Anda di halaman 1dari 28

Kelompok 2

Hukum Kekekalan Massa


Sebelum kita membahas tentang neraca unsur, kita

perlu mengkaji ulang tentang hukum kekekalan massa, yang berbunyi: Massa dalam alam semesta bersifat konstan Atau dengan kata lain massa tidak dapat diciptakan atau dihilangkan. Seperti yang kita ketahui bahwa Hukum Kekekalan Massa merupakan dasar perhitungan Neraca Massa.

Permasalahan Neraca
Kadang-kadang kita menjumpai masalah yang disertai

dengan reaksi kimia namun reaksi tersebut tidak lengkap. Kita tidak dapat menggunakan neraca komponen dalam menyelesaikan masalah tersebut, malah kita harus menggunakan neraca elemen. Namun kita tidak boleh menganggap bahwa neraca elemen sebagai kunci serbaguna dalam menyelesaikan masalah. Ada saat kita tidak bisa menggunakan neraca elemen malah kita harus menggunakan neraca komponen. Masing-masing memiliki peranannya sendiri.

Matriks Atom dan Persamaan Umum


Sebelum kita mengkaji lanjut neraca elemen kita perlu

mendefinisikan suatu besaran yang dinamakan laju keluaran bersih yang dinotasikan sebagai dirumuskan:
Kita akan mendefinisikan sebuah besaran baru yang

dinotasikan sebagai , yang menunjukkan banyaknya atom e dalam suatu komponen. Sehingga kita dapat menuliskan persamaan umum neraca elemen, yakni:

Matriks Atom dan Persamaan Umum


Dalam menyelesaikan suatu masalah dengan neraca

elemen, kita perlu menyusun matriks atom. Matriks atom adalah matriks yang menyatakan hubungan antara senyawa-senyawa yang terlibat dengan unsur-unsur penyusunnya. Senyawa-senyawa ditulis dalam kolom dan unsur-unsur penyusun ditulis dalam baris.

Matriks Atom dan Persamaan Umum


Perbedaan operasi matriks pada neraca komponen dan

neraca elemen adalah ketika kita menyelesaikan masalah dengan neraca komponen, kita mengoperasikan matriks berdasarkan kolom, sedangkan ketika kita menyelesaikan masalah dengan neraca elemen, kita mengoperasikan matriks berdasarkan baris.

Contoh pengerjaan matriks atom: (diambil dari matriks atom soal pemicu)

Menghasilkan matriks atom yang TTSL, yaitu:

Hubungan Neraca Komponen dan Neraca Elemen


Hubungan antara neraca komponen dan neraca

elemen dapat disimpulkan dalam satu persamaan yaitu:

Dengan : S = Jumlah bahan yang terlibat () = Banyaknya neraca elemen yang TTSL () = Banyaknya neraca komponen yang TTSL

Hubungan Neraca Komponen dan Neraca Elemen


Untuk sistem tanpa reaksi

() = 0 jadi () < S. Ketika () = S Barulah kita dapat menggunakan kedua neraca tanpa ada pengaruh terhadap derajat kebebasan. Namun, apabila dikaji lebih lanjut, untuk sistem tanpa reaksi tidak pernah () > S , jadi lebih bijaksana kita menggunakan neraca komponen dalam menyelesaikan masalah sistem tanpa reaksi.

Hubungan Neraca Komponen dan Neraca Elemen


Untuk sistem dengan reaksi

() < S - () . Ketika () = S - () Barulah kita dapat menggunakan kedua neraca tanpa ada pengaruh terhadap derajat kebebasan. Apabila () < S - (), maka maka kita harus menggunakan neraca komponen dalam menyelesaikan masalah dengan sistem bereaksi.

Aplikasi Bahan Bakar Fosil


Bahan bakar fosil merupakan salah satu bahan yang

paling umum dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghasilkan listrik kita menggunakan bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil merupakan sumber energi yang tak terbaharukan karena dalam memproduksinya secara alami membutuhkan waktu yang sangat lama.

Aplikasi Bahan Bakar Fosil


Hal yang perlu diperhatikan dalam aplikasi bahan

bakar fosil adalah % udara berlebih. Hal ini dapat menyumbangkan ke dalam hubungan pembantu sehingga membantu kita dalam menyelesaikan permasalahan neraca massa. % udara berlebih dirumuskan:

Aplikasi Bahan Bakar Fosil


Udara teoritis adalah kandungan molar udara yang

diperlukan untuk mengoksidasi sempurna bahan bakar fosil. Oksigen teoritis merupakan oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi sempurna bahan bakar fosil. Oleh karena udara dan oksigen untuk pembakaran berasal dari atmosfer, maka digunakan perbandingan N2 dan O2 atmosfer yakni 79% : 21%.

Konversi Neraca Elemen ke Neraca Komponen


Ketika kita dihadapi masalah dengan reaksi kimia

tidak lengkap, kita tidak mungkin mengerjakannya dengan neraca komponen melainkan dengan neraca elemen. Namun neraca elemen bukanlah cara yang efisien dalam menyelesaikan masalah. Tadi sudah dijelaskan bahwa ada saat dimana kedua neraca dapat digunakan. Jadi, alangkah lebih baik jika masalah tersebut dapat diselesaikan dengan neraca komponen karena dapat menghindari kesulitan dalam neraca elemen.

Konversi Neraca Elemen ke Neraca Komponen


Akan tetapi timbul pertanyaan baru, ketika kita

menggunakan neraca komponen kita membutuhkan pasangan reaksi yang lengkap. Kita tidak mungkin menggunakan reaksi yang tidak lengkap itu dalam persamaan neraca. Reaksi-reaksi yang kita butuhkan dapat kita cari dengan menggunakan neraca elemen atau lebih tepatnya matriks atom.

Konversi Neraca Elemen ke Neraca Komponen


Dalam menyusun persamaan reaksi dengan matriks

atom, kita terlebih dahulu mereduksinya menjadi TTSL, yaitu dengan rincian matriks:
Dengan I adalah matriks identitas persegi dan C

adalah matriks sisa hasil reduksi matriks. Dan baris 0 menunjukkan baris yang habis tereduksi akibat reduksi matriks (bila ada).

Konversi Neraca Elemen ke Neraca Komponen


Setelah itu, kita buat matriks baru dengan rincian:
Matriks yang diperoleh dapat digunakan sebagai

reaksi kimia dalam neraca komponen. Perlu diperhatikan bahwa urutan senyawa pada baris matriks atom menjadi urutan senyawa pada kolom matriks reaksi. Reaksi yang didapat bersifat TTSL, namun bukanlah satu-satunya. Reaksi yang didapat mungkin berbeda jika urutan senyawa dipertukarkan.

Misalnya, kita membuat pasangan reaksi stoikiometri dari matriks tadi maka:

Indeks: 1 = HD3A4B 2 = AD 3 = A2B 4 = A3 D 3 5 = HD 6 = HAD2

Maka, reaksinya adalah: 3AD -> A3D3 HD3A4B -> 2AD + A2B + HD HD3A4B -> AD + A2B + HAD2

Dalam sebuah proses daur ulang, reaktan HD3A4B di reaksikan dengan AD untuk menghasilkan produk primer A2B dan A3D3 dengan reaksi: HD3A4B + AD A2B + A3D3 + HD Dua reaksi samping juga berlangsung: HD3A4B + 2AD HAD2 + A2B + A3D3 HD + AD HAD2 Yang menghasilkan produk yang tidak diinginkan HAD2. Diinginkan untuk membatasi HAD2 di alur produk A3D3 menjadi 25% dalam persen molar dan HD dmenjadi 12,5%. Alur keluar reaktor mengandung 20% A3D3 dalam persen molar, dan AD dimasukkan dengan laju 750 mol/jam. a. Tentukan apakah masalah akan diselesaikan dengan neraca bahan atau elemen. b. Buatlah tabel derajat kebebasan, dengan asumsi neraca unsur dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah. c. Selesaikan dengan neraca elemen. d. Selesaikan dengan neraca bahan. e. Bandingkan hasil C dan D, jelaskan

Kita tentukan dahulu neraca elemen yang TTSL. Susun matriks atom:
HD3A4B AD A2B A3D3 HD HAD2 H D A B

Berarti, () = 3

Kita tentukan neraca komponen yang TTSL. Susun matriks reaksi:


HD3A4B AD A2B A3D3 HD HAD2

A2B +A3D3 +2HD -> HD3A4B + HAD2 HAD2 -> AD + HD

Berarti, () = 2

Jika dihitung: () = 3 () = 2 () < S - () 2 < 6 -3 2<3 Berarti, neraca bahan yang harus digunakan

Sekarang kita susun derajat kebebasan untuk neraca elemen: Derajat Kebebasan Neraca Unsur Mixer Reaktor Separator Proses Keseluruhan Banyaknya Variabel 3 7 10 13 6 Neraca TTSL 4 3 4 11 4 Spesifikasi Komposisi 0 1 3 3 2 Laju Alir 0 1 0 1 1 Hubungan Pembantu Derajat Kebebasan 0 -1 1 1 0 3 1 -3 1 -2

Reaktor merupakan derajat kebebasan terkecil positif. Berarti kita mulai dari reaktor (Basis tidak bisa digunakan dan DK masih positif berarti masalah mungkin tidak dapat diselesaikan).

Kita selesaikan dengan neraca elemen:

Indeks: 1 = HD3A4B 2 = AD 3 = A2B 4 = A3D3 5 = HD 6 = HAD2 1(N41-N21) + N45 + N46 = 0 3(N41-N21) + (-750) + 3(0,2N4) + N45 + 2N46 =0 4(N41-N21) + (-750) + 2N43 + 3(0,2N4) +N46 =0 N41-N21+N45+N46 =0 N41+N45+N46 = N21 -750+3(0,2N4)-2N45-N46=0 0,6N4-2N45-N46=750 N43 N45-N46=0 N43 N45-N46=0

N41 - N21 +N45+N46 = 0 0,6N4-2N45-N46=750 N43 N45-N46=0

Disusun matriks SPL: N4 N41 N21 N45 N46

RH S

Terlihat bahwa lebih banyak yang tidak diketahui dengan jumlah persamaan yang ada berarti matriks di atas tidak dapat diselesaikan. Jika digunakan neraca bahan, maka reaksi TTSL yang telah disederhanakan adalah: A2B +A3D3 +2HD -> HD3A4B + HAD2 HAD2 -> AD + HD

Sehingga, fraksi HD3A4B adalah 40% dan fraksi A2B = HAD2 = A3D3 = 20%

Sekarang timbullah kontradiksi antara alur keluaran reaktor dan alur keluaran separator. Tidak ada HD Reaktor Ada HAD2 20% Separator Ada HAD2 25% 12,5% HD pada alur 6

Jika dikaji neraca HD maka laju keluaran separator (alur 6) haruslah sama dengan nol. Akan tetapi ada senyawa lain misalnya HAD2 pada input separator. Hal ini akan menyebabkan kontradiksi. Jika kita tinjau tabel derajat kebebasan neraca bahan akan diketahui bahwa derajat kebebasan proses adalah negatif.
Derajat Kebebasan Neraca Unsur Mixer Reaktor Separator Proses Keseluruhan Banyaknya Variabel 3 7+2 10 13+2 6+2 Neraca TTSL 1 6 5 12 6 Spesifikasi Komposisi 0 1 3 3 2 Laju Alir 0 1 0 1 1 Hubungan Pembantu Derajat Kebebasan 0 2 1 0 0 2 1 -2 1 -2

Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada waktu untuk menggunakan neraca elemen dan neraca bahan. Pada kasus ini, masalah tidak dapat diselesaikan dengan neraca elemen akan tetapi dapat diselesaikan dengan neraca bahan walaupun akan menghasilkan kontradiksi.