Anda di halaman 1dari 12

Teori Urban Design

A. Figure Ground Figure Ground adalah hubungan tekstural antara bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open space). Analisis teori ini adalah alat yang sangat baik untuk mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric), serta mengidentifikasikan masalah keteraturan massa/ ruang perkotaan. Figure adalah istilah untuk massa yang dibangun (biasanya di dalam gambargambar ditunjukkan dengan warna hitam), dan ground adalah istilah untuk semua ruang di luar massa itu (biasanya ditunjukkan dengan warna putih). Gambar hitam putih menunjukkan keadaan tekstur kota atau suatu kawasan kota. Terkadang sebuah figure ground juga digambarkan dengan warna sebaliknya supaya dapat mengekspresikan efek tertentu. Pola tekstur suatu tempat sangat penting dalam perancangan kota dan yang sering disebut sebagai landasan pengumpulan informasi. Pola-pola tekstur suatu perkotaan berbeda karena perbedaan tekstur pola-pola tersebut mengungkapkan perbedaan rupa kehidupan dan kegiatan masyarakat perkotaan secara arsitektural, yaitu : 1. Susunan kawasan yang bersifat homogen dengan pengertian hanya terdapat satu pola penataan.

Pola Figure Ground Homogen

2. Susunan kawasan yang bersifat heterogen, dengan pengertian terdapat dua atau lebih pola berbenturan.

Pola Figure Ground Heterogen

3. Susunan kawasan yang bersifat menyebar atau campuran dengan pengertian, terdapat kecenderungan pola yang bersifat campuran antara pola homogen dan pola heterogen. Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Pola Figure Ground Campuran

Sistem hubungan di dalam tekstur figure ground dikenal dengan dua kelompok elemen, yaitu solid dan void. Ada tiga elemen dasar yang bersifat solid, yaitu : 1. Blok tunggal Bersifat agak individual, elemen ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari satu unit yang lebih besar, dimana elemen tersebut sering memiliki sifat penting (misalnya sebagai penentu sudut, hirarki atau penyambung).

Blok Tunggal pada Elemen Solid

2. Blok yang mendefinisi sisi Berfungsi sebagai pembatas secara linear, pembatas tersebut dapat dibentuk oleh elemen ini dari satu, dua atau tiga sisi.

Blok yang Mendefinisi Sisi pada Elemen Solid

3. Blok medan Blok ini memiliki bermacam-macam massa dan bentuk, namun masing-masing tidak dapat dilihat secara individu-individu, melainkan harus dilihat keseluruhan massaanya secara bersamaan.

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Blok Medan pada Elemen Solid

Untuk elemen void, ada empat elemen dasar yang mempunyai kecenderungan untuk berfungsi sebagai sistem yang memiliki hubungan erat dengan massa, yaitu : 1. Sistem tertutup yang linear Sistem ini memperhatikan ruang yang bersifat linear tetapi kesanya tertutup. Elemen ini sering dijumpai di kota.

Sistem Tertutup Linier pada Elemen Void

2. Elemen void sistem tertutup yang sentral Sistem ini sudah lebih sedikit jumlahnya karena memiliki pola ruang yang berkesan terfokus dan tertutup. Ruang tersebut di kota dapat diamati pada skala besar, misalnya di pusat kota maupun di berbagai kawasan di dalam kampung dan lain-lain.

Sistem Tertutup Sentral pada Elemen Void

3. Sistem terbuka yang linear Sistem ini merupakan pola ruang yang berkesan terbuka dan linear, misalnya kawasan sungai.

Sistem Terbuka Linier pada Elemen Void

4. Sistem terbuka yang sentral Sistem ini memperlihatkan dimana kesan ruang bersifat terbuka namun masih tampak terfokus, misalnya alun-alun besar dan taman kota.

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Sistem Tertutup Linier pada Elemen Void

Elemen-elemen solid dan void tidak boleh dilihat secara terpisah satu dengan yang lain, karena secara bersama-sama membentuk unit-unit perkotaan yang menunjukkan sebuah tekstur perkotaan dalam dimensi yang lebih besar. Terdapat enam pola kawasan kota secara tektural, yaitu: 1. Angular Pola angular dicirikan dengan adanya elemen solid dan void yang menyudut, biasanya terdapat di daerah perkampungan tengah kota.

Pola Angular

2. Aksial Pola aksial merupakan pola perkotaan yang memiliki sumbu utama. Biasanya diterapkan di perkotaan dengan fungsi formal, misalnya untuk kegiatan pemerintahan dan keagamaan.

Pola Aksial

3. Grid Pola grid menguntungkan apabila diterapkan pada suatu kota, karena pola ini sangat efisien untuk aksesibilitas dan pemanfaatan lahan, dengan ciri perumahan yang terencana.

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Pola Grid

4. Kurvilinear (Linier Berbentuk Kurva) Pola kurvilinier diterapkan di wilayah kota yang berada di tepi sungai atau perkembangannya mengikuti garis kontur.

Pola Kurvilinier (linier berbentuk kurva)

5. Radial Konsentris Pola Radial Konsentris memiliki pusat atau suatu bangunan yang dianggap penting.

Pola Radial Konsentris

6. Organis Pola organis berkembang sesuai kontur dan tidak terencana oleh seorang perencana.

Pola Organis

B. Linkage Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Teori Linkage adalah teori yang memahami struktur kota melalui keterkaitan fungsi satu sama lain. Fungsi vital kota dalam skala yang relatif besar bisa dianggap sebagai generator pertumbuhan kota; seperti fungsi pendidikan, fungsi mall, atau fungsi pabrik. Fungsi-fungsi vital ini men-generate pertumbuhan kota dengan cukup cepat. Seperti contoh, dengan beroperasinya suatu pabrik (dengan skala relatif besar) pada suatu kawasan tertentu, akan men-generate pertumbuhan disekitarnya, seperti pertumbuhan retail, perkampungan menengah dan bawah, fungsi pendidikan, dan lainlain. Teori Linkage menggarisbawahi keterkaitan antara generator-generator kota tersebut. Keterkaitan secara fisik dapat dilihat melalui beberapa elemen kota, seperti adanya jalan sebagai penghubung, koridor pejalan kaki, jajaran elemen landsekap berupa pohon ataupun elemen vertikal ruang kota yang dominan (seperti jajaran bangunan tinggi). Jenis elemen penghubung generator ini sangat tergantung dengan fungsi yang dihubungkannya dan skala layanan fungsi tersebut; semakin vital dan semakin luas layanan suatu fungsi kota; semakin kuat pula elemen penghubungnya. Sebuah linkage perkotaan dapat diamati dengan cara dan pendekatan yang berbeda, terdapat tiga pendekatan linkage pada perkotaan: 1. Linkage visual, Dalam linkage yang visual dua atau lebih fragmen kota dihubungkan menjadi satu kesatuan yang secara visual, mampu menyatukan daerah kota dalam berbagai skala. Fungsi dari elemen linkage ini di maksudkan untuk memberi identitas serta bentuk massa dan ruang fragmen-fragmen yang jelas, sehingga mengarahkan kawasan dengan meminimalkan anomali terhadap ruang. Terdapat dua hal pokok dalam linkage visual, yaitu: Menghubungkan dua daerah secara netral Menghubungkan dua daerah, dengan mengutamakan satu daerah Lima elemen linkage visual, merupakan elemen yang memiliki ciri khas dan suasana tertentu yang mampung menghasilkan hubungan secara visual, terdiri dari: 1. Garis, menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan massa, misalnya bangunan/pohon.

Garis atau Line

2. Koridor, dibentuk oleh dua deretan massa (bangunan/pohon) yang membentuk sebuah ruang.

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Pola Radial Konsentris

3. Sisi, menghubungkan dua kawasan dengan satu massa. Hampir sama dengan elemen garis, namun sisi-sisinya bersifat tidak langsung.

Sisi

4. Sumbu, mirip dengan elemen koridor, namun dalam menghubungkan dua daerah lebih mengutamakan salah satu daerah saja.

Sumbu

5. Irama, menghubungkan dua tempat dengan variasi massa dan ruang.

Irama

2. Linkage struktural Menggabungkan dua atau lebih bentuk struktur kota menjadi satu kesatuan tatanan.Menyatukan kawasan kawasan kota melalui bentuk jaringan struktural yang lebih dikenal dengan sistem kolase (collage). Tidak setiap kawasan memiliki arti struktural yang sama dalam kota, sehingga cara menghubungkannya secara hierarkis juga dapat berbeda. Fungsi linkage struktural di dalam kota adalah sebagai stabilisator dan koordinator di dalam lingkungannya, karena setiap kolase perlu diberikan stabilitas tertentu serta distabilisasikan lingkungannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memprioritaskan sebuah daerah yang menjelaskan lingkungannya dengan suatu struktur, bentuk, wujud, atau fungsi yang memberikan susunan tertentu didalam prioritas penataan kawasan. Ada tiga elemen linkage struktural yang mencapai hubungan secara arsitektural, yaitu: Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

1. Tambahan, melanjutkan pola pembangunan yang sudah ada sebelumnya, namun ditambahkan bentuk ruang maupun massa yang relatif cenderung sama sehingga tidak mengurangi pemahaman lokasi/konteks, serta penambahan itu juga masih dapat dipahami sebagai unsur tambahan.

Tambahan

2. Sambungan, memperkenalkan pola baru pada suatu lingkungan kawasan, dikarenakan biasanya memiliki sebuah fungsi istimewa.

Sambungan

3. Tembusan, terdapat dua atau lebih pola yang sudah ada di sekitarnya dan akan disatukan sebagai pola-pola yang sekaligus menembus didalam suatu kawasan.

Tembusan

3. Linkage kolektif. Sebuah kota bukan sekedar rangkaian sejumlah unit secara visual maupun struktural, namun ada juga terdapat bentuk-bentuk kolektif karena sebuah kota banyak memiliki kolektif ciri khas, organisasi dan bentuk yang bersifat kolektif. Menurut Fumuhiko Maki, Linkage adalah semacam perekat kota sederhana untuk mempersatukan seluruh tingkatan kegiatan yang menghasilkan bentuk fisik suatu kota. Teori ini terbagi menjadi 3 tipe linkage urban space yaitu: 1. Compositional Form, tercipta dari bangunan yang berdiri sendiri secara 2 dimensi. Dalam tipe ini hubungan ruang jelas walaupun tidak secara langsung

Compositional Form

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

2. Mega Form, susunan-susunan yang dihubungkan ke sebuah kerangka berbentuk garis lurus dan hirarkis seperti bingkai yang linier atau sebagai grid. Linkage dapat dicapai melalui hierarki yang bersifat open ended.

Mega Form

3. Group Form, merupakan akumulasi tambahan struktur pada sepanjang ruang terbuka. Banyak kota-kota tua dan bersejarah serta daerah pedesaan menerapkan pola ini. Dalam hal ini linkage dikembangkan secara organis.

Group Form

C. Place Menurut Christian Norberg-Schulz (1979), place adalah sebuah space yang memiliki suatu ciri khas tersendiri. Roger Trancik (1986), merumuskan sebuah space akan ada jika di batasi sebagai sebuah void, dan sebuah space menjadi sebuah place jika mempunyai arti dari lingkungan yang berasal dari budaya daerahnya. Hal ini menunjkkan sebuah place dibentuk sebagai sebuah space, jika memiliki ciri khas dan suasana tertentu yang berarti bagi lingkungannya. Suasana itu dapat terlihat dari benda yang konkrit (bahan, rupa, tekstur, warna) maupun benda yang abstrak, yaitu asosiasi kultural dan regional yang dilakukan oleh manusia di tempatnya. Analisis place adalah alat yang baik untuk memberi pengertian mengenai ruang kota melalui tanda kehidupan perkotaannya. Selain itu, analisis ini juga dapat memberi pengertian mengenai ruang kota secara kontekstual. Namun kelemahannya adalah analisis ini hanya memfokuskan perhatiannya pada satu tempat saja. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menganalisis suatu tempat atau place, yaitu tipologi, skala, morfologi, dan identitas yang akan dijabarkan sebagai berikut a. Tipologi

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Pendeskripsian kelompok obyek berdasar kesamaaan sifat dasar dengan mengklasifikasikan keberagaman atau kesamaan jenis. Tipologi bentuk suatu tempat tidak selalu jelas, karena biasanya terdapat campuran antara sifat statis dan dimanis. Tipologi ruang statis hanya digolongkan berdasarkan geometrinya saja, tanpa memperhatikan fungsi kota, sedangkan tipologi ruang dinamis disesuaikan dengan fungsi dan lokasinya dalam kota. b. Skala Menganalisis ukuran dan perbandingan secara spasial antara ketinggian elemen dan lebarnya, serta hubungan spasial antar obyek di dalamnya. c. Morfologi Menganalisis hubungan antar tempat-tempat, kombinasi dan pencampuran antara elemen-elemen, serta bagaimana cara menghubungkannya. d. Identitas Menganalisis ciri khas dari lingkungan perkotaan yang terbentuk.

Citra Kota Lynch, (1975) dalam bukunya The Image of The City sebuah citra memerlukan: Identitas pada sebuah obyek atau sesuatu yang berbeda dengan yang lain Struktur atau pola saling hubung antaran obyek dan pengamat Obyek tersebut mempunyai makna bagi pengamatnya Citra atau wajah sebuah kota merupakan kesan yang diberikan oleh orang banyak bukan individual. Citra kota lebih ditekankan pada lingkungan fisik atau sebagai kualitas sebuah obyek fisik (warna, struktur yang kuat, dll), sehingga akan menimbulkan bentuk yang berbeda, bagus dan dapat menarik perhatian. Lynch juga membagi lima elemen citra kota, yaitu : a. Landmark (tengeran) Landmark adalah simbol atau point petunjuk atau identitas yang dapat berupa tugu atau menara atau jembatan atau bangunan lain yang dapat menjadi ciri suatu kota. Landmark disimbolkan dalam bentuk titik, dimana memiliki ciri keunikan tersendiri dan hanya ada di kota itu sendiri. Skala yang dipergunakan tidak harus besar. Guna dari landmark adalah sebagai ciri khas suatu kota sehingga dapat memberi daya tarik tersendiri bagi sebuah kota. Selain itu, landmark juga dapat digunakan sebagai acuan batas skala bangunan. b. Paths (jalur)

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

Paths merupakan elemen terpenting dalam citra kota. Path adalah jalur yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya yang memiliki ciri variabel berupa aktivitas yang berbeda-beda. Menunjukkan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum. Paths dapat berupa jalur kereta api, jalan setapak, trotoar, sungai, gang-gang utama, saluran, dan lainlain. Paths mempunyai identitas yang lebih baik kalau memiliki identitas yang besar (misalnya ke stasiun, tugu, alun-alun,dan lain-lain), serta memiliki penampakan yang kuat (misalnya fasade, pohon, dan lain-lain), atau belokan yang jelas.

Paths

c. Edges (batas) Edges merupakan elemen linear yang tidak dilihat sebagai path. Edges memiliki identitas yang lebih baik jika kontinuitas tampak jelas batasnya. Edges memiliki dua sifat, yaitu menghubungkan dan membedakan. Dapat bersifat menghubungkan jika ia berbentuk koridor sehingga akan membentuk satu kesatuan. Bersifat membedakan karena ia menjadi pembatas atau penghalang. Batas memiliki dua sifat, yaitu batas alamiah dan batas buatan. Batas alamiah dapat berupa topografi, sungai, dan gunung; sedangkan batas buatan dapat berupa kawasan penyangga dan jalan.

Edges

d. Nodes (simpul) Nodes merupakan sebuah titik yang menjadi konsentrasi suatu kegiatan. Oleh karena itu, nodes juga dapat menjadi ciri bagi sebuah kota. Nodes dapat dipengaruhi oleh transportasi dimana transportasi tersebut merupakan peralihan dari aktivitas yang menjadi konsentrasi tersbeut. Nodes juga tergantung daripada skala. Untuk dapat mencirikan sebuah kota, nodes harus dipilih yang memiliki skala besar. Dalam hal ini, yang perlu menjadi catatan bahwa tidak setiap persimpangan jalan adalah nodes. Node mempunyai identitas yang lebih baik jika tempatnya memiliki

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota

bentuk yang jelas (karena lebih mudah diingat), serta tampilan berbeda dari lingkungannya (fungsi, bentuk). Contoh dari nodes adalah persimpangan lalu lintas, lapangan terbang, jembatan, taman, pasar, dan sebagainya.

Nodes

e. District (area atau kawasan) District merupakan kawasan perkotaan dalam bentuk dua dimensi. Bercirikan hanya memiliki satu fungsi utama. Simbol-simbol yang ada menunjukkan fungsi tersebut dimana dapat bersifat mengelompokkan bentuk bangunan berdasarkan fungsinya. District memiliki bentuk pola dan wujud yang khas begitu juga pada batas district sehingga orang tahu akhir atau awal kawasan tersebut. District memiliki ciri dan karakteristik kawasan yang berbeda dengan kawasan di sekitarnya.

District

Teori Urban Design dan Analisis Citra Kota