Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Ayu Alvionita

NIM / Kelas : 100521100046 / B Mata Kuliah : Sosiologi Gender

1. Mengapa isu-isu gender menjadi persoalan penting terutama di Negara kita? Anda berikan penjelasan dan berikan contoh dengan korelasi pembangunan. 2. Apakah menurut saudara isu tersebut menjadi penting? Jelaskan dengan berbagai macam alasan! 3. Apakah menurut islam isu gender itu perlu dipermasalahkan? Dengan berbagai macam alasan! 4. Anda bedakan antara feminis liberal, radiakal, sosialis dan menurut saudara gerakan feminis seperti apakah yang mampu memperjuangkan harkat dan martabat perempuan?

Jawab 1. Karena di Negara kita banyak sekali di jumpai permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan gender, seorang perempuan dianggap tidak bisa menjadi seorang pemimpin, seorang perempuan dianggap sebagai orang yang lemah, dan sebagainya. Dalam fikiran masyarakat telah melekat, bahwa seorang perempuan derajatnnya di bawah laki-laki. Hal ini lah yang menjadikan perempuan enggan untuk bersaing dengan laki-laki, dalam segi manapun. Peningkatan peranan wanita sebagai mitra yang sejajar dengan pria dalam pembangunan berarti meningkatkan tanggung jawab wanita sebagai pribadi yang mandiri dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian bersama pria, wanita bertanggung jawab atas

kesejahteraan dan kebahagian keluarga. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut diperlukan kerja keras disertai peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja wanita sebagai insan pembangunan yang tangguh diberbagai sektor. Sebagai contohnya dalam pembangunan masyarakat Indonesia sedang mengalami perkembangan dari masyarakat yang agraris ke masyarakat industri. Dalam proses tersebut pengintegrasian wanita dalam pembangunan, terutama wanita dari golongan ekonomi lemah, yang berpenghasilan rendah perlu di galakkan, melalui peningkatan kemampuan dan ketrampilan untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi produktif, dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan menciptakan usaha bagi diri sendiri. Hal ini sangat perlu sebab wanita dari golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, umumnya melakukan peran ganda karena tuntutan kebutuhan. 2. Penting, karena itu bisa menjadikan pemicu perempuan untuk lebih baik atau lebih terpengaruh dari isu-isu tersebut sehingga mengakibatkan mereka malu atau minder dengan adanya isu tersebut. Misalnya dalam dunia perpolitikan, dalam struktur pemerintahan, Negara memberikan jabatan di DPR 30% untuk perempuan. Namun, 30% itu tidak terisi semua. Sehingga kekosongan itu akhirnya diisi oleh kaum laki-laki. 3. Tidak perlu Karena kalau kita amati dari kacamata islam, maka sesungguhnya kaum perempuan justru terbebaskan dari belenggu jahiliyah setelah datangnya islam yang di bawa nabi Muhammad SAW. Jadi generilisasi atau penyamarataan semua agama terhadap penerimaan atau perlakuan agama terhadap perempuan yang cenderung diskriminatif adalah tidak benar. Justru islamlah yang pertama kali turut andil membebaskan perempuan dari belenggu jahiliah. Hanya saja persepsi atau pemahaman orang tentang islam

yang belum tuntas dan cenderung memahaminya secara parsial. Dan di dalam agama islam tugas seorang istri adalah sebagai ibu rumah tangga yang melayani suaminya dan mengurus rumah, namun seiring berjalannya waktu hal itu mulai berubah. Tugas seorang istri tidak hanya mengurus rumah, dan melayani suami semata, namun seorang istri juga ikut membantu suami untuk mencari nafkah. Menurut saya, seorang istri tidak ada masalah jika dia ingin bekerja, namun dia juga tidak boleh melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Jangan mentang-mentang dia ikut bekerja sehingga dia tidak mau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. 4. a) Fenimisme Liberal akar dari teori ini adalah bertumpu pada kebebasan dan kesetaraan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Permasalahannya terletak pada produk kebijakan Negara yang bias gender. Oleh karena itu pada abad 18 sering muncul tuntutan agar perempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad ke 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal. b) Feminisme Radikal Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat system patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak repoduksi seksualitas termasuk lesbianism, seksisme, relasi kuasa

perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat publik. Informasi atau pandangan buruk banyak ditujukan kepada feminism radikal.

c) Feminisme Marxis aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri berubah menjadi keperluan pertukaran. Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan social. Sedangkan

perempuan direduksi menjadi bagian dari property. System produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat, kelas borjuis dan kelas proletar. Jika kapitalisme masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus. c) Feminisme Sosialis Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminism marxis. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah mucul sebelum kaitalisme dan tetap akan berunah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminism sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminism marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan,akan tetapi aliran feminisne sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah yang menjadi sumber penindasan. Menurut saya gerakan feminism yang bias memperjuangkan harkat dan martabat perempun adalah gerakan feminism sosialis, karena feminism sosialis sudah mencakup keseluruhan masalah penindasan gender.