Anda di halaman 1dari 5

ANTIDIABETIK LOKAL I.

Sulfoniurea Mekanisme Kerja : Sulfoniurea menstimulasi sel-sel beta dari pulau Langerhans, sehingga sekresi insulin ditingkatkan. Disamping itu, kepekaan sel-sel beta bagi kadar glukosa-darah diperbesar melalui penggaruhnya atas proteintransport melalui penggaruhnya atas protein-transport glukosa. Obat ini hanya efektif pada penderita tipe-2 yang tidak begitu berat, yang sel-sel betanya masih bekerja cukup baik. Ada indikasi bahwa obat-obat inijuga dapat memperbaiki kepekan organ tujuan terhadap insulin dan menurunkan absorpsi insulin oleh hati. Gologan Obat : Merupakan obat generasi-1. A. Tolbutamida B. Klorpopamida Merupakan obat generasi-2 Dengan daya kerjanya atas dasar berat badan 10-100x lebih kuat. C. Glibenkamida D. Glikazida E. F. Glikidon Glimepirid

Resorpsi : Dari usus umumnya lancer dan lengkap, sebagian besar terikat pada protein: antara 90-99%. Plasma t -nya berkisar antara 4-5jam (tolbutamida, glipizida), 6-7 jam (glibenkamida) smpai 10 jam (gliklazida) atau lebih dari 30 jam (klopropamida). Efek sampingnya ; Yang terpenting adalah hipoglikemida yang dapat terjadi secara terselubung dan adakalanya tanpa gejala khas, khususnya pada derivate kuat seperti glibenklamida. Agak jarang terjadi gangguan lambung-usus (mual, muntah, diare), sakit kepala, pusing, rasa tidak nyaman di mulut,

uga gangguan kulit alergis. Nafsu makan diperbesar dan berat badan bisa naik, terutama pada mereka yang tidak mentaati diet. Toleransi pun dapat timbul pada 5-10% pasien sesudah beberapa tahun, mungkin karena sel-sel beta hilang kepekaannya terhadap insulin. Dengan alcohol terjadi efek disulfiram, khususnya pada klorpropamida. II. Kalium-Channel blockers Mekanisme Kerja : Sama dengan sulfoniluerea, hanya pengikatan terjadi tempat dan kerja yang lain. Gologan Obat : Reparglinida, nateglinida III. Biguanida Berbeda dengan sulfoniluerea, obat ini tidak menstimulasi pelepasan insulin dan tidak menurunkan gula-darah pada orang sehat. Zat ini juga menekan nafsu makan (efek anoreksan) hingga berat badan tidak meningkat, maka layak diberikan pada penderita yang menggemukkan. Penderita ini biasanya mengalami resistensi insulin, sehingga sulfonylurea kurang efektif. Mekanisme Kerja : Hingga saat ini masih belum dikethui dengan eksak. Telah dibuktikan bahwa meformin menggurangi terjadinya komplikasi makrovaskuler melalui perbaikan profil lipida darah, yaitu peningkatan HDL, penurunan LDL dan triglisrida, juga fibrinolisis. Efek Samping : Acidosis asam laktat dan angiopati luas, terutama pada lansia. IV. Glukosidase-Inhibitors Zat-zat ini bekerja atas dasar persaingan merintangi enzim alfaglukosidas di mukosa duodenum, sehingga reaksi pengguraian polisakarida monosakarida terhambat. Dengan demikian glukosa

dilpaskan lenih lambat dan absorpsinya ke dalam darah juga kurang cepat, lebih rendah dan merata, sehingga puncak kadar gula darah dihindarkan. Kerja ini mirip dengan efek dari makanan yang kaya akan serat gizi. Mekanisme Kerja : Efek Samping : -. V. Thiazolidindion Disebut sebagai Indikasi : Mengurangi resistensi insulin dan meningkatkan sensitvitas jaringan perifer untuk insulin.. Mekanisme Kerja : Efek Samping : Kadar insulin, glukosa dan asam lemak bebas dalam darah menurun, begitupula gluconeogenesis dalam hati. Obat-obat ini, misalnya pioglikazon, seringkali ditambahkan pada methormin bila efek antidiabet kurang memuaskan. VI. Peghambat DPP-4 Disebut sebagai Indikasi : Mengurangi resistensi insulin dan meningkatkan sensitvitas jaringan perifer untuk insulin.. Mekanisme Kerja : Bekerja pada penurunan efek hormone increatin . Increatin berperan utama terhadap produksi insulin di pangkreas dan yang terpenting adalah GLPI dan GPI, yaitu glucagon-like peptide dan glucosedependent insulinotropic polypeptide. Increatin ini diuraikan oleh suatu enzim khas DPP4, dengan penghambatan enzim ini, senyawa gliptin

mengurangi Efek Samping : -

peruraian

dan

inakvasi

increatin,

sehingga

kadar

insulinakan meningkat.

Golongan Obat : Sitaglipin, vildagliptin .

OBAT HIPERGLIKEMIK ( GLUKAGON ) DIAZOKSID Obat ini memperlihatkan efek hiperglikemia bila diberikan secara oral dan efek antihipertensi bila diberikan IV. Sediaan ini meningkatkan kadar glukosa sesuai besarnya dosis dengan menghambat langsung sekresi insulin; mungkin juga dengan menghambat penggunaan glukosa di perifer dan merangsang pembentukan glukosa dalam hepar. Obat ini digunakan pada hiperinsulinisme misalnya pada insinoma atau hipoglikemia yang sensitive terhadap leusin. DIAZOKSID 90% terikat pada plasma protein dalam darah. Masa paruh bentuk oral 24-36 jam. Tetapi mungkin memanjang pada takar lajak atau pada pasien dengan kerusakan fungsi ginjal. Karena masa paruh yang panjang. Obat ini meretensi air dan natrium