P. 1
Makalah Study Lapangan

Makalah Study Lapangan

|Views: 137|Likes:
Dipublikasikan oleh Sekar Meidiana Utami

More info:

Published by: Sekar Meidiana Utami on Nov 20, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2012

pdf

text

original

Makalah Study Lapangan Sejarah

Mata pelajaran : sejarah Guru pembimbing : rahmini fadhilah S.Pd

Disusun oleh : 1. Deni Herliansyah 2. Fernando Silaban 3. Mislan Agustin 4. M. Ridath Hafizh

Dinas pendidikan SMA Negeri 1 indralaya utara tahun pelajaran 2012/2013

Museum Balaputradewa (By: Kelompok 5) 14 November 2012

Pintu masuk utama Museum Balaputradewa. A. Pendahuluan Baru-baru ini saya baru saja berkunjung ke Museum Balaputradewa, kebetulan Museum Balaputradewa baru selesai direnovasi (tanggal 4 April 2012). Ternyata setelah direnovasi Museum Balaputradewa kini tampak lebih baik, elegan dan modern dengan fasilitas baru seperti AC di tiap ruang pamer lalu ada monitor yang siap menjelaskan setiap koleksi yang ada diruang pamer sehingga kita tidak perlu berlama-lama membacanya serta ruangan yang lebih terang dengan lampu-lampu baru yang lebih bercahaya, dibandingkan dahulu yang terkesan tidak terurus, penggap, panas dan mengerikan serta angker karena tiap ruangan yang gelap.

Keadaan di dalam ruang masuk Museum Balaputradewa. Museum Balaputradewa terletak di Km 6,5 tepatnya di Jl. Srijaya Negara I No. 288, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Lokasi museum ini dibeli oleh Gubernur Sumsel pada tahun 1976 untuk dijadikan museum. Museum Balaputradewa dibangun pada tahun 1978 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 5 November 1984. Museum ini terletak di areal seluas 23.565 meter persegi. Design arsitektur bangunan museum terinpirasi dari bangunan tradisional Palembang. Awalnya museum ini bernama Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan namun setelah keputusan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1223/1999 tanggal 4 April 1990 nama museum diganti menjadi Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputradewa. Museum Balaputradewa memiliki sekitar 3580 buah koleksi yang terdiri dari barangbarang tradisional Palembang, binatang awetan dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, beberapa miniature rumah pedalaman, replica prasasti dari arca kuno yang pernah ditemukan di Bukit Siguntang, batu-batu ukir raksasa dari jaman Megalitikum, dan masih banyak lagi. Koleksi di Museum Balaputradewa dibagi menjadi 10 macam kategori yaitu histografi atau historika (cerita-cerita), etnografi, feologi, keramik, alat-alat teknologi modern, seni rupa (berupa ukiran), flora fauna (biologika) dan geologi serta terdapat rumah limas juga rumah Ulu Ali. Koleksi-koleksi di Museum Balaputradewa ditempatkan pada 3 buah ruang pameran yang dikelompokan menjadi ruang pamer zaman prasejarah, kesultanan Palembang Darussalam dan masa perang kemerdekaan serta tambahan Rumah Limas (rumah/bangunan khas Palembang). Mengunjungi Museum Balaputradewa tidak sulit, kita dapat menggunakan kendaraan umum dengan trayek Km 12, untuk lebih gampang dan nyaman kita dapat menggunakan Transmusi dan mintak pada kondekturnya agar berhenti di halte depan lorong menuju Museum Balaputradewa. Museum Balaputradewa terbuka untuk umum mulai dari pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB kecuali hari senin, hari Minggu dibuka dari pukul 08.00 WIB sampai 14.00 WIB. Hanya dengan uang Rp 2.000-3.000 per orang maka kita dapat menikmati segala koleksi yang ada di Museum Balaputradewa. Museum Balaputradewa berada di bawah pengelolaan Departemen Pendidikan Nasional, Provinsi Sumatera Selatan. Selain sebagai tempat informasi dan ilmu pengetahuan, museum Balaputradewa juga dapat menjadi wadah rekreasi yang menarik bagi keluarga karena kita bersama keluarga dapat mengetahui info-info menarik dan

menyenangkan yang disajikan menarik oleh pihak museum tentang bagaimana sejarah bangsa khususnya Palembang dan Sumatera Selatan yang sangat hebat di masa dahulu. Mengajak anak-anak berkunjung ke museum artinya anda telah mengenalkan kepada generasi muda tentang jati diri bangsa mereka dan akan menumbuhkan rasa cinta, patriotisme dan nasionalisme pada diri setiap putra-putri penerus bangsa. Ayo ke museum, kunjungi museum di sekitar anda, ajak kakak-adik, ayah-ibu juga teman-teman anda berkunjung ke museum. Ayo isi dan ramaikan museum disekitar kita. Jadikan museum sebagai tempat rekreasi wajib kita karena bangsa yang besar dan hebat dapat dilihat dari minat masyarakatnya berkunjung ke museum yang ada disekitar mereka. Buktikan pada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan rakyatnya sangat menghargai sejarah bangsanya karena bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai sejarahnya. AYO KE MUSEUM. B. Pembahasan

Relief kehidupan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan. Balaputradewa sendiri adalah nama seorang raja dari Kerajaan Sriwijaya. Balaputradewa memerintah pada abad VIII-IX masehi. Balaputradewa adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Sriwijaya karena di masa pemerintahan beliaulah Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya sebagai sebuah Kerajaan Maritime yang berkuasa hampir diseluruh Nusantara hingga mencapai Thailand, India, Filipina dan China. Memasuki pintu depan museum Balaputradewa kita akan langsung disuguhi dengan gambar atau relief kehidupan masyarakat Palembang yang dipanjang persis di depan dinding ruang masuk museum. Relief kehidupan masyarakat Palembang tersebut menceritakan ada putri Palembang

sedang menari Gending Sriwijaya yaitu tarian khas Palembang yang sering ditampilkan untuk menyambut tamu, tari Gending Sriwijaya sendiri pertama kali diperkenalkan pada 12 Agustus 1945. Kemudian pada relief ada pula rumah Bari yaitu rumah lama khas Palembang. Ada pula gambar rumah Limas yaitu rumah adat Palembang dimana di atasnya ada ornament tanduk kambing. Digambarkan pula pada relief tersebut orang yang sedang bertenun songket. Lalu ada juga sungai musi yaitu sarana transportasi utama di Palembang. Di gambarkan juga Jembatan Ampera yang dibangun oelh bantuan Jepang tahun 1963 selesai 1965, jembatan Ampera sendiri memiliki panjang 1717 meter. Dari gambar relief tersebut diceritakan pula bahwa dahulu di Palembang terdapat banyak sekali sungai, diperkirakan di Palembang dahulu terdapat 117 Sungai tapi sekarang hanya tinggal 17 sungai yang masih mengalir, oleh karena itulah Belanda member julukan pada Palembang sebagai Venesia dari Timur Jauh. Ternyata dari gambar relief juga menceritakan bahwa dahulu Palembang adalah tempat menambang emas. Lalu dari gambar relief membahas karena Palembang banyak terdapat rawa sehingga membuat rakyatnya membuat rumah panggung agar bisa tinggal di atas rawa. Dan relief gambar juga membahas dahulu wanita Palembang tidak memakai selendang melainkan memakai Tudung Saji. Kebudayaan Palembang mengenal alat-alat yang digunakan saat melamar yaitu sena, nampar, bakul kecil dan bakul besar. Keseniaan Palembang memiliki kemiripan dengan Arab. Sedangkan songket memiliki makna yang berbeda-beda yaitu songket yang memiliki kekhasan mirip china dinamakan Bunga Cina dan songket yang memiliki kekhasan mirip arab dinamakan Bunga Pacik. Songet yang asli biasanya terbuat dari benang Masjanup dan memiliki nilai seni tinggi dan harganya mahal. Dan pakaian pengantin khas Palembang banyak dibuat di daerah Tanjung Baru. C. Mengenal Hasil Cipta Mahakuasa

Taman di tengah-tengah Museum Balaputradewa. Di dalam museum Balaputradewa juga terdapat peninggalan yang berasal dari alam yaitu: 1) gading gaja yaitu tulang gigi seri bagian atas pada gaja yang memanjang menjadi taring, ditemukan di Pulau Bangka dimana diperkirakan fosil tersebut sudah berumur lebih dari 1000 tahun; 2) Kayu sungkai yaitu sisa bahan organic dari kayu sungkai yang terawetkan secara alami, kayu tersebut banyak tumbuh di daerah OKU dimana umurnya diperkirakan lebih tua dari masa Holosen. Lalu ada pulau pengetahuan tentang batu atau bahan-bahan kimia seperti: 1) Cassiterte (SnO2) yaitu batu timah; 2) Hematite (Fe2O3) yaitu mineral pada besi merah; 3) Monazite (Xenotime) yaitu bahan tambang; dan 4) Lumite (Ce, Le, T, Th). Terdapat pula tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di Sumsel yaitu: 1) Nanas (Ananascomosus) yaitu tumbuhan yang berasal dari Amerika Selatan; 2) Tembesu (Fagrae spp.) yaitu pohon yang tumbuh liar dan banyak hidup di Sumatera dan Malaysia; 3) Kopi (coffea) dimana yang banyak tumbuh di Sumsel adalah kopi arabika dan robusta; 4) Lada (Pipesnigrum) yaitu termasuk dalam suku puperaceae dimana biji lada memiliki kandungan alkaloid paperin dari piperidin yang berguna bagi pembuatan heliotropin. D. Mengenal Prasasti dari Masa Sriwijaya

Terdapat 5 buah relpika prasasti yang pernah ditemukan di wilayah Sumsel yang berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya yaitu: 1) Prasasti Kedukan Bukit (1920); 2) Prasasti Talang Tuo; 3) Prasasti Kota Kapur; 4) Prasasti Telaga Batu; 5) Prasasti Boombaru.

Prasasti dari kerajaan Sriwijaya ada yang mencerikan raja yang membawa pasukan dan mendirikan kerajaan Sriwijaya. Ada pula yang menceritakan pelayan dari yang tertinggi sampai terendah harus berbakti pada raja (Telaga Batu). Nama prasasti dari kerajaan Sriwijaya biasanya memakan huruf palawa dan bahasa Melayu Kuno. E. Kisah dari Tiap Ruang Pameran

Ruang Pameran Kehidupan Pra Sejarah. Ruang pamer 1 secara keseluruhan menceritakan tentang masa kehidupan di jaman pra sejarah (kehidupan manusia purba). Di ruang pamer 1 telihat berbagai lukisan dan berbagai situs peninggalan hewan-hewan purba yang disebut Vitron. Kemudian ada pula yang menceritakan manusia purba pertama di pulau Jawa yaitu Pithecanthropus erectus yaitu manusia purba yang berjalan tegak ditemukan oleh Eugene Dubois. Terdapat pula beraneka ragam binatang yang terdapat di daerah Sumsel yang telah diawetkan dengan cara membuang isi dalam tubuhnya kemudian diisi dengan kapas seperti: buaya, beruang; macan; beruk; semuni; biawak; kuskus; tringgiling dan masih banyak lagi. Terdapat pula kerangka masuia purba yang ditemukan di gua harimau (OKU). Ada pula miniature gua putrid yang merupakan situs tempat ditemukannya kerangka manusia pra sejarah. Selain gua putrid ternyata gua harimau adalah situs tempat ditemukannya masuia purba dengan jumlah yang terbanyak dan terlengkap se Indonesia bahkan Asia Tenggara, di Gua Harimau pula ditemukan luksian yang diperkirakan dari masa pra sejarah (purba) dimana dengan ditemukannya lukisan gua jaman pra sejarah di Gua Harimau menjadikan tempat tesebut sebagai gua kedua atau yang pertama di Sumatera tempat ditemukannya lukisan gua dari jaman purba setelah dua di daerah Sulawesi.

Miniatur Gua Putri (OKU) tempat ditemukannya kerangka manusia purba di Sumsel. Selain itu di ruang pamer 1 juga dipamerkan batu-batu raksasa dari jaman Megalitikum, batubatu megalit tersebut kebanyakan ditemukan di daerah daataran tinggi Basemah (Pasemah) yaitu Bengkulu, Muaraenim, Lahat dan Pagaralam. Batu-batu megalitikum tersebut membuktikan bahwa dahulu teknologi masa lalu/peradaban nenek moyang kita sudah sangat maju dan berkembang tidak kalah dengan bangsa lain sehingga kita sebagai generasi penerusnya harus bangga dengan apa yang telah nenek moyang kita tinggalkan untuk kita maka dari itu kita harus senantiasa merawat dan menghargainya.

Kerangka manusia purba yang ditemukan di Gua Pondok Salabe (OKU).

Wajah baru dari Museum Balaputradewa.

Salah satu arca megalitikum dari masa pra sejarah yang ditemukan di dataran tinggi Basemah. Arca megalith ini menampilkan bentuk seorang laki-laki perkasa. Bentuk mata bulat dan besar, tulang hidung besar dan lebar, demikian pula mulut dan kedua bibir. Tulang rahang dan tulang dagu sangat menonjol. Telingan dan leher juga digambarkan besar. Sama halnya dengan arcaarca primitive dari daerah Pasemah yang lain, yang menggambarkan serba besar pada bagianbagian tubuh tertentu. Arca megalith ini berasal dari abad pertama masehi.

Arca Buddha ditemukan di Desa Tingkip, Musi Rawas, Sumsel. Berdiri di atas asana berbentuk Padmasamaganda mengenakan jubah tipis polos, serta memperlihatkan sikap tangan Witarkamudra yang melambangkan sang Buddha sedang mengajar. Berdasarkan kehalusan seni dan gaya pahatan yang ditampilkan arca ini mengikuti gaya seni Dwarawati tetapi produksi lokal jaman Sriwijaya.

Batu Gajah ditemukan di Desa Kotaraya, Pagaralam pada tahun 1930an. Oleh Van den Hoop arkeolog asal Belanda pada tahun 1930an Batu Gajah ini dibawah dari Pagaralam ke Palembang. Arca Batu Gajah tidak hanya bernilai Profan, namun lebih cenderung kepada hal-hal yang bernilai sakral, keberadaan arca ini menjadi bukti akan tingginya tingkat teknologi seni pahat yang dicapai masyarakat pada masa Megalitikum. Selain itu Batu Gajah adalah salah satu benda

yang dianggap sebagai korban/bukti dari kutukan “Si Pahit Lidah”, Legenda Si Pahit Lidah menceritakan seseorang yang dapat mengutuk orang lain menjadi batu. Di bagian lain luar ruang pamer menampilkan jenis arca yang diperoleh dari daerah Pagaralam sebanyak 8 buah yang berasal dari jaman pra sejarah sekitar 2000 tahun yang lalu. Terdapat sebuah arca berbentuk patung kepala Budha yang berasal dari daerah Pagaralam, terdapat juga arca berbentuk lembuh yang dikeraskan dimana hewan ini dianggap sebagai kendaraan Dewa Shiwa, kemudian terdapat sebuah patung berupa wadah panjang yang digunakan untuk meletakkan tulang manusia ataupun tulang-tulang penduduk setempat yang telah mati dimana menurut sumber cara tersebut dilakukan oleh para penganut Animisme pada masa dahulu kalah, selanjutnya terdapat patung gajah yang dinamakan Ganesha berupa gajah menutup kedua telinganya dimana patung ini memiliki bobot 5 ton yang di dapatkan di daerah Pagaralam dan terakhir terdapat sebuah patung anak muda yang sedang menaiki seekor binatang. Adapun secara keseluruhan arca-arca Agama Budha yang terdapat di Museum Balaputradewa adalah: 1. Prasasti Arca Nanda 2. Arca Makara 3. Arca Perwujudan 1 4. Arca Perwujudan 2 5. Arca Perwujudan 3 6. Arca Siwamahaguru 7. Fragmen prasasti batu-batu Bumi Ayu Di ruang pamer ke 2 menyajikan peninggalan arca-arca dari masa kerajaan Sriwijaya hingga peninggalan dari kerajaan Palembang Darussalam. Dari masa kerajaan Sriwijaya terdapat replica prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada 29 Desember 1920 yang mengisahkan tentang seorang raja yang membawa pasukan sebanyak 2 laksa atau sekitar 2000 orang. Terdapat juga replica prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1935 yang di atasnya terdapat 7 buah kepala ular kobra. Kemudian ada pula replica prasasti Talang Tuo ditemukan pada 17 Desember 1920 yang mengisahkan bahwa sang raja membangun sebuah taman yang bernama Sedi Kosetr. Masih banyak lagi prasasti-prasasti yang ditemukan di Pulau Bangka pada tahun 1920an. Di museum ini juga terdapat prasasti Boom Baru ditemukan 1950 yang bertuliskan huruf palawa bahasa Sangsekerta. Sangat menarik melihat prasasti-prasasti tersebut karena prasasti itu adalah salah

satu bukti nyata bahwa dahulu memang pernah ada Kerahaan Sriwijaya yang tersohor itu dan lewat prasasti ini kita dapat mengetahui sepenggal kisah yang disampaikan dari masa kerjayaan Sriwiaya dahulu. Di sudut lain dari ruang pamer 2 terdapat berbagai arca peninggalan dari jaman Agama Hindu yang ditemukan di Bumi Ayu seperti arca Awalokiteswara, lalu terdapat sebuah wadah guci yang mengisahkan bahwa manusia terdiri dari 4 unsur yaitu api, air, udara dan tanah dimana pada masa lalu tubuh manusia yang sudah meninggal dibakar dan abunya dimasukan ke dalam guci tersebut yang diberi nama Bua Bua. Di sisi lain terdapat lukisan suasana Palembang pada masa Kerajaan Sriwijaya saat berjaya di abad ke 7 Masehi sampai pertengahan abad 14 Masehi. Di saat masa kehancuran Sriwijaya, kota Palembang menjadi tempat atau kota tak bertuan maka datanglah 4 orang perompak dari Cina yang dipimpin oleh Lio Tauming namun saat itu walaupun dengan kekuatan seadanya tetap dapat digempur oleh Pangeran Ario Damar untuk mempertahankan kota Palembang dan akhirnya berhasil. Ario Damar adalah seorang pangeran yang berasal dari Majahpahit. Pangeran Ario Damar terkenal dengan nama Raden Patah. Raden Patah ketika mengetahui ayahnya menjadi seorang raja di Majahpahit membuat ia berniat kembali ke Majahpahit untuk memberitahukan kepada ayahnya tentang keadaan di Sriwijaya namun menjadi sia-sia karena ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu kemudian Raden Patah bertemu dengan Wali Songo. Pada masa pendudukan Belanda di Palembang, daerah yang dahulu dipertahankan oleh Raden Patah dari serangan perompak Cina dibumi hanguskan oleh Belanda, daerah tersebut dahulu di masa Kesultanan Palembang Darussalam dikenal dengan nama Kuto Gawang dan sekarang menjadi Pabrik Pupuk Sriwijaya. Adapun peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam di Palembang adalah: 1. Manik-manik 2. Umpak batu 3. Arca tablet tanah liat 4. Kapak arca Awaloketiswara 5. Fregmen acra perunggu 6. Kaki arca

7. Dan lukisan abad 17 yang mengisahkan perang antara Kesultanan Palembang Darussalam melawan Tentara Kolonial Belanda di depan Keraton Kuto Gawang (sekarang Pabrik Pupuk Sriwijaya)

Arca Awalokiteswara. Arca ini aslinya terbuat dari batuan andesit, ditemukan di daerah Musi Ulu Palembang. Arca digambarkan dalam posisi berdiri di atas asana tetapi sudah hilang dan jari-jari kaki lurus ke depan. Mempunyai empat buah tangan, tiga di antaranya telah patah, yang tersisa hanya tangan kiri belakang membawa sesuatu yang tidak jelas. Menggunakan jubah, rambut ikal keriting, mata setengah tertutup, hidung mancung, mulut seolah tersenyum dan lubang telinga pangan. Perhiasan berupa upawita lebar yang berbentuk pita di atas bahunya. Ikat perut berbentuk gasper juga berbentuk pita. Mahkota yang dikenakan diikat di kepala bagian belakang dan pada mahkota tersebut terdapat arca Amithaba dalam posisi duduk di atas padmasana. Pada bagian punggung arca ini terdapat prasasti pendek dengan bahasa Sansekerta dan huruf jawa kuno, berbunyi: “accarya,, dan seterusnya”. Arca ini diperkirakan berasal dari abad 9 Masehi.

Gambar 16. Diorama ini menggambarkan Keraton Kuto Gawang berdasarkan hasil lukisan sketsa Joan van der Laen yang dibuat tahun 1659. Keratin dilukiskan menghadap ke arah Sungai Musi (ke selatan) dengan pintu masuk melalui Sungai Rengas. Disebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe dan disebelah baratnya berbatasan dengan Sungai Buah. Dalam gambar sketsa tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas dan Sungai Buah tampak terus ke utara dan satu sama lain tidak bersambung. Sebagai batas kota sisi utara adalah kayu besi dan kayu unglen. Ditengah benteng tampak berdiri megah bangunan keraton yang letaknya di sebelah barat Sungai Rengas. Keraton Kuto Gawang ini didirikan oelh Ki Gede ing Suro pada awal abad ke 17 Masehi. Sekarang lokasi eks Keraton Kuto Gawang telah berdiri Pabrik Pupuk Sriwijaya. Benda-benda budaya khas Palembang.

Benda-benda kerajinan khas Palembang.

Tampak foto seseorang dan alat pemintal benang.

Songket khas Palembang. Peninggalan kebudayaan dari masa kesultanan Palembang Darussalam, disalah satu sisi diruang pamer 2 memajang lukisan seseorang bernama Sultan Mahmud Badaruddin atau Joyo Wikromo atau Sultan Mahmud Badaruddin I pendiri daerah di pinggir Sungai Musi yang sekarang dikenal

dengan nama Benteng Kuto Besak dan terlihat pula gambar Masjid Agung Palembang yang dibangun kurang lebih selama 10 tahun dari tahun 1738 sampai 1746.

Benda-benda sisi peninggalan masa kolonial Belanda di ruang pamer masa kemerdekaan.

Kitab-kitab jadul peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Ruang pamer 3 menampilkan kumpulan koleksi-koleksi peninggalan pada masa perang mempertahankan kemerdekaan. Di ruang pamer masa kemerdekaan banyak terdapat bendabenda dari masa kolonial Belanda saat menjajah di wilayah Palembang dan Sumatera Selatan. Di anatarnya ada uang atau koin mata uang dari jaman Belanda, Jepang hingga awal kemerdekaan Indonesia. Kemudian ada benda-benda kuno seperti radio, piringan hitam, pedang, pistol, pakaian, topi, meriam dan masih banyak lagi.

Rumah Limas khas Palembang. Kemudian di bagian paling belakang dari Museum Balaputradewa kita dapat singgah ke Rumah Limas. Rumah Limas di Museum Balaputradewa adalah rumah yang dahulu dimiliki oleh orang arab bernama Sarip Abdurahman Al Habsi (Arif) yang diangkat oleh Belanda menjadi seorang Kapitan. Rumah Limas tersebut dibangun pada tahun 1836 Masehi lalu kemudian dijual kepada Pangeran Betung. Rumah Limas tersebut masih sangat lengkap dengan berbagai macam perabotan yang khas Palembang seperti kursi, lemari, lampu-lampu gantung, dan lainnya. Rumah Limas tersebut terdiri dari 4 buah lantai atau biasa disebut berkilat. Rumah Limas tersebut sudah 3 kali berpindah. Langit-langit Rumah Limas dihiasi dengan lampu-lampu stolop dengan menggunakan lilin dan air sehingga terlihat efek pelangi. Terdapat tanduk rusa sebagai gantungan pakaian, lemari gerobok leket, pintu yang tidak menggunakan engsel dan umumnya Rumah Limas menghadap kea rah Sungai. Selain Rumah Limas terdapat pula Rumah Bergajah yaitu tempat orang-orang terhormat. Lalu terdapat Rumah Hulu/Rumah Anti Gempa yaitu rumah yang tiangnya tidak ditanam namun hanya menggunakan batu yang dijadikan sebagai penyanggah dan lantainya menggunakan bambu. Rumah ini memiliki bobot yang ringan, dinding yang bisa dibuka dan tidak memiliki jendela. Rumah ini sendiri ditemukan di daerah Asam Kelat. Terdapat pula Gedung 3 Manusia dan Lingkungannya. Pada gedung tersebut terdapat berbagai jenis alat transportasi seperti Liu-liu, gerobak, rakit dan perahu serta ada Jali yaitu kelombu yang

berbentu burung-burungan dimana biasanya joli-joli ini diberikan untuk pengantin wanita sebagai lamaran juga ditambah dengan sena/nampa dan songket. Di sini juga terlihat keranda berwarna hijau, ada juga patung seorang ibu tua yang sedang menganyam songket dan songket tersebut hanya boleh dipakai oelh seorang wanita yang sudah mempunyai suami. Hasil dari tenunan patung ibu tua itu terpajang disebelah patung tersebut diantaranya adalah songket bunga pacar, songket naga, songket beraung dan berbagai aksesoris pengantin khas Sumsel seperti kalung dan gelang dari Tanjung Batu, Batik Pale, Batik Supri dan lainnya. Kemudian yang terakhir di dalam Rumah Limas juga terdapat 7 keranda orang meninggal (tudung) berwarna hitam.

Galeri atau Ruang Pamer Kebudayaan Malaka. Tambahan, di Museum Balaputradewa sekarang terdapat ruang khusus pertukaran budaya antara Kesultanan Malaka (Malaysia) dan Palembang (Indonesia). Ruang pamer (Galeri) kebudayaan Malaka ini baru dibuka sekitar tahun 2011 saat Sultan Malaka berkunjung ke Palembang. Ruang pamer kebudayaan Malaka didedikasikan kepada masyarakat Palembang karena adanya keterikatan batin dan budaya antara masyarakat Malaka dan Palembang. Sultan Iskandar Syah yang lebih dikenal dengan nama Parameswara di Palembang merupakan sultan pertama dan pendiri kerajaan Malaka, Sultan Iskandar Syah atau Parameswara adalah orang Palembang asli yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Sriwijaya, saat Sriwijaya hancur pada abad ke 14 Masehi dan akan diduduki oleh kerajaan Majahpahit beliau (Parameswara) melarikan diri ke Semenanjung Malaka (Malaya), kemudian di Malaka Parameswara menikah dengan penduduk

setempat lalu masuk Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Syah, Iskandar Syah lalu mendirikan sebuah kerajaan di tanah barunya tersebut dengan nama Kesutanan Malaka. Itulah sedikit kisah dari berdirinya Kerajaan Malaka di Semenanjung Malaya, oleh alasan itulah mengapa Sultan Malaka berkunjung ke Palembang lalu kemudian membuka Galeri Kebudayaan Malaka di Museum Balaputradewa agar para generasi muda di Palembang dan di Malaka sadar dan mengetahui bahwa antar kedua tempat tersebut memiliki ikatan batin dan budaya yang sangat erat dari diri leluhur mereka yaitu sang raja terakhir Sriwijaya dan raja pertama di Malaka “Sang Mulia Baginda Sultan Iskandar Syah atau Sri Baginda Parameswara” F. Penutup

Rumah Limas khas Palembang jadikan gambar di mata uang 10 ribu rupiah. Secara keseluruhan koleksi Museum Balaputradewa terdiri dari prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya, benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya, benda-benda peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, sejarah perang kemerdekaan di Sumatera Selatan dan benda-benda kebudayaam dari Sumatera Selatan. Dari koleksi-koleksi yang ada di Museum Balaputradewa memperlihatkan bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi pusat Agama Budha yang terkemuka di dunia pada masa jayanya. Begitu banyak arca yang menggambarkan Budha yang ditemukan di provinsi Sumatera Selatan yang kemudian menjadi bagian koleksi Museum Balaputradewa. Di bagian belakang museum terdapat bangunan khas Palembang yaitu Rumah Limas. Di bagian samping ruang pamer terdapat patung-patung yang mengambarkan budha dari berbagai situs dan diduga merupakan situs Kerajaan Sriwijaya. Salah satu patung atau arca yang paling terkenal dan sangat menarik perhatian pengunjung adalah patung orang menaiki gajah yang merupakan peninggalan era megalitikum di Sumatera Selatan tepatnya dari dataran tinggi Basemah/Pasemah (Pagaralam, Lahat, Oku, Bengkulu/curup). Masyarakat setempat menganggap bahwa patung orang menunggang gajah tersebut adalah salah satu kutukan yang benar-benar terjadi dari kisah

legenda masyarakat setempat yaitu Legenda Si Pahit Lidah. Legenda Si Pahit Lidah mengisahkan bahwa siapa saja yang dikutuk olehnya akan menjadi batu.

Beberapa arca megalitikum yang pernah di temukan di Sumsel, dipajang di pintu masuk Museum Balaputradewa. Akan tetapi, walaupun museum Balaputradewa adalah berstatus museum negeri atau museum Provinsi sangat jarang atau sedikit sekali jumlah kunjungan ke museum tersebut, padahal koleksi dan fasilitas yang ada di museum tersebut cukup baik, apakah ini karena kurangnya minat masyarakat untuk mengenal sejarah kebudayaan nenek moyangnya atau karena kurangnya promosi dari pihak museum?? Kita tidak tahu apa yang terjadi. Namun sudahlah, mulai dari hari ini marilah kita bersama-sama mengisi dan meramaikan museum yang ada disekitar kita karena banyak sekali manfaat yang didapatkan dari mengunjungi museum yaitu ilmu pengetahuan dan juga saranan rekreasi dari penatnya kehidupan di kota yang sangat semerawut. Ayo kita kujungi museum kita.!! Dan untuk pihak museum teruslah berbenah, teruslah untuk menjadi lebih baik agar masyarakat semakin dan lebih tertarik untuk berkunjung ke museum.

Pulau Kemaro

Pulau Kemaro, merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah industri,yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya danPertamina Plaju dan Sungai Gerong. Pulau kemaro berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang. Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuahvihara cina (klenteng Hok Tjing Rio). Di Pulau Kemaro ini juga terdapat kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Di sana juga sering diadakan acara Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek. Di Pulau Kemaro juga terdapat makam dari putri Palembang. Menurut legenda setempat, pada zaman dahulu, seorang putri Palembang dikirim untuk menikah dengan seorang anak raja dari Cina. Sang putri meminta 9 guci emas sebagai mas kawinnya. Untuk menghindari bajak laut maka guci-guci emas tersebut ditutup sayuran dan ketika sang anak raja membukanya dilihatnya hanya berisi sayuran maka guci-guci tersebut dibuangnya ke sungai. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut dan untuk mengenangnya dibangunlah Kuil.

Tempat Wisata

Daya tarik Kemaro adalah Pagoda berlantai 9 yang menjulang di tengah-tengah pulau. Bangunan ini baru dibangun tahun 2006. Selain pagoda ada klenteng yang sudah dulu ada. Klenteng Soei Goeat Kiong atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An (Pangeran) dan Siti Fatimah (Putri) yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini. Selain itu ditempat ini juga terdapat sebuah Pohon yang disebut sebagai "Pohon Cinta" yang dilambangkan sebagai ritus "Cinta Sejati" antara dua bangsa dan dua budaya yang berbeda pada zaman dahulu antara Siti Fatimah Putri Kerajaan Sriwijaya dan Tan Bun An Pangeran dari Negeri Cina, konon, jika ada pasangan yang mengukir nama mereka di pohon tersebut maka hubungan mereka akan berlanjut sampai jenjang Pernikahan. Untuk itulah Pulau ini juga disebut sebagai Pulau Jodoh. Bukit Siguntang, Sejuta Cerita di Palembang

Pulau Kemaro terletak di daerah Sumatera Selatan, tepatnya di tengah sungai Musi yang membelah kota Palembang. Kemaro sendiri merupakan bahasa Palembang, yang berarti kemarau. Menurut masyarakat Palembang, dinamakan pulau Kemaro karena pulau ini tidak pernah digenangi air. Walaupun volume air di sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tetap saja kering. Karena keunikan inilah, masyarakat sekitarnya menjulukinya sebagai Pulau Kemaro.

Pulau Kemaro terletak di sebuah delta yang berada di tengah-tengah sungai Musi, sekitar 5 km arah hulu. Di dalam pulau ini terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makan dari Putri Sriwijaya Siti Fatimah yang menceburkan diri ke Sungai Musi.

Pulau Kemaro terletak di sebuah delta yang berada di tengah-tengah sungai Musi, sekitar 5 km arah hulu. Di dalam pulau ini terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makan dari Putri Sriwijaya Siti Fatimah yang menceburkan diri ke Sungai Musi.

Menurut cerita, pada zaman dahulu seorang putri dari raja Sriwijaya bernama Siti Fatimah dilamar oleh putra raja dari negeri Tiongkok bernama Tan Bun Ann. Raja Sriwijaya ini mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tan Bun Ann. Persyaratannya adalah Tan Bun Ann harus menyediakan 9 guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann pun menerima syarat yang diajukan itu. Untuk menghindari bajak laut, emas yang berada di dalam guci-guci itu dilapisi sayur-mayur oleh keluarga tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann.

Pada suatu hari rombongan Tan Bun Ann tiba dari Tiongkok dengan 9 guci emas yang telah dijanjikan. Namun, setelah diminta menunjukkan isi gucinya oleh raja Sriwijaya, Tan Bun Ann terkejut karena melihat sayur mayur di dalam 9 guci yang dibawanya. Karena kaget dan marah, tanpa memeriksa terlebih dahulu, Tan Bun Ann langsung melemparkan guci-guci tersebut ke

dalam Sungai Musi. Tetapi pada guci yang terakhir, terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan, sehingga terlihatlah kepingan emas yang berada di dalamnya.

Rasa penyesalan yang membuat Tan Bun Ann mengambil keputusan tak terduga, ia menceburkan diri ke dalam Sungai Musi. Melihat kejadian tersebut, Siti Fatimah ikut menceburkan diri ke sungai, sambil berkata, “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka di situlah kuburan saya.” Dan ternyata benar, tiba-tiba dari bawah sungai timbul gundukan tanah yang akhirnya sekarang menjadi pulau Kemaro ini.

Apabila kita berkunjung ke pulau Kemaro, akan didapati tiga buah gundukan tanah yang menyerupai batu karang, dimana setiap gundukan diberi semacam atap dari kayu dan diberi batu nisan dengan tulisan Tiongkok yang didominasi warna merah. Menurut cerita, gundukan tanah yang di tengah adalah makam sang putri. Sedangkan dua gundukan tanah yang ada di sebelanya merupakan makam ajudan dari pangeran Tiongkok dan dayang kepercayaan sang putri. Hingga kini makam-makam tersebut masih terawat baik sebagai legenda pulau Kemaro. Pulau ini akan ramai di datangi oleh para pengunjung etnis cina baik dari dalam maupun luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Cina dan beberapa negara lainnya terutama pada saat Cap Go Me (15 hari setelah Imlek) , dan di sana ada sebuah pohon langka yang di sebut pohon cinta dimana apa bila pasangan muda-mudi yg berpacaran apabila mengukir nama mereka konon cinta mereka akan berlanjut ke pelaminan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->