Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PROYEK PEMBANGUNAN BADAN PUSAT


STATISTIK SUMATERA UTARA 7 LANTAI
TUJUH LANTAI

Di Jalan Asrama, Nomor 179 Medan

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Ujian Sidang sarjana Pada Fakultas Teknik Sipil
Universitas Islam Sumatera Utara

Disusun Oleh

Soritua Lubis Agung Fadillah. Hrp Khoirul Bahri. Hrp
NIM : 08093017 NIM : 08093022 NIM: 080943



FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
MEDAN
2012
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PROYEK PEMBANGUNAN BADAN PUSAT STATISTIK
SUMATERA UTARA
TUJUH LANTAI

Di Jalan Asrama Nomor 179 Medan

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Ujian Sidang sarjana Pada Fakultas Teknik Sipil
Universitas Islam Sumatera Utara

Disusun Oleh

Soritua Lubis Agung Fadillah Hrp Khoirul Bahri Hrp
NIM : 08093017 NIM : 08093022 NIM: 08093043

Koordinator Kerja Praktek Dosen Pembimbing


(Ir.H. Gunawan Tarigan,MT) (Ir.Hamidun Batubara,MT)

Diketahui oleh:
Ketua Jurusan Teknik Sipil

( Ir. Gunawan Tarigan,MT)

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
MEDAN
2012

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek dengan judul
Pembangunan Gedung Kantor Badan Pusat Statistik Sumatera Utara Tujuh
Lantai. Penyusunan laporan ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat guna
memperoleh gelar S-1 pada Fakultas Teknik Sipil di Universitas Islam Sumatera Utara.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan ini jauh dari
kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Saran dan
kritik yang positif dan bersifat membangun merupakan sesuatu yang sangat diharapkan
demi kesempurnaan tulisan yang akan datang.
Dalam penyusunan laporan ini tidak sedikit hambatan yang kami alami baik pada
saat pengumpulan data, pengolahan data maupun pada saat merampungkannya.
Seiring itu juga kami ucapkan terima kasih atas saran bimbingan serta petunjuk-
petunjuk praktis yan tidak ternilai kepada kami selama ini, kepada:
1. Orang Tua kami tercinta.
2. Bapak Ir. H. Luthfi Parinduri, MM. Selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Islam
Sumatera Utara (UISU) Medan.
3. Bapak Ir. H. Gunawan Tarigan, MT. Selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan.
4. Bapak Ir. H. Gunawan Tarigan, MT. Selaku Koordinator Kerja Praktek pada Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan.
5. Bapak Ir. Hamidun Batubara, MT. Selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek.
6. Bapak Yudhi. Selaku Koordinator Pengawas pada Proyek Pembangunan Perumahan
River View.

6. Bapak Agus. Selaku Koordinator Pengawas pada Proyek Pembangunan
Lanjutan Gedung Diklat BPK-RI Perwakilan Prov.Su 2 Lantai.
7. Abang Safri,ST.. Selaku Pembimbing di lapangan.
8. Rekan-rekan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Islam Sumatera Utara (UISU) yang tidak bisa disebut satu persatu namanya
satu untuk semua, semua untuk satu.
Demikianlah laporan ini kami perbuat dengan kesungguhan dan semangat.
Banyak pengalaman- pengalaman yang berguna yang didapat dalam kerja praktek ini
dan semoga pengalaman yang dilapangan dapat bermanfaat.


Wassalam
Medan, 2 Januari 2011


Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
.1. Latar Belakang
Untuk melengkapi kebutuhan kurikulum yang ada di Fakultas Teknik Sipil
UISU, yang mewajibkan mahasiswa untuk melaksanakan kerja praktek. Sebagai
syarat untuk melengkapi tugas sarjana.
Juga untuk menerapkan mata kuliah yang telah kami pelajari selama duduk di
bangku kuliah kedalam dunia kerja, dan kami dapat mengetahui secara langsung
bagaimana cara kerja dilapangan. Kami juga dapat mengaplikasikan ilmu yang kami
dapat di bangku kuliah kelapangan, sebagai pengalaman kami kelak dimasa depan
dalam mencari lapangan pekerjaan dibidang teknik sipil.
Dalam melaksanakan kerja praktek kami mengamati dan menganalisa
pembangunan Lanjutan Gedung Badan Pusat Statistik Sumatera Utara 7 Lantai di
Jl.Asrama Nomor 179 Medan yang terdiri atas elemen struktural dan non struktural.
Elemen struktural suatu bangunan adalah pondasi, kolom, balok, dan pelat. Dalam
mendirikan bangunan diperlukan perencanaan konstruksi yang aman, efektif, kuat,
dan ekonomis.
Pelat merupakan salah satu elemen struktural dari suatu bangunan karena pelat
sebagai elemen bangunan pertama yang menerima beban. Beban tersebut kemudian
diteruskan ke balok, lalu balok meneruskan beban kepada kolom, kolom meneruskan
beban kepada pondasi dan pada akhirnya pondasi meneruskan beban tersebut
kedalam tanah.
Mengingat kompleksnya permasalahan diatas, maka dalam menyusun laporan
KP ini kami mengambil balok sebagai pengamatan. Kami juga melakukan
perhitungan balok yang mengacu pada SK-SNI-T-15-1990-03 yang hasil dari
perhitungan tersebut akan dibandingkan dengan pelaksanaan di lapangan.
.2. Maksud dan Tujuan Kerja Praktek
Kerja Praktek ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara nyata
kepada mahasiswa tentang teori-teori yang telah diterima diperkulihan. Sehingga
mahasiswa dapat lebih memahami dan menerapakannya dalam pelaksanaan proyek
yang akan diterima nantinya. Dapat membandingkan antara teori dengan prakteknya
di lapangan, mengambil manfaat dan kesimpulan dari kerja prakek itu sendiri.
Praktikan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman agar mampu
melaksanakan kegiatan yang sama kelak setelah bekerja atau terjun kelapangan.
Langkah-langkah pengamatan, hasil-hasil perhitungan, teknik-teknik pelaksanaan,
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan, keunggulan-keunggulannya, dan data
lain yang disajikan dalam laporan Kerja Pratek ini dapat berfungsi sebagai bahan
masukan dan bahan bandingan, kelak dalam melakukan kegitan yang sama.
Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek untuk mahasiswa adalah
sebagai berikut:
1. Sebagai syarat agar dapat menempuh Skripsi pada persyaratan tugas sarjana
Fakultas
Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Islam Sumatera Utara.
2.Agar dapat mengatahui tindakan yang diambil bila pelaksanaan di lapangan
membutuhkan tindakan yang seefisien mungkin.
3.Mengetahui prosedur pengerjaan di lapangan.
4.Mengatahui permasalahanpermasalahan yang terjadi di lapangan.Mendapat
pengalaman yang sebenarnya tentang pemakaian bahan yang standar,
Perhitungan konstruksi dan sistematika pelaksanaan suatu bangunan di
lapangan.
5.Menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam bentuk
praktek kerja lapangan.
6.Melatih disiplin dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas yang
diberikan.
7.Menempa diri menjadi tenaga kerja yang lebih handal dan profesional yang
dapat bermanfaat di dunia kerja kelak.
Dengan mengikuti Kerja Praktek, diharapkan lulusan program study Teknik
Sipil Universitas Islam Sumatera Utara akan lebih berpengalaman dan dapat
menerapkan teori yang dapat diperkuliahan dan yang didapat dari lapangan sehingga
siap melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai pelaksana maupun pengelola.
1.3.Lokasi Proyek
Proyek pembangunan Gedung Badan Pusat Statistik Sumatera Utara JL.
Asrama No. 179 Medan.
LOKASI
J
L
.

J
A
M
I
N


G
I
N
T
I
N
G


1.4.1. Nama dan Lokasi Proyek.
1. Nama Proyek : Pembangunan Gedung Pusat Statistik
Sumatera Utara ( 7 lantai )
2. Pemilik Proyek : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara
3. Lokasi Proyek : Jl.Asrama, No. 179 Medan
4. Konsultan perencana : CV. Abdi Kriasy Konsultan
5. Konsultan Pengawas : CV. Abdi Kriasy Konsultan
6. Kontraktor : PT. Hutomo Mandala Perkasa
7. Manager Proyek : Ir. Harry Suprihanto
8. Bendahara : Jimmy
9. Pengawas lapangan : A. Silalahi
10. Drafter : Faisal Daulay , ST
11. Logistik : Yudhi

1.4.2. Pelaksanaan Kerja Praktek
Dalam pelaksanaan Kerja Praktek pada proyek pembangunan kantor dua
lantai ini kami mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan proyek ini, kami
dibimbing oleh pengawas lapangan yang memberi pengarahan tentang bagian
pekerjaan yang harus kami pelajari dan cermati. Sebagai penunjang penyusun
laporan kerja praktek ini, kami mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Peninjauan ke lapangan untuk melihat secara langsung tentang pelaksanaan
pekerjaan proyek tersebut.
2. Mengadakan konsultasi langsung dengan para staf teknik dan staf administrasi
yang bekerja pada proyek tersebut.
3. Mengadakan konsultasi dengan para staf teknik yang berada dilapangan dengan
tujuan untuk mengetahui prinsip dan cara kerja yang mereka terapkan pada
proyek tersebut.

1.4.3. Pekerjaan Yang Diikuti
Adapun kegiatan kegiatan yang diikuti selama pelaksanaan kerja
praktek pada proyek tersebut antara lain:
1. Pekerjaan Bekesting.
2. Pekerjaan Pembesian.
3. Pekerjaan Pengecoran.
4. Pekerjaan Perawatan.

1.4.4. Manajemen Proyek.
Manejemen proyek adalah suatu kegiatan yang mengatur dan
mengendalikan berbagai ragam kegiatan orang atau sekelompok orang untuk
mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Sedangkan proyek adalah
sekumpulan kegiatan yang menggunakan sumber daya untuk memperoleh hasil atau
manfaat dan tujuan yang diharapkan semaksimal dan seefisien mungkin.
Manejemen pelaksaan proyek adalah suatu proses pengaturan yang terdiri
dari tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang
dilakukan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dengan memanfaatkan berbagai
sumber daya. Sumber daya yang tercakup dalam sektor kontruksi adalah manusia,
modal (uang), peralatan, material serta informasi dan teknologi.

Tujuan dari konsep manajemen konstruksi adalah bagaimana kita dapat
melakukan sumber daya yang tersedia untuk dapat menghasilkan kinerja seoptimal
mungkin.

Manajemen proyek mempunyai 5 (lima) fungsi atau prinsip kerja yang
harus dilakukan yaitu :
1. Membuat perencanaan (planning)
Pada intinya adalah mengambil keputusan dalam arti menetapkan
beberapa alternatif dan kemudian memilih salah satu alternatif yang baik.
2. Menyusun organisasi proyek (organizing and staffing)
Pada intinya dalam proses ini dilakukan penyusunan organisai proyek
yang terkait secara langsung maupun tidak langsung meliputi struktur
organisasi, pembentukan tim secara tanggung jawab atau wewenang
masing-masing bidang sehingga terbentuk suatu mekanismeyang saling
mendukung antara satu dengan yang lain.
3. Pelaksanaan (implementin )
Pada intinya adalah mengkoordinir atau organisir agar sesuai dengan
pelaksanaan, spesifikasi teknis dan gambar yang telah disepakati dalam
tender.
4. Melakukan pengendalian (controlling)
Pada intinya adalah membandingkan realisasi dengan rencana apabila
terjadi penyimpangan, maka harus segera dicari sebab-sebabnya dan
diambil tindakan koreksi (replanning).
5. Memimpin (directing)
Pada intinya adalah memimpin dan mengkoordinir keempat fungsi diatas
yaitu planning, organizing dan staffing, implementing dan controlling
agar tujuan yang akan dicapai terlaksana dengan baik.
1.5. Stuktur Organisasi Pelaksanaan Proyek
Dalam pelaksanaan kerja suatu royek tidak terlepas dari Organisasi proyek.
Organisasi Proyek diperlukan untuk mendukung dan mempermudah pekerjaan yang
dilaksanakan di lapangan. Pada pelaksanaan pembangunan ini melibatkan beberapa
unsur organisasi.




Adapun unsur unsur yang terlibat dalam pelaksanaan proyek ini saling mendukung
dan mempunyai tugas serta tanggung jawab masing masing, unsur unsur tersebut
antara lain :
1. Pemilik Proyek (owner)
2. Konsultan
*Konsultan pengawas
*Konsultan perencana
3. Kontraktor
4. Bendahara
5. Logistik
6. Pengawas
7. Drafter


STUKTUR ORGANISASI
PROYEK PEMBANGUNAN BADAN PUSAT STATISTIK
SUMATERA UTARA TUJUH LANTAI
OWNER
(BPS - SU)
Konsultan Pengawas
(CV. ABDI KRIASY
KONSULTAN)
Kontraktor
(PT. HUTOMO
MANDALA PERKASA)
Logistik
(YUDHI)
Pengawas
(A. SIAGIAN)
Drafter
(FAISAL DAULAY, ST)
Bendahara
(JIMMY)
Konsultan Perencana
(CV. ABDI KRIASY
KONSULTAN)

JL. ASRAMA NOMOR 179 MEDAN











1.5.1Tugas dan Wewenang
Tugas dan wewenang masing-masing unsur dalam struktur organisasi
proyek harus dilakukan sedemikian rupa oleh masing-masing pihak, sehingga dalam
pelaksanaan proyek dapat dicapai mutu, bahan dan biaya yang ditargetkan dengan
memanagement dan efisien.

1.5.1.1.Owner / Pemilik Proyek
Pemilik Proyek adalah seseorang, intansi pemerintah atau swasta yang
berkeinginan menderikan bangunan. Pemilik proyek bila berkeinginan menderikan
suatu bangunan akan menyampaikan keinginan tersebut kepada ahli agar dapat
direncanakan bentuknya dengan biaya yang diperlukan.
Adapun tugas dan tanggung jawab sebagai kuasa pemilik proyek adalah:
1. Harus menyediakan dana sesuai dengan petunjuk operasional.
2. Membentuk panitia tender atau lelang yang berfungsi memilih proyek
dalam melaksanakan pembangunan.
3. Memutuskan pemenang tender yang di ajukan panitia tender.
4. Mengadakan ikatan perjanjian dengan perencana, pengawas dan panitia
tender.
5. Bertanggung jawab kepada semua pihak seperti tercantum didalam surat
perjanjian, yaitu membayar semua biaya bangunan, biaya pengawas,
biaya perencanaan, biaya pelaksana dan biaya pajak bangunan.
6. pekerjaan harus selesai tepat pada waktunya. Pada proyek ini yang
bertindak sebagai pemilik proyek adalah BPS - SU

1.5.1.2. Konsultan
1. Konsultan Perencana.
Perencana adalah seseorang atau badan usaha jasa yang memiliki tenaga ahli
yang bergerak dalam bidang pembuatan yang berupa gambar gambar konstruksi,
plumbing, listrik, dan site development.
Adapun tugas dan tanggung jawab perencana adalah :
1. Menyusun rencana pelaksanaan proyek
2. Memberi uraian tentang maksud dan tujuan perencana.
3. Memberi gambar lengkap, rencana arsitektur dan gambar detailnya.
4. Memberi penjelasan pada waktu dilaksanakan pelelengan dan
melaksanakan pengawasan secara berkala selama proyek sedang
berlangsung.
Sebagai konsultan perencana pada proyek ini adalah CV. ABDI KRIASY

2. Konsultan Pengawas.
Pengawas adalah orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan
pekerjaan sehingga barjalan lancer, tepat waktu, denga mutu yang terjamin dan biaya
yag efisien.

Tugas dan tanggung jawab dari pengawas adalah :
1. Mengawasi jalannya pekerjaan konstruksi dan mengontrol kualitas dan
kuantitas bahan bahan yang dipakai serta pelaksanaannya di lapangan.
2. Mengawasi kekuatan bangunan, ketepatan waktu kerja dan anggaran
biayanya.
3. Menyusun berita acara persetujuan kemajuan pekerjaan (bobot kemajuan)
untuk pembayaran termin, pemeliharaan,, pekerjaan, serah terima
pertama dan kedua pekerjaan di konstukri.
4. Membuat laporan harian, mingguan dan bulanan.
5. Menyesuaikan bastek dengan pekerjaan di lapangan.
6. Penetapan konstruksi teknis bila terjadi penyimpangan suatu pekerjaan,
mengadakan kordinasi antara pelaksana dan sub pelaksana.
7. Menyusun daftar daftar kekurangan dan cacat cacat yang ada selama
masa pemeliharaan.
Yang bertanggung jawab sebagai konsultan pengawas dalm proyek ini A. Silalahi
1.5.1.3. Kontraktor.
Kontraktor merupakan pihak yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk
melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar-gambar kerja, peraturan-peraturan
dan syarat yang telah ditetapkan oleh pihak konsultan perencana. Apabila seluruh
pekerjaan telah selesai dilaksanakan oleh kontraktor sesuai dengan perjanjian
kontrak, maka hasil pekerjaan itu diserahkan kepada pemberi tugas.
Apabila akan memulai pekerjaan dilapangan dan untuk melancarkan
pekerjaan itu maka pihak pemborong menempatkan seorang pelaksana yang ahli,
yang diberi kuasa penuh oleh direksi/direktur pemborong untuk bergerak atas
namanya. Dalam proyek ini yag bertindak sebagai kontraktor adalah : PT.
HUTOMO MANDALA PERKASA
1.5.1.4.1.Stuktur Organisasi Kontraktor.
Perancangan dan penyusun organisasi proyek pada umumnya
menggunakan pendekatan kontingensi ( contingensi approach ), yaitu dengan
melihat situasi, kondisi yang tidak ada satupun struktur organisasi yang efektif dan
efisien untuk segala macam situasi dan keperluan.
Menurut James A.F Stoner (1982) menjelaskan bahwa variable-variabel
kunci yang mempengaruhi penentuan struktur oganisasi adalah strategi, lingkungan
tempat proyek beroperasi, teknologi yang dugunakan dalam pelaksanaan pekerjaan
dan karakteristik anggota manajemen. Sedangkan untuk pihak kontraktor,
sebagaimana layaknya penyusunan tim proyek dari suatu perusahaan jasa konstruksi
yang bertindak sebagai kontraktor utama (main contraktor), maka tim proyek akan
terdiri dari :
a. Proyek manager (PM) sebagai kepala tim.
b. Tim inti yang bertugas penuh untuk proyek.
c. Bidang fungsional yang mendukung serta menangani kegiatan pekerjaan
proyek.
Tim inti poyek bertugas menyelenggarakan pekerjaan proyek yang
dipimpin oleh projek manager. Anggota tim dapat berasal dari oganisasi perusahaan
itu sendiri atau dari luar perusahaan (merekrut). Dengan demikian pada suatu tim inti
proyek tersebut, maka personil yang diperlukan pada pembangunan proyek ini
adalah:
1. Proyek Manager (Kepala Proyek)
Yaitu organisator dan koordinat proyek yang bertanggung jawab atas
pelaksanaan proyek secara keseluruhan, baik secara teknis maupun administratif dan
keuangan serta lingkungan. Proyek manager bertanggung jawab pada Bouwheer atau
pemberi tugas. Adapun yang menjadi projek manager dalam proyek pembangunan
gedung ini adalah

2. Site Manager
Seorang site manager dituntut untuk bisa mengambil keputusan yang tepat,
cepat dan bijaksana serta bertanggung jawab dengan tidak meninggalkan spesifikasi
pekerjaan yang telah ditentukan.

3. Wakil Site Manager
Membantu seorang site manager dilapangan pada suatu proyek.
4. Pelaksana
Tugas dan wewenang dari pelaksanaan utama adalah :
a) Merencanakan dan menentukan metode kerja.
b) Pengadaan dan menentukan metode kerja.
c) Bertanggung jawab atas kelancaran pekerjaan proyek yang sesuai
dengan spesifikasi dan ketepatan waktu serta sesuai dengan anggaran
yang tersedia (membuat laporan kemajuaan pekerjaan atau progress).
d) Melakukan opname pekerjaan untuk mandor dan bertanggung jawab
kepada site manager.
e) Mengkoordinasi tugas rumah tangga, lingkungan, keamanan dan
kesehatan pekerja dan staff.

5. Operator
Untuk proyek konstruksi ini pihak pelaksana menempatkan beberapa orang
sebagai operator dilapangan yang mana tugasnya :
Operator I : Operator ini bertugas untuk menyusun semua
schedule kegiatan proyek.
Operator II : Operator tersebut bertugas membuat seluruh laporan
kegiatan yang berlangsung.
Operator III : Operator ini mempunyai tugas sebagai pengadaan
material serta alat yang digunakan.
Operator IV : Operator ini mengkoordinir tukang-tukang yang
berkerja pada tiap pelaksanaan proyek dilapangan,
serta mengawasi dan melaksanakan kegiatan
keamanan selama kegiatan berlangsung.

1.5.1.4.2. Bendahara
Tugas dan Tanggung jawab Bendahara Umum :
1. Menyimpan dan mengeluarkan dana perusahaan atas instruksi Board of
Director.
2. Bertanggung jawab atas segala yang terjadi menyangkut keuangan
perusahaan atas kelalaian sendiri.
3. Mengatur kebutuhan mengenai keuangan perusahaan sesuai dengan skedul
perusahaan.
4. Menyusun laporan keuangan perusahaan.
1.6. Metode Penulisan
Sebagai penunjang pembuatan laporan kerja praktek ini dibutukan data yang
jelas dan akurat yang berkenaan dengan permasalahan tersebut diatas. Dalam hal ini
pratikan telah mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Riset Lapangan
Yaitu pengamatan dan penelitian yang dilakukan secara langsung dilokasi
proyek. Dalam penyusunan laporan ini, praktikan mengumpulkan dengan metode
sebagai berikut :
1. Melakukan study mengenai proyek tersebut meliputi spesifikasi teknik,
gambar-gambar dan volume pekerjaan.
2. Melakukan pengamatan langsung kelapangan tempat pekerjaan yang
dilaksanakan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting.
3. Melakukan konsultasi dan wawancara secara langsung kepada pembimbing
lapangan, dan para pekerja dilapangan.
4. Mengambil dukumentasi kegitan di lapangan.

2.Riset Perpustakaan
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan membaca dan mengambil data dari
berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah yang ditelilti.











BAB II
DESKRIPSI TEORI

2.1. Defenisi Kolom dan Balok.
Struktur adalah bagian yang tak terpisahkan dari ilmu keteknisipilan. Definisi
sederhana tentang struktur dalam hubungannya dengan bangunan adalah bahwa
stuktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban dan akibat penggunaan dan
kehadiran bangunan ke dalam tanah.
Dalam perencanaan Struktur harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
- Analisa struktur harus dilakukan dengan cara cara mekanika teknik yang
baku.
- Analisis dengan komputer, harus memberitahukan prinsip cara kerja program
dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukkan serta penjelasan data
keluaran.
- Percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis
teoritis.
- Analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematis yang
mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat
bahan dan kekakuan unsur-unsurnya.

Kolom dan balok merupakan salah satu bagian dari struktur tersebut.
Kolom juga merupakan Element Vertikal yang sangat banyak digunakan,
bahkan dinding pemikul beban itu sebenarnya dapat dipandang sebagai kolom yang
diperluas disatu bidang. Kolom tidak selalu harus berarah vertikal, Meskipun suatu
element struktur bias berarah miring asalkan memenuhi definisi kolom.
Kolom yaitu beban (Aksial) hanya diberikan di ujung-ujung nya dan tidak
ada beban transfersal, element struktur dapat disebut kolom. Dengan demikian
kolom tidak mengalami lentur secara langsung (tidak ada beban tegak lurus terhadap
sumbunya).
Kapasitas pikul beban dan panjang element struktur yang mengalami tekan.
Fenomena tekuk pada umumnya menyebabkan terjadinya pengurangan kapasitas
pikul beban element tekan. Tegangan aksial aktual yang ada pada kolom simetris,
panjang maupun pendek,selalu diberikan oleh F=P/A. Taraf tegangan pada saat
kegagalan terjadi pada panjang dan pendeknya kolom.
Balok digunakan untuk mentransfer beban vertikal secara horizontal sejak
pertama kali gedung dibangun.
Meskipun dianggap sederhana dalam hal konstruksi, balok mempunyai
karakteristik yang rumit dalam memikul beban dibandingkan dengan jenis elemen
struktur yang lain. Apabila digunakan untuk membentuk sistem struktural pada
gedung, elemen pemikul balok adalah yang paling banyak digunakan dengan pola
berulang. Element pemikul beban yang merupakan bidang (misalkan papan,lantai)
mempunyai kemampuan membentang terbatas sehingga pada umumnya ditumpu
pada jarak-jarak tertentu oleh element sekunder yang terbentang lebih besar sehingga
terbentuk system dua arah.
Proses penentuan ukuran balok yang telah diketahui bentangnya, merupakan
proses yang relatif langsung dan terdiri atas penentuan beban yang bekerja. Variabel
dasar yang penting dalam design adalah besar beban yang ada, jarak antara beban-
beban, dan perilaku kondisi tumpuan balok.
2.2. Sambungan Balok ke Kolom.
Perencanaan semua sambungan balok ke kolom yang dipergunakan pada
sistem pemikul beban gempa harus didasarkan pada hasil pengujian kualifikasi yang
menunjukkan rotasi inelastik sekurang-kurangnya sama dengan momen plastic
nominal balok Mp pada saat terjadinya rotasi inelastik.
Gaya geser terfaktor Vu, sambungan balok ke kolom harus ditentukan
menggunakan kombinasi beban dari bekerjanya momen lentur sebesar 1,1 Ry Rr Z
pada arah yang berlawanan masing-masing ujung balok, sebagai alternatif , nilai Vu
yang lebih kecil dapat digunakan selama dapat dibuktikan menggunakan analisis
yang rasional. Gaya geser terfaktor tidak perlu lebih besar daripada gaya geser yang
dihasilkan oleh kombinasi pembebanan (t > ( dz + wz))/90.

2.3. Daerah panel pada sambungan Balok ke Kolom.
Kuat geser terfaktor Vu pada daerah panel ditentukan berdasarkan momen
lentur balok sesuai dengan kombinasi pembebanan :

Nu 0,75 Nu; uv Vn = 0,6 uv fy dctp

+
dbdctp
cf bcft
2
3
1
Dan
Bila Nu > 0,75 Ny = 0,6 uv fy dctp

+
dbdctp
cf bcft
2
3
1


Ny
Nu 2 , 1
1
Dimana :
tp : tebal total daerah panel termasuk pelat pengganda.
dc : tinggi keseluruhan penampang kolom.
bcf : lebar sayap kolom.
db : tinggi bruto penampang balok.
fy : tegangan leleh bahan baja pada daerah panel.
Pelat-pelat pengganda pada daerah panel


2.4 Lentur pada Balok.
Beban-beban yang bekerja pada struktur, baik yang berupa beban gravitasi (
berarah vertikal) maupun beban-beban lain, seperti beban angin (dapat berarah
horizontal) atau juga beban kaarena susut dan beban karena perubahan temperatur
menyebabkan adanya lentur dan deformasi pada elemen struktur. Lentur pada balok
merupakan akibat dari adanya regangan yang timbul karena adanya beban luar.
Apabila bebannya bertambah, maka pada balok terjadi deformasi dan regangan
tambahan yang mengakibatkan timbulnya atau bertambahnya letak lentur
disepanjang bentang balok. Bila bebannya terus bertambah, pada akhirnya dapat
terjadi keruntuhan elemen struktur, yaitu pada saat beban luarnya mencapai kapasita
taraf elemen pembebanan demikian disebut keadaan limit dari keruntuhan pada
lentur. Karena itulah perencana harus mendesain penampang balok elemen balok
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi retak yang berlebihan pada saat beban kerja.
Tegangan-tegangan lentur merupakan hasil dari momen lentur luar. Tegangan ini
hampir selalu menentukan dimensi geometris penampang beton bertulang. Proses
desain yang mencakup pemilihan dan analisis pemampang dimulai dengan
pemenuhan syarat terhadap lentur, kecuali untuk komponen struktur yang khusus
seperti pondasi. Setelah itu faktor-faktor lain seperti kapasitas geser, defleksi, retak,
dan panjang penyaluran tulangan dianalisis sampai memenuhi persyaratan. Prinsip-
prinsip mekanika dasar mengenai keseimbangan merupakan hal yang harus
terpenuhi untuk setiap keadaan pembebanan.
2.5 Asumsi-asumsi yang digunakan dalam Penerapan Perilaku Penampang.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam menetapkan perilaku penampang
adalah sebagai berikut :
1. Distribusi regangan dianggap linier. Asumsi ini berdasarkan hipotesis
Bernoulli, yaitu penampang yang datar sebelum mengalami lentur akan tetap
datar dan tegak lurus terhadap sumbu netral setelah mengalami lentur.
2. Regangan pada baja dan beton di sekitarnya sama, sebelum terjadi retak pada
beton atau leleh pada baja.
3. beton lemah terhadap tarik. Beton akan retak pada taraf pembebanan kecil,
yaitu sekitar 10% dari kekuatan tekannya. Akibatnya bagian beton yang
mengalami tarik pada penampang diabaikan dalm perhitungan analisis dan
desain, juga tulangan tarik yang ada dianggap memikul gaya tarik tersebut.

2.6. Bahan yang Digunakan
Bahan yang dipakai harus memenuhi persyaratan dan standart serta spesifikasi
teknis yang telah ditentukan dalam Rencana Acuan Kerja agar dapat tercipta struktur
bangunan yang aman serta sesuai dengan Bestek.
Adapun bahan-bahan yang dipergunakan dalam pembangunan gedung
serbaguna antara lain :
1. Semen Portland ( PC )
2. Agregat Halus ( pasir )
3. Agregat Kasar ( kerikil )
4. Air
5. Besi Tulangan
6. Kayu

2.6.1. Semen Portland (PC )
Semen adalah suatu jenis bahan yang memiliki sifat adhesif dan kohesif yang
memungkinkan melekatnya partikel-partikel agregat menjadi suatu massa padat
dengan bantuan air.
Persyaratan untuk semen Portland bagi beton adalah :
1. Menurut Peraturan Semen Portland Indonesia pada Peraturan Beton Bertulang
Indonesia 1971 ( NI 2 ), dengan perbandingan campuran ditentukan dalam
berat dan tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 25%.
2. Semen Portland yang digunakan harus diperiksa di laboratorium dan hasilnya
harus diberitahukan kepada direksi pengawas untuk mendapatkan persetujuan
dan penggunaannya.
3. Semen harus diletakkan 30 cm diatas permukaan lantai untuk menghindari
semen dari kerusakan.
Adapun semen yang dipergunakan dalam proyek ini adalah semen Portland
Type II merek Semen Padang, dengan berat 50 kg/zak yang diperoleh dari salah satu
distributor yang ada di Medan.

2.6.2. Agregat Halus ( Pasir )
Agregat halus untuk beton adalah agregat berupa pasir alam sebagai hasil
abrasi alami dari batu-batuan dan sebagai bahan pengisi dari suatu campuran beton
yang memiliki ukuran butir sebesar 0,075 5 mm.
Persyaratan untuk agregat halus ( pasir ) bagi beton bertulang menurut
SK SNI T 15 1990 03 adalah :
1. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, dengan indeks
kekerasan s 2,2.
2. Butir-butir agregat harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh
pengaruh-pengaruh cuaca, terik matahari dan hujan.
3. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%. Apabila kadar
lumpur melampaui 5%, maka agregat harus dicuci.
4. Susunan besar butir agregat halus harus mempunyai modulus kehalusan antara
1,5 3,8 dan harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Sisa diatas ayakan 4,80 mm, harus maksimum 2% berat.
b. Sisa diatas ayakan 1,20 mm, harus minimum 10% berat.
c. Sisa diatas ayakan 0,30 mm, harus minimum 15% berat.
Tidak boleh mengandung kadar garam dan bahan-bahan organik terlalu banyak
kecuali mendapat petunjuk dari lembaga yang berwenang.
Untuk agregat halus yang digunakan dalam proyek ini diambil dari Quarry
yang ada di daerah Binjai. Dari pengamatan kerja praktek di lapangan, agregat halus
yang digunakan pada proyek ini baik, karena kandungan organiknya relative kecil
dan tidak mengandung lumpur. Walaupun pada proyek ini tidak dilakukan uji
kandungan lumpur dan bahan-bahan organik di laboraturium.


2.6.3. Agregat Kasar ( Kerikil )
Agregat kasar untuk beton adalah berupa kerikil sebagai hasil abrasi alami dari
batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecah batu dan
mempunyai ukuran butiran 5 40 mm.
Persyaratan untuk agregat kasar ( kerikil ) bagi beton sesuai SK SNI T 15
1990 03 adalah :
1. Agregat kasar ini dapat berupa koral atau batu pecah, yang berukuran butiran
minimumnya adalah 5 mm, dan besar butiran maksimumnya tidak boleh lebih
besar daripada 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping dari cetakan dan
1/3 tebal pelat atau 3/4 dari jarak bersih minimum diantara batang-batang
tulangan.
2. Terdiri dari butirn kasar, keras dan tidak berpori dan tidak akan hancur dan pecah
akibat pengaruh cuaca.
3. Gradasi butiran yang beraneka-ragam yang baik serta cukup syarat kehalusannya
harus memenuhi persyaratan :
a. Sisa diatas ayakan 31,5 mm harus 0% berat.
b. Sisa diatas ayakan 4 mm antara 90% 98% dari berat.
c. Selisih antara sisi kumulatif diatas dua ayakan yang berurutan maksimum
60% berat dan minimum 10% berat.
4. Kadar lumpur dalam agregat kasar harus < 10% berat, bila kadar melebihi 10%,
maka agregat tersebut harus dicuci sampai kadar lumpur 10% atau agregat
diganti dengan agregat yang berkadar lumpur 10% berat.
5. Butiran yang pipih harus < 20% berat agregat seluruhnya.
6. Kekerasan butiran dicoba dengan percobaan laboratorium dengan menggunakan
mesin Los Angeles dimana hasil percobaan pengurangan berat yang terjadi
akibat pengausan harus < 50%.
7. Penyimpangan yang terjadi dapat diijinkan apabila penilaian dari pengawas telah
menjamin tidak akan terjadi rongga-rongga pada pengikatan agregat kasar.
8. Butir-butir bersih dan tidak berpori, batu pecah hasil dari stone crusher jumlah
butir pipih maksimum 20% berat bersih, tidak mengandung zat-zat aktif alkali
dengan ukuran rata-rata antara 4 7 mm.
Agregat kasar yang digunakan dalam proyek ini merupakan kerikil sungai yang
diambil dari Quarry. Pemakaian kerikil dalam campuran beton hanya digunakan
dalam pekerjaan pengecoran saja.

2.6.4. Air
Air yang digunakan disini adalah air sebagai bahan pembantu dalam
konstruksi, yang kegunaannya meliputi pada pembuatan dan perawatan beton,
adukan pasangan batu dan adukan plesteran.
Persyaratan untuk air bagi campuran beton adalah :
1. Tidak mengandung bahan-bahan organik yang akan menimbulkan hilangnya
kekuatan beton dan baja.
2. Tidak mengandung minyak yang menyebabkan tidak berfungsinya bahan perekat
pada beton dan baja.
3. Tidak mengandung garam dan asam alkali yang dapat merusak beton dan baja.
4. Dengan kata lain yang digunakan adalah air bersih yang dapat diminum.
Untuk mendapatkan kepastian kelayakan air, maka air harus diteliti di
laboraturium yang disetujui oleh konsultan dan pangdam.
Menurut hasil pengamatan kerja praktek di lapangan, air yang digunakan pada
proyek ini sudah baik ( sudah memenuhi syarat ) karena air yang digunakan berasal
dari instansi PDAM Tirtanadi Medan yang ada dilokasi proyek sehingga mutunya
sudah dapat dijamin meskipun tidak dilakukan pengujian di laboraturium.

2.6.5. Beton
Beton didapat dari pencampuran bahan-bahan agregat halus dan kasar yaitu
pasir, batu, batu pecah, atau bahan semacam lainnya, dengan menambahkan
secukupnya bahan perekat semen dan air sebagai bahan pembantu guna keperluan
reaksi kimia selama proses pengerasan dan perawatan beton berlangsung. Agregat
halus dan kasar disebut sebagai bahan susun kasar campuran yang merupakan
komponen utama beton. Nilai kekuatan serta daya tahan ( durability ) beton
merupakan fungsi dari banyak faktor diantaranya adalah nilai banding campuran dan
mutu bahan susun, metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing,
temperatur, dan kondisi perawatan pengerasannya.
Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya, dan
beton merupakan bahan bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9% 15%
saja dari kuat tekannya. Pada penggunaan sebagai komponen struktural bangunan,
umumnya beton diperkuat dengan batang tulangan baja sebagai bahan yang dapat
bekerja sama dan membantu kelemahannya, terutama pada bagian yang menahan
tarik. Dengan demikian tersusun pembagian tugas, dimana batang tulangan bertugas
memperkuat dan menahan gaya tarik, sedangkan beton hanya diperhitungkan untuk
menahan gaya tekan. Komponen ini disebut dengan beton bertulang. Dalam
perkembangannya, didasarkan pada tujuan peningkatan kemampuan kekuatan
komponen, sering juga dijumpai beton dan tulangan baja bersama-sama ditempatkan
pada bagian struktur dimana keduanya menahan gaya tekan.
Dengan sendirinya untuk mengatur kerja sama antar dua macam bahan yang
berbeda sifat dan perilakunya dalam rangka membentuk satu kesatuan perilaku
struktural untuk mendukung beban, diperlukan cara perhitungan yang berbeda
dengan apabila hanya digunakan satu macam bahan saja seperti halnya pada struktur
baja, kayu, aluminium dan sebagainya.
Kerja sama antara bahan beton dan baja tulangan hanya dapat terwujud dengan
didasarkan pada keadaan seperti berikut :
1. Lekatan sempurna antara batang tulangan baja dengan beton keras yang
membungkusnya sehingga tidak terjadi penggelinciran diantara keduanya. Beton
yang mengelilingi batang tulangan baja bersifat kedap air sehingga mampu
melindungi dan mencegah terjadinya karat baja.
2. Angka muai kedua bahan yang hampir sama, dimana untuk setiap kenaikkan
suhu satu derajat celcius angka muai beton 0,000010 sampai 0,000013
sedangkan baja 0,000012 sehingga tegangan yang timbul karena perbedaan nilai
dapat diabaikan.
Sebagai konsekuensi dari lekatan yang sempurna antara kedua bahan didaerah
tarik satu komponen struktur akan terjadi retak-retak beton didekat baja tulangan.
Retak yang halus demikian dapat diabaikan sejauh tidak mempengaruhi penampilan
struktural komponen yang bersangkutan.

2.6.6. Adukan Beton
Beton sebagai bahan yang berasal dari pengadukan bahan-bahan susun agregat
kasar dan halus kemudian diikat dengan semen yang bereaksi dengan air sebagai
bahan perekat, harus dicampur dan diaduk dengan benar dan merata agar dapat
dicapai mutu beton yang baik. Pada umumnya pengadukan bahan beton dilakukan
dengan menggunakan mesin, kecuali jika hanya untuk mendapatkan beton mutu
rendah pengadukan dapat dilakukan tanpa menggunakan mesin pengaduk.
Kekentalan adukan beton harus diawasi dan dikendalikan dengan cara memeriksa
slump pada setiap adukan beton baru. Nilai slump digunakan untuk petunjuk
ketepatan jumlah pemakaian air dalam hubungannya dengan faktor air semen yang
ingin dicapai. Lamanya proses pengadukan tergantung pada kapasitas isi mesin
pengadukan, jumlah adukan, jenis serta susunan butir bahan adukan, dan hasil
adukannya harus menunjukkan susunan dan warna yang merata.
Sesuai dengan tingkat mutu beton yang hendak dicapai perbandingan campuran
bahan susun harus ditentukan agar yang dihasilkan memberikan :
1. Kelecakan dan konsistensi yang memungkinkan pengerjaan beton ( penuangan,
perataan, dan pemadatan ) dengan mudah kedalam acuan dan sekitar tulangan
baja tanpa menimbulkan kemungkinan terjadinya segregasi atau pemisahan
agregat dan bleeding air.
2. Ketahanan terhadap kondisi lingkungan khusus ( kedap air, korosi dan lain-lain ).
3. Memenuhi uji kuat yang hendak dicapai.

Untuk kepentingan pengendalian mutu disamping pertimbangan ekonomis,
beton dengan nilai kuat tekan fc lebih dari 20 MPa. Perbandingan campuran bahan
susun beton baik pada percobaan maupun produksinya harus didasarkan pada
penakaran berat. Untuk beton dengan nilai fc s/d 20 MPa pada pelaksanaan
produksinya boleh menggunakan teknik penakaran volume, dimana volume tersebut
adalah hasil dari konversi takaran berat sewaktu membuat rencana campuran.
Dalam pelaksanaan pekerjaan beton dimana angka perbandingan antarfraksi
bahan susunannya didapatkan dari percobaan campuran rencana, harus diperhatikan
bahwa jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maksimum yang
digunakan harus disesuaikan dengan keadaan sekeliling.

Persyaratan Beton sebagai Bahan Bangunan
Kelas dan Mutu Beton
Kelas Mutu bk kg/cm Minimum Tujuan Pemeriksaan
I BO Non Struktural
II B1 Struktural
III K - 125
K 175
K 225
K > 225

bk = bm 1,64 S
Struktural
Struktural
Struktural
Struktural

Pada proyek ini beton yang digunakan pada gambar kerja, kekuatan dan
penggunaan beton adalah beton structural yang meliputi pekerjaan beton biasa.
Keterangan :
bk = Tegangan beton karakteristik
bm = Tegangan beton minimum
S = Standar deviasi

2.6.7. Besi Tulangan
Besi tulangan pada beton berfungsi sebagai penahan gaya tarik dan lentur
akibat momen yang bekerja pada konstruksi beton tulangan.
Persyaratan untuk besi tulangan bagi beton adalah :
1. Besi digunakan sebagai tulangan pada beton tidak boleh menunjukkan adanya
retak-retak, karat sisik, adanya lipatan dan gelombang yang menyebabkan
kurangnya daya lekat antara besi dan beton.
2. Adanya sertifikasi dari pabrik dan sertifikasi dari laboraturium.
3. Laboraturium tempat pangujian besi harus pabrik yang telah disetujui oleh
direksi.
Besi tulangan yang digunakan dalam proyek ini berasal dari peleburan besi
Gunung Agung di Belawan. Berdasarkan hasil pengamatan kerja praktek di
lapangan, baja tulangan yang dipakai dalam proyek ini sudah cukup baik (
memenuhi syarat ) karena besi tulangannya tidak mengandung karat maupun serpih-
serpih, lipatan-lipatan, retak-retak dan gelombang-gelomnbang.

2.6.8. Kayu
Kayu yang dimaksudkan disini adalah kayu yang digunakan sebagai bahan
bangunan, sebagai alat untuk membuat bekesting. Kayu yang digunakan sebagai
bahan bangunan adalah kayu olahan yang diperoleh dengan jalan mengkonversikan
kayu bulat menjadi kayu berbentuk balok, papan ataupun bentuk-bentuk lain yang
sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Persyaratan untuk kayu adalah :
1. Dibuat kuat dan kaku sehingga sewaktu pengecoran dilakukan tidak terjadi
lenturan pada konstruksi.
2. Agar konstruksi tidak berubah bentuk pada saat pembongkaran, maka dipakai
sistem penyanggahan.
3. Untuk tidak melekatkan bekesting dengan beton maka sewaktu bekesting belum
digunakan, diolesi terlebih dahulu dengan minyak.
4. Bila terdapat sambungan sewaktu pembuatan bekesting maka sedapat mungkin
sambungannya tidak bocor yang akan mengeluarkan air semen dari
bekestingnya.
5. Kayu sebagai bahan bangunan dapat dibagi dalam tiga golongan pemakaian
yaitu:

a. Kayu Bangunan Struktural
Adalah kayu bangunan untuk digunakan dalam struktur bangunan.
b. Kayu Bangunan Non Struktural
Adalah kayu bangunan untuk digunakan dalam bagian bangunan yang
tidak berfungsi sebagai struktur bangunan.
c. Kayu Bangunan untuk Keperluan Lain
Adalah kayu bangunan yang tidak termasuk kedua golongan tersebut
diatas tetapi dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan penolong
ataupun bangunan sementara.

2.7. Formulasi-Formulasi yang Digunakan
Pemeriksaan tebal pelat berdasarkan syarat-syarat lendutan
Ln
1
= L
1
0,25 ( Arah memanjang )
Ln
2
= L
2
0,25 ( Arah melebar )

Nilai banding panjang terhadap lebar bentang bersih
=
2
1
Ln
Ln

Pemeriksaan lendutan menggunakan persamaan :
h min =
) 9 ( 36
1500
8 , 0
| +
+
Fy

1
Ln

h max =
36
1500
8 , 0
Fy
+

1
Ln
Syarat mengambil h, h min < h < hn max
Lebar flens efektif ( b
eff
)
1. b
eff
= L
1

2. b
eff
= bw + ( 16 ht )
3. b
eff
= jarak dari pusat kepusat balok
Maka diambil nilai b
eff
yang terkecil
Kekuatan efektif (
m
o )
m
o =
4
1

Ipx
Ib
+
2
1

Ipy
Ib

h =
)
`

|
.
|

\
|
+ +
+
|
o |
1
1 12 , 0 5 36
1500
8 , 0
m
f y
Ln
1

Kontrol h, h < h rencana

Perhitungan penulangan pelat
Wu = ( 1,2
DL
W ) + ( 1,6
LL
W )

Arah memanjang ( arah Y )
Mo = 1/8 Wu ( Ln
1
)
2
L
1

Arah melebar ( arah X )
Mo = 1/8 Wu ( Ln
2
)
2
L
2


Faktor distribusi momen
Mu = 0,65 Mo ( Momen Tumpuan Dalam = MTD )
Mu = 0,35 Mo ( Momen Lapangan = ML )
Mu = 0,65 Mo ( Momen Tumpuan Luar = MTL )

Penulangan
Momen Tumpuan dan Momen Lapangan ( Arah y dan Arah x)
MTD = MTL Mu = As fy ( d a )
Anggap p. ( d a ) = 0,9 d

As =
( ) a d fy
Mu
2 / 1

a =
b c f
fy As

' 85 , 0

Maka As =
( ) a d fy
Mu
2 / 1


Setelah nilai As diperoleh, dilihat dari tabel penulangan pelat.








BAHAN YANG DIGUNAKAN

Bahan yang dipakai harus memenuhi persyaratan dan standar serta spesifikasi
teknis yang telah di tentukan dalam rencana acuan kerja agar dapat tercipta struktur
bangunan yang aman serta sesuai dengan bestek.
Adapun bahan bahan yang dipergunakan dalam pembangunan gedung
antara lain :
1. Semen
2. Agregat Halus ( pasir )
3. Agregat kasar ( karikil )
4. air
5. beton segar
6. besi beton
7. kayu
8. besi penyangga

SEMEN
Semen adalah suatu hasil produksi yang dibuat di pabrik semen. Pabrik-
pabrik semen memproduksi bermacam-macam jenis semen dengan sifat-sifat dan
karakteristik yang berlainan.

Semen dibedakan dalam dua kelompok utama yakni :
1. Semen dari bahan klinker-semen-portland
- Semen Portland
- Semen Portland abu terbang
- Semen Portland berkadar besi
- Semen tanur-tinggi ( hoogovencement )
- Semen Portland traz/ puzzolan
- Semen Portland putih.

2. Semen-semen lain
- Aluminium semen
- Semen bersulfat.

Perbedaan di atas berdasarkan karakter karakter dari reaksi pengerasan
kimiawi. Semen-semen dari kelompok-1 yang satu dan yang lain tidak saling
bereaksi (membentuk persenyawaan lain), semen kelompok-2 bila saling dicampur
atau bercampur dengan kelompok-1 akan membentuk persenyawaan baru. Ini berarti
semen dari kelompok-2 tidak boleh dicampur. Semen Portland dan semen Portland
abu terbang adalah semen yang umum dipakai di Indonesia.

Dalam hal kecepatan dari perkembangan kekuatan, jenis-jenis semen dibedakan
dalam tiga kelas :

Kelas A : semen dengan kekuatan awal yang normal
Kelas B : semen dengan kekuatan awal tinggi
Kelas C : semen dengan kekuatan awal sangat tinggi.

Agregat Halus ( Pasir )
Agregat halus untuk beton adalah agregat berupa pasir alam sebagai hasil
abrasi alami dari batu-batuan dan sebagai bahan pengisi dari suatu campuran beton
yang memiliki ukuran butir sebesar 0,075 5 mm.
Persyaratan untuk agregat halus ( pasir ) bagi beton bertulang menurut SK
SNI T 15 1990 03 adalah :
5. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, dengan indeks
kekerasan s 2,2.
6. Butir-butir agregat harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh
pengaruh-pengaruh cuaca, terik matahari dan hujan.
7. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%. Apabila kadar
lumpur melampaui 5%, maka agregat harus dicuci.
8. Susunan besar butir agregat halus harus mempunyai modulus kehalusan antara
1,5 3,8 dan harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Sisa diatas ayakan 4,80 mm, harus maksimum 2% berat.
b. Sisa diatas ayakan 1,20 mm, harus minimum 10% berat.
c. Sisa diatas ayakan 0,30 mm, harus minimum 15% berat.
Tidak boleh mengandung kadar garam dan bahan-bahan organik terlalu banyak
kecuali mendapat petunjuk dari lembaga yang berwenang.
Untuk agregat halus yang digunakan dalam proyek ini diambil dari Quarry
yang ada di daerah Binjai. Dari pengamatan kerja praktek di lapangan, agregat halus
yang digunakan pada proyek ini baik, karena kandungan organiknya relative kecil
dan tidak mengandung lumpur. Walaupun pada proyek ini tidak dilakukan uji
kandungan lumpur dan bahan-bahan organik di laboraturium.

2.6.3. Agregat Kasar ( Kerikil )
Agregat kasar untuk beton adalah berupa kerikil sebagai hasil abrasi alami dari
batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecah batu dan
mempunyai ukuran butiran 5 40 mm.
Persyaratan untuk agregat kasar ( kerikil ) bagi beton sesuai SK SNI T 15
1990 03 adalah :
9. Agregat kasar ini dapat berupa koral atau batu pecah, yang berukuran butiran
minimumnya adalah 5 mm, dan besar butiran maksimumnya tidak boleh lebih
besar daripada 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping dari cetakan dan
1/3 tebal pelat atau 3/4 dari jarak bersih minimum diantara batang-batang
tulangan.
10. Terdiri dari butirn kasar, keras dan tidak berpori dan tidak akan hancur dan pecah
akibat pengaruh cuaca.
11. Gradasi butiran yang beraneka-ragam yang baik serta cukup syarat kehalusannya
harus memenuhi persyaratan :
a. Sisa diatas ayakan 31,5 mm harus 0% berat.
b. Sisa diatas ayakan 4 mm antara 90% 98% dari berat.
c. Selisih antara sisi kumulatif diatas dua ayakan yang berurutan maksimum
60% berat dan minimum 10% berat.
12. Kadar lumpur dalam agregat kasar harus < 10% berat, bila kadar melebihi 10%,
maka agregat tersebut harus dicuci sampai kadar lumpur 10% atau agregat
diganti dengan agregat yang berkadar lumpur 10% berat.
13. Butiran yang pipih harus < 20% berat agregat seluruhnya.
14. Kekerasan butiran dicoba dengan percobaan laboratorium dengan menggunakan
mesin Los Angeles dimana hasil percobaan pengurangan berat yang terjadi
akibat pengausan harus < 50%.
15. Penyimpangan yang terjadi dapat diijinkan apabila penilaian dari pengawas telah
menjamin tidak akan terjadi rongga-rongga pada pengikatan agregat kasar.
16. Butir-butir bersih dan tidak berpori, batu pecah hasil dari stone crusher jumlah
butir pipih maksimum 20% berat bersih, tidak mengandung zat-zat aktif alkali
dengan ukuran rata-rata antara 4 7 mm.
Agregat kasar yang digunakan dalam proyek ini merupakan kerikil sungai yang
diambil dari Quarry. Pemakaian kerikil dalam campuran beton hanya digunakan
dalam pekerjaan pengecoran saja.
2.6.4. Air
Air yang digunakan disini adalah air sebagai bahan pembantu dalam
konstruksi, yang kegunaannya meliputi pada pembuatan dan perawatan beton,
adukan pasangan batu dan adukan plesteran.
Persyaratan untuk air bagi campuran beton adalah :
5. Tidak mengandung bahan-bahan organik yang akan menimbulkan hilangnya
kekuatan beton dan baja.
6. Tidak mengandung minyak yang menyebabkan tidak berfungsinya bahan perekat
pada beton dan baja.
7. Tidak mengandung garam dan asam alkali yang dapat merusak beton dan baja.
8. Dengan kata lain yang digunakan adalah air bersih yang dapat diminum.
Untuk mendapatkan kepastian kelayakan air, maka air harus diteliti di
laboraturium yang disetujui oleh konsultan dan pangdam.
Menurut hasil pengamatan kerja praktek di lapangan, air yang digunakan pada
proyek ini sudah baik ( sudah memenuhi syarat ) karena air yang digunakan berasal
dari instansi PDAM Tirtanadi Medan yang ada dilokasi proyek sehingga mutunya
sudah dapat dijamin meskipun tidak dilakukan pengujian di laboraturium.
2.6.5. Beton

Beton adalah pencampuran bahan-bahan agregat halus dan kasar yaitu pasir,
batu, batu pecah, atau bahan semacam lainnya, dengan menambahkan secukupnya
bahan perekat semen dan air sebagai bahan pembantu guna keperluan reaksi kimia
selama proses pengerasan dan perawatan beton berlangsung. Agregat halus dan kasar
disebut sebagai bahan susun kasar campuran yang merupakan komponen utama
beton. Nilai kekuatan serta daya tahan ( durability ) beton merupakan fungsi dari
banyak faktor diantaranya adalah nilai banding campuran dan mutu bahan susun,
metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing, temperatur, dan kondisi
perawatan pengerasannya.
Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya, dan
beton merupakan bahan bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9% 15%
saja dari kuat tekannya. Pada penggunaan sebagai komponen struktural bangunan,
umumnya beton diperkuat dengan batang tulangan baja sebagai bahan yang dapat
bekerja sama dan membantu kelemahannya, terutama pada bagian yang menahan
tarik. Dengan demikian tersusun pembagian tugas, dimana batang tulangan bertugas
memperkuat dan menahan gaya tarik, sedangkan beton hanya diperhitungkan untuk
menahan gaya tekan. Komponen ini disebut dengan beton bertulang. Dalam
perkembangannya, didasarkan pada tujuan peningkatan kemampuan kekuatan
komponen, sering juga dijumpai beton dan tulangan baja bersama-sama ditempatkan
pada bagian struktur dimana keduanya menahan gaya tekan.
Dengan sendirinya untuk mengatur kerja sama antar dua macam bahan yang
berbeda sifat dan perilakunya dalam rangka membentuk satu kesatuan perilaku
struktural untuk mendukung beban, diperlukan cara perhitungan yang berbeda
dengan apabila hanya digunakan satu macam bahan saja seperti halnya pada struktur
baja, kayu, aluminium dan sebagainya.
Kerja sama antara bahan beton dan baja tulangan hanya dapat terwujud dengan
didasarkan pada keadaan seperti berikut :
3. Lekatan sempurna antara batang tulangan baja dengan beton keras yang
membungkusnya sehingga tidak terjadi penggelinciran diantara keduanya. Beton
yang mengelilingi batang tulangan baja bersifat kedap air sehingga mampu
melindungi dan mencegah terjadinya karat baja.
4. Angka muai kedua bahan yang hampir sama, dimana untuk setiap kenaikkan
suhu satu derajat celcius angka muai beton 0,000010 sampai 0,000013
sedangkan baja 0,000012 sehingga tegangan yang timbul karena perbedaan nilai
dapat diabaikan.
Sebagai konsekuensi dari lekatan yang sempurna antara kedua bahan didaerah
tarik satu komponen struktur akan terjadi retak-retak beton didekat baja tulangan.
Retak yang halus demikian dapat diabaikan sejauh tidak mempengaruhi penampilan
struktural komponen yang bersangkutan.
Sesuai dengan tingkat mutu beton yang hendak dicapai perbandingan campuran
bahan susun harus ditentukan agar yang dihasilkan memberikan :
4. Kelecakan dan konsistensi yang memungkinkan pengerjaan beton ( penuangan,
perataan, dan pemadatan ) dengan mudah kedalam acuan dan sekitar tulangan
baja tanpa menimbulkan kemungkinan terjadinya segregasi atau pemisahan
agregat dan bleeding air.
5. Ketahanan terhadap kondisi lingkungan khusus ( kedap air, korosi dan lain-
lain ).
6. Memenuhi uji kuat yang hendak dicapai.
Untuk kepentingan pengendalian mutu disamping pertimbangan ekonomis,
beton dengan nilai kuat tekan fc lebih dari 20 MPa. Perbandingan campuran bahan
susun beton baik pada percobaan maupun produksinya harus didasarkan pada
penakaran berat. Untuk beton dengan nilai fc s/d 20 MPa pada pelaksanaan
produksinya boleh menggunakan teknik penakaran volume, dimana volume tersebut
adalah hasil dari konversi takaran berat sewaktu membuat rencana campuran.
Dalam pelaksanaan pekerjaan beton dimana angka perbandingan antarfraksi
bahan susunannya didapatkan dari percobaan campuran rencana, harus diperhatikan
bahwa jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maksimum yang
digunakan harus disesuaikan dengan keadaan sekeliling.

Persyaratan Beton sebagai Bahan Bangunan
Kelas dan Mutu Beton
Kelas Mutu bk kg/cm Minimum Tujuan Pemeriksaan
I BO Non Struktural
II B1 Struktural
III K - 125
K 175
K 225
K > 225

bk = bm 1,64 S
Struktural
Struktural
Struktural
Struktural

Pada proyek ini beton yang digunakan pada gambar kerja, kekuatan dan
penggunaan beton adalah beton structural yang meliputi pekerjaan beton biasa.
Keterangan :
bk = Tegangan beton karakteristik
bm = Tegangan beton minimum
S = Standar deviasi






. Besi Tulangan
Besi tulangan pada beton berfungsi sebagai penahan gaya tarik dan lentur
akibat momen yang bekerja pada konstruksi beton tulangan.
Persyaratan untuk besi tulangan bagi beton adalah :
4. Besi digunakan sebagai tulangan pada beton tidak boleh menunjukkan adanya
retak-retak, karat sisik, adanya lipatan dan gelombang yang menyebabkan
kurangnya daya lekat antara besi dan beton.
5. Adanya sertifikasi dari pabrik dan sertifikasi dari laboraturium.
6. Laboraturium tempat pangujian besi harus pabrik yang telah disetujui oleh
direksi.
Besi tulangan yang digunakan dalam proyek ini berasal dari peleburan besi
Gunung Agung di Belawan. Berdasarkan hasil pengamatan kerja praktek di
lapangan, baja tulangan yang dipakai dalam proyek ini sudah cukup baik
( memenuhi syarat ) karena besi tulangannya tidak mengandung karat maupun
serpih-serpih, lipatan-lipatan, retak-retak dan gelombang-gelomnbang.
2.6.8. Kayu
Kayu yang dimaksudkan disini adalah kayu yang digunakan sebagai bahan
bangunan, sebagai alat untuk membuat bekesting. Kayu yang digunakan sebagai
bahan bangunan adalah kayu olahan yang diperoleh dengan jalan mengkonversikan
kayu bulat menjadi kayu berbentuk balok, papan ataupun bentuk-bentuk lain yang
sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Persyaratan untuk kayu adalah :
6. Dibuat kuat dan kaku sehingga sewaktu pengecoran dilakukan tidak terjadi
lenturan pada konstruksi.
7. Agar konstruksi tidak berubah bentuk pada saat pembongkaran, maka dipakai
sistem penyanggahan.
8. Untuk tidak melekatkan bekesting dengan beton maka sewaktu bekesting belum
digunakan, diolesi terlebih dahulu dengan minyak.
9. Bila terdapat sambungan sewaktu pembuatan bekesting maka sedapat mungkin
sambungannya tidak bocor yang akan mengeluarkan air semen dari
bekestingnya.
10. Kayu sebagai bahan bangunan dapat dibagi dalam tiga golongan pemakaian yaitu
:
d. Kayu Bangunan Struktural
Adalah kayu bangunan untuk digunakan dalam struktur bangunan.
e. Kayu Bangunan Non Struktural
Adalah kayu bangunan untuk digunakan dalam bagian bangunan yang tidak
berfungsi sebagai struktur bangunan.
f. Kayu Bangunan untuk Keperluan Lain
Adalah kayu bangunan yang tidak termasuk kedua golongan tersebut diatas
tetapi dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan penolong ataupun
bangunan sementara.



Peralatan Yang Digunakan
Peralatan-peralatan yang digunakan ini sangat penting sebagai sarana pemuat,
pengangkutan atau pemindahan bahan dari lokasi ke lokasi lain atau dari lokasi lain
ke lokasi proyek dan disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang ada.
Peralatan-peralatan yang dipakai dalam proyek ini adalah sebagai berikut :
1. Molen ( Concrete Mixer )
2. Mesin Pompa Beton (Concrete Pump)
3. Kereta Sorong
4. Vibrator
5. Gunting Pemotong Besi
6. Dump Truck
7. Peralatan Pembantu
3.1.1 Molen ( Concrete Mixer )
Molen adalah mesin pengaduk campuran beton yang digunakan untuk
mengaduk bahan-bahan pembuat cor beton dan spesi dalam pemasangan dinding
bata,
Dalam pelaksanaan pekerjaan beton telah banyak digunakan mesin aduk beton
atau molen. Dengan mesin ini hasil adukan akan tercampur lebih merata dan lebih
sempurna. Selain hasil adukan baik, kecepatan adukan lebih meningkat dengan biaya
aduk lebih murah dibandingkan dengan cara mengaduk dengan tenaga manusia (
manual ).
Adukan beton yang berada didalam molen tersebut kemudian diangkat dengan
pompa hidrolik melalui saluran berbentuk pipa, kemudian adukan akan melalui pipa
tersebut disemburkan keluar pipa kedaerah yang akan dicor. Didalam
pelaksanaannya tinggi mulut pipa dari dasar daerah yang akan dicor lebih kurang
satu meter, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar agregat dari campuran beton
tidak terpisah antara satu dengan lainnya ataupun juga agar tidak terjadi penumpukan
material yang sejenis. Hal ini sungguh tidak diharapkan

3.1.2. Concrete Pump
Concrete pump adalah alat yang digunakan pada saat pengecoran yang
berfungsi sebagai alat pangangkut campuran beton yang berasal dari Concrete Mixer
( molen ) dan mobil molen ( Ready Mix ), untuk ditempatkan pada bekesting
pengecoran lantai dan balok yang lebih tinggi. Jadi campuran beton tidak dibawa
menggunakan ember.
3.1.3. Kereta Sorong
Kereta sorong adalah alat pengangkutan adukan semen, tanah timbunan dan
sebagainya sampai ke lokasi pekerjaan.
3.1.4. Vibrator
Vibrator adalah alat perojok atau alat penggetar pada saat pengecoran, yang
berfungsi sebagai pengetar campuran beton dalam bekesting yang berisi penuh
dengan beton, tetapi pemakaian vibrator tidak boleh terlalu berlebihan dan mengenai
tulangan karena dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan material dan merusak
pengikatan beton pada pengecoran yang telah dilakukan sebelumnya.
3.1.5. Gunting Pemotong Besi Tulangan
Gunting pemotong besi tulangan adalah alat untuk memotong besi tulangan
yang gunanya untuk memotong besi tulangan yang mempunyai diameter relatif
besar.
3.1.6. Dump Truck
Dump truck adalah alat transportasi pengangkutan, dimana didalam proyek ini
digunakan sebagai alat pengangkutan material-material berupa agregat halus, agregat
kasar, semen, besi tulangan dan kayu serta batu.
3.1.7. Peralatan Pembantu
Yang dimaksud peralatan pembantu adalah seperti alat pembengkok besi,
sendok spesi semen, palu, gergaji, meteran, benang, selang plastik, dan peralatan
kecil lainnya.

Pekerjaan Yang Diikuti
Pekerjaan yang diikuti dalam pembangunan SHOWROOM ini adalah sebagai
berikut :
1. Pekerjaan pemasangan perancah
2. Pekerjaan pemasangan bekisting balok, dan lantai
3. Pekerjaan pembesian balok dan lantai
4. Pekerjaan pengecoran balok dan lantai


Pekerjaan Pemasangan Perancah
Pekerjaan pemasangan perancah ini sangat perlu diperhatikan kekuatannya,
karena ini akan memikul beban coran yang besar sehingga diusahakan agar tidak
terjadi penurunan bekesting diatasnya, hal ini untuk mencegah lendutan pada pelat
lantai. Untuk itu diusahakan tiang perancah ini agar tidak terlalu jauh jarak
bentangnya ( 60 cm ). Pada proyek ini tiang perancah menggunakan kayu dari kayu
laut.
3.2.3. Pekerjaan Pemasangan Bekesting
Bekesting yang dibuat harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai
bentuk dan ukuran yang sesuai dengan gambar kerja. Untuk itu pekerjaan-pekerjaan
ini harus dikerjakan oleh orang-orang yang berpengalaman dalam pekerjaan
bekesting. Pekerjaan bekisting harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Bekesting harus cukup kuat memikul beban beton dan getaran yang terjadi pada
saat pengecoran berlangsung.
2. Bekesting harus dibuat seekonomis mungkin.
3. Pada saat pembongkaran harus dapat dengan mudah dilepas.
4. Bekesting yang dibuat harus cukup rapat untuk menghindari kebocoran.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan bekesting adalah :
1. Tebal papan bekesting harus sama, guna untuk menghindari kesulitan dalam
pembuatan bekesting.
2. Paku sebagai pengunci bekesting diusahakan mudah dibuka.


Dalam proyek ini pekerjaan bekesting ada 2 bagian yaitu :
1. Bekesting Kolom
Khusus bekesting kolom dikerjakan terdiri dari empat belahan bekesting
berbentuk segi empat ukuran 30 50 cm. Tiap belahan bekesting dilengkapi dengan
balok-balok penyatu satu dengan lainnya. Kemudian sebelum pengecoran
berlangsung terlebih dahulu bekesting kolom disetel vertikal dengan menggunakan
unting pada dua sisi bekesting.
2. Bekesting Balok dan Lantai
Pada bekesting balok dan lantai digunakan bahan tripleks tebal 10 mm, ini
bertujuan untuk mendapatkan hasil coran yang rata dan mulus. Pengambilan tinggi
dari pemasangan bekesting lantai dan balok berpedoman pada titik 0,00 dilantai
dasar. Pemasangan balok dan lantai ini pada prinsipnya sama dengan bekesting
kolom dan harus rata ( datar ).
3.2.4. Pekerjaan Pembesian
Pembesian dilakukan harus sesuai dengan gambar kerja yang memenuhi
peraturan konstruksi baja untuk gedung. Dalam hal ini pekerjaan pembesian terdiri
dari beberapa pekerjaan yaitu :
1. Pemotongan tulangan
2. Pembengkokan tulangan.
3. pengikatan tulangan / penyetelan
1. Pemotongan Tulangan
Seluruh pekerjaan pemotongan tulangan harus dilakukan seteliti mungkin
untuk menghindari potongan besi secara percuma. Pemotongan besi pada proyek ini
menggunakan alat potong khusus.
2. Pembengkokan Tulangan
Setelah besi tulangan dipotong selanjutnya dikerjakan pembengkokan besi
tulangan yang fungsinya untuk penyaluran tegangan pada tulangan tarik.
Pembengkokkan besi dikerjakan dengan alat pembengkokkan tulangan khusus
diameter tulangan yang besar dan meja pembengkokan tulangan untuk diameter
kecil.
3. Pengikatan Tulangan
Besi tulangan yang dipotong dan dibengkokkan (sesuai gambar) dirangkai di
lapangan, besi tulangan harus cukup kuat diikat dengan kawat pangikat (kawat baja)
sehingga sewaktu pengecoran dipastikan ikatan tidak bergeser terutama pada
persilangan tulangan. Pengikatan dilakukan dengan menggunakan tang kakak tua.


3.2.5 Pekerjaan Pengecoran
Sebelum pengecoran terlebih dahulu dilakukan penyiraman bekesting dengan
air agar bersih dari sisa potongan kayu dan kawat serta untuk mengecek kebocoran
yang melebihi toleransi. Untuk mengatur tebal penutup beton besi tulangan pada
bagian bawah pelat, besi tulangan diganjal dengan batu tahu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengecoran adalah sebagai berikut :
Pengadukan
a. Pengadukan beton dilakukan dengan mesin pengaduk beton, ready mix yang
dipesan dari Medan Beton.
b. Campuran beton dalam pengadukan ini adalah 1 Pc : 1,5 Psr : 2 Krkl.
c. Selama pengadukan beton, kekentalan adukan beton harus diawasi dengan jalan
memeriksa slump pada setiap campuran beton yang baru.
Pengecoran
a. Sejak pengecoran dimulai, pekerjaan ini harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai
mencapai siar-siar pelaksanaan.
b. Untuk mencegah timbulnya rongga-rongga kosong dan sarang-sarang kerikil,
adukan beton harus dipadatkan selama pengecoran. Pemadatan ini dapat
dilakukan dengan memukul-mukul cetakan, tetapi sebaliknya dianjurkan untuk
senantiasa menggunakan alat mekanis ( alat penggetar ).
Perawatan
a. Untuk mencegah pengeringan bidang-bidang beton, paling sedikit selama 2
minggu beton harus dibasahi terus-menerus. Pada pelat-pelat atap pembasahan
dilakukan secara terus-menerus dengan cara merendam atau menggenanginya
dengan air.
b. Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan udara luar, pemanasan
atau proses-proses lain, dapat dipakai. Hal ini berguna untuk mempersingkat
waktu pengerasan beton. Cara-cara ini harus terlebih dahulu disetujui oleh
pemilik proyek atau pengawas.
3.2.6. Pekerjaan Pembongkaran Bekesting
Bekesting dan perancah dapat dibongkar setelah konstruksi benar-benar sudah
kering atau mencapai kekuatan yang cukup memikul berat sendiri dan beban-beban
pelaksanaan yang bekerja pada konstruksi. Secara umum perncah dan bekesting
dapat dibongkar setelah beton berumur 21 hari dan pembebanan penuh sesuai
dengan rencana, baru dapat diberikan setelah beton berumur 28 hari dimana
kekuatan beton telah mencapai kekuatan maksimum.
Pembongkaran bekesting diawali dengan membuka balok-balok pengunci,
kemudian dilanjutkan dengan membuka tiang perancah. Bekesting dibuka dengan
hati-hati untuk mencegah terjadinya kerusakan pada beton yang telah mengeras,
sehingga diperoleh permukaan beton yang rata dan mulus.


PERHITUNGAN

4.1. Analisa Pelat
Setelah mendapatkan data-data yang diperlukan di lapangan, maka penyusun
melakukan perhitungan perencanaan tulangan pelat lantai dengan menggunakan
metode SK SNI T 1990 03 dan hasil perhitungan tersebut akan dibandingkan
dengan pelaksanaan di lapangan.
Data-data tersebut antara lain :
- Mutu beton ( fc ) = 22,50 Mpa
- Mutu baja ( fy ) = 240 Mpa
- Beban hidup ( qL ) = 1900 N/m
2

- Beban mati ( qDs ) = 670 N/m
2

4.1.1. Langkah-langkah Perhitungan Pelat Lantai
- Arah x = Ln
1
= 542,5 25 = 517,5 cm
- Arah y = Ln
2
= 312,5 25 = 287,5 cm
| =
2
1
Ln
Ln
=
287,5
517,5
= 1,8
- Tebal Pelat = h
H =
| 9 36
1500
8 , 0 .
+
+
f y
Ln
=
) 8 , 1 ( 9 36
1500 / ) 240 8 , 0 ( 5 , 517
+
+
= 9,5 mm
Coba (h) =12cm
qD = 287,5 + (0,12 x 24000) = 3167,5
N
/
m
2
- Untuk
(115 x 12) (6,0 + y) + (25 . Y)
|
.
|

\
|
2
Y
= 25 (45 Y)
2
) 45 ( Y

1380 (6,0+Y) + 25
2
2
Y
= 25
2
) 45 (
2 2
Y

8280 + 1380 Y + 12,5
2
Y = 25
2
) 90 025 , 2 (
2
Y +

8280 + 1380 Y + 12,5
2
Y = 25312,5 1125 Y + 12,5
2
Y
8280 + 1380 Y = 25312,5 1125 Y
25312,5 1125 Y 18280 1380 Y = 0
17032,5 2505 Y = 0
2505 Y = - 17032,5
= 6,7 cm
Inersia balok Ib
Ib =
3 3 2 3
) 7 , 6 45 ( 25
3
1
7 , 6 25
3
1
) 7 , 6 6 ( 12 115 12 115
12
1
+ + + + x x x
= 16560 + 222580,2 + 2506,36 + 468,182,2
= 709828,76
2
cm
Inersia Plat
Arah x Isx = 450000 3125 12
12
1
3
= x x
Arah y Isy = 781200 5425 12
12
1
3
= x x
5 , 1
450000
76 , 709828
1
= = =
Isx
Ib
o
90 , 0
781200
76 , 709828
2
= = =
Isy
Ib
o
2 , 1
4
) 90 , 0 ( 2 ) 5 , 1 ( 2
4
2 2
2 1
=
+
=
+
=
o o
o
u
x x

H >
))
8 , 1
1
1 ( 12 , 0 2 , 1 )( 8 , 1 ( 5 36
) 1500 / 240 8 , 0 ( 5 , 517
))
1
1 ( 12 , 0 ( 5 36
1500 / 8 , 0 (
+ +
+
=
+ +
+
|
o | m
f y Ln

H >
12 , 51
8 , 496
= 9,7 : h = 12 cm...............ok
H s Ln (0,8 + fy/1500)
H s ok h
f y Ln
......... 12 8 , 13
36
) 1500 / 240 8 , 0 ( 5 , 517
36
1500 / 8 , 0 (
= > =
+
=
+

Kontrol Terhadap Geser
qD = 287,5 + (0,12 x 24000) = 3167,5 N/m
2

q u = (1,2 x qD) + (1,6 ql)
= (1,2 x 3167,5) + (1,6 1900) =6841
Vu = 1,15 x
2
u q
x Ln y = 1,15 x
2
6841
x 2,875 = 11309,02
d = .................................?
= 120 40 - 16
2
1

=120 40 8 = 72
o x Vc = 0,65 x ( 6 / ' c f ) bw x d
= 0,65 x 6 / 5 , 22 x 1000 x 72 = 90627,8
Maka o x Vc = 90627,8 > Vu = 11309,02
Tetapkan h = 12 cm
Perhitungan Momen Pada Plat Interior
Tabel. Faktor Distribusi Momen Mo Bentang Eksterior
(dikutip dari SK SNI T 15 1991 03 pasal 3.6.6 ayat 3)
1 2 3 4 5
Tepi
eksterior
tidak di
tahan
Plat dengan
balok di
antara semua
tumpuan
Plat tanpa balok di antara
tumpuan interior
Tepi
eksterior
sepenuhnya
di tahan
Tanpa balok
tepi
Dengan balok
tepi
Momen
negative
terfaktor
interior
0,75 0,70 0,70 0,70 0,65
Momen
positif
terfaktor
0,63 0,57 0,52 0,50 0,35
Momen
negative
terfaktor
eksterior
0,00 0,16 0,26 0,30 0,65
Mencari u
Arah x M
0
=
8
1
x 6841 x 2,875 (5,175)
2
= 65839,74
-Mu = 0,65 x 65839,74 = 42795,83
+Mu = 0,35 x 65839,74= 23043,90
Arah y M
0
=
8
1
x 6841 x 5,175 (2,875)
2
= 36577,63
-Mu

= 0,65 x 36577,63= 23775,45
+Mu

= 0,35 x 36577,63= 12802,17
Mencari Distribusi Momen
Arah x = 57 , 1
10 003 , 1
10 58 , 1
450000 5 , 22 4700
76 , 709828 5 , 22 4700
10
10
= = =

=
x
x
x
x
Isx Ecs
EcbxIbx
o

57 , 0
5 , 542
5 , 321
1
2
= =
L
L

1 89 , 0
1
2
< =
L
L
o
Faktor Distribusi Momen
- M = 0,75 -
) 5 , 0 0 , 1 (
) 5 , 0 57 , 0 (

x (0,75 0,75) = 0,75


+ M = 0,75 -
) 5 , 0 0 , 1 (
) 5 , 0 57 , 0 (

x (0,75 0,75) = 0,75


Arah y = 90 , 1
10 74 , 1
10 58 , 1
781200 5 , 22 4700
76 , 709828 5 , 22 4700
10
10
= = =

=
x
x
x
x
Isy Ecs
EcbxIby
o


73 , 1
5 , 312
5 , 542
1
2
= =
L
L

1 55 , 1
1
2
> =
L
L
o
Faktor Momen Distribusi
- M = 0,75 -
) 0 , 1 0 , 2 (
) 0 , 1 73 , 1 (

x (0,75 0,45) = 0,53



+ M = 0,75 -
) 0 , 1 0 , 2 (
) 0 , 1 73 , 1 (

x (0,75 0,45) = 0,53








Mn ( N-m )
Arah X Arah Y
42795,83 23043,90 23775,45 12802,17
Faktor distribusi
momen %
75 75 53 53