Anda di halaman 1dari 10

BAB IV PENGUJIAN KUAT DESAK KAYU SEARAH SERAT

IV.1. Maksud Untuk mengetahui : 1. Kuat desak 2. Kadar air 3. Berat jenis kering udara dan Berat jenis kering tungku 4. Persentase kayu teras dan Persentase kayu gubal 5. Batas sebanding dan Batas regangan 0,05 6. Modulus elastik 7.Modulus kenyal 8.Susut dalam arah radial, aksial, dan tangensial

1.

IV.2. Benda Uji Jenis kayu : Kamper 2. Kayu teras : 60 % 3. Kayu gubal : 40 % 4. Gelang tahun : 2,855 buah/cm 5. Cacat-cacat : Retak-Retak 6. Ukuran benda uji : panjang - lebar = 6,05 cm - tinggi = 4,34 cm l =6,05 cm

= 19,78 cm

P=19,78c t = 4,34cm

Gambar 4.1 Sketsa benda uji

IV.3. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Alat-alat Mesin UTM merk Shimadzu Strainometer merk Mitutoyo, faktor kali 0,1 Timbangan 0.01 gram Kaliper Tungku pemanas / oven Stopwatch Gergaji Amplas Penggaris

IV.4. Pelaksanaan 1. Gosok dengan amplas pada kedua ujung kayu dan catat arah serat, cacat-cacat, jumlah gelang tahun rata-rata tiap cm, persentase kayu teras dan persentase kayu gubal. 2. Ukur dimensi kayu tersebut, tetapkan panjang ukur awal (Po) (ketelitian sampai 0,1 mm) 3. Pasang benda uji pada strainometer, kemudian pasang dalam mesin uji. 4. Jalankan mesin uji, pada tiap pertambahan beban 500 kgf, amati dan catat perpendekannya (P) pada dial indicators (kecepatan mesin 0.024 inchi tiap menit) 5. Catat beban maksimum dan skets benda uji setelah diuji. 6. Potong benda uji ( 2,5 cm), timbang (ketelitian 0,1 gram), ukurlah (ketelitian 0,1 mm), buatlah garis arah tangensial, axial dan radial, kemudian masukkan dalam tungku pada suhu 105C selama 5 hari. 7. Keluarkan benda uji dari tungku, dinginkan dalam exikator, timbang dan ukur lagi. 8. Skets potongan benda uji.

1.

Hasil Pengujian Dimensi benda uji

2. 3. 4. 5.

Persentase kayu teras Persentase kayu gubal Beban maksimum Waktu patah

: - panjang = 19,78 cm - lebar = 6,05 cm - tinggi = 4,34 cm : 60 % : 40 % : 7500 kgf : 332

6.

Jenis patah cross-grained pieces)

:Shearing and Spliting Parallel To Grain(usually occurs in

Gambar 4.2 Sketsa benda uji setelah patah 7. Potongan kecil (5x5x2,5 cm) Sebelum masuk oven : - panjang - lebar - tebal - berat - garis tangensial - garis radial - garis aksial - berat jenis
l = 6,045 cm p = 2,675 cm cm cmcm cm r = 2 cm t = 2,5 cm a = 1,5 cm t = 4,32 cm

= 2,675 cm = 6,045 cm = 4,32 cm = 33 gram = 2,5 cm =2 cm = 1,5 cm = 0,4724 gr/cm3

Gambar 4.3 Potongan Kecil Sebelum Masuk Oven

Setelah keluar oven

: - panjang - lebar - tinggi - berat -volume - garis tangensial - garis radial - garis aksial

= 2,61 cm = 5,77 cm = 4,19 cm = 27,2 gram = 2,61 x 5,77 x 4,19 = 63,10cm3 = 2,42 cm = 1,94 cm = 1,47 cm

- berat jenis

= 0,4311 gr/cm3
l = 5,77 cm

p = 2,61 cm t =2,5cm

r = 2 cm

t = 4,19 cm

a = 1,5 cm

Gambar 4.4 Potongan Kecil Setelah Keluar Oven 8. Kuat desak maksimum 9. Kadar air 10. Angka aman 11. Batas sebanding 12. Batas regang 0,05 13. Modulus elastik 14. Modulus keny 15. Prosentase susut : : : : : : : : 7500 = 285,6381 kgf/cm2 = 28,0117 MPa ( 6,05 x 4,34) 21,3235 % - Daftar IIa; n = 6 - Daftar IIb; n = 5 - p = 58,00 MPa - p = 64.10-4 55,5 MPa 9062,5 MPa 0,1856 Nmm / mm3 - arah tangensial = 3,2 % - arah radial =3 % - arah aksial =2 % Pembacaan Strainometer
9 13 18 23 28 33 39 45 55 57 64 72 85 102 170

16. Pengamatan beban 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500

Beban (kgf)

IV.6. Pembahasan 1. Kayu gubal (sapwood) berwarna keputih-putihan yang berfungsi mengangkut air dan zat-zat dari tanah ke daun. Kayu gubal yang telah mati (tidak bekerja lagi) akan menjadi kayu teras atau galih (heartwood), warnanya lebih tua. Penampang kayu yang dipakai pada pengujian ini memiliki kayu gubal 40 % dan kayu teras 60 %. 2. Mutu kayu menurut PKKI 1961 dibedakan menjadi dua macam mutu kayu, yaitu mutu A dan mutu B. Syarat kayu mutu A : Kayu kering udara, yaitu kadar lengas antara 12 % - 18 %. Besarnya mata kayu tidak melebihi 1/6 dari lebar balok dan juga tidak boleh lebih dari 3,5 cm. Balok tidak boleh mengandung wanvlak yang lebih besar dari 1/10 tinggi balok. Miring arah serat tidak boleh lebih dari 1/10. Retak-retak dalam arah radial tidak boleh lebih dari tebal kayu dan retak-retak menurut lingkaran tidak boleh melebihi 1/5 tebal kayu. Syarat kayu mutu B : Tidak termasuk mutu A. Kadar lengas kayu < 30 %. Besarnya mata kayu tidak melebihi dari lebar balok dan juga tidak boleh lebih dari 5 cm. Balok tidak boleh mengandung wanvlak yang lebih besar dari 1/10 tinggi balok. Miring arah serat tidak boleh lebih dari 1/7. Retak-retak dalam arah radial tidak boleh lebih dari 1/3 tebal kayu dan retak-retak menurut lingkaran tahun tidak boleh melebihi tebal kayu. 3. Berat jenis kering udara adalah berat jenis kayu yang masih mengandung air (kadar air 12% - 18%) meskipun dari luar tampak kering. Berat jenis kering tungku adalah berat jenis kayu yang tidak mengandung air (kadar air 0%), jadi hanya kayunya saja. Pada pengujian diperoleh kadar lengas kayu 21,3235 %, jadi termasuk kayu mutu A dengan : - Berat jenis kering udara = 0,4724 gr/cm3 - Berat jenis kering tungku = 0,4311 gr/cm3 4. Cacat-cacat pada kayu dapat berupa mata kayu, urat kapur, serat miring dan retak-retak. Kayu pada pengujian ini memiliki cacat yaitu retak-retak. 5. Kelas kuat kayu dibedakan menjadi lima kelas menurut kuat lentur, kuat tekan dan berat jenisnya. Berat jenis yang dimaksud di sini adalah berat jenis kayu kering udara. Tabel 4.1 Tabel Kelas Kuat Kuat lentur Berat jenis kering udara (kg/cm2) > 0,90 > 1100 0,90 0,60 1100 725 0,60 0,40 725 500 0,40 0,30 500 360 < 0,30 < 360

Kelas kuat I II III IV V

Kuat tekan (kg/cm2) > 650 659 425 425 300 300 215 < 215

Pada pengujian didapat berat jenis kering udara 0,4724 gr/cm3sehingga merupakan kayu kelas kuat III.

6.

Tegangan-tegangan ijin untuk kayu mutu A menurut PPKI 1961 : Daftar IIa Kelas kuat Jati I II III IV V 150 100 75 50 130 lt (kg/cm2) kg 2 130 85 60 45 110 tk // = tr // ( /cm ) kg 2 40 25 15 10 30 tk ( /cm ) kg 2 20 12 8 5 15 // ( /cm )

Daftar IIb : lt = 170 . g tk // = tr // = 150 . g tk = 40 . g // = 20 . g g = berat jenis kering udara Untuk kayu mutu B, maka tegangan ijin dalam daftar II di atas dikalikan dengan faktor 0,75. 7. Pada pengujian dengan kayu kelas kuat II, mutu A maka tegangan ijin desak: Daftar IIa, tk // = 60 x 0,75 kg/cm2 = 45 kg/cm2 = 4,413 MPa Daftar IIb, dengan berat jenis kering udara (g) = 0,4724 gr/cm3, maka tk // = 150 x 0,4724 x 0,75 = 53,145 kg/cm2 = 5,2118 MPa 8. Beban maksimum / patah pada uji desak ini adalah 7500 kgf, memberikan tegangan desak maksimum sebesar 285,6381 kg/cm2 = 28,0117 MPa, maka menurut : Daftar IIa, faktor aman (n) = 285,6381 /45 = 6,3475 6 Daftar IIb, faktor aman (n) = 285,6381 /53,145 = 5,3747 5 9. Kadar air antara 24 %- 30 % disebut fiber saturation point. Pengeringan kayu setelah melewati batas ini akan memperlihatkan pengerutan. Yang paling besar adalah pengerutan arah tangensial, agak kurang pada arah radial, dan sedikit sekali ke arah aksial. Pada pengujian ini diperoleh pengerutan arah : tangensial = 3,2 % radial =3 % aksial =2 % 10. Batas sebanding adalah besarnya tegangan pada batas akhir kurva regangan yang masih linier 11. Batas regang 0,05 adalah tegangan yang menunjukkan regangan plastis sebesar 0,05 % yang didapat dengan menarik garis sejajar kurva linier pada regangan sehingga memotong kurva koreksi dan ditarik garis horisontal memotong sumbu tegangan. Pada pengujian ini diperoleh f0,05 = 55,5 MPa

IV.7.

Kesimpulan Kayu Camper dalam pengujian ini : 1. Kayu yang diuji mempunyai kadar air sebesar 21,3235 % sehingga termasuk kayu mutu A. 2. Kayu yang diuji mempunyai berat jenis kering udara sebesar 0,4724 gr/cm3 sehingga kayu tersebut termasuk kelas kuat II. 3. Beban desak maksimum = 7500 kgf 4. Kuat desak maksimum = 28,0117 MPa 5. Persentase kayu teras = 60 % 6. Persentase kayu gubal = 40 % 7. Kadar air = 21,3235 % 8. Berat jenis kering udara = 0,4724 gr/cm3 9. Berat jenis kering tungku = 0,4311 gr/cm3 10. Persentase susut arah tangensial = 3,2 % 11. Persentase susut arah radial =3 % 12. Persentase susut arah aksial =2 % 13. Tegangan izin desak Daftar IIa, tk // = 45 kg/cm2 = 4,413 MPa Daftar IIb, tk // = 150 x 0,4724 x 0,75 = 53,145 kg/cm2 = 5,2118 MPa 14. Batas sebanding, fp = 58,00 MPa p = 64.10-4 15. Batas regang 0,05 = 55,5 MPa 16. Modulus elastis = 9062,5 MPa 17. Modulus kenyal = 0,1856 Nmm / mm3 18. Faktor aman Daftar IIa, n = 6 Daftar IIb, n = 5 19. Layak untuk bahan konstruksi.

IV. 8 Lampiran 1. Laporan sementara. 2. Hitungan. 3. Gambar alat 4. Grafik

HITUNGAN Data potongan kecil : Sebelum masuk tungku tanggal 29 September 2011: panjang = 2,675 cm lebar = 6,045 cm tinggi = 4,32 cm berat = 33 gram garis tangensial = 2,5 cm garis radial =2 cm garis aksial = 1,5 cm 33 = 0,4724 gr/cm3 berat jenis kering udara = (6,045 x 4,32 x 2,675) Setelah keluar tungku tanggal 3 Oktober 2011: panjang = 2,61 cm lebar = 5,77 cm tinggi = 4,19 cm berat = 27,2 gram garis tangensial = 2,5 cm garis radial = 2 cm garis aksial = 1,5 cm 27,2 = 0,4311 gr/cm3 berat jenis kering tungku = (5,77 x 4,19 x 2,61)

33 27,2 x100% = 21,3235% 27,2 7500 Kuat desak maksimum = = 285,6381 kgf/cm2 =28,0117 MPa ( 6,05 x 4,34) 2. Angka aman : 28,0117 = 6,3475 6 Faktor aman = 4,413 28,0117 = 5,3747 5 Faktor aman = 5,2118 Persentase susut : Panjang kering udara - Panjang kering tungku = x 100% Panjang kering udara 2,5 2,42 x100% = 3,2% Arah tangensial = 2,5 2 1,94 x100% =3% Arah radial = 2
1. Kadar

air =

1,5 1,47 x100% = 2% 1,5 Syarat : % tangensial > % radial > % aksial 3,2 % > 3% > 2% Kayu teras = 60 % Kayu gubal = 40 % 6. Batas sebanding : fp = 58,00 MPa p = 64.10-4 fp 58,00 = = 9062,5MPa Modulus Elastis = p 64.10 4

Arah aksial

= x f p x p = x 58,00 x 64.10-4 = 0,1856 Nmm / mm3 Batas regangan 0,05 = 55,5 Mpa Modulus Kenyal Tabel Pengujian Kuat Desak Kayu Searah Serat Strainometer Tegangan Regangan N
4903.355 9806.71 14710.065 19613.42 24516.775 29420.13 34323.485 39226.84 44130.195 49033.55 53936.905 58840.26 63743.615 68646.97 73550.325

Beban Kgf 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500

koreksi (10-4)
-0.0001 1.3080 2.6160 3.9240 5.8861 7.8482 9.1562 9.8102 11.7723 13.0804 14.3884 15.6964 17.0045 18.3125 19.6206

(10-2)
9 13 18 23 28 33 39 45 55 57 64 72 85 102 170

f ( MPa)
1.8674 3.7349 5.6023 7.4698 9.3372 11.2047 13.0721 14.9396 16.8070 18.6745 20.5419 22.4094 24.2768 26.1443 28.0117

(10-4)
6.0080 8.6782 12.0160 15.3538 18.6916 22.0294 26.0347 30.0401 36.7156 38.0507 42.7236 48.0641 56.7423 68.0908 113.4846

Contoh hitungan : A = 2625,7 mm2 Po = 14,98 cm = 149,8 mm 73550,325 = 28,0117 MPa Kuat desak (f) = 2625,7
P 170 x102 = =113,4846 x10 4 Po 149,8 Mencari koreksi (pada titik 6 dan titik 17) :

Regangan () =

6 + kor f = 6 17 + kor f 17
11,1184.10 4 + kor 8,9956 = 4 25,5069.10 + kor 25,4876 25,4876 x ( 11,1184.10 4 + kor) = 8,9956 x (25,5069.10-4 + kor) 283,3813.10-4 + 25,4876.kor = 229,4499.10-4 + 8,9956.kor kor = - 3,2702.10-4 setelah dikoreksi = + kor = 3,2701.10-4 + (- 3,2702.10-4) = -1.10-4 Batas sebanding : fp = 58,00 MPa p = 64.10-4 Modulus elastis =
fp

58,00 = 9062,5MPa 64.10 4

Modulus Kenyal

= x f p x p = x 58,00 x 64.10-4 = 0,1856 Nmm / mm3

Batas regangan 0,05 = 55,5 Mpa