P. 1
BAB 7 KOLOM

BAB 7 KOLOM

|Views: 193|Likes:
Dipublikasikan oleh Roby Aditiansyah

More info:

Published by: Roby Aditiansyah on Nov 16, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2015

pdf

text

original

Sections

  • Gambar 7.2. (a) Kolom persegi (b) kolom Spiral (c) Kolom Komposit
  • Gambar 7.3. Perbandingan Perilaku kolom sengkang dan kolom Spiral
  • Gambar 7.4. (a) Kolom dengan beban konsentris (b) kolom uniaksial (c)
  • Gambar 7.5. Diagram Tegangan Regangan Pada Kolom Konsentris
  • Gambar 7.6. Diagram Tegangan Regangan Kolom dengan Beban Eksentris
  • Gambar 7.7. Diagram Tegangan Regangan Kolom Kondisi Balance
  • Gambar 7.8. Diagram Tegangan Regangan Kolom Kondisi Tarik
  • Gambar 7.9. Diagram Interaksi P-M
  • Gambar 7.10. Faktor Panjang Efektif (k) Untuk Kolom Tidak
  • Gambar 7.11. Faktor Panjang Efektif (k) Untuk Kolom Bergoyang
  • Gambar 7.12. Panjang Bebas (Lu) Untuk Kolom Tidak Bergoyang
  • Gambar 7.13. Panjang Bebas (Lu) Untuk Kolom Bergoyang
  • Gambar 7.14. Panjang Bebas struktur tertekan
  • Gambar 7.15. Jari-jari Girasi Kolom

Beton Jembatan-152

BAB VII
STRUKTUR DENGAN BEBAN LENTUR
DAN AKSIAL KOLOM


Kompetensi Umum: Mahasiswa dapat memeriksa kekuatan dan menghitung
penulangan balok dan pelat pada struktur jembatan beton
bertulang bentang pendek.
Kompetensi Khusus: Mahasiswa dapat merencanakan penulangan dan
memeriksa kekuatan kolom

7.1. Pendahuluan
Kolom merupakan batang tekan vertikal dari rangka/frame struktural yang
memikul beban dari balok. Keruntuhan dari batang tekan biasanya bersifat getas
(brittle) dan tiba-tiba. Selain itu, keruntuhan pada suatu kolom dapat
menyebabkan collapse lantai bersangkutan dan juga runtuh batas total seluruh
struktur (Gambar 7.1). Oleh karena itu, kolom harus didesain memiliki kekuatan
cadangan dan keamanan yang lebih tinggi agar tidak terjadi keruntuhan
mendadak.
Kolom dalam batas keruntuhan memiliki ciri-ciri :
a. Ciri pertama kolom dalam kondisi over load adalah terjadi retak di seluruh
tinggi kolom.
b. Setalah terjadinya retak di sepanjang kolom, beban yang bertambah
menyebabkan terkelupasnya selimut beton di luar sengkang/spiral.
c. Terjadinya kegagalan lekatan antara beton dan tulangan sehingga beton pada
daerah inti hancur.
d. Terjadi keruntuhan dan tekuk lokal (local buckling) tulangan memanjang
pada daerah yang tidak tertumpu sengkang/spiral. Dari hasil penelitian Tavio,
dkk (2011) menyatakan bahwa semakin rapat jarak tulangan antar sengkang
kolom memiliki daktilitas kurvatur semakin tinggi. Hal ini berarti, perilaku
Beton Jembatan-153

kolom yang betonnya dikekang oleh tulangan sengkang dengan rapat, jenis
keruntuhan yang terjadi lebih daktail.
Seperti halnya pada desain lentur, prinsip-prinsip dasar dalam perencanaan
kekuatan kolom adalah sebagai berikut:
a. Distribusi regangan di sepanjang tebal kolom bersifat linier.
b. Tidak terjadi slip antara beton dan tulangan (regangan pada beton dan baja
dianggap sama).
c. Regangan tekan maksimum beton pada kondisi ultimate = 0,003.
d. Kekuatan tarik beton diabaikan


Gambar 7.1. Keruntuhan pada kolom/pilar jembatan menyebabkan
collapsnya Struktur.
Sumber : http://scorpionz07.blogspot.com/2010/07/foto-jembatan-kokoh-yang-
runtuhdan.html&imgurl=http://3.bp.blogspot.com/_Ya3fG6SpTeo/SjwvRDTcz8I/
AAAAAAAADnI/USGbKWJWPlM/s400/Collapsed_Bridge__22.jpg&ei=FquCT
bagMYjIrQfJoojFCA&zoom=1&w=267&h=400&biw=1280&bih=610 (akses 18
maret 2011)

7.2. Jenis-Jenis Kolom
Berdasarkan bentuknya, kolom dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
Beton Jembatan-154

a. Kolom segi empat/persegi dengan tulangan memanjang (longitudinal) dan
sengkang/pengikat lateral (Gambar 7.2a).
b. Kolom bundar dengan tulangan longitudinal dan tulangan transversal
berbentuk spiral (Gambar 7.2b).
c. Kolom komposit, terdiri atas beton dan profil baja yang ditanam di dalamnya
(Gambar 7.2c).








Gambar 7.2. (a) Kolom persegi (b) kolom Spiral (c) Kolom Komposit

Dari ketiga bentuk kolom tersebut, jenis kolom yang paling banyak
digunakan adalah kolom persegi/bersengkang karena pembuatannya lebih mudah
dan lebih murah harganya. Namun demikian, ternyata bentuk kolom spiral
memiliki daktilitas yang lebih tinggi dibandingkan kolom persegi terutama di
dalam menerima beban gempa. Oleh karena itu, pada daerah-daerah dengan resiko
gempa tinggi, paling baik menggunakan kolom spiral. Dari Gambar 7.3 terlihat
bahwa pada saat terjadi beban berlebih, keruntuhan kolom persegi bersifat getas
dan tiba-tiba, sedangkan pada kolom spiral tidak langsung runtuh tetapi
berdeformasi terlebih dahulu (daktail).
Beton Jembatan-155


Gambar 7.3. Perbandingan Perilaku kolom sengkang dan kolom Spiral
dalam menahan beban (Park&Paulay, 1975).

Berdasarkan beban yang bekerja, kolom dibedakan menjadi beberapa
jenis, yaitu :
a. Kolom yang dibebani secara konsentris/sentris. Pada kolom konsentris ini,
kolom tidak mengalami momen lentur (M = 0). Di dalam praktek, kolom
harus didesain terhadap kemungkinan adanya eksentrisitas akibat
ketidaksempurnaan bekisting. Besarnya eksentrisitas minimum diambil
sebesar 10 % × tebal kolom untuk kolom persegi dan 5 % × tebal kolom
untuk kolom spiral (Gambar 7.4a).
b. Kolom dengan beban eksentris, yaitu kolom yang dibebani gaya aksial (P)
dan momen lentur (M). Momen ini dapat dikonversikan menjadi suatu beban
P dengan eksentrisitas “e”. Berdasarkan eksentrisitasnya, kolom dibedakan
lagi menjadi kolom uniaksial dan kolom biaksial. Pada kolom uniaksial beban
P, M dan e bersumbu tunggal, sedangkan pada kolom biaksial beban P, M
dan e bersumbu rangkap (Mx, My, ex dan ey), Gambar 7.4b dan 7.4c.




Beton Jembatan-156








(a) (b) (c)
Gambar 7.4. (a) Kolom dengan beban konsentris (b) kolom uniaksial (c)
Kolom Biaksial

Keruntuhan pada kolom dapat disebabkan oleh : (1) Kegagalan
materialnya, terjadi pada kolom pendek. Terjadi karena terjadinya leleh tulangan
pada zona tarik atau crushing beton pada zona tekan. (2) Tekuk pada kolom
langsing/panjang, terjadi karena kolom kehilangan stabilitas lateralnya.
Berdasarkan penyebab keruntuhan dan kelangsingannya, kolom dibedakan
menjadi dua, yaitu:
a. Kolom pendek. Disebut kolom pendek jika memenuhi persyaratan
K.L
u
22
r
s
b. Kolom langsing. Disebut kolom langsing jika
K.L
u
22
r
> , dimana
K : faktor yang tergantung pada kondisi tumpuan kolom
Lu : tinggi bagian kolom yang tidak ditumpu secara lateral
r : jari-jari girasi kolom

7.3. Kolom Pendek
7.3.1. Kekuatan kolom Pendek dengan Beban Konsentris





h
b As As
(a)Penampang Kolom
Beton Jembatan-157














Gambar 7.5. Diagram Tegangan Regangan Pada Kolom Konsentris

Kolom pendek yang dibebani gaya aksial secara konsentrik, yaitu gaya
aksial bekerja pada pusat penampang kolom (Gambar 7.5b) akan menyebabkan
tegangan tekan merata pada seluruh penampang kolom (Gambar 7.5d). Pada saat
kolom runtuh, maka tegangan dan regangan merata di seluruh penampang kolom
(Gambar 7,5c).
Kolom yang dibebani gaya aksial konsentris akan memberikan perlawanan
yang berasal dari beton dan tulangan. Oleh karena itu, kapasitas beban konsentris
maksimum pada kolom diperoleh dari:
a. Kontribusi beton, yaitu
( ) t
Cc 0,85.fc'. Ag As = ÷
Dimana, Ag : Luas penampang kolom total = b×h
A
st
: Luas tulangan total
b. Kontribusi baja tulangan, yaitu
st
Ts A .fy =
Dari kontribusi beton dan tulangan, maka kapasitas beban konsentris maksimum
kolom adalah :
( ) t
st
Po 0,85.fc'. Ag As A .fy = ÷ +
0
,
0
0
3

Po
As.fy As.fy Cc
(b)Kolom dengan beban konsentris
(d) Diagram tegangan
(c) Diagram regangan
Beton Jembatan-158

Pada kenyataannya, di lapangan sulit dipastikan gaya aksial bekerja benar-benar
pada pusat penampang kolom. Untuk mengantisipasi hal ini, maka di dalam
praktek kolom harus didesain terhadap kemungkinan adanya eksentrisitas akibat
ketidaksempurnaan bekisting. Besarnya eksentrisitas minimum diambil sebesar 10
% × tebal kolom untuk kolom persegi dan 5 % × tebal kolom untuk kolom spiral
(SNI-2847-2002 ps.12.3.5). Untuk menghindari perlunya perhitungan
eksentrisitas minimum, maka kekuatan kolom harus direduksi, sehingga kekuatan
nominal kolom (Pn) adalah :
- Untuk kolom dengan tulangan spiral,
Pn 0,85.Po 0,85. 0,85.fc'. Ag A A .fy
st st
| |
|

\ .
= = ÷ +
- Untuk kolom dengan tulangan sengkang
Pn 0,80.Po 0,80. 0,85.fc'. Ag A A .fy
st st
| |
|

\ .
= = ÷ +
Di dalam desain dan analisis kolom dengan beban konsentris, harus memenuhi
syarat, yaitu : Pu Pn s o , dimana: Pu : gaya aksial rencana terfaktor, ø : Faktor
reduksi kekuatan, untuk kolom spiral = 0,70 dan kolom bersengkang = 0,65. Pn :
Gaya aksial nominal kolom.

Contoh Soal 1:
Hitung gaya aksial nominal konsentrik dan gaya aksial rencana yang dapat dipikul
kolom seperti tergambar, jika digunakan beton fc’ = 30 Mpa dan tulangan fy =
400 Mpa.






SOLUSI :
1. Hitung luas penampang kolom (Ag) dan luas tulangan total (Ast)
400
300
6 D 22
Beton Jembatan-159

2
A b x h = 300 x 400 = 120000 mm
g
2 2 2
1 1
A n x x x D = 6 x x 3,14 x 22 = 2280,8 mm
st 4 4
=
= t

2. Hitung gaya aksial maksimum (Po)
( ) ( )
( ) ( )
g st
st
Po 0,85.fc'. A A + A .fy
Po 0,85 x 30 x 120000 2280,5 + 2280,5 x 400 = 3914000 N
Po = 3914 KN
= ÷
= ÷

3. Hitung gaya aksial Nominal (Pn)
Pn 0,80 x Po
Pn 0,80 x 3914 = 3131 KN
=
=

4. Hitung gaya aksial rencana yang dapat ditahan kolom (Pu)
Pu 0,65 x Pn
Pu 0,65 x 3131 = 2035 KN
=
=


Contoh Soal 2 :
Kolom spiral setinggi 6 meter seperti tergambar memikul beban aksial konsentris
akibat berat sendiri, akibat beban mati tambahan sebesar 100 KN dan akibat beban
hidup kendaraan 1000 KN. Jika digunakan beton fc’ = 30 Mpa dan tulangan fy =
400 Mpa, periksa apakah kolom kuat memikul beban-beban yang bekerja dan
periksa rasio tulangan yang terpasang.








SOLUSI :
1. Hitung gaya aksial terfaktor akibat beban-beban yang bekerja (Pu)
Pu
I
I
POT. I - I
300
6 D 22
Beton Jembatan-160

Gaya aksial Akibat berat sendiri, koefisien = 1,30
2
1
P H x x x D x BI beton
4 DL
2
1
P 6 x x 3,14 x 0,3 x 24 = 10 KN
4 DL
= t
=
Akibat beban mati tambahan,
SDL
P 100 KN = , koefisien = 2,0
Akibat beban hidup kendaraan,
TD
P 1000 KN = , koefisien = 1,8
Gaya Aksial terfaktor,
( ) ( ) ( )
u DL SDL TD
u
P 1,3.P + 2,0.P + 1,80.P
P = 1,3 x 10 + 2 x 100 + 1,8 x 1000 = 2013 KN
=

2. Hitung luas penampang kolom (Ag) dan luas tulangan total (Ast)
kolom
2 2 2
1 1
A x x D = x 3,14 x 300 = 70650 mm
g
4 4
2 2 2
1 1
A n x x x D = 6 x x 3,14 x 22 = 2280,8 mm
st 4 4
= t
= t


3. Hitung rasio tulangan yang terpasang
A
2280,8
st
= = 3,23 % < 8 % OK
A 70650
g
p= ÷
4. Hitung gaya aksial maksimum (Po)
( ) ( )
( ) ( )
g st
st
Po 0,85.fc'. A A + A .fy
Po 0,85 x 30 x 70650 2280,8 + 2280,8 x 400 = 2656000 N
Po = 2656 KN
= ÷
= ÷

5. Hitung gaya aksial Nominal (Pn)
Pn 0,85 x Po
Pn 0,85 x 2656 = 2257 KN
=
=

6. Hitung gaya aksial rencana yang dapat ditahan kolom (Pu)
Pu .Pn
Pu 0,70 x 2257 = 1580 KN
=o
=

7. Periksa apakah kolom kuat memikul beban-beban yang bekerja
Kolom kuat jika memenuhi syarat
Beton Jembatan-161

Pu .Pn
Pu 2013 KN > 0,70 x 2257=1580 KN
so
= ÷kolom tidak kuat memikul beban
Solusinya adalah perbesar dimensi kolom atau tambah jumlah tulangannya.

7.3.2. Kekuatan kolom Pendek dengan Beban Eksentris
Apabila gaya aksial tidak bekerja pada pusat penampang kolom (ada
eksentrisitas terhadap pusat penampang kolom), maka akan timbul momen.
Momen ini dapat dikonversikan menjadi suatu beban P dengan eksentrisitas “e”.
Di dalam menghitung kekuatan nominal kolom dengan beban eksentris dapat
diterapkan prinsip blok tegangan persegi ekivalen yang berlaku pada analisis
balok. Untuk melakukan analisis kekuatan kolom dengan beban eksentris dapat
dijelaskan dengan Gambar 7.6.










a. Penampang kolom b. regangan c. diagram tegangan
Gambar 7.6. Diagram Tegangan Regangan Kolom dengan Beban Eksentris

Dari Gambar 7.6 dapat diketahui beberapa parameter, yaitu :
a. Regangan beton maksimum (εcu) pada serat tekan paling luar adalah 0,003.
b. Regangan yang terjadi pada tulangan tarik (Gambar 7.6b)
εs’
Garis netral
Sumbu penampang
ỹ-a/2
Ts
Cc
Cs
0,85.fc’
εcu=0,003
εs
a

c
d’
b
h
d
d-ỹ
ỹ-d’
Pn
e
e
Pn
Sumbu penamp
As
As’
Beton Jembatan-162

d c
s
0,003 c
d c
0,003.
s
c
c ÷
=
÷
c =

c. Regangan yang terjadi pada tulangan tekan (Gambar 7.6b)
s
' c d'
0,003 c
c d'
' 0,003.
s
c
c ÷
=
÷
c =

d. Tegangan tulangan tarik sebesar
s s
fs E . fy = c s ÷ tulangan tarik belum
leleh. Jika
s s
fs E . fy = c > ÷ tulangan tarik sudah leleh sehingga fs = fy
e. Tegangan tulangan tekan sebesar
s s
fs' E . ' fy = c s ÷ tulangan tekan belum
leleh. Jika
s s
fs' E . ' fy = c > ÷ tulangan tekan sudah leleh sehingga fs’ = fy
f. Gaya tekan sumbangan beton berupa resultan tegangan pada beton adalah :
c
C 0,85.fc'.a.b = , dimana
1
a .c = | . Jarak garis netral (c) diasumsikan berada
dalam daerah “d” penampang sehingga baja pada sisi tertarik memang
mengalami tarik.
g. Gaya tekan sumbangan tulangan tekan berupa resultan tegangan yang terjadi
pada tulangan tekan adalah
s
C As' . fs' =
h. Gaya tarik sumbangan tulangan tarik berupa resultan tegangan yang terjadi
pada tulangan tarik adalah :
s s
T As . f =
Gaya tahan aksial nominal (Pn) dalam keadaan runtuh diperoleh dari
keseimbangan gaya pada diagram tegangan Gambar 7.6c, yaitu :
( ) ( ) ( )
P C C T
n c s s
P 0,85.fc'.a.b A '.fs' As.fs .......1
n s
= + ÷
= + ÷

Momen tahanan nominal (Mn) dalam keadaan runtuh diperoleh dari
keseimbangan momen terhadap pusat penampang seperti pada diagram tegangan
Gambar 7.6c, yaitu :
Beton Jembatan-163

( ) ( ) ( )
n
_ _ _
c s s
M P .e
n
a
M C . C . d' +T . d y y y
n
2
h a h h
M 0,85.fc'.a.b A '.fs' d' As.fs d ..........2
n s
2 2 2 2
=
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .

Dari persamaan di atas, ada beberapa parameter yang belum diketahui,
yaitu:
- Tinggi blok tegangan ekivalen, a
- Tegangan pada tulangan yang tertekan, fs’
- Tegangan pada tulangan yang tertarik, fs
- Pn untuk suatu nilai e tertentu atau e untuk Pn tertentu.
Nilai fs’ dan fs dapat dinyatakan dalam a (diagram regangan, gambar 7.6b)
sehingga parameter yang belum diketahui tinggal Pn dan a.
Pada kolom pendek dengan beban eksentris, ada tiga jenis keruntuhan
yang dapat terjadi, yaitu : Keruntuhan seimbang (balance failure), Keruntuhan
tarik (under reinforced) dan Keruntuhan tekan (over reinforced). Kekuatan
nominal kolom tergantung dari jenis keruntuhan yang terjadi.
A. Keruntuhan Seimbang (Balance Failure)
Keruntuhan yang terjadi secara bersamaan, yaitu lelehnya tulangan
sekaligus hancurnya beton tertekan. Jadi pada kondisi balance, beton sudah
mencapai regangan maksimum = 0,003 dan tulangan tarik sudah mencapai
regangan lelehnya sehingga fs = fy, sedangkan pada tulangan tekan tergantung
dari regangan tulangannya. Jika fs’ < fy maka tulangan tekan belum leleh tetapi
jika fs’ ≥ fy maka tulangan tekan sudah leleh, sehingga fs’=fy. Keruntuhan ini
bersifat getas dan tiba-tiba. Terjadi jika Pn = Pnb atau e = eb. Analisis kekuatan
kolom kondisi balance dijelaskan melalui Gambar 7.7.


Beton Jembatan-164











a.Penampang kolom b. regangan c. diagram tegangan

Gambar 7.7. Diagram Tegangan Regangan Kolom Kondisi Balance

Dari diagram regangan, gambar 7.7b :
C
0,003
b

0,003+ y d
C
0,003
b
Es = 200000 MPa
d fy
0,003+
Es
C
0,003
b

d fy
0,003+
200000
600
C d.
b 600+fy
a .C
1 b b
=
c
= ÷
=
=
=|

Gaya aksial nominal dalam kondisi balance, yaitu :
( ) ( ) ( )
b
P C C T
c s s
nb
P 0,85.fc'.a .b A '.fs' As.fy
s
nb
= + ÷
= + ÷

Momen nominal dan eksentrisitas dalam kondisi balance, yaitu :
Garis netral
d’
b
h
d
Pnb
eb
Asb
As’b
Ts
ab
Sumbu penampang
ỹ-a/2
Cc
Cs
0,85.fc’
d-ỹ
ỹ-d’
εs
εs’
εcu=0,003
εs

cb
Beton Jembatan-165

( ) ( ) ( )
nb
nb b b
nb
_ _ _
b
c s s
b
b
M
M P .e e =
nb
P
a
M C . C . d' +T . d y y y
nb
2
a h h h
M 0,85.fc'.a .b A '.fs' d' As.fy d
s
nb
2 2 2 2
= ÷
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .


Contoh soal
Hitunglah gaya aksial nominal dan momen nominal serta eksentrisitas kondisi
balance dari kolom seperti tergambar jika digunakan beton fc’ = 27 Mpa dan
tulangan fy = 400 Mpa, sengkang Ø 10 mm.











SOLUSI :
a. Hitung luas tulangan, tinggi efektif kolom (d) dan d’
D
d' tebal selimut beton sengkang
2
22
d' 40 + 10 + 61 mm
2
d h d' 500 61 439 mm
= +o +
= =
= ÷ = ÷ =

2 2
1
A A ' = 3 x x x 22 = 1140 mm
s s
4
= t

d’
300
500
d
3D22
3D22
Beton Jembatan-166

b. Hitung tinggi garis netral kondisi balance, Cb
600 600
C d. 439 x 263,40 mm
b 600+400 600+fy
a .C 0,85 x 263,40 = 223,9 mm
1 b b
= = =
=| =

c. Periksa tegangan tulangan tekan apakah sudah leleh atau belum
b
s
b
C d' 263,40 61
fs' E . ' 200.000 x 0,003. = 200.000 x 0,003 x 461 MPa > fy
s
C 263,40
tulangan tekan sudah leleh sehingga fs'=fy
÷ ÷
= c = =
÷

d.
Hitung gaya aksial nominal kondisi balance, Pnb
b
s
s
s s
C 0,85.fc'.a .b = 0,85 x 27 x 223,9 x 300 = 1541483 N
c
C A '.fs' 1140 x 400 = 456159 N
s
T A '.fy 1140 x 400 = 456159 N
s
P C C T 1541483 + 456159 - 456159 = 1541483 N = 1541,483 KN
c
nb
=
= =
= =
= + ÷ =

e.
Hitung Momen nominal dan eksentrisitas kondisi balance, Mnb dan eb
( ) ( )
_ _ _
b
c s s

nb
nb
_
a
h
M C . C . d' +T . d y y y
y
nb 2
2
500 223,9 500 500
M 1541483. 1140 x 400 61 1140 x 400 439
nb
2 2 2 2
M 385237439 Nmm = 385,24 KNm
nb
M 385,24
e 0,24991 m 24
b
P 1541,83
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷ =
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
=
= = = = 9,91 mm




Beton Jembatan-167

B. Keruntuhan Tarik
Keruntuhan yang diawali dengan lelehnya tulangan pada daerah tarik yang
ditandai dengan nilai regangan tulangan tarik nilainya lebih besar dari regangan
leleh tulangan (εs > εy), sedangkan beton pada daerah tekan belum mencapai
regangan maksimum = 0,003. Untuk tulangan tekan tergantung dari regangan
tulangannya. Jika fs’ < fy maka tulangan tekan belum leleh tetapi jika fs’ ≥ fy
maka tulangan tekan sudah leleh, sehingga fs’=fy. Keruntuhan ini bersifat daktail.
Keruntuhan tarik terjadi jika Pn < Pnb atau e > eb. Pada keruntuhan tarik, tinggi
garis netral nilainya lebih kecil dibandingkan pada kondisi keruntuhan balance
(C < Cb). Analisis kekuatan kolom kondisi balance dijelaskan melalui Gambar
7.8.










a.Penampang kolom b. regangan c. diagram tegangan

Gambar 7.8. Diagram Tegangan Regangan Kolom Kondisi Tarik

Di dalam praktek, biasanya digunakan penulangan simetris As = As’,
dengan tujuan untuk mencegah kekeliruan dalam penempatan tulangan tarik dan
tulangan tekan pada saat pemasangan di lapangan serta untuk mengantisipasi bila
terjadi tegangan berbalik arah terutama pada saat terjadi gempa. Apabila tulangan
tekan sudah leleh, maka tegangan tulangan tekan diambil sama dengan tegangan
lelehnya, fs’ = fy, sehingga :

d’
b
h
d
Pn
e
As
As’
Ts
a
Sumbu penampang
ỹ-a/2
Cc
Cs
0,85.fc’
d-ỹ
ỹ-d’
Garis netral tarik
εs>εy
εy
cb
εs’
εcu=0,003

c
Beton Jembatan-168

( ) ( ) ( )
( )
P C C T
n c s s
P 0,85.fc'.a.b A '.fy As.fy
n s
P 0,85.fc'.a.b .....................1
n
= + ÷
= + ÷
=

Karena As’ = As, fs’ = fy dan ỹ = h/2 maka momen nominal kondisi tarik
untuk tulangan tekan sudah leleh dapat ditulis
( ) ( ) ( )
( ) ( )( )
_ _ _
c s s
n
a
M C . C . d' +T . d y y y
n
2
h a h h
M 0,85.fc'.a.b A .fy d' As.fy d
n s
2 2 2 2
h a
M 0,85.fc'.a.b A .fy d d' .........2
n s
2 2
M P .e ..........................3
n
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
| |
= ÷ + ÷
|
\ .
=

Substitusikan persamaan 1 dan 3 ke persamaan 2, sehingga persamaan menjadi :
( ) ( )( )
( )( )
n
h a
M 0,85.fc'.a.b A .fy d d'
n s
2 2
h a
P .e P . A .fy d d' ...............4
n s
2 2
| |
= ÷ + ÷
|
\ .
| |
= ÷ + ÷
|
\ .

Karena
( )
n
P 0,85.fc'.a.b
n
P
a
0,85.fc'.b
=
=
, maka substitusikan nilai a ke persamaan 4 sehingga
persamaan menjadi
Beton Jembatan-169


( )( )
( )( )
( )( )
n
n
n
2
n
h a
P .e P . A .fy d d'
n s
2 2
h P
P .e P . A .fy d d' , sehingga
n s
2 1,7.fc'.b
h P
n
- P . e A .fy d d' 0 ............5
s
1,7.fc'.b
2
÷
| |
= ÷ + ÷
|
\ .
| |
= ÷ + ÷
|
\ .
| |
÷ ÷ =
|
\ .

Jika
2
A fy
s
= ' = dan m = maka persamaan menjadi
b.d
0,85.fc'
h-2e h-2e d'
Pn = 0,85.fc'.b.d. 2m . 1 ...........6
2d 2d d
Mn = Pn.e ................................7
p p

| | | | | |

+ + p ÷
| | |
\ . \ . \ .


Rumus 6 dan 7 di atas merupaka gaya aksial nominal dan momen nominal
kolom kondisi keruntuhan tarik untuk tulangan tekan sudah leleh (fs’≥fy).
Apabila tulangan tekan belum leleh, fs’<fy maka untuk menghitung besarnya
gaya aksial nominal (Pn) dan momen nominal (Mn) harus dilakukan coba-coba
dengan cara memberikan nilai awal tinggi garis netral kondisi tarik, C < Cb. Dari
nilai C ini, akan diperoleh nilai Pn, Mn dan e. Proses coba-coba dihentikan
apabila sudah terjadi keserasian regangan atau nilai eksentrisitas “e” mendekati
nilai eksentrisitas akibat Mu dan Pu.

Contoh soal
Hitunglah gaya aksial nominal dan momen nominal dari kolom seperti tergambar
jika gaya aksial bekerja dengan eksentrisitas, e = 356 mm, digunakan beton fc’ =
27 Mpa dan tulangan fy = 400 Mpa, sengkang Ø 10 mm.




Beton Jembatan-170










SOLUSI :
a. Hitung luas tulangan, tinggi efektif kolom (d) dan d’
D
d' tebal selimut beton sengkang
2
22
d' 40 + 10 + 61 mm
2
d h d' 500 61 439 mm
= +o +
= =
= ÷ = ÷ =

2 2
1
A A ' = 3 x x x 22 = 1140 mm
s s
4
= t

b. Hitung tinggi garis netral kondisi balance, Cb
600 600
C d. 439 x 263,40 mm
b 600+400 600+fy
a .C 0,85 x 263,40 = 223,9 mm
1 b b
= = =
=| =

c. Periksa tegangan tulangan tekan apakah sudah leleh atau belum
b
s
b
C d' 263,40 61
fs' E . ' 200.000 x 0,003. = 200.000 x 0,003 x 461 MPa > fy
s
C 263,40
tulangan tekan sudah leleh sehingga fs'=fy
÷ ÷
= c = =
÷

d’
300
500
d
3D22
3D22
Beton Jembatan-171

d. Hitung gaya aksial nominal kondisi balance, Pnb
b
s
s
s s
C 0,85.fc'.a .b = 0,85 x 27 x 223,9 x 300 = 1541483 N
c
C A '.fs' 1140 x 400 = 456159 N
s
T A '.fy 1140 x 400 = 456159 N
s
P C C T 1541483 + 456159 - 456159 = 1541483 N = 1541,483 KN
c
nb
=
= =
= =
= + ÷ =

e. Hitung Momen nominal dan eksentrisitas kondisi balance, Mnb dan eb
( ) ( )
_ _ _
b
c s s

nb
nb
_
a
h
M C . C . d' +T . d y y y
y
nb 2
2
500 223,9 500 500
M 1541483. 1140 x 400 61 1140 x 400 439
nb
2 2 2 2
M 385237439 Nmm = 385,24 KNm
nb
M 385,24
e 0,24991 m 24
b
P 1541,83
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷ =
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
=
= = = = 9,91 mm

f. Periksa jenis keruntuhan kolom. Ternyata
b
e = 356 mm > e 249,91 mm keruntuhan tarik = ÷ . Dari keruntuhan
balance dapat diketahui bahwa tulangan tekan sudah leleh, sehingga fs’ =
fy.
g. Hitung gaya aksial nominal dan momen nominal kolom kondisi
keruntuhan tarik untuk tulangan tekan sudah leleh.
Beton Jembatan-172

( )
2
A 1140
s
= ' = = 0,009
b.d
300 x 439
fy 400
m = = 17,43
0,85.fc' 0,85.27
500 - 2 x 356
h-2e
= = -0,241
2 x 439 2d
d' 61
1- = 1 - 0,86
439 d
h-2e h-2e d'
Pn = 0,85.fc'.b.d. 2m . 1
2d 2d d
p p =
=
=

| | | | | |

+ + p ÷
| | |
\ . \ . \ .

( ) ( ) ( )
2
Pn = 0,85 x 27 x 300 x 439. -0,241 -0,241 2 x 17,43 x 0,009. 0,86
Pn = 974849,79 N = 974,85 KN

+ +



Hitung Momen nominal kolom
n
M P .e = 974849.79 x 356 = 347046524.15 Nmm = 347,05 KNm
n
=
h. Hitung gaya aksial dan momen rencana yang dapat ditahan kolom
u n
n
P .P 0,65 x 974,85 = 633,65 KN
M .M = 0,65 x 347,05 = 225,58 KNm
u
= o =
=o


C. Keruntuhan Tekan
Keruntuhan yang diawali dengan hancurnya beton pada daerah tekan
yang ditandai dengan regangan betonnya sudah mencapai regangan maksimum =
0,003. Pada keruntuhan tekan, nilai regangan tulangan tarik nilainya lebih kecil
dari regangan leleh tulangan (εs < εy). Untuk tulangan tekan tergantung dari
regangan tulangannya. Jika fs’ < fy maka tulangan tekan belum leleh tetapi jika
fs’ ≥ fy maka tulangan tekan sudah leleh, sehingga fs’=fy. Keruntuhan ini bersifat
getas dan tiba-tiba. Keruntuhan tekan terjadi jika Pn > Pnb atau e < eb. Pada
keruntuhan tekan, tinggi garis netral nilainya lebih besar dibandingkan pada
Beton Jembatan-173

kondisi keruntuhan balance (C > Cb). Analisis kekuatan kolom kondisi balance
dijelaskan melalui Gambar 7.9.










a.Penampang kolom b. regangan c. diagram tegangan

Gambar 7.8. Diagram Tegangan Regangan Kolom Kondisi Tekan

Untuk menghitung gaya aksial nominal dan momen nominal kolom kondisi
keruntuhan tekan, maka dilakukan proses coba-coba dan penyesuaian sampai
terjadi keserasian regangan yang ditandai dengan nilai eksentrisitas hasil coba-
coba nilainya mendekati eksentrisitas akibat beban yang bekerja.


Contoh soal
Hitunglah gaya aksial nominal dan momen nominal dari kolom seperti tergambar
jika gaya aksial bekerja dengan eksentrisitas, e = 200 mm, digunakan beton fc’ =
27 Mpa dan tulangan fy = 400 Mpa, sengkang Ø 10 mm.





d’
b
h
d
Pn
e
As
As’
Ts
a
Sumbu penampang
ỹ-a/2
Cc
Cs
0,85.fc’
d-ỹ
ỹ-d’
Garis netral tarik
εs<εy
εy
c
εs’
εcu=0,003

cb
Beton Jembatan-174










SOLUSI :
a. Hitung luas tulangan, tinggi efektif kolom (d) dan d’
D
d' tebal selimut beton sengkang
2
22
d' 40 + 10 + 61 mm
2
d h d' 500 61 439 mm
= +o +
= =
= ÷ = ÷ =

2 2
1
A A ' = 3 x x x 22 = 1140 mm
s s
4
= t

b. Hitung tinggi garis netral kondisi balance, Cb
600 600
C d. 439 x 263,40 mm
b 600+400 600+fy
a .C 0,85 x 263,40 = 223,9 mm
1 b b
= = =
=| =

c. Periksa tegangan tulangan tekan apakah sudah leleh atau belum
b
s
b
C d' 263,40 61
fs' E . ' 200.000 x 0,003. = 200.000 x 0,003 x 461 MPa > fy
s
C 263,40
tulangan tekan sudah leleh sehingga fs'=fy
÷ ÷
= c = =
÷

d’
300
500
d
3D22
3D22
Beton Jembatan-175

d. Hitung gaya aksial nominal kondisi balance, Pnb
b
s
s
s s
C 0,85.fc'.a .b = 0,85 x 27 x 223,9 x 300 = 1541483 N
c
C A '.fs' 1140 x 400 = 456159 N
s
T A '.fy 1140 x 400 = 456159 N
s
P C C T 1541483 + 456159 - 456159 = 1541483 N = 1541,483 KN
c
nb
=
= =
= =
= + ÷ =

e. Hitung Momen nominal dan eksentrisitas kondisi balance, Mnb dan eb
( ) ( )
_ _ _
b
c s s

nb
nb
_
a
h
M C . C . d' +T . d y y y
y
nb 2
2
500 223,9 500 500
M 1541483. 1140 x 400 61 1140 x 400 439
nb
2 2 2 2
M 385237439 Nmm = 385,24 KNm
nb
M 385,24
e 0,24991 m 24
b
P 1541,83
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷ =
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
=
= = = = 9,91 mm

f. Periksa jenis keruntuhan kolom. Ternyata
b
e = 200 mm < e 249,91 mm keruntuhan tekan = ÷ .
g. Hitung gaya aksial nominal dan momen nominal kolom kondisi
keruntuhan tekan dilakukan dengan cara coba-coba. Pada keruntuhan
tekan, tinggi garis netral selalu lebih besar dari kondisi balance ( C > Cb).
- Dicoba dengan C = 293 mm > Cb = 263,40 mm.
- Hitung tinggi garis netral kondisi balance, Cb
a .C 0,85 x 293 = 249,1 mm
1
=| =

- Periksa tegangan tulangan tekan apakah sudah leleh atau belum
s
C d' 293 61
fs' E . ' 200.000 x 0,003. = 200.000 x 0,003 x 475 MPa > fy
s
C 293
tulangan tekan sudah leleh sehingga fs'=fy
÷ ÷
= c = =
÷

Beton Jembatan-176

- Periksa tegangan tulangan tarik apakah sudah leleh atau belum
s
d C 439 293
fs E . 200.000 x 0,003. = 200.000 x 0,003 x 299 MPa < fy
s
C 293
tulangan tekan belum leleh sehingga fs = 299 MPa
÷ ÷
= c = =
÷

- Hitung gaya aksial nominal kondisi tekan, Pn

s

s

s s
C 0,85.fc'.a.b = 0,85 x 27 x 249,1 x 300 = 1714709 N
c
C A '.fs' 1140 x 400 = 456159 N
s
T A .fs 1140 x 299 = 340952 N
s
P C C T 1714709 + 456159 - 340952 = 1829917 N = 1829,917 KN
n c
=
= =
= =
= + ÷ =

- Hitung Momen nominal dan eksentrisitas kondisi tekan, Mn dan e
( ) ( )
_ _ _
c s s


n
n
_
a
h
M C . C . d' +T . d y y y
y
n
2
2
500 249,1 500 500
M 1541483. 456159 61 340952 439
n
2 2 2 2
M 365807004 Nmm = 365,81 KNm
n
M 365,81
e 0,19990 m 199,90 mm
P 1829917
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷ =
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
= ÷ + ÷ ÷ ÷
| | |
\ . \ . \ .
=
= = = =

- Periksa keserasian regangan.
awal
Mn
e = = 199,90 mm e = 200 mm
Pn
~
Ternyata nilai eksentrisitas hasil perhitungan dengan nilai C = 293 mm
menghasilkan nilai eksentrisitas mendekati nilai eksentrisitas akibat
beban yang bekerja, sehingga sudah terjadi keserasian regangan.
h. Hitung gaya aksial dan momen rencana yang dapat ditahan kolom kondisi
tekan
u n
n
P .P 0,65 x 1829,917 = 1189 KN
M .M = 0,65 x 365,81 = 238 KNm
u
= o =
=o


Beton Jembatan-177

D. Faktor reduksi kekuatan kolom
Faktor reduksi kekuatan struktur yang dibebani aksial dan lentur adalah : ø
sengkang = 0,65 dan ø sengkang = 0,70. Untuk
g
Pn 0,1.A .fc' 0,65 o > ÷o=
sedangkan untuk
g
g
0,15. Pn
Pn 0,1.A .fc' 0,80
0,1.A .fc'
o
o s ÷o= ÷ .
E. Persyaratan Tulangan untuk Kolom
Luas tulangan memanjang kolom diambil minimum 0,01×Ag, maksimum
0,08×Ag ( pasal 5.7.8.1. RSNI-T-12-2004). Rasio tulangan spiral ρs diambil tidak
boleh kurang dari
g
s
c
A
fc'
0,45 1
A
fy
| |
p = ÷
|
\ .
, dimana Nilai fy ≤ 400 Mpa.
Ukuran dan jarak tulangan sengkang atau spiral harus memenuhi syarat
sebagai berikut (pasal 5.7.8.4. RSNI-T-12-2004):
- Ukuran sengkang atau spiral minimum harus memenuhi syarat seperti pada
Tabel 7.1.
Tabel 7.1. Ukuran Tulangan Sengkang dan Spiral Kolom
Ukuran tulangan arah
memanjang [mm]
Ukuran minimum
tulangan
Sengkang dan
spiral (mm)
Tulangan tunggal sampai dengan 20 6
Tulangan tunggal 24 sampai 28 10
Tulangan tunggal 32 sampai 36 12
Tulangan tunggal 40 16
Tulangan kelompok 12

- Syarat jarak sengkang diambil nilai terkecil dari : tebal kolom (h), 15 x
diameter tulangan memanjang (15 db) dan 300 mm

F. Diagram Interaksi
Untuk menghitung kekuatan kolom harus diketahui lebih dahulu jenis
keruntuhannya. Karena proses menghitung kekuatan kolom dengan cara coba-
coba kurang praktis dan membutuhkan waktu lebih lama, maka untuk
mempermudah mendesain maupun menganalisis kekuatan kolom dapat dibuat
Beton Jembatan-178

suatu grafik hubungan antara gaya aksial dan momen yang biasa disebut dengan
diagram interaksi P-M. Diagram interaksi P-M merupakan grafik hubangan antara
gaya aksial nominal kolom dengan momen nominal dalam berbagai jenis
keruntuhan. Pada diagram interaksi, masing-masing titik merupakan hubungan
antara gaya aksial dan momen (M,P). Adapun bentuk diagram interaksi
diperlihatkan pada Gambar 7.9.










Gambar 7.9. Diagram Interaksi P-M

Keterangan Gambar :
Titik A : Gaya aksial rencana kolom konsentris, koordinat titik (0,øPn)
Titik B : Gaya aksial dan momen rencana kolom keruntuhan tekan, koordinat titik
(øMn,øPn)
Titik C : Gaya aksial dan momen rencana kolom keruntuhan Balance, koordinat
titik (øMnb,øPnb)
Titik D : Gaya aksial dan momen rencana kolom keruntuhan tarik, koordinat titik
(øMn,øPn)
Titik E : momen rencana kolom keruntuhan tarik murni, P = 0, koordinat titik
(øMn,0)


0,1.Ag.fc’
emin
eb
E
D
C
A
B
Po
Pn
øPn
P
M
Desain
Kekuatan nominal
Beton Jembatan-179

Contoh Soal :








Kolom seperti tergambar memikul beban Pu = 1000 KN, dan Mu = 250 KNm.
Jika digunakan beton f’c = 30 Mpa dan tulangan fy = 400 Mpa, rencanakan
dimensi dan penulangan kolom tersebut agar kuat memikul beban-beban yang
bekerja.
SOLUSI
1. Asumsikan rasio penulangan kolom (ρ). Syarat rasio penulangan kolom
menurut RSNI 1% 8% p s s . Berdasarkan pengalaman rasio tulangan
yang ekonomis adalah 2 % - 3 %.
Dicoba 2% 0,02 p = = , tulangan dipasang pada 2 sisi.
2. Asumsikan dimensi kolom. Jika Mu yang bekerja kecil, untuk
menentukan dimensi kolom dapat digunakan rumus :
( )
'
0,50 .
u
g
c y
P
A
f f p
>
+
(untuk kolom bulat) dan
( )
'
0, 40 .
u
g
c y
P
A
f f p
>
+
(untuk kolom persegi)
Mu
u
Pu
Beton Jembatan-180

( )
( )
'
3
2
0, 40 .
1000 10
0, 40 30 400.0, 02
65789.47368 mm
65789.47368 256.494588 mm
u
g
c y
g
g
P
A
f f
x
A
A
b h
p
>
+
>
+
>
= = =

Dicoba ukuran kolom 400 x 400, digunakan sengkang ukuran 10 mm,
diameter tulangan pokok D25 dan tebal selimut beton 40 mm.
'
'
b h 400 mm
25
d 40 + 10 + = 62,5 mm
2
d = h - d = 400 - 62,5 = 337,5 mm
= =
=


3. Hitung Luas tulangan yang dibutuhkan
2
A .b.h = 0,02 x 400 x 400 = 3200 mm
s total
A
2
s total
As As' = = 1600 mm
2
Digunakan tulangan D25, jumlah tulangan tarik = jumlah tulangan tekan,
As 1600
n = 3, 26. digunakan tul. tekan =
2 2
1 1
. .D . .25
4 4
= p
=
= =
t t
tul tarik = 4D25

4. Buat diagram interaksi dari kolom yang sudah didesain untuk
memeriksa apakah kolom kuat memikul beban-beban yang bekerja.
Propertis penampang :
Lebar kolom (b) = 400 mm, Tebal kolom (h) = 400 mm, d’ = 62,5 mm
dan d = 337,5 mm, Mutu beton (f’c) = 30 Mpa, Mutu tulangan (fy) =
400 Mpa



Beton Jembatan-181








Luas Tulangan
2 2
2
s total
As As' = 4D25 = 4 x 1/4 x 3,14 x 25 = 1962,5 mm
A As As' = 1962,5 + 1962,5 = 3925 mm
=
= +

Rasio tulangan
tot
As 3925
0,02453 2, 453%
b.h 400x400
p = = = =
1% < p=2,453 % < 8 %, tulangan 8 D 25 dapat digunakan.

a. Titik A (0,Pu), Kondisi aksial tekan konsentris (e = 0) sehingga M = 0
( ) ( )
tot
Po = 0,85.fc'.b.h + As .Fy
Po = 0,85 x 30 x 400 x 400 + 3925 x 400 = 5650000 N
Pn = 0,80 x Po = 0,80 x 5650000 N = 4520000 N
Pu = Pn = 0,65 x Pn = 0,65 x 4520000 N = 2938000 N = 2938 KN
Koordinat titi
o
k A (0,Pu) (0,2938) ÷

b. Titik B (Mub,Pub), Kondisi Seimbang (balance)
- Hitung tinggi Garis netral kondisi balance (Cb)
b
b 1 b
600 600
C = .d = .337,5 = 202,5 mm
600 Fy 600 400
a .C 0,85 x 202,5 = 172,1 mm
+ +
= | =

Cek tegangan tulangan tekan, apakah tulangan tekan sudah leleh atau
belum
d’
400
400
d
4 D 25
4 D 25
Beton Jembatan-182

Cb - d'
Fs' = E . s ' = 200000 x .0, 003
s
Cb
202,5 - 62,5
Fs' = 200000 x x0, 003 = 415 MPa > Fy tulangan tekan sudah leleh
202,5
sehingga Fs' = Fy = 400 MPa
c
÷
Hitung Gaya tekan beton (Cc)
b
Cc = 0,85.fc'.a .b
Cc = 0,85 x 30 x 172,1 x 400 = 1755675 N

Hitung Gaya tekan tulangan (Cs)
Cs = As' x Fs' = 1962,5 x 400 = 785000 N
Hitung Gaya tarik tulangan (Ts)
Ts = As x Fy = 1962,5 x 400 = 785000 N
Hitung Gaya aksial nominal kondisi balance (Pnb)
Pnb = Cc + Cs - Ts = 1755675 + 785000 - 785000 = 1755675 N = 1755,675 KN
Pub = Pnb = 1141.18875 KN o

Hitung Momen nominal kondisi balance (Mnb)
a
h h h
b
Mnb = Cc - + Cs - d' + Ts d -
2 2 2 2
400 172,1 400 400
Mnb = 1755675 . - + 785000. - 62,5 + 785000 337,5 -
2 2 2 2
Mnb = 415912220 Nmm = 415,91222 KNm
Mub Mnb = 0,65 x 415,91 = o
| |
| | | |
| | |
\ . \ .
\ .
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
222 = 270.3429432 KNm
Mnb 415912220
eksentrisitas kondisi balance, eb = = =236,896 mm
Pnb 1755675

Koordinat titik B (Mub, Pub) = (270.3429 , 1141.189)







Beton Jembatan-183

c. Titik C (Mu, Pu), Kondisi Tekan
- Tinggi Garis netral kondisi tekan adalah lebih besar dari garis netral
kondisi balance (C > Cb)
1
Ambil C = 240 mm > Cb = 202,5 mm
a .C 0,85 x 240 = 204 mm = | =

Cek tegangan tulangan tarik, apakah tulangan tarik sudah leleh atau
belum
d - C
Fs = E . s = 200000 x .0, 003
s
C
337,5 - 280
Fs = 200000 x x0, 003 = 244 MPa < Fy tulangan tarik belum leleh
280
sehingga Fs = 244 MPa
c
÷
Hitung Gaya tekan beton (Cc)
Cc = 0,85.fc'.a.b
Cc = 0,85 x 30 x 204 x 400 = 2080800 N

Hitung Gaya tekan tulangan (Cs)
Karena keruntuhan tekan, maka tulangan tekan sudah leleh
Sehingga tegangan tul. tekan, Fs' = Fy = 400 MPa
Cs = As' x Fs' = 1962,5 x 400 = 785000 N

Hitung Gaya tarik tulangan (Ts)
Ts = As x Fs = 1962,5 x 244 = 478359 N

Hitung Gaya aksial nominal kondisi Tekan (Pn)
Pn = Cc + Cs - Ts = 2080800 + 785000 - 478359 = 2387441 N = 2387,441 KN
Pu = Pn = 0,65 x 2387,441 = 1551.836406 KN o

Hitung Momen nominal kondisi Tekan (Mn)
Beton Jembatan-184

h a h h
Mn = Cc - + Cs - d' + Ts d -
2 2 2 2
400 204 400 400
Mn = 2080800 . - + 785000. - 62,5 + 478359 . 337,5 -
2 2 2 2
Mn = 377630314 Nmm = 377,630314 KNm
Mu Mn = 0,65 x 377,630314 = o
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
= 245.4597041 KNm
Mn 377630314
eksentrisitas kondisi tekan, e = = = 158.1736987 mm
Pn 2387441


Koordinat titik C (Mu, Pu) = (245.4597 , 1551.84)

d. Titik D (Mu, Pu), Kondisi Tarik
- Tinggi Garis netral kondisi tarik adalah lebih kecil dari garis netral
kondisi balance (C < Cb)
1
Ambil C = 160 mm < Cb = 202,5 mm
a .C 0,85 x 160 = 136 mm = | =

Cek tegangan tulangan tekan, apakah tulangan tekan sudah leleh atau
belum
C - d'
Fs' = E . s ' = 200000 x .0, 003
s
C
160 - 62,5
Fs' = 200000 x x0, 003 = 366 MPa < Fy tulangan tekan belum leleh
160
sehingga Fs' = 366 MPa
c
÷

Hitung Gaya tekan beton (Cc)
Cc = 0,85.fc'.a.b
Cc = 0,85 x 30 x 136 x 400 = 1387200 N

Hitung Gaya tekan tulangan (Cs)
Cs = As' x Fs' = 1962,5 x 366 = 717539 N

Hitung Gaya tarik tulangan (Ts)
Ts = As x Fy = 1962,5 x 400 = 785000 N
Hitung Gaya aksial nominal kondisi Tarik (Pn)
Beton Jembatan-185

Pn = Cc + Cs - Ts = 1387200 + 717539 - 785000 = 1319739 N = 1319.739 KN
Pu = Pn = 0,65 x 1319.739 = 857.8303906 KN o

Hitung Momen nominal kondisi Tarik (Mn)
h a h h
Mn = Cc - + Cs - d' + Ts d -
2 2 2 2
400 136 400 400
Mn = 1387200 . - + 717539 . - 62,5 + 785000 . 337.5 -
2 2 2 2
Mn = 389709521 Nmm = 389.709521 KNm
Mu Mn = 0.65 x 389.709521 = o
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
= 253.3111887 KNm
Mn 389709521
eksentrisitas kondisi tarik, e = = = 295.2928591 mm
Pn 1319739


Koordinat titik D (Mu, Pu) = (253.311 , 857.83)


e. Titik E (Mu, 0), Kondisi Lentur Murni
- Analisis dilakukan dengan asumsi As’=0 (perilaku kolom seperti balok
bertulangan tunggal)
1
As.Fy 1962.5 x 400
a = 77 mm
0.85 x f'c x b 0.85 x 30 x 400
a 77
C = = 90.59 mm
0.85
= =
=
|

Hitung Momen nominal kondisi Lentur murni (Mn)
a
Mn = As. Fy. d -
2
77
Mn = 1962.5 x 400 337.5 -
2
Mn = 234730392 Nmm = 234.730392 KNm
Mu Mn = 0.80 x 234.730392 = 187.7843137 KNm
| |
|
\ .
| |
|
\ .
= o


Koordinat titik E (Mu, 0) = (187.784 , 0)
Gambarkan diagram interaksi dari kolom ukuran 400 x 400 tulangan 8D25
Beton Jembatan-186

Plotkan nilai (Mu, Pu) dari beban yang bekerja ke dalam diagram interaksi
(Mu = 250 KNm dan Pu = 1000 KN). Jika Mu,Pu masuk ke dalam
daerah diagram, berarti kolom yang didesain kuat memikul beban yang
bekerja.














Dari diagram di atas terlihat (Mu,Pu) berada di dalam diagram interaksi
sehingga kolom kuat memikul beban yang bekerja. Jadi untuk memikul
beban Mu = 250 KNm dan Pu = 1000 KN dapat digunakan kolom ukuran
400 x 400 dengan jumlah tulangan total 8D25.

5. Desain jarak sengkang kolom
Syarat : jarak sengkang diambil nilai terkecil dari :
a. 48 x diameter sengkang = 48 x 10 = 480 mm
b. 15 x diameter tulangan memanjang = 15 x 25 = 375 mm
c. 300 mm
d. Dimensi lateral terkecil dari kolom, b atau h = 400 mm
Digunakan jarak sengakng 300 mm
6. Gambar Penulangan Kolom
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
0 100 200 300
P
u

(
K
N
)
Mu (KNm)
DIAGRAM INTERAKSI KOLOM UKURAN 400 X 400
8 D 25
Mu,Pu
E (187.78 , 0)
A (0,2938)
B (270.343 , 1141.189)
C (245.46 , 1551.84)
D (253.31 , 857.83)
Mu,Pu
(250 , 1000)
Beton Jembatan-187










7.4. Kolom Beton Bundar
Untuk menganalisis dan merencanakan kolom bundar, dapat dilakukan
dengan metode pendekatan (metode empiris). Cara untuk menganalisis kekuatan
kolom bundar adalah :
Transformasikan kolom bundar menjadi kolom segiempat ekivalen. Agar
keruntuhannya berupa keruntuhan tekan, maka penampang segiempat ekivalen
harus mempunyai dimensi :
- Tebal ekivalen dalam arah lentur, h
ek
= 0,8 D, dimana D : diameter
luar lingkaran kolom bundar
- Lebar kolom segiempat ekivalen, b
ek
= Ag/(0,8 D)
- Luas tulangan total, Ast ekivalen didistribusikan pada dua lapis yang
sejajar dengan jarak antara lapisannya 2/3 Ds dalam arah lentur,
dimana Ds : diameter lingkaran tulangan terjauh dari as ke as.









40
400
400
Ø10 - 300
4 D 25
4 D 25
bek= Ag/(0,8D)
Ds
D
d-d’=2/3Ds
hek= 0,8D
As’=As=Ast/2
Beton Jembatan-188

Contoh Soal :








Kolom seperti tergambar memikul beban Pu = 1000 KN, dan Mu = 250 KNm.
Jika digunakan beton f’c = 30 Mpa dan tulangan fy = 400 Mpa, rencanakan
dimensi dan penulangan kolom tersebut agar kuat memikul beban-beban yang
bekerja. Rencanakan dengan menggunakan kolom bundar
SOLUSI
1. Asumsikan rasio penulangan kolom (ρ). Syarat rasio penulangan kolom
menurut RSNI 1% 8% p s s . Berdasarkan pengalaman rasio tulangan
yang ekonomis adalah 2 % - 3 %.
Dicoba 2% 0,02 p = = , tulangan dipasang pada 2 sisi.
2. Asumsikan dimensi kolom. Jika Mu yang bekerja kecil, untuk
menentukan dimensi kolom dapat digunakan rumus :
( )
'
0,50 .
u
g
c y
P
A
f f p
>
+
(untuk kolom bulat) dan
( )
'
0, 40 .
u
g
c y
P
A
f f p
>
+
(untuk kolom persegi)
Mu
u
Pu
Beton Jembatan-189

( )
( )
'
3
2
0,50 .
1000 10
0,50 30 400.0, 02
52631,58 mm
52631,58
=258,9336 mm
1/ 4. 1/ 4.
u
g
c y
g
g
P
A
f f
x
A
A
Ag
D
p
t t
>
+
>
+
>
= =

Dicoba ukuran kolom Diameter, D = 500 mm, digunakan sengkang ukuran
10 mm, diameter tulangan pokok D25 dan tebal selimut beton 40 mm.
2 2
ekivalen
ekivalen
'
kolombundar
'
kolombundar
Ag 1/ 4. .D 1/ 4. .500
b = =490,6 mm
0,8D 0,8D 0,8x500
h 0,8D 0,8x500 400mm
25
d 40 + 10 + = 62,5 mm
2
Ds = D - 2d = 500 - (2x62,5) = 375 mm
t t
= =
= = =
=

( ) ( )
ekivalen ekivalen
ekivalen ekivalen ekivalen
2 2
d d' Ds .375=250 mm
3 3
d' h d d' / 2 400 (250 / 2) 75mm
d h - d' = 400-75=325 mm
÷ = =
= ÷ ÷ = ÷ =
=


3. Hitung Luas tulangan yang dibutuhkan
2
A .b.h = 0,02 x 400 x 400 = 3200 mm
s total
A
2
s total
As As' = = 1600 mm
2
Digunakan tulangan D25, jumlah tulangan tarik = jumlah tulangan tekan,
As 1600
n = 3, 26. digunakan tul. tekan =
2 2
1 1
. .D . .25
4 4
= p
=
= =
t t
tul tarik = 4D25

Beton Jembatan-190

4. Buat diagram interaksi dari kolom yang sudah didesain untuk
memeriksa apakah kolom kuat memikul beban-beban yang bekerja.
Propertis penampang persegi ekivalen:
Lebar kolom ekivalen (b
ek
) = 490,6 mm, Tebal kolom ekivalen (h
ek
) =
400 mm, d’
ek
= 75 mm dan d
ek
= 325 mm, Mutu beton (f’c) = 30 Mpa,
Mutu tulangan (fy) = 400 Mpa







Luas Tulangan
2 2
2
s total
As As' = 4D25 = 4 x 1/4 x 3,14 x 25 = 1962,5 mm
A As As' = 1962,5 + 1962,5 = 3925 mm
=
= +

Rasio tulangan
tot
As 3925
0,02453 2, 453%
b.h 400x400
p = = = =
1% < p=2,453 % < 8 %, tulangan 8 D 25 dapat digunakan.

f. Titik A (0,Pu), Kondisi aksial tekan konsentris (e = 0) sehingga M = 0
( ) ( )
ek ek tot
Po = 0,85.fc'.b .h + As .Fy
Po = 0,85 x 30 x 490,6 x 400 + 3925 x 400 = 6574375 N
Pn = 0,85 x Po = 0,85 x 6574375 N = 5588219 N
Pu = Pn = 0,70 x Pn = 0,70 x 5588219 N = 3911753 N = 3911, 753 KN
Koor
o
dinat titik A (0,Pu) (0,3911.753) ÷

g. Titik B (Mub,Pub), Kondisi Seimbang (balance)
- Hitung tinggi Garis netral kondisi balance (Cb)
d’
400
490,6
dek
4 D 25
4 D 25
Beton Jembatan-191

b ek
b 1 b
600 600
C = .d = .325 = 195 mm
600 Fy 600 400
a .C 0,85 x 195 = 165,8 mm
+ +
= | =

Cek tegangan tulangan tekan, apakah tulangan tekan sudah leleh atau
belum
ek
Cb - d'
Fs' = E . s ' = 200000 x .0, 003
s
Cb
165,8 - 75
Fs' = 200000 x x0, 003 = 369 MPa < Fy tulangan tekan belum leleh
165,8
sehingga Fs' = 369 MPa
c
÷
Hitung Gaya tekan beton (Cc)
b
Cc = 0,85.fc'.a .b
Cc = 0,85 x 30 x 172,1 x 400 = 1755675 N

Hitung Gaya tekan tulangan (Cs)
Cs = As' x Fs' = 1962,5 x 369 = 785000 N
Hitung Gaya tarik tulangan (Ts)
Ts = As x Fy = 1962,5 x 400 = 785000 N
Hitung Gaya aksial nominal kondisi balance (Pnb)
Pnb = Cc + Cs - Ts = 1755675 + 785000 - 785000 = 1755675 N = 1755,675 KN
Pub = Pnb = 1141.18875 KN o

Hitung Momen nominal kondisi balance (Mnb)
ek ek ek
ek ek
a h h h
b
Mnb = Cc - + Cs - d' + Ts d -
2 2 2 2
400 172,1 400 400
Mnb = 1755675 . - + 785000. - 62,5 + 785000 337,5 -
2 2 2 2
Mnb = 415912220 Nmm = 415,91222 KNm
Mub Mnb = 0,6 = o
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
5 x 415,91222 = 270.3429432 KNm
Mnb 415912220
eksentrisitas kondisi balance, eb = = =236,896 mm
Pnb 1755675

Beton Jembatan-192

Koordinat titik B (Mub, Pub) = (270.3429 , 1141.189)


h. Titik C (Mu, Pu), Kondisi Tekan
- Tinggi Garis netral kondisi tekan adalah lebih besar dari garis netral
kondisi balance (C > Cb)
1
Ambil C = 240 mm > Cb = 202,5 mm
a .C 0,85 x 240 = 204 mm = | =

Cek tegangan tulangan tarik, apakah tulangan tarik sudah leleh atau
belum
d - C
Fs = E . s = 200000 x .0, 003
s
C
337,5 - 280
Fs = 200000 x x0, 003 = 244 MPa < Fy tulangan tarik belum leleh
280
sehingga Fs = 244 MPa
c
÷
Hitung Gaya tekan beton (Cc)
Cc = 0,85.fc'.a.b
Cc = 0,85 x 30 x 204 x 400 = 2080800 N

Hitung Gaya tekan tulangan (Cs)
Karena keruntuhan tekan, maka tulangan tekan sudah leleh
Sehingga tegangan tul. tekan, Fs' = Fy = 400 MPa
Cs = As' x Fs' = 1962,5 x 400 = 785000 N

Hitung Gaya tarik tulangan (Ts)
Ts = As x Fs = 1962,5 x 244 = 478359 N

Hitung Gaya aksial nominal kondisi Tekan (Pn)
Pn = Cc + Cs - Ts = 2080800 + 785000 - 478359 = 2387441 N = 2387,441 KN
Pu = Pn = 0,65 x 2387,441 = 1551.836406 KN o

Hitung Momen nominal kondisi Tekan (Mn)
Beton Jembatan-193

h a h h
Mn = Cc - + Cs - d' + Ts d -
2 2 2 2
400 204 400 400
Mn = 2080800 . - + 785000. - 62,5 + 478359 . 337,5 -
2 2 2 2
Mn = 377630314 Nmm = 377,630314 KNm
Mu Mn = 0,65 x 377,630314 = o
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
= 245.4597041 KNm
Mn 377630314
eksentrisitas kondisi tekan, e = = = 158.1736987 mm
Pn 2387441


Koordinat titik C (Mu, Pu) = (245.4597 , 1551.84)

i. Titik D (Mu, Pu), Kondisi Tarik
- Tinggi Garis netral kondisi tarik adalah lebih kecil dari garis netral
kondisi balance (C < Cb)
1
Ambil C = 160 mm < Cb = 202,5 mm
a .C 0,85 x 160 = 136 mm = | =

Cek tegangan tulangan tekan, apakah tulangan tekan sudah leleh atau
belum
C - d'
Fs' = E . s ' = 200000 x .0, 003
s
C
160 - 62,5
Fs' = 200000 x x0, 003 = 366 MPa < Fy tulangan tekan belum leleh
160
sehingga Fs' = 366 MPa
c
÷

Hitung Gaya tekan beton (Cc)
Cc = 0,85.fc'.a.b
Cc = 0,85 x 30 x 136 x 400 = 1387200 N

Hitung Gaya tekan tulangan (Cs)
Cs = As' x Fs' = 1962,5 x 366 = 717539 N

Hitung Gaya tarik tulangan (Ts)
Ts = As x Fy = 1962,5 x 400 = 785000 N
Hitung Gaya aksial nominal kondisi Tarik (Pn)
Beton Jembatan-194

Pn = Cc + Cs - Ts = 1387200 + 717539 - 785000 = 1319739 N = 1319.739 KN
Pu = Pn = 0,65 x 1319.739 = 857.8303906 KN o

Hitung Momen nominal kondisi Tarik (Mn)
h a h h
Mn = Cc - + Cs - d' + Ts d -
2 2 2 2
400 136 400 400
Mn = 1387200 . - + 717539 . - 62,5 + 785000 . 337.5 -
2 2 2 2
Mn = 389709521 Nmm = 389.709521 KNm
Mu Mn = 0.65 x 389.709521 = o
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
| | | | | |
| | |
\ . \ . \ .
= 253.3111887 KNm
Mn 389709521
eksentrisitas kondisi tarik, e = = = 295.2928591 mm
Pn 1319739


Koordinat titik D (Mu, Pu) = (253.311 , 857.83)


j. Titik E (Mu, 0), Kondisi Lentur Murni
- Analisis dilakukan dengan asumsi As’=0 (perilaku kolom seperti balok
bertulangan tunggal)
1
As.Fy 1962.5 x 400
a = 77 mm
0.85 x f'c x b 0.85 x 30 x 400
a 77
C = = 90.59 mm
0.85
= =
=
|

Hitung Momen nominal kondisi Lentur murni (Mn)
a
Mn = As. Fy. d -
2
77
Mn = 1962.5 x 400 337.5 -
2
Mn = 234730392 Nmm = 234.730392 KNm
Mu Mn = 0.80 x 234.730392 = 187.7843137 KNm
| |
|
\ .
| |
|
\ .
= o


Koordinat titik E (Mu, 0) = (187.784 , 0)
Gambarkan diagram interaksi dari kolom ukuran 400 x 400 tulangan 8D25
Beton Jembatan-195

Plotkan nilai (Mu, Pu) dari beban yang bekerja ke dalam diagram interaksi
(Mu = 250 KNm dan Pu = 1000 KN). Jika Mu,Pu masuk ke dalam
daerah diagram, berarti kolom yang didesain kuat memikul beban yang
bekerja.


Dari diagram di atas terlihat (Mu,Pu) berada di dalam diagram interaksi
sehingga kolom kuat memikul beban yang bekerja. Jadi untuk memikul
beban Mu = 250 KNm dan Pu = 1000 KN dapat digunakan kolom ukuran
400 x 400 dengan jumlah tulangan total 8D25.

5. Desain jarak sengkang kolom
Syarat : jarak sengkang diambil nilai terkecil dari :
e. 48 x diameter sengkang = 48 x 10 = 480 mm
f. 15 x diameter tulangan memanjang = 15 x 25 = 375 mm
g. 300 mm
h. Dimensi lateral terkecil dari kolom, b atau h = 400 mm
Digunakan jarak sengakng 300 mm
6. Gambar Penulangan Kolom


0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
0 50 100 150 200 250 300
kolom 1
mu,pu
40
400
400
Ø10 - 300
4 D 25
4 D 25
Beton Jembatan-196











7.5. Kolom Langsing/Kolom Panjang
Kolom langsing merupakan kolom dengan angka kelangsingan melebihi
kolom pendek, sehingga kegagalan pada kolom langsing adalah kolom tertekuk
sebelum mencapai keadaan batas kegagalan materialnya. Pengaruh kelangsingan
pada kolom dapat diabaikan bila :
- Kolom tidak bergoyang (kolom dengan pengaku lateral)
1
2
M
k.lu
34 12
M
r
| |
s ÷
|
\ .

- Kolom bergoyang (kolom tanpa pengaku lateral)
k.lu
22
r
s
- Bila
k.lu
100
r
> maka harus digunakan analisis orde dua yang
memperhitungkan efek defleksi.
Keterangan :
a. Nilai k merupakan faktor panjang kolom. Besarnya nilai k dapat dihitung
dengan menggunakan diagram seperti pada Gambar 7.10 dan Gambar 7.11.
Beton Jembatan-197


Gambar 7.10. Faktor Panjang Efektif (k) Untuk Kolom Tidak
Bergoyang

Gambar 7.11. Faktor Panjang Efektif (k) Untuk Kolom Bergoyang
Beton Jembatan-198

b. Panjang bebas kolom (lu), tergantung dari jenis tumpuan ujung kolom. Untuk
kolom tidak bergoyang dan kolom bergoyang, panjang efektif dapat dilihat
pada Gambar 7.12, 7.13 dan 7.14.









Gambar 7.12. Panjang Bebas (Lu) Untuk Kolom Tidak Bergoyang

Gambar 7.13. Panjang Bebas (Lu) Untuk Kolom Bergoyang








Gambar 7.14. Panjang Bebas struktur tertekan
Beton Jembatan-199

c. Jari-jari girasi kolom ( r ), biasanya diambil 0,30 dimensi pada arah yang
dianalisa untuk penampang persegi dan 0,25 kali untuk penampang bundar
(Gambar 7.15)



Gambar 7.15. Jari-jari Girasi Kolom
d. M1 dan M2 merupakan momen ujung-ujung kolom. Dimana M2 > M1

7.5.1. Pembesaran Momen
Pembesaran Momen akibat adanya efek kelangsingan. Momen pembesaran
momen dihitung berdasarkan kondisi kolom bergoyang atau tidak bergoyang.
Kolom dianggap tidak bergoyang jika memenuhi syarat :
o
u c
Pu.
Q
V .L
A ¯
= , dimana :
Q = indeks stabilitas tingkat
ΣPu = jumlah beban vertikal terfaktor pada tingkat yang ditinjau
Vu = gaya geser total pada tingkat yang ditinjau
Δο = simpangan relatif antar tingkat orde-pertama akibat Vu.
Lc = Panjang kolom diukur dari as ke as
Untuk portal bergoyang, maka kolom harus diperhitungkan memikul
beban aksial terfaktor Pu dan momen terfaktor yang diperbesar karena efek
kelangsingan, yaitu
ns 2
Mc .M =o , dimana besarnya momen M2 tidak boleh lebih
kecil dari M
2Min
dimana M
2min
dirumuskan seperti rumus . Nilai faktor
pembesaran momen untuk portal tidak bergoyang adalah
m
ns
C
1,0
Pu
1
0,75.Pc
o = >
÷
,
dimana, Besarnya nilai Cm tergantung daripada momen tiap kolom, hal ini
dikarenakan bentuknya momen daripada kolom dapat berupa single curvature dan
double curvature (kelengkungan tunggal dan kelengkungan ganda. Dimana nilai
Beton Jembatan-200

M1 merupakan momen yang terbesar daripada M2 dan M1. besarnya nilai Cm
dapat dicari dengan rumus:
1
m
2
M
C 0,6 0,4
M
| |
= +
|
\ .
Dengan
1
2
M
M
| |
|
\ .

bernilai positif bila kolom melentur dengan kelengkungan tunggal. Untuk
komponen struktur dengan beban transversal di antara tumpuannya, Cm harus
diambil sama dengan 1,0.
Beban tekuk pada kolom dihitung dengan rumus
( )
2
2
u
EI
Pc
k.L
t
= , dimana EI
merupakan nilai kekakuan balok yang dihitung dengan rumus
( )
c g s se
d
0,2.E .I E .I
EI
1
+
=
+|
atau dapat digunakan rumus yang lebih konservatif, yaitu
c g
d
0,4.E .I
EI
1
=
+|
, Ec = modulus elastisitas beton =
c
E 4700. fc' = , Ig = Momen
inersia kolom,
d
Beban tetap terfaktor maksimum
Beban total terfaktor pada kombinasi pembebanan sama
| =
Untuk Portal bergoyang, momen M1 dan M2 pada ujung-ujung kolom harus
diambil sebesar
1 1ns s 1s
2 2ns s 2s
M M .M
M M .M
= +o
= +o
dengan
s 1s s 2s
.M dan .M o o dapat dicari dengan
dua cara yaitu dengan menggunakan stabilitas index atau dengan menggunakan
metode pendekatan momen biasa. Nilai
s s
.M o dapat dihitung dengan rumus
s
s s s
M
.M = M
1-Q
o > . Apabila nilai δs yang dihitung dengan cara ini lebih besar dari
1,5, maka δs Ms harus dihitung dengan menggunakan analisis elastis orde-dua
atau δs Ms boleh dihitung sebagai berikut (RSNI-T-12-2004 ps. 5.7.6.2) :
s
s s s
M
M M
Pu
1
0,75.Pc
o = >
÷
, dimana :
ΣPu = jumlah seluruh beban vertikal terfaktor yang bekerja pada suatu tingkat
lantai kendaraan.
ΣPc = jumlah seluruh kapasitas tekan kolom-kolom bergoyang pada satu tingkat
Beton Jembatan-201

lantai kendaraan.

RANGKUMAN
- Kolom merupakan batang tekan vertikal dari rangka/frame struktural yang
memikul beban dari balok. Keruntuhan dari batang tekan biasanya bersifat
getas (brittle) dan tiba-tiba.
- Berdasarkan bentuknya, kolom terdiri dari kolom bersengkang/kolom
persegi, kolom bulat/spiral dan kolom komposit. Berdasarkan
eksentrisitasnya, kolom terdiri dari kolom dengan beban konsentris dan
kolom dengan beban eksentris.
- Kegagalan kolom dapat terjadi karena kegagalan materialnya atau
kegagalan karena kehilangan stabilitas akibat adanya efek kelangsingannya.
- Pada kolom langsing, gaya yang diperhitungkan terdiri dari gaya aksial
terfaktor dan momen terfaktor yang diperbesar.


Tugas :
Kolom seperti tergambar memikul beban-beban sebagai berikut :
 P akibat beban mati berat sendiri kolom
 P akibat beban mati tambahan, PSD
L
= 200 KN
 P akibat beban kendaraan, PT
D
= 100 KN
 M akibat beban mati, MD
L
= 37 KNm
 M akibat beban mati tambahan, MSD
L
= 50 KNm
 M akibat beban kendaraan, MT
D
= 100 KNm
Bila digunakan fc’ = 35 Mpa , dan Fy = 400 Mpa, Rencanakan dimensi dan
penulangan kolom agar kuat memikul beban-beban yang bekerja.










Mu
Pu
4,5 M
Beton Jembatan-202

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->