelompok teman sabaya, penilaian ini mempunyai pengaruh merugikan pada konsep diri mereka. Mereka menganggap dirinya inferior dari teman sebaya. Penilaian sosial yang tidak menguntungkan juga mempengaruhi tingkat penerimaan sosial yang mampu dicapai anak dalam kelompok teman sebaya. Seberapa besar bahaya pola asuh orang tua yang menyimpang terhadap penyesuaian pribadi dan sosial anak akan bergantung pada tiga kondisi yaitu: 1. Sikap sosial yang umum berlaku terhadap pola kehidupan keluarga yang menyimpang akan mempunyai pengaruh kuat pada sikap teman sebaya. Sikap sosial ini dipelajari anak dari orang tua dan orang dewasa lain dan kemudian dijadikannya sikapnya sendiri. 2. Terdapat keragaman menurut kelompok sosial yang memberikan penilaian. 3. Mencoloknya pola asuh orang tua yang menyimpang mempengaruhi si anak dalam penyesuaian sosialnya. Orang tua yang tidak mengerti dengan pribadi anaknya bisa disebut juga dengan kesalahan pola asuh orang tua. Ada tiga kesalahan pola asuh, yakni kesalahan pola asuh orang tua, kesalahan pada gen saraf yang dalam pengobatannya membutuhkan waktu lama dengan cara terapi, dan kelambatan

daya tangkap. Banyak orang tua yang tidak memberikan anaknya bermain keluar, padahal anak itu perlu bermain. Dalam hal ini kecerdasan emosi anak sudah diredam oleh orang tuanya. Agar anak mau tinggal di rumah, orang tua lalu memberikan play station. Dengan demikian anak bermain dengan benda mati. Akibatnya ketika nanti keluar, dia tidak akan bisa berteman dan individunya menjadi egois. Ciri-ciri anak seperti itu misalnya, tidak bisa duduk tenang dan tidak bisa mendengarkan perintah. Lebih baik anak tersebut bermain bola dengan banyak teman. Dengan begitu akan muncul kerjasama yang baik, muncul sikap demokratisnya, tahu disiplin, dan mampu merasakan kalah-menang. Orang tua perlu meminimalkan gaya pola asuh yang negatif. Menurut Gagne ada tiga gaya asuh orang tua: pertama, orang tua eksesif yang bisa disederhanakan dengan ungkapan, Awas! Ayah/Ibu bisa jadi marah. Kedua, orang tua otoriter bisa dicontohkan dengan ungkapan, Lakukan yang Ibu katakan! ketiga, orang tua cuek. Orang tua seperti ini dalam pola asuhnya mengisyaratkan, Lakukan apa yang kau inginkan! keempat, orang tua absen, adalah orang tua yang bertindak seolah mereka tidak ada, hal ini biasanya karena orang tua yang sibuk bekerja. Seolah mereka mengatakan, Tolong jangan ganggu saya! kelima, orang tua pelatih (coach) yang menghadapi anaknya dengan gaya, ungkapkan keinginan dan pandanganmu!.

C. Sikap Orang Tua yang Mendukung Pembentukan Kepribadian Anak yang Baik Sikap orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi kepribadian anak. Sikap yang baik yang dapat mendukung pembentukan kepribadian anak antara lain: 1. Penanaman Pekerti Sejak Dini Orang tua dan keluarga adalah penanggung jawab pertama dan utama penanaman sopan santun dan budi pekerti bagi anak. Baru kemudian, proses penanaman akan dilanjutkan oleh guru dan mansyarakat. Ketiga unsur ini, menurut Yaumil C. Agoes Achir (2000: 43), hendaknya bekerja sama secara harmonis. Sopan santun harus ditanamkan pada anak sedini mungkin. Sebab sopan santun dan tata karma adalah perwujudan dari jiwa yang berisi nilai moral. untuk selanjutnya moral akan turut berkembang dengan yang lain dan akan dijadikan nilai sebagai pedoman dalam perilaku keseharian, ujar Yaumil Achir. Penanaman nilai baik dan buruk sebaiknya dilakukan perlahanlahan, sesuai dengan tahap pertumbuhan anak, daya tangkap dan serap mentalnya. Ajarkan anak bersyukur setelah memperoleh sesuatu, ajarkan kejujuran, sopan santun, mencintai sesama, memelihara, memperbaiki, dan lain-lain. 2. Mendisiplinkan Anak

Dengan

penerapan

disiplin

pada

anak

sejak

dini,

akan

menumbuhkan pribadi anak yang mandiri. Seorang anak akan belajar berperilaku dengan cara yang diterima masyarakat, dan sebagai hasilnya anak dapat diterima oleh anggota kelompok sosial mereka. Banyak orang tua yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika anak mulai melanggar aturan yang telah diterapkan bersama dalam keluarga. Yang terjadi kemudian adalah reaksi emosional yang akhirnya menimbulkan rasa bersalah orang tua. Pendekatan yang bisa digunakan orang tua adalah

mengkombinasikan cinta dengan batasan-batasan yang telah disepakati bersama dalam keluarga. Dr. Carolyn Webster-Stratton menekankan prinsip disiplin harus dibuat sangat individual, sesuai kebutuhan masingmasing anak dan keluarga. 3. Menyayangi anak secara wajar Bagi ayah dan ibu yang bekerja sepanjang hari, atau mempunyai aktivitas sosial/organasasi yang berlebihan, kebanyakan menitipkan anaknya kepada ibu pengganti. Itu bisa berarti nenek atau saudara orang tua sendiri atau menggaji perawat/pengasuh anak. Walaupun tidak menemaninya sepanjang hari, sikap dan perilaku orang tua dalam memberikan kasih sayang sebaiknya dilakukan secara wajar. jangan memanjakan anak sebagai imbalan atas hilangnya waktu bersama anak akibat kesibukan orang tua. Apalagi memanjakan anak karena merasa

berdosa, karena meninggalkan anak seharian, ujar Fawzia Asmin Hadis (2005: 54).

4. Menghindari pemberian label malas pada anak Banyak orang tua yang acapkali memberi cap atau label malas kepada anaknya. Sebutan ini dapat merugikan anak sebab membuat anak kurang berusaha karena merasa upaya yang dilakukannya tidak akan diperhatikan. Bahkan anak akan berlaku sebagaimana diharapkan melalui label yang disandangnya itu. Label tersebut akan merusak pembangunan konsep diri anak yang dibentuk sejak masa kecil. Oleh karenanya, para orang tua hendaknya menghindari pemberian label malas kepada anaknya. Dengan label itu, anak akan merasa diperlakukan tidak adil menerima cap yang tidak pernah dikehendakinya, ujar Henny Sitepu M.A (2005: 56). Hal penting yang harus dilakukan orang tua justru membangun semangat anak. Hal ini dapat dilakukan melalui kepercayaan yang diberikan pada anak melalui kegiatan yang unik serta mengandung tantangan atau dorongan lainnya. Sehingga anak menjadi individu yang mandiri. 5. Hati-hati dalam menghukum anak Hukuman yang diberikan orang tua kepada anak adalah hukuman yang dapat mendidik anak, bukan hukuman yang dapat membuat anak menjadi trauma. Asumsi bahwa tiap perilaku salah itu disengaja adalah

tidak benar. Anak terkadang tidak mengerti apa yang telah dilakukannya itu perilaku yang benar atau salah. Hukuman juga perlu diberikan kepada anak, sehingga anak akan mengetahui perilaku yang telah dilakukannya itu benar atau salah. Fungsi hukuman: a. Menghalangi Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, mereka biasanya urung melakukan tindakan tersebut. b. Mendidik Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindakan yang diperbolehkan. c. Motivasi Pengetahuan tentang akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.

D. Stategi dalam Pembentukan Kepribadian Anak 1. Tekankan Segi Positif Disiplin yang berhasil mencakup strategi untuk menumbuhkan dan menekankan perilaku serta kepribadian anak yang baik. Perilaku yang positif muncul secara alamiah sebagai bagian dari perkembangan yang normal seorang anak prasekolah. Akan tetapi, perilaku lain ada yang merupakan bukan bagian normal dari perkembangan anak prasekolah dan

perlu diajarkan. Misalnya, anak prasekolah secara alamiah bersifat progresif terhadap milik mereka dan harus belajar untuk berbagi. Anak biasanya mementingkan dirinya sendiri dan harus diajarkan bagaimana bermain dan bersosialisasi dengan orang lain. Anak prasekolah juga tidak sabar, sehingga orang tua harus menunjukkan kepada mereka bagaimana menunggu giliran. Anak tidak secara otomatis akan bersikap sopan, jadi orang tua mendidik anak-anak mereka dalam hal tata krama. Anak

prasekolah akan belajar dari contoh orang tua, oleh karena itu orang tua harus dapat menghargai perilaku yang baik ketika anak melakukannya. Memperhatikan anak ketika anak melakukan hal tersebut. Mengajarkan anak untuk mengetahuinya pada saat ia melakukan hal yang tepat. Dan mengajarkan anak untuk mengaitkan perilaku yang tepat dengan perasaan bangga terhadap dirinya sendiri. 2. Jaga Agar Peraturan Tetap Sederhana Peraturan yang dibuat sebaiknya peraturan yang di buat bersama. Jika anak membantu dalam membuat peraturan, lebih besar

kemungkinanya anak akan menuruti peraturan tersebut. Orang tua harus memilih waktu yang tepat, yaitu ketika anak berperilaku baik kalau tidak anak akan berpikir peraturan itu akibat dari perilakunya yang salah. Orang tua mendekati anak dan menjalaskan mengapa peraturan itu ada dan penting. 3. Bersikap Proaktif

Bersikap proaktif juga berarti memberikan pilihan kepada anak, menjaga keterlibatan mereka, dan mengizinkan mereka untuk

berpartisipasi. Orang tua memberikan pilihan berarti memperlengkap anak dengan kayakinan diri dan dapat meminimumkan penolakan. Pada awalnya bersikap proaktif berarti mengantisipasi masalah yang akan terjadi. Misalnya seorang anak yang akan pergi dengan ibunya ke tempat ibadah. Jika orang tua menyangka akan terjadi suatu masalah, maka bicarakan dengan anak sebelum berangkat. Orang tua memberitahu apa yang diharapkan dari anak. Orang tua mengatakan, ibu perlu kerja sama denganmu sewaktu sholat. kemarin kamu baik sekali. Ibu tahu kamu bisa seperti itu lagi. 4. Mengarahkan Kembali Perilaku yang Salah Mengarahkan kembali terdiri dari dua bagian: mengoreksi perilaku yang tidak sesuai lalu mengajarkan perilaku yang tepat. Jelaskan kepada anak mengapa tindakannya itu tidak dapat diterima; lalu jelaskan apa yang harus dilakukannya, sambil orang tua memberikan contoh yang tepat pada anak. Mengarahkan kembali merupakan teknik yang sangat bermanfaat selama orang tua tidak menyerah. Orang tua jangan memberikan imbalan untuk perilaku yang tidak dapat diterima. Kalau tidak anak akan sulit untuk diarahkan kembali, karena anak tahu bahwa dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan caranya sendiri. 5. Mengatasi Transisi

Transisi adalah perubahan. Misalnya anak telah melakukan suatu kegiatan dan akan pindah ke kegiatan yang lain. Anak perlu mengubah dari satu suasana ke suasana yang lain. Transisi sering terjadi dalam sehari kehidupan anak. Para orang tua yang berhasil selalu mengantisipasi transisi dan merencanakannya untuk membuatnya selancar mungkin. Kembangkan strategi transisi yang dimulai dengan peringatan tentang waktu. Lalu ingatkan anak tentang urutan-urutan kejadian selama tansisi. 6. Negosiasi dan Kompromi Keterampilan negosiasi dan kompromi mengajar anak untuk memecahkan masalah melalui komunikasi dan kesepakatan, bukan dengan memukul atau mengata-ngatai. Negosiasi memberikan suatu cara yang produktif bagi anak untuk mengungkapkan perasaan mereka. Hal ini mengurangi perilaku negatif dengan memberikan cara positif untuk mendapatkan apa yang mereka perlukan dan inginkan. Memecahkan ketidaksepakatan dimulai dengan mendorong anak untuk melihat hal-hal dari sudut pandang orang lain. Kompromi dan negosiasi memberikan lebih banyak kontrol pada anak atas dunia mereka dan mendorong kerja sama. Mengajarkan keterampilan ini tidak hanya bermanfaat selama tahun-tahun prasekolah, ini sangat penting sementara anak bertambah besar dan mencapai usia remaja dan terbentuknya kepribadian. 7. Jangan Membuat Alasan

Terkadang orang tua memberikan alasan ketika anak mereka berperilaku salah. Tetapi dengan membuat alasan, secara tidak langsung orang tua mengajarkan anak untuk berperilaku salah. Kebiasaan memberikan alasan akan terus menghantui orang tua, orang tua memberi anak alasan untuk berperilaku salah dimasa mendatang. Anak akan menggunakan alasan tersebut untuk berdebat dan menghindari tanggung jawab. Orang tua biasanya menginginkan cara yang cepat yaitu dengan menyuap anak agar berperilaku baik. Penyuapan mengajar anak untuk bersikap argumentatif dan menentang. Penyuapan mendorong perilaku yang salah. Orang tua jangan memberikan imbalan untuk perilaku yang tidak dapat diterima. Jangan menyerah pada tuntutan, rengekan, atau sindiran. Hentikanlah imbalan untuk seterusnya. Bersikaplah konsisten dan sabar. Ketika anak berperilaku salah, tangani dengan cara yang baik bukan dengan alasan. Alasan hanya memberikan alasan kepada anak untuk berperilaku salah. 8. Hindari Kontrol Lewat Rasa Bersalah Mengendalikan perilaku yang salah dengan rasa bersalah, ejekan, atau hinaan tidaklah efektif karena merusak harga diri seorang anak. Setiap ejekan mengikis harga diri dan keyakinan diri seorang anak, serta menciptakan rasa malu yang kuat. Ketika seorang anak dihina, itu akan mengakibatkan kerusakan permanen terhadap karakter moralnya. Seorang

anak yang sering dipermalukan atau dihina dapat mulai berpikir ia lebih rendah dan tidak mampu mengendalikan diri. Harga diri anak prasekolah masih terlalu rentan pada usia ini. Orang tua tentu tidak menginginkan anaknya berperilaku baik hanya untuk menghindari ejekan, akan tetapi orang tua tentu menginginkan anaknya berperilaku baik karena hal itu memang tepat untuk dilakukan.

E. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Kepribadian Anak Anak prasekolah belajar cara berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh, berbagi dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, prefensi pribadi dan beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali dan menangani emosi mereka. Anak prasekolah belajar banyak dari perilaku mereka dengan mengamati dan meniru perilaku orang-orang disekitar mereka. Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak selama tahun-tahun saat desas-desus kepribadian diletakkan, dan pengaruh keluarga jauh lebih luas dibandingkan pengaruh kepribadian lainnya, bahkan sekolahpun. Betapa besar pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian anak telah dinyatakan oleh seorang penulis tak bernama dengan cara berikut: 1. Bila seorang anak hidup dengan kecaman, dia belajar mengutuk

2. Bila dia hidup dalam permusuhan, dia belajar berkelahi 3. Bila dia hidup dalam ketakutan, dia belajar menjadi penakut 4. Bila dia hidup dikasihani, dia belajar mengasihi dirinya 5. Bila dia hidup dalam toleransi, dia belajar bersabar 6. Bila dia hidup dalam kecemburuan, dia belajar merasa bersalah 7. Bila dia hidup diejek, dia belajar menjadi malu 8. Bila dia hidup dipermalukan, dia belajar yakin akan dirinya 9. Bila dia hidup dengan pujian, dia belajar menghargai 10. Bila dia hidup dengan penerimaan, dia belajar menyukai dirinya 11. Bila dia memperoleh pengakuan, dia belajar mempunyai tujuan 12. Bila dia hidup dalam kebijakan, dia belajar menghargai keadilan 13. Bila dia hidup dalam kejujuran, dia belajar menghargai kebenaran 14. Bila dia hidup dalam suasana aman, dia belajar percaya akan dirinya dan orang lain Pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian bergantung sampai batas tertentu pada tipe anak. Misalnya, seorang anak yang sehat akan sangat berbeda reaksinya terhadap perlindungan orang tua yang berlebihan dibandingkan dengan seorang anak yang sakit dan lemah. 1. Pengaruh Pola Asuh Oarang Tua yang Bekerja dan yang Tidak Bekerja terhadap Pembentukan Kepribadian Anak Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahuntahun pertama, sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua.

Kenyataan tersebut menyiratkan betapa pentingnya dasar-dasar yang diberikan orang tua pada anaknya pada masa kanak-kanak. Karena dasardasar inilah yang akan membentuk kepribadian yang dibawa sampai masa tua. Tidak dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak untuk mengenal dunia sosialnya adalah dalam keluarga. Didalam keluarga untuk pertama kalinya anak mengenal aturan tentang apa yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memberikan pendidikan dasar yang baik kepada anak-anaknya agar nantinya bisa berkembang dengan baik. Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang adalah berkurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya karena keduanya sama-sama bekerja. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya interaksi orang tua dengan anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi pada keluarga-keluarga muda yang semuanya bekerja. Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masingmasing. Sedangkan anak pada usia ini sangat mambutuhkan perhatian lebih dari orang tua terutama untuk perkembangan kepribadian. Anak yang ditinggal orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang pengasuh yang dibayar orang tua untuk menjaga dan mengasuh, belum tentu anak mendapatkan pengasuhan yang baik sesuai perkembangannya dari seorang pengasuh.

Anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung bersifat manja. Biasanya orang tua akan merasa bersalah terhadap anak karena telah meninggalkan anak seharian. Sehingga orang tua akan menuruti semua permintaan anak untuk menebus kesalahanya tersebut tanpa berfikir lebih lanjut permintaan anak baik atau tidak untuk perkembangan kepribadiaan anak selanjutnya. Kurangnya perhatiaan dari orang tua akan mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, baik dilingkungan sekolah dengan teman sebaya ataupun dengan orang tua pada saat mereka di rumah. Anak suka mengganggu temannya ketika bermain, membuat keributan di rumah dan melakukan hal-hal yang terkadang membuat kesal orang lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan hanya untuk menarik perhatian orang lain karena kurangnya perhatian dari orangtua. Sedangkan orang tua yang tidak bekerja di luar rumah akan lebih fokus pada pengasuhan anak dan pekerjaan rumah lainnya. Anak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang mandiri, karena terbiasa dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak selalu dengan pangawasan orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang tidak bekerja sebaiknya juga tidak terlalu over protektif. Sehingga anak mampu untuk bersikap mandiri. 2. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Berpendidikan Tinggi dan Berpendidikan Rendah terhadap Pembentukan Kepribadian Anak

Latar belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tingi akan lebih

memperhatikan segala perubahan dan setiap perkembangan yang terjadi pada anaknya. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya mengetahui bagaimana tingkat perkembangan anak dan bagaimana pengasuhan orang tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya untuk pembentukan kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya dapat mengajarkan sopan santun kepada orang lain, baik dalam berbicara ataupun dalam hal lain. Berbeda dengan orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Dalam pengasuhan anak umumnya orang tua kurang memperhatikan tingkat perkembangan anak. Hal ini dikarenakan orang tua yang masih awam dan tidak mengetahui tingkat perkembangan anak. Bagaimana anaknya berkembang dan dalam tahap apa anak pada saat itu. Orang tua biasanya mengasuh anak dengan gaya dan cara mereka sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk anaknya. Anak dengan pola asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu kepribadian yang kurang baik. 3. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dengan Tingkat Ekonomi Menengah Keatas dan Menengah Kebawah Permasalahan ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari bahwa permasalahan ekonomi dalam

keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua terkadang melampiaskan kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia prasekolah yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga hanya akan menjadi korban dari orang tua. Dalam pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah keatas dan orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah berbeda. Orang tua yang tingkat perekonominnya menengah keatas dalam pengasuhannya biasanya orang tua memanjakan anaknya. Apapun yang diinginkan oleh anak akan dipenuhi orang tua. Segala kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki orang tua. Pengasuhan anak sebagian besar hanya sebatas dengan materi. Perhatian dan kasih sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan kebutuhan anak. Anak yang terbiasa dengan pola asuh yang demikian, maka akan membentuk suatu kepribadian yang manja, serba menilai sesuatu dengan materi dan tidak menutup kemungkinan anak akan sombong dengan kekayaan yang dimiliki orang tua serta kurang menghormati orang yang lebih rendah darinya. Sedangkan pada orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah dalam cara pengasuhannya memang kurang dapat memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi. Orang tua hanya dapat

memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi anak. Perhatian dan kasih sayang orang tualah yang dapat diberikan. Anak yang hidup dalam perekonomian menengah kebawah terbiasa hidup dengan segala kekurangan yang dialami keluarga. Sehingga akan terbentuk kepribadian anak yang mandiri, mampu menyelesaikan permasalahan dan tidak mudah stres dalam menghadapi suatu

permasalahan.dan anak dapat menghargai usaha orang lain. Pada kenyataannya terdapat juga anak yang minder dengan keadaan ekonomi orang tua yang kurang. Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal ini sangat penting. Orang tua harus menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak. Sehingga anak mampu mensyukuri segala yang telah diberikan oleh sang Pencipta.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Pola asuh orang tua sangat mempengaruhi setiap kepribadian yang telah terbentuk. Segala gaya atau model pengasuhan orang tua akan membentuk suatu kepribadian yang berbeda-beda sesuai apa yang telah diajarkan oleh orang tua. Orang tua merupakan lingkungan pertama bagi anak yang sangat berperan penting dalam setiap perkembangan anak khususnya perkembangan kepribadian anak. Oleh karena itu, diperlukan cara yang tepat untuk mengasuh anak sehingga terbentuklah suatu kepribadian anak yang diharapkan oleh orang tua sebagai harapan masa depan. Pola asuh yang baik untuk pembentukan kepribadian anak adalah pola asuh orang tua yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi dengan pengawasan dan pengendalian orang tua. Sehingga terbentuklah karakteristik anak yang dapat mengontrol diri, anak yang mandiri, mempunyai hubungan yang baik dengan teman, mampu menghadapi stres dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru.

Sikap orang tua yang dapat mendukung dalam pembentukan kepribadian anak antara lain: 1. Penanaman pekerti sejak dini 2. Mendisiplinkan anak 3. Menyayangi anak secara wajar 4. Menghindari pemberian label malas pada anak 5. Hati-hati dalam menghukum anak Strategi dalam pembentukan kepribadian anak: 1. Tekankan segi positif 2. Jaga agar peraturan tetap sederhana 3. Bersikap proaktif 4. Mengarahkan kembali perilaku yang salah 5. Mengatasi transisi 6. Negosiasi dan kompromi 7. Jangan membuat alasan 8. Hindari kontrol lewat rasa bersalah Dalam cara pengasuhan orang tua yang bekerja dan orang tua yang tidak bekerja berbeda. Begitu pula dengan gaya pengasuhan orang tua yang mempunyai pendidikan yang tinggi dan orang tua yang mempunyai pendidikan yang rendah. Dan juga pola asuh orang tua yang tingkat perekonomian menengah keatas dan orang tua yang perekonomiannya menengah kebawah. Masing-masing pola asuh yang telah diberikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar tehadap pembentukan kepribadian anak.

B. Saran 1. Dalam pengasuhan anak orang tua harus mamperhatikan tingkat perkembangan anak 2. Semua perilaku orang tua yang baik atau buruk akan ditiru oleh anak, oleh karena itu perlunya orang tua untuk menjaga setiap perilakunya sehingga anak akan meniru sikap positif dari orang tua 3. Pola asuh orang tua harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak pada saat itu, ada kalanya orang tua bersikap demokratis, ada kalanya juga harus bersikap otoriter, ataupun bersikap permisif

DAFTAR PUSTAKA

Copyright @ 2006, www.google.com Freeman, Juan, dan Munandar, Utami. 2001. Cerdas dan Cemerlang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Hurlock, Elizabeth. B. 1999. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga Ratnawati, Sintha. 2000. Keluarga, Kunci Sukses Anak. Jakarta: Kompas Severe, Bambang, dan Nurani yuliani Sujiono. 2005. Mencerdaskan Anak Usia Dini. Jakarta: PT.Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia

Sujiono, Sal. 2003. Bagaimana Bersikap pada Anak agar Anak Prasekolah Anda Bersikap Baik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama