Anda di halaman 1dari 9

IRADIASI MATAHARI DAN KAITANNYA DENGAN AKTIVITAS MATAHARI

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Astronomi Kelas B)

Oleh:

Dinicen Viclara Ahmad Ruslan Agusta Ayudya Yopie Firmansyah Desy Husnia

090210102026 090210102044 090210102070 090210102076 090210102080

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Matahari adalah bola raksasa yang terbentuk dari gas hidrogen dan helium. Matahari termasuk bintang berwarna putih yang berperan sebagai pusat tata surya. Seluruh komponen tata surya termasuk 8 planet dan satelit masing-masing, planet-planet kerdil, asteroid, komet, dan debu angkasa berputar mengelilingi Matahari. Di samping sebagai pusat peredaran, Matahari juga merupakan sumber energi untuk kehidupan yang berkelanjutan. Panas Matahari menghangatkan bumi dan membentuk iklim, sedangkan cahayanya menerangi Bumi serta dipakai oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Tanpa Matahari, tidak akan ada kehidupan di Bumi karena banyak reaksi kimia yang tidak dapat berlangsung. Nicolaus Copernicus adalah orang pertama yang mengemukakan teori bahwa Matahari adalah pusat peredaran tata surya pada abad 16. Teori ini kemudian dibuktikan oleh Galileo Galilei dan pengamat angkasa lainnya. Teori yang kemudian dikenal dengan nama heliosentrisme ini mematahkan teori geosentrisme (bumi sebagai pusat tata surya) yang dikemukakan oleh Ptolemeus dan telah bertahan sejak abad ke dua sebelum masehi. Konsep fusi nuklir yang dikemukakan oleh Subrahmanyan Chandrasekhar dan Hans Bethe pada tahun 1930 akhirnya dapat menjelaskan apa itu Matahari secara tepat. Temperatur global atmosfer merupakan topik penelitian yang penting dalam pemodelan iklim. Pemodelan ini melibatkan antara lain teori rumah kaca (greenhouse) yang dianggap bertanggung jawab terhadap kenaikan temperatur di bumi. Salah satu hal yang juga penting dalam pemodelan iklim adalah variabilitas matahari, mengingat matahari merupakan sumber energi utama bumi. Meskipun perubahan iklim yang dipengaruhi oleh variabilitas matahari ini cukup kecil, tetapi ada bukti bahwa variasi aktivitas matahari jangka panjang mempunyai peran penting dalam memengaruhi iklim di bumi. Dalam makalah ini akan dibahas karakteristik matahari dan pengaruh aktivitas matahari, yang dalam hal ini ditunjukkan oleh bintik matahari. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa sajakah struktur dari matahari? 2. Apakah yang dimaksud dengan konstanta matahari? 3. Apakah yang dimaksud dengan bintik matahari?

4. Bagaimana keterkaitan antara konstanta matahari dengan bintik matahari?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui struktur dari matahari. 2. Mengetahui pengertian konstanta matahari. 3. Mengetahui pengertian bintik matahari. 4. Mengetahui hubungan antara konstanta matahari dengan bintik matahari.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Struktur Matahari Matahari memiliki enam lapisan yang masing-masing memiliki karakteristik tertentu. Keenam lapisan tersebut meliputi inti Matahari, zona radiatif, dan zona konvektif yang membentuk lapisan dalam (interior); fotosfer; kromosfer; dan korona sebagai daerah terluar dari Matahari.

a) Inti Matahari
Inti adalah area terdalam dari Matahari yang memiliki suhu sekitar 15 juta derajat Celcius (27 juta derajat Fahrenheit). Berdasarkan perbandingan radius/diameter, bagian inti berukuran seperempat jarak dari pusat ke permukaan dan 1/64 total volume Matahari. Kepadatannya adalah sekitar 150 g/cm3. Suhu dan tekanan yang sedemikian tingginya memungkinkan adanya pemecahan atom-atom menjadi elektron, proton, dan neutron. Neutron yang tidak bermuatan akan meninggalkan inti menuju bagian Matahari yang lebih luar. Sementara itu, energi panas di dalam inti menyebabkan pergerakan elektron dan proton sangat cepat dan bertabrakan satu dengan yang lain menyebabkan reaksi fusi nuklir (sering juga disebut termonuklir). Inti Matahari adalah tempat berlangsungnya reaksi fusi nuklir helium menjadi hidrogen. Energi hasil reaksi termonuklir di inti berupa sinar gamma dan neutrino memberi tenaga sangat besar sekaligus menghasilkan seluruh energi panas dan cahaya yang diterima di Bumi. Energi tersebut dibawa keluar dari Matahari melalui radiasi.

b) Zona radiatif
Zona radiatif adalah daerah yang menyelubungi inti Matahari. Energi dari inti dalam bentuk radiasi berkumpul di daerah ini sebelum diteruskan ke bagian Matahari yang lebih luar. Kepadatan zona radiatif adalah sekitar 20 g/cm3 dengan suhu dari bagian dalam ke luar antara 7 juta hingga 2 juta derajat Celcius. Suhu dan densitas zona radiatif masih cukup tinggi, namun tidak memungkinkan terjadinya reaksi fusi nuklir.

c) Zona konvektif
Zona konvektif adalah lapisan di mana suhu mulai menurun. Suhu zona konvektif adalah sekitar 2 juta derajat Celcius (3.5 juta derajat Fahrenheit). Setelah keluar dari zona radiatif, atom-atom berenergi dari inti Matahari akan bergerak menuju lapisan lebih luar yang

memiliki suhu lebih rendah. Penurunan suhu tersebut menyebabkan terjadinya perlambatan gerakan atom sehingga pergerakan secara radiasi menjadi kurang efisien lagi. Energi dari inti Matahari membutuhkan waktu 170.000 tahun untuk mencapai zona konvektif. Saat berada di zona konvektif, pergerakan atom akan terjadi secara konveksi di area sepanjang beberapa ratus kilometer yang tersusun atas sel-sel gas raksasa yang terus bersirkulasi. Atom-atom bersuhu tinggi yang baru keluar dari zona radiatif akan bergerak dengan lambat mencapai lapisan terluar zona konvektif yang lebih dingin menyebabakan atom-atom tersebut "jatuh" kembali ke lapisan teratas zona radiatif yang panas yang kemudian kembali naik lagi. Peristiwa ini terus berulang menyebabkan adanya pergerakan bolak-balik yang

menyebabakan transfer energi seperti yang terjadi saat memanaskan air dalam panci. Oleh sebab itu, zona konvektif dikenal juga dengan nama zona pendidihan (the boiling zone). Materi energi akan mencapai bagian atas zona konvektif dalam waktu beberapa minggu.

d) Fotosfer
Fotosfer atau permukaan Matahari meliputi wilayah setebal 500 kilometer dengan suhu sekitar 5.500 derajat Celcius (10.000 derajat Fahrenheit). Sebagian besar radiasi Matahari yang dilepaskan keluar berasal dari fotosfer. Energi tersebut diobservasi sebagai sinar Matahari di Bumi, 8 menit setelah meninggalkan Matahari.

e) Kromosfer
Kromosfer adalah lapisan di atas fotosfer. Warna dari kromosfer biasanya tidak terlihat karena tertutup cahaya yang begitu terang yang dihasilkan fotosfer. Namun saat terjadi gerhana Matahari total, di mana bulan menutupi fotosfer, bagian kromosfer akan terlihat sebagai bingkai berwarna merah di sekeliling Matahari. Warna merah tersebut disebabkan oleh tingginya kandungan helium di sana.

f) Korona
Korona merupakan lapisan terluar dari Matahari. Lapisan ini berwarna putih, namun hanya dapat dilihat saat terjadi gerhana karena cahaya yang dipancarkan tidak sekuat bagian Matahari yang lebih dalam. Saat gerhana total terjadi, korona terlihat membentuk mahkota cahaya berwarna putih di sekeliling Matahari. Lapisan korona memiliki suhu yang lebih tinggi dari bagian dalam Matahari dengan rata-rata 2 juta derajat Fahrenheit, namun di beberapa bagian bisa mencapai suhu 5 juta derajat Fahrenheit.

2.2 Konstanta Matahari Konstanta matahari (solar constant) adalah iradiasi total yang dilepaskan oleh matahari pada seluruh panjang gelombang yang dapat diterima oleh bumi. Pengukuran iradiasi matahari secara modern dilakukan melalui satelit yang dilakukan sejak tahun 1978. Hasil pengamatan dari satelit-satelit ERBS, NOAA9, NOAA10, SMM, NIMBUS7, Corporate, ACRIM2, ACRIM3 diperlihatkan pada Gb. 1.

Gambar 1: Iradiasi total matahari yang ditangkap oleh berbagai satelit sejak bulan November 1978 sampai dengan September 2003

Pada Gb. 1 ini tampak bahwa solar konstan ini tidak konstan, akan tetapi bervariasi, meskipun tampak bahwa variasinya sangat kecil. Menurut Chapman, variasi iradiasi dari maksimum ke minimum kira-kira hanya sebesar 0.1 Salah satu indikator aktivitas matahari adalah munculnya bintik-bintik hitam di permukaan matahari yang disebut sebagai bintik matahari atau bilangan sunspot.

2.3 Bintik Matahari Bintik matahari adalah suatu daerah di fotosfer matahari yang mempunyai temperatur lebih rendah dari pada sekelilingnya sehingga tampak gelap. Bintik ini muncul akibat adanya medan magnet yang kuat di tempat tersebut. Medan magnet ini menghalangi konveksi, sehingga transport energi secara konvektif dari bagian dalam matahari menjadi terhalang. Banyaknya bintik matahari menunjukkan tingkat keaktifan matahari. Makin banyak bintik yang muncul menandakan bahwa matahari makin aktif. Banyaknya bintik matahari dinyatakan dengan bilangan sunspot (R) yang dinyatakan dengan persamaan: R = k(10g + f) ; (1)

dengan R : bilangan sunspot, k : konstanta yang besarnya bergantung pada peralatan dan pengamat, g : banyaknya kelompok bintik dan f : banyaknya bintik individual.

2.4 Keterkaitan Konstanta Matahari dengan Bintik Matahari Seperti telah disebutkan bahwa dalam makalah ini akan dicari kaitan antara iradiasi yang dipancarkan matahari dengan aktivitasnya. Sebagai indikator aktivitas matahari digunakan bilangan sunspot, sedangkan data iradiasi matahari berasal dari berbagai satelit (sejak tahun 1979 sampai 2003) yang dikompilasi oleh Frohlich dan Lean. Rentang waktu ini mewakili hampir 3 siklus aktivitas matahari, yaitu siklus ke 21 (lebih kurang tahun 1976_1986), siklus ke 22 (lebih kurang tahun 1986_1997), dan sikls ke 23 (lebih kurang tahun 1997 _ sekarang berlangsung).

Gambar 2: Plot iradiasi matahari dan bilangan sunspot harian terhadap waktu, dari Januari 1979 sampai dengan September 2003.

Gb. 2 memperlihatkan besarnya iradiasi matahari (warna tipis/abu-abu) dan bilangan sunspot (warna yang lebih tebal/hitam) terhadap waktu, yaitu dari Januari 1979 sampai dengan September 2003. Kedua plot ini menunjukkan adanya periodisitas dan kecenderungan yang kira-kira sama. Pada saat matahari aktif (bilangan sunspotnya besar) iradiasi matahari juga menunjukkan kenaikan, demikian juga sebaliknya, saat matahari tenang, iradiasinya juga mengalami penurunan. Jadi, iradiasi matahari memang berkaitan erat dengan matahari. aktivitas

Akan tetapi sebenarnya yang menghalangi aliran panas (iradiasi) matahari adalah seluruh permukaan bintik, dan bukan jumlah bintik ataupun bilangan sunspot yang muncul di permukaan matahari. Maka dalam banyak perhitungan iradiasi digunakan luas bintik matahari sebagai pendekatannya. Pemodelan iradiasi dengan data bintik lebih banyak

dilakukan karena kekontrasan bintik matahari yang cukup besar, dan luasnya mudah diukur karena bentuknya yang lebih sederhana dibandingkan dengan fenomena lain di permukaan matahari. Pada umumnya luas yang digunakan adalah luas terbesar, yaitu luas bintik bila berada di tengah piringan matahari. Kaitan iradiasi matahari dengan luas bintik dapat dilihat pada Gb. 3 menyatakan tidak adanya bintik yang tampak.

Gambar 3: Plot iradiasi total matahari (garis yang lebih tipis) dan luas total bintik matahari (garis lebih tebal) harian terhadap waktu, dari Maret 1985 sampai dengan Desember 1998.

Hampir sama halnya dengan Gb. 2, Gb. 3 ini mengaitkan iradiasi matahari dengan luas total bintik harian. Karena keterbatasan data luas total bintik yang diperoleh, maka data yang diolah hanya dalam rentang waktu bulan Maret 1985 sampai dengan bulan Desember 1998. Yang dimaksud dengan luas total adalah luas seluruh bintik matahari yang tampak di permukaan matahari. Luas bintik ini merupakan luas yang sudah dikoreksi terhadap posisinya di matahari. Disini juga terlihat adanya kaitan yang erat antara iradiasi total matahari dengan luas total bintiknya. Meskipun yang terlihat hanya satu siklus, namun iradiasi total menunjukkan kecenderungan yang sama dengan luas total bintik matahari. Saat luas bintik makin besar, iradiasi juga makin besar, demikian juga sebaliknya.

BAB 3. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah adalah sebagai berikut: 1. Struktur dari matahari meliputi inti Matahari, zona radiatif, dan zona konvektif yang membentuk lapisan dalam (interior); fotosfer; kromosfer; dan korona sebagai daerah terluar dari Matahari. 2. Konstanta matahari (solar constant) adalah iradiasi total yang dilepaskan oleh matahari pada seluruh panjang gelombang yang dapat diterima oleh bumi.. 3. Bintik matahari adalah suatu daerah di fotosfer matahari yang mempunyai temperatur lebih rendah dari pada sekelilingnya sehingga tampak gelap. Bintik ini muncul akibat adanya medan magnet yang kuat di tempat tersebut. Medan magnet ini menghalangi konveksi, sehingga transport energi secara konvektif dari bagian dalam matahari menjadi terhalang. Banyaknya bintik matahari menunjukkan tingkat keaktifan matahari. Makin banyak bintik yang muncul menandakan bahwa matahari makin aktif 4. Hubungan antara konstanta matahari dengan bintik matahari adalah pada saat matahari aktif (bilangan sunspotnya besar) iradiasi matahari juga menunjukkan kenaikan, demikian juga sebaliknya, saat matahari tenang, iradiasinya juga mengalami penurunan. Jadi, iradiasi matahari memang berkaitan erat dengan aktivitas matahari.