Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Orang tua memiliki peran penting terhadap perkembangan anak karena orang tua memiliki tugas untuk mengarahkan dan mengajarkan anak tentang berbagai hal yang belum anak ketahui. Tugas menjadi orang tua tersebut dapat digambarkan pada pola asuh terhadap anak. Orang tualah yang menentukan akan menjadi dan seperti apa anak mereka. Orang tua dalam memberikan pola asuh dipengaruhi oleh posisi dan jenis kelamin anak. Anak pertama akan berbeda dengan pola asuh anak kedua, ketiga, dan seterusnya. Begitu pula anak laki-laki juga akan berbeda pola asuhnya dengan anak perempuan. Anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki akan dididik atau diarahkan menjadi seorang pemimpin atau contoh yang baik bagi adik-adiknya kelak sehingga tak jarang orang tua khususnya bapak lebih bersikap keras dalam mendisiplinkan anak laki-laki. Sikap keras seperti membentak, marah, dan memukul dapat memberikan tekanan psikologis pada anak dan dapat pula berujung pada sikap penganiayaan yang dapat menimbulkan trauma pada anak. Tekanan psikologis terhadap sikap keras tersebut dapat diperhatikan pada perkembangan anak yang akan mengalami kemunduran ke tahap perkembangan sebelumnya (regresi). Contoh dari sikap regresi ini seperti temper tantrum pada anak usia pra sekolah dan mengompol pada anak usia sekolah. Enuresis (mengompol) adalah gangguan umum dan bermasalah yang didefinisikan sebagai keluaran urine yang disengaja atau tidak sadar di tempat tidur (pada malam hari) atau pada pakaian di siang hari. Orang tua yang tidak menyadari kenyataan ini kerap kali mempraktikan tindakan umum untuk mencegah mengompol, seperti membatasi minum sebelum tidur dan mungkin memberi hukuman. Enuresis harusnya ditangani sebagai suatu komplikasi penyakit seperti menangani nyeri sendi, sehingga tekanan orang tua pada anak dapat dikurangi.

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah pengaruh posisi ordinal dan jenis kelamin anak terhadap pola asuh orang tua dan pola asuh orang tua yang salah terhadap perkembangan anak yang mengakibatkan regresi. Pembahasan makalah ini akan berfokus pada bagaimana pola asuh orang tua yang tepat terhadap anak mereka
1

sehingga tidak terjadi masalah perkembangan dan peran perawat dalam mengatasi masalah perkembangan yang timbul pada anak akaibat pola asuh orang tua yang kurang tepat. Selain itu, masalah enuresis pada anak juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar seperti pencahayaan dan jarak kamar mandi yang jauh dari kamar anak.

C. Tujuan Penulisan 1. Mahasiswa (perawat) mampu menguraikan pengaruh pola asuh orang tua terhadap tahap perkembangan anak khususnya anak usia sekolah 2. Mahasiswa (perawat) mampu mengidentifikasi kasus yang dikaitkan dengan pola asuh orang tua, tahap perkembangan anak, dan peran perawat dalam mengatasi masalah enuresis dan perkembangan anak 3. Mahasiswa (perawat) mampu membuat rencana asuhan keperawatan berdasarkan kasus dan teori tentang pola asuh dan perkembangan anak

D. Metode Penulisan Penyusun menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mencari data-data atau literatur yang berasal dari buku dalam penyusunan makalah ini. Data-data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan oleh penyusun sehingga penyusun mampu memahami dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

E. Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan; tinjauan teori; analisa kasus; pembahasan kasus; penutup yang meliputi kesimpulan dan saran; dan daftar pustaka.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Definisi Enuresis Enuresis adalah keluarnya urine yang disengaja atau involunter di tempat tidur (biasanya dimalam hari) atau pada pakaian disiang hari dan terjadi pada anak-anak yang usianya secara normal telah memiliki kendali terhadap kandung kemih secara volunter. Pada umur empat tahun seharusnya seorang anak sudah dapat menguasai otot sfingter eksterna vesika urinaria. Dikatakan terdiagnosis enuresis jika terjadi pada anak yang usia perkembangnnya minimal 5 tahun dan terjadi minimal 2 kali seminggu selama 3 bulan.

B. Jenis Enuresis terbagi menurut periode dan waktu terjadiny, antara lain: 1. Berdasarkan Periode Terjadinya a. Enuresis primer Terjadinya enuresis bila sebelumnya tidak pernah ada periode kontinensi selama paling sedikit satu tahun. b. Enuresis sekunder Terjadi bila sebelumnya pernah ada periode kontinensi selama lebih dari satu tahun. 2. Berdasarkan Waktu Terjadinya a. Enuresis nokturna Yaitu enuresis yang hanya terjadi pada waktu malam hari saja, lebih sering didapatkan kasus pada anak-anak. b. Enuresis diurnal Yaitu enuresis yang terjadi pada siang hari ketika anak tidak tidur. c. Enuresis campuran

C. Faktor-Faktor Yang Menjadi Penyebab Enuresis 1. Penyebab Organik: a. Gangguan struktural kandung kemih b. Infeksi saluran kemih c. Defisit neurologis d. Gangguan yang meningkatkan haluaran urine: diabetes

e. Gangguan yang meyebabkan terganggunya dalam pemekatan urine: gagal ginjal kronis, penyakit sabit 2. Faktor Emosional Salah satu penyebab yang seringkali disebut adalah trauma yang dialami pada saat latihan kebersihan (toilet training), misalnya karena orang tua melakukannya dengan terlalu kerasa dengan lebih menekankan kepada pemberian hukuman (negative reinforcement) dariapda pemberian pujian. Beberapa trauma psikis yang dialami pada umur sekitar 2-4 tahun memperbesar kemungkinan terjadinya enuresis. Pengalaman traumatis tersebut misalnya perpecahan keluarga karena perceraian atau kematian, perpisahan dengan ibu untuk jangka waktu sekurangnya satu bulan, kelahiran adik, kehilangan ibu, terutama bila anak dititipkan dirumah yatim piatu, perawatan di rumah sakit yang lama atau berulang. Trauma psikis merupakan salah satu stressor pada setiap orang terutama anakanak. Stressor yang terjadi pada tahap awal akan mempengaruhi kerja sistem tubuh, salah satunya sistem perkemihan. Stressor diinterpretasikan pada korteks serebral, kemudian menstimulasi hipotalamus sehingga mempengaruhi kerja sistem perkemihan melalui sistem saraf simpatis. Pada sistem perkemihan terjadi peningkatan gerakan ureter, peningkatan otot vesika urinaria, dan sfingter menjadi lemah. Stressor yang terjadi dalam terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, tubuh akan melakukan homeostasis melalui sistem hormonal. Stressor diinterpretasikan pada korteks serebral, kemudian menstimulasi pelepasan pada kelenjar pituitari dari hipotalamus. Sistem hormonal yang berkaitan dengan cairan dalam tubuh pada saat stressor terjadi adalah vasopresin atau ADH. Pelepasa hormon vasopresin atau ADH ini mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan darah melalui penyempitan pembuluh darah dan peningkatan retensi cairan. Pola asuh anak juga mempengaruhi dengan kebiasaan mengompol. Posisi anak sebagai anak pertama, terakhir atau anak tunggal juga mempengaruhi kebiasaan anak dalam mengompol. 3. Faktor Keturunan Kebiasaan mengompol bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Menurut data yang didapatkan, anak yang memiliki kebiasaan mengompol biasanya memiliki orang tua yang dahulu juga suka mengompol.

4. Faktor Lingkungan Lingkungan mempengaruhi kebiasaan anak dalam melakukan toileting, salah satunya letak kamar mandi yang jauh dan juga pencahayaan yang kurang sehingga anak menjadi enggan untuk ke kamar mandi. 5. Tahap Tidur Anak Anak yang tidur dengan tahap non-rem memiliki tidur yang nyenyak, sehingga sangat sulit untuk bangun, oleh karena itu, saat kandung kemih penuh dan sfingter eliminasi terangsang anak tetap tidur dan akhirnya mengeluarkannya di atas tempat tidur. 6. Pola Konsumsi Anak Pola konsumsi anak juga mempengaruhi anak tersebut mengalami enuresisi, dengan pola makan dan minum yang banyak sebelum dia tidur, akan meningkatkan proses pencernaan saat malam hari, sehingga hasilnya bisa berupa pengingkatan keinginan bunag air kecil maupun buang air besar.

D. Gejala Utama Enuresis Desakan yang timbul cepat disertai dengan ketidaknyamanan akut Gelisah Sering berkemih

E. Penatalaksanaan Manajemen Enuresis Berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengehentikan enuresis dengan hasil yang sangat individual: 1. Terapi Non Farmakologis Membangunkan anak tengah malam untuk kencing, namun hal ini kurang begitu efektif karena anak tetap ngompol bila lupa dibangunkan Membatasi pemasukan cairan sebelum tidur Melatih anak untuk mengendalikan retensi. Pada siang hari bila merasakan keinginan untuk kencing anak harus mencoba menahannya untuk beberapa menit. Waktu penahanan ini makin diperlama sehingga bisa mencapai 45 menit. Banyak anak yang berhasil berhenti mengompol dengan cara ini

Berikan positive reinforcement. Bila anka tidak mengompol maka pada kertas catatan yang khusus dibuat untuk itu diberi tanda gambar sebuah bintang. Dengan cara sederhana seperti ini beberapa nak dapat berhenti mengompol.

Memakai alas kasur khusus yang mengandung benda logam tertentu yang dihubungkan dengan alarm. Bila alas tersebut basah maka alarm akan berbunyi sehingga anak terbangun, kemudian ia harus kencing dan baru boleh tidur lagi setelah mengganti alas kasurnya yang basah. Ternyata bahwa cara terakhir inilah yang paling efektif untuk menghentikan enuresis.

2. Terapi Farmakologis Ada beberapa jenis obat yang sering digunakan dalam usaha menghentikan enuresis, yaitu : Golongna amfetamin, digunakan dengan pemikiran untuk mengurangi kedalaman tidur anak. Namun tidak ada bukti yang jelas bahwa anak yang menderita enuresis mempunyai pola tidur yang lebih dalam. Golongna ini kalah ampuh disbanding dengan golongan imipramin. Golongan antikolinergik, digunakan untuk mengurangi kontraksi otot detrusor sehingga diharapkan terjadi retensi urin. Namun pada suatu penelitian tidak terbukti adanya efek antienuretik yang jelas Golongan antidepresan trisiklik, misalnya imipramin, amitriptilin, nortriptilin maupun desmetilimiprami, mempunyai efek ati-enuretik yang sama. Imipramin mempunyai efek pada pola tidur, yaitu mengurangi kuantitas tidur REM, selain itu menambah volume fungsional vesica urinaria. Imipramin mengurangi frekuensi ngompol pada sekitar 85% anak enuretik, dan bisa menghentikan ngompol pada sekitar 30% penderita. Namun ternyata banyak yang ngompol kembali 3 bulan setelah obat dihentikan. Bila dosisnya tepat (maksimal 5 mg/kg BB), biasanya efek obat sudah tampak setelah pemakaian satu minggu. Efek pemakaina obat jangka panjang belum diketahui. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa imaprimin menimbulkan efek hipertensi pada anak yang berhubungan erat dengan meningginya kadar imaprimin dalam serum.efek samping paling sering adalah akan bermulut kering, pusing, sakit kepala, dan konstipasi. Beberapa anka yang hiperaktif akan bertambah gejala hiperaktifnyaobat golongan trisiklik sebaiknya jangan diberikan pada anak
6

dibawah usia 4 tahun oleh karena mudah menimbulkan toksisitas, dengan gejala kejang, halusinasi, retensi urin, dan iregularitas jantung. Golongan vasopeptid DDAVP (desamino-D-arginine vasopressin), dapat menghentikan gejala enuresis pada 40% penderita. Namun seperti juga halnya dengna golongan imipramin, gejala enuresis sering timbul kembali sekitar 3 bulan setelah obat dihentikan.

F. Tahap Perkembangan Anak Usia Sekolah Anak usia sekolah dimulai ketika anak telah berusia 6 tahun (mulai masuk sekolah dasar) dan berakhir pada usia 13 tahun sebagai awal dari masa remaja (Friedman, 2003). Secara psikososial periode anak usia sekolah dimulai saat anak masuk lingkungan yang lebih luas dari lingkungan rumahnya, anak mulai mengenal sekolah yang mempunyai dampak signifikan terhadap perkembangan dan interaksi anak. Perkembangan anak usia sekolah meliputi perkembangan biologis, spiritual, bahasa, sosial, konsep diri, dan seksual. Perkembangan biologis termasuk perkembangan pada proporsional dan kematangan system tubuh. Perkembangan fisiologis usia sekolah ditandai dengan tanggalnya gigi susu diganti dengan gigi permanen yang lebih kuat. Perkembangan spiritual, anak mulai punya keinginan untuk belajar beribadah, dan mulai takut berbuat nakal. Perkembangan bahasa, anak menguasai kosa kata dan mampu bercerita serta mulai mengembangkan komunikasi yang lebih terfokus. Perkembangan social, anak berinteraksi dengan kelompok sebaya dan menghabiskan waktu bersama mereka, serta mampu bekerja sama. Perkembangan konsep diri, anak mulai kenal gambaran diri, mulai muncul perasaan malu, serta rasa percaya diri. Perkembangan seksual, anak dimulai mengembangkan permainan yang membedakan jenis kelamin juga pendidikan seks mulai diberikan. (Perry & Potter, 2005; Kozier et. all., 2004; Wong, et. all., 2003).

BAB III ANALISA KASUS

A. Kasus Seorang anak laki-laki bernama Nino, usia 9 tahun, tetapi Nino masih mengompol tiap malam hari. Ibunya sudah berkonsultasi ke dokter dan Nino dinyatakan tidak mempunyai masalah dengan ginjalnya, bisa dikatakan ginjal Nino sehat. Sang ibu selalu mengingatkan Nino untuk tidak banyak minum pada sore hari dan buang air kecil sebelum tidur. Latar belakang Nino adalah anak laki-laki satu-satunya. Nino sulung dari 3 bersaudara. Ayah Nino adalah seseorang yang bersifat keras dan mendisiplin anaknya dengan tinggi. Bila Nino nakal dan tidak menurut, Nino akan dipukul sambil dibentakbentak. Bila sedang belajar dan Nino tidak bisa mengerjakan soal, ayahnya akan memukul Nino. Nino tidak berani menangis karena apabila menangis ayahnya akan bertambah marah.

B. Analisa Data Temuan Dari kasus diatas, pada anak Nino dia mengalami enuresis. Enuresis adalah keluarnya urine yang disengaja atau involunter di tempat tidur (biasanya dimalam hari) atau pada pakaian disiang hari dan terjadi pada anak-anak yang usianya secara normal telah memiliki kendali terhadap kandung kemih secara volunter. Pada umur empat tahun seharusnya seorang anak sudah dapat menguasai otot sfingter eksterna vesika urinaria. Dikatakan terdiagnosis rnuresis jika terjadi pada anak yang usia perkembangnnya minimal 5 tahun dan terjadi minimal 2 kali seminggu selama 3 bulan. Berikut ini akan dibahas mengapa anak Nino mengalami Enuresis. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya enuresis pada anak Nino : 1) Faktor Psikologis: Posisi Anak Sulung Dan Pola Asuh Orang Tua Posisi anak mempengaruhi kepribadian anak tersebut, orang tua memberi perlakuan yang berbeda terhadap anak-anaknya, dan interaksi saudara kandung juga bergantung pada posisi anak dalam keluarga tersebut. Karakter anak pertama: Lebih berorientasi pada pencapaian Lebih dominan
8

Menerima hukuman fisik lebih banyak Menunjukkan perilaku agresi terhadap saudara kandungnya Mempunyai hati nurani yang lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih terarah Secara sosial mudah cemas Lebih cepat merasa bersalah Identifikasi lebih menyeruapai orang tua daripada teman sebaya Lebih konservatif Merupakan subjek yang lebih menjadi harapan orang tua Mulai belajar bicara lebih awal Menunjukkan pencapaian intelektual yang lebih tinggi Membuat rencana lebih baik dan menglaami frustasi yang lebih sedikit Cenderung menjadi seseorang iyang sangat diinginkan Mengompol atau enuresis bisa dipengaruhi oleh posisi anak, ketika anak teresebut

merupakan anak pertama dan dia memiliki adik, maka yang mungkin terjadi adalah perbedaan kasih sayang dari orang tua nya yang bisa menyebabkan peraasaan iri, sehingga dia melakukan susuatu untuk menarik perhatian orang tuanya. Karena sifat anak sulung yang cenderung lebih menjadi harapan orang tua maka orang tua akan lebih ketat dan disiplin dalam mengasuh anak, bahkan pola asuh bisa berubah dan mengarah pada pola asuh yang otoriter yaitu pola asuh yang cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancamanancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Oleh karena itu, mendapat hukuman yang lebih banyak menjadi salah satu karakteristik dari anak pertama. Hukuman yang diberikan bisa saja menjadi boomerang tersendiri, anak bisa menglami trauma, sehingga anak menjadi akan berada pada fase ketakutan yang luar biasa. Rasa cemas yang berlebihan merupakan faktor yang mendorong anak berada dalam kondisi stress. Stressor

Diinterpretasi pada korteks serebral

Hipotalamus (menstimulasi)
9

Kelenjar Pituitari (melepaskan)

Adrenocorticotropic Hormone (ACTH)

Vasopressin (ADH)

Growth Hormone

Thyrotropic Hormone

Gonadotropins

Stimulates

Increase blood

Direct effect on protein, carbohydrate, and lipid metabolism, resulting in increaased serum glucose and free fatty acids

Stimulates

(Initially) Increase sex

Adrenal Cortex

pressure through

Thyroid Gland

hormones; Later, with sustained

Releases

constriction of blood

Increase Basal Metabolic Rate (BMR)

stress: Decrease secretion of sex hormones

1. Glucocorticoids Increase gluconeo-genesis Decrease immune response Decrease inflammatory response 2. Mineralocorticoids Increase retention of sodium water

vessels Increase fluid retention

Decrease libido, frgidity, and impotence

Pada kondisi stress, sekresi vasopresin (ADH) mempengaruhi dalam peningkatan retensi cairan dalam tubuh, jumlah pembentukan urine akan meningkat karena tidak ada yang mencegah pembentukan urine. 2) Faktor Lingkungan: Jarak Kamar Mandi dan Pencahayaan Anak dengan kebiasaan mengompol pada malam hari, tidak mutlak merupakan kesalahan dari dalam diri anak ataupun karena anak mengalami gangguan dalam tubuhnya, faktor lingkungan juga mempengaruhi anak suka mengompol. Dengan kamar mandi yang jauh dari kamarnya membuat anak enggan bangun dan beranjak dari kamar tidurnya sehingga bisa saja anak yang saat tidur tiba ingin buang air kecil jadi
10

mengeluarkan di tempat tidur. Selain itu pencahayaan, pencahayaan yang kurang membuat anak merasa takut sehingga ia enggan buang air kecil dimalam hari. 3) Pola Tidur Anak Anak yang tidur pada fase Non-Rem memiliki ciri-ciri tidur yang sulit dibangunkan atau dengan kata lain fase tidurnya berada pada tidur yang nyenyak. Pada saat kandung kemih terisi penuh dan menstimulasi anak untuk buang air kecil tapi dalam keadaan anak sedang tidur dalam tahap Non-Rem membuat anak tidak sadar, dan akhirnya mengompol. Selain itu mimpi yang ada dalam tidur anak juga mempengaruhi. 4) Kegagalan Toilet Training Dimasa Yang Lalu Toilet Training atau melatih ke toilet merupakan salah satu pendidikan yang diajarkan pada anak agar bisa mandiri ke toilet dan tidak bergantung terus pada diapers. Toilet training biasanya mulai diajarkan pada anak ketika anak berusia 2 tahun, kegagalan dari toilet traning memiliki efek domino pada tingkat perkembangan anak selanjutnya. Mengompol saat tidur malam hari merupakan salah satu efek yang ditimbulkan.

Jika dilihat dari kasus anak Nino umur 9 tahun, dapat diidentifikasi bahwa dia berada di usia sekolah. Di usia prasekolah anak mengalami lompatan kemajuan yang menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik, tapi juga sosial dan emosional. Sementara beberapa bentuk kemandirian yang sudah terbentuk/mulai dirintis sejak usia batita semakin menunjukkan kesempurnaan. Di antaranya kemampuan anak dalam mengontrol keinginan untuk BAK dan BAB. Anak sudah tahu kapan dia ingin BAK atau BAB sekaligus mampu menahan keinginan tersebut sampai ia masuk ke dalam toilet/kamar mandi. Secara fisik mereka juga sudah bisa jongkok atau duduk dengan baik di kloset. Pada kasus diketahui bahwa Nino, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun (usia sekolah) masih mengompol. Anak-anak akan berhenti mengompol dengan beranjaknya usia. Kebanyakan anak sudah tidak mengompol pada usia tiga sampai empat tahun namun Nino masih mengompol di usia 9 tahun. Hal ini menunjukkan terjadinya regresi pada diri Nino. Seorang anak dikatakan mengalami regresi bila ia kembali bertingkah laku seperti pada fase perkembangan sebelumnya. Regresi adalah kembalinya pola fungsi seseorang saat ini ke tingkat perilaku sebelumnya. Regresi biasanya terjadi pada saat tidak nyaman atau stress. (Wong, 2009). Regresi merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri anak. Ini muncul karena anak mengalami kecemasan, kekecewaan atau malah pengalaman
11

traumatis yang cukup mengganggu kondisi psikologisnya. Di lain pihak, ia sendiri tidak mampu menangani masalahnya hingga anak pun jadi frustrasi. Dengan regresi, individu dapat lari dari keadaan yang tidak menyenangkan dan kembali lagi pada keadaan sebelumnya yang dirasakannya penuh dengan kasih sayang dan rasa aman, atau individu menggunakan strategi regresi karena belum pernah belajar respons-respons yang lebih efektif terhadap problem tersebut atau dia sedang mencoba mencari perhatian. Kemunduran perilaku dapat disebabkan berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan atau adanya situasi asing maupun orang-orang baru di sekitarnya. Misalnya bila anak memiliki adik, memasuki sekolah baru, mendapat pengasuh baru, atau selalu menyaksikan ayah ibunya bertengkar. Regresi juga biasanya muncul ketika anak merasa marah, ingin menarik perhatian atau mencari kasih sayang dari orangtua. Dalam kondisikondisi seperti ini secara tidak sadar anak akan memunculkan regresi karena kebutuhankebutuhannya yang tidak terpenuhi. Regresi yang terjadi pada Nino disebabkan oleh factor fisik dan psikologis. Factor fisik diantaranya: 1. Kapasitas kandung kemih yang lebih kecil daripada rata-rata, sekalipun kandung kemih itu sendiri berukuran normal. Pada anak-anak seperti ini, sensasi ingin kencing terjadi lebih sering. 2. Lebih banyak menghasilkan urine daripada rata-rata anak karena produksi hormon antidiuretik (hormon yang mencegah pembentukan air seni) yang tidak memadai. Faktor psikologis merupakan penyebab lain timbulnya regresi dalam diri Nino. Nino adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Regresi dapat muncul ketika Nino mendapat adik. Hatinya cemas karena potensi sibling rivalry atau persaingan dengan saudara. Sebelum mempunyai adik, Nino lah yang menjadi pusat perhatian dalam keluarga. Saat masih ingin disayang, orangtua justru menuntutnya harus mandiri. Selain karena Nimo memang sudah seharusnya mampu membantu diri sendiri, kini ia pun sudah punya adik bayi yang memerlukan perhatian ekstra dari ayah dan ibunya. Akhirnya timbulah kekecewaan Nino yang akhirnya diperlihatkan dengan kemunduran perilaku, mengubah perilakunya persis seperti adik bayi yang masih mengompol hanya agar mendapat perhatian lagi dari ayah dan ibunya. Kekecewaan ini tidak ditangani dengan baik oleh orang tua sehingga kemunduran perilaku Nino terus berlanjut sampai ia berusia 9 tahun dan masih mengompol.
12

Selain sibling rivalry yang terjadi pada Nino, factor lain yang menyebabkan ia masih mengompol adalah kondisi keluarga yang tidak kondusif. Ayah Nino adalah seorang yang bersifat keras dan mendisiplinkan anaknya dengan tinggi. Bila Nino nakal dan tidak menurut, Nino akan dipukul sambil dibentak. Bila sedang belajar dan Nino tidak bisa mengerjakan soal, ayahnya akan memukul Nino. Nino pun tidak berani menangis karena apabila menangis ayahnya akan bertambah marah. Kondisi seperti ini menimbulkan ketakutan dalam diri anak. Anak menjadi cemas, tertekan, dan stress yang kemudian memunculkan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat dikemukakan oleh Sigmund Freud: "Such defense mechanisms are put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable impulses may reemerge." (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002.

13

BAB IV PEMBAHASAN KASUS

A. Pengkajian Enuresis Pada Anak Pengelompokan data subjektif dan data objektif : Data Subjektif Ibu Nino mengatakan bahwa anaknya masih mengompol di malam hari disaat usianya sudah menginjak 9 tahun. Nino menyatakan tidak berani menangis jika dia tidak bisa mengerjakan soal pada saat belajar karena takut dengan ayahnya. Ibu Nino mengatakan bahwa ayah Nino adalah orang yang bersifat keras dan disiplin dalam mendidik anaknya. Data Objektif Nino, anak laki-laki berumur 9 tahun, dan sulung dari 3 bersaudara. Nino lebih banyak berdiam diri karena ketakutan

Komponen Pengkajian 1) Kaji batasan karakteristik Awitan Pola (siang hari, malam hari) Jumlah episode dalam sebulan

2) Kaji faktor yang berhubungan Riwayat toilet training Riwayat mengompol di keluarga Respon orang lain (orang tua, teman sebaya, saudara kandung) Perubahan atau stressor saat ini: (Sekolah, teman sebaya, saudara kandung baru, perpindahan, masalah keluarga) Inatensi terhadap isyarat kandung kemih
14

Penganiayaan seksual

3) Kaji pola frekuensi berkemih klien yang biasa. Tanyakan berapa kali rata-rata klien berkemih setiap harinya. Tentukan adanya perubahan baru-baru ini mengenai berkemih dengan memperhatikan: keluarnya sejumlah besar urine, keluarnya sejumlah kecil urine, berkemih dengan interval waktu yang lebih sering, mengalami kesulitan mencapai kamar mandi pada waktunya atau merasa terdesak (urgensi) untuk berkemih, berkemih disertai rasa nyeri, mengalami kesulitan dalain memulai berkemih, urine sering menetes atau kandung kemih terasa penuh terkait dengan keluarnya sejumlah kecil urine, tekanan aliran kemih berkurang, adanya rembesan urine ketika terjadi halhal berikut ini (misalnya jika batuk, tertawa, atau bersin, saat malam hari; ketika siang hari. 4) Dapatkan riwayat medis mengenai masalah eliminasi, riwayat penyakit atau pembedahan saluran kemih, dan penyakit lainnya yang dapat memengaruhi masalah eliminasi urine, termasuk: infeksi ginjal, kandung kemih, atau uretra; batu di saluran perkermihan; pembedahan ginjal; pembedahan kandung kemih yang mengubah jalur perkemihan (misalnya ureterostomi); penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi atau penyakit jantung; penyakit kronis yang mengubah karakteristik perkemihan atau mengganggu fungsi perkemihan, seperti diabetes melitus, penyakit saraf/ neurologic (misalnya : sklerosis multipel dan kanker) 5) Riwayat sosial meliputi : Kemampuan eliminasi (usia pada saat anak dapat mengendalikan defekasi dan berkemih di waktu siang dan malam hari atau tingkat pengendalian saat ini, enuresis, enkopresis, kemampuan melakukan eliminasi sendiri, istilah yang digunakan) Tidur (jumlah dan pola tidur siang dan malam hari, ritual waktu tidur dan objek yang aman, ketakutan, dan mimpi buruk) Kemampuan berbicara (cadel, gagap, jelas). Seksualitas (hubungan dengan lawan jenis, keingintahuan tentang informasi dan aktivitas seksual, jenis informasi yang diberikan anak) Sekolah (tingkatan dalam sekolah, prestasi akademik, penyesuaian terhadap sekolah) Kebiasaan (mengisap ibu jari, menggigit kuku, pika (kebiasaan memakan selain makanan , seperti tanah), membenturkan kepala)
15

Disiplin (metode-metode yang digunakan, respon anak terhadap disiplin) Kepribadian dan watak (keserasian, agresif, temper trantum, menarik diri, hubungan dengan teman sebaya dan keluarga). 6) Evaluasi fisik dan psikososial yang lengkap dilakukan untuk menentukan patologi penyakit, seperti infeksi saluran kemih, anemia sel sabit, deficit neurologic, diabetes, dan masalah-masalah psikogenik. 7) Manifestasi klinis a) Ngompol di tempat tidur pada malam hari b) Urgensi urine, disuria, ketidakberdayaan, dan kemungkinan frekuensi berkemih 8) Temuan pemeriksaan diagnostic dan laboratorium. a) Urinalisis dapat dilakukan untuk menegakkan ISK dan diabetes b) Uji sel sabit dapat dilakukan untuk menegakkan anemia sel sabit.

Pengkajian Diagnostik: Pendekatan Diagnostik Sejarah (Enuresisspesifik) Umur saat onset dari enuresis, durasi dan keparahan enuresis, durasi kontinensia Sejarah penyakit medis (misalnya, diabetes mellitus, sleep apnea) mungkin menyarankan enuresis nonmonosymptomatic Sejarah psikososial (gangguan psikologis yang hadir dalam sepertiga pasien dengan enuresis sekunder) Riwayat enuresis di keluarga (kondisi ini lebih umum pada pasien dengan riwayat keluarga, dalam kasus kembar, baik anak-anak biasanya terpengaruh) Asupan cairan harian, kandung kemih dan buku harian stooling, frekuensi / volume bagan (catatan membantu menilai sembelit, keparahan enuresis, dan respon pengobatan) Investigasi dan sejarah pengobatan bendera Merah: disuria, nyeri alat kelamin atau dubur atau debit, berusaha untuk buang air kecil, frekuensi diurnal dan nokturnal dikombinasikan dengan enuresis (menyarankan enuresis
16

Komponen

nonmonosymptomatic) Pemeriksaan fisik Telinga, hidung, dan pemeriksaan tenggorokan untuk mendeteksi hipertrofi adenotonsillar pemeriksaan perut untuk mendeteksi kandung kemih membesar atau ginjal dan massa fekal menunjukkan encopresis pemeriksaan genital untuk mendeteksi hipospadia atau epispadias, stenosis meatus, ureter ektopik, dan adhesi labial pemeriksaan rektal untuk mengevaluasi sensasi perianal dan perineum dan nada sfingter rektal dan untuk mendeteksi perianal excoriation dan vulvovaginitis Fokus pada evaluasi neurologi, termasuk kecepatan, tonus otot, kekuatan, dan sensasi perineal Bendera merah (menunjukkan perlunya penyelidikan lebih lanjut): adenotonsillar hipertrofi, patologi tulang belakang (spinal) (deformitas, lubang kecil pada sacral menyarankan underlying spinal dysraphism), kehilangan motor sensorik dan reflek tendon abnormal pada tungkai bawah, kandung kemih yang membesar atau ginjal,gaya berjalan yang abnormal, tanda-tanda dari pelecehan seksual Urinalisis, kultur Deteksi infeksi saluran kemih, diabetes mellitus, diabetes insipidus urin * Hitung darah, serum kimia * Blood urea nitrogen dan serum kreatinin untuk mendeteksi kegagalan ginjal kronis, kadar glukosa serum untuk mendeteksi diabetes, elektroforesis hemoglobin untuk mendeteksi penyakit sel sabit, serum thyroid-stimulating hormon untuk mendeteksi tingkat hipertiroidisme Imaging studies* Ultrasonografi ginjal dan kandung kemih dan cystourethrography tidak berlaku untuk kelainan struktural yang dicurigai, mengompol di siang hari yang signifikan, atau infeksi saluran kemih berulang untuk mendeteksi refluks vesicoureteral Magnetic Resonance Imaging dari tulang belakang lumbosakral untuk dysraphism tulang belakang yang dicurigai atau temuan pemeriksaan neurologis abnormal Urodynamic Pengukuran urin residu dan cystometry untuk mengevaluasi disfungsi
17

studies *

kandung kemih.

*_ : Diperlukan hanya jika penyebab sekunder yang diduga, bendera merah terdeteksi pada sejarah atau pemeriksaan, atau pasien tidak merespon terhadap pengobatan standar

B. Diagnosa dan Intervensi 1. Diagnosa 1: Kecemasan b.d. ancaman terhadap integritas emosi dan fisikal Krtiteria Hasil: Level kecemasan (NOC): anak terlihat rileks dan menunjukkan kesembuhan dari manifestasi somatik dari ansietas. Menunjukkan penurunan keluhan somatik dan gejala fisikal ketika dihadapkan dengan situasi yang menekan. Kontrol diri terhadap kecemasan (NOC) : tergabung pada kegiatan yang sesuai dengan usia dengan ketidakhadiran orangtua tanpa menunjukkan rasa takut atau tertekan Intervensi : Intervensi Kaji tingkat ansietas klien Rasional Tingkat ansietas menunjukkan kemampuan klien untuk menyelesaikan situasi sendiri atau membutuhkan bantuan untuk mengatasi. Tentukan bagaimana koping klien terhadap kecemasan Hal ini dapat dilakukan dengan wawancara klien. Pengkajian ini membantu menentukan keefektifitasan dai strategi koping yang saat ini digunakan oleh klien Bangun suasana yang tenang, saling percaya, dan berikan salam yang tulus Kepercayaan dan penerimaan yang tulus sangat dibutuhkan untuk mencapai kepuasan hubungan perawat/anak/keluarga. Ketenangan juga penting karena ansietas mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain dan anak anak biasanya mahir dalam merasakan perubahan mood pada orang dewasa sekitar mereka Bicara terus terang kepada anak dan orang tua Promosikan interaksi keluarga : kontak antara anak dan Membangun kepercayaan dan meningkatkan hubungan dengan perawat/pemberi layanan kesehatan Keterlibatan keluarga dalam aktivitas mempromosikan keberlanjutan dari unit keluarga, menyediakan
18

keluarga. Dukung orang untuk berpartisipasi dalam perencanaan keperawatan dan peraturan perawatan Bantu keluarga mendukung anak secara emosional dengan hadir dan menjadi pendengar aktif Sediakan pilihan untuk anak ketika memungkinkan Jadwalkan waktu luang untuk

kesempatan untuk belajar/latihan keterampilan baru dan menunjang kemampuan koping.

Sampaikan penerimaan terhadap anak dan percaya diri dengan kemampuan untuk menghadapi situasi

Meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi, menunjukkan sikap menghargai Meningkatkan rasa kenormalan dan membantu

bermain dan hiburan yang sesuai mengalihkan perrhatian dari situasi tidak dengan umurnya. Gunakan mainan (contoh : boneka tangan, rumah rumahan, lilin) menyenangkan yang dialami. Terapi bermain memungkinkan anak untuk dapat mengeksplorasi konflik ang dialami, mengutarakan rasa takut, dan melepaskan ketegangan Lakukan program latihan yang sesuai dengan situasi yang dialami anak Menghilangkan ketegangan. Mungkin dapat menstimulasi pelepasan endorphine, menurunkan kecemasan dan meningkatkan kemampuan anak untuk menghadapi penyakit/situasi.

2. Diagnosa 2: Perubahan perkembangan b/d perubahan lingkungan (konflik atau stressor) Tujuan umum: Anak mencapai tugas perkembangan sesuai dengan kelompok usianya Tujuan khusus: a. Anak mampu beradaptasi dengan keadaan sekitar b. Anak mampu BAK di tempatnya dan sesuai dengan waktunya Kriteria evaluasi: Anak tidak mengompol lagi di malam hari Intervensi dan rasional: Intervensi Membatasi pemasukan cairan Rasional Mengurangi kemungkinan ingin BAK saat
19

sebelum tidur Melatih mengendalikan retensi dan bladder training dengan benar Bicarakan dengan anak tentang perawatan yang akan dilakukan dan mintakan masukan dari anak Beri kesempatan anak untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya Hargai perilaku anak yang positif

tidur di malam hari Meningkatkan kemampuan anak menahan BAK sampai ke toilet Melibatkan anak akan membuat anak merasa dihargai

Melatih anak untuk belajar dari teman sebayanya

Anak akan merasa dihargai atas usahanya dan akan melakukan usaha yang lebih baik lagi

3. Diagnosa ketiga: Perubahan peran menjadi orang tua yang berhubungan dengan karakteristik anak, pemberi perawatan, dan situasi yang mencetuskan perilaku penganiayaan. DO: a. Nino merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan anak laki-laki satusatunya b. Ayah Nino adalah seorang bersifat keras dan mendisiplinkan anaknya dengan tinggi c. Ayah Nino akan memukul dan membentak jika Nino nakal, tidak menurut, dan tidak dapat mengerjakan soal ketika sedang belajar DS: Nino tidak berani menangis karena apabila menangis ayahnya akan bertambah marah Tujuan Umum: Pasien (keluarga) merubah pola asuh terhadap anak TUK 1: Pasien (Keluarga) memperlihatkan bukti interaksi positif dengan anak Kriteria Hasil: Keluarga memperlihatkan bukti interaksi positif dengan anak yang ditunjukkan dengan orang tua tidak berlaku keras seperti marah dan membentak Intervensi Keperawatan/Rasional: a. Identifikasi keluarga mengenai resiko kemungkinan terjadinya tindakan penganiayaan sehingga intervensi yang tepat dapat diberikan
20

b. Tingkatkan ketertarikan orang tua terhadap anak, karena semua anak memiliki kebutuhan akan ketertarikan orang tua terhadap dirinya c. Tekankan praktik keperawatan anak, terutama metode disiplin yang efektif, karena orang tua mungkin tidak memiliki pengetahuan mengenai metode disiplin yang tidak mengandung kekerasan d. Tingkatkan perasaan adekuat dan harga diri orang tua,untuk memberikan rasa percaya diri mengenai perubahan pola asuh pada anak e. Dorong sistem pendukung untuk mengurang stres dan tanggung jawab pengasuhan anak pada salah satu atau kedua orang tua

TUK 2: Pasien (Keluarga) mendapatkan dukungan yang adekuat Kriteria Hasil: Orang tua memperlihatkan hasil aktivitas menjadi orang tua yang tepat Intervensi Keperawatan/Rasional: a. Berikan penjelasan mengenai pola asuh anak dengan mengarahkan perhatian kepada orang tua, mengambil alih tanggung jawab perawatan anak sampai orang tua merasa siap untuk berpartisipasi, dan pusatkan pada kebutuhan orang tua, sehingga orang tua tersebut pada akhirnya dapat memenuhi kebutuhan anak b. Sampaikan sikap yang tulus memberi perhatian bukan sikap yang menuduh atau menghukum, karena tindakan ini hanya akan semakin mengasingkan keluarga c. Rujuk orang tua ke kelompok pendukung khusus atau konseling untuk dukungan jangka panjang

TUK 3: Pasien (Keluarga) memiliki pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan normal pada anak Kriteria Hasil: Orang tua memperlihatkan pemahaman akan harapan yang normal bagi anak mereka Intervensi Keperawatan/Rasional: a. Ajari harapan yang realistis mengenai perilaku dan kemampuan anak

21

b. Tekankan metode disiplin alternatif, seperti penghargaan, time-out, hukuman, dan ketidaksetujuan yang diungkapkan secara verbal, sehingga orang tua belajar mengenai metode disiplin tanpa kekerasan c. Anjurkan metode tentang menangani masalah atau tujuan perkembangan, seperti toilet training dan kemandirian, karena situasi ini dapat mencetuskan penganiayaan d. Ajarkan melalui demonstrasi dan model peran, daripada ceramah; hindari pendekatan otoriter karena keluarga mungkin peka terhadap kritik atau dominasi dan kehilangan harga diri

C. Peran Perawat Dalam Menghadapi Kemunduran Perilaku Yang Terjadi Pada Nino Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada orang tua Nino dalam menyelesaikan masalah regresi yang terjadi pada Nino. Orang tua seringkali khawatir terhadap perilaku regresif dan menghadapinya dengan memaksa anak untuk menghadapi sumber stress tambahan. Orang tua dianjurkan agar tidak menghukum, memarahi, atau mengolok-olok anak-anak yang sering mengompol. Bahkan hal itu akan memperparah situasi, karena harga diri anak jatuh dan anak akan kehilangan kepercayaan diri akan kemampuannya menghadapai masalah. Pendekatan terbaik ketika regresi terjadi adalah mengacuhkannya sementara memuji pola perilaku benar yang sudah ada. Dengan menjalin komunikasi yang lebih erat dan penuh kehangatan, anak akan merasa diperhatikan sekaligus terpuaskan kebutuhannya mendapatkan kasih sayang. Pada anak yang mengalami sibling rivalry, curahkan perhatian dengan porsi yang kurang lebih sama dengan adik bayinya agar ia tak merasa diabaikan/disisihkan. Sebagai kakak libatkan ia dalam pengasuhan adiknya sehingga ia pun merasa istimewa dengan peran barunya sebagai seorang kakak. Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua Nino untuk mencegah terjadinya perilaku mengompol pada Nino, seperti: 1. Membatasi minum pada malam hari 2. Menghindarkan anak mengkonsumsi coca-cola, teh, cocoa dan cokelat; karena semuanya mengandung kafein yang bersifat diuretic 3. Jadwalkan pergi ke kamar mandi, sekali 30 menit sebelum waktu tidur, dan berikutnya tepat sebelum anak diselimuti
22

4. Pada siang hari bisa dilakukan latihan tidak mengompol. Dr. Sheldon menjelaskan: Anak naik ke tempat tidur dan berpura-pura tidur. Setelah semenit, dia berpura-pura merasa ingin kencing, kemudian pura-pura bangun, turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Tujuan pelatihan ini adalah mengakrabkan anak pada rutinitas meninggalkan tempat tidurnya, berjalan ke kamar mandi dan menggunakan toilet. 5. Berikan pujian atau reward ketika anak berhasil tidak mengompol. 6. Libatkan anak untuk membantu anda membersihkan tempat tidurnya, dalam suasana kerjasama yang baik, tanpa kemarahan. 7. Jangan memperlakukan anak seperi bayi dengan memaksa dia mengenakan popokatau celana plastik, atau dengan tidak memperbolehkannya tidur di atas kasur.

23

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Enuresis adalah keluarnya urine yang disengaja atau involunter di tempat tidur (biasanya dimalam hari) atau pada pakaian disiang hari dan terjadi pada anak-anak yang usianya secara normal telah memiliki kendali terhadap kandung kemih secara volunter. Perkembangan anak usia sekolah meliputi perkembangan biologis, spiritual, bahasa, sosial, konsep diri, dan seksual. Perkembangan biologis termasuk perkembangan pada proporsional dan kematangan system tubuh. Perkembangan fisiologis usia sekolah ditandai dengan tanggalnya gigi susu diganti dengan gigi permanen yang lebih kuat. Perkembangan spiritual, anak mulai punya keinginan untuk belajar beribadah, dan mulai takut berbuat nakal. Perkembangan bahasa, anak menguasai kosa kata dan mampu bercerita serta mulai mengembangkan komunikasi yang lebih terfokus.

B. Saran Sebagai seorang perawat anak, ada beberapa layanan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan enuresis yang timbul pada anak usia sekolah. Pelayanan tersebut berupa pelayanan keperawatan secara langsung (Direct Care) terhadap individu maupun keluarga dengan mempertimbangkan bagaimana masalah tersebut dapat mempengaruhi keluarga dan individu. Perawat perlu melakukan proses keperawatan dengan memulai pengkajian faktor risiko hingga implementasi, dan pendidikan kesehatan. Untuk melakukan proses keperawatan tersebut, perawat dapat menggunakan beberapa model keperawatan konseptual sebagai acuan dalam memberikan asuhan keperawatan.

24

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. Lynda Juall. (2009) . Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Pasien Klinis. Edisi Ke-9. Jakarta : EGC. Engel, Joyce. (2008). Seri Pedoman Praktis : Pengkajian Pediatrik. Edisi 4. Jakarta : EGC. http://www.aafp.org/afp/2008/0815/p489.html (diakses pada tanggal 8 Mei 2011 pukul 13.33) Markum, A. H., dkk. (1991). Buku ajar ilmu kesehatan anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Muscari, Mary E. (2005). Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik. Edisi ketiga. Jakarta: EGC. Potter, Patricia A. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: konsep, proses dan praktik. Jakarta: EGC Ramakrishnan, Kalyanakrishnan. (2008). Evaluasi Dan Penanganan Enuresis. Style sheet : Townsend, Mary C. (2000). Psychiatric mental health nursing: concepts of care. USA: F.A. Davis Company Wong, Donna L, dkk. (2008). Buku ajar keperawatan pediatrik. Jakarta: EGC

25