Anda di halaman 1dari 15

BAB V Routing

5.1. Tujuan Mahasiswa akan dapat memahami dan menjelaskan hal mengenai Routed dan Routing Dasar, Hubungan direct, Routing Statik dan Dinamik, Module Routing Rules, jenis-jenis Routing Dinamik setelah mempelajari bahan ini. 5.2. Routed dan Routing Dasar Fungsi penting dari Protokol IP adalah routing, dengan kata lain aturan routing ada pada layer IP. Mekanisme routing adalah mencari tabel routing dan memutuskan kemana arah suatu datagran dikirimkan . Dalam hal ini harus dibedakan antara program routing pada suatu host dengan program routing pada host yang berfungsi sebagai Router Program routing pada host disebut sebagai routed , suatu routed protokol digunakan untuk trafik user langsung. Routed protokol menyediakan informasi untuk melewatkan paket yang akan diteruskannya dari satu host ke host yang lain berdasarkan alamatnya. Pada komputer Linux atau windows dapat dilihat suatu tabel route dengan perintah: # netstat -rn Misalkan suatu mesin mempunyai 2 buah card ethernet didapat suatu tabel route dan gambar seperti berikut ini Tabel 5.1. Tabel routing routed pada suatu host Destination 192.168.10.234 127.0.0.1 Default 192.168.101 Dimana: U route up G route ke suatu gateway H route menuju ke suatu host atau PC/komputer lain Gateaway 192.168.10.1 127.0.0.1 192.168.101.1 192.168.101.1 Flag UGH UG U Ref 0 Use 0 0 0 200 Interface eth0 lo eth1 eth1

55

D route dibentuk karena suatu redirect M route dimodifikasi oleh redirect

Gambar 5.1. Tabel network statistik routing routed pada suatu host 5.2.1. Hubungan direct Gambar di bawah ini menunjukkan hubungan 3 buah komputer/ host dalam sebuah jaringan /network yang sama masing masing host menggunakan protokol yang sama yaitu TCP/IP, masing masing host juga mempunyai card ethernet sehingga masing masing mempunyai alamat ethernet sendiri. Setiap host mempunyai alamat IP
56

yang sesuai dengan nomer net atau jaringan. Komputer A mempunyai nomer IP 192.168.10.1 , Komputer B 192.168.10.2 dan Komputer C 192.168.10.3. Nomer network atau nomer jaringan adalah 192.168.10.0 192.168.10.1 192.168.10.2 192.168.10.3

A Network 192.168.10.0

Gambar 5.2. Sebuah jaringan IP Jika komputer A mengirimkan frame paket IP ke B maka , maka paket tersebut mempunyai header IP berisi alamat IP sumber yaitu IP komputer A dan Header Ethernet berisi alamat ethernet sumber yaitu alamat ethernet komputer A , juga header IP berisi alamat IP tujuan yaitu IP komputer B dan header ethernet berisi alamat ethernet tujuan yaitu alamat ethernet komputer B Eth dest/B Eth sou/A IP dest/B IP sou/A TCP Data Gambar 5.3. Frame paket dikirim dari komputer A ke B Sehingga dapat digambarkan dengan model pentabelan seperti berikut: Tabel 5.1. header Ethernet dan IP suatu frame paket dari A ke B Address IP header Ethernet header Source A A Destination B B

Tabel di atas merupakan tabel pemodelan Ethernet frame Header untuk IP paket dari A ke B. Proses yang dilakukan di sini sederhana ,Komputer A mentransmisikan data ke komputer B dengan model seperti diatas , komputer B akan menerima paket data dan mengecek apakah alamat IP dan alamat interface benar, karena hubungan 2 host dalam jaringan yang sama atau pada sebuah network, penerima hanya mengecek IP

57

dan alamat ethernet , datagram yang diterima kemudian di proses ke layer di atasnya . Dengan demikian berarti tidak ada perubahan/penggantian/translasi apapun pada alamat IP dan alamat ethernet. Berbeda jika paket dilewatkan router seperti dijelaskan pada sub bab dibawah tentang indirect routing. 5.2.2. Routing Statik dan Dinamik Mekanisme routing dapat dibagi menjadi dua, yaitu:routing statik dan routing dinamik. Pada routing statik, entri-entri dalam forwarding table router diisi dan dihapus secara manual oleh admin, sedangkan pada routing dinamik perubahan dilakukan oleh program routing melalui protokol routing pada suatu router.

Routing statik adalah pengaturan routing paling sederhana yang dapat dilakukan pada jaringan komputer. Menggunakan routing statik murni dalam sebuah jaringan berarti mengisi setiap entri secara manual tabel forwarding pada setiap router yang berada di jaringan tersebut, Dapat dibayangkan bagaimana repotnya jika harus melengkapi tabel forwarding di setiap router jika jumlahnya router banyak pada jaringan yang besar dan selalu terjadi penambahan dan pengurangan.

Routing dinamik adalah cara yang digunakan menambah, mengurangkan dan memodifikasi entri-entri tabel forwarding secara dinamis yang dilakukan router. Protokol routing mengatur router-router sehingga dapat berkomunikasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi routing yang dapat mengubah isi tabel forwarding , tergantung keadaan jaringannya pada suatu saat . Dengan cara ini, router-router mengetahui keadaan jaringan yang terakhir dan mampu meneruskan datagram ke arah yang benar. Dengan kata lain, routing dinamik adalah proses pengisian data routing pada tabel routing dilakukan oleh program routing. (Sumber Nuraida,Ida.2012)

Berikut ini tabel perbedaan yang spesifik untuk kedua jenis routing. Tabel 5.2. Perbedaan routing statik dan routing dinamik RoutingStatik Routing Dinamik Berfungsi pada protokol IP Berfungsi pada inter-routing protocol

58

Tidak mentransmisikan informasi routing

Router mentrasmisikan informasi routing secara otomatis ke router lain Routing tabel dibuat dan Routing tabel dibuat dan dihapus dihapus secara manual secara dinamis oleh program routing Tidak menggunakan routing Menggunakan routing protocol, protocol seperti RIP atau OSPF (Sumber Nuraida,Ida.2012) Contoh beberapa Protokol Routing : Routing information protkol(RIP) Interior gateway routing protkol(IGRP) Enhanced interior gateway routing protkol(EIGRP) Open shortest path first(OSPF) Gambar di bawah ini menunjukan indirect routing, maksudnya adalah bahwa terdapat host yang akan berhubungan dengan host lain di luar network di mana host tersebut berada. 192.168.2.1
PC-A

`5.3. ROUTER

Router 192.169.23.1 192.168.23.20


Router PC-D PC-E

192.168.2.10 192.168.2.5
PC-B

192.168.23.123
PC-H

59

Gambar 5.4. Dua buah jaringan IP terhubung dengan router Gambar 5.3 adalah suatu gambar dasar jaringan intranet , di mana terdapat 2 buah jaringan yang independen yang dihubungkan melalui sebuah Router . Masing masing komputer mempunyai IP yang bersesuaian dengan jaringannya masing masing, dan mempunyai alamat ethernet masing masing Setiap komputer menggunakan protokol stack TCP/IP sedangkan komputer D menggunakan protokol IP-router yaitu protokol TCP/IP dengan seting IP untuk router. Komputer D digunakan sebagai router untuk 2 buah jaringan maka mempunyai 2 buah nomer alamat IP dan 2 buah nomer alamat interface ethernet, sehingga komputer D mempunyai 2 buah ARP module dan 2 buah ethernet driver . Jika komputer/host A mengirimkan IP paket ke host B maka disebut dengan direct routing. Setiap host yang berkomunikasi dalam network yang sama maka yang berlaku adalah direct routing. Jika komputer A dan D kerkomunikasi juga direct routing, karena A dan D mempunyai nomer network yang sama. Jika H dan D berkomunikasi disebut dengan direct routing karena H Dan D mempunyai nomer network yang sama, perhatikan D mempunyai 2 buah nomer IP. Satu sisi ikut IP jaringan pertama dan satu IP lain ikut jaringan kedua. Bagaimana sekarang jika komputer A berkomunikasi dengan komputer pada sisi lain setelah router, maka komunikasi tersebut bukanlah direct. Komputer A haruslah menggunakan D untuk memforward paket IP ke network berikutnya. Komunikasi ini disebut dengan indirect. Routing IP paket ini dikerjakan oleh modul-modul IP router sehingga menjadikannya transparant untuk protokol TCP, UDP dan aplikasi-aplikasi jaringan yang lain. Jika host A akan mengirimkan paket IP ke E, maka IP sumber dan ethernet sumber adalah milik host A. IP tujuan adalah E tetapi karena IP modul milik A dikirimkan melalui D (diforwarding oleh D) maka isi dari destinasi alamat ethernet adalah milik D. Perhatikan gambar ilustrasi berikut di mana paket header yang dikirimkan oleh host A adalah :alamat IP source/sumber A adalah alamat IP diri

60

sendiri, alamat IP destinaion/tujuan berisi IP E, header alamat ethernet sumber A, alamat tujuan ethernet D

Tabel 5.3. Pemodelan header IP dan Ethernet untuk paket dari A ke E pada network pertama sebelum melalui router D Address IP header Ethernet header Source A A Destination E D

Modul IP pada host D akan menerima IP paket kerena alamat Ethernet adalah milik D, tetapi setelah di cek nomer IP ternyata tidak ditujukan pada dirinya. IP paket kemudian ditransmitkan ke sisi lain , dengan kata lain dikirimkan ke E. Sehingga pemodelan paket IP yang dikirimkan adalah IP sumber adalah milik A, alamat IP tujuan adalah E dengan header ethernet sumber milik D, header alamat ethernet tujuan milik E. Ilustrasinya ada di bawah ini Tabel 5.4. Alamat ethernet dan IP pada pengiriman paket dari A ke E pada sisi setelah router Address Header IP Header Ethernet Source A D Destination E E

Dari hal di atas dapt diketahui bahwa nomer ethernet dan nomer IP Dan nomer ethernet tidak selalu berpasangan, Nomer Hardaware tujuan suatu paket pada jaringan sisi kiri /pengirim adalah nomer alamat MAC router sisi kiri Setelah paket melewati router alamat sumber MAC suatu paket adalah alamat MAC router sebelah kanan dari router. 5.3.1. IP Module Routing Rules Apakah proses yang terjadi pada module IP, di sini diberikan suatu algoritma proses pada module. Untuk suatu outgoing IP paket, paket diperoleh dari data layer di atasnya. Protokol IP harus memutuskan apakah suatu paket akan dikirimkan direct

61

atau indirect , dan protokol IP memutuskan network interface mana yang akan digunakan misalnya eth0 atau eth1, dengan melihat tabel route Untuk paket yang datang, paket dari layer diatasnya, protokol IP harus memutuskan apakah suatu paket di forward atau dilewatkan untuk diproses pada layer diatasnya. Jika paket IP tersebut ditujukan untuk diforwardkan , diperbaharui sebagai outgoing paket. Suatu paket yang datang tidak akan pernah diforwardkan ke network interface yang sama. Keputusan tersebut dibuat sebelum IP paket ditangani pada interface dibawahnya dan sebelum dibandingkan dengan tabel ARP. Penjelasan di atas adalah penerapan tanggung jawab protokol IP untuk mengirimkan suatu datagram ke tujuan yang ditunjukkan dengan alamat tujuan. Dibutuhkan mekanisme routing yang dapat mengintegrasikan banyak host, dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Jaringan dimodelkan sebagai autonomous system yang terpisah. Masing-masing autonomous system mempunyai cara tesendiri untuk mengatur dan mengendalikan jaringannya, termasuk pemilihan router dan protokol yang akan digunakan untuk melakukan routing pada sistemnya. Protokol routing yang digunakan dalam suatu autonomous system merupakan kelompok Interior Routing Protocol. Sedangkan protokol yang digunakan untuk routing antar autonomous system termasuk dalam Exterior Routing Protocol. Ada berbagai protokol routing dinamis yang dipakai di Internet. Di antaranya Routing Information Protocol (RIP), Open Shortest Path First (OSPF), Exterior Gateway Protokol (EGP) dan Border Gateway Protocol (BGP). ( Sumber : www.tf.itb.ac.id/tutorial/tcp-ip) 5.3.2. Routing Dinamik Contoh routing dinamis digambarkan seperti berikut : Suatu saat terdapat hubungan antara Host-1 dan Host 4 saat ini router terbaik yang digunakan adalah melalui Net-B dan Net-C dengan melalui router Host-2 dan Host-3 ( dalam hal ini Host-2 dan Host-3 juga sebagai router ). Misalkan jaringan Ethernet Net-C mengalami kerusakan. Host-1 tidak akan bisa menggunakan route melalui Host-2 untuk mencapai Host 4. Route lain adalah melalui Net-A dan Router Rou-1 untuk

62

mencapai Host-4. Jika terjadi kegagalan pada rute pertama, program routing harus memutuskan cara agar Host-1 mencari route lain untuk mencapai Host-4 yaitu melalui router Rou-1.. Program routing akan selalu melihat informasi pada tabel routing untuk memutuskan route. Update informasi routing harus senantiasa dibroadcast oleh router dalam periode waktu tertentu. Setiap host atau router juga harus menjaga tabel routingnya masing-masing agar senantiasa mendapat update dari router lainnya. Untuk RIP, jika periode waktu broadcast setiap router adalah t detik, maka setiap entry pada tabel routing memiliki waktu time out sebesat 4 kali t.

Net-B Host-2 Host-1

Net-C

Host-3

Host-4 Net-D Net-G

Net-A Rou-1 Net-E Rou-2

Host5

Host6

Net-F

Gambar 5.5. Route dari Host-1 ke Host-4 Dalam keadaan seperti diatas Host-3 akan membroadcast informasi routingnya setiap t detik ke network C. Dengan demikian, Host-2 tetap mendapatkan route ke network D melalui Host-3. Karena Host-2 juga mengirimkan informasi routingnya ke pada Net-B, maka Host-1 pun juga mendapat informasi route ke Net-D melalui Host-2. Jika jaringan Ethernet Net-C mengalami kerusakan. Host-2 tidak lagi mendapat update dari Host-3 untuk route ke Net-D. Setelah waktu timeout terlewati, route ke network D melalui Host-3 akan dihapus dari tabel routingnya. Akibatnya, Host-1 juga tidak lagi mendapat update dari Host-2 untuk rute ke Net-D. Rute tersebut akan terhapus begitu waktu timeout tercapai.

63

Dengan terhapusnya rute ke Net-D melalui Host-2, rute ke Net-D melalui router Rou-1 akan diterima sebagai rute baru, walaupun misal metriknya 5. Dengan demikian, setiap datagram yang ditujukan ke network D akan dialihkan ke router Rou-1. Network operator tidak perlu melakukan perubahan routing secara manual. Seluruhnya dikerjakan sendiri oleh router dengan menggunakan protokol routing. Jika network C kembali berfungsi normal, Host-1 akan mendapatkan kembali informasi rute ke network D melalui Host-2. Jika route ini memiliki metric 3, maka route ke Net-D kembali dipilih melalui Host-2. Jadi, protokol routing ini menjamin bahwa rute yang dipilih senantiasa merupakan rute yang tersingkat. Jika misal route di atas menggunakan routing Protokol RIP maka terdapat kelemahan karena RIP menggunakan parameter hop, parameter ini tidak menjamin secara mutlak untuk mendapatkan rute tersingkat. RIP tidak memasukkan delay jaringan sebagai parameter pengukuran rute. Rute dengan jumlah hop yang lebih banyak bisa saja lebih cepat jika keseluruhan hop terdiri atas jaringan berkecepatan tinggi. Untuk itu, terdapat protokol routing lain yang memasukkan parameter kondisi jaringan (link state) ini sebagai satuan jarak, serta ada juga yang memasukkan kombinasi kedua parameter ini untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Protokol routing yang bekerja berdasarkan pertimbangan link state ini adalah Hello dan OSPF. Informasi yang dibutuhkan dalam routing : -Alamat tujuan/destination address. -Mengenal sumber informasi -Menemukan rute -Pemilihan rute -Menjaga informasi routing. Sebuah router mempelajari informasi routing dari mana sumber dan tujuannya yang kemudian di tempatkan pada tabel routing. Router akan berpatokan pada tabel ini. untuk memberi tahu port yang akan digunakan untuk meneruskan paket ke alamat tujuan. 5.3.3. Distance Vector Routing

64

RIP dan IGRP keduanya menggunakan metoda distance vector routing, ada beberapa hal yang merupakan parameter pada Distance Vektor. - Hop Count Pada contoh berikut, kita menggunakan hop count sebagai suatu metric cost untuk mengetahui network. Router #1 hanya mengetahui network-2 yang terhubung kepada router tersebut saja yaitu network A dan B. Dan masing-2 network mempunyai harga 1 hop count untuk melintas dari satu network A ke B atau sebaliknya. Pengetahuan ini di broadcast kepada router-2 tetangganya, sehingga router #2 yang hanya mengetahui network B dan C menambah dalam tabelnya dengan pengetahuan network A yaitu 2 hop count. Router #2 mengetahui network yang terhubung kepadanya saja yaitu network B dan C, dan membroadcast pengetahuannya kepada router #3 dan router #1. Router #1 menambah dalam tabelnya network C yang berharga 2 hop count. Router #3 yang hanya mengetahui network C dan D menambah dalam tabelnya network B yang berharga 2 hop count. Begitu seterusnya router-2 memperlajari routing information dari router disebelahnya sehingga bisa digambarkan seperti pada table dibawah berikut ini setelah semua router mencapai convergence. Router 1 Router 2 Network A = 1 hop Network A = 2 hop Network B = 1 hop Network B = 1 hop Network C = 2 hop Network C = 1 hop Network D = 3 hop Network D = 2 hop (Sumber Nuraida,Ida.2012) Router 3 Network A = 3 hop Network B = 2 hop Network C = 1 hop Network D = 1 hop

Distance Vector routing mempunyai prinsip-2 berikut: Router mengirim update hanya kepada router tetangganya Router mengirim semua routing table yang diketahuinya kepada router tetangganya Table ini dikirim dengan interval waktu tertentu, dimana setiap router dikonfigure dengan interval update masing-2 Router memodifikasi tabelnya berdasarkan informasi yang diterima dari router teangganya.
65

Karena router-router menggunakan metoda distance vector routing dalam mengirim informasi table routing secara keseluruhan dengan interval waktu yang tertentu, mereka ini rentan terhadap suatu kondisi yang disebut routing loop (juga disebut sebagai kondisi count-to-infinity). Seperti halnya dengan bridging loop pada STP, routing loop terjadi jika dua router berbagi informasi yang berbeda. Metoda-2 berikut dapat digunakan untuk meminimalkan efek dari routing loop: Split horizon, metoda split ini memungkinkan router melakukan trackin terhadap datang nya informasi dari router mana. Router tidak melaporkan informasi routing kepada router pada jalur yang sama. Dengan kata lain router tidak melaporkan informasi kembali kepada router yang memberi informasi tersebut. Distance Vector - Hold down Metoda Distance Vector mempunyai keuntungan berikut: Relative terbukti stabil, yang merupakan algoritme original routing Relative gampang dipelihara dan di implementasikan Kebutuhan bandwidth bisa diabaikan untuk environment LAN typical. Kerugian dari Distance vector adalah sebagai berikut: Membutuhkan waktu yang relative lama untuk mencapai convergence (update dikirim dengan interval waktu tertentu). Router melakukan kalkulasi routing table nya sebelum mem-forward perubahan tabelnya Rentan terjadinya routing loop

Kebutuhan bandwidth bisa sangat besar untuk WAN atau environment LAN yang kompleks.

( sumber http://www.sysneta.com/memahami-routing-protocol) 5.3.4. LINK STATE ROUTING

Pada dasarnya baik distance vector dan link state routing mempunyai tujuan yang sama yaitu mengisi routing tables dengan route terbaik dan terkini. Akan tetapi perbedaanya terletak pada bagaimana keduanya melakukan tugasnya mengisi routing tables. Perbedaan terbesar antara kedua methoda adalah bahwa distance vector
66

melakukan advertise informasi hanya sedikit. Pada dasarnya distance vector routing protocols mengetahui router-router lain ada hanya jika router-router tersebut melakukan broadcast update routing kepadanya. Jika distance vector protocol dalam suatu router menerima suatu routing update, update routing tersebut tidak mengatakan banyak hal tentang router-router lain diluar router sekitarnya dari yang mengirim update route tersebut. Jadi hanya neighboring router disekitarnya saja yang ia kirimkan informasinya. Sebaliknya link state routing protocols melakukan advertise sejumlah data yang besar tentang topology jaringan dan router melakukan computasi dengan memakan power CPU yang besar untuk memahami data topology jaringan tersebut. Bahkan mereka mengenal router tetangganya sebelum melakukan pertukaran routing informasi. Lihat juga topology untuk jaringan LAN. Gambar berikut adalah diagram yang menyajikan secara grafis bagaimana router melakukan advertise dengan link state routing protocol. Router B mengatakan kepada router A metric dari masing-2 link yang bersangkutan yang ada pada jaringan, ketimbang router B mengatakan berapa metric atau cost dari suatu route seharusnya, jadi terserah router yang menerima bagaimana dia mengelolah data topology jaringan dengan masing-2 metric atau cost di setiap link. Disamping itu juga router B mengatakan kepada router A semua router yang ada pada jaringan termasuk subnet yang menempel pada masing-2 router dan juga statusnya. Jadi semacam peta model matematis tentang topology jaringan yang ada. Berikut adalah point-point yang perlu diketahui mengenai Link state routing protocol:

Router melakukan broadcast LSP ke semua router yang umum disebut sebagai Flooding Router mengirim informasi hanya mengenai link mereka sendiri terjadi:

LSP dikirim dengan interfal regular dan juga jika salah satu kondisi berikut Datang neighbor baru Neighbor telah pergi / mati Cost ke neighbor berubah

67

Router menggunakan LSP untuk membangun routing table mereka dan melakukan kalkulasi route terbaik

Router memilih route berdasarkan route terpendek dengan menggunakan suatu algoritma yang disebut sebagai shortest path first (SPF) Network administrator mempunyai fleksibilitas yang besar dalam men-setting metric untuk digunakan kalkulasi route Link state routing bersifat kurang rentan terhadap routing loops, akan tetapi membutuhkan routines yang complex dan rumit untuk menemukan route dan meng-kalkulasi paths.

5.3.4.1. Problem dan Solusi Mengenai Link State Walaupun lebih stabil dibandingkan distance vector, metoda link state mempunyai masalah berikut: Membutuhkan resource router yang tinggi baik power dan memori Menghasilkan traffic yang sangat tinggi saat pertama kali LSP membanjiri jaringan (Flooded). Akan tetapi jika konfigurasi inisialisasi ini sudah stabil, maka traffic dari link state ini sangat kecil dibandingkan dari distance vector Memungkinkan delay atau bahkan lost, menyebabkan jaringan yang inkonsistant. Hal ini umumnya menjadi masalah pada jaringan yang besar jika bagian-2 jaringan datang on line pada saat yang berbeda atau jika link bandwidth antar link berbeda (misal pada jaringan ISP yang lebar akan berbeda dengan jaringan lainnya). Masalah ini lah yang biasanya jadi yang terbesar Berikut adalah solusi yang sering di implementasikan untuk mengatasi beberapa effect mengenai informasi LSP yang inkonsisten. Rate dari LSP update dikurangi untuk menjaga informasi tetap konsisten Router bisa dikelompokkan kedalam area. Router-2 berbagi informasi dalam satu area, sementara router-2 yang ada pada area border saling bertukar informasi antar area.

68

LSP bisa diidentifikasi dengan suatu stempel waktu, sequence atau ID number, atau aging timer untuk menjamin proper synchronization. Satu router dalam masing-2 area di serahi tugas sebagai sumber authoritative dari routing informasi (yang disebut sebagai designated router). setiap area router menerima update dari designated router. 5.3.4.2. Keuntungan dan Kerugian dari Link State Link State mempunyai beberapa keuntungan dibanding distance vector: Waktu convergence lebih cepat karena update diforward segera Tidak rentan terhadap routing loops Tidak rentan terhadap informasi yang salah karena hanya informasi tangan pertama saja yang di broadcast Kerugian dari Link State Algoritma Link State memerlukan power CPU dan memory yang tinggi untuk melakukan kalkulasi topology jaringan dan memilih route Menaikkan traffic jika terjadi perubahan topology
http://www.sysneta.com/link-state-routing

5.4. Pertanyaan dan Tugas 1. Jelas routing statis dan dinamis 2. Jelaskan tentang distance vektor dan link state 3. Jelaskan proses routing pada sebuah router

69