Anda di halaman 1dari 2

NAMA : Ervin Jumiatin NIM : 0910913018 BENGKOANG (Pachyrhizus erosus)

1. Deskripsi Tanaman

Bengkoang (Pachyrhizus erosus) merupakan salah satu jenis tanaman beracun, yaitu pada bijinya. Tanaman bengkuang termasuk dalam famili Leguminosae, dan tanaman asli daerah tropis Amerika tepatnya Meksiko yang kemudian diintroduksikan ke Filipina oleh bangsa Spanyol yang selanjutnya sampai ke Indonesia (Koerniati, dkk 1993). Bengkuang atau bengkoang (Pachyrhizus erosus) dikenal dari umbi (cormus) putihnya yang bisa dimakan sebagai komponen rujak dan asinan atau dijadikan masker untuk menyegarkan wajah dan memutihkan kulit. Tumbuhan ini termasuk dalam suku polong-polongan (Leguminosae) (Harborne, 1994). Di tempat asalnya, tumbuhan ini dikenal sebagai xicama atau jcama. Orang Jawa menyebutnya sebagai besusu. Bengkoang memiliki Umbi akar tunggal, kulit luar krem atau coklat muda atau coklat tua, berdaging warna putih atau kuning-keputihan, pada bentuk liarnya berumbi banyak, bentuknya memanjang. Daun majemuk, beranak daun 3 dan helaian daun bercuping menjari atau utuh dengan tepi bergigi, anak daun lateral mengetupat tidak simetris sampai membundar telur, anak daun terminal mengginjal. Perbungaan tandan semu, berbunga banyak. Bunga berkelopak coklat, mahkota bunga ungu-biru atau putih. Buah berupa polong yang apabila masak akan kering dan pecah. Biji pipih bersegi membundar , berwana hijau- coklat atau coklat tua kemerahan. Tanaman P. erosus biasanya terdapat diberbagai daerah terutama di dataran rendah. 2. Bagian tanaman yang beracun Tanaman ini diketahui memiliki bahan aktif antara 0.5-10% Rotenon dan 0.51% Rotenoid. Bengkoang yang tergolong tanaman Leguminosae mengandung bahan aktif isoflavonoid diantaranya rotenoid yang berguna sebagai bahan insektisida (Buckingham, 1994). Tanaman P. erosus mengandung senyawa racun yang dapat diperoleh dari daun, batang, akar dan biji. Dan bagian biji adalah yang paling beracun dibanding bagian yang lain. Biji bengkuang mengandung bahan aktif rotenoid yang dikenal sebagai pachyrizid atau pakhirizida. Senyawa ini mampu membasmi kutu-kutuan daun atau Aphid. Kandungan racun pada biji bengkuang mencapai 0,12 % hingga 0,40 %.

Bahkan pada biji tua yang kering kandungannya mencapai 0,65 %. Pakhirizida merupakan bahan rotenoid yang mempunyai sistem kerja sebagai racun kontak dan racun perut terhadap beberapa larva serangga serta mempunyai sifat mudah terurai dalam sinar matahari dan udara terbuka (Oka, 1993). Adapun aplikasinya cukup mudah, siapkan kurang lebih 50 butir biji bengkuang yang tua dan kering kemudian tumbuk halus menjadi tepung. Kemudian campurkan dengan air dan kemudian semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang (Heyne, 1996).

Gambar 1. Biji dan tamanan bengkoang

3. Daftar pustaka Harborne. J. B., 1994. Phytochemistry of the Leguminosae dalam F. A. Bisby., J Buckingham., J. B Harborne (Ed)., 1994. Phytochemical Dictionary of the Leguminosae., Vol I., Champman & hall. Australia. Heyne. M., 1996., Tumbuhan berguna Indonesia (terjemahan)., Jilid II., cetakan I. Jakarta. Koerniati. S., M. Iskandar dan Taryono., 1993. Plasma Nutfah tanaman Berkadar Racun di Balitro. Seminar hasil penelitian tanaman rempah dan obat. bogor

Oka, I. M. 1993. Penggunaan, permasalahan serta prospek pestisida nabati dalam pengendalian hama terpadu. Prosding seminar hasil penelitian tanaman rempah dan obat. Bogor.