Anda di halaman 1dari 14

@BBP_AISKI Potensi Ekonomi Bakar Sabut Kelapa, Rp 13 Triliun Menguap Penulis : Nasrullah Nara | Minggu, 11 November 2012 | 04:33 WIB

<a href=ady_ip73@yahoo.com http://bpp-aiski.blogspot.com/ @BBP_AISKI Potensi Ekonomi Bakar Sabut Kelapa, Rp 13 Triliun Menguap Penulis : Nasrullah Nara | Minggu, 11 November 2012 | 04:33 WIB Dibaca: 39777 Komentar : 64 | Share: AISKI Indonesia sebagai penghasil buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai 15 miliar butir per tahun, belum banyak memanfaatkan sabut kelapa sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Sedikitnya Rp 13 triliun potensi pendapatan hilang percuma dari sabut kelapa karena dibuang atau dibakar petani terutama pada musim kemarau. " id="pdf-obj-0-8" src="pdf-obj-0-8.jpg">

Dibaca: 39777

<a href=ady_ip73@yahoo.com http://bpp-aiski.blogspot.com/ @BBP_AISKI Potensi Ekonomi Bakar Sabut Kelapa, Rp 13 Triliun Menguap Penulis : Nasrullah Nara | Minggu, 11 November 2012 | 04:33 WIB Dibaca: 39777 Komentar : 64 | Share: AISKI Indonesia sebagai penghasil buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai 15 miliar butir per tahun, belum banyak memanfaatkan sabut kelapa sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Sedikitnya Rp 13 triliun potensi pendapatan hilang percuma dari sabut kelapa karena dibuang atau dibakar petani terutama pada musim kemarau. " id="pdf-obj-0-13" src="pdf-obj-0-13.jpg">

|

Share:

<a href=ady_ip73@yahoo.com http://bpp-aiski.blogspot.com/ @BBP_AISKI Potensi Ekonomi Bakar Sabut Kelapa, Rp 13 Triliun Menguap Penulis : Nasrullah Nara | Minggu, 11 November 2012 | 04:33 WIB Dibaca: 39777 Komentar : 64 | Share: AISKI Indonesia sebagai penghasil buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai 15 miliar butir per tahun, belum banyak memanfaatkan sabut kelapa sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Sedikitnya Rp 13 triliun potensi pendapatan hilang percuma dari sabut kelapa karena dibuang atau dibakar petani terutama pada musim kemarau. " id="pdf-obj-0-23" src="pdf-obj-0-23.jpg">

AISKI

Indonesia sebagai penghasil buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai 15 miliar butir per tahun, belum banyak memanfaatkan sabut kelapa sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Sedikitnya Rp 13 triliun potensi pendapatan hilang percuma dari sabut kelapa karena dibuang atau dibakar petani terutama pada musim kemarau.

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) memperkirakan, Indonesia kehilangan potensi pendapatan dari sabut kelapa mencapai Rp13 triliun per tahun.

Angka ini diperoleh dari perhitungan jumlah produksi buah kelapa Indonesai yang mencapai 15 miliar butir per tahun, dan baru dapat diolah sekitar 480 juta butir atau 3,2 persen per tahun.

Setiap butir sabut kelapa rata-rata menghasilkan serat sabut kelapa atau dalam perdagangan internasional disebut coco fiber sebanyak 0,15 kilogram, dan serbuk sabut kelapa atau coco peat sebanyak 0,39 kilogram.

Harga penjualan coco fiber di pasar dalam negeri berkisar Rp 2.000 - Rp 2.500 per kilogram, dan coco peat berkisar Rp 1.000 - Rp 1.500 per kilogram.

Demikian diungkapkan Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari, usai melakukan pertemuan dengan beberapa importir coco fiber dan coco peat asal China, Singapura, dan Malaysia di Sungai Guntung, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Sabtu (10/11/2012).

"Ini fakta yang sangat memprihatinkan. Kita kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp13 triliun per tahun dari sabut kelapa yang dibakar dan dibuang oleh masyarakt. Semua ini terjadi karena ketidakberdayaan dan kurangnya pengetahuan mereka, akan manfaat sabut kelapa. Karena itu, pemerintah harus bergerak dan AISKI siap diajak kerjasama," ujarnya.

Menurut Ady, sabut kelapa pada sebagian masyarakat pesisir Indonesia adalah sampah yang harus dimusnahkan, dibuang dan dibakar pada saat musim kemarau. Namun demikian, di tangan orang-orang kreatif, sabut kelapa yang tidak berguna tersebut dapat diolah menjadi bahan industri yang bernilai ekonomi tinggi.

"Di negara-negara maju, coco fiber banyak digunakan sebagai pengganti busa dan bahan sintetis lainnya. Misalnya, untuk bahan baku industri spring bed, matras, sofa, bantal, jok mobil, karpet dan tali. Sementara coco peat lebih banyak digunakan sebagai media tanam pengganti tanah dan pupuk organik," jelasnya.

Dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, Indonesia sebetulnya merupakan pasar potensial untuk penjualan produk berbahan baku sabut kelapa, seperti penggunaan coco fiber pada spring bed, kasur, bantal, sofa, jok motor, dan tali. Sedangkan coco peat dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman holtikultura.

Berdasarkan catatan AISKI, Indonesia walaupun merupakan negara penghasil buah kelapa terbesar di dunia, namun belum banyak berperan dalam pangsa pasar ekspor raw material sabut kelapa untuk kebutuhan dunia. Indonesia hanya mampu memasok sabut kelapa sekitar 10 persen dari kebutuhan dunia. Sementara Srilanka dan India memasok di atas 40 persen.

Editor :

Agus Mulyadi

AISKI Cari Partner Kembangkan Bahan Bakar Sabut Kelapa

Tribunnews.com - Sabtu, 27 Oktober 2012 23:53 WIB

Share Text + –
Share
Text
+

Dok

AISKI

Briket bahan bakar coco peat yang diproduk si anggota Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesi a (AISKI) di Desa Penjuru, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Riau, sangat diminati buyer asal Jepang.

Berita Lainnya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) sedang mencari partner bisnis untuk mengembangkan briket bahan bakar dari serbuk sabut kelapa (coco peat).

Ini menyusul tingginya permintaan pasar internasional akan bahan bakar ramah lingkungan tersebut.

Sejak produk briket bahan bakar coco peat ini dipamerkan ke publik pada acara Trade Expo Indonesia (TEI) di International Expo Kemayoran, Jakarta, pekan lalu, sejumlah buyer dari berbagai negara langsung menyatakan ketertarikannya dan siap melakukan kontrak pembelian jangka panjang.

Salah satu negara buyer yang paling berminat dengan briket bahan bakar coco peat ini adalah Jepang.

Mereka membutuhkan briket bahan bakar coco peat sekitar 10 ribu ton per bulan sebagai bagian dari upaya negara tersebut mengurangi pemakaian bahan bakar yang tidak ramah lingkungan.

“Ini tantangan bagi AISKI. Kita tidak menyangka, sambutan pasar terhadap briket bahan bakar

coco peat ini luar biasa. Untuk memenuhi permintaan sebanyak itu, AISKI akan mencoba cari

partner bisnis yang memiliki kemampuan finansial,” ungkap Ketua Bidang Penelitian dan

Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari dalam siaran persnya yang diterima Tribunnews, Jumat (26/10/2012).

Menurut Ady, briket bahan bakar coco peat ini pertama kali diproduksi anggotanya di Desa Penjuru, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, pada tahun 2010 lalu.

Namun karena kemampuan produksi mesin yang sangat terbatas, akhirnya produksi bahan bakar coco peat tersebut terhenti di tengah jalan.

“Kendalanya hanya di mesin produksi yang tidak bisa massal. Soal kualitas, tidak perlu

diragukan lagi. Panasnya sama dengan briket arang tempurung kelapa. Briket bahan bakar coco

peat ini sangat baik sebagai pengganti minyak tanah untuk mengurangi ketergantungan pada

bahan bakar fosil yang semakin tergerus,” jelasnya.

Soal ketersediaan bahan baku, Ady mengaku tidak khawatir. Pasalnya, Indonesia sebagai produsen buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi rata-rata 15 miliar butir per tahun, memiliki potensi bahan baku coco peat sekitar 5,8 juta ton per tahun.

“Soal bahan baku, kita tidak perlu khawatir. Yang perlu kita pikirkan, bagaimana mendapatkan

mesin yang bisa produksi secara massal. Saya juga sangat yakin, briket bahan bakar coco peat ini

akan sangat membantu masyarakat pedesaan mengurangi penggunaan minyak tanah yang

harganya sudah mencapai angka Rp13 ribu per liter,” tambahnya

Pengusaha Tambang di Bintan Mulai Lirik Teknologi BiTumMan

Tribunnews.com - Senin, 15 Oktober 2012 21:16 WIB

Share Text + –
Share
Text
+
Pengusaha Tambang di Bintan Mulai Lirik Teknologi BiTumMan Tribunnews.com - Senin, 15 Oktober 2012 21:16 WIBCoco Peat Cocok untuk Tanaman Holtikultura di Kepri  AISKI Sosialisasi BiTumMan di Kepulauan RiauSabut Kelapa Ditangani Secara Terpadu Lintas KementerianMesin Produksi Sabut Kelapa Perlu Distandarisasi   BPPT Identifikasi Produk Sabut Kelapa untuk Dikembangkan Pemerintah Diminta Tetapkan Gernas Pemanfaatan Sabut Kelapa TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG – Sejumlah perusahaan pertambangan bauksit di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, mulai melirik teknologi Biji Tumbuh Mandiri (BiTumMan) untuk kegiatan revegetasi lahan pasca tambang. Kehadiran teknologi BiTumMan ini, diharapkan menjadi solusi atas kegagalan revegetasi yang dilakukan secara konvensional selama ini. " id="pdf-obj-5-8" src="pdf-obj-5-8.jpg">

IST

Perekayasa Utama pada Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi BencanaBPPT, Agus Kristijono sedang mengamati struktur tanah di lahan pasca tambang bauksit di Pulau Dompak, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Berita Lainnya

TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG Sejumlah perusahaan pertambangan bauksit di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, mulai melirik teknologi Biji Tumbuh Mandiri (BiTumMan) untuk kegiatan revegetasi lahan pasca tambang.

Kehadiran teknologi BiTumMan ini, diharapkan menjadi solusi atas kegagalan revegetasi yang dilakukan secara konvensional selama ini.

“Kehadiran teknologi BiTumMan ini patut kita apresiasi. Ini karya anak bangsa yang harus kita

hargai dan dukung sepenuhnya. Saya sendiri yang akan memulai penggunaannya di Pulau

Bintan,” ujar Presdir PT Prajasta Bumi Kangboi, Hamzah Jasman usai melakukan pertemuan

dengan Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) di Hotel Aston, Tanjungpinang, Senin (15/10/2012).

Selain lahan pasca tambang, kata Hamzah, perusahaannya juga sudah menyiapkan lahan tidur untuk penanaman kayu sengon seluas 2.475 hektar.

Diharapkan, dengan bantuan teknologi BiTumMan ini, lahan pasca tambang dan lahan tidur di Pulau Bintan bisa menjadi lahan produktif yang berdampak pada peningkatan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat .

Menurut Hamzah, lahan tidur yang akan ditanami dengan kayu sengon itu, rencananya akan digarap dengan sistem tumpang sari, yakni memanfaatkan celah-celah tanaman pokok dengan

tanaman jagung. “Untuk pasar, kita sudah ada komitmen dengan Pasific Investment Corporation,” jelasnya.

Ketua Bidang Litbang AISKI, Ady Indra Pawennari, menjelaskan, BiTumMan adalah media tumbuh biji tanaman hasil rekayasa serbuk sabut kelapa (coco peat), gambut, Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dan bakteri rizosfir.

Coco peat memiliki sifat mudah menyerap dan menyimpan air. Ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari.

Kandungan trichoderma molds-nya, sejenis enzim dari jamur, dapat mengurangi penyakit dalam tanah dan menjaga tanah tetap gembur dan subur. Di dalam coco peat juga terkandung unsur- unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Kalium (K), Natrium (Na) dan Fospor (P).

Sementara itu, Perekayasa pada Balai Pengkajian Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr Yenni Bakhtiar MAg.Sc, mengatakan, benih (biji-bijian) tanaman yang digunakan dalam penerapan teknologi BiTumMan adalah benih pilihan yang bersertifikat.

Selanjutnya, jelas Yenni, benih pilihan tersebut dilapisi dengan mikoriza dan bakteri rizosfir yang bertujuan menyediakan sejumlah inokulum biofertilizer yang cukup pada tiap benih. Sehingga pada saat benih berkecambah akan langsung terinfeksi dengan inokulum biofertilizer yang melapisinya.

Beberapa hasil penelitian sebelumnya juga membuktikan mikoriza dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap berbagai macam stres, termasuk tanah miskin hara, kekeringan, logam, salinitas, dan patogen.

“Selain itu, mikoriza juga berperan memperbaiki nutrisi tanaman, meningkatkan pertumbuhan,

pelindung hayati (bio-protection), terlibat dalam siklus bio-geo-kimia, sinergis dalam mikroorganisme lain, dan mempertahankan keanekaragaman tumbuhan,” pungkasnya.

Berdasarkan uji tanam biji albizia dan akasia dengan menggunakan teknologi BiTumMan di lahan pasca tambang batubara di Kalimantan Timur dan lahan pasca tambang nikel di Sulawesi Tenggara, pada usia tanam 6 bulan, tingginya mencapai 1,5 meter dan pada usia tanam 18 bulan, tingginya sudah mencapai 4 meter dengan diamater batang sekitar 11 centimeter.

Editor: Anwar Sadat Guna

Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Koran Futuristik dan Elegan

Share

Bisnis Terbaru

Belum ada komentar Untuk mengomentari artikel ini, silakan login atau gunakan akun facebook anda

AISKI Bukukan Transaksi USD 60 Ribu di Hari Pertama TEI

Tribunnews.com - Jumat, 19 Oktober 2012 02:42 WIB

AISKI Bukukan Transaksi USD 60 Ribu di Hari Pertama TEI Tribunnews.com - Jumat, 19 Oktober 2012Mesir dan Korsel Beli Coco Peat Asal Indonesia  Pengusaha Tambang di Bintan Mulai Lirik Teknologi BiTumManCoco Peat Cocok untuk Tanaman Holtikultura di KepriAISKI Sosialisasi BiTumMan di Kepulauan Riau   Sabut Kelapa Ditangani Secara Terpadu Lintas Kementerian Mesin Produksi Sabut Kelapa Perlu Distandarisasi TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stand pameran Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) yang berlokasi di hall A1 nomor 52 Jakarta International Expo Kemayoran, ramai dikunjungi buyer luar negeri. " id="pdf-obj-9-6" src="pdf-obj-9-6.jpg">

Share

Text + – IST Stand pameran AISKI di Hall A1 nomor 52, Jakarta Internati onal Expo
Text
+
IST
Stand
pameran
AISKI di
Hall A1
nomor
52,
Jakarta
Internati
onal
Expo
Kemayor
an

Berita Lainnya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA Stand pameran Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) yang berlokasi di hall A1 nomor 52 Jakarta International Expo Kemayoran, ramai dikunjungi buyer luar negeri.

Pada hari pertama pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI), Rabu (17/10/2012), AISKI membukukan transaksi sebesar USD 60 ribu.

Ketua Umum AISKI, Efli Ramli, mengatakan, transaksi tersebut bersumber dari penjualan serbuk sabut kelapa (coco peat) sebanyak 8 kontainer kepada Mr Ismail Taher M Harraz dari perusahaan ETA Import, Mesir, dan penjualan coco sheet sebanyak 2 kontainer kepada Mr Kim Moo Chul dari perusahaan Dyrex International Ltd, Korea Selatan.

Adapun produk yang dipamerkan AISKI tahun ini, antara lain, serat sabut kelapa (coco fiber), coco peat, coco sheet, coco pot, tali, matras, bantal, briket bahan bakar, briket media tanam dan triplek komposit.

“Semua produk yang kami jual di pameran ini, berbahan baku sabut kelapa,” jelas Efli yang juga

Direktur Utama PT Mahligai Indococo Fiber ini.

Sebelumnya, salah satu dari 33 eskportir yang mendapatkan penghargaan Primaniyarta dari pemerintah adalah Ketua AISKI Sumatera Utara (Sumut), Sony Wicaksono.

Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam acara pembukaan Trade Expo Indonesia di Jakarta International Expo Kemayoran.

Penghargaan yang diterima Ketua AISKI Sumatera Utara tersebut adalah eksportir Usaha Kecil Menengah (UKM). Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada eksportir yang sudah berkontribusi bagi perekonomian nasional.

Menanggapi penghargaan Primaniyarta yang diterima anggotanya, Efli mengatakan, penghargaan Primaniyarta hanyalah rangsangan bagi pelaku UKM untuk meningkatkan eksistensinya sebagai eksportir yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

“Seharusnya pemerintah tidak hanya berhenti pada pemberian penghargaan Primaniyarta, tapi

bagaimana meningkatkan kapasitas pelaku eksportir UKM agar sejajar dengan negara-negara

lainnya,” harap Efli penerima penghargaan Primaniyarta kategori eksportir UKM, tahun 2011

Sabut Kelapa Ditangani Secara Terpadu Lintas Kementerian

Tribunnews.com - Selasa, 9 Oktober 2012 23:26 WIB

Share Text + –
Share
Text
+
Sabut Kelapa Ditangani Secara Terpadu Lintas Kementerian Tribunnews.com - Selasa, 9 Oktober 2012 23:26 WIB ShareMesin Produksi Sabut Kelapa Perlu Distandarisasi  BPPT Identifikasi Produk Sabut Kelapa untuk DikembangkanPemerintah Diminta Tetapkan Gernas Pemanfaatan Sabut KelapaAISKI BPPT Perkuat Kerjasama Pemanfaatan Sabut Kelapa   PT Arun Gandeng AISKI Kembangkan Industri Sabut Kelapa BPPT: Prospek Industri Sabut Kelapa Sangat Besar TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) menyambut baik rencana aksi pemerintah, untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas diversifikasi produk olahan sabut kelapa. Sabut kelapa akan digarap secara terpadu, dengan melibatkan lintas kementerian terkait. "Peningkatan produktivitas pengolahan sabut kelapa, diharapkan memberi andil terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya petani kelapa di berbagai wilayah Tanah Air," ujar Ketua Umum AISKI, Efli Ramli, usai bertemu Direktur Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Kecil " id="pdf-obj-11-8" src="pdf-obj-11-8.jpg">

AISKI

Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), Efli Ramli (kiri) dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Marzan A Iskandar (kanan), mengamati contoh sabut kelapa seusai menandatangani nota kesepahaman penerapan teknologi pemanfaatan sabut kelapa di gedung BPPT, Jakarta, Kamis (27/9/2012)

Berita Lainnya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) menyambut baik rencana aksi pemerintah, untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas diversifikasi produk olahan sabut kelapa.

Sabut kelapa akan digarap secara terpadu, dengan melibatkan lintas kementerian terkait.

"Peningkatan produktivitas pengolahan sabut kelapa, diharapkan memberi andil terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya petani kelapa di berbagai wilayah Tanah Air," ujar Ketua Umum AISKI, Efli Ramli, usai bertemu Direktur Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Kecil

Menengah (UKM) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Adhi Putra Alfian, di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (9/10/2012).

Efli Ramli menegaskan, pemerintah melalui Bappenas telah memberi perhatian terhadap industri sabut kelapa.

Efli didampingi Sekretaris Jenderal AISKI, Fitri Nurhastuti dan Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis, Vinolita, berada di Bappenas untuk memberi masukan kepada para pemangku kepentingan terkait potensi sabut kelapa Indonesia dan rencana pengembangannya.

Hadir dalam pertemuan tersebut, perwakilan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari, menambahkan, peta panduan pengembangan industri sabut kelapa sebetulnya sudah pernah diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian. Namun, road map tersebut tidak berjalan, karena penerapannya tidak dilaksanakan secara terpadu melalui lintas kementerian terkait.

Editor: Anwar Sadat Guna | Sumber: Kompas.com

Menengah (UKM) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Adhi Putra Alfian, di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (9/10/2012).Kompas.com Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com Koran Futuristik dan Elegan Klik Tribun Jakarta Digital Newspaper Share Rekomendasi (0) Bisnis Terbaru  IFC Anggarkan 400-600 Juta dollar ASTEI 2012 Ditargetkan Dihadiri 4.300 Buyers 90 NegaraPertamina Targetkan Peningkatan Produksi 32.000 bph   Akuisisi Petrodelta, Pertamina Siap Tambah Produksi Bekasi Fajar Alihkan Belanja Modal ke 2013 Bisnis Populer " id="pdf-obj-12-15" src="pdf-obj-12-15.jpg">

Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Koran Futuristik dan Elegan

Menengah (UKM) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Adhi Putra Alfian, di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (9/10/2012).Kompas.com Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com Koran Futuristik dan Elegan Klik Tribun Jakarta Digital Newspaper Share Rekomendasi (0) Bisnis Terbaru  IFC Anggarkan 400-600 Juta dollar ASTEI 2012 Ditargetkan Dihadiri 4.300 Buyers 90 NegaraPertamina Targetkan Peningkatan Produksi 32.000 bph   Akuisisi Petrodelta, Pertamina Siap Tambah Produksi Bekasi Fajar Alihkan Belanja Modal ke 2013 Bisnis Populer " id="pdf-obj-12-28" src="pdf-obj-12-28.jpg">

Share

Bisnis Terbaru

Bisnis Populer

Belum ada komentar Untuk mengomentari artikel ini, silakan login atau gunakan akun facebook anda

RSS