Anda di halaman 1dari 2

INILAH.COM, Jakarta - Indonesia belum perlu memiliki Undang-Undang yang secara khusus mengatur tentang keberadaan mal.

Menurut M. Sjohirin, Ketua Dewan Pembina Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), untuk mengatur eksistensi mal cukup saja dengan peraturan daerah. "Kita belum perlu UU khusus untuk mengatur keberadaan mal di seluruh Indonesia. Cukup saja dengan Peraturan Daerah," ujarnya dalam seminar tentang 'Shopping Center Management' yang diselenggarakan oleh GMT Institute di Jakarta akhir pekan lalu. GMT Institute adalah lembaga yang secara khusus memberikan pelatihan Pendidikan Manager Property di Indonesia. Menurutnya, di luar negeri memang telah ada Undang-Undang yang secara khusus mengatur tentang keberadaan mal. Namun bagi Indonesia belum perlu. Hal senada disampaikan Direktur Retail One Indonesia, Rudi Hartono. Menurut Rudi, Indonesia sudah terlalu banyak Undang-Undang. Biarkan mall tidak usah diatur dengan Undang-Undang oleh DPR. Cukup diatur oleh peraturan daerah, papar Rudi. Jakarta dan kota-kota besar lainnya hanya membutuhkan penataan kota yang lebih baik berdasarkan master plan yang ada. Persoalan seperti Jakarta adalah master plan kota tidak jelas sehingga menimbulkan banyak masalah seperti kemacetan dan banjir yang terus membayangi masyarakat Jakarta, jelasnya. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Andreas Kartawinata menjelaskan shopping center dan dunia ritel Indonesia saat ini memang memiliki dinamika yang sangat tinggi. Untuk mengantisipasi perubahan yang demikian cepat sebaiknya pengaturan mal cukup dengan peraturan di bawah Undang-Undang. "Saya kira sebaiknya cukup dengan kepres atau kepmen untuk menata mal. Karena mal memiliki dinamika yang sangat tinggi. Kalau dalam bentuk UU akan sulit melakukan adaptasi, tukasanya. Namun, pengamat properti, Widiyanti yang juga dosen Institute Teknologi Bandung (ITB) tidak sepaham. Menurutnya, Indonesia seharusnya sudah memiliki UndangUndang khusus tentang mal. Harusnya diperlukan agar kompetisi antara mal lebih sehat dan keberadaan mal tidak membebani infrastruktur kota. Mal lebih sering membuat macet ujarnya. Ia menjelaskan persaingan bisnis di sektor ini sudah harus diatur sehingga tidak saling memangsa. Di Bandung munculnya mal baru membuat mal lama tidak dikunjungi oleh konsumen dan akhirnya bangkrut. Pemerintah harus mengatur supaya ada persaingan sehat antar mal dan saling tidak saling membunuh, tegasnya. Pendapat serupa dilontarkan Direktur GMT Institute, Frumens Da Gomez. Menurut Frumens, pemerintah dan DPR seharusnya proaktif atas kehadiran dan perkembangan pusat-pusat perbelanjaan di Tanah Air. Pemerintah dan DPR jangan terlalu membiarkan kondisi ini terus berlanjut. Usaha kecil dan masyarakat kelas bawah akan menjadi korban dari ekspansi tak terkontrol dari para pemilik modal besar, ujar Frumens. Widiyanti menyayangkan banyaknya mal dan minimarket yang berkembang hingga

ke daerah-daerah. Menurutnya kondisi seperti ini membunuh banyak pengusaha kecil yang hanya sekadar ingin bertahan hidup dari kondisi ekonomi saat ini. Kehadiran minimarket telah mematikan banyak pasar tradisional dan usaha-usaha retail kecil di berbagai wilayah. Ini sangat tidak sehat. Pemerintah harus segera tanggap akan hal ini, paparnya sambil menjelaskan ekspansi besar-besaran pusat perbelanjaan modern dalam lima tahun terakhir ini. Namun menurut Andreas, pusat perbelanjaan telah memiliki aturan main yang jelas yang diatur dalam peraturan pemerintah. Dalam peraturan itu jelas diatur soal kerjasama antara usaha kecil dengan pemilik mal, ujarnya sambil menjelaskan beberapa mal yang sukses melakukan kerjasama ini. Mal tidak ada masalah. Yang penting ada sinergi, tambahnya. Ia memberikan contoh mal Grand Indonesia yang menyiapkan alun-alun khusus untuk UKM dalam mengembangkan usaha mereka. Ekspansi mal dan berbagai supermarket maupun minimarket memang mengalami pertumbuhan yang luar biasa pesat. Menurut Yongki Surya Susilo dari AC Nielsen, Minimarket mengalami pertumbuhan paling atraktif dalam periode tersebut dengan pertumbuhan dua kali lipat lebih dari posisi 4.038 buah pada tahun 2003 menjadi 10.607 buah minimarket pada tahun 2008. Pemerintah tidak menunjukkan keberpihakan mereka kepada rakyat kecil. Ini tindakan ekonomi yang sangat tidak fair, ujar Frumens menanggapi isu ekspansi tersebut. [cms] Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Black