Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN RESPIRASI

Disusun Oleh: Nama NIM Kelompok Asisten : Krisna Bagus Prabowo : 115040201111192 : Senin, 06.00 : Sonia Tambunan

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN MALANG 2012


BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Praktikum a. 1.3 Manfaat a.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Respirasi The oxidation of organic molecules to provide energy in plants and animals. Respiration occurs in all cells, whether or not they are capable of photosynthesis. The energy from respiration is used to attach a high-energy phosphate group to ADP to form the short-term energy carrier ATP, which can then be used to power energy requiring processes within the cell (Bailey, 2003). The process where mitochondria in the cells of plants and animals release chemical energy from sugar and other organic molecules through chemical oxidation (Rittner, 2004). 2.2 Macam-macam Respirasi Aerobic respiration is respiration in which free oxygen is used to oxidize organic substrates to carbon dioxide and water, with a high yield of energy. Anaerobic respiration is respiration in which oxygen is not involved, found in almost all organisms. The organic substrate is not completely oxidized and the energy yield is low. Photorespiration is light dependent metabolic process of most green plants that resembles true (or dark) respiration only in that it uses oxygen and produces carbon dioxide. Carbon dioxide production during photorespiration may be up to five times greater

than in dark respiration It wastes carbon dioxide and energy, using more ATP than it produces. (Bailey, 2003) 2.3 Tahapan Respirasi Secara detail, tahapan respirasi aerob ada empat tahapan yaitu Glikolisis, Oxoacid dehydrogenase, TCA dan rantai respiratory. A. Glikolisis Glikolisis merupakan katabolisme yang berlangsung dalam sitoplasma yang ditemukan pada hamper semua organism baik yang hidup secara aerobik maupun anaerobik. Keseimbangan proses glikolisis sangat sederhana, glukosa dirombak menjadi dua molekul piruvat dan menghasilkan dua molekul ATP dan dua molekul NADH+H+. Glikolisis aerobik terjadi saat keberadaan oksigen, piruvat dan NADH+H+ mencapai mitokondria dimana akan terjadi transformasi lebih lanjut. Pada keadaan anaerobik , produk fermentasi seperti laktat dan etanol akan terbentuk pada sitoplasma dari piruvat dan NADH+H+, glikolisis adalah suatu cara sel hewan mendapatkan ATP. Proses glikolisis melibatkan sepuluh tahapan, tiga proses isomerasi, empat proses transfer fosfat, dua proses pemutusan ikatan rangkap, dan satu proses reduksi. Dua molekul ATP dibutuhkan untuk aktivasi reaksi, dua ATP dihasilkan oleh masing-masing fragmen C3 dan dua sisanya didapatkan per satu molekul glukosa. Peran enzim sangat besar dalam proses glikolisis. Terdapat empat enzim yang bertugas untuk menransfer gugus fosfat yang masuk superfamili transferase, tiga enzim isomerase , dua enzim lyase yang masing-masing menghasilkan ikatan ganda antara C-O dan C-C, dan satu enzim yang masuk superfamili oksidoreduktase. B. Oxoacid dehydrogenase Metabolism intermediet ini memiliki kompleks multienzim yang mengkatalis proses oxidative decarboxylationdari 2-oxoacids menjadi coenzyme A. NAD+ berperan sebagai penerima elektron.

Thiamine diphospate, lipoamide dan FAD juga terlibat dalam reaksi. Oxoacid dehydrogenase, meliputi a) pyruvate dehydrogenase(PDH, pyruvate -> acetyl CoA, b) 2-oxoglutarate dehydrogenase dari TCA (ODH, 2-oxoglutarate -> succinyl CoA, dan c) rantai bercabang dehydrogenase yang melibatkan katabolisme valin, leusin dan isoleusin. Reaksi PDH terjadi dalam matriks mitokondria. PDH mengkatalis dekarboksilasi piruvat dan membawa residu hydroxyethyl menjadi thiamine diphosphate (TPP). PDH kemudian mengoksidasi ikatan TPP menjadi residu acetyl. Residu ini beserta residu lainnya yang didapat diubah menjadi lipoamide. Enzim kedua, dihydrolipoamide acetyltransferase mengubah residu asetil dalam bentuk lipoamide menjadi coenzyme A. enzim ketiga, dihydrolipoamide dehydrogenase, melakukan reoksidasi dihydrolipoamide dimana NADH+H+ terbentuk. Elektron pertama diambil oleh FAD kemudian dibawa malalui ikatan disulfide katalitik aktif menuju NAD+. Reaksi PDH, menempati posisi strategis diantara 4elektron4m asam lemak dan karbohidrat dan juga menyediakan residu acetyl untuk siklus krebs. C. Tricacboxylic acid cycle Siklus TCA atau lebih dikenal dengan siklus Krebs atau siklus asam sitrat, adalah siklus metabolism yang terjadi di matriks mitokondria. Dalam delapan tahapan, terjadi oksidasi residu asetil (CH3-CO) menjadi CO2. Asetil-CoA yang menjadi masukan dari siklus Krebs dengan residu asetil banyak berasal dari b-oksidasi dari asam lemak dan dari reaski piruvat dehidrogenase. Keduanya terjadi dalam matriks mitokondria. Hasil dari setiap tahapan reaksi berupa dua molekul CO2. Dalam waktu bersamaan GTP dan tiga NADH+H+ terbentuk. Dengan fosforilasi oksidatif, didapatkan Sembilan ATP dari reduksi coenzim.

1. Tahapan pertama dari siklus ini, citrate synthase mengubah acetyl CoA menjadi asam oxaloacetat. Produk dari reaksi ini, asam tricarboksilat, menjadi nama siklus tersebut. 2. TCA diisomerisasi menjadi isocitrate oleh aconitate hydrase. 3. Isocitrate dehydrogenase mengoksidasi gugus hydroxyl dari isocitrate menjadi gugus oxo. Dalam waktu yang sama, gugus carboxyl dilepas dalam bentuk CO2 dan 2oxoglutarate (-ketoglutarat) dan NADH+H+ terbentuk. 4. Sebuah kompleks multienzim, 2-oxoglutarate dehydrogenase mengkatalis oksidasi dan dekarboksilasi dalam pembentukan succinyl CoA. NADH+H+ terbentuk kembali dari reaksi ini. 5. Berikutnya, pemisahan thioester succinyl CoA menjadi succinate dan coenzyme A oleh succinic acid-CoA ligase. GTP terproduksi dari proses ini. 6. Succinate dioksidasi menjadi furamate oleh succinate dehydrogenase. Aseptor elektron dari reaksi ini adalah ubiquinone, walaupun FAD adalah gugus prostetik dari succinate dehydrogenase. 7. Air ditambahkan ke ikatan ganda furamate oleh furamate hydratase sehingga terbentuk malate. 8. Tahapan terakhir, malate dioksidasi oleh malate dehydrogenase menjadi oxaloacatate, NADH+H+ kembali terbentuk. Siklus telah selesai dan dapat terjadi kembali mulai dari awal. Siklus Krebs menyediakan material penting untuk proses metabolism intermediet. Oksaloasetat dan malate merupakan bahan

dasar dalam proses glukoneogenesis, suksinat-CoA sebagai bahan dasar forfirin, 2-oksoglutarat dan oksaloasetat juga dapat dikonversi menjadi asam amino. Sitrat sebagai bahan dasar dalam konversi asam lemak. D. Rantai Respiratori Merupakan salah satu jalur yang terlibat dalam fosforilasi oksidatif. Tahapannya berupa transport elektron dari + NADH+H ubiquinone yang tereduksi (QH2) menjadi molekul oksigen. Transport 6elektron difasilitasi oleh dua molekul pembawa yaitu ubiquinone dan cytochrome yang juga terlibat dalam siklus Krebs. Semua proses membentuk ikatan polipeptida dan mengandung protein berbeda. Elektron masuk jalur respiratory dalam beberapa cara. Dalam oksidasi NADH+H+ 6elektron lewat melalui FMN dan Fe menuju ubiquinone. Elektron masuk sebelum oksidadi dari suksinat, asam CoA, dan molekul lain melalui enzim dehidrogenase. Elektron juga terbawa dalam flavoprotein. Tujuan akhir elektron adalah mencapai oksigen. Hasil akhir berupa anion O2yang akan diubah menjadi air dengan mengikat dua proton. (Koolman, 2005) 2.4 Faktor yang mempengaruhi respirasi 2.4.1 Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam bahan (buah dan sayur), meliputi tingkat perkembangan organ, komposisi kimia jaringan, ukuran produk, pelapisan alami, dan jenis. Selain itu, jenis dan umur tumbuhan juga mempengaruhi proses respirasi. Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolisme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan (I Komang Jaya Santika Yasa, 2009).

Respirasi bergantung pada ketersediaan substrat. Tumbuhan yang kandungan pati, fruktan, atau gulanya rendah, melakukan respirasi pada laju yang rendah. Tumbuhan yang kahat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan. Bahkan laju respirasi daun sering lebih cepat segera setelah matahari tenggelam, saat kandungan gula tinggi dibandingkan dengan ketika matahari terbit, saat kandungan gulanya lebih rendah (Salisbury dan Ross, 1995). Mekanisme pengaturan respirasi yang sederhana dimana sintesis ATP secara otomatis terkoordinasi dengan konsumsi ATP dikenal dengan respiratory control. Hal ini berdasarkan fakta bahwa bagian berbeda dari fosforilasi oksidatif berpasangan dengan koenzim dan faktor lain. Jika sel tidak menggunakan ATP, hampir tidak ada ATP yang tersedia dalam mitokondria. Tanpa ADP, ATP synthase tidak dapat melawan gradient proton melewati membran dalam mitokondria. Hal ini membalik penghambatan transport elektron dalam rantai respiratori, yang berarti NADH+H+ tidak dapat kembali dioksidasi menjadi NAD+. Akhirnya menghasilkan rasio NADH/NAD+ yang tinggi dan menghambat siklus krebs.

(Koolman, 2005)
2.4.2 Faktor Eksternal

1.

Ketersediaan oksigen Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masingmasing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara(I Komang Jaya Santika Yasa, 2009).

2.

Suhu Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies. Bagi sebagian besar bagian tumbuhan dan spesies tumbuhan, Q10 respirasi biasanya 2,0 sampai 2,5 pada suhu antara 5 dan 25C. Bila suhu meningkat lebih jauh sampai 30 atau 35C, laju respirasi tetap meningkat, tapi lebih lambat, jadi Q10 mulai menurun (Salisbury dan Ross, 1995).
2.5 Perbedaan Respirasi dengan Fotosintesis

Respirasi itu katabolisme, artinya membongkar suatu senyawa menjadi senyawa yang lebih kecil. kalau respirasi, mengubah glukosa menjadi CO2 dan H2O, trus menghasilkan ATP sebagai tenaga yang kita gunakan sehari-hari. Fotosintesis itu anabolisme, artinya menyusun suatu senyawa sederhana menjadi senyawa yang lebih kompleks. dalam hal ini, fotosintesis mengubah CO2 dan H2O menjadi glukosa dan oksigen, dalam prosesnya membutuhkan klorofil dan cahaya matahari. Respirasi dan fotosintesis mempunyai hubungan kerja yang sangat erat. Tanpa fotosintesis respirasi tidak akan terjadi karena ketiadaan senyawa senyawa kompleks yang hanya dapat dihasilkan dari reaksi fotosintesis. Sedangkan tanpa respirasi, senyawa- senyawa kompleks yang di hasilkan reaksi fotosintesis tidak akan terisi menjadi energi, sehingga tumbuhan tidak dapat melakukan aktivitas metabolismenya (Dwidjoseputro, 1986).

2.6 Proses Metabolieme respirasi pada germinsai biji

Pada dasarnya, proses respirasi bertujuan untuk mendapatkan energi yang digunakan dalam metabolisme dan proses pertumbuhan serta perkembangan untuk menjadi sebuah tanaman dewasa. Tentunya tumbuhan yang sudah dewasa dengan tumbuhan yang masih berkecambah akan memiliki laju respirasi yang berbeda. Pada saat kecambah, laju respirasi cenderung lebih tinggi dibanding ketika sudah dewasa. Hal ini karena pengaruh metabolik dari proses perkecambahan. Kecambah melakukan pernapasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap/diperlukan dan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2), air (H2O) dan sejumlah energi. (Salisbury dan Ross 1995).
2.7 Pengertian Respirastion Quotient The type of substrate being respired may on occasion be indicated by measuring the relative amounts of O2 consumed and CO evolved. The value of the respiratory quotient is a function of the oxidation state of the substrate being respired. Note that when carbohydrate is being respired, the theoretical value of RQ is 6CO2/6O= 1.0. (Hopkins, 2008)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan a. Alat: b. Bahan: 3.2 Cara Kerja Perlakuan A Timbang massa 10 biji jagung Bungkus kertas amplop Oven 2 x 24 jam Timbang kembali massanya

Perlakuan B Timbang massa 10 biji jagung Erlenmeyer diberi tissue yang telah dilembabkan Memasukkan biji dalam Erlenmeyer Memasukkan botol yang berisi KOH 10 ml dalam Erlenmeyer (digantung) Menutup botol dengan plastic dan mengikat dengan karet Setelah 4 hari, timbang massanya (BBK) Oven, lalu timbang kembali (BKK) Titrasi dengan KOH 3.3 Analisa Perlakuan

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Tabel Pengamatan

4.1.2 4.1.3

Perhitungan Manual dan excel Grafik ( BKK dgn respirasi, RGR dgn respirasi, BBK dgn respirasi)

4.2 Pembahasan

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. 5.2 Saran 1.

DAFTAR PUSTAKA Bailey, Jill. 2003. The Facts On File Dictionary of Botany. Aylesbury. Market House Books, Ltd. Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta. Hopkins, William G. dan Norman P. A. Hner. 2008. Introduction to Plant Physiology: Fourth Edition. Hoboken. JohnWiley & Sons, Inc. Koolman, Jan, dan Klaus Heinrich Roehm. 2004. Color Atlas of Biochemistry: second edition, revised and enlarged. Stuttgart. Thieme. Rittner, Don, dan Timothy L. McCabe. 2004. Encyclopedia Of Biology. New York. The Facts on File Inc. Salisbury, Frank and Ross, Cleon. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung: Penerbit ITB. Taiz, Lincoln dan Eduardo Zeiger. 2002. Plant Physiology: 3rd edition. USA. Sinauer Associates. Yasa, I Komang Jaya Santika. 2009. Respirasi Dipengaruhi oleh Beberapa Faktor.