Anda di halaman 1dari 7

PAPER

STUDI KASUS GUNUNG GALUNGGUNG

Disusun Oleh:

Adam Raka Ekasara 21100112130038

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO


SEMARANG AGUSTUS 2012

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Gunung Galunggung adalah gunung berapi yang ada di wilayah Tasikmalaya. Galunggung adalah gunungapi aktif strato tipe-A yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Jawa Barat dengan koordinat geografis sekitar 7 15 LS dan 10803 BT. Galunggung mempunyai ketinggian 2168 m di atas muka laut dan 1820 m diatas dataran Tasikmalaya. Selain sebagai objek geologi wilayah Tasikmalaya, potensi Galunggung sebagai objek geowisata menjadikan Gunung Galunggung cukup menarik untuk diteliti struktur dan perkembangannya. Makalah ini akan membahas mengenai struktur dan perkembangan Gunung Galunggung. 2. Rumusan Masalah Melalui latar belakang tersebut maka rumusan masalah dari makalah ini adalah: 1) 2) 3) Bagaimana kondisi fisik dari Gunung Galunggung? Bagaimana catatan sejarah aktivitas letusan Gunung Galunggung? Bagaimana pemantauan aktivitas vulkanis Gunung Galunggung?

3. Tujuan Makalah Melalui rumusan masalah di atas, tujuan makalah yang diharapkan adalah: 1) Mengetahui kondisi fisik dari Gunung Galunggung. 2) Mengetahui catatan sejarah aktivitas letusan Gunung Galunggung. 3) Mengetahui bagaimana pemantauan aktivitas vulkanis Gunung Galunggung.

4. Kegunaan Makalah Kegunaan makalah ini adalah sebagai informasi bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya khususnya dan masyarakat umumnya dalam menjaga aset Gunung Galunggung.

BAB II PEMBAHASAN
A. Kondisi Fisik Gunung Galunggung Galunggung adalah gunungapi aktif strato tipe-A yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Jawa Barat (lihat Gambar 2) dengan koordinat geografis sekitar 7 15 LS dan 10803 BT. Galunggung mempunyai ketinggian 2168 m di atas muka laut dan 1820 m diatas dataran Tasikmalaya. Berdasarkan catatan dari DVMBG, gunung Galunggung menempati daerah seluas 275 km2 dengan diameter 27 km (barat laut-tenggara) dan 13 km (timur laut-barat daya). Di bagian barat berbatasan dengan G. Karasak, dibagian utara dengan G. Talagabodas, di bagian timur dengan G. Sawal dan di bagian selatan berbatasan dengan batuan tersier Pegunungan Selatan. Secara umum, G. Galunggung dibagi dalam tiga satuan morfologi, yaitu: Kerucut Gunung Api, Kaldera, dan Perbukitan Sepuluh Ribu Kerucut gunung api, menempati bagian barat dan selatan, dengan ketinggian 2168 m diatas permukaan laut, dan mempunyai sebuah kawah tidak aktif bernama Kawah Guntur yang berbentuk melingkar berdiameter 500 meter dengan kedalaman 100 150 meter. Kerucut ini merupakan kerucut gunungapi Galunggung tua sebelum terbentuknya Kaldera, mempunyai kemiringan lereng hingga 30 di daerah puncak dan menurun hingga 5 di bagian kaki. Kaldera Galunggung berbentuk sepatu kuda yang terbuka ke arah tenggara dengan panjang sekitar 9 km dan lebar antara 2-7 km. Dinding Kaldera mempunyai ketinggian maksimum sekitar 1000 meter di bagian barat-barat laut dan menurun hingga 10 m di bagian timur-tenggara. Di dalam kaldera terdapat kawah aktif berbentuk melingkar dengan diameter 1000 meter dan kedalaman 150 meter. Di dalam kawah ini terdapat kerucut silinder dengan ketinggian 30 meter dari dasar kawah dan kaki kerucut berukuran 250 x 165 meter yang terbentuk selama periode letusan 1982-1983.

Pada Desember 1986, kerucut silinder ini tertutup oleh air danau kawah; dan pada 1997, setelah volume air danau kawah dikurangi melalui terowongan pengendali air danau, kerucut silinder ini muncul kembali di permukaan air danau. Perbukitan Sepuluh Ribu atau disebut juga perbukitan Hillock, terletak di lereng kaki bagian timur-tenggara dan berhadapan langsung dengan bukaan kaldera. Perbukitan ini menempati dataran Tasikmalaya dengan luas sekitar 170 km2, dengan jarak sebaran terjauh 23 km dari kawah pusat dan terdekat 6,5 km. Lebar sebaran nya sekitar 8 km dengan sebaran terpusat pada jarak 10 15 km. Jumlah bukit nya sekitar 3.600 buah dengan tinggi bukit bervariasi antara 5 sampai 50 meter di atas dataran Tasikmalaya dengan diameter kaki bukit antara 50 300 meter serta kemiringan lereng antara 15o 45o. Perbukitan ini terbentuk sebagai akibat dari letusan besar yang menghasilkan kaldera tapal kuda dan melongsorkan kerucut bagian timur-tenggara, yang terjadi sekitar 4200 tahun yang lalu. B. Catatan sejarah aktivitas letusan gunung Galunggung Dalam sejarahnya Galunggung telah meletus empat (4) kali, yaitu pada 1822, 1894, 1918 dan 1982-83 dengan periode letusannya bervariasi dari beberapa jam hingga beberapa bulan [DVMBG, 2003]. Letusan 1822 terjadi dalam satu hari, pada tanggal 8 Oktober 1822, antara jam 13.00 hingga 17.00 WIB; sedangkan letusan 1894 terjadi selama 13 hari, pada tanggal 7-19 Oktober 1894. Letusan 1918 terjadi selama 4 hari, pada tanggal 16 - 19 Juli 1918, dan letusan 1982-83, terjadi selama 9 bulan, dari tanggal 5 April 1982 - 8 Januari 1983. Karakter letusan. Galunggung umumnya berupa erupsi leleran sampai dengan letusan yang sangat dahsyat yang berlangsung secara singkat atau lama, atau dari letusan yang bertipe Strombolian hingga Pellean. C. Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Galunggung Mengingat potensi bahaya letusannya, aktivitas gunung Galunggung dipantau secara kontinyu (24 jam) di Pos Pengamatan Gunungapi Galunggung, di

kampung Sayuran. Pemantauan dilakukan dengan peralatan seismometer serta secara visual. Pengamatan kegempaan dengan seismometer ini dimulai Sejak awal April 1982 sampai Semarang. Disamping itu, dilakukan pula secara berkala penelitian lapangan di daerah puncak, berupa pengukuran temperatur air danau kawah dan solfatara/fumarola serta pengamatan perkembangan pertumbuhan kerucut sinder. Pemantauan kemagnetan juga pernah dilakukan selama periode September 1982 - Maret 1983. Disamping itu pada periode letusan 1982-83, juga dilakukan pemantauan deformasi dengan dengan metoda ungkitan (dry tilt) dan pengukuran jarak secara elektronis menggunakan EDM (Electronic Distance Measurement).

BAB III DAFTAR PUSTAKA


http://smamuhammadiyah1tasikmalayageografi.blogspot.com/2012/02/geologigunung-galunggung-tasikmalaya.html (diakses pada Sabtu, 22 September 2012 pukul 22:40)