Anda di halaman 1dari 6

Revised Edition MASALAH INTERPRETASI: LINGUISTIK TERAPAN DALAM KAITANNYA DENGAN PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN BAHASA

Oleh: KARIN SARI SAPUTRA 1206188616 Jurusan Ilmu Linguistik - Peminatan Pengajaran Bahasa Program Magister Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia 2012

1.

Pendahuluan Linguistik pada prinsipnya memiliki peranan yang sangat besar untuk memberikan

kontribusi dalam aspek kajian bahasa. Secara umum linguistik merupakan wujud interpretasi dari ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Linguistik atau bahasa erat kaitannya dengan penddikan. Hal ini merujuk pada persepsi bahwa bahasa adalah media utama dalam pendidikan dan begitu pula sebaliknya, pendidikan memiliki efek mendalam pada bahasa. Penelitian linguistik atau penelitian bahasa perlu dimanfaatkan untuk pengajaran dan pendidikan bahasa. Dengan kata lain, sejauh mana aplikasi dan penemuan linguistik demi kepentingan pengajaran dan pembelajaran bahasa. Pada hakekatnya Ilmu Bahasa atau Linguistik tidak identik dengan Pengajaran Bahasa. Memang harus diakui bahwa antara keduanya terdapat jalinan yang sangat erat. Di kalangan ahli Ilmu Bahasa terdapat dua pendapat yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa Ilmu Bahasa sebagai suatu ilmu haruslah bersifat otonom dan berdiri sendiri. Ilmu Bahasa merupakan ilmu murni yang berusaha mempelajari dan menganalisis objeknya sesuai dengan teori kebahasaan yang dianutnya tanpa memperhatikan kegunaan dan fungsinya. Ada pula pendapat ahli Ilmu Bahasa yang menyatakan bahwa di samping sebagai ilmu murni, Ilmu Bahasa harus pula memikirkan cara-cara penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari untuk kepentingan manusia, antara lain yang penting adalah Pengajaran Bahasa.

2.

Ranah Aplikasi Bahasa

2.1 Pengertian Linguistik Terapan 1

Dalam pengertian umum, aplikasi atau terapan berarti pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk merencanakan dan membuat desain-desain bagi kegiatan-kegiatan yang praktis dan sehari-hari. Pengajaran dan pelajaran bahasa pun merupakan satu kegiatan praktis dan seharihari. Aplikasi linguistik atau linguistik terapan adalah terapan ilmu bahasa dalam bidang praktis yang berarti penggunaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan bahasa untuk kepentingan pengajaran dan pelajaran bahasa. Itu sebabnya, S. Pt Corder mengatakan bahwa linguistik terapan merupakan suatu problem-based activity: masalah yang muncul akan dijawab atau diselesaikan oleh prinsip-prinsip atau pengetahuan yang didasarkan pada telaah ilmiah tentang struktur bahasa dan masyarakat. Koherensi linguistik terapan ditentukan oleh jenis penggunaan bahasa yang mana penelitian tersebut diarahkan. Apa yang ditampilkan di sini dalam kaitannya dengan hal-hal yang melibatkan bahasa asing dan bahasa kedua dalam penerapannya di bidang pembelajaran dan pengajaran bahasa. 2.2 Bidang Kajian Linguistik Terapan Linguistik terapan -- kajian tentang bahasa secara lebih praktikal, berkaitan dengan masalah-masalah sebenarnya yang terjadi, seperti: Pengajaran dan pembelajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua Kebijaksanaan dan perancangan bahasa Penilaian program bahasa Pengukuran dan Penilaian bahasa Teori pengucapan Bahasa pengkhususan pekerjaan dan masalah-masalah yang berkaitan dengan komunikasi Kontribusi linguistik kepada pengajaran bahasa bersifat tidak langsung. Sebab itu, bidang linguistik dan pengajaran bahasa merupakan satu bidang yang otonom dan menjadi bidang keahlian sendiri. Tetapi, bukan berarti tidak membutuhkan antara satu dengan yang lain, karena mau tidak mau memerlukan unsur-unsur linguistik, yakni terdapat banyak teori-teori ilmu bahasa yang berkaitan, yang bisa saja diimplemetasikan dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa. Linguistik hanya memberikan kontribusi tidak langsung berupa bahan. Pemilihan adalah bidang cakup linguistik terapan di dalam pengajaran bahasa. 2.3 Korelasi Linguistik Terapan dengan Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa Kegiatan pembelajaran bahasa merupakan upaya yang mengakibatkan siswa dapat mempelajari bahasa dengan cara efektif dan efisien. Teori linguistik itu sendiri dipilahkan dalam linguistik terapan yang memungkinkan seorang guru bahasa beroleh pengetahuan 2

bagaimana menerapkan teori-teori linguistik itu dalam pengetahuan bahasa, karena kita tahu bahwa orang yang mahir dalam bahasa tidak menjamin kalau dia orang yang bisa mengajarkan bahasa kepada oang lain (dikutip dari pernyataan Dr. Afdol). Begitu halnya dengan pengajaran bahasa bahwasanya ialah ilmu yang bersifat praktis serta pragmatis. Pengajaran bahasa memiliki tujuan utamanya, yaitu mencapai hasil pengajaran bahasa, yakni, agar murid menguasai bahasa sasaran sebagai alat komunikasi dengan baik. Bagi seorang guru, bertutur dan memahami sebuah bahasa adalah satu hal, dan hal lainnya adalah bagaimana mencapai pengetahuan teknis yang diperlukan untuk memahami dan menjelaskan sistem bahasa itu -- fonem, morfem, kata, kalimat, dan struktur wacananya. Masing-masing mempunyai pandangan yang lain terhadap bahasa, dan adalah bijaksana apabila guru bahasa memperhatikan perbedaan-perbedaan itu agar memperoleh gambaran yang terpadu mengenai objeknya. Terdapat dua tanya dalam pengajaran bahasa yang perlu diselesaikan, yakni: apa yang diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Ini adalah masalah isi dan metode, masalah desain hasil, dan desain proses. Memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Mackey bahwa metode pengajaran bahasa dan pengajarannya itu sendiri pada akhirnya tergantung pada apa sebenarnya bahasa itu menurut pandangan guru dan penyusun metode (Mackey op. cit.). Oleh karena itu linguistik sangat berperan penting dalam pembelajaran bahasa yang bertujuan agar siswa dapat terampil komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Hal tersebut sejalan menurut pragmatisme yang mengandung implikasi murid tidak hanya mampu memanipulasikan rangkaian bunyi yang tidak ada artinya, tetapi mengirim dan menerima pesan-pesan melalui bahasa. Dalam proses belajar-mengajar bahasa ada sejumlah variabel, yang dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar itu. Variabel-variabel itu bukan merupakan hal yang terlepas dan berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan hal yang saling berhubungan, berkaitan, sehingga merupakan satu jaringan sistem. Variabel metode dan media pengajaran bahasa telah diuraikan dengan padat dan rinci oleh Mackey dalam bukunya Language Teaching Analysis (kursif) (1967). Kemudian, untuk variabel pelajaran atau apa yang diperoleh siswa setelah belajar, variabel-variabel sosiokultural, misalnya, lingkungan masyarakat, dan variabel siswa telah dibahas dengan mendalam oleh Leon A. Jakobovits dalam bukunya Foreign Language Learning : A Psycholinguistic Analysis of the Issues (1971). Singkatnya, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran dan pengajaran bahasa. Pemberian motivasi atau mengkaji latar belakang sosial siswa bisa dijadikan acuan dalam memilah strategi pembelajaran bahasa. Selain itu, tetap diupayakan adanya interaksi guru dan siswa secara kontinyu dalam belajar bahasa. Suatu program 3

pembelajaran bahasa yang menyeluruh dan terpadu tidak dapat melepaskan diri dari sifat kaidah berbahasa. Dalam pengajaran bahasa, kaidah berbahasa harus bersifat deskriptif, jadi bahasa harus diajarkan sesuai dengan bagaimana bahasa itu dipakai oleh penutur aslinya, dan bukannya seperti yang dianjurkan oleh ahli tatabahasa. Deskripsi bahasa ada dua macam berdasarkan tujuannya. Pertama pedagogik dan kedua teoretis. Dalam rangka deskripsi untuk terapan terdapatlah tiga tahap linguistik terapan, yakni: (1) tahap deskripsi linguistik -- tentang hakikat bahasa yang akan diajarkan, (2) tahap yang berhubungan dengan soal isi dan silabus -- melakukan desain hasil untuk dilakukan pilihan bahan, dan (3) tahap kegiatan pengajaran bahasa -- bersifat pedagogik; tata bahasa pedagogik adalah tata bahasa yang berisikan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar bahasa yang ditulis sesuai dengan dan untuk proses belajar-mengajar bahasa. Secara informal, informasi tentang keberhasilan atau pendekatan tertentu atau prosedur dalam pengajaran bahasa selalu tersedia. Kelas dapat dianggap sebagai laboratorium yang paling dapat diakses dari semua untuk penelitian. Karena prioritas kelas adalah apa pun itu adalah untuk kepentingan pendidikan siswa, ada batas untuk apa yang dapat dicapai dengan cara penelitian belajar bahasa. Ada orang-orang yang tetap menganjurkan peran guru dalam apa yang sering disebut 'penelitian tindakan' dan tampaknya bahwa linguistik terapan dapat memberikan kontribusi baik dalam membantu guru untuk melakukan penelitian tersebut dan dalam upaya untuk memperkenalkan landasan empiris yang lebih kuat untuk evaluasi pembelajaran dan efektivitas di dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa.

3.

Kesimpulan Linguistik terapan sangat berkaitan dengan pembelajaran bahasa baik bahasa Indonesia

ataupun bahasa kedua yang di ajarkan kepada peserta didik. Mempelajari ilmu bahasa atau linguistik merupakan syarat mutlak bagi guru bahasa karena ilmu itu dianggap akan membantu banyak dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan demikian dengan adanya penerapan pada ilmu bahasa dalam hal ini pengajaran bahasa akan memberikan pijakan tentang prinsip-prinsip pengajaran bahasa, termasuk di dalamnya pendekatan, metode dan teknik. Kemudian, memberikan arahan atau pijakan mengenai isi/materi bahasa yang akan diajarkan yang didasarkan pada deskripsi bahasa yang mendetail, sehingga guru bahasa akan memiliki kemampuan menganalisis bahasa sasaran dan bahasa murid untuk dapat mengenali unsur-unsur kedua bahasa mana yang sama dan yang berbeda.

Daftar Pustaka

Corder, S. Pit. 1973. Introducing Applied Linguistics. Victoria: Penguin Books Australia Ltd. Dardjowidjojo, Soenjono. 1985. Perkembangan Linguistik Indonesia. Jakarta: Penerbit Arcan. Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional: Metodologi Pembelajaran Bahasa Analisis Kontrastif Antarbahasa Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Penerbit Erlangga. Spolsky, Bernard & Hult, Francis M. 2008. The Handbook of Educational Linguistics. USA: Blackwell Publishing Ltd. Wilkins, D. A. 1999. Applied Linguistics dalam Concise Encyclopedia Linguistics. Bernard Spolsky. UK: Elsevier Science Ltd. of Educational

Presentasi telah dilaksanakan pada tanggal 18 September 2012 Daftar pertanyaan: 1. Apakah sebenarnya yang dimaksud bahwa Applied Linguistics (Linguistik Terapan) termasuk di dalam objek kajian makrolinguistik? 2. Dimanakah letak pembeda yang paling mendasar antara ilmu bahasa murni dan ilmu terapan yang kemudian menghasilkan kajian pengajaran bahasa dalam linguistik terapan? 3. Jelaskan pernyataan dari Davies, 2006 yang dikutip dari Spolsky, 2008: 2 bahwa: if you want to know about applied linguistics, look around you! 4. Sebutkan kontribusi linguistik pada kaitannya dalam linguistik terapan di pembelajaran dan pengajaran bahasa! 5. Apa implikasi yang diharapkan dengan adanya Pengajaran Bahasa dalam Linguistik Terapan?

Penjelasan: Keseluruhan jawaban atas pertanyaan tersebut sudah dipaparkan dalam revisi makalah ini secara eksplisit maupun implisit, namun untuk lebih jelasnya maka akan diterangkan per poin berikut ini; 1. Linguistik atau ilmu bahasa dilihat menurut objek kajiannya meliputi 2 (dua) bagian, yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Kedua objek kajian ini bertolak belakang -mikro merupakan subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam rangka 5

kepentingan ilmu itu sendiri, tanpa mengaitkan dengan ilmu lain dan tanpa memikirkan bagaimana penerapan ilmu tersebit dalam kehidupan sehari-hari. Makro justru sebaliknya. (Soeparno, 1995:17-18) Pengajaran bahasa masuk kedalam kategori makro karena merupakan ilmu yang diterapkan untuk kehidupan sehari-hari dan berkaitan dengan ilmu lain di luar bahasa. 2. Letak pembeda yang paling mendasar adalah dilihat dari sifatnya. Ilmu bahasa murni bersifat teoretis, dan tugasnya terbatas pada penyusunan teori kebahasaan dan menganalisis bahasa menurut model yang disepakati. Sedangkan ilmu terapan bersifat praktis serta pragmatis, karena tujuan utamanya mencapai hasil pengajaran bahasa yang optimal, yakni agar murid menguasai bahasa sasaran sebagai alat komunikasi dengan baik. (Dardjowidjojo, 1985: 4) 3. Pernyataan tersebut mengandung maksud bahwa sesuatu hal atau kegiatan kita seharihari yang berkenaan dengan bahasa merupakan subdisiplin yang mempunyai makna. Intinya, contoh, dengan adanya bunyi bahasa dan penggunaannya di dalam praktek sebuah drama, hal tersebut berada di luar konteks bahasa murni. Otomatis itu merupakan terapan dari bahasa. 4. Kontribusi linguistik hanya memberikan sumbangan tidak langsung berupa bahan. Bahan tersebut merupakan teori-teori kebahasaan yang bisa saja diimplementasikan untuk pembelajaran dan pengajaran bahasa. 5. Implikasi yang diharapkan adalah untuk memperjelas adanya perbedaan bahwa orang yang mahir dalam bahasa tidak sama dengan orang yang bisa mengajarkan bahasa kepada orang lain. Jadi, belum tentu orang tersebut bisa mengajarkannya. Untuk itulah perlu adanya pengajaran bahasa, karena di sana diuraikan, dijelaskan suatu metode, desain, strategi pembelajaran dan pengajaran bahasa tersendiri untuk mencapai keberhasilan dalam menguasai bahasa sasaran.