Anda di halaman 1dari 17

BAB II ANALISIS BIOKIMIA DARAH

I. Tujuan
a. Pembuatan filtrate darah bebas protein (Folin-Wu) : Untuk membuat filtrat darah bebas protein dengan metoda Folin-Wu b. Pengukuran kadar gula darah (kuantitatif) : Untuk mengetahui kadar gula darah dengan metoda Folin-Wu c. Penetapan kadar kreatinin darah (jaffe) : Menghitung kadar kreatinin darah/plasma

II.

DasarTeori:
Darah merupakan sample biologis yang biasa digunakan untuk menentukan kadar

atau uji adanya kandungan senyawa tertentu, karena didalamnya ada berbagai komponen selular seperti sel darah merah, sel darah putih, platelet dan berbagai protein dan berperan pada proses distribusi dan metabolisme. Protein dalam darah biasanya akan dihilangkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu pembacaan pada proses analisa. Protein dapat dihilangkan, salah satunya dengan zat pengendap protein seperti asam tungstat, ammonium klorida, asam trikloroasetat, asam perkolat, methanol dan asetonitril yang setelah diendapkan dipisahkandengancaramenyaring. Sampeldarahyang telahbebas protein bisa digunakan untuk menentukan kadar urea, asam urat, glukosa, kreatinin asam amino, klorida dan non Protein Nitrogen. Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi kearah kanan. Di alam, glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa darah akan kembali pada keadaan semula. Pada orang yang menderita diabetes mellitus atau kencing manis, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah (Poedjiadi, 1994).

Analisa Biokimia Darah 1

Glukosa diuraikan dalam sel untuk menghasilkan tenaga. Gula darah meningkat setelah kita makan atau minum sesuatu yang bukan air putih biasa. Kadar glukosa yang tinggi, yang disebut hiperglisemia, merupakan tanda penyakit diabetes mellitus. Gula darah yang tinggi lambat laun dapat merusak mata, saraf, ginjal atau jantung. Kadar yang tinggi ini dapat disebabkan oleh efek samping protease inhibitor (PI). Gula darah yang rendah, yang disebut hipoglisemia, dapat menyebabkan kelelahan. Hal ini hanya salah satu penyebab kelelahan. Pada orang sehat, gula darah dikendalikan oleh insulin. Insulin adalah hormon yang dibuat oleh pankreas. Insulin membantu glukosa dari darah masuk ke sel untuk menghasilkan tenaga. Gula darah yang tinggi dapat berarti bahwa pancreas kita tidak membuat cukup insulin. Atau, jumlah insulinnya cukup namun tubuhnya tidak bereaksi secara normal. Ini disebut resistansi insulin. Apa pun alasannya, sel-sel tidak memperoleh glukosa secukupnya untuk dijadikan tenaga, dan glukosa menumpuk dalam darah. Beberapa orang yang memakai PI mengalami resistansi insulin dan kadar gula darahnyadapat meningkat tajam. Keadaan ini kadang kala diobati dengan obat yang biasa dipakai untuk diabetes. Belum ada tes darah yang sederhana untuk resistansi insulin (Spiritia, 2004). Tes kadar glukosa darah sangat penting, karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kadar gula darah dapat menunjukkan indikasi seseorang terkena penyakit diabetes mellitus. Dengan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala pada orang-orang yang beresikoter kena diabetes seperti orang-orang yang mengalami obesitas, pencegahan dini dapat dilakukan dan implikasi diabetes yang lebih parah dapat dihindari. Kreatinin dibentuk dalam otot dan diekskresi melalui ginjal. Kreatinin dibentuk dari cadangan ikatan fosfat berenergi tinggi dalam otot, kreatinin fosfat (fosfokreatinin). Jumlah kreatinin yang diekskresi sehari-hari menggambarkan fungsi massa otot dan tidak dipengaruhi oleh makanan, umur, sex dan latihan. Jumlah kreatinin tubuh 2% dari cadangan keratin fosfat dan secara kasar dalam satu hari diekskresi sebesar 1-2 g. Karena massa otot wanita lebih sedikit dari laki-laki, ekskresi kreatinin pada wanita juga lebih kecil disbanding laki-laki. Kreatinin dalam filtrat glomeruli ginjal tidak diabsorsi kembali dalam tubulus. Maka tiap keadaan yang mengakibatkan penurunan fungsi glomerulus juga akan menurunkan ekskresi kreatinin dan kadar kreatiniin dalam darah akan meningkat. Karena produksi kreatinin relative tetap dan tidak dipengaruhi oleh katabolisme protein atau faktor eksternal lain, maka kadar kreatinin darah akan menggambarkan fungsi glomerulus ginjal Kadar kreatinin dalam plasma atau serum dalam keadaan normal adalah sebesar 0,7-1,6 mg/dL.
Analisa Biokimia Darah 2

Kadar kreatinin dalam darah akan menningkat bila terjadi penurunan kecepatan filtrasi glomerulus atau bila ada obstruksi pengeluaran urin. Penningkatan kadar kreatinin darah baru dapat diproduksi bila fungsi ginjal berkurang 50%. Kadar kreatinin darah merupakan indikator yang baik untuk menggambarkan fungsi ginjal. (Eksperimen Laboratorium Biokimia FKUI, 2001) Oleh karena itu, uji kadar kreatinin dalam darah sangat penting untuk pasien yang mengalami indikasi disfungsi ginjal. Penentuan kadar dari senyawa yang ingin diuji biasa dilakukan dengan metode spektrofotometri. Spektrometer absorbs adalah sebuah instrument untuk mengukur absorbsi/penyerapan cahaya dengan energi (panjang gelombang) tertentu oleh suatu atom/molekul. Spektrofotometer dikembangkan beberapa puluh tahun lalu untuk keperluan para fisikawan dan kimiawan dalam mempelajari struktur molekul dan mengembangkan dengan teori molekul. Kini, spektrofotometer juga banyak digunakan untuk berbagai seperti studi bahan, lingkungan atau pun untuk mengontrol suatu proses kimiawi dalam industri. Setiap laboratorium Biologi pasti memiliki spektrofotometer sebagai salah satu tools modernnya (Sentrabd, 2007).

III. Alat, Bahan dan Prosedur kerja


A. Pembuatan Filtrat darah bebas protein Bahan : 1. Aquadest 7ml 2. Darah 3ml 3. Na tungstat 10% 3ml 4. H2SO4 2/3 N 3 ml Alat : 1. Corong Buchner 2. Erlenmeyer 3. Beaker glass 4. Pipet gondok 5. Gelas ukur 6. Tabung reaksi
Analisa Biokimia Darah 3

Cara kerja : 1. Siapkan alat dan bahan 2. Campurkan aquadest 7 ml, darah 3 ml, Na tungtat 3 ml dan H2SO4 2/3 N 3 ml 3. Kemudian didiamkan selama 5 menit 4. Setelah 5 menit campuran tadi disaring dan diambil filtratnya 5. Filtrat yang telah tersaring kemudian diuji dengan pereaksi biuret

B. Pengukuran kadar gula darah Bahan: 1. Filtrat darah Folin-Wu 2. Larutan tembaga alkalis (mengandung natrium karbonat, tembaga alkalis, dan asam tartrat) 3. Pereaksi asam fosfomolibdat (mengandung asam molibdat dan natrium tungsat) 4. Larutan standar glukosa (0,1 mg/ml) Alat : 1. Tabung reaksi 4 buah 2. Pipet gondok 3. Gelas ukur 4. Beaker glass 5. Penangas air 6. Spektrofotometri Cara kerja : 1. Siapkan alat dan bahan 2. Campurkan Tabung 1 dengan : filtrate Folin Wu 2 ml + tembaga alkalis 2 ml Tabung 2 dengan : filtrate Folin Wu 2 ml + tembaga alkalis 2 ml Tabung 3 dengan : standar glukosa 0,1 mg/ml 2 ml + tembaga alkalis 2 ml Tabung 4 dengan : aquadest 2 ml + tembaga alkalis 2 ml
Analisa Biokimia Darah 4

3. Ke-4 tabung tersebut dipanaskan dalam air 100o C selama 8 menit kemudian didinginkan selama 3 menit 4. Kemudian ke-4 tabung tersebut diencerkan sampai 25 ml 5. Kemudian baca absorbansinya pada = 420 nm

C. Penetapan kadar kreatinin darah (jaffe) Bahan : 1. Darah bebas protein 2. Larutan asam pikrat jenuh 3. LarutanNaOH 10% 4. Lautan standar kreatinin mengandung 0,006 mg/ml 5. Larutan pikrat alkalis Alat : 1. Tabung reaksi 3 buah 2. Pipet gondok 3. Gelas ukur 4. Beaker glass 5. Spektrofotometri Cara kerja : 1. Siapkan alat dan bahan 2. Campurkan Tabung 1 (blanko ) dengan : aquadest 2 ml + larutanpikrat alkalis 2 ml + NaOH 10% 0,5 ml Tabung 2 (standar 1) dengan : standar kreatinin 2 ml + larutan pikrat alkalis 2 ml + NaOH 10% 0,5 ml Tabung 3 (uji 1) dengan filtrate folin-wu2 ml + larutan pikrat alkalis 2 ml + NaOH 10% 0,5 ml 3. Tabung yang berisi kreatinin diencerkan sampai volume 100 ml 4. Diamkan selama 15 menit warna yang terbentuk akan stabil dalam waktu 30 menit 5. Baca absorbansi dalam batas waktu 30 menit pada = 520 nm

Analisa Biokimia Darah 5

IV. Hasil Pengamatan


Gambar Saat Pembuatan Filtrate Darah Bebas Protein 3ml Darah ditambah 21 ml aquades (campuran 1)

Campuran 1 ditambah 3 ml H2SO4 2/3 N (campuran 2)

Campuran 2 ditambah 3 ml Na-tungstat 10%

Saat didiamkan selama 5 menit

Analisa Biokimia Darah 6

Campuran disaring

Filtrate hasil penyaringan

Kadar glukosa darah 1. = 0,202 2. = 0,259 3. = 0,059 RS 4. = 0,400 RB Rata-rata absorban unknown didapatkan = 0,202 +0,295 =0,461 /2 = 0,2305 RU Blanko = 420 nm

A = 0,400 Standar = 420 nm

A = 0,059 Uji = 420 nm

A = 0,230

Kesimpulan yang didapat : RB = 0,400 RS =0,059 RU =0,2305 Analisa Biokimia Darah 7

Kadar glukosa dalam darah ( mg/dl) =

= 49,706 mg/dl
Data kelas B Absorban unknown Tabung 1 Absorban unknown Tabung 2 Absorban standart glukosa Tabung 3 Absorban blanko Tabung 4

1,387 nm

1,484 nm

0,113 nm

0,141 nm

Rata rata absorban unknown (Ru) yang didapatkan:

nm Perhitungan kadar gula darah sengan filtrate Folin Wu ( )

( ( Keterangan :

) )

Analisa Biokimia Darah 8

Ru : absorban unknown Rs : absorban standar glukosa Rb : absorban blanko Gambar Saat Pengukuran Kadar Glukosa Bahan yg digunakan untuk pengukuran kadar

Sampel folin wu

Saat ditambahkan Tembaga alkalis 2 mL ke dalam masing-masing tabung (Gambar dari kiri : sample,sample,glukosa,aquades)

Foto Saat ditambahkan Tembaga alkalis 2


mL ke dalam masing-masing tabung (Gambar dari kiri : sample,sample,glukosa,aquades)

sebelum dipanaskan

Campuran saat dipanaskan (1&2 : filtrate, 3:standar, 4: blanko)

Analisa Biokimia Darah 9

Terjadi perubahan warna pada no 1 dan 2 yaitu tabung berisi filtrat folin wu Perubahan yang terjadi, dari biru menjadi hijau Sedangkan no 3 dan 4 : warna tetap Saat ditambahkan asam fosfomolibdat sebanyak 2 mL ke dalam masing-masing tabung

Kadar kreatinin darah/ plasma : Blanko = 520 nm A = 0,050 Standar = 520 nm A = 0,248 Uji = 520 nm

A = 0,132

Kesimpulan yand didapat : AS =0,248 AB = 0,050 AU = 0,132 Kadar kreatinin darah/ plasma

X mg/Dl

X mg/Dl

X0,03X0,6X100

= 0,745 mg/ml
Analisa Biokimia Darah 10

Gambar Saat Pengukuran Kadar Kreatinin Darah/Plasma


Foto 3 tabung reaksi, yang akan diisi Blanko : Aquadest (2ml) Standar 1 : Kreatinin (2ml) Uji 1 : Filtrat Folin-Wu (2ml)

Masing-masing tabung reaksi ditambahkan Larutan pikrat alkalis sebanyak 2ml.

Gambar ketiga tabung telah diberikan larutan pikrat alkalis

Masing-masing tabung reaksi ditambahkan NaOH 10%

Tabung reaksi blanko dan standar 1 telah diberikan NaOH 10%

Analisa Biokimia Darah 11

Tabung Uji 1 telah diberikan NaOH 10%. Campur dengan baik pada tiap tabung, diamkan selama 15 menit.

Saat dilakukan pengenceran 100x untuk standar 1, karena >3,8...nm

Saat dimasukkan ke spektrofotometer dengan 520nm

V. Pembahasan
A. Pembuatan Filtrat Darah Bebas Protein (Folin Wu) Percobaan analisis biokimia darah terdiri atas 3 percobaan yaitu, pembuatan filtrat darah bebas protein, penetapan gula darah, dan kreatinin dengan metode follin-wu. Metode folin-Wu adalah salah satu metode uji analisa kuantitatif glukosa dalam darah dan kreatinin darah yang paling banyak digunakan. Pada percobaan pertama dilakukan pembuatan filtrat darah bebas protein menggunakan aquades, Na-tungstat 10%, H2SO4. Penambahan aquadest pada percobaan ini bertujuan untuk mengencerkan darah agar darah tidak menggumpal. Sementara penambahan Na-tungstat bertujuan mengendapkan protein yang terlarut dalam air, dan H2SO4 berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi
Analisa Biokimia Darah 12

pengendapan protein oleh Na-tungstat. Hasil filtrat kemudian di uji dengan larutan CuSO4 0,1 N dan NaOH 10%, uji ini untuk mengetahui apakah filtrat yang dihasilkan masih terdapat protein atau tidak. Namun filtrat yang diperoleh tidak berwarna bening. Filtrat tersebut kemudian di uji dengan larutan CuSO4 0,1 N dan NaOH 10%, dan hasilnya adalah negative. Filtrat yang dihasilkan bebas dari protein dan dapat digunakan untuk penetapan gula darah dan kreatinin. Pembebasan protein ini dilakukan dengan tujuan, agar protein tidak mengganggu penetapan kadar gula darah dan kreatinin.

B. Pengujian Kadar Gula Darah Metode yang digunakan untuk perhitungan kadar glukosa darah bergantung pada kemampuan glukosa untuk mereduksi larutan tembaga alkali. Pereaksi mengandung asam fosfomolibdat yang dapat membentuk kompleks berwarna biru akibat adanya kombinasi tembaga tereduksi. Namun metode ini memiliki kerugian, yaitu warna berangsur-angsur memudar dibandingkan dengan larutan standar glukosa dengan perlakuan yang sama. Spektrofotometri adalah salah satu cara yang dapat digunakan dalam penentuan kadar glukosa dalam darah. Gula darah merupakan istilah yang mengacu pada tingkat glukosa dalam darah. Konsentrasi dalam darah atau tingkat glukosa serum diatur dengan ketat dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber energy utama untuk selsel tubuh. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap yaitu 100 mg tiap 100 ml darah. Kadar gula darah sepnajng hari bervariasi dimana akan meningat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah puasa 70-100 mg/dL. Kadar gula darah 2 jam setelah makan atau minum <120-140mg/dL.

Kadar glukosa darah (gula darah) Glukosa darah puasa Glukosa darah normal : 70 120 mg/dl : 80 120 mg/dl

Nilai normal untuk kadar glukosa : <200 mg/dl darah sewaktu/acak

Pada praktikum pengukuran kadar gula darah digunakan beberapa pelarut dan pereaksi. Larutan tersebut adalah tembaga alkalis, fosfomolibdat, larutan glukosa standart dan aquadest. Fungsi penambahan aquadest adalah mengencerkan darah sehingga albumin dalam darah akan larut dalam aquadest. Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan
Analisa Biokimia Darah 13

metode Folin Wu adalah, ion kupri direduksi oleh gula dalam darah menjadi kupro dan mengendap sebagai koprooksida (Cu2O). penambahan pereaksi fosfomolibdat berfungsi untuk melarutkan Cu2O dan warna larutan menjadi biru tua, Karena ada oksida molibdat. Dengan demikian, banyaknya Cu2O yang terbentuk sebanding dengan banyaknya glukosa dalam darah. Filtrate yang berwarna biru tua yang terbentuk sebagai akibat melarutnya Cu2O karena oksida molibdat dapat diukur kadar glukosanya dengan menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 420nm. Pada percobaan ini, kami membandingkan antara hasil percobaan kelas A dan kelas B. Dari hasil percobaan kelas A diperoleh hasil absorbansi larutan uji 1 sebesar 0,202, larutan uji 2 sebesar 0,259, standar glukosa sebesar 0,059 dan blanko sebesar 0,400. Kemudian data absorbansi yang diperoleh dimasukkan kedalam rumus dibawah ini : Kadar glukosa dalam darah ( mg/dl) :

= = 49,706 mg/dl Sedangkan data kelas B diperoleh hasil sebagai berikut : Absorban unknown Tabung 1 Absorban unknown Tabung 2 Absorban standart glukosa Tabung 3 Absorban blanko Tabung 4

1,387 nm

1,484 nm

0,113 nm

0,141 nm

( (

) )

Analisa Biokimia Darah 14

Berdasarkan perhitungan diatas, pada data kelas A dapat diperoleh hasil bahwa kadar glukosa dari probandus wanita berada di bawah normal. Karena kadar glukosa darah normal adalah 80 - 120 mg/dl sedangkan hasil yang diperoleh sebesar 49,706 mg/dl. Sedangkan pada data kelas B diperoleh hasil kadar glukosa darah negative. Hal tersebut terjadi karena ada gelembung saat pemeriksaan dengan menggunakan spektrofotometer, sehingga mengganggu hasil pembacaan absorbansi. Faktor-faktor yang berpengaruh pada pengukuran kadar glukosa darah, antara lain : Makanan dan minuman Obat-obatan Alcohol Aktivitas fisik Demam.

C. Pengujian Kadar Kreatinin Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresi oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konsentrasinya relative konstan dalam plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal, mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001). Kreatinin adalah anhidrida dari keratin, dibentuk sebagian besar dalam otot dengan pembuangan air dari keratin fosfat secara tidak reversible dan non enzimatik. Kreatinin bebas terdapat dalam darah dan urin. Pembentukan kreatinin adalah langkah awal yang dibutuhkan untuk ekskresi sebagian besar kreatinin. (Harper H.A, 1999). Factor-faktor yang mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah antara lain : a. Perubahan massa otot. b. Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam setlah makan. c. Aktifitas fisik yang berlebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah. d. Obat-obatan seprti, sefalosporin, aldacton, aspirin, dan kotrimoxazol dapat mengganggu sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin darah. e. Kenaikan sekresi tubulus dan dekstruksi kreatinin internal.

Analisa Biokimia Darah 15

f. Usia dan jenis kelamin, pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada orang muda. Dan pada laki-laki kadar kreatinin lebih tinggi daripada wanita. (Sukandar E, 1997). Pemeriksaan urin dan darah untuk mengetahui kadar kreatinin biasanya menggunakan metode Jaffe Kinetik. Metode ini ditemukan pertama kali oleh Jaffe tahun 1886. Pengujian kadar kreatinin menggunakan larutan pikrat alkalis, yang berperan untuk mengikat kreatin secara tautomer sehingga menciptakan warna merah yang dapat dideteksi pada alat spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 520 nm. Keuntungan dari metode ini ialah murah, cepat, dan jumlah sampel yang digunakan sedikit. Kadar normal kreatinin pada laki- laki adalah 0,6 1,1 mg/dl atau 16 24 mg/kg/hari. Pada perempuan kadar normal kreatininya adlah 0,5 0,9 mg/dl atau 11- 20 mg/kg/hari. Dalam percobaan kali ini, digunakan tiga larutan uji, yaitu filtrate Folin Wu, larutan standart kreatinin (mengandung 0,006 mg/mL) dan aquadest (blanko). Setiap larutan ditambahkan larutan pikrat alkalis 2 ml dan NaOH 10 % 0,5 mL. kemudian dilakukan pembacaan serapan pada panjang gelombang 520 nm. Hasilnya adalah sbb: Larutan uji (filtrate Folin Wu) = 0,132 Blanko = 0,050 Larutan standart yang diencerkan sampai 100 mL = 0,248

Kadar keratin darah atau plasma = = x (5x 0,006) x x (5x 0,006) x


( ( ) )

= 0,745 mg/dl

Dari hasil perhitungan diatas didapatkan bahwa kadar kreatinin dalam darah probandus (wanita) adalah normal karena berada pada rentang 0,6 0,9 mg/dl.

VI. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Metode folin-Wu merupakan salah satu metode uji analisa kuantitatif glukosa dan kreatinin dalam darah yang paling banyak digunakan. 2. Filtrat darah bebas protein dibuat dengan tujuan agar protein tidak mengganggu penetapan kadar gula darah dan kreatinin. 3. Jumlah Cu2O yang terbentuk sebanding dengan banyaknya glukosa dalam darah.

Analisa Biokimia Darah 16

4. Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan metode Folin Wu adalah ion kupri direduksi oleh gulukosa dalam darah menjadi kupro dan mengendap sebagai koprooksida (Cu2O). 5. Penambahan pereaksi fosfomolibdat berfungsi untuk melarutkan Cu2O dan warna larutan menjadi biru tua menunjukkan adanya oksida molibdat. 6. Pada data kelas A diperoleh hasil kadar glukosa dari probandus wanita berada di bawah normal, yaitu 49,706 mg/dl, dan pada kelas B diperoleh kadar glukosa darah negative, dapat dikarenakan adanya gelembung saat pemeriksaan dengan spektrofotometer, sehingga hasil pembacaan absorbansi terganggu. 7. Kadar kreatinin dalam darah probandus (wanita) adalah normal karena berada pada rentang 0,6 0,9 mg/dl, yaitu 0,745 mg/dl

VII. Daftar Pustaka


Murray, Robert K,dkk.2009.Biokimia Harper.Jakarta : EGC. Corwin, Elizabeth J.2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC Poedjadji, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press Ganong W. F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Katzung, Betram G.1997. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi IV. Jakarta : EGC Lu, Frank C.1995.Toksikologi Dasar : Asas, Organ Sasaran dan Penilaian Resiko edisi II. Jakarta : UI Press Marks, Dawn B, dkk.2000.Biokimia Kedokteran Dasar. Jakarta : EGC Sadikin, Muhammad.2002. Biokimia Darah. Jakarta : Widya Medika

Analisa Biokimia Darah 17

Anda mungkin juga menyukai