Anda di halaman 1dari 23

Asuhan Keperawatan Gangguan Eksternal Konjungtiva

KELOMPOK II
Sri Untari Nur Annisa Fitri Reza Surya P M.Darkuni Chairunnisa Astari Istia Arisandy Havita Nirmala S Citra Irawan Fitri Ayatul A Karina Danisha IK Syaiful Rakhman M.Reza Pahlevi Annisa Febriana Tity Riezka R Devi Indah P NIM I1B110004 NIM I1B110005 NIM I1B110013 NIM I1B110018 NIM I1B110030 NIM I1B110024 NIM I1B110032 NIM I1B110040 NIM I1B110201 NIM I1B110205 NIM I1B110211 NIM I1B110204 NIM I1B110216 NIM I1B110214 NIM I1B110029

Definisi
Konjungtivitis adalah istilah yang diterapkan untuk radang konjungtiva, yang epitel lapisan penutup bagian dalam kelopak mata dan putih mata dunia. Konjunktivitis adalah suatu peradangan pada konjungtiva, biasanya disebabkan virus, bakteri atau alergi.

Etiologi
a. Virus = adenovirus b. Bakteri = staphylococci (epidermidis dan Staphylococcus) c. Chlamydia = Chlamydia trachomatis adalah kokus Gram-negatif distribusi luas di seluruh dunia yang dapat menyebabkan dua jenis infeksi konjungtiva: konjungtivitis inklusi dewasa (Trachoma Inklusi Konjungtivitis - tric) dan trachoma.

Gejala konjungtivis
a. Injeksi Konjungtiva Gejala ini adalah pelebaran arteri konjungtiva posterior, yang memberi gambaran pembuluh darah yang berkelok-kelok, merah dari bagian verifer konjungtiva bulbi menuju kornea dan ikut bergerak apaila konjungtiva bulbi digerakkan b. Folikel Gejala ini berupa tonjolan pada jaringan konjugtiva, besarnya kira-kira 1 mm. Gambaran permukaan folikel landai, licin, abu-abu kemerahan, Dibawah folikel terdapat cairan keruh yang terdiri atas sebukan sel limfoit.

c. Papil Raksasa (cobble-stone) batu krikil, yang biasanya tampak pada bagian tarsus superior. d. Flikten tonjolan berupa serbukan sel-sel radang kronik dibawah epitel konjungtiva atau kornea, berupa suatu mikro/abses, dimana permuka epitel mengalami nekrosis. e. Membran masa putih padat yang menutupi sebagian kecil, sebagian besar atau seluruh konjungtiva. f. Sikatriks garis-garis putih halus pada konjugtiva tarsalis superior.

konjungtivis berdasarkan gambaran klinik, yaitu :


Konjungtivis kataral Konjungtivis purulen, mokupurulen. Konjungtivis membran Konjungtivis perikular (termasuk trakoma) Konjungtivis vernal Konjungtivis klipten

Alergi Konjungtivitis
Akut
Akut (konjungtivitis demamhay ). Merupakan suatu bentuk alergi akut yang diperantarai IgE terhadap alergen yang terbesar di udara (biasanya serbuk sari). Gejala dan tanda antara lain: 1. Rasa gatal; 2. Injeksi dan pembengkakan konjungtiva (kemosis); 3. Lakrimalis;

Kronis
Konjungtivitis vernal ( kataral musim semi) juga diperantarai oleh IgE. Sering mengenai anak laki-laki dengan riwayat atopi. Dapat timbul sepanjang tahun. Gejala dan tanda antara lain: a. Rasa gatal; b. Fotofobia; c. Lakrimalis; d. Konjungtivitis papilar pada lempeng tarsal atas; e. Folikel dan bintik putih limbus; f. Lesi pungtata pada epitel kornea; g. Plak oval opak yang pada penyakit parah plak ini menggantikan zona bagian atas epitel kornea.

Manifestasi Klinis
Menyajikan konjungtivitis dengan satu atau lebih dari gejala grittiness, iritasi, debit (yang mungkin berair atau bernanah), fotofobia ringan (tidak suka cerah cahaya), pembengkakan (chemosis) dari konjungtiva dan kemerahan (injeksi) dari mata.

Penatalaksanaan Dan Pengobatan


a. Konjungtivitis bakteri biasanya diobati dengan tetes mata atau cream antibotik, tetapi sering sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2 minggu tanpa pengobatan. b. kompres hangat pada mata dapat mengangkat rabas. c. konjungtivitis akibat virus biasanya diobatai dengan kompres hangat. Untuk mencegah penularan, di perlukan teknik mencuci tangan yang benar

d. konjungtivitis alergi diobati dengan menghindari alergen apabila mungkin, dan pemberian tetes mata yang mengandung antihistamin atau steroid serta kompres dingin untuk mengurangi gatal, peradangan dan gejala lainnya. e. Setelah dilakukan pemeriksaan mata secara umum, maka kemudian dilakukan pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan sitologi untuk menidentifikasi penyebab peradangan. f. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %)

g.Konjungtivitis kimia / iritatif dapat diatasi dengan penghentian substansi penyebab seperti pemberian obat topikal jangka panjang seperti dipivefrin, miotik, neomycin, dan obat-obat lain. h. Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi topical dan sistemik .

Pencegahan
1. Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk keperluan tertentu), dan hindari mengucek-ngucek mata. 2. Mengganti sarung bantal dan handuk dengan yang bersih setiap hari. 3. Hindari berbagi bantal, handuk dan saputangan dengan orang lain. 4. Mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah kontak (jabat tangan, berpegangan, dll) dengan penderita konjungtivitis. 5. Untuk sementara tidak usah berenang di kolam renang umum. 6. Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang tissue atau sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.

Prognosis
1. Ringan Terdapat erosi epitel dan kekeruhan ringan kornea Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea atau konjungtiva Prognosis baik 2. Sedang Terdapat kekeruhan kornea sehingga sukar melihat iris dan pupil secara detail Terdapat nekrosis dan iskemia ringan konjungtiva dan kornea Prognosis sedang 3. Berat Terdapat kekeruhan kornea, sehingga pupil tidak dapat dilihat Terdapat iskemia konjungtiva dan sklera, sehingga tampak pucat Prognosis buruk

Komplikasi
1. Blefarokonjungtivitis 2. timbulnya pseudomembran, dan timbul parut linear halus atau parut datar. 3. keterlibatan kornea serta timbul vesikel pada kulit 4. ulkus pada kornea dan infeksi sekunder.

Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen injuri (biologi) Intervensi : 1. Lakukan pengkajian lengkap pada nyeri termasuk lokasi, sifat, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetusnya. 2. Ajarakan teknik non farmakologi 3. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 4. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi

5. Menentukan lokasi, sifat, kualitas, dan berat nyeri sebelum pengobatan. 6. Pilih analgesik yang tepat, attau kombinasi analgesik saat lebih dari satu analgesik yang dianjurkan 7. Tentukan pilihan analgesik berdasarkan type dan berat nyeri

Lanjutan
2. Gangguan persepsi sensori (visual) b.d perubahan integrasi sensori Intervensi : a. Mengikuti 5 benar pemberian pengobatan b. Catat riwayat pengobatan pasien dan riwayat alergi. c. posisi pasien telentang atau duduk di kursi dengan leher sedikit hiperekstensi. d. Berikan obat ke konjungtiva dengan teknik aseptik

Lanjutan
3. Gangguan Rasa Nyaman Intervensi : a. Memonitor kemerahan, eksudat, atau ulserasi b. Instruksikan pasien untuk tidak menyentuh mata c. Memonitor alis d. Memonitor kelopak mata e. Memonitor konjungtiva

Lanjutan
4. Gangguan gambaran diri b.d penyakit Intervensi : a. Menentukan harapan utama citra tubuh pasien di tingkat perkembangan b.Gunakan panduan antisipatif untuk mempersiapkan pasien untuk prediksi perubahan di citra tubuh c.Kaji pasien untuk membahas perubahan yang disebabkan oleh sakit atau bedah

Lanjutan
5. Risiko Perdarahan: Faktor risiko (dilatasi pembuluh darah) Intervensi : a. Pantau adanya perdarahan b. Catat nila Hb/Hct sebelum dan sesudah perdarahan c. Pantau tanda dan gejala danya perdarahan d. Pantau faktor pembekuan, termasuk protrombin(PT) , partial thrombin tim (PTT), fibrinogen, degradasi fibrin, dan hitung trombosit.

Simpulan
Mata adalah organ penglihatan. Suatu struktur yang sangat khusus dan kompleks, menerima dan mengirimkan data ke korteks serebral. Konjungtiva adalah lapisan tipis, yang mencakup bagian belakang kelopak mata. Konjungtiva membantu melindungi mata dari benda asing dan infeksi tetapi dapat sendiri menjadi terganggu oleh bahan kimia atau reaksi alergi atau terinfeksi oleh virus atau bakteri. Kondisi ini umumnya menyebabkan nyeri, gatal, dan kemerahan pada mata. Diagnosa keperawatan yang dapat diangkat diantaranya : Nyeri, gangguan rasa nyaman, cemas, Gangguan citra tubuh b.d perasaan negative tentang tubuh, risiko infeksi, serta Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan tentang penyakitnya, komplikasi, dan obatobatan yang diberikan.

THANK YOU