Anda di halaman 1dari 6

BATIK SEBAGAI PENDUKUNG PARIWISATA di INDONESIA

Frenky Soegijapranata Catholic University Semarang Indonesia frenky13292@gmail.com Lysia Hanjaya Soegijapranata Catholic University Semarang Indonesia lysia_92@yahoo.com Dr. Rustina Untari Soegijapranata Catholic University Semarang Indonesia r.untari@gmail.com Abstract Batik merupakan hasil budaya Indonesia sejak turun temurun. Batik memiliki ciri khusus yang berbeda di setiap daerah di Indonesia. Hal ini merupakan daya tarik utama dari batik, dimana batik merupakan hasil industri kreatif yang berasal dari kreatifitas dan budaya yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Dari sisi ekonomi, kita dapat melihat kontribusi batik yang menunjukkan batik memberikan dampak ekonomi dari sisi pariwisata, kontribusi penjualan dari batik mencapai $150 Juta pada tahun 2008 dan menyumbang tenaga kerja sebanyak 7,4 Juta tenaga kerja. Keberhasilan batik itu sendiri tidak lepas dari sistem distribusi dan pasokan batik yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, serta terkait dengan permintaan yang tinggi yang ada baik dari konsumen lokal maupun konsumen internasional. Batik bukan saja sebagai komoditas bisnis, namun juga sebagai aset pariwisata Indonesia. Paper ini akan membahas bagaimana batik menjadi salah satu strategi pendukung pariwisata di Indonesia (baik dari strategi pemasaran dan pemanfaatan sumber daya) dan kontribusi batik dalam pariwisata Indonesia. Keywords: Batik, Pariwisata, Kontribusi Batik, Batik Indonesia A. Pendahuluan Kepariwisataan merupakan salah satu penggerak perekonomian nasional yang potensial dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia[1]. Walaupun tidak menghasilkan produk dalam jumlah banyak, industri kreatif mampu memberikan kontribusi positif yang cukup signifikan terhadap perekonomian nasional. Melalui tabel Ranking Devisa Pada Setiap Sektor [10] dibawah ini dapat dilihat bahwa kontribusi pariwisata terhadap perekonomian cukup besar.

1|Ba tik Sebag ai P endorong Pariwis ata Indones ia

Depertemen Perdagangan (2008) mencatat bahwa kontribusi industri kreatif terhadap PDB di tahun 2002 hingga 2006 rata-rata mencapai 6,3% atau setara dengan 152,5 trilyun jika dirupiahkan[3]. Dalam sebuah penelitian yang disusun oleh C.Smith dari Departemen Kebudayaan, Media dan Olahraga di Inggris, Industri Kreatif didefinisikan sebagai "industri-industri yang memiliki origin dalam berkreativitas, keterampilan kreativitas dan bakat yang berpotensi menuju kekayaan dan penciptaan pekerjaan melewati generasi-generasi dan eksploitasi properti intelektual"[11]. Salah satu produk Indonesia yang terkenal dalam industri kreatif batik. Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Takbenda di Abu Dhabi[2]. Oleh sebab itu batik dapat menjadi pendukung pariwisata di Indonesia. B. Perkembangan Batik Indonesia Perkembangan Batik memiliki hubungan dengan sejarah bangsa Indonesia terutama sejarah Jawa yang terkait dengan dengan kekuasaan, permulaan sebuah tempat ataupun persoalan ekonomi. Batik sudah ada sejak zaman kerajaan yang waktu itu didominasi oleh kerajaan Majapahit dan dijadikan sebagai seni rahasia Istana. Pada saat itu batik masih menggunakan canting.

Perkembangan batik berlanjut hingga pada zaman pemerintahan kerajaan Mataram dimana terjadi perkembangan pembuatan batik menggunakan canting. Hingga era Perang Diponegoro 1825-1830, batik masih menjadi seni rahasia Istana terutama untuk motif-motif khusus seperti Sidomukti dan Sidoluruh. Berakhirnya perang menyebabkan banyak ahli batik menyebar di berbagai pulau dan corak batik berkembang luas di Indonesia. Di Jawa, Batik menjadi salah satu produk utama dari segi pariwisata. Seiring berjalannya waktu tumbuh kesadaran masyarakat Indonesia mengenai batik sebagai salah satu pendukung pariwisata. C. Batik sebagai Pendukung Pariwisata Indonesia Sebagai strategi yang mendukung pariwisata Indonesia, kami mengklasifikasi batik menjadi 2 yaitu batik sebagai produk (kain batik, pakaian, tas, dll) dan batik sebagai pariwisata yang memberikan pengalaman pada wisatawan. 1. Batik sebagai produk UNESCO mengakui bahwa produk Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia[2]. Batik sebagai produk Indonesia memiliki ciri khas tersendiri. Batik tulis Indonesia sudah ada sejak zaman kerajaan dan memiliki filosofi tersendiri. Corak batik Indonesia sangat bervariatif karena ada perpaduan dengan beberapa budaya negara lain seperti kaligrafi Arab, burung phoenix dari China, bunga cherry dari Jepang sampai burung merak dari India atau Persia. Beberapa strategi yang dapat

2|Ba tik Sebag ai P endorong Pariwis ata Indones ia

mengembangkan batik sebagai produk yang mendukung pariwisata: Melindungi dan Menjaga Batik sebagai produk Indonesia Motif batik nusantara antara lain[5] : Batik Pesisir Batik ini mendapat pengarugh dari pegadang asing dan penjajah. Biasanya berwarna merah dan bercorak burung, teratai, dan kelenteng. Batik Semarang dan Tuban termasuk jenis batik pesisir yang mendapat pengaruh kebudayaan cina Batik Pekalongan Batik ini bercorak flora dan fauna yang dipengaruhi budaya Cina dan Arab, biasanya diproduksi dalam jumlah banyak. Batik Solo dan Batik Jogja Kekhasan batik solo dan jogja adlaah motif bunga dan geometrsi dengan dominasi warna coklat, hitam, merah, dan biru. Batik Solo memang dikenal batik bangsawan sehingga pad amodel tertentu diproduksi secara sedikit. Batik Madura Ciri khas terletak pada motif bunga, burung, dan geometris selain itu hanya didominasi warna merah dan hitam yang terkesan hangat Batik Cirebon Kekhasan batik ini adalah warna yang mencolok dan motif laut dan awan. Batik Sumatera Batik Sumatera, bengkulu, aceh, dan sekitarnya memiliki corak batik yang dipengaruhi budaya islam. Batik Garut Terkenal dengan permainan motif geomoetris dan dagonal serta permainan warna dengan pastel terang Indonesia harus menjaga dan mempertahankan ciri khas, kekayaan motif, serta filosofi dari simbol yang ada sebagai competitive advantage (keunggulan bersaing) yang tidak dimiliki pesaing. Pengajuan dari Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) mengenai barik sebagai warisan dunia pada tahun 2009

menjadi value added (nilai tambah) batik Indonesia. Oleh sebab itu hendaknya setiap corak dan motif yang ada dijaga dan dipertahankan dapat melalui paten/metode lain dan dikembangkan sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman tanpa mengurangi keaslian dari motif tersebut. Mengembangkan industri kecil dan menengah Dalam mengembangkan produk batik Indonesia tidak dapat terlepas dari industri kecil dan menengah. Dengan mengembangkan industri kecil dan menengah bermanfaat dalam menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia sekaligus memberi dampak positif terhadap perkembangan batik sebagai produk Indonesia. Dalam mengembangkan batik sebagai produk pendukung pariwisata, dibutuhkan Sumber Daya antara lain : Sumber Daya Alam Berdasarkan cata pewarnaannya batik Indonesia dibedakan menjadi 2 yaitu batik warna alam dan batik warna buatan. Batik warna alam merupakan batik yang diwarna dengan bahan dari alam (biasanya tanaman) dan memiliki kualitas warna yang sangat unik dan susah ditiru. Pewarnaan alam membutuhkan waktu relatif lama dengan teknik/skill khusus yang relatif sulit dan kualitas yang cenderung lebih baik. Beberapaa contoh warna alam antara lain indigo untuk warna biru, kayu untuk warna coklat, kunir untuk warna kuning, dll. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam pembuatan batik. Kuaitas SDM dipengaruhi oleh bakat, skill / ketrampilan, pengalaman, ketrampilan dan kreatifitas. Khususnya pada batik tulis kualitas dari pembatik sangat hasil dari batik tersebut. Batik tulis terkesan lebih eksklusif karena tidak ada produk yang identik. Peralatan dan Teknologi Pada batik yang dibuat menggunakan cap dan printing diperlukan bantuan mesin. Memang waktu yang dibutuhkan dari pembuatan batik relatif cepat namun hasil

3|Ba tik Sebag ai P endorong Pariwis ata Indones ia

lebih sederhana karena tekstur batik yang diprint terbatas dan diproduksi secara massal. Tiap sumber daya yang ada memiliki kelebihan dan kekurangan masingmasing, hal tersebut juga menjadi keunikan proses pembuatan batik di Indonesia yang tergolong cukup fleksibel 2. Batik sebagai Wisata Batik sebagai wisata bukan hanya menyediakan produk batik untuk dijual pada wisatawan, namun leih mengutamakan unsur experience wisatawan terhadap batik. Lokasi batik sebagai tempat wisata ini sering disebut kampung batik dimana wisatawan dapat belajar sejarah batik, membuat batik, dan memilii pengalaman sendiri terhadap batik. Beberapa contoh batik sebagai pendukung pariwisata di Indonesia antara lain : - Kampoeng Batik Kauman kota Pekalongan[7] Kampoeng Batik Kauman Kota Pekalongan, Jawa Tengah, terpilih menjadi salah satu dari sepuluh desa wisata nasional yang dinilai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. - Desa Wisata Batik Kliwonan dan Festival Desa Batik di Sragen[6] Desa Wisata Batik Kliwonan merupakan kawasan ekoturisme berkelanjutan dengan pemberdayaan warga lokal untuk mengangkat potensi ekonomi, keunikan, dan kearifan lokal dengan memperhatikan keseimbangan ekologi.Masyarakat dapat beraktivitas wisata belanja batik berkualitas tinggi dengan harga murah. Selain itu wisatawan dapat berwisata sambil belajar membatik selama 3 jam dengan mendalam, belajar membuat gerabah sawah, mengenal proses bertani, wisata kuliner makanan khas desa, menjelajah desa, hingga fotografi alam. Selain itu terdapat Festival Desa Batik yaitu acara yang memadukan tradisi agraris dan keterampilan membatik sehingga menghasilkan acara menarik dan unik untuk disaksikan. - Batik laweyan[8] Kampung Batik Laweyan merupakan salah satu kerajinan batik yang terkenal di daerah Solo, Jawa Tengah. Menurut perkataan masyarakat setempat, pusat batik terbesar di

Solo ini sudah ada sejak 350 tahun silam. Saat ini, terdapat ratusan perajin yang memproduksi batik dengan aneka motif secara turun temurun. Batik Giriloyo[9] Giriloyo terletak di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Kota Yogyakarta, hanya berjarak lebih kurang 17 Kilometer. Giriloyo memiliki sekitar 600 perajin batik yang tergabung dalam sepuluh kelompok. Para perajin ini fokus pada batik tulis.

D. Pemasaran Pemasaran batik sebagai produk dalam mendukung Pariwisata di Indonesia sangat bervariatif. Terkait dengan teori Kottler mengenai marketing mix, Beberapa jenis pemasaran yang dapat dilakukan antara lain : 1. Promotion Memasarkan batik sebagai Local heritage yang dapat menjadi keunggulan kompetitif dan daya tarik wisata bagi wisatawan. Hak tersebut dapat dilakukan dengan pameran batik, website, retailm serta katalog batik pada setiap kota wisata di Indonesia. 2. Product Mampu menjaga keaslian dan mempertahankan filososfi tiap motif yang ada serta membuat variasi produk tanpa menghilangkan unsur keasliannya. 3. Place Mendirikan Batik Corner di tempattempat yang memiliki daya jual yang tinggi bagi wisatawan khususnya kota wisata atau pulau wisata yang ada di Indonesia. Contoh: Bali, Karimun Jawa, dll 4. Price Dari sisi harga, pemasaran dapat dilakukan dengan variatif. Target pasar bukan hanya pangsa pasar menangah namun juga dapat menjangkau target pasar middle-up, hal tersebut ditunjang dengan range harga batik yang sangat beragam.

4|Ba tik Sebag ai P endorong Pariwis ata Indones ia

E. Kontribusi Batik dalam Pariwisata Indonesia Pada Konvensi Pengembangan Ekonomi Kreatif 2009-2015, Dr. Mari Elka Pangestu menyebutkan beberapa alasan mengapa industri kreatif (termasuk batik) perlu dikembangkan di Indonesia, antara lain[3] : 1. Memberikan kontibusi ekonomi yang signifikan Hal tersebut sudah dibuktikan dari sisi ekonomi, penjualan batik memberi kontribusi $150 Juta pada tahun 2008 2. Menciptakan iklim bisnis yang positif Persaingan bisnis pada industri kreatif batik tergolong positif dan sehat. Hal tersebut

dapat dilihat bahwa tidak ada persaingan yang saling menjatuhkan 3. Membangun citra dan identitas bangsa Citra dan identitas bangsa indonesia yang terkenal oleh batik sudah diakui secara internasional yang dapat terbukti melalui pengakuan UNESCO bahwa Batik Indonesia memiliki teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia[2]. 4. Berbasis kepada sumber daya yang terbaru Seiring berjalannya waktu, proses pembuatan Batik Indonesia mengalami perkembangan yang dapat digambarkan emlalui bagan berikut

majapahit1830
canting

1830-1986
canting cap

1987-2012
canting cap printing

5. Menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu bangsa. Indonesia terkenal dengan kekayaan motif batik (perpeaduan dengan budaya negara lain asimilasi) dan filosofi dai motif tersebut, hal tersebut merupakan kreativitas yang menjadi keunggulan kompetitif. Serta muncul inovasi motif baru yang timbul dari SDM Indonesia yang memang memiliki ketrampilan khusus. 6. Memberikan dampak sosial yang positif Dampak sosial positif batik dapat terlihat melalui munculnya rasa nasionalisme yang tinggi masyarakat Indonesia, kebanggaan serta kecintaan masyarakat Indonesia terhadap produk dalam negeri sekaligus national heritage, dan batik menjadi salah satu alat pemersatu nusantara.

F. Kesimpulan Batik dalam industri kreatif dapat dipandang sebagai produk dan juga asebagai wisata yang mendukung pariwisata di Indonesia. Batik Indonesia memiliki ciri khas dan filosofi yang merupakan national heritage sehingga dapat menjadi competitive advantage dan value added yang mendukung pariwisata Indonesi G. Daftar Pustaka [1] http://www.scribd.com/doc/90360992/StudiPeningkatan-Pariwisata-Indonesia [2] http://palingseru.com/13386/2-oktober1999-batik-diakui-unesco-sebagaiwarisan-budaya-dunia [3] http://dppm.uii.ac.id/dokumen/dikti/files /DPPM-UII_07._5266_Pengembangan_Ekonomi_Kreatif_Se bagai_Penggerak_Industri_Pariwisata.pdf

5|Ba tik Sebag ai P endorong Pariwis ata Indones ia

[4]

http://eprints.undip.ac.id/24003/1/DJOK O_SUDANTOKO.pdf [5] http://www.motifbatik.info/2012/08/mot if-batik-nusantara.html [6] http://www.indonesia.travel/id/destinati on/422/sangiran/article/71/desa-wisatabatik-kliwonan-dan-festival-desa-batik-disragen [7] http://www.republika.co.id/berita/nasion al/umum/12/09/24/mau5zl-kampoeng-

batik-kauman-terpilih-desa-wisatanasional [8] http://peluangusaha.kontan.co.id/news/b atik-laweyan-berjaya-setelah-jadi-ikonwisata/2012/09/24 [9] http://www.abasrin.web.id/2012/04/kam pung-batik-giriloyo-melestarikan.html [10] www.budpar.go.id [11] Creative Industries and micro&small scale enterprise dvelopment. A journal of UNIDO.

6|Ba tik Sebag ai P endorong Pariwis ata Indones ia