Anda di halaman 1dari 8

REFERAT OBAT MANNITOL

Oleh : Lia Susanti NIM : 112011236

PEMBIMBING Dr. Sasmoyohati, Sp.S

DEPARTEMEN ILMU SARAF RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA UKRIDA JAKARTA 2012

DIURETIK OSMOTIK Diuretic osmotic mudah difiltasi di glomerulus, direabsorpsi dalam jumlah terbatas oleh tubulus ginjal, dan relative inert secara farmakologi. Diuretic osmotic diberikan dalam dosis yang sesuai untuk meningkatkan osmolaritas cairan tubulus dan plasma secara signifikan. Tempat kerja utama diuretic osmotic adalah ansa Henle.1 Tubulus proksimal dan cabang desenden ansa Henle sangat permeable terhadap air.2 Dengan sifat-sifat tadi, maka diuretic osmotic dapat diberikan dalam jumlah cukup besar sehingga turut menentukan derajat osmolaritas plasma, filtrate glomerulus dan cairan tubuli. Contoh golongan obat ini adalah manitol, urea, gliserin, isosorbid. Adanya zat tersebut dalam lumen tubuli, meningkatkan tekanan osmotic, sehingga jumlah air dan elektrolit yang diekskresi bertambah besar. Tetapi untuk menimbulkan diueresis yang cukup besar, diperlukan dosis diuretic osmotic yang tinggi.3 Manitol paling sering digunakan diantara obat ini karena manitol tidak mengalami metabolism dalam badan dan hanya sedikit sekali direabsorbsi tubuli bahkan praktis dianggap tidak direabsorbsi. Manitol harus diberikan secara IV, jadi obat ini tidak praktis untuk pengobatan edema kronik. Pada pasien payah jantung pemberian manitol berbahaya karena volume darah yang beredar meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang telah gagal.4 Farmakokinetik Diuretik osmotic sulit diabsorpsi; artinya obat ini harus diberikan secara parenteral. Jika diberikan per oral, manitol menyebabkan diare osmotic. Manitol tidak dimetabolisasi dan dieksresi melalu filtrasi glomerulus dalam waktu 30-60 menit, tanpa adanya reabsorbsi ataupun sekresi tubular yang berarti.2 Farmakodinamik Diuretic osmotic terutama bekerja di tubulus proksimal dan cabang desenden ansa Henle. Melalui efek osmotic, diuretic ini melawan kerja ADH di tubulus renalis colligens. Adanya bahan yang tidak dapat direabsorbsi, seperti manitol, mencegah absorbsi normal air dengan menimbulkan tekanan osmotic yang melawan keseimbangan. Akibatnya, volume urin meningkat. Peningkatan laju aliran urin menurunkan waktu kontak antara cairan dan epitel tubulus sehingga menurunkan reabsorbsi Na+ dan juga reabsorbsi air. Natriuresis yang terjadi

kurang berarti dibandingkan dengan dieresis air, yang kemudian menyebabkan kehilangan banyak cairan tubuh dan hipernatremia.2 Dosis dan Indikasi Klinis a. Meningkat volume urine Diuretik osmotic digunakan untuk meningkatkan ekskresi air dibandingkan untuk ekskresi natrium. Efek ini sangat bermanfaat bila retensi Na+ yang sangat besar membatasi respon terhadap obat konvensional. Diuretic ini dapat digunakan untuk mempertahankan volume urine dan mencegah anuria yang mungkin ditimbulkan oleh adanya muatan pigmen besar di ginjal ( misalnya, akibat hemilisis atau rabdomiolisis). Beberapa penderita oliguria tidak berespon terhadap diuretic osmotic. Oleh karena itu, manitol dosis uji (12,5 gr secara intravena) harus diberikan sebelum memulai infuse kontinu. Manitol tidak boleh dilanjutkan kecuali terdapat peningkatan laju aliran urine lebih dari 50 mL/jam dalam waktu 3 jam setelah pemberian dosis uji. Manitol (12,5-25 gr) dapat diulang pemberiannya tiap 1-2 jam untuk mempertahankan laju aliran urine agar berada di atas 100 mL/jam. Penggunaan manitol jangka panjang tidak dianjurkan.2

b. Penurunan tekanan intracranial dan intraokuler Diuretik osmotic mengubah hukum Starling sehingga air keluar dari sel dan menurunkan volume cairan intrasel. Efek ini digunakan untuk menurunkan tekanan intracranial pada keadaan neurologic dan untuk menurunkan tekanan intraokuler sebelum prosedur oftalmologik. Dosis manitol 1-2 gr/kgBB diberikan secara intravena. Tekanan intracranial, yang harus dimonitor, harus turun dalam waktu 60-90 menit.2 Toksisitas dan Efek Merugikan a. Ekspansi cairan ekstrasel Manitol cepat didistribusikan ke ruangan ekstraselular dan mengeluarkan air dari sel. Sebelum terjadi dieresis, hal ini akan menyebabkan peningkatan cairan ekstraseluler dan hiponatremia. Efek ini dapat mempersulit gagal jantung dan dapat menimbulkan edema paru. Nyeri kepala, mual dan muntah lazim dijumpai pada penderita yang mendapat diuretic ini.2

b. Dehidrasi, hiperkalemia dan hipernatremia Penggunaan manitol berlebihan tanpa disertai penggantian cairan yang adekuat dapat menimbulkan dehidrasi berat, kehilangan air bebas dan hipernatremia. Karena air ditarik ke luar sel, konsentrasi K+ intrasel meningkat, menyebabkan kerusakan sel dan hiperkalemia. Komplikasi ini dapat dihindari dengan memperhatikan komposisi ion serum dan keseimbangan cairan.2 Kontraindikasi Manitol biasanya dikontraindikasikan bagi pasien penyakit ginjal dengan anurik atau pada keadaan oliguria yang tidak menunjukkan respon pada dosis uji obat. Kongesti atau edema paru yang berat, dehidrasi hebat dan perdarahan intracranial kecuali bila akan dilakukan kraniotomi. Infuse manitol harus segera dihentikan bila terdapattanda-tanda gangguan fungsi ginjal yang progresif, payah jantung atau kongesti paru. Manitol dikontraindikasikan pada perdarahan serebral aktif.4

MANNITOL4 Infus 20% Komposisi: Tiap 1000 ml larutan mengandung: Mannitol Aqua pro injeksi Deskripsi: Larutan infuse mengandung Mannitol 20%, dalam air untuk injeksi. Osmolaritas larutan: 1098 mOsm/L.4 Indikasi: Sebagai osmotic diuretic dalam pencegahan dan pengobatan untuk: Oliguria pada gagal ginjal akut yang bertujuan mengembalikan fungsi ginjal kembali normal. Menurunkan tekanan intracranial pra dan pasca operasi pada pasien bedah neuro. Menurunkan edema otak/ edema umum (misalnya intraokuler, asites). Mempercepat klirens ginjal pada kasus keracunan atau overdoses barbiturate/sedative lain. 200.00 g 800.00 g

Dosis dan Cara Pemakaian Larutan Mannitol injeksi diberikan secara infuse intravena sebagai suatu osmotic diuretic untuk melindungi fungsi ginjal pada gagal ginjal akut dan untuk menurunkan peningkatan tekanan intracranial dan intraokuler. Dosis total dan kecepatan infuse ditentukan atau dapat disesuaikan dengan seberapa berat kondisi klinis dan usia penderita.4 Dosis umum untuk dewasa: 20-100 mg dalam waktu 24 jam. Kecepatan infuse disesuaikan untuk mempertahankan aliran urine minimal 30-50 ml/jam. Dosis untuk menurunkan peninggian tekanan intracranial dalam bedah saraf dan intraokuler: 1-2 mg/kgBB diinfuskan dalam waktu 30-60 menit.

Pada penatalaksanaan untuk edema dan asites: 500 ml mannitol diinfuskan dalam waktu 2-6 jam. Pada penatalaksanaan Oliguria: 500ml mannitol diinfuskan dalam waktu 90 menit. Dosis untuk meningkatkan diuresis pada intoksikasi: 500 ml mannitol diinfuskan dalam waktu 4-8 jam. Dosis umum untuk anak-anak: 1-2 mg/kgBB.

Kontra Indikasi: Mannitol tidak bileh diberikan pada penderita dengan congestive heart failure, pulmonary congestion atau pulmonary oedema, perdarahan intracranial (kecuali selama craniotomy), pasien dalam keadaan dehidrasi, pasien dengan edema metabolic ( edema bukan karena penyakit ginjal, jantung atau hepar) yang berhubungan dengan kerapuhan kapiler/ permeabilitas abnormal. Demikian pula pada penderita kegagalan fungsi ginjal kecuali apabila setelah diberi mannitol 0,2 mg/KgBB yang diberikan 3 sampai 5 menit dapat menghasilkan sedikitnya 40 ml urine/jam, diamati selama 2-3 jam.4 Efek Samping: Mannitol dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, maka perlu dimonitor keseimbangan cairan, elektrolit, fungsi ginjal (volume urine) dan tanda-tanda klinis lainnya. Pasien yang diberi infuse mannitol intravena sering kali mengalami rasa haus. Jika dosis besar diberikan secara cepat, pasien dapat mengalami sakit kepala, mual-muntah, pusing, demam, rasa dingin, takikardi, hipotensi, rasa sakit pada dada, hiponatremia dan dehidrasi.4 Catatan: Lakukan tes awal sebelum menggunakan produk ini untuk penderita dengan gangguan oliguria/anuria. Hati-hati dengan larutan yang mengandung ion Natrium pada penderita congestive heart failure, severe renal insufficiency, dan clinical statis yang disertai edema dengan berkurangnya natrium. Pada pemakaian secara intravena dapat menghasilkan cairan yang berlebih akibat pengenceran konsentrasi serum elektrolit, hidrasi berlebih, congested states atau penimbunan cairan pada

paru-paru. Resiko dari pengenceran adalah berbanding terbalik terhadap konsentrasi elektrolit dari larutan parenteral yang diberikan.4 Peripheral dan penimbunan cairan pada paru-paru dinyatakan sebagai berbanding lurus terhadap konsentrasi elektrolit dari larutan. Kemasan: Infuse mannitol dikemas dalam botol gelas 250 ml dan 500ml. kemasan klinik 10 botol/karton. Simpan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya. Hanya boleh dipakai bila larutan dalam keadaan jernih dan kemasan utuh.4

Gambar 1 Mannitol 500 ml

DAFTAR PUSTAKA

1. Goodman, Gilman, 2008. Manual Farmakologi dan Terapi. Jakarta: EGC.h. 449-50. 2. Katzung, Bertram E, 2010. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: EGC.h. 251-2. 3. Hardjasaputra SLP, Budipranoto G, Sembiring SU, Kamil I, 2002. ISO. Jakarta: Grafidian Medipress. h.739-40. 4. Nafrialdi, 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Teraupetik FKUI.h.398-9.