Anda di halaman 1dari 14

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1.

1 Definisi

Osteoporosis adalah penyakit tulang metabolik yang ditandai oleh penurunan densi tas tulang yang parah sehingga mudah terjadi fraktur tulang ( Elizabeth.Corwn, 2 009) Osteoporosis adalah penyakti yang ditandai dengan berkurangnya masa tulang dan a danya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang. Bahkan hanya berkurangnya kepad atan tulang tetapi juga penurunan kekuatan tulang (WHO) Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan massa tulang total terdapa t . perubahan pergantian tulang homeostatis normal, kecepatan reabsorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan penurunan masa tula ng total (Brunner&Suddarth,2001) Kesimpulan : Osteoporosis adalah penyakit tulang metabolik dimana terjadi perub ahan mikroarsitektur jaringan tulang , penurunan massa /densitas tulang total ya ng parah,penurunan kekuatan tulang sehingga mudah terjadi fraktur tulang. 2.1.2 Klasifikasi Klasifikasi osteoporosis terbagi menjadi 3 antara lain : 1. Osteoporosis primer Tipe 1 Osteoporosis postmenopausal adalah tipe yang terjadi pada wanita pasca menopause. terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.Biasany a gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mula i muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.Tidak semua wanita memiliki risiko yan g sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daera h timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. Tipe 2 Osteoporosis senilis yang terjadi pada orang usia lanjut baik pr ia maupun wanita. dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit osteoporosis bisa di sebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, parati roid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kej ang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan me rokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis. 2. Osteoporosis sekunder Osteoporosis sekunder terutama di sebabkan oleh penyakit penyakit tulang erosive misalnya myeloma, gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, p aratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, ant i-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan).dan akibat obat obatan yang toksik u ntuk tulang (misalnya ; glukokortiroid). Jenis ini di temukan pada kurang lebih 2 3 juta klien. dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan o leh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.Penyakit osteoporosis bisa diseb abkan oleh Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaa n osteoporosis. 3. Osteoporosis idiopatik. merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya ti dak diketahui.Hal ini terjadi pada Usia kanak kanak (juvenile),Usia remaja (adol esen), Wanita pra menopause, Pria usia pertengahan yang memiliki kadar dan fungs i hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. 2.1.3 Etiologi Kecepatan pembentukan berkurang secara progresif sejalan dengan usia, yang dimul ai pada usia sekitar 30-40 tahun. Pada individu yang berusia 70-80an. Osteoporos is menjadi penyakit yang sering ditemukan. Meskipun reabsorpsi tulang mulai mele bihi pembentukan tulang pada usia dekade empat atau kelima , pada wanita penipis an tulang yang paling signiofikan terjadi selama dan setelah menopouse. Penuruna n estrogen pasca menopouse tampak sangat berperan dalam perkembangan ini pada po pulasi wanita lansia.

Berikut Faktor penyebab Osteoporosis antara lain : a. Usia Sekitar 25 % wanita pasca monopouse dalam waktu 15-20 tahun setelah monopouse ( Patofisiologi E. Crown,2009). Lebih setengah dari semua wanita diatas usia 45 tahun memperlihatkan bukti pada sinar-x adanya osteoporosis, prevalensi osteoporosis pada wanita usia lanjut yai tu 75 tahun adalah 90%. Rata-rata wanita usia 75 tahun telah kehilangan 25 % tul ang kortikalnya dan 40% tulang trabekularnya (Brunner & Suddarth ,2001) Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 7 5-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalam i kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat. b. Hormon Berikut penjelasan pengaruh hormon terhadap osteoporosis menurut Brunner & Sudda rth : Hormon estrogen Hormone estrogen yang menghambat pemecahan tulang juga berkurang bersama bertamb ahnya usia > 35 tahun Hormon Paratiroid Hormon paratiroid di sisi lain meningkat bersama bertambahnya usia dan meningkat kan reabsorpsi tulang. Konsekuensi perubahan ini adalah kehilangan tulang neto b ersama berjalannya waktu. Calcitonin Kehilangan massa tulang merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan usia . Kalsitonin yang menghambat reabsorpsi tulang dan merangsang pembentukan tulang mengalami penurunan. c. Genetik Genetik dapat mempengaruhi puncak masa tulang, jika salah satu dari orang tua ya ng mempunyai osteoporosis kemungkinan pada keturunan akan diturunkan sehingga ke mungkinan besar terjadi osteoporosis 60-80%. d. Nutrisi Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun mengakib atkan penggurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis . e. Gaya hidup Kebiasaan minum kopi dan minuman bersoda Kandungan xantin didalam kafein dan bikarbonat dalam minuman bersoda dapat menur unkan reabsorpsi / pembentukan tulang dan meningkatkan pengikisan tulang. Konsum si minuman bersoda, karena mengandung fosfor yang merangsang pembentukan hormon parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah. Minuman berkafein sep erti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Ha l ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton Univ ersity Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara m inuman berkafein dengan keroposnya tulang.Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pem bentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat p roses pembentukan massa tulang (osteoblas). Merokok Kandungan nikotin dan 40 senyawa kimia lainnya di dalam rokok dapat menurunkan p roduksi hormon estrogen, sehingga akan terjadi demineralisasi pada tulang (osteo porosis). Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Peroko k sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan akt ivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya alira n darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan t ulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara la ngsung tidak langsung.Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang t idak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat

melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembe ntukan pada umur tersebut sudah berhenti. Aktivitas fisik (kurang olahraga) Kurangnya aktivitas fisik mengakibatkan menurunnya metabolisme kalsium pada tula ng dan suplai nutrisi pada tulang. Alkohol Penyalahgunaan etanol / alkohol di dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan peng ikisan tulang dalam tubuh, f. Obat-obatan Kortikosteroid, isoniasid, heparin , tetrasiklin, antasida yang mengandung alumi nium, furosemid, antikonvulsan, dan suplemen tiroid mempengaruhi penggunaan tubu h dan metabolisme kalsium (Brunner & Suddarth ,2001) g. Immobilisasi Immobilisasi menyumbang perkembangan osteoporosis. Pembentukan tulang dipercepat dengan adanya stress berat badan dan aktivitas otot, ketika diimobilisasi denga n gips, paralisis atau inaktivitas umum, tulang akan direabsorpsi lebih cepat da ri pembentukannya dan terjadilah osteoporosis. (Brunner& Suddarth, 2001) h. Jenis kelamin Pria memiiki tulang 30% lebih padat daripada wanita sehingga wanita lebih rentan g mengalami osteoporosis dibanding pria. (Patosiologi, E.Crown, 2009) Wanita lebih sering mengalami osteoporosis dan lebih ekstensif daripada pria kar ena puncak massa tulang juga lebih rendah dan efek kehilangan estrogen selama me nopause (Brunner & Suddarth, 2001) Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormo n estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain i tu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun. i. Ras Wanita Afrika-Amerika yang memiliki massa tulang lebih besar daripada wanita Kau kasia, lebih tidak rentan terhadap osteoporosis, Wanita kaukasia yang tidak gemu k dan berkerangka kecil mempunyai risiko tertinggi untuk osteoporosis. (Brunner & Suddart, 2001) Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki r isiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rend ah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah. j. Penyakit Penyerta Sindrom Chusing, Hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, gagal ginjal, gagal hepar , dan gangguan endokrin menyebabkan kehilangan / pengikisan tulang (osteoporosis ). (Brunner & Suddarth,2001) k. Bahan Katabolik Bahan Katabolik endogen (diproduksi oleh tubuh) dan eksogen (dari sumber luar) d apat menyebabkan osteoporosis. (Brunner&Suddarth, 2001) Normal : Nilai T pada BMD > -1 Osteopenia : Nilai T pada BMD antara -1 dan -2,5 Osteoporosis : Nilai T pada BMD < -2,5 Osteoporosis Berat : Nilai T pada BMD , -2,5 dan ditemukan fraktur Berdasarkan densitas massa tulang (pemeriksaan massa tulang dengan menggunakan a lat densitometri), WHO membuat kriteria sebagai berikut :

2.1.4 Patofisiologi Remodeling tulang normal pada orang dewasa akan meningkatkan massa tulang sampai sekitar usia 35 tahun. Genetik, nutrisi, pilihan gaya hidup (mis. Merokok,komsu msi kafein dan alkohol) dan aktivitas fisik mempengaruhi puncak massa tulang. Ke

hilangan karena usia mulai segera setelah tercapainya puncak massa tulang. Mengh ilangnya estrogen pada menopause dan pada ooforektomi mengakibatkan percepatan r eabsorpsi tulang dan berlangsung terus menerus selama tahun-tahunn pascamenopaus e. Remodeling tulang digambarkan dengan keseimbangan fungsi osteoblas dan osteok las. Meskipun pertumbuhan terhenti, remodeling tulang berlanjut. Proses dinamik ini meliputi resorbsi pada satu permukaan tulang dan deposisi pembentukan tulang pada tempat yang berlawanan. Hal ini dipengaruhi oleh weight bearing dan gravit asi, dan juga masalah-masalah seperti penyakit sistemik. Proses seluler dilaksan akan oleh sel tulang spesifik dan dimodulasi oleh hormon lokal dan sistemik sert a peptida. Osteoblas adalah sel pembentuk tulang. Mereka membentuk dan mesekresikan kolagen (kebanyakan tipe I) dan nonkolagen organik komponen pada fase matrik tulang. Me reka mempunyai peranan penting pada mineralisasi matrik organik. Protein nonkola gen produksi osteoblas meliputi osteokalsin (komponen nonkolagen tulang terbesar ), 20% dari total massa tulang; osteonektin; protein sialyted dan phosphorylated ; dan thrombospondin. Peranan protein nonkolagen tersebut tidak diketahui tapi s intesisnya diatur oleh hormon paratiroid (PTH) dan 1,25 dihidroksivitamin D. Mer eka juga berperan pada kemotaksis dan adhesi sel. Pada proses pembentukan matrik tulang organik, ostoblas terperangkap di antara formasi jaringan baru, kehilang an kemampuan sintesis dan menjadi osteosit.Osteoklas adalah sel terpenting pada resorpsi tulang. Mereka digambarkan dengan ukurannya yang besar dan penampakan y ang multinucleated. Sel ini bergabung menjadi tulang melalui permukaan reseptor. Penggabungan pada permukaan osteoklas tulang membentuk bagian yang dikenal seba gai sealing zone. Resorpsi tulang terjadi oleh kerja proteinase asam pada pusat ru ang isolasi subosteoklas yang dikenal sebagai lakuna howship. Membran plasma dar i sel ini diinvaginasi membentuk ruffled border. Osteoklas mungkin berasal dari sel induk sum-sum tulang, yang juga menghasilkan makrofag-monosit. Perkembangan dan fungsi mereka dimodulasi oleh sitokin seperti interleukin-1 (IL-1), interleu kin-6 (IL-6) dan interleukin-11 (IL-11).Remodeling tulang terjadi pada tiap perm ukaan tulang dan berlanjut sepanjang hidup. Jika massa tulang tetap pada dewasa, menunjukkan terjadinya keseimbangan antara formasi dan resorpsi tulang. Keseimb angan ini dilaksanakan oleh osteoblas dan osteoklas pada unit remodeling tulang. Remodeling dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang.Oeseoblas dan osteoklas dik ontrol oleh hormon sistemik dan sitokin seperti faktor lokal lain (growth factor , protaglandin dan leukotrien, PTH, kalsitonin, estrogen dan 1,25-dihydrocyvitam in D3 [1,25-(OH)D3]). PTH berkeja pada osteoblas dan sel stroma, di mana mensekr esi faktor soluble yang menstimulasi pembentukan osteoklas dan resorbsi tulang o leh osteoklas. Sintesis kolagen oleh osteoblas distimulasi oleh paparan pada PTH yang intermiten, sementara paparan terus menerus pada PTH menghambat sitesis ko lagen. PTH berperan penting pada aktivitas enzim ginjal 1 & agr; hidroksilase ya ng menghidroksilat 25-(OH)D3 menjadi 1,25-(OH)2D3.9Kalsitonin menghambat fungsi ostoklas langsung dengan mengikat resoptor afinitas tinggi; kalsitonin mungkin t idak langsung mempengaruhi fungsi osteoblas. Level Kalsitonin menurun pada wanit a dibanding pria, tapi difisiensi kalsitonin tidak berperan pada usiia-osteoporo sis. Namun defisiensi esterogen menyebabkan penurunan massa tulang secara signif ikan. Defisiensi estrogen diperkirakan mempengaruhi level sirkulasi sitokin spes ifik seperto IL-1, tumor necross faktor -& agr; koloni granulosit-makrofag stimu lating factor dan IL-6. Bersama sitokin ini meningkatkan resorpsi tulang melalui peningkatan rekruitmen, diferensiasi dan aktifasi sel osteoklas.Pada beberapa t ahun pertama paska menopause terjadi penurunan massa tulang yang cepat sebesar 5 % per tahun pada tulang trabekular dan 2-3% per tahun pada tulang kortikal. Hal ini disebabkan meningkatnya aktivitas osteoklas. Selanjutnya didominasi oleh ost eoblas dan hilangnya massa tulang menjadi 1-2% atau kurang per tahun. 2.1.5 Manifestasi Klinis Walaupun berlanjut secara membahayakan osteoporosis mungkin tidak berhubungan de ngan berbagai gambaran klinis kecuali jika patah tulang terjadi. Nyeri dan defor mitas biasanya menyertai patah tulang. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba da n dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika pen derita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit,

tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh.Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul.Yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebu t fraktur Colles.Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan. Dengan melemah dan kolapsnya korpus veterbra, tinggi individu dapat berkurang at au terjadi kiposis (kadang-kadang disebut dowagers hump) terjadi pengurangan ting gi badan, beberapa wanita pascamenopause dapat kehilangan tinggi 2,5 sampai 15 c m (1 sampai 6 inchi) akibat kolaps vertebra. Perut menonjol akibat perubahan pos tural dari kolaps vertebra dan relaksasi otot abdominal .Deformitas ini dapat me ngakibatkan insufiensi paru, mengeluh kelelahan. Pada tahun 2004, U.S. surgeon general mengidentifikasi fraktur trauma rendah seb gai kejadian sentinel yang menunjukan kesehatan tulang yang buruk yang harus dia nggpap sebgai in dikasi untuk skrining densitas tulang, bahkan pada individu ber usia muda atau orang lain yang tidak dianggap beresiko tinggi mengalami osteopor osis. 2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik Sinar x Dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosa medis lain (mis, mieloma mult ipel, osteomalasia, hiperparatiroidisme, keganasan) yang juga menyumbang terjadi nya kehilangan tulang Untuk melihat bentuk tulang , mengukur kadar kalsium dan mineral dalam tulang. B ila sudah terjadi demineralisasi 25 % s/d 40% tampak radiolusensi tulang, ketika vertebra kolaps ,vertebra torakalis menjadi bebentuk baji dan vertebra lambalis bikonkaf Pemeriksaan Laboratorium Kalsium serum, Fosfat serum , Fosfatase alkali, Eksresi kalsium urine, ekskresi hidroksi prolin urine , Hematokrit dan Laju Endap Darah. Absorbsiometri foton (tunggal) Digunakan untuk memantau massa tulang kortikal pada sendi pergelangan tangan Absorbsiometri dua foton, dual energy x-ray absorptiometry (DEXA) dan CT scan Mampu memberikan informasi mengenai massa tulang pada tulang belakang dan panggu l . Sangat berguna untuk mengidentifikasi tulang osteoporosis dan mengkaji respo ns terhadap terapi. Pemeriksaan analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa kalsium total dan massa tulang. Pemeriksaan biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan informasi mengenai keadaan o steoklas, osteoblas, ketebalan trabekula dan kualitas meneralisasi tulang. Biops i dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka. 2.1.7 Penatalaksanaan Farmakoterapi : Pemberian suplemen kalsium, magnesium dan vitamin D Terapi pengganti hormonal (Hormone Replacement Therapy) bila diperlukan Obat-obat pengurang nyeri dan atau obat anti inflamasi non-steroid (NSAID), sepe rti : Ibuprofen ; efek samping yang dapat timbul : mual, muntah, diare, konstipasi. Indomethasin ; efek sampingnya : sakit kepala, diare. Aspirin ; efek sampingnya : nyeri lambung, mual, diare. Kalsitonon ; biasanya diberikan dalam bentuk injeksi, efek sampingnya antara lai n mual dan wajah terasa panas yang dirasakan segera setelah injeksi dan biasanya hilang dengan sendirinya. Mungkin pula timbul diare, muntah dan rasa sakit pada bekas suntikan. Bifosfonat (Alendronat) : jarang menimbulkan efek samping, namun bisa timbul dia re, rasa sakit dan kembung pada perut, dan gangguan pada tenggorokan atau esofag

us. Pada menopause, terapi penggantian hormon (HRT= Hormon Replacement Therapy) deng an estrogen dan progesteron dapat diresepkan untuk memperlambat kehilangan tulan g dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkan. selama HRT pasien haru s diperiksa payudaranya tiap bulan dan diperiksa panggulnya, termasuk papanicola ou dan biopsi endometrial (bila ada indikasi) sekali atau dua kali setahun. Kare na terapi estrogen sering dihubungkan dengan sedikit peningkatan insidensi kanke r payudara dan emdometrial, wanita yang telah menjalani pengangkatan ovarium ata u telah menjalani menopause prematur dapat mengalami osteoporosis pada usia yang cukup muda; penggantian hormon perlu dipikirkan pada pasien ini, estrogen menur unkan reabsorpsi tulang tapi tidak meningkatkan massa tulang, penggunaan hormon dalam jangka panjang masih dievaluasi, estrogen tak akan mengurangi kecepatan ke hilangan tulang dengan pasti. Obat-obat lain yang dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk kalsi tonin, Natrium Fluorida, dan Natrium Etidronat perlu untuk diberikan informasi t ersebut. Jelaskan informasi kepada klien tentang fungsi-fungsi obat tersebut, ru te pemberian obat dan efek samping: Kalsitonin secara primer berfungsi menekan kehilangan tulang dan Rute pemberian obat tersebut dapat diberikan secara injeksi subkutan atau intramuskular. Jelask an efek samping (mis. Gangguan gastrointestinal, aliran panas, frekuensi urine) biasanya ringan dan hanya kadang-kadang dialami. Natrium fluorida berfungsi untuk memperbaiki aktivitas osteoblastik dan pembentu kan tulang, namun kualitas tulang yang baru masih dalam pengkajian Natrium Etidronat berfungsi menghalangi reabsorpsi tulang osteoklastik, sedang d alam penelitian untuk efisiensi penggunaannya sebagai terapi osteoporosis. Diet : Berikan informasi pada pasien tentang diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencu kupi dan seimbang sepanjang hidup, jelaskan tujuan program diet tersebut bahwa d engan peningkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindung i terhadap demineralisasi skeletal, peningkatan vitamin D untuk absorpsi kalsium untuk mempertahankan remodeling tulang dan fungsi tubuh. Jelaskan contoh nutris i yang akan tinggi kalsium dan vitamin D yaitu terdiri dari tiga gelas vitamin D susu skim atau susu penuh atau makanan lain yang tinggi kalsium ( mis.keju swis , brokoli kukus, salmon kaleng dengan tulangnnya dll) setiap hari. Untuk menyaki nkan asupan kalsium yang mencukupi perlu diresepkan preparat kalsium ( kalsium k arbonat). Gaya Hidup Berikan informasi tentang hindari kebiasaan merokok, komsumsi kafein, alkohol da n minuman bersoda, jelaskan bahwa: kandungan nikotin dan 40 senyawa kimia lain d alam rokok dapat menurunkan produksi hormon estrogen, sehingga akan terjadi demi neralisasi pada tulang (osteoporosis). Kebiasaan minum kopi dan minuman bersoda Kandungan xantin didalam kafein dan bikarbonat dalam minuman bersoda dapat menur unkan reabsorpsi / pembentukan tulang dan meningkatkan pengikisan tulang. Penyal ahgunaan etanol / alkohol di dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan pengikisan tulang dalam tubuh. Berikan penjelasan tentang penting nya melakukan aktivitas fisik seperti : joggi ng, berlari, renang, bersepeda dll . jelaskan manfaat melakukan aktivitas fisik bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi ke seluruh tubuh, meningkatkan reabsorpsi kalsium dalam tulang. 2.1.8 Komplikasi Terdapat beberapa komplikasi dari penyakit osteoporosis yaitu : Fraktur Fraktur atau patah tulang adalah suatu kondisi medis dimana terjadi kerusakan at au terputusnya kontinuitas jaringan baik tulang maupun tulang rawan yang biasany a disertai oleh cedera di jaringan sekitarnya. Fraktur tersebut dibagi menjadi a ntara lain : a. Fraktur Kompresi Vertebra. Fraktur yang terjadi karena kompresi (ketika dua tulang menumbuk dengan tulang ketiga yang berada diantara kedua tulang tersebut). Contoh : Tulang vertebrata d

engan tulang vertebrata lainnya. b. Fraktur Kolum Femur Fraktur kolum femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering t erjadi pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Klasifikasi fraktur kolum femur: 1. Fraktur intrakapsuler Fraktur ini dapat disebabkan oleh trauma langsung (direct) dimana biasanya pende rita terjatuh dengan posisi miring sehingga daerah trochanter mayor langsung ter bentur dengan benda keras seperti jalanan ataupun lantai dan trauma tidak langsu ng (indirect) yang disebabkan gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawa h karena kepala femur terikat kuat dengan ligament 2. Fraktur ekstrakapsuler fraktur ekstrakapsuler. Banyak terjadi pada orangtua terutama pada wanita di ata s usia 60 tahun. Biasanya terjadi trauma yang ringan, daerah paha terbentur lant ai. Hal ini dapat terjadi karena pada wanita tua fraktur ini disebabkan oleh tra uma dengan kecepatan tinggi (tabrakan motor). 3. Fraktur Intertrochanter Femur Merupakan fraktur antara trochanter mayor dan trochanter minor femur. Fraktur in i termasuk Penderita terlentang di tempat tidur dengan tungkai bawah eksorotasi dan terdapat pemendekan sampai tiga sentimeter disertai nyeri pada setiap perger akan. Kifosis Kifosis adalah salah satu bentuk kelainan tulang punggung, di mana punggung yan g seharusnya berbentuk kurva dan simetris antara kiri dan kanan ternyata melengk ung ke depan melebihi batas normal. .Kifosis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu : 1. Kifosis Postural (Postural Kyphosis) Kifosis jenis ini merupakan kifosis yang paling sering dan umum terjadi. Kifosis ini dapat terjadi baik pada orang tua maupun muda. Pada orang tua, kelainan ini sering disebut hyperkyphosis atau D owagers hump sedangkan pada orang muda, kelainan ini sering disebut bungkuk udang.. 2. Kifosis Scheuermanns (Scheuermanns Kyphosis) Kifosis jenis ini dapat menyebabkan rasa sakit dan buruk secara kosmetik. Kifos is ini banyak diemukan pada remaja dan menunjukkan deformitas yang lebih buruk d ari kifosis postural. Puncak atau apex dari kurvanya terletak di vertebrae torak al dan bersifat kaku, 3. Kifosis Kongenital (Congenital Kyphosis) Kifosis ini dapat terjadi pada janin dimana kolumna spinalnya tidak berkembang dengan baik pada rahim ibu. Vert ebraenya mungkin mengalami malformasi atau berfusi bersama dan menyebabkan kifos is yang progresif seiring dengan perkembangan anak. 4. Kifosis Nutrisi (Nutritional Kyphosis) Kifosis ini disebabkan oleh defis iensi nutrisi terutama pada masa anak-anak seperti defisiensi vitamin D (menyeba bkan rickets) yang mana akan menyebabkan tulang menjadi lebih lembut dan rapuh s erta menghasilkan lengkungan pada spinal dan tungkai akibat berat badan anak. Loss of height Reduksi pada tinggi badan orang-orang usia yang sudah lanjut merupakan hal yang biasa terjadi. Hal ini disebabkan oleh degenerasi dari diskus intervertebralis d ari spinal, degenerasi osteoarthritis tulang kartilago pada paha, dan deformasi dari vertebrae spinal. Hospitalisasi, penempatan nursing home dan penurunan kemampuan untuk melakukan a ktivitas hidup sehari-hari dapat terjadi setelah fraktur osteoporosis. 2.1.9 Pencegahan Pencegahan osteoporosis antara lain : Penuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh an dengan pembentukan tulang seperti kalsium, Vit.D. Upayakan mencapai berat tubuh yang ideal Gaya hidup sehat untuk mencegah osteoporosis adalah n gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi denga unsur mak, dan kaya kalsium (1000-1500mg/hari). Pastikandiet anda

Asupan zat gizi yang berkait : mengkonsumsi makanan denga kaya serat,rendah le mengandung 1000mg ka

lsium/hari( jika anda pramenoupause) atau 1500mg/hari (jika anda postmenoupause) . Hindari suplemen yang berasal dari dolomite atau kepung tulang, bagaimana pun juga dalam mengkonsumsi kalsiu jangan melebihi 1500mg kalsium/hari kurangi sodiu m, garam, daging merah, dan makanan yang diasinan mulailah program reguler, lati han mempertahankan berat badan seperti jalan-jalan,jogging bersepeda atau aerobi c yang tak berpengaruh atau pengaruhnya rendah. Hindari minum kopi secara berlebihan karena dapat mengeluarkan kalsium secara be rlebihan , kurangi juga softdrink atau minuman ringan karena dapat menghambat pe nyerapan kalsium, hindari minuman beralkohol dan rokok karena dapat menyerap cad angan kalsium dalam tubuh. Hilangkan kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol dan kafein Paparan matahari (dipagi dan sore menjelang magrib) membantu pembentukan vit.D Usahakan menghindari obat-obat yang dapat meningkatkan resiko osteoporosis Rajin olahraga aktivitas fisik yang teratur sangat penting untuk pembentukan tul ang, kekerasan tulang setiap orang akan berangsur-angsur menurun setelah memasuk i umur 40 tahun. Pada wanita, menopouse mempercepat proses pengeroposan tulang i ni, khususnya jika mereka memiliki tulang-tulang yg tipis atau kecil, berambut m erah atau pirang atau kulitnya berbintik-bintik. Upayakan untuk mencegah terjadinya cedera (khususnya jatuh) Konsultasikan kepada dokter tentang terapi pegantian estrogen yang dapat mencega h osteoporosis dan efek-efek samping dari menoupause yang lain. 3 I. .2.10 Asuhan Keperawatan Pengkajian

1. Pengumpulan data A. Identitas pasien Nama : Ny.L Umur : 63 tahun B. Riwayat Keperawatan / Kesehatan 1. Keluhan utama Klien mengeluh nyeri pada punggung dan tulang belakang 2. Riwayat Kesehatan Sekarang Klien mengeluh nyeri pada punggung dan tulang belakang. Beberapa saat nyeri berk urang, namun kemudian sering kambuh lagi. 3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Siklus menstruasi sudah berhenti sekitar 3 tahun yang lalu. Klien memiliki kebia saan merokok sejak usia muda sampai saat ini , tetapi kebiasaan merokok yang ia mulai sejak duduk dibangku SMA telah ia hentikan sejak 6 tahun yang lalu. Konsep : Riwayat haid, umur menarche dan menopause, penggunaan obat kontrasepsi juga diperhatikan 4. Riwayat Kesehatan Keluarga Konsep : Riwayat keluarga dengan osteoporosis juga harus diperhatikan karena ada beberapa penyakti tulang metabolik yang bersifat herediter. 5. Riwayat Kesehatan Lingkungan 6. Riwayat Psikososial C. Pola Fungsi Kesehatan 1. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan 2. Pola Aktivitas dan Latihan Konsep : Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olah raga. Pengi sian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi dan toilet. Olah raga da pat membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa lebih baik. Selain itu mempertahankan tonus otot dan gerakan sendi. Untuk usia lanjut perlu aktivitas y

ang adequat untuk mempertahankan fungsi tubuh. Aktivitas tubuh memerlukan intera ksi yang kompleks antara saraf dan muskoloskletal. Beberapa perubahan yang terja di sehubungan denga nmenurunnya gerak persendian adalah agifity (kemampuan gerak cepat dan lancar menurun), stamina menurun, koordinasi menurun dan dexterity (k emampuan memanipulasi keterampilan motorik halus menurun). 3. Pola Nutrisi dan Metabolik Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kol esterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun)Riwayat p enggunaan diuretic. 4. Pola Eliminasi Konsep : Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatp enyakit ginjal pada masa yang lalu) 5. Pola Istirahat dan Tidur 6. Pola Kognitif Persepsi 7. Pola Toleransi dan Koping terhadap Stress 8. Persepsi Diri / Konsep Diri 9. Pola Nilai dan Kepercayaan D. Pengkajian Fisik 1. Keadaan Umum Keadaan Umum lemah 2. Kesadaran GCS : CM (E= 4 M =6 V =5) 3. Orientasi Orientasi terhadap waktu, tempat, orang 4. Tanda-Tanda Vital a. TD : - mmHg b. RR : - x/mnt c. HR : - x/mnt d. T : - 0C 5. BB : - Kg 6. TB : - Cm Pemeriksaan Fisik 1. Sistem Respirasi Konsep : Gejala : Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea , dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok. Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi nafas tamba han (krakties/mengi), sianosis. 2. Sistem Kardiovaskuler Konsep : Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/ka tupdan penyakit cebrocaskuler, episodepalpitasi. Tanda : Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikik ardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, s uhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda. 3. Sistem Imun dan Hematologi 4. Sistem Pencernaan

Konsep : Pembatasan pergerakan dan deformitas spinal mungkin menyebabkan konstip asi, abdominal distance. 5. Sistem Endokrin 6. Sistem Persarafan Konsep : Neurosensori Gejala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepa la,subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontansetelah be berapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur , epistakis). Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,efek, pr oses piker, penurunan keuatan genggaman tangan. 7. Sistem Integumen 8. Sistem muskuloskeletal Inspeksi dan palpasi pada daerah columna vertebralis, penderita dengan osteoporo sis seirng menunjukkan kiposis atau gibbus (dowagers hump) dan penurunan tinggi b adan dan berat badan. Adanya perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-len gth inequality, nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara v ertebrae thorakalis 8 dan lumbalis 3. E. DATA PSIKOLOGIS Klien mengalami masalah terhadap konsep diri yang meliputi : 1. Citra Tubuh Gambaran klinik penderita dengan osteoporosis adalah wanita post menopause denga n keluhan nyeri punggung yang merupakan faktor predisposisi adanya multiple frak tur karena trauma. Perawat perlu mengkaji konsep diri penderita terutama body im age khususnya kepada penderita kiposis berat. 2. Ideal diri 3. 4. 5. Identitas diri F. DATA SOSIAL dan SPIRITUAL Data Sosial : Klien mungkin membatasi interaksi sosial sebab adanya perubahan yang tampak atau keterbatas fisik, ,tidak mampu duduk di kursi danlain-lain. Perubahan seksu al bisa terjadi karena harga diri rendah atau tidak nyaman selam posisi intercoi tus.Osteoporosis bisa menyebabkan fraktur berulang maka perlu dikaji perasaan ce mas dan takut bagi penderita. Data Spiritual : G. DATA PENUNJANG Sinar x Dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosa medis lain (mis, mieloma mult ipel, osteomalasia, hiperparatiroidisme, keganasan) yang juga menyumbang terjadi nya kehilangan tulang Untuk melihat bentuk tulang , mengukur kadar kalsium dan mineral dalam tulang. B ila sudah terjadi demineralisasi 25 % s/d 40% tampak radiolusensi tulang, ketika vertebra kolaps ,vertebra torakalis menjadi bebentuk baji dan vertebra lambalis bikonkaf Pemeriksaan Laboratorium Kalsium serum, Fosfat serum , Fosfatase alkali, Eksresi kalsium urine, ekskresi hidroksi prolin urine , Hematokrit dan Laju Endap Darah. Absorbsiometri foton (tunggal) Digunakan untuk memantau massa tulang kortikal pada sendi pergelangan tangan Harga diri Peran diri

Absorbsiometri dua foton, dual energy x-ray absorptiometry (DEXA) dan CT scan Mampu memberikan informasi mengenai massa tulang pada tulang belakang dan panggu l . Sangat berguna untuk mengidentifikasi tulang osteoporosis dan mengkaji respo ns terhadap terapi. Pemeriksaan analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa kalsium total dan massa tulang. Pemeriksaan biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan informasi mengenai keadaan o steoklas, osteoblas, ketebalan trabekula dan kualitas meneralisasi tulang. Biops i dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka. H. TERAPI MEDIS Natrium Diklofenak tablet 2x50 mg

I. ANALISA DATA Nama : Ny.L Usia : 63 thn No DATA ETIOLOGI MASALAH KEPERAWATAN 1 DS : i. Klien mengeluh nyeri pada punggung dan tulang belakang. DO : Skala nyeri : 4 (0-5) Klien tampak meringis. Pascamenopaues Menurunnya produksi estrogen Pembentukan/ reabsorpsi kalsium di dalam tulang menurun Pengikisan tulang/ demineralisasi tulang Perubahan struktur dan fungsi tulang belakang Spasme otot Nyeri akut. Nyeri Akut 2 DS : Klien mengeluh nyeri di punggung dan tulang belakang saat beraktivitas DO : Klien hanya berbaring, tidak dapat melakukan aktvitas. Pascamenopaues Menurunnya produksi estrogen reabsorpsi kalsium di dalam tulang menurun demineralisasi tulang Perubahan struktur dan fungsi tulang belakang Kerusakan rangka neuromuskular Imobilitas fisik Imobilitas Fisik 3 DS : Klien mengeluh tidak tahu tentang karakteristik penyakit tersebut DO : Klien tidak tahu tentang pencegahan penyakit tersebut. Defisit informasi

Kesalahan interpretasi informasi Kurang pengetahuan Kurang pengetahuan J. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut b.d fraktur dan spasme otot yang ditandai oleh Skala nyeri : 4 (0-5), klien tampak meringis, klien mengeluh nyeri pada punggung dan tulang be lakang. 2. Immobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskular yang ditandai oleh Klien hanya berbaring, tidak dapat melakukan aktvitas, klien mengeluh nyeri di punggung dan tulang belakang saat beraktivitas 3. Kurang pengetahuan b.d kesalahan interpretasi informasi yang ditandai o leh klien mengeluh tidak tahu tentang karakteristik penyakit tersebut, klien tid ak tahu tentang pencegahan penyakit tersebut. III. Intervensi Keperawatan Nama : Ny. L Usia : 63 thn Tgl Dxp PERENCANAAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL 27-9-12 1 Tujuan ; Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 hari diharapkan nyeri berkurang Dengan criteria hasil : i. Klien mengatakan nyeri reda saat istirahat - Klien dapat tenang dan istirahat yang cukup - Klien menunjukkan berkurangnya nyeri tekan pada tempat fraktur - Skala nyeri 1 (0-5) - klien tidak tampak meringis Mandiri 1. Anjurkan klien beristirahat di tempat tidur dengan posisi terlentang ata u senyaman mungkin 2. 3. 4. Fleksikan lutut selama istirahat. Berikan kompres hangat dan pijatan punggung Lakukan dan awasi latihan gerak aktif / pasif

5. Tinggikan dan dukung ekstremita yang terkea f. Kolaborasi 1. Pemberian obat Na Diklofenak 2x 50 mg 1. Mencegah kesalahan posisi tulang / tegangan jaringan yang terkena 2. Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi 3. Meningkatkan sirkulasi umum 4. Mempertahankan kekuatan dan mobilisasi otot yang sakit dan memudahkan re solusi inflamasi pada jaringan yang cedera. 5. Meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan nyeri f.

1. Meningkatkan relaksasi otot dan partisipasi 27-9-12 2 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari diharapkan klien mampu melaku kan mobilitas fisik. Kriteria : - Klien dapat meningkatkan mobilitas fisik - Klien mampu mempertahankan posisi fungsional Mandiri 1. Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera

2.

Dorong partisipasi pada aktifitas terapeutik / rekreasi

3. Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ek stremitas yang sakit dan tidak sakit 4. Berikan papan kaki,bebat pergelangan,yang sesuai

5. Tempatkan pada posisi terlentang periodik bila mungkin 6. Bantu/dorong perawatan diri atau kebersihan (mandi) 1. Pasien mngkin dibatasi oleh pandangan diri tentang keterbatasan fisik ak tual dan memerlukan informasi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan 2. Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi 3. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus ot ot dan mempertahankan gerak sendi 4. Berguna dalam mempertahankan posisi fungsional ekstremitas atau tangan d an kaki 5. Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul 6. Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung 27-9-12 3 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 hari diharapkan klien dapat menunj ukkan pemahaman terhadap program terapi Kriteria : - Klien mengkonsumsi diet kalsium dalam jumlah mencukupi Klien meningkatkan tingkat latihan Mandiri 1. Kaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan dating 2. Beri penguatan metode mobilisasi dan ambulasi sesuai instruksi dengan te rapi fisik bila diindikasikan 3. Buat daftar aktifitas dimana pasien bisa melakukannya sendiri atau denga n bantuan 4. Dorong pasien untuk melakukan latihan aktif untuk sendi diatas dan dibaw ah fraktur 5. Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis 1. Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informa si 2. Kerusakan lanjut dan perlambatan penyembuhan dapat terjadi karena ketida ktepatan penggunaan alat ambulasi 3. Penyusunan aktifitas sekitar kebutuhsn yang memerlukan bantuan atau yang memerlukan bantuan 4. Mencegah kekakuan sendi,kontraktor dan kelelahan otot

5.

Kerja sama pasien dalam program pengobatan membantu proses penyembuhan