Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Tujuan Pembangunan Kesehatan sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum (Depkes RI, 1999). Menurut UndangUndang kesehatan No 23 tahun 1992 pasal 10, untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, maka diselenggarakan pelayanan kesehatan dengan pendekatan, pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Depkes RI, 2000). Diare hingga kini masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak. Saat ini morbiditas (angka kesakitan) diare di Indonesia mencapai 195 per 1000 penduduk dan angka ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara di Asean (kalbe.co.id). Diare juga masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Walaupun angka mortalitasnya telah menurun tajam, tetapi angka morbiditas masih cukup tinggi. Penanganan diare yang dilakukan secara baik selama ini membuat angka kematian akibat diare dalam 20 tahun terakhir menurun tajam. Walaupun angka kematian sudah menurun tetapi angka kesakitan masih cukup tinggi. Lama diare serta frekuensi diare pada penderita akut belum dapat diturunkan (Lisa Ira,2002). Kebersihan lingkungan merupakan suatu yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan pada umumnya. Banyaknya penyakit-penyakit lingkungan yang menyerang masyarakat karena kurang bersihnya lingkungan disekitar ataupun kebiasaan yang buruk yang mencemari lingkungan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan penyakit yang dibawa oleh kotoran yang ada di lingkungan bebas tersebut baik secara langsung ataupun tidak langsung yaitu melalui perantara. Penyakit diare merupakan suatu penyakit yang telah dikenal sejak jaman Hippocrates. Sampai saat ini, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia. Dari urutan penyebab kunjungan Puskesmas/ Balai Pengobatan, diare hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 (tiga) penyebab utama masyarakat berkunjung ke Puskesmas. (Widjaja, 2001)

Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan 5.051 kasus diare sepanjang tahun 2005 lalu di 12 provinsi. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan dengan jumlah pasien diare pada tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 1.436 orang. Di awal tahun 2006, tercatat 2.159 orang di Jakarta yang dirawat di rumah sakit akibat menderita diare. Melihat data tersebut dan kenyataan bahwa masih banyak kasus diare yang tidak terlaporkan, departemen kesehatan menganggap diare merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan nasional karena punya dampak besar pada kesehatan mayarakat (Depkes RI, 2008). Penderita diare di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 29.943 penderita dengan angka kesakitan sebesar 20,11 per 1000 penduduk, dimana terdapat peningkatan pada tahun sebelumnya. Cakupan penderita diare tertinggi ditemukan pada golongan umur >5 tahun yaitu sebanyak 17.530 orang sedangkan pada golongan umur <5 tahun sebanyak 12.413 penderita. Untuk Case Fatality Rate (CFR) dihitung berdasarkan jumlah penderita yang meninggal akibat penyakit diare yang berobat di Puskesmas berdasarkan data 5 tahun terakhir tidak ada laporan mengenai penderita yang meninggal (CFR = 0). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, penyakit diare tertinggi yang di tangani di Puskesmas Genuk sebanyak 2.137 orang diantaranya 1.127 penderita diare pada BALITA (Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2007). Penyebab diare pada balita lebih beragam. Bisa karena infeksi bakteri, virus, dan amuba. Bisa jadi juga akibat salah mengonsumsi makanan. Protein susu sapi merupakan bahan makanan terbanyak penyebab diare. Makanan lain penyebab timbulnya alergi ialah ikan, telur, dan bahan pewarna atau pengawet (Melanicyber, 2008) Diare dapat terjadi sebagai efek samping dari penggunaan obat terutama antibiotik. Selain itu, bahan-bahan pemanis buatan seperti sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk-produk bebas gula lainnya menimbulkan diare. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Orang tua berperan besar dalam menentukan penyebab anak terkena diare. Bayi dan balita yang masih menyusui dengan ASI eksklusif umumnya jarang diare karena tidak terkontaminasi dari luar. Namun, susu formula dan makanan pendamping ASI dapat terkontaminasi bakteri dan virus (Medicastor 2006). Kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia, Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka kejadian sekitar 6 juta bayi yang mati pertahunnya. Kasus

kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko (2008), kematian bayi di Indonesia disebabkan oleh penyakit diare. Untuk mendiagnosis diare, maka pemeriksaan antigen secara langsung dari tinja mempunyai nilai sensitifitas cukup tinggi (70-90%), tetapi biaya pemeriksaan cukup mahal (Kompas.com, 2008). B. Rumusan Masalah Rumusan masalah penelitian: Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Genuk Kota Semarang 2010.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Diare 2.1.1 Pengertian


a

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah. (Aziz, 2006) (www.google.co.id).

Diare dapat juga didefenisikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi perubahan dalam kepadatan dan karakter tinja, atau tinja cair dikeluarkan tiga kali atau lebih perhari. (Ramaiah, 2002) (www.google.co.id).

Diare merupakan salah satu gejala dari penyakit pada sistem gastrointestinal atau penyakit lain diluar saluran pencernaan. (Ngastiyah, 2003) (www.google.co.id).

2.1.2 Tanda dan Gejala

Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tak ada, kemudian timbul diare, tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karenna sering defeksi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorsi oleh usus selama diare (Ngastiyah, 2003). 2.1.3 Patofisiologi Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi : 1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia) 2. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah) 3. Hipoglikemia 4. Gangguan sirkulasi darah (Ngastiyah, 2003). 2.2 Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare 1. Faktor lingkungan Pasokan air tidak memadai Air terkontaminasi tinja Fasilitas kebersihan kurang Kebersihan pribadi buruk, misalnya tidak mencuci tangan setelah buang air Kebersihan rumah buruk. Misalnya tidak membuang tinja anaak di WC Metode penyiapan dan penyimpanan makanan tidak higienes . Misalnya makanan dimasak tanpa dicuci terlebih dahulu atau tidak menutup makanan yang telah dimasak. 2. Praktik penyapihan yang buruk Pemberian susu eksklusif dihentikan sebelum bayi berusia 4-6 bulan dan melalui pemberian susu melalui botol Berhenti menyusui sebelum anak berusia setahun 3. Faktor individu Kurang gizi Buruk atau kurangnya mekanisme pertahanan alami tubuh. Misalnya, diare lebih lajim terjadi pada anak-anak, baik yang mengidap campak atau yang mengalami campak.

4. Produksi asam lambung berkurang 5. Gerakan pada usus berkurang yang memengaruhi aliran makanan yang normal (Savitri 2002) (www.google.co.id).. 2.2.1 PENGETAHUAN) Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi memalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penawaran rasa, dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior) ( Sukidjo .N. A, 1960)(www.google.co.id). 2.2.2 SIKAP Sikap merupakan respon atau reaksi evaluatif, respon ini muncul ketika individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi balik dari individu. Sikap dinyatakan timbul secara sadar oleh proses evaluasi diri individu terhadap respon dalam nilai baik, buruk, positif, negatif, menyenangkan kemudian menetapkan dan mengkristal sebagai dasar potensi untuk bereaksi. (Azwar, 2002)(www.google.com). Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup tidak dapat dilihat secara langsung sehingga sikap hanya dapat ditafsirkan dari perilaku yang tampak (Notoatmodjo, 2005)(www.google.com) 2.2.3 Perilaku Bloom 1974 menyimpulkan bahwa faktor perilaku mempunyai peranan yang besar terhadap tingkat kesehatan setelah faktor lingkungan. Sedangkan faktor pelayanan kesehatan pengaruhnya lebih kecil dari faktor perilaku (cit Warliana, 2001). Perilaku adalah sesuatu yang kompleks merupakan resultan dari berbagai macam aspek internal maupun eksternal, psikologis maupun fisik. Perilaku tidak berdiri sendiri selalu berkaitan dengan faktor-faktor lain. Pengaruhnya terhadap status kesehatan dapat langsung maupun tidak langsung. Sedangkan menurut Green (Notoatmodjo, 2003) menyatakan bahwa kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor. Selanjutnya perilaku sendiri dibentuk dari tiga faktor yaitu : a. Faktor-faktor predisposisi yaitu terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

b. Faktor-faktor pendukung yaitu terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya atau sarana kesehatan lain. c. Faktor-faktor pendorong yaitu terwujud dalam sikap dan perilaku. 2.2.4 FasilitasKesehatan Fasilatas kesehatan merupakan sarana yang dapat digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam proses pencegahan maupun pengobatan penyakit untuk meningkatkan derajat kesehatan. Fasilitas kesehatan terdiri dari dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, puskesdes, dan laimlain. Setiap unit kesehatan yang menemukan tersangka atau penderita DBD wajib segera melaporkannya ke dinas kesehatan kabupaten/ kota setempat selambat-lambatnya dalam 24 jam dengan tembusan ke puskesmas wilayah tmpat tinggal pendeerita (Depkes RI,2007:3).