Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA BLOK DERMATO-MUSKULOSKELETAL PEMERIKSAAN FOSFAT ANORGANIK (Metode Photometric UV Test)

Kelompok 5 Yefta Kania Kanistia Fiska Praktika Widyawibowo Previasari Zahra P Elena Wandantyas Aulia Tri Puspitasari Widodo Daniel Pramandana Lumunon Imelda Widyasari Situmorang M. Haris Yoga I Dzurratun Naseha G1A011066 G1A011114 G1A011010 G1A011068 G1A011100 G1A011085 G1A011081 G1A011002 G1A011069 G1A011076

Asisten Saddam Husein Saputra (G1A009070)

JURUSAN KEDOKTERAN UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

LEMBAR PENGESAHAN Pemeriksaan Fosfat Anorganik (Metode Photometric UV Test)

Disusun oleh : Yefta Kania Kanistia Fiska Praktika Widyawibowo Previasari Zahra P Elena Wandantyas Aulia Tri Puspitasari Widodo Daniel Pramandana Lumunon Imelda Widyasari Situmorang M. Haris Yoga I Dzurratun Naseha G1A011066 G1A011114 G1A011010 G1A011068 G1A011100 G1A011085 G1A011081 G1A011002 G1A011069 G1A011076

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti Ujian Praktikum Biokimia Kedokteran Blok Dermato Muskulo Skeletal pada Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran Dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Diterima dan disahkan Purwokerto, November 2012 Asisten

Saddam Husein Saputra NIM: G1A009070

BAB I PENDAHULUAN A. Judul Laporan Pemeriksaan Fosfat Anorganik Metode Photometric UV Test B. Tanggal Praktikum Rabu, 14 November 2012 C. Tujuan 1. Mahasiswa akan dapat mengukur kadar fosfat anorganik darah dengan metode Photometric UV Test. 2. Mahasiswa akan dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan fosfat anorganik pada saat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal. 3. Mahasiswa akan dapat melakukan diagnosa dini penyakit apa saja yang berkaitan kadar fosfat anorganik abnormal (patologis) dengan bantuan hasil praktikum yang dilakukan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dasar Teori Mineral merupakan substansi yang penting untuk tubuh sebab mineral berperan dalam berbagai proses tubuh seperti pembentukan tulang, pembuatan hormon, dan regulasi denyut jantung. Ada dua jenis mineral, yaitu: makromineral dan mikromineral/trace mineral. Makromineral merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar. Contohnya seperti kalsium, fosfor, magnesium, sodium/natrium, potassium/kalium, klorida, dan sulfur. Sedangkan mikromineral hanya dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit oleh tubuh. Contohnya seperti besi, mangan, tembaga, yodium, seng, kobalt, fluoride, dan selenium (US NIH, 2012). Salah satu mineral yang berlimpah dalam tubuh ialah fosfor. Fosfor tergolong dalam makromineral yang membangun 1% berat badan seseorang. Fosfor berada di setiap sel-sel tubuh, namun paling banyak terdapat pada tulang dan gigi, yaitu sekitar 85% (Ehrlich, 2011; Evert, 2011). Fosfor merupakan unsur yang sangat reaktif dan tidak ditemukan dalam unsur elemen di alam. Fosfat berada di alam sebagai fosfat yang merupakan kelompok muatan atom atau ion. Fosfat terbuat dari sebuah atom fosfor dengan empat atom oksigen (PO4), dan membawa tiga muatan negatif. Ion fosfat bergabung dengan berbagai atom dan molekul-molekul lain dalam tubuh organisme hidup yang akan membentuk senyawa esensial berbeda-beda yang penting untuk kehidupan (FIPR, 2010). Di dalam tubuh 66% fosfor bersama kalsium berada dalam bentuk kalsium fosfat. Hubungan kalsium dan fosfor dalam tubuh sangat erat satu dengan yang lain, terutama dalam pembentukan kerangka dan pemeliharaan gigi. Secara biologis, hasil kali Ca x P selalu konstan, sehingga peningkatan kadar fosfat di dalam serum akan diikuti dengan penurunan kadar Ca serum. Kandungan fosfor lainnya ada dalam darah dan jaringan-jaringan lunak, dalam bentuk fosfat anorganik dan fosfat organik. Dalam serum, fosfat anorganik

juga terbagi ke dalam 3 fraksi, yaitu ion fosfat, fosfat yang terikat protein dan fosfat dalam bentuk kompleks dengan Na, Ca, dan Mg (Sumardjo, 2009). Fosfor sebagai asam fosfat dan sebagai berbagai jenis fosfat organik memegang peranan penting dalam metabolisme karbohidrat, metabolisme lemak, metabolisme protein, dan metabolisme energi. Fosfat di dalam tubuh merupakan penyusun DNA dan RNA yang penting untuk biosintesis protein, ATP, ADP, AMP, dan beberapa koenzim yang berperan dalam metabolisme bahan makanan, serta komponen fosfolipida membran sel (Sumardjo, 2009). Contoh aplikasi fungsi fosfat antara lain: 1. Mineralisasi, pembentukan dan kekuatan tulang, gigi serta komponen struktural seluler, seperti fosfolipid, nucleoprotein, fosfoprotein (Baker et al, 2002). 2. Untuk transfer dan menyimpan energi sebagai ATP (Baker et al, 2002). Senyawa Adenosine Tri Phosphate (ATP) pada makhluk hidup didapatkan dari makanan dan matahari (pada tanaman hijau), serta dilepaskan saat diperlukan dalam aktivitas seluler. Setelah pengeluaran energi dalam bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi, ATP yang dilepaskan akan menjadi fosfat berenergi rendah yang disebut Adenosine Diphosphate (ADP) atau bahkan Adenosine Monophosphate (AMP). Bentuk-bentuk tersebut akan diisi ulang menjadi ATP atau ADP kembali dengan menambahkan fosfat melalui berbagai proses dalam suatu organisme hidup (FIPR, 2010). 3. Transfer oksigen pada sel darah merah (2,3-DPG) (Baker et al, 2002). 4. Keseimbangan asam basa (sebagai buffer seluler atau urin) (Baker et al, 2002). 5. Memberi bentuk pada Deoxy-ribonucleic Acid (DNA), yang merupakan blue print informasi genetik dalam setiap sel hidup. Sebuah bentuk dasar gula-fosfat struktur heliks dari setiap molekul DNA (FPRI, 2002). Konsentrasi fosfat dalam tubuh tergantung pada asupan makanan, absorpsi usus, filtrasi dan reabsorpsi ginjal, dan pertukaran antara tulang dan intraselular. Asupan makanan yang mengandung fosfor normalnya sekitar 800-1200 mg/hari. Sekitar 70% dari fosfat makanan akan diserap melalui usus

terutama jejunum melalui jalur selular maupun paraselular. Absorpsi fosfat di epitel usus dimediasi oleh sodium-phosphorus co-transporter NaPi-IIb. Peningkatan absorpsi fosfat di usus dipengaruhi oleh jumlah asupan makanan serta 1,25-dihidroksi vitamin D3 (1,25(OH)2 vitamin D3. Setelah itu fosfat masuk ke dalam ruang cairan ekstraselular dan sirkulasi, kemudian melewati berbagai jaringan, termasuk tulang (Naderi, 2010). Meskipun fosfat ditransportasi aktif melewati dinding usus, ginjal yang berperan paling penting dalam pengaturan fosfat tubuh. Pengelolaan fosfat ginjal terdiri dari filtrasi glomerulus dengan reabsorpsi fakultatif di tubulus. Fosfat iltrafiltrasi dapat secara bebas difiltrasi di glomerulus, 90% beban filtrasi ini dalam keadaan normal direabsorpsi, 80% beban filtrasi mengalami reabsorpsi di tubulus proksimalis, sedangkan sisanya terjadi pada segmen yang lebih distal. Laju reabsorpsi fosfor tubulus maksimal (Tm) ada di tubulus proksimal. Di bawah kondisi yang fisiologis, usus dan ginjal ini berfungsi untuk mempertahankan homeostasis fosfor dan konsentrasi Pi (fosfor inorganik) (Behrman, 2000). INGAT, SITASI DARI REFERENSI 8 TAHUN TERAKHIR !!

Gambar 1. Metabolisme fosfat (Sumber: Naderi, 2010)

Hormon

yang

berpengaruh

dalam

metabolisme

fosfat

adalah

parathormon (PTH) dan vitamin D (1,25-dihidroksi-kolekalsiferol/1,25(OH)2D3). Kerja PTH pada tulang adalah membebaskan kalsium ke dalam aliran darah, fosfat dan konstituen juga dimobilisasi. Dalam ginjal, PTH meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di tubulus ginjal, dan menekan reabsorpsi fosfat sehingga terjadi penurunan ekskresi kalsium dan peningkatan pengeluaran fosfat, sedangkan vitamin D, mulanya prekusor-prekusor vitamin D mengalami hidroksilasi di hati dan kemudian diubah oleh ginjal menjadi bentuk dihidroksi. Produk ginjal ini mengalir ke organ-organ sasarannya, usus halus dan tulang. Penyerapan kalsium dan fosfat dari makanan ditingkatkan oleh 1,25-(OH)2D3 yang juga meningkatkan efek PTH dalam mobilisasi kalsium dan fosfor tulang. Kadar fosfat serum yang rendah mendorong pembentukan 1,25-(OH)2D3 oleh ginjal, hipokalsemia merangsang

pembentukan PTH, kemudian meningkatkan sintesis 1,25-(OH)2D3 di ginjal (Sacher, 2004).

BAB III METODE PEMERIKSAAN A. Alat dan Bahan Alat: 1. Spuit 3 cc 2. Tourniquet 3. Tabung Eppendorf 4. Sentrifugator 5. Tabung reaksi 3 ml 6. Rak tabung reaksi 7. Mikropipet (10 l 100 l) 8. Yellow tip 9. Spektrofotometer Bahan: 1. Serum 2. Working reagen

B. Cara Kerja 1. Mengambil darah probandus sebanyak 3 cc menggunakan spuit. 2. Memasukkan darah ke dalam tabung eppendorf, lalu diinkubasi selama 10 menit. 3. Selanjutnya mensentrifugasi darah dengan kecepatan 4000 rpm selama 10 menit. 4. Mencampurkan sampel (serum) sebanyak 20 l dengan 1000 l reagen fosfat. 5. Menginkubasi campuran selama 1 menit, kemudian diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 340 nm.

C. Nilai Normal 1. Dewasa 2. Anak-anak : 2,5-5,0 mg/dl atau 0,81-1,62 mmol/l. : 4,0-7,0 mg/dl atau 1,30-2,26 mmol/l.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pemeriksaan terhadap fosfat anorganik diperoleh data dari: Nama Probandus : M. Haris Yoga Jenis Kelamin Usia Berat Badan Tinggi Badan : Laki-laki : 19 tahun : 67 kg : 172 cm

Setelah dilakukan pemeriksaan, didapatkan kadar fosfat anorganik sebanyak 20 mg/dl.

B. Pembahasan Tujuan dari percobaan ini adalah menyiapkan probandus untuk pemeriksaan kadar fosfat anorganik dan menginterpretasikan hasil

pemeriksaan yang diperoleh. Untuk menetapkan kadar fosfat anorganik dalam serum probandus digunakan metode Fotometrik UV test. Dari hasil pengukuran laboratorium tersebut didapatkan kadar fosfat anorganik probandus adalah 20 mg/dl. Nilai tersebut sangat tinggi karena melebihi nilai normal kadar fosfat anorganik pada dewasa yaitu 2,5 5 mg/dl. Kadar di mana fosfat anorganik yang melebihi nilai normal disebut hiperfosfatemia. Hiperfosfatemia dapat disebabkan oleh penurunan ekskresi fosfat melalui ginjal, redistribusi ICF ke ECF, serta peningkatan asupan dan absorbsi di usus, hipokalsemia, hipoparatiroidisme, insufisiensi ginjal, gagal ginjal, hipervitaminosis D, tumor tulang, penyembuhan tulang, sarkoidosis, dan sindroma Cushing. Selain itu, terdapat beberapa obat yang memicu kenaikan kadar fosfat anorganik seperti meticillin, heparin, lipomul dan venitoin. SITASI ?????? Gagal ginjal akut ataupun kronis hingga saat ini merupakan penyebab hiperfosfatemia yang paling penting, dan hal ini selalu terjadi bila laju filtrasi glomerulus (GFR) menurun hingga 25 sampai 50% dari normal. Penurunan

sekresi PTH pada hipoparatiroidisme menyebabkan menurunnya ekskresi fosfat urin. Akromegali atau pemberian hormon pertumbuhan menyebabkan terjadinya hiperfosfatemia sedang. Terapi bifosfonat untuk mengatasi hiperkalsemia yang disebabkan oleh keganasan dapat menyebabkan terjadinya hiperfosfatemia sebagai penyulit karena terjadi peningkatan reabsorpsi fosfat di tubulus ginjal (Wilson, 2012). Sel mengandung fosfat dalam jumlah banyak, sehingga keadaan yang menyebabkan perpindahan antarsel dari ICF ke ECF dapat menyebabkan hiperfosfatemia. Kemoterapi yang terutama dilakukan untuk mengobati penyakit keganasan hematologis dapat menyebabkan terjadinya lisis sel dan pelepasan fosfat. Otot mengandung banyak timbunan fosfat, sehingga kerusakan otot pada rhabdomiolisis (yang kadang terjadi pada putus alkohol) dapat menyebabkan terjadinya hiperfosfatemia (Wilson, 2012). Hiperfosfatemia dapat disebabkan oleh kelebihan asupan laksatif yang mengandung fosfat atau oleh pemberian fosfat secara IV. Pengobatan dengan vitamin D yang berlebihan atau abnormalitas sekresi vitamin D pada penyakit sarkoidosis atau tuberkulosis dapat menyebabkan meningkatnya absorpsi fosfat di usus (Wilson, 2012).

C. Aplikasi Klinis 1. Hipoparatiroidisme Hipoparatiroidisme adalah kondisi medis yang ditandai dengan ketidakcukupan sekresi hormon paratiroid oleh kelenjar paratiroid yang terletak pada daerah leher. Hormon paratiroid adalah suatu hormon yang berperan terutama dalam mengendalikan kadar kalsium dan fosfat di dalam darah dan tulang (Wilson, 2012). Pada hipoparatiroidisme, ketidakcukupan jumlah hormon paratiroid (PTH) menyebabkan penurunan kadar kalsium dan peningkatan kadar fosfor di dalam darah. Kondisi ini seringkali disebabkan karena jejas pada kelenjar paratiroid sewaktu pembedahan di daerah kepala dan leher (Wilson, 2012).

2. Gagal Ginjal Akut Gagal ginjal akut mempunyai terminologi yang khas yaitu adanya penurunan fungsi ginjal yang mendadak dengan akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Akibat penurunan fungsi ginjal terjadi peningkatan metabolit persenyawaan nitrogen seperti ureum (10-20 mg/dl/hari) dan kreatinin (0,5mg/dl/hari) serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal. Keadaan ini bisa disertai dengan atau tanpa oliguria (Hariweni, 2005). Sindrom kelebihan fosfat sering dihubungkan dengan peningkatan nyata fosfat serum dan berakibat hipokalsemia dan presipitasi deposit kalsium-fosfat di dalam jantung, alveoli, kulit, jaringan subkutan, pembuluh darah kecil dan konjungtiva. Sepertiga pasien dengan leukemia hipokalsemik mengalami hiperfosfatemia (Hariweni, 2005). Pada anak yang menderita leukemia limfoblastik akut,

hiperfosfatemia dihubungkan dengan peningkatan ekskresi fosfat di urin sebanyak 30 kali, hal ini mungkin karena limfoblas mempunyai kandungan fosfat paling tinggi sekitar 4 kali dari limfosit normal (Hariweni, 2005).

BAB IV KESIMPULAN 1. Pemeriksaan fosfat anorganik dengan metode UV Photometric Test digunakan untuk mendeteksi kerusakan pada ginjal, tulang, dan kelenjar paratiroid. 2. Kadar fosfat anorganik probandus adalah 20 mg/dl, menunjukkan bahwa kadar fosfat anorganik probandus bersifat abnormal yaitu lebih dari 5,0 mg/dl. 3. Kadar fosfat anorganik yang berlebihan menujukkan bahwa probandus memiliki risiko yang tinggi terhadap penyakit-penyakit yang disebabkan adanya peningkatan kadar fosfat anorganik seperti gagal ginjal, tumor tulang, sindrom cushing, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Baker, S.B., Worhtley L.I.G. 2002. The Essentials of Calcium, Magnesium, and Phosphate Metabolism: Part I. Physiology. Adelaide: Departement of Critical Care Medicine Behrman, Robert M., Kliegman., Ann M. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Jilid 1. Jakarta: EGC Ehrlich, Steven D. 2011. Phosphorus. Baltimore: Univertisy of Maryland Medical Center and System Evert, Alison. 2011. Phosphorus in Diet. US: US Department of Health and Human Service. Available at: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002424.htm (accessed on: November 17, 2012) FIPR (Florida Industrial and Phosphate Research Institute). 2010. Introduction: Phosphate as an Essential Mineral. Florida: Florida Industrial and Phosphate Research Institute. Available at: http://www1.fipr.state.fl.us/phosphateprimer (accessed on: November 17, 2012) Hariweni, Trie. 2005. Pengaruh Metabolit Tumor Akibat Sindrom Tumor Lisis pada Terjadinya Gagal Ginjal Akut Serta pada Anak. Sari Pediatri, Vol. 7, No. 2, September 2005: 93 96. Naderi, Amir S. A. N., Robert F. R. 2010. Hereditary Disorders of Renal Phosphate Wasting. MedScape Education Sacher, Ronald. A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium Edisi 11. Jakarta: EGC Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EGC US National Institute of Health. 2012. Minerals. US: US Departement of Health and Human Service. Available at: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/minerals.html (accessed on: November 17, 2012) Wilson, Lorraine M., Sylvia A. Price. 2012. Gangguan Volume, Osmolalitas, dan Elektrolit Cairan dalam Patofisiologi Edisi 6. Jakarta: EGC.