Anda di halaman 1dari 32

Radang Genitalia Eksterna BARTOLINITIS Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan

pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. Jamur : kandida albikan. Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis. Bakteri : neiseria gonore. Patofisiologi Pada vulva : perubahan warna kulit,membengkak, timbunan nanah dalam kelenjar, nyeri tekan. Kelenjar bartolin membengkak,terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk,juga dapat disertai demam Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal, rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air kecil, atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. Terdapat abses pada daerah kelamin Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah. Pengobatan Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg, diminum 31 sesudah makan, selama sedikitnya 5-7 hari, dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax, molasic, dll), diminum 31 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan, hingga kelenjar tersebut mengempis. VAGINITIS DAN VULVITIS Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. Penyebab Infeksi - Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus) - Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotik - Protozoa (misalnya Trichomonas vaginalis) - Virus (misalnya virus papiloma manusia dan virus herpes). Zat atau benda yang bersifat iritatif - Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons - Sabun cuci dan pelembut pakaian - Deodoran - Zat di dalam air mandi - Pembilas vagina - Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat - Tinja Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya Terapi penyinaran Obat-obatan

Perubahan hormonal Gejala Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. Misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis Infeksi karena Trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat. Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses. Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan ole kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh cairan juga diperiksa dengan mikroskop dan dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebabnya. Untuk mengetahui adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan Pap smear. Pada vulvitis menahun yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan biasanya dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan. Pengobatan Umum Untuk Vaginitis & Vulvitis 1.Jamur:Miconazole, clotrimazole, butoconazole atau terconazole (krim, tablet vagina atau supositoria) Fluconazole atau ketoconazole< (tablet) 2.Bakteri:Biasanya metronidazole atau clindamycin (tablet vagina) atau metronidazole (tablet). Jika penyebabnya gonokokus biasanya diberikan suntikan ceftriaxon & tablet doxicyclin 3.Klamidia:Doxicyclin atau azithromycin (tablet) 4. Trikomonas:Metronidazole (tablet) 5. Virus papiloma manusia (kutil genitalis):Asam triklorasetat (dioleskan ke kutil), untuk infeksi yg berat digunakan larutan nitrogen atau fluorouracil (dioleskan ke kutil) 6. Virus herpes:Acyclovir (tablet atau salep) VULVOVAGINITIS Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina. Iritasi ini dapat menyebabkan terjadinya: gatal-gatal (45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia minor (bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara vagina dan anus) kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit (82%) rasa tidak nyaman pada kulit terutama pada saat atau setelah buang air kecil banyaknya lendir yang keluar dari vagina (62-92%) pendarahan(5-10%) Penyebab Vulvovaginitis (a) Infeksi oleh bakteria, jamur, virus, dan parasit lainnya baik karena kurangnya kepedulian

menjaga kebersihan vulva dan vagina juga oleh penyakit menular lainnya. (b) Penggunaan bahan-bahan kimia yang terdapat pada sabun mandi, parfum, dan lainnya yang digunakan pada vulva dan vagina. Hal ini dapat mengaibatkan iritasi jaringan sekitar dan dapat mempermudah terkena vulvovaginitis. (c) Kebiasaan sehari-hari seperti pengunaan baju basah, pengunaan celana dalam terlalu ketat, celana dalam kurang bersih, dan kebiasaan membersihkan anus sehabis BAB yang tidak tepat. RADANG GENITALIA INTERNA Kelainan Pada Ovarium 1.SALPINGITIS AKUT Salpingitis menjalar ke ovarium hingga juga terjadi oophoritis. Salpingitis dan oophoritis diberi nama adnexitis. Etiologi : Paling sering disebabkan oleh gonococcus, disamping itu oleh staphylococ, streptococ dan bac tbc. Infeksi dapat terjadi sebagai berikut : a) Naik dari cavum uteri b) Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari appendiks yang meradang c) Haematogen terutama salpingitis tuberculosa Salpingitis biasanya bilateral. Gejala-gejala - Demam tinggi dengan menggigil, pasien sakit keras. - Nyeri kiri dan kanan di perut bagian bawah terutama kalau ditekan - Defense ki dan ka di atas lig Poupart - Mual dan muntah; jadi ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum. - Kadang-kadang ada tenesmi ad anum karena proses dekat pada rectum atau sigmoid. - Toucher : nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan dari uterus, kadang-kadang ada penebalan dari tuba, tuba yang sehat taj dapat diraba. ADNEXITIS KRONISA Adnexitis kronis terjadi : a) Sebagai lanjutan dari adnexitis akut. b) Dari permulaan sifatnya kronis seperti adnexitis tuberculosa. Gejala-gejala - Anamnetis telah menderita adnexitis akut - Nyeri di perut bagian bawah : nyeri ini bertambah sebelum dan sewaktu haid. Kadang-kadang nyeri di pinggang atau waktu buang air besar - Dysmenorrhoe - Menorrhagi - Infertilitas

TUMOR OVARIUM Berbagai jenis tumor ovarium pada komplikasi kehamilan. Insidensi tumor pada kelainan sel yang terjadi pada kelompok beberapa usia diketahui melalui pemeriksaan USG secara rutin selama kehamilan. direkomendasikan penelitian pada kehamilan diameternya meningkat 10 cm karena meningkatnya bahaya pada kanker dan membesarnya sel-sel pembesaran sel 5 cm atau kurang dapat dikesampingkan sendiri pembesaran sel harus diketahui jika memiliki pendekatan pada pembesaran sel sederhana. Whiccer dan rekan kerja perhatian karena setengah dari 41 wanita dengan pembesaran sel sederhana memiliki neoplasma MYOMETRITIS Myometritis adalah radang myometrium ( kamus Dorland ). Miometrium adalah tunika muskularis uteri. ( kamus Dorland ). Metritisatau miometritis adalah radang miometrium. Gejala Demam Uterus nyeritekan Perdarahanvaginal Nyeri perutbawah Lochia berbau, purulen ENDOMETRITIS Endometriosis adalah satu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapat di miometrium ataupun di luar uterus. (Wiknjosastro, 1999: 314). Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan yang hanya ada di dalam rahim, dapat ditemukan dibagian lain dalam tubuh. (Irwan, 2008: 02). Klasifikasi Endometriosis Menurut topografinya endometriosis dapat digolongkan, yaitu sebagai berikut: Endometriosis Interna, yaitu endometriosis di dalam miometrium, lazim disebut Adenomiosis. Endometriosis Eksterna, yaitu endometriosis di luar uterus, lazim disebut true endometriosis Menurut letaknya endometriosis dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu : Endometriosis genetalia interna, yaitu endometriosis yang letaknya di dalam uterus. Endometriosis eksterna, yaitu endometriosis yang letaknya di dinding belakang uterus, di bagian luar tuba dan di ovarium. Endometriosis genetalia eksterna, yaitu endometriosis yang letaknya di pelvio peritonium dan di kavum douglas, rekto sigmoid, kandung kencing. Tanda dan gejala Nyeri perut bagian bawah dan di daerah panggul progresif. Disminorea (nyeri hebat di perut bagian bawah saat haid yang menganggu aktifitas). Dispareunea (nyeri ketika melakukan hubungan seksual), disebabkan karena adanya endometriosis di kavum douglas. Nyeri ketika buang air besar atau kecil (disuria), khususnya pada saat menstruasi. Disebabkan karena adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid. Poli dan hipermenorea (siklus lebih pendek dari normal < 21 hari, darah lebih banyak atau lama dari normal lebih dari 7 hari).

Infertilitas (kemandulan), apabila mobilitas tuba terganggu karena fibriosis dan karena perlekatan jaringan disekitarnya. Menstruasi yang tidak teratur (misalnya spoting sebelum menstruasi). Haid yang banyak (menorragia) PARAMETRITIS Parametritis adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi beberapa jalan : Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis. Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai ke dasar ligamentum. Penyebaran sekunder dari tromboflebitis. Parametritis ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari seminggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan parametritis PERITONITIS Peritonitis dapat berasal dari penyebaran melalui pembuluh limfe uterus, parametritis yang meluas ke peritoneum, salpingo-ooforitis meluas ke peritoneum atau langsung sewaktu tindakan perabdominal. Peritonitis yang terlokalisir hanya dalam rongga pelvis disebut pelvioperitonitis, bila meluas ke seluruh rongga peritoneum disebut peritonitis umum, dan ini sangat berbahaya yang menyebabkan kematian 33% dari seluruh kematian akibat infeksi. Gambaran klinis dan diagnosis : Pelvioperitonitis : demam, nyeri perut bagian bawah, nyeri pada pemeriksan dalam, kavum douglasi menonjol karena adanya abses (kadang-kadang). Bila hal ini dijumpai maka nanah harus dikeluarkan dengan kolpotomi posterior, supaya nanah tidak keluar menembus rektum. Poeritonitis umum adalah berbahaya bila disebabkan oleh kuman yang patogen. Perut kembung, meteorismus dan dapat terjadi paralitik ileus. Suhu badan tinggi, nadi cepat dan kecil, perut nyeri tekan, pucat, muka cekung, kulit dingin, mata cekung yang disebut muka hipokrates. CERVICITIS Cervicitis ( endo cervicitis ) ialah radang pada selaput lendir canalis cervikalis Klasifikasi Cervicitas 1.Cervicitis Akula 2.Cervicitis Kronika 1.Cervicitis Akula a.Penyebab Cervicitis Akula dalam pengertian yang lazim ialah infeksi yang diawali dari endoseviks dan ditemukan dalam gonorhea, dan pada infeksi post abortum atau post partum yang disebabkan oleh streptococcus, stafilococcus dll. b.Gejala Cervis merah dan membengkak dengan mengeluarkan cairan mukupurulen. Akan tetapi gejalagejala pada cervis biasanya tidak seberapa tampak ditengah gejala-gejala lain dari infeksi yang bersangkutan.

Cervicitis Kronika Cervicitis ( endo cervicitis ) ialah radang pada selaput lendir canalis cervikalis. Patofisiologi Penyakit ini dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan dengan luka-luka kecil atau besra pada cerviks karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman kedalam endocerviks dan kelenjar-kelenjarnya, lalu menyebabkan infeksi menahun. Penyebab 1) Gonorhoe, sediaan harus dari flour cerviks, terutama yang purulen. 2) Sekunder terhadap kolpitis. 3) Tindakan intrauteri dilatasi dll. 4) Alat-alat atau obat kontrasepsi. 5) Robekan cerviks terutama yang menyebabkan extropin. Gejala 1)Flour hebat biasanya kental atau purulen dan kadang-kadang berbau. 2)Sering menimbulkan erosi pada potio yang tampak sebagian daerah yang merah menyala. 3)Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat dilihat flour yang purulen keluar dari kanalis cervicalis. Kalau portio normal, tidak ada ektripion maka harus diingat gonorhoe. 4)Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vulvitis. 5)Pada cervicitisyang kronis kadang-kadang dapat dilihal bintik-bintik ini disebut ovula nabothii dan disebabkan oleh retensi kelenjar-kelenjar cerviks karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka cerviks atau karena radang.

Latar Belakang Radang pada genetalia eksterna meliputi bartolinitis, vaginitis dan vulva vaginitis. Bartolinitis merupakan Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus (kondiloma akuminata dan herpes simpleks), Jamur (kandida albikan), Protozoa ( amobiasis dan trikomoniasis) dan Bakteri (neiseria gonore) Vaginitis merupakan suatu peradangan pada lapisan vagina. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. Penyebabnya adalah Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus), Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai Vulvovaginitis

adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina. Iritasi ini dapat menyebabkan terjadinya: gatal-gatal (45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia minor (bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara vagina dan anus)

kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit (82%) rasa tidak nyaman pada kulit terutama pada saat atau setelah buang air kecil banyaknya lendir yang keluar dari vagina (62-92%).

B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini penulis membatasi permasalahan sesuai dengan pokok permasalahan tentang promosi kesehatan dengan judul yaitu Radang pada genetalia eksterna.

C. Tujuan Penulisan Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah promosi kesehatan dan untuk mengetahui lebih jauh tentang Radang pada genetalia eksterna.

BAB II PEMBAHASAN

Bartonilitis A. Pengertian Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Biasanya, pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. Juga dapat disertai demam, seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah.

B. Etiologi Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Mulai dari chlamydia, gonorrhea, dan sebagainya. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina

C. Etiologi Infeksi a. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks. Jamur : kandida albikan. Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis.

Bakteri : neiseria gonore. b. Infeksi alat kelamin wanita bagian atas : Virus Jamur Bakteri : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika. : asinomises. : neiseria gonore, stafilokokus dan E.coli

D. Patofisiologi Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. Jika tak ada infeksi, tak akan menimbulkan keluhan

E. Tanda dan Gejala 1. Pada vulva : perubahan warna kulit,membengkak, timbunan nanah dalam kelenjar, nyeri tekan. 2. Kelenjar bartolin membengkak,terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk,juga dapat disertai demam 3. Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal, rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air kecil, atau ada benjolan di sekitar alat kelamin. 4. Terdapat abses pada daerah kelamin 5. Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah.

F. Pengobatan Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg, diminum 31 sesudah makan, selama sedikitnya 5-7 hari, dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax, molasic, dll), diminum 31 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan, hingga kelenjar tersebut mengempis.

G. Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium 2. Vullva 3. In speculo H. Penatalaksanaan Tatalaksana Infeksi Alat Kelamin Wanita Berikut ini adalah beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang tersedia.

1. Gonore (GO) Anamnese : a. 99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada wanita tidak ada gejala atau keluhan. b. Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore, yang sering diabaikan oleh penderita. c. Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita. Pemeriksaan : Pemeriksaan dengan spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal, kemerahan atau erosif. Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh, mukopurulen atau purulen. Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis, salpingitis, abses tubo ovarii bahkan pelvik peritonitis. Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut Pelvis Inflamatory Disease (PID). Laboratorium : Asupan servik atau vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit. 2. Uretritis Non Gonore Anamnese : Biasanya tidak ada keluhan. Kalau ada, keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa discharge. Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil (terminal dysuria). Sering bersifat kumat-kumatan (yang membedakan dengan GO) Riwayat kontak sering (+) Pemeriksaan : Mungkin ada discharge uretra. Bila disertai sistitis, mungkin ada nyeri tekan suprapubis. Laboratorium : Uretral discharge : diplokokus (-), lekosit >10/lapangan pandang. Urin : berawan atau didapat benang-benang pendek (threads) 3. Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak, berwarna kuning atau putih kehijauan. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering Trikomoniasis

dikeluhkan. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan, karena > 50% penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis. Pemeriksaan : Pemeriksaan in speculo : terasa sakit, fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna kuning atau putih kehijauan, khas : didapat bintik-bintik merah (punctatae red spots atau strawbery cervix) di dinding vagina. Laboratorium : Fluor albus : dengan mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+). 4. Kandidiasis Anamnese : Keluhan utama biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit waktu melakukan aktivitas sexual. Faktor predisposisi : diabetes militus, pemakaian Pil KB, dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta kegemukan.

Pemeriksaan : Vulva : tampak merah, udem, adanya plak putih, mungkin didapat juga fisura atau erosi (Vulvovaginitis). In speculo : Terasa sakit, Discharge kental, sedikit, putih seperti keju dan biasanya menutup portio. Laboratorium : Sel ragi (yeast cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora.

I.

Pencegahan Untuk menghadang radang, berbagai cara bisa dilakukan. Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat :

1.

Konsumsi makanan sehat dan bergizi. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. Kondisi ini dapat menimbulkan luka, sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut.

2. Hindari mengenakan celana ketat, karena dapat memicu kelembapan. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering. 3. Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan. 4. Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. Siapa tahu, ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda. 5. Biasakan membersihkan diri, setelah buang air besar, dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang. 6. Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. 7. Jika tidak dibutuhkan, jangan menggunakan pantyliner. Perempuan seringkali salah kaprah. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina. 8. Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan

kesehatan. Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya. 9. Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Ingat, kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. Jika Anda berganti-ganti pasangan, tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas.

VAGINITIS A. Definisi Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. B. Etiologi Penyebabnya bisa berupa: 1. Infeksi Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus) Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotic Protozoa (misalnya trichomonas vaginalis) Virus (misalnya virus papiloma manusia dan virus herpes)

2. Zat atau benda yang bersifat iritatif Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons Sabun cuci dan pelembut pakaian Deodoran Zat di dalam air mandi Pembilas vagina Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat Tinja

3. Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya 4. Terapi penyinaran obat-obatan 5. Perubahan hormonal

C. Gejala Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis. Setelah melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga bakteri semakin banyak yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi. Infeksi jamur menyebabkan gatal-gatal sedang sampai hebat dan rasa terbakar pada vulva dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Dari vagina keluar cairan kental seperti keju. Infeksi ini cenderung berulang pada wanita penderita diabetes dan wanita yang mengkonsumsi antibiotik. Infeksi karena trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat.

Cairan yang encer dan terutama jika mengandung darah, bisa disebakan oleh kanker vagina, serviks (leher rahim) atau endometrium. Polip pada serviks bisa menyebabkan perdarahan vagina setelah melakukan hubungan seksual. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bisa disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia maupun karsinoma in situ (kanker stadium awal yang belum menyebar ke daerah lain). Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses. Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan ole kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva.

D. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh cairan juga diperiksa dengan mikroskop dan dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebabnya. Untuk mengetahui adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan pap smear. Pada vulvitis menahun yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan biasanya dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan.

E. Pengobatan Jika cairan yang keluar dari vagina normal, kadang pembilasan dengan air bisa membantu mengurangi jumlah cairan. Cairan vagina akibat vaginitis perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya. Jika penyebabnya adalah infeksi, diberikan antibiotik, anti-jamur atau antivirus, tergantung kepada organisme penyebabnya. Untuk mengendalikan gejalanya bisa dilakukan pembilasan vagina dengan campuran cuka dan air. Tetapi pembilasan ini tidak boleh dilakukan terlalu lama dan terlalu sering karena bisa meningkatkan resiko terjadinya peradangan panggul. Jika akibat infeksi labia (lipatan kulit di sekitar vagina dan uretra) menjadi menempel satu sama lain, bisa dioleskan krim estrogen selama 7-10 hari. Selain antibiotik, untuk infeksi bakteri juga diberikan jeli asam propionat agar cairan

vagina lebih asam sehingga mengurangi pertumbuhan bakteri. Pada infeksi meular seksual, untuk mencegah berulangnya infeksi, kedua pasangan seksual diobati pada saat yang sama. Penipisan lapisan vagina pasca menopause diatasi dengan terapi sulih estrogen. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet, plester kulit maupun krim yang dioleskan langsung ke vulva dan vagina. Selain obat-obatan, penderita juga sebaiknya memakai pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan menyerap keringat sehingga sirkulasi udara tetap terjaga (misalnya terbuat dari katun) serta menjaga kebersihan vulva (sebaiknya gunakan sabun gliserin). Untuk mengurangi nyeri dan gatal-gatal bisa dibantu dengan kompres dingin pada vulva atau berendam dalam air dingin. Untuk mengurangi gatal-gatal yang bukan disebabkan oleh infeksi bisa dioleskan krim atau salep corticosteroid dan antihistamin per-oral (tablet). Krim atau tablet acyclovir diberikan untuk mengurangi gejala dan memperpendek lamanya infeksi herpes. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri.

Vulva vaginitis A. Pengertian Vulvovaginitis adalah peradangan atau infeksi pada vulva dan vagina. Vulvovaginal kandidiasis adalah nama yang sering diberikan untuk Candida albicans vagina infeksi berhubungan dengan dermatitis dari vulva (gatal ruam). 'Vaginal thrush', dan 'monilia' juga nama-nama untuk Candida albicans infeksi. Candida albicans adalah jamur ragi biasanya bertanggung jawab atas vulva gatal dan pengosongan. Hal ini umumnya pelaku bahwa perempuan selalu merujuk pada setiap Vulvovaginal gatal sebagai "infeksi jamur," tapi perlu diketahui bahwa semua tidak selalu gatal disebabkan oleh ragi.

B.

Etiologi Vulvovaginitis dapat mempengaruhi perempuan dari segala usia dan sangat umum. Hal ini dapat disebabkan oleh bakteri, ragi, virus, dan parasit lain. Beberapa penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan vulvovaginitis, seperti yang bisa ditemukan berbagai bahan kimia gelembung mandi, sabun, dan parfum. Faktor-faktor lingkungan seperti kebersihan yang buruk dan alergen juga dapat menyebabkan kondisi ini. Candida albicans, yang menyebabkan infeksi jamur, adalah salah satu penyebab paling umum vulvovaginitis perempuan dari segala usia. Penggunaan antibiotik dapat menyebabkan infeksi jamur dengan membunuh antijamur normal bakteri yang hidup di vagina. Infeksi jamur kelamin biasanya menyebabkan gatal-gatal dan tebal, putih discharg vagina, dan gejala lain. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: ragi infeksi vagina

Penyebab lain adalah vulvovaginitis bakteri vaginosis, suatu pertumbuhan berlebih dari jenis bakteri tertentu dalam vagina. Bakteri vaginosis dapat menyebabkan tipis, warna abu-abu vagina dan bau amis.

Sebuah penyakit menular seksual yang disebut Trichomonas vaginitis infeksi adalah penyebab umum lain. Infeksi ini mengarah ke kelamin gatal, bau vagina, dan vagina yang berat, yang mungkin kuning-abu atau warna hijau.

Gelembung mandi, sabun, vagina kontrasepsi, feminin semprotan, dan parfum dapat menyebabkan iritasi ruam gatal di daerah genital, sedangkan nonabsorbent ketat atau pakaian kadang-kadang menyebabkan ruam panas. Jengkel jaringan lebih rentan terhadap infeksi daripada jaringan normal, dan banyak organisme penyebab infeksi berkembang dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan gelap. Tidak hanya faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada penyebab vulvovaginitis, mereka sering memperpanjang periode pemulihan. Kurangnya estrogen pada wanita postmenopause dapat menyebabkan kekeringan vagina dan penipisan kulit vagina dan vulva, yang juga dapat menyebabkan atau memperburuk kelamin gatal dan terbakar. Nonspesifik vulvovaginitis (di mana penyebab dapat diidentifikasi) dapat dilihat dalam semua kelompok usia, tetapi paling sering terjadi pada anak gadis sebelum pubertas. Setelah pubertas dimulai, vagina menjadi lebih asam, yang cenderung untuk membantu mencegah infeksi. Vulvovaginitis nonspesifik dapat terjadi pada anak perempuan dengan genital miskin kebersihan dan ditandai oleh berbau busuk, coklat-hijau pelepasan dan iritasi labia dan vagina. Kondisi ini sering dikaitkan dengan pertumbuhan berlebih dari suatu jenis bakteri yang biasanya ditemukan di dalam tinja. Bakteri ini kadang-kadang menyebar dari anus ke area vagina dengan mengusap dari belakang ke depan setelah menggunakan kamar mandi. Pelecehan seksual harus dipertimbangkan pada anak-anak dengan infeksi yang tidak biasa dan berulang episode dijelaskan vulvovaginitis. Neisseria gonorrhoeae, organisme yang menyebabkan gonore, menghasilkan gonokokal vulvovaginitis di gadis-gadis muda.

Gonocorrhea vaginitis terkait dianggap sebagai penyakit menular seksual. Jika tes laboratorium mengkonfirmasi diagnosis ini, gadis-gadis muda harus dievaluasi untuk pelecehan seksual. Sekitar 20% dari non-hamil wanita usia 15-55 pelabuhan Candida albicans dalam vagina. Sebagian besar tidak mempunyai gejala dan itu berbahaya bagi mereka. Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans menyebabkan berat dadih putih seperti vagina, rasa panas di vagina dan vulva dan / atau ruam gatal di vulva dan kulit di sekitarnya.

Estrogen menyebabkan lapisan vagina untuk dewasa dan mengandung glikogen, sebuah substrat yang Candida albicans berkembang. Kurangnya estrogen pada wanita yang lebih muda dan lebih tua membuat kandidiasis Vulvovaginal jarang terjadi. Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans terjadi paling sering dengan: Kehamilan Dosis tinggi pil KB kombinasi dan estrogen berbasis terapi penggantian hormon Sebuah rangkaian antibiotik spektrum luas seperti tetracycline atau amoxiclav Diabetes mellitus Anemia kekurangan zat besi Defisiensi imunologis misalnya, infeksi HIV Di atas kondisi kulit yang lain, sering psorias , Planus lumut atau lumut sclerosus. Penyakit lain

C.

Patofisiologi Proses infeksi dimulai dengan perlekatan Candida sp. pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada C.albicans daripada spesies Candida lainnya. Kemudian, Candida sp. mensekresikan enzim proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan-ikatan protein sel pejamu sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu, Candida sp. juga mengeluarkan mikotoksin diantaranya gliotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi Candida sp. memudahkan proses invasi tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu.

D. Manifestasi Klinis Vulvovaginal gejala kandidiasis, yaitu, suatu pertumbuhan berlebih dari Candida albicans, meliputi: Gatal, nyeri dan / atau pembakaran ketidaknyamanan pada vagina dan vulva Berat dadih putih seperti vagina Ruam merah terang yang mempengaruhi bagian dalam dan luar dari vulva, kadang-kadang menyebar luas di pangkal paha untuk memasukkan daerah kemaluan, daerah inguinal dan paha. Ini bisa berlangsung hanya beberapa jam atau bertahan selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau jarang, bulan. Gejala mungkin kadang-kadang diperparah oleh hubungan seksual.

E. Komplikasi F. Ketidaknyamanan yang tidak hilang Infeksi kulit (dari garukan) Komplikasi karena penyebab kondisi (seperti gonore dan infeksi kandida) Pencegahan Untuk mencegah infeksi jamur, mengenakan pakaian katun agar udara dapat bersirkulasi. Walaupun sejumlah obat untuk mengobati infeksi jamur baru-baru ini akan tersedia over-thecounter, berhati-hati dalam membuat diagnosis diri terburu-buru.

Penggunaan kondom selama hubungan seksual bisa mencegah sebagian besar infeksi menular seksual vagina. Tepat pas dan memadai penyerap pakaian, dikombinasikan dengan baik kebersihan daerah genital juga mencegah banyak kasus infeksi non-vulvovaginitis. Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara benar membersihkan daerah genital saat memandikan atau mandi. Tepat menyeka setelah menggunakan toilet juga akan membantu (anak harus selalu menyeka dari depan ke belakang untuk menghindari memperkenalkan bakteri dari anus ke vagina). Tangan harus dicuci bersih sebelum dan setelah menggunakan kamar mandi.

G.

Penatalaksanaan Kadang-kadang Candida albicans infeksi tetap ada meski terapi konvensional yang memadai. Pada beberapa wanita hal ini mungkin merupakan tanda kekurangan zat besi , diabetes melitus atau masalah imun, dan tes yang sesuai harus dilakukan. Perempuan yang mengalami berulang Vulvovaginal Candida albicans melakukannya karena infeksi persisten, daripada infeksi ulang. Tujuan dari perawatan dalam situasi ini adalah untuk menghindari pertumbuhan berlebih dari kandida yang mengarah ke gejala, daripada harus mampu mencapai pemberantasan menyelesaikan atau menyembuhkan. Ada beberapa bukti bahwa langkah-langkah berikut dapat membantu:

Kapas atau uap air-wicking pakaian dalam dan pakaian longgar, menghindari stoking nilon. Perendaman dalam garam mandi. Hindari sabun Menggunakan pembersih non-sabun atau krim untuk mencuci berair. Terapkan hidrokortison krim untuk mengurangi gatal dan mengobati sekunder dermatitis mempengaruhi vulva.

Perlakukan dengan krim anti jamur sebelum setiap periode menstruasi dan sebelum terapi antibiotik untuk mencegah kambuh. Sebuah perjalanan panjang sebuah antijamur topikal agen kadang-kadang diperlukan (tapi hal ini mungkin sendiri menyebabkan dermatitis atau hasil dalam non-proliferasi candida albicans).

Antijamur oral obat-obatan (itrakonazol atau flukonazol) dapat diambil secara teratur dan sebentar-sebentar (misalnya sekali sebulan). Dosis dan frekuensi yang cukup bervariasi,

tergantung pada keparahan gejala. Oral agen antijamur mungkin tidak sesuai pada kehamilan. Mereka membutuhkan resep. Asam borat (boraks) 600mg sebagai supositoria pada malam hari dapat membantu untuk mengasamkan vagina dan mengurangi kehadiran khamir (albicans dan non-candida albicans).

Langkah-langkah berikut belum ditunjukkan untuk membantu. Perawatan pasangan seksual - laki-laki mungkin mendapatkan singkat reaksi kulit pada penis, yang membersihkan cepat dengan krim antijamur. Memperlakukan laki-laki tidak mengurangi jumlah episode kandidiasis pada pasangan wanita mereka. Khusus gula rendah, rendah ragi atau yoghurt tinggi diet Menempatkan yoghurt dalam vagina Obat alami (dengan pengecualian asam borat)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Bartolinitis merupakan Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh :

Virus (kondiloma akuminata dan herpes simpleks), Jamur (kandida albikan), Protozoa ( amobiasis dan trikomoniasis) dan Bakteri (neiseria gonore) Vaginitis merupakan suatu peradangan pada lapisan vagina. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). Vovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. Penyebabnya adalah Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus), Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina.

B. Saran Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah yang akan datang.

askep infertilitas
I. Pengkajian 1. Identitas pasien 2. Riwayat kesehatan A. Pada wanita a) Riwayat kesehatan dahulu o Riwayat terpajan benda benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah o Riwayat infeksi genitourinaria o Hypertiroidisme dan hypotiroid o Infeksi bakteri dan virus, exs : toksoplasma o Tumor hipofisis atau prolaktinoma o Riwayat penyakit menular seksual o Riwayat kista b) Riwayat kesehatan sekarang o Endometriasis dan endometritis o Vaginismus (kejang pada otot vagina) o Gangguan ovulasi o Abnormalitas tuba falopi, ovarium, uterus, dan serviks o Autoimun c) Riwayat kesehatan keluarga o Memiliki riwayat saudara / keluarga dengan aberasi genetik d) Riwayat obstetric o Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi o Mengalami aborsi berulang o Sudah pernah melahirkan tetapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi B. Pada pria a) Riwayat kesehatan dahulu o Riwayat terpajan benda benda yang membahayakan reproduksi (panas, radarasi, rokok, narkkotik, alkohol, infeksi) o Status gizi dan nutrisi terutama protein dan vitamin tertentu o Riwayat infeksi genitourianaria o Hipertiroidisme dan hipotiroid o Tumor hipofisis atau prolaktinoma o Trauma, kecelakaan sehingga testis rusak o Konsumsi obat obatan yang mengganggu spermatogenesis o Pernah mengalami operasi yang berefek mengganggu organ reproduksi, exs : operasi prostat, operasi tumor saluaran kemih o Riwayat vasektomi

b) Riwayat kesehatan sekarang o Disfungsi ereksi berat o Ejakulasi retrograt o Hypospadia / epispadia o Mikropenis o Andesensus testis (testis masuk dalam perut / lipatan paha) o Gangguan spermatogenesis (kelainan jumlah, bentuk, dan mortilitas sperma) o Saluran sperma yang tersumbat o Hernia scrotalis o Varikhokel (varises pembuluh darah balik testis) o Abnormalitas cairan semen c) Riwayat kesehatan keluarga o Memiliki riwayat saudara / keluarga dengan aberasi genetik II. Pemerikasaan fisik berbagai kelainan pada organ genital, pria atau wanita III. Pemeriksaan penunjang A. Pada wanita a) Deteksi ovulasi o Meliputi pengkajian BBT (basal body temperature) o Uji lender serviks metode berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan serviks ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma b) Analisa hormone o Mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium hipofisis hyphotalamus. Dengan pengambilan specimen urine dan darah pada berbagai waktu selama siklus menstruasi c) Sitologi vagina o Pemeriksaan usao forniks vagina untuk mengetahui keadaan epitel vagina d) Uji pasca senggama o Mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks (6 jam pasca coital) e) Histerosalpinografi o Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebalikanya dilakukan 2 3 hari sebelum haid f) Laparoskopi o Standar untuk mengetahui kelainan tuba dan peritonium g) Pemeriksaan pelvis ultrasound o Untuk memvisualisasikan jaringan pelvis, misalnya untuk mengidentifikasi kelainan,

perkembangan dan maturitas folikuler, serta informasi kehamilan intra uteri B. Pada pria a) Analisa semen b) Pemeriksaan endokrin Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hypotalamus, hipofisis. Jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas. Uji yang dilakukan bertujuan untuk menilai kadar hormone testosteron c) USG Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat struktur kelenjar prostat, vesikula seminaris, atau saluaran ejakulasi d) Biopsy testis Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sempel jaringan testis memakai metode invasive untuk mengidentifikasi adanya kelainan patolaogi e) Uji penetrasi sperma f) Uji hemizona IV. Diagnosa dan intervensi keperawatan 1. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic TUJUAN : Mengurangi ansietas / rasa takut INTERVENSI RASIONAL Jelaskan tujuan test dan prosedur Menurunkan cemas dan takut terhadap diagnose dan prognosis Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut, contoh : menolak, depresi, dan marah. Biarkan pasien / orang terdekat mengetahui ini sebagai reaksi yang normal Perasaan tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal dan efek gambaran diri Dorong keluarga untuk menganggap pasien seperti sebelumnya Meyakinkan bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah Kolaborasi : berikan sedative, tranquilizer sesuai indikasi Mungkin diperlukan untuk membantu pasien rileks sampai secara fisik mampu untuk membuat startegi koping adekuat Kriteria evalausi : Klien mampu mengungkapkan tentang infertilitas dan bagaimana treatmentnya Klien memperlihatkan adanya peningkatan control diri terhadap diagnose infertile Klien mampu mengekspresikan perasaan tentang infertile Terjalin kontak mata saat berkomunikasi Mengidentifikasi aspek positif diri 2. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan gangguan fertilitas TUJUAN : Memfasilitasi integritas diri konsep pribadi dan perubahan gambaran Diri INTERVENSI RASIONAL

Tanyakan dengan nama apa pasien ingin dipanggil Menunjukan keopan santunan / penghargaan dan pengakuan personal Identifikasi orang terdekat dari siapa pasien memperoleh kenyaman dan siapa yang harus memberitahuakan jika terjadi keadaan bahaya Memungkinkan privasi untuk hubungan personal khusus, untuk mengunjungi atau untuk tetap dekat dan menyediakan kebutuhan dukungan bagi pasien Dengarkan dengan aktif masalah dan ketakutan pasien Menyampaikan perhatian dan dapat dengan lebih efektif mengidentifikasi kebutuhan dan maslah serta strategi koping pasien dan seberapa efektif Dorong mengungkapkan perasaan, menerima apa yang dikatakannya Membantupasien / orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi / gaya hidup Diskusikan pandangan pasien terhadap citra diri dan efek yang ditimbulkan dari penyakit / kondisi Persepsi pasien mengenai perubahan pada citra diri mungkin terjadi secara tiba- tiba atau kemudian 3. Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk TUJUAN : Memfasilitasi proses berduka INTERVENSI RASIONAL Berikan lingkungan yang terbuka dimana pasien merasa bebas untuk dapat mendiskusikan perasaan dan masalah secara realitas kemampuan komunikasi terapeutik seperti aktif mendengarkan, diam, selalu bersedia, dan pemahaman dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbicara secara bebas dan berhadapan dengan perasaan Identifikasi tingkat rasa duka / disfungsi : penyangkalan, marah, tawar menawar, depresi, penerimaan Kecermatan akan memberikan pilihan intervensi yang sesuai pada waktu induvidu menghadapi rasa berduka dalam berbagai cara yang berbeda Dengarkan dengan aktif pandangan pasien dan selalu sedia untuk membantu jika diperlukan Proses berduka tidak berjalan dalam cara yang teratur, tetapi fluktuasainya dengan berbagai aspek dari berbagai tingkat yang muncul pada suatu kesempatan yang lain Identifikasi dan solusi pemecahan masalah untuk keberadaan respon respon fisik, misalnya makan, tidur, tingkat aktivitas dan hasrat seksual Mungkin dibutuhkan tambahan bantuan untuk berhadapan dengan aspek aspek fisik dari rasa berduka Kaji kebutuhan orang terdekat dan bantu sesuai petunjuk Identifikasi dari masalah masalah berduka disfungsional akan mengidentifikasi intervensi induvidual Kolaborasi : rujuk sumber sumber lainnya misalnya konseling, psikoterapi sesuai petunjuk

Mungkin dibutuhkan bantuan tambahan untuk mengatasi rasa berduka, membuat rencana, dan menghadapi masa depan Kriteria evaluasi, pasien akan: Menunjukan rasa pergerakan kearah resolusi dan rasa berduka dan harapan untuk masa depan Fungsi pada tingkat adekuat, ikut serta dalam pekerjaan 4. Nyeri akut berhubungan dengan efek test diagnostic TUJUAN : nyeri dapat teratasi INTERVENSI RASIONAL Catat lokasi, lamanya intensitas dan penyebaran. Perhatikan tanda nonverbal, contoh peningkatan TD dan nadi, gelisah, merintih Untuk menentukan intervensi selanjutnya Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staff terhadap karakteristik nyeri Memberikan kesemapatn untuk pemberian analgesik sesuai waktu Berikan tindakan relaksasi, contoh pijatan, lingkungan istirahat Menurunkan tegangan otot dan meningkatan koping efektif Bantu atau dorong penggunaan nafas efektif, bimbingan imajinasi dan aktivitas terapeutik Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot 5. Ketidakberdayaan berhubungan dengan kurang control terhadap prognosis TUJUAN : mengembalikan kemandirian pasien INTERVENSI RASIONAL Kaji kemampuan dan tingkat kekeurangan untuk melaukan kebutuhan sehari hari Membantu dalam mengantisipasi / merencanakan pemenuhan kebutuhan secara induvidual Hindari melaukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan Pasien ini mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermamfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi pasien untuk diri sendiri untuk mempertahankan harga diri Sadari prilaku / aktivitas impulsive karena gangguan dalam mengambil keputusan Dapat menunjukan kebutuhan intervensi dan pengawasan tambahan untuk meningkatakan keamanan pasien Pertahan kan dukungan, sikap yang tegas, beri pasien waktu yang cukup untuk mengerjakan tugasnya Pasien akan memerlukan empati tetapi perlu untuk mengetahui pemberi asuhan yang akan membantu pasien secara konsisten

Kriteria evalausi : Mendemonstrasikan teknik / perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawtan diri Melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri Mengidentifikasi sumber pribadi / komunitas memberikan bantuan sesuai kebutuhan

6. Resiko tinggi terhadap kerusakan koping induvidu / keluarga berhubungan dengan metode yang digunakan dalam investigasi fertilitas TUJUAN : Mendorong kemampuan koping yang efektif dari pasien / keluarga INTERVENSI RASIONAL Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku, misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseoarang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari hari Bantu klien untuk mengidentifikasi sterssor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimal dalam rencana pengobatan Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping dan dapat meningkatkan kerjasama dalam regimen terapeutik Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup. Tanyakan pertanyaan seperti apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda inginkan? Focus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relative terhadap pandangan pasien tentang apa yang di inginkan Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan, dibanding membatalkan tujuan dari / keluarga. Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistic untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya Kriteria evalausi : Mengidentifikasi tingkah laku koping yang tidak efektif dan konsekuensi Menunjukan kewaspadaan dari koping pribadi / kemampuan memecahkan masalah Memenuhi kebutuhan psikologis yang ditunjukan dengan mengekspresikan perasaan yang sesuai, identifikasi pilihan dan pengguanaan sumber sumber Membuat keputusan dan menunjukan kepuasaan dengan pilihan yang diambil.

DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilynn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan

Pendokumentasian Perawatan pasien. Jakarta : EGC Lion, Elizabeth M. 1982.Human sexuality in Nursing Prosess.New York ; Wiley medical

Definisi infertilitas menurut WHO adalah tidak terjadinya kehamilan pada pasangan yang telah berhubungan intim tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur minimal 1-2 tahun. Menurut data demografis dunia, 12,5 % pasangan usia subur mengalami kesulitan mendapatkan anak. Infertilitas terutama lebih banyak terjadi di kota-kota besar karena gaya hidup yang penuh stres, emosional dan kerja keras serta pola makan yang tidak seimbang. Infertilitas dapat terjadi dari sisi pria, wanita, kedua-duanya, maupun pasangan. Disebut infertilitas pasangan bila terjadi penolakan sperma suami oleh istri sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketidaksesuaian antigen/antibodi pasangan tersebut. Dari sisi pria, penyebab infertilitas yang paling umum terjadi adalah:

1. Bentuk dan gerakan sperma yang tidak sempurna


Sperma harus berbentuk sempurna serta dapat bergerak cepat dan akurat menuju ke telur agar dapat terjadi pembuahan. Bila bentuk dan struktur (morfologi) sperma tidak normal atau gerakannya (motilitas) tidak sempurna sperma tidak dapat mencapai atau menembus sel telur.

2. Konsentrasi sperma rendah


Konsentrasi sperma yang normal adalah 20 juta sperma/ml semen atau lebih. Bila 10 juta/ml atau kurang maka menujukkan konsentrasi yang rendah (kurang subur). Hitungan 40 juta sperma/ml atau lebih berarti sangat subur. Jarang sekali ada pria yang sama sekali tidak memproduksi sperma. Kurangnya konsentrasi sperma ini dapat disebabkan oleh testis yang kepanasan (misalnya karena selalu memakai celana ketat), terlalu sering berejakulasi (hiperseks), merokok, alkohol dan kelelahan.

3. Tidak ada semen


Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.

4. Varikosel (varicocele)
Varikosel adalah varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis. Sebagaimana diketahui, testis adalah tempat produksi dan penyimpanan sperma. Varises yang disebabkan kerusakan pada sistem katup pembuluh darah tersebut membuat pembuluh darah melebar dan mengumpulkan darah. Akibatnya, fungsi testis memproduksi dan menyalurkan sperma terganggu.

5. Testis tidak turun


Testis gagal turun adalah kelainan bawaan sejak lahir, terjadi saat salah satu atau kedua buah pelir tetap berada di perut dan tidak turun ke kantong skrotum. Karena suhu yang lebih tinggi dibandingkan suhu pada skrotum, produksi sperma mungkin terganggu.

6. Kekurangan hormon testosteron


Kekurangan hormon ini dapat memengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma.

7. Kelainan genetik
Dalam kelainan genetik yang disebut sindroma Klinefelter, seorang pria memiliki dua kromosom X dan satu kromosom Y, bukannya satu X dan satu Y. Hal ini menyebabkan pertumbuhan abnormal pada testis sehingga sedikit atau sama sekali tidak memproduksi sperma. Dalam penyakit Cystic fibrosis, beberapa pria penderitanya tidak dapat mengeluarkan sperma dari testis mereka, meskipun sperma tersedia dalam jumlah yang cukup. Hal ini karena mereka tidak memiliki vas deferens, saluran yang menghubungkan testis dengan saluran ejakulasi.

8. Infeksi
Infeksi dapat memengaruhi motilitas sperma untuk sementara. Penyakit menular seksual seperti klamidia dan gonore sering menyebabkan infertilitas karena menyebabkan skar yang memblokir jalannya sperma.

9. Masalah seksual
Masalah seksual dapat menyebabkan infertilitas, misalnya disfungsi ereksi, ejakulasi prematur, sakit saat berhubungan (disparunia). Demikian juga dengan penggunaan minyak atau pelumas tertentu yang bersifat toksik terhadap sperma.

10. Ejakulasi balik


Hal ini terjadi ketika semen yang dikeluarkan justru berbalik masuk ke kantung kemih, bukannya keluar melalui penis saat terjadi ejakulasi. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkannya, di antaranya adalah diabetes, pembedahan di kemih, prostat atau uretra, dan pengaruh obat-obatan tertentu.

11. Sumbatan di epididimis/saluran ejakulasi


Beberapa pria terlahir dengan sumbatan di daerah testis yang berisi sperma (epididimis) atau saluran ejakulasi. Beberapa pria tidak memiliki pembuluh yang membawa sperma dari testis ke lubang penis.

12. Lubang kencing yang salah tempat (hipoepispadia)


Kelainan bawaan ini terjadi saat lubang kencing berada di bagian bawah penis. Bila tidak dioperasi maka sperma dapat kesulitan mencapai serviks.

13. Antibodi pembunuh sperma


Antibodi yang membunuh atau melemahkan sperma biasanya terjadi setelah pria menjalani vasektomi. Keberadaan antibodi ini menyulitkannya mendapatkan anak kembali saat vasektomi dicabut.

14. Pencemaran lingkungan


Paparan polusi lingkungan dapat mengurangi jumlah sperma dengan efek langsung pada fungsi testis dan sistem hormon. Beberapa bahan kimia yang mempengaruhi produksi sperma antara lain: radikal bebas, pestisida (DDT, aldrin, dieldrin, PCPs, dioxin, furan, dll), bahan kimia plastik, hidrokarbon (etilbenzena, benzena, toluena, dan xilena), dan logam berat seperti timbal, kadmium atau arsenik.

15. Kanker Testis


Kanker testis berpengaruh langsung terhadap kemampuan testis memproduksi dan menyimpan sperma. Penyakit ini paling sering terjadi pada pria usia 18 32 tahun.

Anda mungkin juga menyukai