Anda di halaman 1dari 14

SOSIOLOGI PERTANIAN

KEBUDAYAAN (JURNAL I, III, IX)


KELAS A

Disusun Oleh: Bagus Harits Arga Putra H. Rr. Astrie Septianing Anggarini Agung Septyanto M. Jafri N.F.I.A.P.

105040200111001 105040200111005 105040200111010 105040200111011

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
AGROEKOTEKNOLOGI
2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat-Nya, Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan. Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Sosiologi Pertanian dengan judul Kebudayaan yang berfokus dalam konteks budaya pertanian, di Program Sarjana Universitas Brawijaya Fakultas Pertanian, Agroekoteknologi. Terima kasih disampaikan kepada Mas Bima selaku asisten kami dalam mata kuliah Sosiologi Pertanian yang telah membimbing dan memberikan materi-materi demi lancarnya tugas ini. Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Pertanian.

Malang, 02 Juni 2011 Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kebudayaan merupakan seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua masyarakat. Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah tidak berlaku. Berikut ini disampaikan sejumlah karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui. Setidaknya, ini menjadi salah satu wacana bagi kita yang akan bersama-sama hidup di lingkungan pedesaan. 1.2 Tujuan Untuk mengetahui dan memahami tentang kebudayaan Untuk mengetahui dan memahami tentang masyarakat desa Untuk mengetahui dan memahami permasalahan tanah dilahan pertanian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menurut Soerjono kebudayaan adalah kompleks yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat dan lain-lain kemampuan serta kebiasaan yang di dapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuankemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan bendabenda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut: 1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu: alat-alat teknologi sistem ekonomi keluarga kekuasaan politik 2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya organisasi ekonomi alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) organisasi kekuatan (politik)

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak. 1. Gagasan (Wujud Ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. 2. Aktivitas (Tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. 3. Artefak (Karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama: Material Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Nonmaterial Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

BAB III PEMBAHASAN Jurnal nomor I: Masyarakat Pedesaan Indonesia Menurut statistic sensus pertanian 1963, di Indonesia terdapat lebih dari 41.000 komunitas desa, diantaranya lebih dari 21.000 terdapat di jawa. Ke-41.000 komunitas desa itu di diami oleh lebih dari 80.000000 penduduk, yaitu lebih kurang 80% dari seluruh penduduk waktu itu, yang berarti bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih berkerja dalam sector pertanian (termasuk perternakan dan perikanan). Ke-41.000 komunitas desa tersebut dapat kita bagi ke dalam beberapa golongan berdasarkan teknologi usaha taninya, menjadi dua golongan (1) desa-desa yang berdasarkan cocok tanam di lading dan (2) desa-desa yang berdasarkan cocok tanam di sawah. Teknologi bercocok tanam di lading menyebabkan suatu komunitas desa berpindahpindah yang sangat berbeda dengan komunitas desa menetap yang didasarkan pada teknologi bercocok tanam di sawah. Teknologi bercocok tanam di ladang memerlukan tanah yang luas, disuatu daerah yang masih merupakan hutan rimbah yang sedapat mungkin masih perawan. Para petani mulai membuka suatu ladang dengan membersihkan belukar bawah di suatu bagian tertentu dari hutan, kemudian menebang pohon-pohon besar. Batang-batang, cabangcabang, dahan-dahan serta daun-daun dibakar, dan dengan demikian terbukalah suatu ladang yang kemudian ditanami dengan bermacam tanaman tanpa pengolahan tanah yang berarti, yaitu tanpa dicangkul, diberi air atu pupuk secara khusus. Abu yang berasal dari pembakaran pohon cukup untuk memberikan kesuburan pada tanaman. Airpun hanya yang berasal dari hujan saja, tanpa suatu sistem irigasi yang mengaturnya. Metode penanaman biji tanaman juga sangatlah sederhana, yaitu hanya dengan menggunakan tongkat tugal, berupa tongkat yang berujung runcing yang diberati dengan batu, dekat pada ujungnya yang runcing itu. Teknik bercocok tanam seperti itu menyebabkan adanya sebutan slashn and burn agriculture, atau bercocok tanam menebang dan membakar , yang sering kali diberikan oleh para ahli kepadanya ; sedangkan sebutan yang lain adalah shift think cultivation, atau pertanian berpindah-pindah , yang menggambarkan keadaan bahwa setiap kali setelah suatu ladang terpakai sebanyak dua atau tiga kali panen, tanah yang tak digarap dulu serta tak disuburkan dengan pupuk dan air secara teratur itu, lama-lama akan kehabisan zat hara dan tidak akan menghasilkan lagi, akibatnya ialah bahwa para petaninya harus meninggalkannya dan membuka ladang baru dengan teknik yang sama, yaitu dengan menebang dan membakar bagian yang baru dari hutan. Bercocok tanam menetap di Jawa, Madura, dan Bali Tipe-tipe penggunaan tanah Seorang petani di jawa, Madura atau d bali, dalam kenyataan menggarap 3 macam tanah pertanian, yaitu (1) kebun kecil di sekitar rumahnya;(2) tanah pertanian kering yang digarap dengan menetap. Tetapi tanpa irigasi, dan (3) tanah pertanian basah yang diirigasi. Ditanah pertanian kering, yang dijawa biasanya disebut tegalan, petani-petani menanam serangkaian tanaman yang kebanyakan dijual dipasar atau kepada tengkulak. Tanaman itu adalah anatara lain jagung, kacang kedelai, berbagai jenis kacang, tembakau, singkong, umbi-umbian, tetapi juga padi yang dapat tumbuh tanpa irigasi. Bercocok tanam ditanah basah atau sawah itu, seperti tersebut diatas memang merupakan usaha tani yang paling pokok dan paling penting bagi para petani di Jawa dan

Bali sejak beberapa abad lamanya. Dengan teknik penggarapan tanah yang intensif dan dengan cara-cara pemupukan dan irigasi yang tradisional, para petani tersebut menanam tanaman tunggal, yaitu padi. Bercocok tanam disawah sangat tergantung kepada pengaturan air, yang dilakukan dengan sistem irigasi yang kompleks. Agar sawah dapat digenangi air, maka permukaannya harus mendatar sama sekali, dan dikelilingi oleh suatu pematang yang tingginya 20 sampai 25 sentimeter. Rangkaian tahap-tahap produksi dalam hal bercocok-tanahm disawah itu dimulai pada akhir musim kering, yang menurut teori jatuh pada bulan Oktober atau November. Dalam kenyataan, banyak petani di Jawa menentukan sendiri saat mereka memulai rangkaian tahaptahap produksi tersebut, yang biasanya banyak dipengaruhi oleh cara-cara perhitungan tradisional seperti yang terdapat dalam buku-buku ilmu dukun yang disebut primbon. Sawah digenangi air selama beberapa waktu, yaitu antara satu hingga dua minggu. Sementara itu sisa-sisa tanaman padi sebelumnya dan tumbuh-tumbuhan lain disawah dibersihkan. Setelah itu tanah dicangkul atau dibajak (dibanyak daerah di Jawa membajak disebut meluku) yang kadang-kadang dikerjakan oleh orang, tetapi kadang-kadang pula oleh kerbau atau sapi. Sawah-sawah yang tanahnya diolah dengan bajak, seringkali mempunyai bagian-bagian yang tak terjangkau oleh bajak sehingga masih harus diolah dengan cangkul juga. Untuk kedua kalinya sawah diolah dengan bajak dan cangkul, serta dibiarkan lagi terendam air selama beberapa hari. Pematang-pematang pun sudah diperbaiki. Biasanya bajak yang dipergunakan untuk mengolah tanah adalah milik bersama dari sekelompok petani. Demikian juga binatang yang menghela bajak itu. Bajak dan kerbau atau sapi itu dipakai secara bergantian oleh para petani yang memilikinya. Cangkul merupakan alat yang biasanya dimiliki oleh setiap para petani atau buruh tani. Pekerjaan menanam dilakukan oleh tenaga wanita. Tata urut pekerjaan itu adalah sebagai berikut: mula-mula tunas-tunas muda itu dicabut dengan hati-hati dari persemaian, lalu diikat menjadi beberapa ikatan yang dibagi-bagikan secara merata ditiap petak sawah. Lalu mulailah tunas-tunas itu ditanam satu demi satu dengan tangan, menjadi deretan-deretan yang panjang dan teratur. Berapa lamanya padi berbuah dan masak, tergantung pada jenis padi dan berbagai factor lain. Ada jenis padi yang sudah dapat dipotong setlah berusia empat bulan, tetapi ada pula jenis-jenis lain yang baru dapat dipanen setelah enam bulan atau lebih. Panen selalu dikerjakan oleh wanita, dengan menggunakan pisau kecil yang disebut ani-ani, untuk memotong tangkai-tangkai padi itu satu demi satu. Pengarahan Tenaga Pada Cocok-Tanam di Sawah Salah satu cara untuk mengarahkan tenaga tambahan untuk pekerjaan bercocok-tanam secara tradisional dalam komunitas pedesaan adalah sistem bantu-membantu yang di Indonesia kita kenal dengan istilah gotong-royong. Dalam pertanian di Jawa, sistem gotong royong biasanya hanya dilakukan untuk pekerjaan yang meliputi perbaikan pematang dan saluran air, mencangkul dan membajak, menanam dan membersihkan sawah dari tumbuh-tumbuhan liar (matun). Upah berupa uang adalah suatu cara membayar buruh tani yang sudah lazim juga diseluruh Indonesia. Walaupun cara ini merupakan suatu sistem yang relative baru di Indonesia, di Jawa sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-19 yang lalu. Buruh tani yang paling lazim adalah buruh tani yang memburuhkan tenaganya untuk pekerjaan tertentu, tetapi tidak pada satu keluarga tani saja. Buruh semacam ini dapat disewa secara borongan, dapat juga secara harian. Tarif upah buruh tani di Indonesia tentu berbeda-beda menurut daerahnya, yang tentu erat pula kaitannya dengan besar kecilnya penawaran tenaga buruh.

Mobilitas Komunitas Desa Mata pencaharian petani di luar sector pertanian Walaupun penduduk desa biasanya terlibat dalam sector pertanian, dalam tiap komunitas desa di seluruh Indonesia sudah jelas banyak terdapat sumber mata pencaharian hidup yang lain. Penduduk desa pada umumnya juga terlibat dalam bermacam-macam pekerjaan di luar sector pertanian, dan mengerjakan kedua sector tersebut pada waktu yang bersamaan, sebagai pekerjaan primer dan sekunder. Perbandingan jurnal I dengan literatur Pada artikel nomer 1 adalah membahas tentang pola tanam di pedesaan, yaitu para petani mulai membuka suatu ladang dengan membersihkan belukar bawah di suatu bagian tertentu dari hutan, kemudian menebang pohon-pohon besar. Batang-batang, cabang-cabang, dahan-dahan serta daun-daun dibakar, dan dengan demikian terbukalah suatu ladang yang kemudian ditanami dengan bermacam tanaman tanpa pengolahan tanah yang berarti, yaitu tanpa dicangkul, diberi air atau pupuk secara khusus. Abu yang berasal dari pembakaran pohon cukup untuk memberikan kesuburan pada tanaman. Airpun hanya yang berasal dari hujan saja, tanpa suatu sistem irigasi yang mengaturnya. Metode penanaman biji tanaman juga sangatlah sederhana, yaitu hanya dengan menggunakan tongkat tugal, berupa tongkat yang berujung runcing yang diberati dengan batu, dekat pada ujungnya yang runcing itu. Sedangkan pada literatur, lahan yang di butuhkan oleh petani di Indonesia yang mencukupi tidak terjadi. Hal tersebut disebabkan oleh tergesernya lahan pertanian menjadi lahan tempat tinggal, pola hidup instant, dan pola bercocok tanam yang tradisional. Sumber (http://www.kamase.org/desa-mandiri-energisolusi-perekonomian-indonesia-di-abad-21/). Jurnal nomor IX: KONFLIK TANAH DI JENGGAWAH Fenomena yang menonjol pada masyarakat petani di pedesaan termasuk di daerah Jenggawah, Jember adalah masalah yang berkaitan dengan tanah yang memfokuskan pada konflik antara petani PTP negara serta kelompok kelompok lainnya. Dinamika masyarakat desa selalu menarik untuk diamati, paling tidak dengan sandaran asumsi bahwa dinamika kehidupan mereka tidak terlepas sama sekali dari dimensi konfliktual. Perubahan itu juga ditandai oleh munculnya pergeseran pemilikan tanah yang terpolarisasi dalam strata yang timpang, perubahan status sosial dan pekerjaan. Para ahli yang pernah melakukan penelitian tentang petani sepakat menjawab makna khusus tanah bagi petani. Kondisi ini dijelaskan oleh Wolf, karena petani merupakan produsen pertanian dengan penguasaan efektif pada tanah, mengganggu tanah berarti mengusik statusnya sebagai produsen pertanian, sebagai tulang punggung hidupnya. Salah satu dampak fenomena konflik yang tetap menonjol pada masyarakat petani di pedesaan adalah masalah yang berkaitan dengan tanah. Secara teoritis, paige melihat berbagai kelompok yang memiliki peran cukup besar dalam pertumbuhan konflik di pedesaan. Mereka memiliki banyak prinsip yang kemungkinan berbeda dari kelompok sosialnya, tetapi mereka juga mempunyai peran utama yang unik terhadap tanah pertanian. Peneliti memberi batasan bahwa kelompok kelompok sosial di Jenggawah yaitu Petani Cukupan (cultivator), Petani Kekurangan (non cultivator) dan perkebunan. Menurut versi Paige, konflik akan muncul dari kelompok cultivator dan non cultivator. Timbulnya konflik petani di pedesaan menurut kalangan strukturalis Scottian

digambarkan bahwa kondisi sosial penduduk pedesaan, yang berarti juga merupakan realitas sosial sebagai besar petani di Asia Tenggara. Para petani subsisten ini, di satu pihak, hanya menguasai lahan yang sangat kecil dan cara bertani yang amat tradisional, tetapi di pihak lain mereka harus menghadapi tantangan berupa tingkah pola cuaca dan pajak, tenaga kerja dan hasil tanaman yang dipungut oleh negara. Menurut Scott, ada 3 kerawanan yang menimbulkan munculnya protes petani adalah struktural, ekologis dan monokultur. Subbudaya sebagai konteks makna atau jaringan makna menciptakan etika sosial yang dominan dan memadai bagi munculnya bara atau spirit protes. Posisi konflik tanah Jenggawah, sebenarnya terjadi di tiga kecamatan dan lima desa yang terlibat secara intens. Dalam peta Kabupaten Daerah Tingkat II Jember, kasus ini terletak di daerah Jember Selatan yang secara ekologis merupakan dataran rendah yang ditaburi bukit bukit kecil sehingga tanahnya sangat subur. Kabupaten ini sejak zaman Hindia Belanda dikenal sebagai daerah pusat perkebunan tembakau. Disebut sebagai konflik tanah Jenggawah, karena tempat ini merupakan pusat penyebaran konflik, dengan beberapa tokohnya yang terlibat dan sebagai pengkonsolidasi massa, terutama pada konflik 1979. Jenggawah juga memiliki struktur sosial yang masih agraris dan ciri yang menonjol adalah tradisionalisme. Sebagai suatu wilayah yang masih tergolong tradisional, dalam pola pola struktur sosial masyarakat Jenggawah lebih menekankan pola hubungan pribadi. Menyadari munculnya pola struktur sosial demikian, maka kebijakan perkebunan yang diterapkan adalah pola kemitraan. Ketika perkebunan dinasionalisasi dan diambil alih oleh negara, muncul masalah mendasar, terutama masalah tanah. Jika dilihat dari asal usulnya, tanah sumber konflik antara petani dan PTP XXVII yang kemudian melibatkan Negara Orde Baru (NOB) adalah bekas hak erpacht Hindia Belanda. Diawali dengan PP No. 173/1961 dibentuklah Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Jatim IX, yang kemudian bentuknya diubah menjadi Perusahaan Perkebunan (Negara) Tembakau V dan VI melalui PP No. 30/1966. Dalam proses peralihan bentuk tersebut, diterbitkan SK Mendagri No. 32/HGU/DA/1969 tertanggal 5 Desember 1969. Perjalanan konflik tanah di Jenggawah dimulai sebelum 1969. Tetapi konflik yang bersumber dari gagalnya landreform (pengkaplingan tanah) mereda dan kemudian konflik muncul kembali pada tahun 1969. Kerusuhan itu memuncak pada Juli 1979, sehingga terjadi perusakan terhadap tanaman, rumah dan pembakaran gudang. Setelah peristiwa 1979, petani tampaknya mengambil strategi coolling down menuju pada status wilayah yang diperlihatkan aman. Konsolidasi ini berlangsung sejak 1980 1994. Ledakan konflik dengan berbagai konsekuensinya ini bermula dari munculnya keputusan Menteri Negara Agraria/Badan Pertanahan Nasional No. 74/HGU/BPN/1994 tentang pemberian perpanjangan hak guna usaha PT Ajong Gayasan di Kabupaten Jember. Akibatnya, kasus 1979 terulang kembali. Perusakan serupa terjadi di rumah mandor Tonali, Dusun Curahrejo, Desa Sukomakmur, Kecamatan Jenggawah. Memperhatikan model kerawanan Scottian maka pemberian perpanjangan HGUoleh Menteri Negara Agraria/Badan Pertahanan Nasional dapat dianggap sebagai ancaman nyata, baik secara legal maupun struktural. Hal ini dianggap ancaman karena tanah yang mereka garap bukan hak milik sendiri secara hukum, hingga sewaktu waktu dapat mengancamnya, kemudian aset tanah yang dicakup oleh perpanjangan HGU yang luasnya mencakup 2 ribu hektar , yang berarti hidup para petani di bawah wilayah kekuasaan PTP dan yang terakhir adalah potensi tanah yang menjadi sumber konflik merupakan penghasil terbesar tembakau jenis Na Oogst di Karesidenan Besuki. Dari penjelasan di atas, sebenarnya spirit protes petani Jenggawah muncul akibat kerawanan struktural yang dianggap merugikan mereka. Menurut Paige, tipologi konflik pertanian terjadi antara organisasi pertanian yang disokong oleh kebijakan dan mereka yang berkedudukan sebagai pekerja. Sedangkan Sticombe menjelaskan tipologi konflik pertanian yang terjadi antara the family sized

tenancy (keluarga penyewa dengan plantation atau perkebunan). Petani dalam status tanah HGU merupakan basis sumber konflik atau bahkan juga merupakan sumber lahirnya konflik 1969-1995. Menurut istilah penduduk Jenggawah, petani inti disebut sebagai petani keturunan, yaitu petani dengan bentuk penguasaan tanah yasan (tanah yang diperoleh berkat nenek moyang mereka dalam membuka hutan liar untuk dijadikan sebagai tanah garapan). Petani ini dianggap sebagai cikal bakal penduduk yang menguasai tanah HGU hingga sekarang. Apabila membandingkan asal usul mereka dalam kaitannya dengan budaya yang mempengaruhi perilaku mereka, ternyata ada dua akar yang kuat, meminjam terminologi Geertz (santri abangan). Dari perbedaan ini, maka petani keturunan (petani inti basis konflik) terbagi menjadi dua secara realitas konflik yaitu petani radikal dan petani konservatif. Dikotomi petani ini didasarkan pada persepsi pemimpin (elit) dalam memandang konflik yang terjadi serta strategi konflik yang akan diterapkan. Posisi yang berbeda terjadi pada kelompok yang cenderung dekat dengan tradisi santri yang lebih moderat dan mengambil sikap. Implikasi dari persepsi yang berbeda ini, ternyata melahirkan model strategi yang berbeda pula dalam tindakan tindakan petani untuk memenangkan konflik. Betapapun, dalam tingkat persepsi mudah untuk dibedakan dua kelompok elit petani radikal dan konservatif, persoalannya adalah bahwa komitmen elit ini tidak tertransformasi pada massa yang bergejolak dengan aneka penumpukan kekecewaan dan keputusasaan yang telah menghinggapi. Pada sisi lain, basis inti petani yang terlibat dalam konflik menurut umur, terlihat didominasi oleh interval usia antara 54 57 tahun. Identitas para petani inti basis konflik ini, sekaligus menunjukkan para petani yang memohon agar tanah HGU bekas hak erpacht itu dialihfungsikan menjadi hak milik kepada para petani. Para pendukung PTP XXVII adalah buruh tani, mandordan para centeng. Di samping itu, muncul perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh mandor dan centeng, disertai tindakan teror. Di sisi lain PTP acapkali menerapkan kebijakan kerjasama dengan petani yang disertai oleh aparat keamanan, tanpa pendekatan persuasif. Perkembangan konflik menunjukkan penyimpangan, misalnya munculnya petani fiktif yang dianggap mempunyai hubungan khusus dengan aparat dan PTP. Implikasinya di kalangan petani muncul dugaan kuat adanya kolusi antara beberapa aktor PTP dan aparat negara untuk meloloskan permohonan sertifikat kepada beberapa orang yang berstatus sebagai pengusaha. Kelompok kelompok Penekan Pendukung Petani Inti Basis Konflik merupakan kelompok penekan yang cenderung terlibat secara intens dalam konflik yang terjadi di Jenggawah. Dalam pandangan teoritis, semestinya mediator dibentuk oleh pihak yang berkonflik, yaitu petani dan PTP. Implikasinya, mau tidak mau, petani yang terlibat dalam konflik tanah harus bersedia menerima kehadiran mereka. Upaya upaya tim mediasi diawali dengan cara mengakomodasikan pihak pihak yang berkepentingan dalam konflik, juga pihak pihak di luar konflik. Upaya selanjutnya adalah melakukan pendekatan untuk mengetahui kemauan kelompok kelompok yang berkonflik dan menghubungkannya dengan kelompok kelompok lain yang berkepentingan yaitu instansi instansi yang berwenang. Dalam hal ini, kiai yang dipakai sebagai tim mediasi karena terlihat bahwa negara dan aparatnya sendiri tidak yakin bahwa kasus konflik yang telah memanas dan meluas dengan intensitasnya yang tinggi, akan mampu diselesaikan. Potret ini mengindikasikan munculnya disintegrasielit massa dalam perjalanan politik lokal, termasuk timbulnya gejala konflik tanah di Jenggawah. Istilah penyelesaian konflik mengacu pada pendekatan manajemen konflik politik dan teori strukturalis semi otonom. Negara dalam kedua terminologi tersebut, dipersonifikasikan baik secara individual maupun lembaga. Studi ini menemukan bahwa arah kontrol politik hanya diberikan dan diterapkan oleh negara dan aparatnya terhadap petani dan kelompok kelompok penekan yang mendukungnya, serta tim mediator. Kontrol politik oleh negara Orde

Baru (NOB) dan aparatnya, dilihat dari dua kriteria yaitu siapa yang melakukan intervensi/kontrol politik dan dalam bentuk apa intervensi dilakukan, baik kepada petani dan kelompok penekan, maupun tim mediasi. Dari kriteria tersebut, arah kontrol politik dan efektivitasnya yang dilakukan negara terlihat justru melahirkan efektifitas semu dan rendah. Ternyata pola penyelesaian otokratis, dimana kontrol politik diarahkan untuk menindas partisipan konflik, secara paradigmatik hal ini merupakan negasi dari peran NOB dan aparatnya dalam upaya mengelola konflik yang muncul. Gejala ini lebih parah lagi apabila upaya transformasi dimana kontrol politik diarahkan untuk menindas partisipan konflik, secara paradigmatik hal ini merupakan negasi dari peran NOB dan aparatnya dalam upaya mengelola konflik yang muncul. Gejala ini lebih parah lagi apabila upaya transformasi konflik tanah di Jenggawah ke arah konsensus, hanya dipandang dari sisi legalitas hukum yang berlaku dalam proses pengambilan keputusan. Fungsi penelusuran secara sosiologis dan psikologis dimaksudkan adalah untuk menghindari munculnya polarisasi baru, baik dalam persepsi maupun tindakan kelompok kelompok yang terlibat dalam konflik. Resistensi ini juga dipengaruhi oleh semakin lemahnya kondisi ekonomi mereka, karena saluran saluran ekonomi di luar pertanian tertutup. Padahal, upaya petani untuk mempengaruhi proses politik sudah dilakukan sejak 1990 dengan mengajukan permohonan hak milik yang disampaikan lewat Bupati KDH TK II Jember. Setidaknya ada tiga kecenderungan menarik tentang implikasi kuatnya jaringan tersebut bagi masyarakat Jenggawah. Jika ini terpenuhi, mugkin sekali, menurut Smelser, konflik akan muncul pada generasi berikutnya dan akar serta persoalannya tetap akan sama seperti konflik sebelumnya. Perbandingan jurnal IX dengan literatur Menurut jurnal nomer 9 konflik yang terjadi adalah para petani hanya menguasai lahan yang sangat kecil dan cara bertani yang amat tradisional, tetapi di pihak lain mereka harus menghadapi tantangan berupa tingkah pola cuaca dan pajak, tenaga kerja dan hasil tanaman yang dipungut oleh negara. Posisi konflik tanah Jenggawah, sebenarnya terjadi di tiga kecamatan dan lima desa yang terlibat secara intens. Kabupaten ini sejak zaman Hindia Belanda dikenal sebagai daerah pusat perkebunan tembakau. Sebagai suatu wilayah yang masih tergolong tradisional, dalam pola pola struktur sosial masyarakat Jenggawah lebih menekankan pola hubungan pribadi. Perjalanan konflik tanah di Jenggawah dimulai sebelum 1969. Tetapi konflik yang bersumber dari gagalnya landreform (pengkaplingan tanah) mereda dan kemudian konflik muncul kembali pada tahun 1969. Kerusuhan itu memuncak pada Juli 1979, sehingga terjadi perusakan terhadap tanaman, rumah dan pembakaran gudang. Upaya upaya tim mediasi diawali dengan cara mengakomodasikan pihak pihak yang berkepentingan dalam konflik, juga pihak pihak di luar konflik. Upaya selanjutnya adalah melakukan pendekatan untuk mengetahui kemauan kelompok kelompok yang berkonflik dan menghubungkannya dengan kelompok kelompok lain yang berkepentingan yaitu instansi instansi yang berwenang. Menurut literatur dari http://repository.unand.ac.id/3384/1/ZAIYARDAM.pdf adalah persoalan tanah yang terjadi di Nagari Lawang Mandahiling Dan Salimpaung Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat ini kemudian menjurus menjadi konflik kekerasan yang dapat menimbulkan kematian dari pihak yang bertikai dikarenakan tentang sistem pemilikan tanah itu sendiri. Pola pemilikan tanah di Minangkabau memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lainnya seperti di Jawa, sehingga dalam menuangkan kebijakan tentang tanah tidaklah bisa digeneralisasikan. Bahkan untuk setiap negeri pun memiliki karakteristik tersendiri dalam pola pemilikan tanah itu, sehinghga muncul ungkapan adat selingka nagari, dimana adat istiadat termasuk didalamnya tanah- hanya berlaku pada batas-batas nagari itu. Di Minangkabau tanah merupakan milik satu kaum atau suku. Kepemilikan tanah yang bersifat

pribadi tidak dikenal dalam budaya, sebab setiap tanah merupakan milik komunal. Namun dalam perkembangannya, tanah itu mulai digadaikan dan dijual, terutama oleh penghulunya yang berperan penting dalam pengendalian tanah. Metode yang dilakukan dalam penyelesaian masalah adalah penyuluhan, pendampingan, Focus Group Discussion (FGD) dan kampanye penyelesaian konflik secara adat. Adapun realisasi pemecahan masalah adalah pertama, mengembalikan peran penghulu dalam penyelesaian konflik tanah dirasakan berat, karena eksistensi penghulu sendiri dalam masyarakat tidak dominan dan semakin memudar, karena sering menjual harta pusaka, sehingga menjadi sumber konflik. kedua, selanjutnya melibatkan kelompok elite tradisonal berperan aktif dalam menyelesaikan konflik sengketa tanah berdasarkan perdamaian adat. ketiga, sosialisasi penyelesaian konflik berdasarkan perdamaian adat yang telah dimulai dengan lahirnya lembaga Majelis Peradilan Adat Lawang Mandahiling. RESUM ARTIKEL III-I JUDUL : Masyarakat Pedesaan di Indonesia Pada artikel ini dipaparkan seluk-beluk tentang kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia, baik karakteristik, budaya, adat-istiadat tiap daerah yang berbeda-beda, namun lebih terarah pada bidang pertanian. Menurut hasil statistika sensus pertanian pada tahun 1963 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih bekerja dalam sector pertanian. Dalam suatu komunitas desa, terdapat penggolongan desa berdasarkan teknologi usaha taninya, yaitu di ladang dan di sawah. Bercocok tanam di ladang menyebabkan komunitas desa berpindah-pindah dan mempunyai sebutan shifting cultivation, sedangkan bercocok tanam di sawah komunitas desa menetap. Petani meninggalkan ladang setiap duatiga kali panen. Namun system ini memerlukan lahan yang luas sehingga sulit diterapkan pada daerah padat penduduk. Pada sistem bercocok tanam menetap dibandingkan masing-masing karateristiknya pada daerah Jawa, Madura, dan Bali. Karakteristik tersebut meliputi tipe penggunaan tanah, tahap-tahap produksi bercocok tanam di sawah, pengerahan tenaga pada cocok-tanam di sawah, beserta fragmentasinya. Masing-masing karakteristik tersebut memiliki ciri khas dan sebutan yang berbeda-beda pada masing-masing daerah. Hal ini berhubungan dengan budaya pertanian masing-masing wilayah yang menyangkut kehidupan sosial dari masyarakat desa tersebut. Usaha-usaha pertanian tersebut dilakukan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan, menyediakan dan menciptakan, serta mengembangkan lapangan-lapangan sosial di masyarakat desa. Sehingga loyalitas nasional pada penduduk desa dapat terjaga dan meminimalisir kecenderungan keinginan untuk pindah ke kota.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuankemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Setiap daerah di pedesaan melakukan pola tanam memiliki cara yang berbeda-beda untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, misalnya dengan cara bercocok tanam menebang dan membakar. 4.2 Saran Metode penyampaian materi sudah sangat baik, tetapi mungkin akan lebih baik lagi bila dilakukan didalam ruangan agar lebih nyaman dalam pemahaman materi.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous . 2011 . Kebudayaan . http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/definisikebudayaan-menurut-para-ahli/ . diakses tanggal 7 maret 2011 Anonymous . 2011 . http://www.kamase.org/desa-mandiri-energisolusi-perekonomianindonesia-di-abad-21/) . diakses tanggal 7 maret 2011 Anonymous . 2011 . http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya . diakses tanggal 7 maret 2011 Anonymous . 2011 . http://mazdhanoe.blogspot.com/2009/01/etika-dan-budaya-masyarakatdesa.html . diakses tanggal 9 Maret 2011 Wahyu . 1986 . Wawasan Ilmu Sosial Dasar . Usaha Nasional: Surabaya Setiadi, Elly, dkk. . 2007 . Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Edisi Kedua . Kencana Prenada Media Grup: Bandung