Anda di halaman 1dari 6

TEKTONIK JAYAWIJAYA Papua terletak pada 1-9 LS dan 129-141 BT dengan geologi sangat kompleks, melibatkan interaksi antara

lempeng Australia dengan lempeng Pasifik. Ada 3 bagian utama lempengan kerak bumi dan satu lempeng regional yang sangat berpengaruh terhadap Papua, yakni Lempengan IndoAustraliaPapua yang bergerak relatif ke timur laut dengan kecepatan rata-rata 71 mm / tahun [ Bock,et al,2003 ] dan Lempengan Pasifik yang bergerak relative ke barat daya dengan kecepatan rata-rata 110 mm / tahun [DeMets et al. 1994 dalam Y.Bock,et al,2003], serta lempeng regional Filipina. Secara umum, dari utara ke selatan, geologi Papua dapat dibagi menjadi tiga propinsi geologi luas: Kontinental, Kelautan dan Transisi. Setiap propinsi geologi memiliki karakteristik sendiri dalam sejarah stratigrafi, magmatik dan tektonik. 1. Propinsi Kontinental terdiri dari sedimen sebagai bagian dari Kraton Australia. 2. Propinsi Oseanik terdiri dari batuan ofiolit dan volkanik busur kepulauan-kompleks sebagai bagian dari lempeng Pasifik. 3. Propinsi transisi adalah zona yang terdiri dari batuan metamorf yang sangat tidak utuh dan regional sebagai produk interaksi antara dua piring. Bagian tengah Papua dapat dibagi menjadi empat provinsi lithotectonic: 1. Tanjung New Guinea / Tanjung Cekungan (Arafura Platform) 2. Pusat Range Lipatan dan sabuk dorong 3. Sabuk metamorfosa Ruffaer dan sabuk ofiolit 4. Gugus Kepulauan Melanesia yang bertabrakan dengan Busur Pantai Utara Papua terbentuk depresi Meervlakte serta cekungan pantai utara dan Sabuk Dorongan Mamberamo. Bagian Tengah Papua merupakan sabuk orogenic yang membentang 1300 km dari Papua ke semenanjung Papua. Sabuk lebar 150 km, memiliki topografi terjal dan sejumlah puncak dengan ketinggian lebih dari 3000 m. Zona ini juga terdapat sabuk pelipatan yang lebar dan sabuk dorong selatan yang sebagian besar pada masa Paleozoikum untuk batuan Tersier dari benua Australia. (Hobson, 1986) Rotanburg bagian utara Jayawijaya yang berbatasan dengan kabupaten Jayapura merupakan kawasan pertemuan antara lempeng Australia di selatan dengan lempeng Pasifik di utara dikenal sebagai Jalur Bergerak Nugini ( Dow, 1977 ). Lempeng samudra terobduksi keselatan diatas lempeng benua pada Kala Oligosen ( Dow. dkk , 1988 ). Sehingga batuan di daerah ini terdeformasi sangat kuat. Sehingga batuan mantel bagian bawah terangkat ke permukaan. Proses subduksi di utara Papua ( Wiryosujono dan Tjokrosapoetro, 1976 ) sejak Kala Miosen Tengah sampai Miosen Akhir. Menghasilkan batuan beku ektrusi dan intrusi Kalk-Alkalin berkelium tinggi, dan kejadian ini membawa mineral tembaga dan emas di pegunungan tengah (Suparman dan Budijono, 1989)

Struktur Geologi di bagian Rotanburg akibat proses Obduksi dan Subduksi pada Kala waktu geologi berbeda menjadikan bagian utara Jayawijaya hingga keselatan memiliki 3 struktur pelipatan dengan arah timur barat yang di batasi oleh sesar naik yang mengarah ke utara yang diantaranya : a. Sabuk lipatan sedimen terdeformasi diselatan, b. Sabuk batuan malihan bersusun sekis hijau, sabak dan filit di tengah dan c. Sabuk ofiolit ( kerak samudra ) di utara. Sabuk lipatan yang tersusun oleh batuan sedimen benua Australia yang telah terdeformasi ulang pada Kala Miosen Akhir hingga sekarang. Struktur yang umum didominasi oleh pelipatan (folding), sesar geser ( transform fault ) dan sesar naik ( thrust fault ), terdapat lebih banyak antiklin dari pada sinklin dengan arah sumbu timur barat yang umumnya tak simetris. Sesar geser berarah mendekati utara- selatan membentang 13 km terhadap beberapa struktur geologi sebelumnya seperti pelipatan, sesar normal dan sesar naik yang berarah timur- barat.

UNSUR PEMBENTUK GEOLOGI KABUPATEN JAYAWIJAYA ALUVIUM ( Qa ) Aluvium berupa kerakal, kerikil, pasir, lumpur, gambut, lempung dan lanau BATUAN MALIHAN DEREWO ( Td ) Batuan yang terdiri dari Batusabak, dan filit, dengan sisipan, arenit malih kuarsa; batuan gunungapi malih basa sampai menengah, konglomerat malih. BATUAN TEROBOSAN TIMEPA ( Tmpt ) Kelompok ini terdiri dari dorit, granodiorit dan andesit BATUAN ULTRAMAFIK ( Mu ) Batuan Ultramafik ini berupa Serpentinit hitam dan hijau, piorksenit, terserpentinitkan, peridotit, diselingi sedikit dunit, dan sangat tergeruskan GROUP KEMBELANGAN ( JKk ) Grup Kembelangan dari Kepala Burung untuk Platform Arafura dan merupakan unit regional yang luas disimpan di passive margin utara benua Australia selama waktu Mesozoikum (Visser dan Hermes, 1962; Dow et al, 1988.). Pigram dan Panggabean (1983) dibagi Grup Kembelangan menjadi empat formasi, Formasi Kopai, yang Sandstone Woniwogi, yang batulumpur Piniya dan Sandstone Ekmai. Di daerah Kepala Burung, Grup Kembelangan tidak dapat dibagi menjadi empat formasi. Bagian atas dari kelompok ini dikenal sebagai Formasi Jass (Dow et al, 1988). Pembentukan Jass terdiri dari batupasir kuarsa dan batulempung gampingan. Grup Kembelangan terdiri dari batulanau karbonan interlayer dan batulempung di bagian bawah, dan batupasir

kuarsa halus glauconitic dan serpih kecil di bagian atas. Kelompok ini diendapkan sebagai urutan passive margin selaras atasnya urutan keretakan Trias Formasi Tipuma (Dow et al, 1988; Parris, 1994.). Kontak dengan atasnya Waripi Pembentukan Kelompok Batugamping New Guinea tampaknya serupa. ANDESIT ( TpAn ) Berupa andesit HANCURAN TANAH LONGSOR ( Qs ) Hancuran ini terendapkan bercampur kepingan batugamping dan batupasir ALLUVIUM TERBIKU ( Qt ) Alluvium Terbiku merupakan bongkah kerikil dan batupasir kasar yang terbawa oleh aliran hidrologi. KELOMPOK PANIYAI ( KTmp ) Kelompok paniai terdiri dari,biomkrit ganggang-foraminifera berlapis baik sampai pejal BATUPASIR EMKAI ( Kue ) Batupasir Kuarsa dan batulanau pejal sampai berlapis tebal, batupasir kuarsa glokonitan, batupasir dan batulanau berkarbonan, batulumpur, serpih; di timur agak termalihkan FORMASI WARIPI ( KTew ) Formasi Waripi, yang terdiri dari dolostone fossil, batu pasir kuarsa dan batu gamping kecil. Formasi Waripi diendapkan dalam lingkungan laut dangkal, energi tinggi. Formasi ini memiliki kontak bergradasi dengan Batugamping Yawee (NGLG dibedakan dalam) dan Kapur Akhir Ekmai Batupasir (Pieters et al, 1983). ENDAPAN GLASIAL ( Og ) Endapan Glasial merupakan hasil proseh mencairnya salju di pegunungan yang mengalir turun ke bawah bersama sedimentasi di jalur yang dilewati mengandung: konglomerat, batupasir dan lempung kelabu. Konglomerat beraneka denga massa dasar lempung kelabu, batupasir, kelabu kecoklatan, terpilah buruk, berbutir halus hingga kasar dan dapat diremas ENDAPAN DANAU ( Q1 ) Sedimentasi di danau yang berupa Lempung dan lanau terdapt di Habema sekitarnya BATULUMPUR PINIYAI ( Kp ) Formasi batulumpur Paniyai terdiri dari batulumpur mikaan, Batulumpur glokonitan , batu pasir dan batulanau lumpuran glokonitan serpih; di Timur agak termalihkan

BATUGAMPING YAWEE ( Temy ) Batugamping Yawee ini terdiri dari Kalkarenit, biokalkarenit, mikrit,biomikrit, kalsirudit; sedikit batukapur, kalkarenit oolit, kakalrenit pasiran berlapis baik, mengandung foraminifrera, briozoa dan ganggang. Satuan ini merupakan endapan paparan berumur eosen- miosen FORMASI TUABA ( Ot ) Formasi Tuaba tersusun oleh batupasir kuarsa berlapis sedang dengan sisipan konglomerat dan batuserpih yang diperkirakan berumur Awal Paleozoikum atau preKarnbrium. Selanjutnya di atas Formasi Tuaba dijumpai Formasi Modio. FORMASI TIPUMA ( RJt ) Formasi Tipuma tersebar luas di Irian Jaya, membentang dari barat laut Kepala Burung di sebelah timur dekat perbatasan. Visser dan Hermes (1962) adalah yang pertama yang secara resmi memberi nama Tipuma Formasi untuk unit batuan yang berasal dari Kembelangan baik di daerah leher Burung. Formasi Tipuma ini ditandai dengan warna merah khas dengan bintikbintik hijau kecil cahaya. Formasi Tipuma diendapkan di lingkungan fluvial selama periode rifting kontinental (Pigram dan Panggabean, 1983). Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa ketebalan formasi perubahan cepat sepanjang jurus (Quarles van Ufford, 1994). Bukti ini ditafsirkan mewakili Horst dan topografi pengendapan graben yang dihasilkan dari ekstensi aktif. Umur Formasi Tipuma dibatasi oleh posisi stratigrafi, yaitu, Trias sampai Jura Awal. Pigram dan Panggabean (1983) pada Lembar Peta Waghete menyarankan bahwa kontak antara Formasi Tipuma dan atasnya Kembelangan Grup unconformable (pasca-perpisahan ketidak-selarasan). GROUP BATU GAMPING NEW GUINEA ( KTmn ) Selama waktu Kenozoikum, kira-kira pada batas Kapur dan Kenozoikum, pulau New Guinea ini ditandai dengan pengendapan karbonat dikenal sebagai Kelompok Batugamping New Guinea dengan Grup Kembelangan sebagai awalnya didefinisikan oleh Visser dan Hermes (1962). Di Irian Jaya Tengah, The New Guinea Limestone Group pada umumnya dibagi menjadi empat formasi. FORMASI AIDUNA ( Pa ) Formasi Aiduna dicirikan oleh batuan silisiklastik berlapis baik dengan sisipan batubara dan ditafsirkan sebagai endapan fluvial sampai lingkungan delta, dan secara stratigrafi formasi ini ditindih secara selaras oleh Formasi Tipuma. Umur formasi ini ditentukan berdasarkan kandungan fosil brachiopoda yaitu masa Permian. FORMASI MODIO ( Dm ) Formasi Modio yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian bawah Anggota A yang didominasi oleh batuan karbonat yaitu stromatolitik dolostone yang berlapis baik Sedangkan di bagian atasnya ditempati oleh Anggota B yang terdiri dari batupasir berbutir halus dengan internal

stuktur sperti planar dan silang siur, serta laminasi sejajar. Umur formasi ini ditentukan berdasarkan kandungan koral dan fission track yang menghasilkan Silur-Devon. FORMASI BURU ( Tmpb ) Formasi Buru merupakan Perselingan batupasir, batulumpur karbonan dan batugamping lempungan. Formasi ini dilembar Whegete mengandung foraminifera plangton dan bentos, terendap dilaut dangkal, paralik dan limpah banjir TABEL UNSUR GEOLOGI KABUPATEN JAYAWIJAYA
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Simbol Qa Td Tmpt (dga) Mu JKk TpAn Qs Qt KTmp Kue KTew Qg Q1 Kp Temy Ot RJt KTmn Pa Dm Tmpb Keterangan ALUVIUM BATUAN MALIHAN DEREWO BATUAN TEROBOSAN TIMEPA BATUAN ULTRAMAFIK KELOMPOK KEMBELANGAN ANDESIT HANCURAN TANAH LONGSOR ALLUVIUM TERBIKU KELOMPOK PANIAI BATUPASIR EMKAI FORMASI WARIPI ENDAPAN GLASIAL ENDAPAN DANAU BATULUMPUR PINIYAI BATUGAMPING YAWEE FORMASI TUABA FORMASI TIPUMA KELOMPOK BESAR BATUGAMPING NEW GUINEA FORMASI AIDUNA DOLOMIT MODIO FORMASI BURU