Anda di halaman 1dari 5

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sul-Sel, 2005 ISBN : 979-95025-6-7

KAJIAN SISTEM TANAM PADI SAWAH TERHADAP SERANGAN HAMA, PRODUKSI, DAN PENDAPATAN PETANI Syamsuddin dan Nuraida Syam
Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRAK
Kajian ini dilaksanakan di Kelurahan Benteng Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan pada bulan Desember 2004 sampai April 2005 di lahan milik petani yang menggunakan varietas Ciliwung. Luas penelitian 0,80 ha, terdiri dari 4 ulangan dan 4 perlakuan. Pengamatan dilaksanakan secara diagonal, sebanyak 25 rumpun pada setiap petak perlakuan. Pemupukan dilakukan sesuai kebiasaan petani setempat yaitu urea 200 kg/ha, ZA 100 kg/ha, dan KCl 50 kg/ha. Tujuan kegiatan adalah untuk mengkaji sistem tanam padi yang efektif dan efisien dan dapat menekan serangan hama dan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam dengan menggunakan alat tanam (Seeder) IRRI produksinya 5,85 t/ha lebih tinggi dibanding dengan beberapa sistem tanam lain. Pada umur 3 minggu setelah tanam (MST), Hydrellia sp. memperlihatkan tingkat serangan terendah pada tanam pindah, sedang pada umur 6 mst, cara jappo yang memperoleh serangan hama putih palsu yang terendah, sementara pada umur 9 MST, cara tanam menggunakan seeder (IRRI) memperoleh serangan penggerek batang terendah. Penggunaan seeder (alat tanam) IRRI memberikan hasil tertinggi dan keuntungan tertinggi yaitu mencapai Rp. 5.447.000 dengan BC Ratio 3,46. Dengan demikian diharapkan alat tanam tersebut perlu segera disebar luaskan. Kata kunci : Sistem tanam, hama padi, produksi.

PENDAHULUAN Serangga hama di lapangan erat hubungannya dengan musim dan lingkungan serta waktu tanam. Hasil penelitian yang berkaitan dengan hal tersebut telah banyak direkomendasikan. Berbagai cara tanam telah berkembang di Sulawesi Selatan beberapa tahun terakhir, namun efeknya terhadap hama, serta produktivitasnya ditingkat petani belum diketahui dengan jelas. Berbagai jenis hama yang menyerang tanaman padi telah banyak dilaporkan selama ini yang dapat menimbulkan eksplosi dan merupakan hama potensial adalah penggerek batang padi (Tryporiza sp.), wereng coklat (Nilaparvata lugens), wereng hijau (Nephotettix virescens), dan tikus (Tandiabang et al., 1991). Hama-hama lain yang sering dijumpai di lapangan dan

dianggap sebagai hama minor diantaranya adalah lalat daun (Hydrellia sp.), hama putih palsu (Chnaphalocrosis medinalis) (Sama et al., 1984; Baco, 1992). Penggerek batang padi merupakan hama utama pada tanaman padi yang dapat menghilangkan hasil yang cukup tinggi. Penggerek batang menyebabkan kerusakan langsung pada tanaman padi baik umur muda (sundep) dan berbuah (beluk) dengan jalan menggerek batang padi. Kerugian hasil yang ditimbulkan di Indonesia sebesar 125.000 ton beras per tahun (Soejitno et al. 1997) dan di Sulawesi Selatan diperkirakan 25 30% (Manwan, 1970). Di Sulawesi Selatan ada empat jenis penggerek batang padi yang dikenal yaitu penggerek padi putih, penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi bergaris, dan penggerek

103

Syamsuddin dan Nuraida Syam : Kajian Sistem Tanam Padi Sawah Terhadap Serangan Hama

batang padi merah jambu, tapi yang paling dominant di Sulawesi Selatan adalah pengegrek batang padi putih (Baco, 1992). Tujuan kajian ini adalah untuk mendapatkan informasi sistem tanam yang efektif dan efisien, dan dapat menekan serangan hama dan penyakit padi di tingkat petani. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Benteng Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan pada musim kemarau (MK) 2004, mulai Desember 2004 sampai April 2005 di lahan petani yang beririgasi teknis. Varietas yang digunakan adalah Ciliwung dengan luas penelitian 0,80 ha, setiap perlakuan diamati 25 rumpun tanaman. Penelitian terdiri 4 ulangan dan 4 perlakuan dengan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari : 1. Alat tanam/Seeder dari IRRI, jarak tanam 20 cm x 5 cm (alat tanam yang baru diperkenalkan) 2. Alat tanam/Paralon, jarak tanam 25 cm x 5 cm (modifikasi alat tanam dari Badan Litbang Pertanian) 3. Jappo/Tanam langsung, jarak tanam 25 cm x 25 cm (cara petani di lokasi kegiatan atau meletakkan benih

langsung pada tempat yang digaris dengan caplak). 4. Tanam pindah (Tapin) umur muda (10 hari setelah hambur), jarak tanam 25 cm x 25 cm. Pemupukan yang dilakukan petani setempat yaitu 200, 100, dan 50 kg/ha (urea, ZA, dan KCl), pupuk pertama diberikan pada 30 hari setelah tanam (HST) masing-masing 50%, dan 50% diberikan pada saat primordia. Semua perlakuan dilaksanakan sendiri oleh petani dengan petunjuk dari peneliti. Pengamatan hama dilaksanakan pada umur 3, 6, dan 9 minggu setelah tanam (MST), serta produksi diamati saat panen. Data dianalisis dengan Analisa Sidik Ragam dan Analisa B/C Ratio. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 3 MST, telah ditemukan serangan Hydrellia, hama putih palsu dan penggerek batang (sundep). Tanam pindah memperlihatkan tingkat serangan Hyderellia yang terendah. Kemungkinan populasi sudah mulai menyerang sejak di pesemaian. Hama lain tidak memperlihatkan tingkat serangan yang berbeda nyata cara tanam yang dikaji (Tabel 1).

Tabel 1. Rata-rata intensitas serangan hama Hyderellia, hama putih palsu, dan penggerek batang (sundep) terhadap berbagai sistem tanam pada umur 3 MST. No. 1. 2. 3. 4. Perlakuan sistem tanam Alat tanam (Seeder) IRRI, tanam langsung Alat tanam (Paralon), tanam langsung Jappo (cara petani), tanam langsung Tapin (10 hari setelah hambur) KK (%) Hyderellia 3,54 ab 4,34 a 4,82 a 2,36 b 30,1 Hama Putih Palsu (%) 10,77 a 10,87 a 10,84 a 8,28 a 28,5 Penggerek batang (sundep) (%) 41,13 a 42,64 a 43,21 a 42,53 a 53,6

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada 0.05% Uji Duncan.

Hasil pengamatan pada 6 MST menunjukkan intensitas serangan Hyderellia tidak memperlihatkan perbedaan nyata pada semua perlakuan

yang diuji, hama putih didapatkan Rendahnya

sedangkan tingkat serangan palsu (C. medinalis) terendah pada sistem tanam jappo. serangan hama putih palsu

104

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sul-Sel, 2005 ISBN : 979-95025-6-7

pada sistem tanam jappo ini diduga karena jumlah bibit ditanam lebih banyak dibandingkan dengan sistem tanam lainnya. Hasil analisis statistika

memperlihatkan bahwa intensitas serangan penggerek batang (sundep) umur 6 MST pada semua sistem tanam yang diuji tidak berbeda nyata (Tabel 2).

Tabel 2. Rata-rata intensitas serangan hama Hyderellia, hama putih palsu, dan penggerek batang (sundep) umur 6 MST. Hyderellia No. 1. 2. 3. 4. Perlakuan sistem tanam Alat tanam (Seeder) IRRI, tanam langsung Alat tanam (Paralon), tanam langsung Jappo (cara petani), tanam langsung Tapin (10 hari setelah hambur) KK (%) 3,34 a 4,40 a 3,56 a 3,44 a 34,3 Hama Putih Palsu (%) 19,30 bc 25,44 a 16,86 c 23,12 ab 28,7 Penggerek batang (sundep) (%) 22,64 a 23,21 a 22,53 a 21,19 a 28,5

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada 0.05% Uji Duncan.

Kemudian pada pengamatan umur 9 MST serangan hama putih palsu sangat rendah. Meskipun analisa statistik memperlihatkan tingkat serangan berbeda nyata tapi tidak berpengaruh terhadap hasil. Heong (2005) mengemukakan bahwa penyemprotan hama termasuk hama putih palsu tidak perlu dikendalikan pada tanaman masih muda (kurang dari 40 HST). Hal yang menarik adalah tingkat serangan sundep 9 MST terendah pada sistem tanam dengan alat seeder IRRI (Tabel 3). Mungkin ini salah satu penyebab produksi lebih tinggi. Hal ini ditunjang oleh kondisi pertanaman yang

lebih baik dimana kerusakan daun bendera pada fase anakan maksimum dan fase pematangan relatif kurang. Hal ini erat kaitannya dengan penggunaan alat tanam karena penyebaran dan kedalaman benih lebih merata sehingga pertumbuhan lebih seragam dan pembentukan anakan maksimum dapat tercapai, serta fase pematangan dapat berjalan lebih sempurna. Kondisi pertanaman yang lebih baik ini menyebabkan sistem tanam dengan menggunakan alat tanam seeder IRRI memberi hasil tertinggi, dibanding sistem tanam lainnya (Tabel 3).

Tabel 3. Rata-rata intensitas serangan hama Hyderellia, hama putih palsu, dan penggerek batang (sundep) umur 9 MST. No. 1. 2. 3. 4. Perlakuan sistem tanam Alat tanam (Seeder) IRRI, tanam langsung Alat tanam (Paralon), tanam langsung Jappo (cara petani), tanam langsung Tapin (10 hari setelah hambur) KK (%) Hyderellia 1,13 ab 2,25 a 1,50 ab 0,73 b 53,7 Hama Putih Palsu (%) 1,20 b 3,05 ab 1,96 b 6,75 a 83,2 Penggerek batang (sundep) (%) 9,30 b 15,43 a 14,36 a 15,73 a 19,1

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada 0.05% Uji Duncan.

Analisis Usahatani Untuk mengetahui sistem tanam yang efisien dan efektif dapat dilihat pada Tabel 5. Keuntungan tertinggi dicapai pada sistem tanam Seeder IRRI (alat

tanam) yaitu sebesar Rp. 5.447.700 dengan B/C Ratio sebesar 3,46. Walaupun demikian semua sistem tanam dapat dianjurkan karena B/C Ratio rata-rata lebih besar dari 1.

105

Syamsuddin dan Nuraida Syam : Kajian Sistem Tanam Padi Sawah Terhadap Serangan Hama

Tabel 4. Analisis usahatani setiap hektar pada sistem tanam yang diuji. No. 1. 2. 3. 4. Perlakuan sistem tanam Alat tanam (Seeder) IRRI, tanam langsung Alat tanam (Paralon), tanam langsung Jappo (cara petani), tanam langsung Tapin (10 hari setelah hambur) Nilai Hasil (Rp) 7.020.000 6.648.000 6.804.000 6.300.000 Total Biaya (Rp) 1.573.000 1.783.000 1.933.000 1.963.000 Keuntungan Usahatani (Rp) 5.447.000 4.865.000 4.871.000 4.337.000 BC/Ratio 3,46 2,73 2,52 2,21

KESIMPULAN Hasil tertinggi dicapai pada sistem tanam menggunakan alat Seeder yaitu 5,85 t/ha. Penggunaan alat tanam (seeder) menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih baik dan seragam, sehingga dapat menekan serangan hama penggerek batang (sundep) dan hama putih palsu. Sedangkan sistem tanam pindah dapat menekan serangan Hyderellia dibanding sistem tanam lainnya. Sistem tanam dengan menggunakan alat tanam Seeder lebih efektif dan efisien karena B/C Ratio 3,46 yang lebih tinggi dibanding sistem tanam yang lain. Semua sistem tanam yang diuji dapat dianjurkan karena semua B/C Rationya masing lebih tinggi dari pada 1 (satu).

presented at the International Rice Confrence. Bali, 12 14 September 2005. Manwan, I. 1970. Empat tahun penelitian pemberantasan hama penggerek batang padi di Sulawesi Selatan. LPPM. Deptan. Sama, S., N. Mare, dan Madeali.1984. Uji ketahanan varietas/galur padi terhadap hama penggerek batang (Tryporyza innotata). Laporan Hasil Penelitian Kelompok Peneliti Hama Tanaman 1983/84. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balittan Malang. Hal.1-8. Soejitno, J.M., Soehardjan, P. Panuju, dan I. Manwan. 1997. Penanggulangan penggerek padi kuning (Tryporiza incertulas) dengan program pengelolaan hama. Simposium I Peranan Hasil Penelitian Padi dan Palawija dalam Pembangunan Pertanian, 26-29 September 1977 di Maros. Tandiabang, J., Sama, S., D. Baco, and A. Taqwa. 1991. Major Rice in Sout Sulawesi and its Management. Paper presented in Sukamandi West Java. Pp.21.

DAFTAR PUSTAKA Baco, D. 1992. Kompetisi penggerek batang padi di Sulawesi Selatan. Makalah disajikan pada Kongres Entomologi IV Yogyakarta. 28 30 Januari 1992. Heong, K.L. 2005. Environmental Sustainability : A vital component of Asias rice ecosystems. Paper

106

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sul-Sel, 2005 ISBN : 979-95025-6-7

107