Anda di halaman 1dari 19

Pilar-Pilar Pembangunan Kabupaten Subang dan Potensi Pengembangannya

Disusun Oleh kelompok 4 Raden Rahmat M. Yustina Srie Wulan E.H Chika Agnes Nainggolan 150510090219 150510090244 150510090

AGROTEKNOLOGI 2012 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

KATA PENGANTAR Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT, Sang Pencipta Seluruh Alam, Kepunyaan-Nya nama-nama yang paling indah, Tasbih Memuji-Nya segala yang di langit dan di bumi atas segala rahmat dan Karunia-Nya. Sholawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW pemimpin segenap hati manusia yang membawa kebaikan dan kebenaran. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan mata kuliah Perencanaan dan Pengembangan wilayah pada Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dengan maksud memenuhi syarat tersebut, maka penulis menyusun makalah ini dengan judul Pilar-pilar Pembangunan Kabupaten Subang dan Potensi Pengembangannya. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN Konsep pengembangan wilayah dikembangkan dari kebutuhan suatu daerah untuk meningkatkan fungsi dan perannya dalam menata kehidupan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kesehateraan masyarakat. Pengaruh globalisasi, pasar bebas dan regionalisasi menyebabkan terjadinya perubahan dan dinamika spasial, sosial, dan ekonomi antarnegara, perdesaan. Globalisasi juga ditandai dengan adanya revolusi teknologi informasi, transportasi dan manajemen. Revolusi tersebut telah menyebabkan batas antara kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi tidak jelas, terjadinya polarisasi pembangunan daerah, terbentuknya kota dunia (global cities), sistem kota dalam skala internasional, terbentuknya wilayah pembangunan antarnegara (transborder regions), serta terbentuknya koridor pengembangan wilayah baik skala lokal, nasional, regional dan internasional. Pengembangan wilayah merupakan bagian penting dari pembangunan suatu daerah terutama di perdesaan yang sangat rentan dan berat menghadapi perubahan yang berskala global. Perubahan ini, jika tidak didukung suatu perencanaan wilayah yang baik dengan mempertimbangkan aspek internal, sosial dan pertumbuhan ekonomi akan berakibat semakin bertambahnya desa-desa tertinggal. Perubahan paradigma perlu dilakukan dalam menata kembali daerah-daerah yang dikatagorikan miskin dan lemah agar mampu meningkatkan daya saing, manajemen produksi dan teknologi tepat guna berbasis lokal yang mampu mempengaruhi daerah lainnya secara timbal balik. Secara sederhana konsep pengembangan wilayah perlu dilakukan dalam perencanaan perdesaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat masyarakat di lapisan bawah agar dapat mempengaruhi pasar secara berkelanjutan. antardaerah (kota/kabupaten), kecamatan hingga

BAB II PILAR-PILAR PEMBANGUNAN 2.1 Topografi dan Letak Geografis Kabupaten Subang sebagai salah satu kabupaten di kawasan utara Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah seluas 205.176,95 ha atau 6,34 % dari luas Provinsi Jawa Barat. Wilayah ini terletak di antara 107 31' sampai dengan 107 54' Bujur Timur dan 6 11' sampai dengan 6 49' Lintang Selatan. Secara administratif, Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang tergabung dalam 22 kecamatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Camat, jumlah kecamatan bertambah menjadi 30 kecamatan. Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Subang adalah di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, di sebelah barat dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang, di sebelah timur dengan Kabupaten Sumedang dan Indramayu dan Laut Jawa yang menjadi batas di sebelah utara Berdasarkan tofografinya, wilayah kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam 3 zona, yaitu : - Daerah Pegunungan (Subang bagian selatan) Daerah ini memiliki katinggian antara 500-1500 m dpl dengan luas 41.035,09 hektar atau 20 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayah ini meliputi Kecamatan Jalan cagak, Ciater, Kasomalang, Sagalaherang, Serangpanjang,sebagian besar Kecamatan Jalancagak dan sebagian besar Kecamatan Tanjung siang.

- Daerah Berbukit dan Dataran (Subang bagian tengah) Daerah dengan ketinggian antara 50 500 m dpl dengan luas wilayah 71.502,16 hektar atau 34,85 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Zona ini meliputi wilayah Kecamatan Cijambe, Subang, Cibogo, Kalijati, Dawuan, Cipeundeuy, sebagian besar Kecamatan Purwadadi, Cikaum dan Pagaden Barat. - Daerah Dataran Rendah (Subang bagian utara) Dengan ketinggian antara 0-50 m dpl dengan luas 92.639,7 hektar atau 45,15 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayah ini meliputi Kecamatan Pagaden, Cipunagara, Compreng, Ciasem, Pusakanagara, Pusakajaya Pamanukan, Sukasari, Legonkulon, Blanakan, Patokbeusi, Tambakdahan, sebagian Pagaden Barat. 2.2 Pilar Pengembangan Wilayah a. Pertanian - Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang merupakan kabupaten yang memiliki areal lahan sawah terluas ketiga di Jawa Barat setelah Indramayu dan Karawang, sekaligus merupakan penyumbang / kontributor produksi padi terbesar ketiga di Jawa Barat. Luas lahan sawah pada tahun 2010 tercatat seluas 84.929 hektar atau sekitar 41,39% dari total luas wilayah Kabupaten Subang. Sementara jumlah produksi di Kabupaten Subang pada tahun 2010 yaitu 959.533 ton. Seiring dengan menurunnya jumlah luas tanam padi perkembangan produksi padi (khususnya padi sawah dan ladang) dibandingkan dengan periode sebelumnya, tahun 2010 mengalami penurunan. Lebih lanjut memperhatikan data produksi per kecamatan sesuai dengan areal sawahnya yang sebagian besar berpengairan teknis, produksi padi terbesar masih dihasilkan oleh kecamatan Ciasem yang pada tahun 2010 mencapai produksi sebesar 66.543 ton. Angka produksi ini merupakan 6,93 %

dari total produksi padi di Kabupaten Subang. Khusus padi ladang produksi tertinggi pada tahun 2010 terdapat di Kecamatan Ciijambe dengan angka produksi 1.190 ton atau sekitar lebih dari 11,53 % dari total produksi padi ladang di Kabupaten Subang. Produksi padi ladang secara keseluruhan mengalami penurunan dibanding pada tahun 2009. - Palawija Selain tanaman pangan, potensi sektor pertanian lainnya berupa palawija. Berdasarkan jumlah produksinya pada tahun 2010, terdapat 5 jenis komoditas palawija, yakni jagung (16.954 ton), dengan kecamatan yang memproduksi paling banyak adalah Kecamatan Serangpanjang, ubi kayu (43.560 ton) dengan Kecamatan Sagalaherang sebagai kecamatan penyumbang terbanyak terhadap produksi ubi kayu di Kabupaten Subang, ubi jalar (4.077 ton) dimana Kecamatan Jalancagak sebagai produsen terbesar, kacang tanah (3.779 ton) dengan sentra produksi di Kecamatan Dawuan, sedangkan kacang kedelai produksinya mencapai 735 ton dengan Kecamatan Pagaden Barat sebagai produsen terbesar. - Holtikultura Komoditi sayur-sayuran yang paling dominan dan relatif merata diusahakan petani adalah komoditi kacang panjang. Pada tahun 2010 sebagai sentra produksinya terdapat di Kecamatan Patokbeusi. Di kecamatan ini pada tahun 2010 terdapat areal dengan luas panen sebesar 146 hektar dengan menghasilkan produksi sebesar 1.271,20 ton atau sekitar lebih dari 11,16 % produksi kacang panjang di Kabupaten Subang (11.391,56 ton). Tetapi untuk jumlah produksi kacang panjang ini kecamatan ciater memproduksi paling banyak yakni 6.152,10 Ton dari 113 ha lahan tanaman kacang panjang. Sedangkan dari jenis buah-buahan, nenas yang masih merupakan primadona produk Subang, hasil produksinya pada tahun 2010 mencapai 187.773.442 ton dengan sentra produksi terdapat di Kecamatan Jalancagak, Ciater dan Cijambe (sekitar 90 % dari total produksi nanas Kabupaten Subang).

- Perkebunan Kabupaten Subang sudah menjadi daerah perkebunan sejak sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Hingga saat ini perkebunan besar masih menjalankan usahanya secara efektif, dengan komoditas utamanya karet, teh serta tebu. Perkebunan besar yang ada, pada saat ini diusahakan oleh PT. Perkebunan VIII untuk komoditas karet dan teh. Sedangkan perkebunan tebu diusahakan oleh Pabrik Gula PT. Rajawali III. Areal perkebunan besar di kabupaten Subang terdiri atas perkebunan karet di Jalupang seluas 3.771,25 ha, di Wangunreja 2.092,07 ha, perkebunan teh di Tambaksari 2.529,41 ha dan Ciater 3.166,56 ha serta perkebunan Tebu PT. Rajawali III mencapai 5.384,70 ha. - Kehutanan Luas hutan di Kabupaten Subang pada tahun 2010 tercatat seluas 22.503,48 hektar yang terdiri dari hutan produksi seluas 14.420,05 hektar, hutan lindung 13.083,43 hektar tanpa hutan cadangan. Berdasarkan data dari perum perhutani, pengelolaan hutan di Kabupaten Subang dibagi ke dalam 6 (enam) BKPH yang terdiri dari BKPH Tambakan, Subang, Kalijati, Pamanukan, Cipeundeuy dan Cisalak. - Perikanan Darat Potensi budidaya ikan air tawar di Kabupaten Subang terdiri dari kolam air tenang seluas 546 ha terdapat di seluruh kecamatan diantaranya Kecamatan Pagaden, Legonkulon, Subang, Kalijati, Purwadadi, Pabuaran. Sedangkan pembenihan 6.855.115 m2, dan kolam air deras serta mina padi seluas 4.997 ha diantaranya terdapat di Kecamatan Sagalah Erang, Jalancagak, Cisalak, Tanjung Siang. Komoditi unggulan perikanan air tawar ini adalah ikan mas dan nila. - Perikanan Laut Potensi lahan tambak di Kabupaten Subang pada tahun 2010 mencapai 13.610 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 155.294.168,00 yang tersebar di Kecamatan Sukasari, Pusakanagara, Legonkulon dan Blanakan. Peluang usaha budidaya laut di

Kabupaten Subang ini sangat besar sebab panjang pantai mencapai 68 km potensial untuk pengembangan usaha budidaya laut. Komoditas yang sangat cocok untuk dikembangkan adalah Rumput Laut (Euchema spp), Kakap (Lates carcarifer), Kerapu (Ephinephelus spp), Udang Windu (Paneus monodon), Udang Putih (Paneus marguensis), Bandeng (Channos channos) dan Kerang-kerangan serta jenis ikan lainnya. Seiring dengan besarnya peluang usaha tambak, maka peluang usaha pembenihan (hatchery) pun sangat luas. b. Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Jenis Lokasi Potensi Minyak Mentah Pedataran Subang 169, 5 Juta Barel Gas Asosiasi Pedataran Subang 718, 7 BCF Gas Non Asosiasi Pedataran Subang 3218, 1 BCF Gas CO2 Cikaret + 497 BCF Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Subang Sumber Daya Mineral Potensi sumber daya pada sektor ini yang paling besar adalah bahan galian C. Dari jenis bahan mineral tersebut yang paling banyak ditambang dan dimanfaatkan adalah jenis bahan galian untuk bahan bangunan seperti batu belah, pasir dan sirtu. Sedangkan jenis bahan galian yang potensial untuk ditambang yang tersebar di beberapa kecamatan adalah sebagai berikut : Jenis Pasir Pantai Lempung Lokasi Legonkulon, Pamanukan, Blanakan Blanakan, Patokbeusi, Ciasem, Potensi 210 Juta

Pamanukan, Compreng, Pusakanagara Lempung dan Trass Pabuaran, Cikaum, Kalijati, Pagaden + 150 Km2 Cipeundeuy, Blanakan, Ciasem, Tersebar di daerah Sirtu Compreng, Cipunagara, Cibogo, Subang Aliran sungai Gypsun Subang +5 Juta m3

Jalancagak, Sagalaherang Batu Gunung Jalancagak Pasir Gunung Jalancagak Pasir Cipeundeuy, Kalijati, Subang, Cijambe Puzolan Cijambe, Sagalaherang Belerang Jalancagak Yarosite Jalancagak Batu Gamping Kalijati, Cijambe Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Subang

Batu Belah

Cijambe, Cisalak, Tanjungsiang,

+2juta m3 Belum dievaluasi Belum dievaluasi +1,2 Milyar M + 200 Juta M + 20 Juta + 50 juta Belum dievaluasi

c. Peternakan Ternak Kecil Potensi peternakan yang tak kalah produktif adalah jenis ternak kecil (Kambing, Domba dan Babi), hal ini berkaitan dengan ketersediaan rerumputan di setiap kecamatan sepanjang tahun. secara umum populasi ternak mengalami kenaikan jumlah populasi dengan kenaikan terbesar adalah populasi ternak domba, dari 228.997 ekor tahun 2009 menjadi 232.560 ekor tahun 2010. Untuk ternak besar didapatkan data sebagai berikut ;

d.Perekonomian Jumlah Ternak Produksi Produksi Populasi Populasi Jenis yang Daging Susu (2009) (2010) Ternak Dipotong (2010) (2010) (ekor) (ekor) (2010) (kg) (liter) (ekor) Sapi 19.229 22.477 5.618 1.634.715 2.762.581 Kerbau 5.214 5.818 129 44.245 Kuda 234 248 Sumber: Subang Dalam Angka 2010

Dari segi perekonomian, Subang memiliki 3 aspek pemasukan yaitu dari industri kecil, industri besar sampai menengah selain itu juga Subang memiliki pemasukan ekonomi dari home industri. Saat ini, ada berbagai macam home industri yang telah dilakukan oleh masyarakat yang disesuaikan dengan potensi wilayahnya, sehingga secara tidak langsung mampu memberikan trade mark bagi daerahnya. Secara garis besar, home industri di Kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam 4 jenis industri yaitu pangan, sandang, bahan bangunan dan kerajinan umum. Untuk jenis industri pangan, saat ini telah berkembang home industri dodol nenas di kecamatan Jalancagak, ranginang / opak di kecamatan Pagaden, kerupuk aci di kecamatan Purwadadi. Untuk bahan bangunan telah berkembang home industri genteng dan bata merah dengan sentra industri terdapat di kecamatan Cipeundeuy dan Cikaum. Sedangkan untuk kerajinan umum telah berkembang home industri anyaman bambu di kecamatan Purwadadi dan Kalijati juga pembuatan golok dan dandang tembaga dengan sentra industri di Kecamatan Tanjungsiang. Selain home industri sebagaimana di atas, berkembang kegiatan lain, yaitu kerajinan wayang golek, kerajinan eceng gondok dan kegiatan home industri lainnya.

e. Infrastruktur - Air Minum Air minum merupakan salah satu kebutuhan vital bagi penduduk untuk memenuhi hajat hidupnya. Ketersediaan air minum di Kabupaten Subang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Rangga. Pelanggan air minum Kabupaten Subang sejak 2 tahun terakhir hingga sekarang jumlahnya terus meningkat. Jika pada tahun 2007 jumlah pelanggan mencapai 22.222 konsumen pada tahun 2008 meningkat menjadi 23.106 konsumen.Seiring dengan kenaikan jumlah

pelanggan, jumlah produksipun mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2007 jumlah produksi air sebesar 10.140.171 m2, maka pada tahun 2008 naik menjadi sebesar 10.263.666 m2. Sedangkan mengenai fasilitas jaringan air minum sampai dengan tahun 2006, sebanyak 8 kecamatan belum memiliki fasilitas jaringan air minum sehingga belum terlayan. - Listrik Pembangunan kelistrikan di Kabupaten Subang ditujukan disamping untuk mendukung pembangunan sosial juga diarahkan guna mendukung peningkatan produktivitas sektor-sektor ekonomi, seperti industri, jasa kontruksi, jasa dan sebagainya. Dalam tahun 2006, seluruh desa di Kabupaten Subang yaitu sebanyak 253 desa telah teraliri listrik PLN, dengan kapasitas listrik (daya travo) sebesar 81.551 KVA. Adapun jumlah gardu listrik sebanyak 3 buah gardu induk dan 909 gardu distribusi. Sedangkan untuk penerangan jalan umum (PJU) di Kabupaten Subang, sampai dengan akhir tahun 2006 terdapat 2.066 titik PJU, dengan jumlah desa/ kel. yang mendapat PJU sebanyak 140 desa/kelurahan. - Jalan Untuk menjaga ritme pembangunan yang dinamis dan berkelanjutan serta menunjang pembangunan ekonomi yang lebih maju, maka perlu dilakukan penanganan infrastruktur jalan yang meliputi pembangunan jalan, peningkatan jalan dan pemeliharaan jalan. Saat ini, di wilayah Kabupaten Subang telah memiliki prasarana jalan yang memadai yang terdiri dari jalan negara, jalan provinsi, jalan kecamatan dan jalan desa. Panjang jalan kabupaten sampai saat ini sekitar 1.054,50 Km, panjang jalan provinsi 134,123 Km dan jalan negara 57,42 Km. - Pengairan Kabupaten Subang memiliki potensi yang sangat besar di sektor pengairan. Terdapat 5 sungai yang mengalir sepanjang tahun dan terdistribusi dengan baik melalui saluran induk yang panjangnya 67 Km, saluran irigasi sekunder sepanjang 466,01 Km dan saluran irigasi tersier sepanjang 6.480,12 Km. Selain potensi di atas,

terdapat pula bendungan dengan jumlah 58 buah dan situ 34 buah namun hanya 9 yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Jumlah kebutuhan air irigasi / tahun 2.388 juta M sedangkan jumlah ketersediaan air irigasi/ tahun 6000 Juta M sehingga masih terdapat surplus ketersediaan air sebanyak 3.612 juta M. Melihat potensi sektor pengairan di atas, merupakan peluang bagi pengembangan sektor agribisnis yang banyak membutuhkan sumber daya air dalam masa pertumbuhan.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Perencanaan Pembangunan Daerah Partisipatif Pemberlakuan sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam otonomi sudah sangat lama, yaitu sejak tahun 2001 (menggunakan UU No.22/ 1999 tentang Pemerintah Daerah) dan pada tahun 2004 (menggunakan UU No.32/ 2004 sebagai

revisi Undang-undang sebelumnya) sampai sekarang. Dalam dua Undang-undang tentang Pemerintah Daerah tersebut telah diberlakukan sistem desentralisasi sebagai antitesa terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah yang lalu yaitu sistem kebijakan sentralistik. Dengan adanya perubahan sistem kebijakan ini, pemerintah daerah mempunyai kewenangan besar untuk merencanakan/ merumuskan, dan melaksanakan kebijakan dan program pembangunan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Di dalam sistem desentralistik dan otonomi, melekat pula kewenangan sekaligus tanggung jawab untuk secara pro aktif mengupayakan kebijakan penanggulangan kemiskinan demi kesejahteraan rakyat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tanggung jawab ini merupakan konsekwensi logis dari salah satu tujuan diberlakukannya otonomi daerah, yakni menciptakan sistem pelayanan publik yang lebih baik, efektif dan efisien yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan serta kemandirian masyarakat. Oleh karena itu kebijakan penanggulangan kemiskinan itu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat semata. Adanya kandungan aspek lokalitas yang tinggi dalam perumusan kebijakan publik juga menyebabkan pemerintah daerah dituntut untuk bersikap transparan dan akuntabel sebagai upaya untuk menciptakan good governance, sebab sekarang ini pemerintah daerah tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan pemerintah pusat semata, namun memiliki kewenangan untuk merancang program pembangunan daerahnya sendiri dengan disesuaikan atas aspirasi dan kebutuhan rakyat di daerah. Hal ini ditunjang dengan adanya beberapa faktor yang mempermudah pelaksanaan otonomi daerah agar dapat berjalan secara kondusif terhadap kebijakan pembangunan. - DAU (Dana Alokasi Umum). Diberikan kepada pemerintah daerah dalam bentukblock grant (pemberian hibah), sehingga pemerintah daerah mempunyai fleksibilitas yang cukup tinggi dalam menggunakan alokasi dana tersebut sesuai dengan kepentingan dan prioritas daerah. Dengan kata lain, pemerintah dapat

bertindak lebih tanggap dan pro aktif dalam penanggulangan kemiskinan tanpa menunggu instruksi pemerintah di atasnya (propinsi ataupun pusat). - Ijin penanaman modal dan kegiatan dunia usaha umumnya kini dapat diselesaikan di tingkat daerah. Sehingga pengurusannya lebih mudah dan biaya lebih murah. - Daerah yang kaya sumber daya alam memperoleh penerimaan alokasi dana yang besar. Dengan dana tersebut daerah yang bersangkutan relatif lebih mudah untuk menentukan prioritas langkah-langkah pembangunan dengan berdasar pada partisipasi masyarakat. 3.2 Proses Penyusunan Kebijakan Program Pembangunan. Bahwa untuk menjalankan aktifitas pembangunan, pemerintah daerah harus merumuskan rencana-rencana kebijakan, baik yang terkait dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ataupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) dan satuan-satuan kerja (SATKER) dinas harus disesuaikan dengan aspirasi masyarakat yang polanya sudah berubah menjadi bottom up dan bukan lagi top down. Memang harus diakui bahwa dalam pelaksanaan rencana program pembangunan biasanya dilakukan dengan menggunakan metode teknokratik dan demokrasi partisipatif. Pertama, perencanaan pembangunan secara teknokratik dilakukan secara sepihak oleh para teknokrat yang duduk di struktur pemerintahan daerah. Mereka akan melaksanakan penyusunan rencana pembangunan menurut buah pikiran dan ilmu pembangunan. Kelemahannya adalah perencanaan secara teknokratif ini tidak melibatkan warga masyarakat, sehingga perencanaan pembangunan yang dihasilkan biasanya justru tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan, karena seringkali jauh dari harapan dan kebutuhan masyarakat. Pada sisi ini masyarakat hanya dibiarkan sebagai penonton/ objek saja, tanpa mempunyai hak apapun. Kedua, perencanaan pembangunan secara demokratis partisipatif adalah metode perencaan pembangunan dengan cara melibatkan warga masyarakat yang

diposisikan sebagai subyek pembangunan. Artinya masyarakat diberikan peluang menggunakan hak-hak politiknya untuk memberikan masukan dan aspirasi dalam penyusunan perencanaan pembangunan. Metode yang kedua ini diharapkan dapat memberikan hasil-hasil perencanaan pembangunan yang sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan ataupun sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat, karena memang warga masyarakat langsung menyampaikan aspirasi kebutuhannya. Metode ini berkarakteristik bottom up, bagaimana penjelasannya ? Proses penyusunan kebijakan program pembangunan yang mempunyai karakter bottom up adalah sebagai berikut : 1. MUSBANGDES (Musyawarah Pembangunan Desa) atau istilah lainnya

MUSRENBANGDES (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa). Perencanaan pembangunan dimulai dari tingkat desa, yang biasanya dihadiri oleh mereka yang ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan, ataupun sesuai dengan kebijakan dari kabupaten, namun seringkali dalam prakteknya hanya menjadi semacam lips servis belaka, karena kegunaan dari musbangdes ini masih perlu dipertanyakan. Mestinya sebelum dilakukan musyawarah di tingkat desa, ketua-ketua RT dan RW mengajak berembuk dengan warga mengenai kebutuhan apa saja yang harus diajukan sebagai usulan kepada pemerintah desa, lalu dilakukanlah musyawarah pembangunan di tingkat desa tersebut. Biasanya masyarakat mempunyai pandangan yang salah bahwa pembangunan yang dilakukan di tempatnya seringkali dikatakan sebagai bantuan, padahal memang pembangunan tersebut telah menjadi hak warga masyarakat untuk mendapatkannya, dan sekali lagi bukan bantuan pembangunan sebagaimana yang seringkali digulirkan oleh para elit politik, baik dari lingkungan partai ataupun pemerintah. Mana ada partai politik yang memberikan bantuan pembangunan,

sedangkan mereka dalam menjalankan roda organisasi saja belum bisa mandiri, masih disupport oleh pemerintah baik melalui APBD maupun APBN. 2. MUSBANGCAM (Musyawarah Pembangunan Kecamatan) atau istilah lainnya

MUSRENBANGCAM (Musyawarah Rencana Pembangunan Kecamatan). Merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan musyawarah pembangunan di tingkat desa. Kegiatan ini dilakukan untuk mengumpulkan berbagai masukan dari seluruh kawasan desa dalam satu kecamatan, kemudian yang menghadiri biasanya adalah mereka perwakilan dari desa. Karena sudah banyak masukan dari seluruh desa, maka mestinya pada tingkatan ini sudah harus dipikirkan mengenai pembuatan skala prioritas pembangunan yang akan diajukan. Penentuan skala prioritas ini harus ditentukan secara bersama-sama antara pemerintah kecamatan dengan perwakilan-perwakilan desa, dan tidak hanya dari pemerintah kecamatan saja. Kalau hal ini yang terjadi maka akan terjadi sebuah situasi yang tidak fair, atau tidak adil.

3.

MUSBANGKAB (Musyawarah Pembangunan Kabupaten) atau istilah lainnya

MUSRENBANGKAB (Musyawarah Rencana Pembangunan Kabupaten). Musyawarah ini dilakukan di tingkat Kabupaten yang dihadiri oleh para perwakilan dari kecamatan-kecamatan untuk kemudian melakukan sinkronisasi rencana-rencana pembangunan yang telah disusun dengan rencana-rencana yang telah dibikin oleh Dinas-dinas. Nah pada level ini biasanya akan terjadi tarik ulur kepentingan antara masukan aspirasi dari masyarakat dan dinas-dinas. Oleh karena memang, harus dicari format skala prioritas pembangunan masyarakat melalui pola perankingan, sehingga dapat dicapai kesepakatan bersama, dan tidak hanya pada coret-mencoret yang dilakukan oleh para kepala dinas semata. Penentuan skala prioritas ini tidak boleh dilakukan secara sepihak karena hasil dari pelaksanaan

kegiatan ini nantinya akan menjadi Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD). Draft APBD ini kemudian diajukan oleh pemerintah kabupaten untuk dimusyawarahkan dengan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). 3.3 Analisis Potensi Subang Secara kuantitatif struktur ekonomi Kabupaten Subang dapat dilihat dari peranan masing-masing sektor terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku yang diperlihatkan dengan tabel distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Subang Tahun 2010, maka sektor pertanian merupakan sektor yang memegang peranan terbesar terhadap PDRB Kabupaten Subang, terbukti dari tahun 2009 peranannya lebih dari 37,34 %. Begitu pula untuk kontribusi PDRB atas dasar harga konstan, peranan sektor pertanian mencapai 33,32 % dibanding sektor lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Subang masih merupakan daerah agraris. PDRB Perkapita atau Pendapatan Perkapita merupakan salah satu indikator untuk menilai tingkat kemakmuran suatu daerah, atau apabila dilihat dari sisi lain merupakan indikator produktivitas penduduk. PDRB Perkapita Kabupaten Subang dari tahun 2004-2009 selalu menunjukkan peningkatan. Ini berarti bahwa telah terjadi peningkatan pendapatan untuk masyarakat Kabupaten Subang, dimana untuk tahun 2010 telah mencapai Rp. 4.795.563,- per tahun. Peningkatan PDRB Atas Dasar Harga berlaku Kabupaten Subang tidak terlepas dari adanya perubahan harga Barang & Jasa yang terjadi di Kabupaten Subang. Dimana perubahan harga tersebut dapat dihitung dari Indeks Implisit PDRB Kabupaten Subang. Sektor Pertanian merupakan salah satu faktor yang paling penting jika dilihat dari peningkatan PDRB Subang untuk di kembangkan secara lebih baik. Infrastrutur jalan yang sudah baik pada daerah Subang serta lahan-lahan pertanian yang masih banyak jika dilihat pada sepanjang jalan merupakan hal yang perlu dipertahankan. Pada daerah Subang juga terdapat PTPN VIII yang dapat mendukung peningkatan

ekonomi warga setempat, ditambah dengan potensi nenas yang terkenal sebagai sesuatu yang khas dari Subang. Dengan akses jalan yang telah baik tersebut menjadikan kawasan wisata di daerah Subang masih menjadi kawasan utama untuk berekreasi, hanya saja penerangan jalan yang kurang perlu diperbaiki oleh pemerintah setempat. Pengembangan usaha home industry kerajinan yang ada dapat dijadikan salah satu cara untuk dapat membangun Subang dari segi sumber daya manusia. Pada daerah Subang utara masih sangat kurang berembang karena kurangnya sumber daya manusia yang terampil maka sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan, teknologi yang ada pada masyarakat local agar pembangunan di Kabupaten Subang dapat meningkat.

BAB IV KESIMPULAN Dalam pengembangan wilayah suatu daerah diperlukan analisi mengenai potensi daerah tersebut, dimana potensi yang ada harus dari berbagai aspek yang ada serta perlu korelasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah agar pengembangan yang ada dapat berlangsung secara optimal. Dalam hal ini sektor pertanian yang perlu dikembangkan lebih baik mengingat bahwa sektor ini memberikan lebih banyak peran dari segi ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. http://www.subang.go.id . Diakses pada tanggal 3 November 2012 Anonim. http://subangkab.bps.go.id/index.php?kategori=pdrb. Diakses

pada tanggal 3 November 2012