Anda di halaman 1dari 19

RESUME LECTURE

SISTEM PERKEMIHAN

Oleh :

I PUTU DEWI CITRA ADNYANA A4 D 10.321.0905

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI T.A. 2012/2013

Hari / Tgl : Kamis, 13 September 2012 Fasilitator : Dr . Yenny Kandarini, SpPD KGH, FINASIM PENYAKIT GINJAL DAN SALURAN KEMIH

ISK ( Infeksi Saluran Kemih) Ialah : adanya pertumbuhan bakteri di traktus urinarius yang ditandai dengan bakteriuri bermakna atau lekosuri lebih dari 10/lpb dan manifestasi klinis. Bakteruri bermakna : adanya koloni kuman lebih dari 100 000 CFU (colony forming unit). Bila tidak ada manifestasi klinis disebut : bakteriuri asimtomatik (asymptomatic bacteriuri). Pembagian ISK, yaitu : 1. Atas dasar lokasi a. ISK atas 1) Pielonefritis 2) Pielitis b. ISK bawah 1) Ureteritis 2) Prostatitis 3) Sistitis 4) Urethritis 2. Atas dasar klinis a) ISK sederhana (tidak terkomplikasi) 1) Traktus urinarius normal 2) Fungsi ginjal normal b) ISK terkomplikasi 1) Ada kelainan ginjal lain, mis : obstruksi (batu, tumor), aliran balik (refluks) dan statis aliran urin 2) Ada gangguan fungsi ginjal FAKTOR PREDISPOSISI 1. Obstruksi intra / ekstra traktus urinarius

2. Statis aliran urin (kelumpuhan, neuropati DM) 3. Status imunologis menurun (DM, obat imuno-supresan) 4. Kehamilan (hormon progesteron) 5. Pemakaian kateter berulang / menetap ( di RS ) 6. GGK (glomerulonefritis, ginjal polikistik) PATOGENESIS Perempuan lebih sering dibandingkan pria karena : 1. urethra lebih pendek 2. trauma urethra (hub. seks, partus) 3. kontaminasi dari anus (pembilasan) 4. pengaruh progesteron saat hamil 5. tidak ada cairan prostat yang bersifat bakteriostatik

ETIOLOGI Mikroorganisme penyebab yang sering

1.

Gram -

negatif

klebsiela proteus enterobacter

escherichia

coli pneumoni vulgaris cloacae

2.

Gram

positif

stapylococus

aurius

- streptococus fecalis BATU GINJAL Multifaktorial, menyangkut kepekatan urin, kejenuhan bahan tertentu dalam urin, ada.tidak bahan penghambat. Penyebab:

a. Air kemih yang terlalu pekat : kurang air (kurang minum) banyak endapan (kristal)

b. Kurang aktifitas (gerak) malas olah raga di korsi roda berbaring lama

c. Infeksi ginjal/saluran kemih d. Penyakit lain Diabetes Melitus (kencing manis) Asam urat darah tinggi (hiperurikemi) Mieloma Multipel penyakit tertentu (hiperurisemi, multipel mieloma, hiperoksaluri

e. Bawaan/keturunan

Penatalaksanaan: 1. Konservatip masukan cairan yang cukup (2-3 lt/hari) diet tergantung pada jenis batu hindari imobilisasi lama antibiotik bila ada infeksi analgetik terapi terhadap penyakit dasar (alopuroinol pada hiperurisemi)

2. Pembedahan batu staghron (batu besar pada pielum renalis)

Pencegahan:

obstruksi perdarahan yang masip nyeri berat dan menetap infeksi berat / berulang

1. Cukup minum (2 2,5 liter) / harii atau 8-10 gelas 2. Aktif/berolah raga 3. Diet/pantang makanan tertentu a. Alkohol b. Jeroan 4. waspada terhadap gejala

Hari/Tgl Fasilitator

: Jumat, 14 September 2012 : dr. Wirama, Sp. PD STRIKTUR URITHRAE

Adalah: Obstruksi uretra anterior akibat trauma atau inflamasi spongiofibrosis jaringan parut disekitar korpus spongiosum. Striktur uretra posterior berbeda dari striktur uretra anterior karena mekanisme cedera : disrupsi komplit atau parsial akibat trauma pelvis displacement aksis uretra dan obliterasi uretra akibat fibrosis ANATOMI Urethra laki-laki, terdiri dari:
1. U. anterior

Pars bulbaris Pars pendularis Pars glandularis

2. U. posterior

Pars membranacea Pars prostatika

Urethra perempuan, pada perempuan dewasa panjang sekitar 4 cm dia. 8 mm, terdiri dari: 1. Pars pelvikal 2. Pars membranacae 3. Pars vagina PEMBAGIAN 1. Tipe 1, prostat atau urogenital mengalami dislokasi. 2. Tipe 2, urethra pars membranacea diatas diafragma urogenital mengalami ruptur (total atau parsial). U pars bulbularis biasanya utuh. 3. Tipe 3, urethra pars membranacea (atas atau bawah) mengalami ruptur (total atau parsial) DIAGNOSIS 1. Anamnesis Penderita datang dg keluhan pancaran air kencing yang kecil, menetes atau berhenti sama sekali. Riw. adanya trauma, infeksi sal kencing atau kateterisasi/ op prostat perlu di tanyakan 2. Pemeriksaan fisik Indurasi dari area striktur kadang dpt di raba. 3. Pemeriksaan penunjang Instrumentasi, dpt dilakukan dgn kateterisasi dg Nelaton atau Foley. Radiologi, dapat menggunakan antegrad atau retrogard urethrografi (idealnya dg bipolar uretrosistografi) 4. Laboratorium

Pada urinalisa akan ditemukan adanya lekosit dan bakteri bila infeksi. Dilanjutkan dengan kultur urine, periksa fungsi ginjal . 5. Pemeriksaan urodinamik u/ mengetahui urinary flow rate juga dilakukan. Pada striuktur urethra < normal (< 20 ml/dtk) KOMPLIKASI Pada striktur urethra terjd penyempitan lumen, hingga terjadi dilatasi bagian proksimalnya. Otot vesica urinaria akan berkontraksi melawan aliran refluks, bila proses ini berlangsung lama otot tersebut tidak mampu lagi mengosongkan isinya. Proses selanjutnya akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. TERAPI 1. Dilatasi, tidak menyembuhkan namun mematahkan jar. parut striktur dan melebarkan lumen sementara, saat penyembuhan jar. parut akan terbentuk kembali. 2. Urethrotomi interna, tehnik membuka jar. striktur dg insisi atau ablasi secara transurethral. Terapi dianggap berhasil jika proses epitelisasi terjadi sebelum ada kontraksi luka. 3. Urethrotomi eksterna, insisi kulit disebelah ventral secara longitudinal, jar fibrosis diangkat pasg kateter (sudah jarang digunakan). 4. Eksisi dan anastomose, metode terbaik u/ striktur sederhana (<2cm). Keberhasilan tergantung pembebasan korpus spongio-sum. 5. Urethroplasty dg marsupialisasi PROGNOSIS Dipengaruhi oleh perawatan kateter, terutama u/ mencegah infeksi, pengobatan dan kontrol yg berlanjut. Striktur mudah residif , perlu dilakukan buginasi secara teratur. Follow up seksama selama 1 tahun tanpa kekambuhan dpt dikatakan sebagai penyembuhan.

Hari / Tgl : Senin, 17 September 2012 Fasilitator : I WAYAN JUNIARSANA, SST, M.Fis, Akp PENATALAKSANAAN DIET PADA PENYAKIT GINJAL DAN SALURAN KEMIH

1. Sindroma Nefrotik Tujuan terapi diit: Mengganti kehilangan protein t.u albumin Mengurangi edema & menjaga keseimbangan elektrolit Memonitor hiperkolesterolemia & penumpukan trigliserida Mengontrol Hipertensi Mengatasi anoreksia

Syarat diit: Energi cukup untuk mempertahankan yaitu 35 Kkal/kg BB Ideal perhari Protein 0,8 /Kg BB ditambah protein yang hilang mll urin selama 24 jam Lemak 15 20 % dari total energy. Perbandingan lemak jenuh, lemak jenuh tunggal, lemak jenuh ganda adl. 1 : 1 : 1 Karbohidrat sebagai sisa kebutuhan energi Natrium dibatasi, 1 4 gr sehari tergantung berat/ringannya edema Kolesterol dibatasi < 300 mg dan gula murni Cairan disesuaikan dengan banyaknya cairan yg dikeluarkan mll urin ditambah 500 ml pengganti cairan yang dikeluarkan melalui kulit dan pernafasan Suplementasi vitamin D, vitamin B kompleks, mineral kalsium dan seng Sajikan makanan yang dapat meningkatkan nafsu makan, porsi kecil tapi sering keseimbangan nitrogen positif,

Bila penderita tidak dapat makan adekuat, pertimbangkan pemberian mll Naso Gastric Tube/NGT atau parenteral parsial

Diet Sindroma Nefrotik: Energi : 1750 Kkal, Protein : 50 gr, Lemak : 45 gr, Karbohidrat : 450 gr, Natrium : 2 gr 2. Diet Gagal Ginjal Akut Tujuan terapi diet: Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan fungsi ginjal Menurunkan kadar ureum darah Menjaga keseimbangan elektrolit Memperbaiki dan mempertahankan st. gizi optimal dan mempercepat penyembuhan Syarat diet: Energi cukup untukl mempertahankan katabolisme, 25 35 Kkal/Kg BBI Protein disesuaikan dengan tingkat katabolisme : - Ringan : 0,6 1 gr/kg BB - Sedang : 0,8 1,2 g/Kg BB - Berat : 1 1,5 g/Kg BB Lemak, 20 30 % dari total energi Karbohidrat sisa dari protein dan lemak, apabila tjd hipertrigliserida gula murni dikurangi Natrium dan kalium dibatasi bila anuria Banyak cairan adl. Jumlah cairan urine ditambah banyak cairan yg keluar mll keringat dan pernafasan

Bahan makanan yang harus dibatasi: Sumber Protein : Boleh diberikan dlm jumlah yang ditentukan, dan diberikan berbentuk protein hewani yang Bernilai Biologis Tinggi (HBV)

3. Diit Gagal Ginjal Kronik Tujuan terapi diit:

Mempertahankan st. gizi optimal Mencegah dan menurunkan kadar ureum yg tinggi Mengatur keseimbangan cairan & elektrolit Mencegah atau mengurangi progresivitas gagal ginjal, dengan

memperlambat turunnya laju filtrasi glomerulus Syarat diit: Hampir sama dengan GGA Pemberian protein menurut BB : a. Diet Rendah Protein I : 30 gr ( Px BB 50 kg) b. Diet Rendah protein II : 35 gr (Px, BB : 60 Kg) c. Diet Rendah protein III : 40 gr (Px, BB : 65Kg) 4. Diit Nefrolitiasis Tujuan terpi diit: Membantu memperlambat pembentukan batu atau membantu mencegah pembentukan batu kembali. Macam diet: 1. Diet rendah kalsium tinggi sisa asam Diberikan pd px : batu kalsium (kalsium fosfat, kalsium karbonat, kalsium oksalat). Syarat diet: Banyak cairan 2500 ml/hr Batasi asupan kalsium 1000 mg/hr Asupan natrium dlm batas normal Suplemen kalium menurunkan ekskresi kalsium Rendah oksalat Tinggi serat

Bahan makanan yang dibatasi: Sumber kalsium : susu, keju, serta makanan yg terbuat dr susu, teri dan ikan yg dimakan dengan tulang Sumber Oksalat :

Makanan yg dapat meningkatkan ekskresi oksalat mll ginjal : kentang, ubi, bayam, bit, stroberi, anggur, kacang-kacangan, teh, cokelat 2. Diet rendah purin tinggi sisa basa Diberikan pd px dg batu asam urat dan sistin Syarat diet: Banyak cairan 2500 ml/hr Rendah purin (sumber purin : otak, hati, jantung, ginjal, jeroan, ekstrak daging/kaldu, ikan sardin, kerang, melinjo) Konsumsi makanan tinggi sisa basa ( susu, susu asam, krim, minyak kelapa, kelapa, santan, semua jenis sayuran t.u bayam, bit, semua jenis buah)

Hari / Tgl : Kamis, 20 September 2012 Fasilitator : Dr. Yenny Kandarini, SpPD KGH PENYAKIT GINJAL DAN SALURAN KEMIH

SINDROME NEFROTIK Adalah Kumpulan gejala akibat kelainan fungsi glomerulu. Terdiri dari: 1. Albuminuria 2. Hipo Albuminemi 3. Edema 4. Hiper Kolesterolemia 5. Lipiduria ( Oval Fat Bodies ) ETIOLOGI

PRIMER

: Kelainan primer pada Glomerulus dengan etiologi yang tidak diketahui 75 Terutama pada anak 80 % anak

SEKUNDER : Penyakit lain di luar Glomerulus, kelainan Glomerulus PATOFISIOLOGI 1. Proteinuria a. Gangguan permeabilitas glomerulus terhadap protein meningkat b. Gangguan reabsorbsi protein di tubulus renalis menurun 2. Hipoalbuminemia a. Proteinuria berat b. Sintesis protein menurun c. Katabolisme protein meningkat 3. Hiper Kolesterolemia Sintesis di hepar meningkat

KOMPLIKASI 1. Malnutrisi 2. Infeksi Akibat penurunan kadar globulin Merupakan penyebab kematian Proteinuri yang berat

3. Tromboemboli Pembekuan & penyumbatan pembuluh darah Paru Ekstremitas

4. Penyakit jantung koroner Karena hiperlipidemia

5. Hipertensi Akibat PGK

Akibat aterosklerosis

6. Penyakit ginjal kronik

Hari / Tgl : Jumat, 21 September 2012 Fasilitator : dr. wirama KELAINAN BAWAAN ( SLIDE BAHASA INGGRIS )

Hari / Tgl : Jumat, 21 September 2012 Fasilitator : N GUNAHARIATI, S.Kep., Ns., MM PENGKAJIAN SISTEM PERKEMIHAN

Disfungsi

renal dapat mempengaruhi seluruh sistem tubuh, karena itu diperlukan

pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Namun secara spesifik pemeriksaan fisik harus dilaksanakan pada traktus urinarius Kulit: Perawat harus memeriksa kulit pasien, karena ggn. Sistem perkemihan selalu dihubungkan dengan ketidak seimbangan elektrolit. Pada kulit dikaji turgor kulit dan membran mukosa

Ginjal: a. Inspeksi Dilakukan pada posisi tidur telentang. Yang diamati: Keadaan kulit : warnanya, elastisitasnya (elastisitas menurun pada dehidrasi), adanya bekas garukan (pada penderita gagal ginjal kronik) Besar dan bentuk abdomen; rata, menonjol atau scaphoid.

Simetrisitas: perhatikan adanya benjolan lokal (biasa ditemukan pada penderita hidronephrosis) Pembesaran organ atau tumor.

b. Auskultasi Dilakukan dengan cara meletakkan bagian bell stetoskop diatas arteri renale untuk mendeteksi adanya bruit yaitu bunyi yag dihasilkan dari perputaran aliran darah yang melalui arteri yang sempit. c. Palpasi Dalam melakukan palpasi ginjal, maka posisi pasien diatur supinasi dan perawat yang melakukan palpasi berdiri di sisi kanan pasien Langkah palpasi ginjal: Dalam melakukan palpasi ginjal kanan, letakkan tangan kiri anda di bawah panggul dan elevasikan ginjal ke arah anterior Letakkan tangan kanan anda pada pada dinding perut anterior pada garis midklavikulais dari tepi bawah batas kosta. Tekankan tangan kanan anda secara langsung ke atas sementara pasien menarik napas panjang. Pada orang dewasa yang normal, ginjal tidak teraba tetapi pada orang yang sangat kurus, bagian bawah ginjal kanan dapat dirasakan. Bila ginjal teraba, rasakan mengenai kontur (bentuk), ukuran dan adanya nyeri tekan. Pada umumnya penyakit renal dapat menimbulkan nyeri tekan pada daerah angulus kostovertebralis yang terletak pada tempat iga ke -12 atau iga paling bawah berhubungan dengan tulang vertebra. Untuk melakukan palpasi ginjal kiri, lakukan di seberang tubuh pasien dan letakkan tangan kiri anda di bawah panggul kemudian lakukan tindakan seperti pada palpasi ginjal kanan. Kandung kemih a. Inspeksi Pada inspeksi, perawat dapat melihat adanya pembengkakan atau lekukan konveks pada abdomen bagian bawah.

b. Palpasi Palpasi dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tangan. Perawat dengan perlahan mempalpasi abdomen bagian bawah. Kandung kemih dalam keadaan normal teraba lunak dan bundar. Kandung kemih dapat teraba terutama bila mengalami distensi akibat penimbunan urine. Saat perawat memberi tekanan ringan pada kandung kemih, pasien mungkin akan merasakan suatu nyeri atau sakit. Bila pada pemeriksaan palpasi ditemukan distensi pada kandung kemih, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan melakukan perkusi pada kandung kemih. Perkusi pada kandung kemih penuh biasanya menimbulkan bunyi perkusi tumpul. Meatus Uretra Pemeriksaan meatus urinaria pada wanita, dilakukan dengan memposisikan pasien pada posisi dorsal rekumben agar memungkinkan genitalia terlihat secara menyeluruh. Amati adanya rabas, pembengkakan, ulkus, keluaran atau nodula. Infeksi juga dapat diindikasikan oleh adanya kemerahan dan peradangan pada mukosa vagina. Pemeriksaan meatus uretra pada pria dilakukan untuk melihat adanya rabas, inflamasi dan luka. Selain itu pemeriksaan pada skrotum juga dapat dilakukan untuk melihat adanya tanda kemerahan, bengkak, ulkus, ekskoriasi atau nodula. Pemeriksaan urin 1. Asupan dan haluaran Perawat mengkaji asupan cairan rata- rata pasien setiap hari. Perawat mengukur semua sumber asupan cairan, termasuk asupan oral, infus cairan IV, makanan yang diberikan melalui selang, dan cairan yang dimasukkan ke dalam selang nasogastrik atau selang gaster. Perawat mengkaji volume urin dengan

mengukur haluaran urine setiap kali pasien berkemih. Perawat melaporkan setiap peningkatan atau penurunan volume yang ekstrem. Yang perlu mendapat

perhatian adalah apabila haluaran urine per jam kurang dari 30 ml yang berlangsung selama lebih dari 2 jam. Begitu juga apabila volume urine yang banyak keluar secara terus menerus (poliuria), yakni lebih dari 2000 2500 ml/ hari. FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik: Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah: Aktifitas/istirahat: Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera serebrovaskuler, tirah baring lama) Surkulasi Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal) Kulit hangat dan kemerahan atau pucat Eleminasi Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya Penrunan volume urine Rasa terbakar, dorongan berkemih Diare Oliguria, hematuria, piouria Perubahan pola berkemih Diagnosa keperawatan: 1. Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema dan iskemia seluler. 2. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.

3. Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi. 4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.

Hari / Tgl : Senin, 24 September 2012 Fasilitator : Sagung Mirah Indah .W., Apt SISTEM PERKEMIHAN

Penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih) 2 buah ginjal (ren) yang menghasilkan urin 2 buah ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih) 1 vesika urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan 1urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria

FUNGSI GINJAL Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun, Mempertahankan suasana keseimbangan cairan, Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.

Mensekresi renin (penting untuk mengatur tekanan darah), Juga bentuk aktif vitamin D (penting untuk mengatur kalsium) Serta eritropoetin (penting untuk sintesis darah). ensekresi

PROSES PEMBENTUKAN URIN 1. Proses Filtrasi di glomerulus Terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus ginjal. cairan yang di saring disebut filtrate gromerulus. 2. Proses Reabsorbsi Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis. 3. Proses sekresi. Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar. GANGGUAN PADA SISTEM PERKEMIHAN 1. Infeksi Saluran Urogenital. Umumnya disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Dapat pula disebabkan oleh Proteus, Klebsiella, dan Staphylococcus terutama bila sedang terpasang kateter. 2. Penyakit Glomerular. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun karena terbentuk antibodi yang merusak membran basal gromerulus tubuh itu sendiri. Penyakit ini dapat menyebabkan gagal ginjal.

3. Obstruksi Saluran Kemih. Obstruksi saluran kemih disebabkan oleh hipertrofi prostat, batu ginjal dan tumor ginjal. Gangguan obstruktif dapat menyebabkan disfungsi ginjal berat yang meliputi hemoragi dan gagal ginjal, bila tidak diatasi. 4. Gagal Ginjal. Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga

keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine HEMODIALISIS Hemodialisis adalah sebuah terapi medis. Kata ini berasal dari kata haemo yang berarti darah dan dilisis sendiri merupakan proses pemurnian suatu sistem koloid dari partikelpartikel bermuatan yang menempel pada permukaan Pada proses digunakan selaput Semipermeabel. Proses pemisahan ini didasarkan pada perbedaan laju transport partikel. Hemodialisis berfungsi membuang produk-produk sisa metabolisme seperti potassium dan urea dari darah dengan menggunakan mesin dialiser. Mesin ini mampu berfungsi sebagai ginjal menggantikan ginjal penderita yang sudah rusak kerena penyakitnya, dengan menggunakan mesin itu selama 24 jam perminggu, penderita dapat memperpanjang hidupnya sampai batas waktu yang tidak tertentu.

Anda mungkin juga menyukai