Anda di halaman 1dari 11

BKP : Barang Kena Pajak BPS : Bukti Penerimaan Surat BUT : Bentuk Usaha Tetap DirJend : Direktorat Jenderal

DPP : Dasar Pengenaan Pajak DJP : Direktorat Jenderal Pajak JKP : Jasa Kena Pajak Kanwil : Kantor Wilayah KEP : Keputusan KMK : Keputusan Menteri Keuangan KPP : Kantor Pelayanan Pajak KP2KP : Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan NPWP : Nomor Pokok Wajib Pajak NPPKP : Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak OP : Orang Pribadi PER : Peraturan PK : Pajak Keluaran PKP : Pengusaha Kena Pajak PKP : Penghasilan Kena Pajak PM : Pajak Masukan PMK : Peraturan Menteri Keuangan PP : Peraturan Pemerintah PPh : Pajak Penghasilan PPN : Pajak Pertambahan Nilai PPnBM : Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

PTKP : Penghasilan Tidak Kena Pajak P3B : Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda SE : Surat Edaran SKT : Surat Keterangan Terdaftar SKP : Surat ketetapan pajak SKPIB : Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga SKPN : Surat Ketetapan Pajak Nihil SKPKB : Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar SKPKBT : Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan SKPLB : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar SKPPKP : Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak SP : Surat Paksa SPPKP : Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak SPT : Surat Pemberitahuan SSP : Surat Setoran Pajak STP : Surat Tagihan Pajak TPT : Tempat Pelayanan Terpadu WP : Wajib Pajak ZEE : Zona Ekonomi Eklusif NPWP adalah sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai identitas WP dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan (UU KUP Pasal 1) NPPKP adalah nomor yang diberikan kepada Pengusaha yang memenuhi syarat sebagai PKP. Terhadap WP atau Pengusaha Kena Pajak yang tidak memenuhi kewajiban untuk mendaftarkan diri dan melaporkan usahanya maka dapat diterbitkan NPWP dan/atau

Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan. Hal ini dilakukan Direktorat Jenderal Pajak, jika berdasarkan data yang diperoleh WP OP atau Badan atau Pengusaha tersebut telah memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP dan Pengukuhan PKP. {UU Pasal 2 ayat (4) dan (4a)} FUNGSI NPWP DAN NPPKP

Fungsi dari Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah sebagai berikut a. Dipergunakan untuk bisa mengetahui identitas Wajib Pajak yang sebenarnya, sehingga setiap Wajib Pajak hanya diberikan satu NPWP. b. Sarana dalam administrasi perpajakan c. Berguna untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Sedangkan fungsi dari NPPKP(Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena pajak) adalah sebagai berikut 1. Dibergunakan sebagai identitas pengusaha kena pajak yang sebenarnya 2. Berguna untuk admnistrasi pemenuhan Kewajiban Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan barang Mewah. 3. Berguna untuk pengawasan administrasi perpajakan. Yang Wajib Memperoleh NPWP adalah sebagai berikut 1. Setiap wajib pajak pribadi yang mempunyai penghasilan netto dalam satu tahun diatas penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). 2. Wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah berdasarkan perjanjian pemisahan harta yang didasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis 3. Setiap badan usaha termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menjadi subjek pajak walaupun menderita kerugian. 4. Wajib pajak pemotong atau Pemungut Pajak Yang dikecualikan untuk memperoleh NPWP adalah sebagai berikut : 1. Setiap wajib Pajak pribadi yang mempunyai penghasilan netto dalam satu tahun dibawah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 2. Wajib pajak pribadi yang memperoleh penghasilan semata-mata hanya dari satu pemberi kerja dan telah dipotong pajak penghasilan oleh pemberi kerja.

Yang diwajbkan untuk melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak adalah sebagai berikut :

a. Pengusaha yang telah melakukan penyerahan barang kena pajak dan jasa kena pajak lebih dari Rp. 600.000.000,00 setahun (UU Nomor 18 tahun 2000) b. Pengusaha yang melakukan kegiatan impor barang kena pajak (importer) c. Pengusaha yang melakukan kegiatan ekspor barang kena pajak (eksportir).

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/2152094-fungsi-npwp-dannppkp/#ixzz2B4LOcI50

Apakah fungsi SPT? Fungsi SPT (Pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 TAHUN 2007) Bagi Wajib Pajak PPh, SPT berfungsi untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang : Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) tahun pajak atau bagian tahun Pajak; Penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak; Harta dan kewajiban; Penyetoran dari pemotong atau pemungut pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) masa pajak. Mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang : Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan atau melalui pihak lain dalam satu masa pajak. Bagi pemotong atau pemungut pajak, sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya. Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak dan atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.

[sunting] Jenis formulir SPT Ada beberapa formulir dalam pelaporan SPT ini, diantaranya adalah : formulir 1770 formulir 1770S Digunakan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang penghasilan dari pekerjaannya lebih dari satu pemberi kerja, atau penghasilannya lebih dari Rp60.000.000,00 setahun, atau Wajib Pajak tersebut memiliki penghasilan lain. Formulir 1770S ini tidak bisa digunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. formulir 1770 SS formulir SPT Tahunan yang paling sederhana yang ditujukan Wajib Pajak Orang Pribadi yang penghasilannya setahun hanya dari pekerjaan dan jumlahnya tidak lebih dari Rp60.000.000,00 setahun. formulir 1721- A1 dan atau 1721- A2 Formulir keterangan dari pemberi kerja yang menjelaskan pajak dari wajib pajak yang sudah dipotong oleh pemberi Kerja.Formulir ini dilampirkan saat SPT dilaporkan. [sunting] Jenis SPT [sunting] = Ada dua jenis SPT, yaitu : ===== SPT Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak. SPT Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. [sunting] Pengisian & Penyampaian SPT Cara mengisi dan penyampaian SPT adalah : Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPT dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan.

Wajib Pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah, wajib menyampaikan SPT dalam bahasa Indonesia dan mata uang selain Rupiah yang diizinkan. [sunting] Fungsi SPT Funsi SPT adalah : Wajib Pajak PPh Sebagai sarana WP untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang : pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak; penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak; harta dan kewajiban; pemotongan/ pemungutan pajak orang atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak. Pengusaha Kena Pajak Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang : pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh PKP dan atau melalui pihak lain dalam satu masa pajak, yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Pemotong/ Pemungut Pajak Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkan. Apa yang dimaksud dengan Surat Tagihan Pajak (STP)? Pengertian STP ( Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 ) - STP adalah surat yang digunakan untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.

- Surat Tagihan Pajak mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak. - Fungsi STP : 1. Sebagai koreksi atas jumlah pajak yang terutang menurut SPT Wajib Pajak, 2. Sarana untuk mengenakan sanksi berupa bunga atau denda. 3. Sarana untuk menagih pajak. Apa yang menyebabkan dikeluarkannya STP? Sebab Dikeluarkannya STP : (Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007) - Pajak penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar . - Dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung. - Wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga. - Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang PPN tetapi tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. - Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai PKP tetapi membuat faktur pajak atau pengusaha telah dikukuhkan sebagai PKP tetapi tidak membuat Faktur Pajak atau membuat faktur pajak tetapi tidak tepat waktu atau tidak mengisi selengkapnya faktur pajak. SURAT TAGIHAN PAJAK ( Pasal 14 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 1) Sanksi Administrasi apakah yang dikenakan terkait dengan Surat Tagihan Pajak (STP)? Sanksi Administrasi STP : - Sanksi administrasi berupa denda Rp 50.000 ,- jika Wajib Pajak tidak atau terlambat penyampaian SPT Masa dan Rp 100.000,- jika tidak atau terlambat menyampaikan SPT Tahunan. - Sanksi administrasi berupa denda 2% dari Dasar Pengenaan Pajak dalam hal Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang PPN tetapi tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP atau Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai PKP tetapi membuat faktur pajak atau

pengusaha te1ah dikukuhkan sebagai PKP tetapi tidak membuat Faktur Pajak atau membuat faktur pajak tetapi tidak tepat waktu atau tidak mengisi selengkapnya faktur pajak. - Sanksi administrasi berupa bunga dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri SPTnya, dimana hasil pembetulan tersebut menyatakan kurang bayar. - Sanksi administrasi berupa bunga apabila Wajib Pajak terlambat/ tidak membayar pajak yang sudah jatuh tempo pembayarannya. 2) Bagaimana cara penghitungan Sanksi Administrasi atas STP? Contoh Penghitungan Sanksi Administrasi atas STP : Hasil penelitian Surat Pemberitahuan : Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2001 yang disampaikan tanggal 31 Maret 2002 setelah dilakukan penelitian ternyata terdapat salah hitung yang menyebabkan Pajak Penghasilan kurang bayar sebesar Rp 2.000.000,-. Atas kekurangan Pajak Penghasilan tersebut diterbitkan Surat Tagihan Pajak tanggal 14 Juni 2002 dengan penghitungan sebagai berikut: - Kekurangan bayar pajak Penghasilan - Bunga = 3 x 2% x Rp 2.000.000,- Jumlah yang harus dibayar Rp 2.000.000,Rp 120.000,-(-)

Rp 2.120.000,-

Dalam Hal Pajak Dibayar Setelah Tanggal Jatuh Tempo : - Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan tahun 2001 diterbitkan tanggal 18 September 2002 (misalnya jatuh tempo tanggal 17 Oktober 2002) sebagai berikut : - PPh terutang - Kredit pajak - Yang masih harus dibayar Rp 100.000.000,Nihil Rp 100.000.000,-

Wajib Pajak membayar tanggal 30 0ktober 1996 sebesar Rp 100.000.000,-. STP diterbitkan dengan penghitungan bunga sebagai berikut : - Pajak yang terlambat dibayar sebesar Rp 100.000.000,- Bunga 1 bulan = 1x 2% x Rp 100.000.000,- = Rp 2.000.000,-

- PPN yang masih harus dibayar masa April 2001 sebesar Rp 500.000.000,- dibayar tanggal 21 Juni 2001, misalnya jatuh tempo tanggal 15 Mei 2001. Bunga terutang dalam STP dihitung 2 bulan = 2 x 2% x Rp 500.000.000,- = Rp 20.000.000,PPh Pasa1 23 yang terutang bulan Oktober 2001 sebesar Rp 100.000.000,- disetor tanggal 15 Desember 2001, misa1nya jatuh tempo tangga1 10 November 2001. Bunga terutang dalam STP dihitung 2 bu1an = 2 x 2% x Rp 100.000.000,- = Rp 4.000.000,Dalam hal pajak dibayar sebagian tepat waktu dan sebagian setelah tanggal jatuh tempo. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan tahun 1995 diterbitkan tanggal 18 September 2001 (misa1nya jatuh tempo tanggal 17 Oktober 2001) sebagai berikut: - Pajak Penghasilan terutang - Kredit pajak - Yang masih harus dibayar Wajib Pajak Membayar: - Tanggal 15 Oktober 2001 - Tangga1 30 Oktober 2001 Rp 60.000.000,Rp 40.000.000,Rp 100.000.000,Nihil Rp l00.000.000,-

Surat Tagihan Pajak diterbitkan dengan penghitungan bunga sebagai berikut : - Pajak yang terlambat dibayar sebesar - Bunga 1 x 2% x Rp 40.000.000,Rp 40.000.000,Rp 800.000,-

Pengertian Surat Ketetapan Pajak / SKP ( Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 ): - Surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Nihil. - Berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pajak kewenangan mengeluarkan surat ketetapan pajak, dilimpahkan kepada KPP.

- Surat ketetapan pajak timbul berdasarkan hasil pemeriksaan . Fungsi Surat Ketetapan Pajak Surat ketetapan pajak berfungsi sebagai : a.Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang nyata-nyata atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan atau kewajiban materiil dalam memenuhi ketentuan perpajakan. b.Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan. c.Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak. d.Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar e.Sarana untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang. SURAT KETETAPAN PAJAK

Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi surat ketetapan pajak kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan, surat ketetapan pajak nihil, surat ketetapan pajak lebih bayar. 1. Surat ketetapan pajak kurang bayar merupaka surat yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. Dibawah ini merupakan fungsi SKPKB, yaitu : a. b. c. Koreksi atas jumlah yang terutang menurut SPT-nya. Sarana untuk mengenakan sanksi. Alat untuk menagih pajak

2. Surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan merupakan surat yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. Dibawah ini merupakan fungsi SKPKB, yaitu : a. Koreksi atas jumlah yang terutang menurut SPT-nya.

b. c.

Sarana untuk mengenakan sanksi. Alat untuk menagih pajak

3. Surat ketetapan pajak lebih bayar merupakan surat yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak terutang. Fungsi dari SKPLB adalah sebagai alat atau sarana untuk mengembalikan kelebihan pembayaran pajak. 4. Surat ketetapan pajak nihil merupaka surat yang menentukan jumlah pokok pajak yang besarnya sama dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak langsung dan tidak ada kredit pajak. 5. Surat tagihan pajak merupakan surat melakukan tagihan pajak dan sanksi administrasi berupa bungan dan denda. Fungsi STP ialah sebagai berikut : a. b. c. Sebagai koreksi atas jumlah pajak yang terutang menurut SPT wajib pajak. Sarana mengenakan sanksi administrasi berupa bunga atau denda Alat untuk menagih pajak