Anda di halaman 1dari 16

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Singkat Perusahaan Bandar Udara Polonia Medan merupakan salah satu Bandar Udara Internasional yang ada di Nusantara dan pada saat ini dikelola secara professional oleh PT (Persero) Angkasa Pura II terhitung mulai 1 Januari 1994. Perkembangan Bandar Udara Polonia Medan, setiap tahun semakin meningkat baik dari segi pemakai jasa angkutan udara, sisi operasional maupun fasilitas keselamatan penerbangan yang didukung dengan peralatan modern dan canggih. 2.1.1. Pada Masa Penjajahan Tahun 1872, BARON MISCHALSKY, seorang bangsa Polandia mendapatkan konsesi dari pemerintah Hindia Belanda untuk membuka perkebunan tembakau di Sumatera Timur di daerah Medan. Kemudian dia menamakan daerah/wilayah konsesinya itu dengan nama POLONIA yaitu nama negeri kelahirannya. Tahun 1989, karena sesuatu hal, konsesi atas tanah perkebunannya itu berpindah tangan kepada DELI MAATSCHAPPIJ (DELI MIJ). Pada tahun itu terdengar kabar bahwa pioneer penerbang bangsa Belanda yakni Mr.Van Derhoop akan menerbangkan pesawat kecilnya FOKER dari Eropa ke wilayah Hindia Belanda dalam jangka waktu 20 jam terbang. Maka DELI MIJ yang memegang konsesi atas tanah itu menyediakan sebidang tanah untuk diserahkan sebagai lapangan terbang pertama di kota Medan. Tahun 1927, persatuan perkebunan-perkebunan Sumatera Timur (Algemeene Vereening Rubber Planters Oostkust Van Sumatera-AVROS) dan organisasi perkebunan Deli (Deli Planters Vereening-DPV), secara kolektif terus menerus mendesak pemerintah pusat agar membuka lapangan terbang hingga dalam waktu

yang singkat perhubungan udara yang teratur dapat terlaksana. Tanggal 19 Januari 1927, Markas Besar Hindia Belanda mengeluarkan surat No.178 yang isinya berupa pembentukan panitia/komisi yang mengadakan penyelidikan-penyelidikan. Komisi ini dinamakan sebagai KUPPER-WALVAREN. Tugas dari komisi ini antara lain adalah untuk mempersiapkan pembukaan suatu jaringan perhubungan udara untuk Medan-BataviaSingapura dengan cabang di Kota Raja (Banda Aceh). Jaringan perhubungan udara ini disiapkan guna keperluan Sipil maupun Militer. Tahun 1928, lapangan terbang Polonia dibuka dengan resmi, ditandai dengan mendaratnya enam pesawat udara milik KNILM (anak perusahaan KLM), pada landasan yang masih darurat, lapangan terbang pada saat itu masih merupakan tanah yang keras. Tahun 1930, perusahaan penerbangan Belanda KLM serta anak perusahaan KNILM membuka jaringan penerbangan ke medan secara berkala. Tahun 1936, lapangan terbang polonia untuk pertama kalinya mengadakan perbaikan. Nomor/arah landasan pada saat itu adalah 10-28, dan panjangnya 600 M. Tahun 1937, pemerintah Hindia Belanda mengadakan pemetaan kota Medan. Pemetaan (pemetaan dari udara) dilaksanakan dengan menggunakan pesawat udara milik KNILM. Tahun 1940, lapangan terbang polonia serta Pelabuhan Belawan mengalami kerusakan yang berat akibat di bom oleh tentara jepang. Hal ini mengakibatkan seluruh kegiatan ekspor dari pelabuhan Belawan terhenti. 2.1.2. Pada Masa kemerdekaan. Tahun 1945, sehubungan dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, maka seluruh tanah air kembali menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia dan dikuasai sepenuhnya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Tahun 1946, tentara sekutu Jepang membangun kembali Lapangan Terbang Polonia yang rusak berat akibat tejadinya perang. Letak posisi arah landasan diubah menjadi 05-23, dan landasan sepanjang 800 M yang disusun dengan menggunakan lempengan

besi-besi PSP (Peirces Stell Plank). Tahun 1948, pemerintah Hindia Belanda kembali menguasai Lapangan Terbang Polonia, kemudian diadakan pembangunan berupa perpanjangan landasan menjadi 1000 M. Pada saat itu dinamakan Penerbangan Sipil, yang selanjutnya berubah menjadi Jawatan Penerbangan Sipil dan landasan kembali diperpanjang menjadi 1200 M. Tahun 1950, pengelola Lapangan Terbang Polonia saat itu adalah Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Dalam hal ini, Dinas Teknik dan Dinas Pekerjaan Umum bagian Lapangan Terbang perusahaan penerbangan yang masuk Polonia saat itu adalah KLM dan Garuda. Pada tahun ini AURI melaksanakan landasan menjadi 1800 M panjang dan lebarnya 45 M. Tahun 1959, berdasarkan ketentuan Pemerintah Republik Indonesia dan keputusan tiga menteri yakni Menteri dalam Negeri, Menteri Perhubungan, Menteri Hankam / Panglima Angkatan Bersenjata. Maka pengelolaan Lapangan Terbang Polonia dikelola oleh dua instansi yakni Militer (Angkatan Udara Republik Indonesia) dan Sipil (Jawatan Penerbangan Sipil). Pada tahun ini pengelolaan lapangan terbang (di pihak sipil) mulai dilaksanakan oleh para petugas yang professional. Manajemen Lapangan Terbang Polonia saat itu adalah para petugas lulusan Akademi Penerbangan Indonesia Curug sedangkan kegiatan militer dilaksanakan oleh AURI beserta jajarannya. Tahun 1963, Jawatan Penerbangan Sipil diubah menjadi Direktorat Penerbangan Sipil yang berada di naungan Departemen Perhubungan Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. 2.1.3. Pada Masa Pembangunan Tahun 1968, pada tahun ini terjadi perubahan Departemen yakni Departemen Perhubungan Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik dipecah menjadi dua departemen yakni Departemen Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Sebagai akibat dari pemisahan, maka Direktorat Pekerjaan Sipil diubah menjadi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menjadi unsur dari Departemen Perhubungan. Pelabuhan Udara Polonia Medan selanjutnya berada dalam naungan

10

Departemen Perhubungan kantor wilayah-1 Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Tahun 1975, berdasarkan keputusan bersama antara Departemen Perhubungan, Departemen Hankam dan Departemen Keuangan melalui SKB No.Kep / 30 / IX / 75, No.KM.393 / S / Phb-75 dan Kep.927.J / MK / IV / 8 / 75 tanggal 21 Agustus 1975, maka pengelolaan pelabuhan Bandar Udara Polonia menjadi hak pengelolaan bersama antara Pangkalan Udara AURI dan Pelabuhan Udara Sipil. Tahun 1977, pembangunan gedung Cargo seluas 1500 M2 untuk mendukung kegiatan Ekspor-Impor serta pembangunan gedung operasi seluas 780 M2. Tahun 1980, berdasarkan KM.50/OT/Phb-1978 tanggal 8 Maret 1978, Pelabuhan Udara Polonia Medan dibagi menjadi dua instansi yaitu: 1. Pelabuhan Polonia Medan Mengelola kegiatan yang bersifat komersial, terutama kegiatan pelayanan jasa penumpang dan cargo serta kegiatan lalu lintas pesawat udara selama berada di darat. 2. Sentra Operasi Keselamatan Penerbangan (SENOPEN) Medan Penerbangan Udara Polonia Medan mendapat proyek perpanjangan landasan dengan sistem cakar ayam sepanjang 445 M. Dengan demikian panjang landasan Bandar Udara Polonia Medan menjadi 2900 M. Dengan panjang landasan yang sedemikian itu, maka pelabuhan udara polonia medan sudah dapat menampung pesawat berbadan lebar setingkat dengan DC-10 atau B-474. Pada tahun ini juga dibangun fasilitas gedung pemancar seluas 437,50 M untuk mendukung kegiatan keselamatan penerbangan. Tahun 1981, pembangunan gedung Terminal Dalam Negeri (Domestik) seluas 1526 M2 dan diresmikan oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia pada saat ini yakni Bapak Rusmin Nurjadin. Tahun 1982, pengelolaan pelabuhan udara polonia dipisah menjadi 2 bagian yaitu daerah kekuasaan (Pangkalan Udara

11

dikuasai TNI-AU) dan daerah pengelolaan (pelabuhan udara dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara). Batas penguasaan dan pengelolaan adalah landasan Pacu/Runway. Pada tahun ini juga dibangun fasilitas gedung Terminal keberangkatan untuk Internasional seluas 3000 M2. Tahun 1985, pada tanggal 3 Februari 1985, berdasarkan PP No.30 tahun 1984 pelabuhan udara polonia medan diserahkan pengelolaannya dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara kepada perusahaan umum (PERUM) Angkasa Pura untuk dijadikan tambahan penyertaan modal negara serta pengembalian sebagian kekayaan PERUM Angkasa Pura kepada negara. Dengan demikian secara resmi Pelabuhan Udara Polonia Medan dalam jajaran perusahaan umum (PERUM) Angkasa Pura. Tahun 1986, ketentuan pemerintah mengatakan bahwa sebutan Pelabuhan Udara diganti menjadi Bandar Udara, Hal ini berdasarkan PP.No 25 tahun 1986 tanggal 19 Mei 1986. Pada tahun ini juga terjadi perubahan status dan nama Perum Angkasa Pura menjadi Perum Angkasa Pura-I, dengan demikian maka namanya menjadi Perum Angkasa Pura-I Bandar Udara Polonia Medan. Tahun 1966, Komandan Pangkalan Udara Medan TNI-AU (Letnan Kolonel Penerbangan SJEIFULLAH) beserta jajarannya mengadakan pengukuran tanah disekitar Bandar Udara Polonia bekerja sama dengan Pemda tingkat-I Sumatera Utara. Hal ini dilakukan karena secara de-facto tanah bandar udara polonia saat ini dalam kepemilikan TNI-AU (Lanud Medan), sedangkan secara de-yure sampai saat ini masih dalam proses pensertifikasian. Tahun 1993, pada tanggal 2 februari 1993 terjadi pengalihan status dari Perum Angkasa Pura-I menjadi PT (Persero) Angkasa Pura-II berdasarkan PP No.5 tahun 1992. Dengan demikian arah penguasaan Bandar Udara Polonia mewujudkan tercapainsya tugas pokok, yaitu memupuk keuntungan melalui penyediaan dan penggunaan jasa Bandar Udara dalam rangka memberikan perkembangan perekonomian Negara. Pada tahun ini juga diadakan renovasi gedung terminal dalam negeri, diantaranya adalah pemindahan ruangan keberangkatan menjadi ruang kedatangan dan sebaliknya

12

serta perluasan ruangan Check-In dari Lobby untuk pengantar. Tahun 1994, berdasarkan surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.S33/MK.016/1994 tanggal 22 Januari 1994, PT (Persero) Angkasa Pura I menyerahkan pengoperasian dan pemilikan Bandar Udara Polonia Medan kepada PT (Persero) Angkasa Pura II terhitung mulai 1 Januari 1994. Penyerahan tersebut meliputi: a. Pengusahaan Bandar Udara Polonia sesuai dengan tugas dan fungsi Bandar Udara dalam lingkungan perseroan terbatas. b. Pemilikan seluruh kekayaan PT (Persero) Angkasa Pura-I yang berupa aktiva tetap dan barang persediaan Bandar Udara Polonia Medan. c. Pembinaan para karyawan yang ditugaskan pada Bandar Udara Polonia Medan. d. Semua utang piutang dan pendaftaran yang diperoleh serta biaya yang dikeluarkan untuk pengoperasian Bandar Udara Polonia Medan, setelah tanggal 31 Desember 1993 menjadi tanggung jawab PT (Persero) Angkasa Pura-II. Pelaksanaan serah terima tersebut adalah pada tanggal 24 Maret 1994 di Jakarta. Dengan demikian terhitung mulai tanggal 1 Januari 1994, secara resmi Bandar Udara Polonia Medan di bawah jajaran PT (Persero) Angkasa Pura-II. Berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan No.553/mk/1994 tanggal 24 Januari 1994, PT (Persero) Angkasa Pura II mendapat tambahan tugas untuk mengelola Bandar Udara Polonia dan dilanjutkan lagi berdasarkan keputusan Menteri Perhubungan No.278/AU.001/SKJ/1994 dibentuk empat cabang bandar udara diantaranya di Bandung, Pekan Baru, Padang, dan Banda Aceh. Bandar Udara yang masuk dalam jajaran PT (Persero) Angkasa Pura II menjadi 12 Bandar Udara yaitu: a. Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di tangerang b. Bandar Udara Halim Perdana Kusuma di Jakarta c. Bandar Udara Sultan Mahmud Bandaruddin II di Palembang d. Bandar Udara Polonia Medan e. Bandar Udara Sultan Iskandar Muda di Banda Acah

13

f. Bandar Udara Supario Pontianak g, Bandar Udara Sultan Syarif Kasim di Pekan Baru h. Bandar Udara Internasional Padang i. Bandar Udara Depati Amir di pangkal pinang j. Bandar Udara Sultan Thaha di jambi. k. Bandar Udar Husein Sastranegara di Bandung l. Bandar Udara Raja Haji Fisabillah di Pinang Berdasarkan PP No.21 tahun 1965 tanggal 17 Mei 1965, diadakan perubahan nama perusahaan Negara Angkasa Pura dengan nama kantor pusat di Jakarta. Selanjutnya berdasarkan PP No.37 tahun 1974, ditetapkan perubahan bentuk perusahaan dari perusahaan Negara memjadi perusahaan umum Angkasa Pura. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan sistem pelayanan angkutan udara. Berdasarkan PP No.30 tahun 1984 dan PP No.14 tahun 1992 tentang perubahan bentuk perusahaan umum menjadi perusahaan perseroan (persero) dengan nama PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan dialihkan pengelolaannya dari Direktorat Perhubungan Udara ke dalam perusahaan Umum Angkasa Pura II (PAP), bersamaan dengan beroperasinya Bandar Udara Soekarno-Hatta Cengkareng sesuai dengan PP No.20 tahun 1984 yang mengalami perkembangan sangat pesat hingga saat ini. Berdasarkan PP No.26 tahun 1986 nama Perum Pelabuhan Udara Internasional Cengkareng diubah menjadi Perum Angkasa Pura II. Pada awalnya Bandar Udara Polonia Medan dibangun tahun 1982 oleh Baron Mischalsky, seorang bangsa Polandia yang mendapat konsesi dari pemerintah Hindia Belanda untuk membuka perkebunan tembakau di Sumatera Timur di daerah Medan. Kemudian beliau menamakan daerah konsesinya dengan nama Polandia. Tahun 1936 Bandar Udara Polonia untuk pertama kalinya mengadakan perbaikan dengan landasan pacu sepanjang 600 meter terletak pada 10-18 (100 derajat LU-200 derajat LS). Pada tahun 1948, sesudah masa kemerdekaan Negara Republik Indonesia, kembali dibeli oleh Pemerintah Hindia Belanda setelah dikuasai oleh sekutu dari

14

tahun 1946 dan landasan pacu diperpanjang menjadi 1000 meter. Pada tahun 1949, Pemerintah Hindia Belanda kembali memperpanjang landasan pacu menjadi 1200 meter. Pada tahun 1950, Bandar Udara Polonia dikelola oleh TNI AU dan Landasan Pacu kembali diperpanjang 1800 meter dengan lebar 45 meter. Bandar Udara Polonia terletak kira-kira 1 km dari pusat kota Medan. Pada periode 1959 hingga tahun 1982, pengelola Bandar Udara Polonia dilaksanakan oleh dua instansi, yaitu TNI-AU dan Jawatan Penerbangan Sipil. Tahun 1982 sampai sekarang, pengelolaan Bandar Udara Polonia dibagi menjadi dua daerah kegiatan militer dan penerbangan sipil dengan batas penguasaan dan pengelolaan adalah Landasan Pacu (Run Way). Kantor cabang PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan mempunyai kegiatan di bidang jasa pelayanan operasi lalu lintas udara dan jasa Bandar Udara, pemeliharaan fasilitas Bandar Udara serta kegiatan atau tugas-tugas lain sesuai dengan kebijaksanaan yang digariskan direksi. Kantor cabang PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar udara Polonia Medan bertugas menyiapkan, melaksanakan dan mengendalikan kegiatan pelayanan operasi keselamatan lalu lintas udara, memelihara fasilitas teknik peralatan, operasional Bandar Udara dan Komersial, memelihara teknik elektronika dan listrik serta penyiapan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan administrasi dan keuangan. 2.2. Ruang Lingkup Kegiatan Perusahaan PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa, khususnya bergerak dalam bidang jasa penerbangan. Jenis-jenis penerbangan yang disediakan PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan antara lain jasa yang langsung menunjang kegiatan penerbangan dan jasa yang tidak langsung menunjang kegiatan penerbangan. Jasa-jasa yang langsung menunjang kegiatan penerbangan antara lain: 1. 2. Jasa Penerbangan dan Pendaratan Domestik Jasa Penerbangan dan Pendaratan Internasional

15

Sedangkan jasa yang tidak langsung menunjang kegiatan penerbangan antara lain: 1. 2. Jasa Penyediaan Lantai Kunjungan (Waving Gallery) Jasa Penyediaan Ruangan yang dapat digunakan oleh para pengusaha yang ingin membuka usaha disekitar bandara. 3. 4. 5. 6. Cargo Jasa Pelayanan Bandara Jasa Pengamanan di sekitar lingkungan bandara Jasa Pengngkutan Barang (Portal)

Jadi ruang lingkup kerja perusahaan keseluruhannya bergerak di bidang jasa. Karena PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan adalah perusahaan jasa penerbangan, maka PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan menaungi beberapa perusahaan local dan internasional. Untuk perusahaan penerbangan local yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Adam Air Indonesia Air Asia Batavia Air Garuda Indonesia Jatayu Airlines Kartika Airlines Lion Air Merpati Airlines Mandala Airlines

10. Riau Airlines Untuk perusahaan penerbangan interlokal antara lain: 1. 2. 3. 4. Air Asia Malaysia Airlines Pelangi Airways Silkair

16

2.3. Keunggulan Perusahaan Pada umumya keunggulan suatu perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan tersebut mewujudkan visi dan misinya. Apabila perusahaan tersebut telah mampu mewujudkan visi dan misinya serta memberikan kepuasan terhadap pelanggan maka perusahaan tersebut dapat dikatakan perusahaan yang cukup diminati dan perusahaan yang cukup unggul. Begitu juga dengan PT Angkasa Pura II (Persero) sebagai perusahaan jasa yang bergerak dalam bidang jasa penerbangan mempunyai keunggulan tersebut yaitu mampu untuk menjadikan dirinya adalah perusahaan penerbangan yang maju dan berkualitas serta mampu mewujudkan visi dan misinya. 2.4. Struktur Organisasi PT (Persero) Angkasa Pura II Struktur organisasi perusahaan merupakan salah satu faktor yang turut mendukung suatu perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam suatu struktur organisasi terdapat kerangka kerja yang menggambarkan wewenang, tanggung jawab dan hubungan tiap bagian yang ada di dalamnya. Dari struktur organisai terlihat jenjang wewenang dan tanggung jawab atasan hingga bawahan dalam melaksanakan kegiatan operasi. Di dalam kantor cabang PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan, struktur organisasi sesuai dengan keputusan direksi PT (Persero) Angkasa Pura II yang masih memberlakukan struktur organisasi PT AP II No.KEP.58/OM.00/API/1994, yang diubah lagi menjadi KEP.471/OM.00/1994 tanggal 4 September 1998 tentang pemberlakuan organisai, peraturan sistem dan prosedur pada kantor cabang PT (Persero) Angkasa Pura II cabang Medan yang terdiri dari: General Manager

17

General Manager mempunyai tugas menyelenggarakan usaha jasa kebandarudaraan dan jasa keselamatan penerbangan dalam arti seluas-luasnya dan usaha lain yang mempunyai hubungan dengan usaha jasa kebandarudaraaan di Bandar Udara yang bersangkutan sesuai dengan pedoman dan kebijakan yang digariskan direksi. Untuk melaksanakan tugas tersebut, kantor cabang mempunyai fungsi: a. Penyediaan, pengelolaan, pengusahaan dan pelayanan jasa kebandarudaraan dan jasa keselamatan penerbangan. b. Penyediaan, pengelolaan dan pengusahaan bidang usaha lain yang mempunyai hubungan dengan usaha jasa kebandarudaraan. c. Penyiapan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan komersial. d. Penyiapan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan pemilihan fasilitas teknik elektronika dan listrik. e. Penyiapan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan administrasi. f. Penyiapan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan keuangan dan perlengkapan. Manager Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara Manager Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara mempunyai tugas: a. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pelayanan aedrome dan approach control/terminal control area. b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pelayanan area control c. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pelayanan bantuan operasi penerbangan / penerangan aeronautika. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Manager Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara mempunyai fungsi: a. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan aerodome dan approach control / terminal control area. b. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pelayanan area control

18

c. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan bantuan operasi penerbangan / penerbangan aeronautika. Divisi Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara terdiri dari: 1. Dinas Pelayanan Aerodome dan Approach Control / Terminal Control Area (ADC APP.TMA) yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengendalian dan pengawasan operasi lalu lintas udara Terminal Control Area di wilayah udara pendekatan termasuk Control Zone. 2. Dinas Pelayanan Area Control (ACC) yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pelayanan pengendalian dan pengawasan operasi keselamatan lalu lintas udara yang menjadi tanggung jawabnya.

3. Dinas Pelayanan Bantuan Operasi Penerbangan / penerangan Aeronautika (BOP / RANGTIKA) yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengiriman dan penerimaan berita-berita penerbangan melalui hubungan antar stasiun komunikasi penerbangan serta melakukan kegiatan pengolahan, pengumpulan, penyampaian dan penyebaran informasi aeronautika. Manager Pelayanan Operasi Bandar Udara Manager Pelayanan Operasi Bandar Udara mempunyai tugas: a. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pelayanan tugas. b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran. c. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengamanan Bandar Udara. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Divisi Pelayanan Operasi Bandar Udara mempunyai tugas: a Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pelayanan Bandar Udara. b. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran.

19

c. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pengamanan Bandar Udara. Divisi Pelayanan Operasi Bandar Udara terdiri dari: 1. Dinas Pelayanan Bandar Udara mem,punyai tugas melaksanakan pangaturan pelayanan di sisi udara (airsise), pengaturan pelayanan di terminal dan fasilitasnya, sisi darat penerbangan dan pariwisata untuk pemakai jasa Bandar Udara serta sistem informasi operasional Bandar Udara. 2. Dinas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) mempunyai tugas melaksanakan pemberian pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta penanggulangan keadaan darurat medic di lingkungan kerja Bandar Udara dan sekitarnya. 3. Dinas Pengamanan Bandar Udara mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengamanan di lingkungan kerja Bandar Udara. Manager Teknik Elektronika dan Listrik Manager Teknik Elektronika dan Listrik mempunyai tugas: a. Menyimpan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik elektronika. b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas navigasi udara dan radar. c. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik listrik. d. Membantu pelaksanaan pembangunan fasilitas teknik elektronika dan listrik sesuai pelimpahan kewenangan yang diberikan direksi. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Divisi Teknik Elektronika dan Listrik mempunyai tugas: a. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik elektronika.

20

b. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas navigasi udara dan radar. c. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik listrik. d. Pelaksanaan pembangunan fasilitas teknik elektronika dan listrik sesuai pelimpahan kewenangan yang diberikan direksi Divisi Teknik Elektronika dan Listrik terdiri dari: 1. Dinas Teknik Telekomunikasi dan Elektronika Bandara mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas telekomunikasi penerbangan, elektronika bandar udara dan komputer. 2. Dinas Teknik Navigasi Udara dan radar mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan, dan pelaporan fasilitas navigasi udara dan radar. 3. Dinas Teknik Listrik mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan, dan pelaporan fasilitas listrik. Manager Teknik Umum dan Peralatan Manager Teknik Umum dan Peralatan mempunyai tugas: a. Menyiapkakan pengoperasian, pemeliharaan, dan pelaporan fasilitas bangunan. b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas landasan dan lingkungan bandar udara. c. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik mekanikal dan peralatan. d. Membantu pelaksanaan pembangunan fasilitas teknik umum dan peralatan sesuai pelimpahan kewenangan yang dibeerikan direksi.

Divisi Teknik Umum dan Peralatan terdiri dari:

21

1. Divisi Teknik Bngunan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan, dan pelaporan fasilitas bangunan terminal bangunan operasional dan bangunan umum. 2. Dinas Teknik Landasan dan Tata Lingkungan mempunyai tugas melaksanakan pengoperasian, pemeliharaan, pelaporan fasilitas dan lingkungan bandar udara. 3. Dinas Teknik Mekanikal dan Peralatan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan, dan pelaporan fasilitas mekanikal dan peralatan. Manager Administrasi dan Komersial Manager Administrasi dan Komersial mempunyai tugas: a. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatanj pengelolaan usaha komersial. b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengelolaan keuangan. c. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan administrasi kepegawaian, ketatausahaan dan umum. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Divisi Administrasi dan komersial mempunyai tugas: a. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pengelolaan usaha komersial b. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan administrasi keuangan c. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan akuntansi d. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan pengelolaan administrasi perlengkapan e. Menyiapkan dan Melaksanakan kegiatan administrasi kepegawaian, ketatausahaan dan umum. Divisi Administrasi dan Keuangan terdiri dari: 1. Dinas Komersial mempunyai tugas menyiapkan pengembangan dan

melaksanakan kegiatan komersial yang meliputi pengumpulan data produksi, perhitungan, dan pembuatan surat tagihan untuk jaa-jasa aeronautika dan nonaeronautika maupun usaha-usaha lain yang mempunyai hubungan dengan usaha jasa kebandarudaraan.

22

2. Dinas Keuangan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan administrasi keuangan dan anggaran. 3. Dinas Akuntansi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan akuntansi 4. Dinas Perlengkapan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengadaan, pergudangan, dan administrasi perlengkapan. 5. Dinas Kepegawaian dan Umum mempunyai tugas melaksanakan kegiatan administrasi kepegawaian, kesejahteraan, dan pelayanan kesehatan pegawai, kegiatan ketatausahaan, kerumahtanggaan, penyelenggaraan informatika

manajerial dan pengolahan data pelaporan serta penyiapan ikatan kerja.