Anda di halaman 1dari 8

Apa itu HIV dan AIDS ???

HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ T cell dan macrophage, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS. HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini adalah virus yang diketahui menjadi penyebab AIDS [Acquired Immune Deficiency Syndrome]. Jika seseorang positif HIV, ini berarti mereka terinfeksi virus tersebut. Seseorang yang terinfeksi dengan HIV tidak mempunyai AIDS selama virus tersebut secara serius merusak sistem kekebalan, membuat mereka lemah/mudah terserang infeksi, beberapa di antaranya menyebabkan kematian. HIV ditularkan melalui cairan tubuh kebanyakan dalam darah, sperma, cairan vagina dan ASI. HIV dan AIDS Bukan Penyakit yang Sama Banyak orang menganggap sama antara HIV dengan AIDS. Padahal, HIV dan AIDS merupakan dua hal yang berbeda. HIV tidaklah sama dengan AIDS. Lebih tepatnya AIDS merupakan hasil dari apa yang dilakukan virus HIV, jika tidak segera ditangani atau dilakukan terapi. Akibat virus HIV, seseorang akan lebih rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya rusak. Dalam banyak kasus, pengidap HIV tidak mengetahui dirinya terserang HIV. Hal tersebut terjadi karena gejala HIV lebih mirip dengan flu selama beberapa minggu. Bahkan orang yang mengidap HIV masih terlihat normal atau sehat. Diluar gejala flu tersebut, tidak ada. Semua tampak begitu normal. Untuk mendeteksinya, perlu dilakukan tes yang disebut dengan Voluntary Conseling and Testing (VCT). AIDS adalah fase lanjutan dari serangan virus HIV. Penyakit HIV berubah menjadi AIDS, waktu sistem kekebalan tubuh kita begitu rusak, sehingga jumlah CD4 kita kurang dari 200, atau persentase CD4 (CD4%) di bawah 14%. Berkurangnya CD4 mengakibatkan seseorang mudah diserang beberapa jenis penyakit (sindrom) yang kemungkinan tidak berpengaruh ketika kekebalan tubuh orang tersebut sehat. Penyakit tersebut disebut dengan infeksi oportunistik.

Beberapa Infeksi Oportunistik menurut Departemen Kesehatan diantaranya; Infeksi Paru-Paru, PCP (Pneumocystis pneumonia), Kanker Kulit, KS (Kaposis sarcoma), Infeksi yang biasanya menyerang mata, CMV (Cytomegalovirus), Infeksi jamur yang dapat mengakibatkan sariawan atau infeksi pada tenggorokan atau vagina, Kandida. Infeksi oportunistik menjadi momok yang menakutkan karena bisa berujung kematian bagi penderita. Namun, yang perlu dicatat, tiap-tiap orang mengalami AIDS yang berbeda. Beberapa kasus menunjukkan seseorang meninggal hanya dalam beberapa bulan setelah terinfeksi. Namun banyak kasus juga menunjukkan seseorang dengan AIDS dapat hidup secara normal untuk waktu bertahun-tahun. Untuk mempertahankan sistem kekebalan dan mencegah infeksi oportunistik, dibutuhkan terapi dengan Antiretroviral (ARV). Yang pasti HIV tidak membunuh namun AIDS dengan ancaman infeksi oportunistik yang menjadi mesin pembunuh. Untuk pencegahan tidak ada salahnya seseorang melakukan Tes HIV sejak dini. Dengan mengetahui status HIV sejak dini akan bisa diupayakan untuk tetap mempertahankan sistem kekebalan tubuh.

Apakah bedanya HIV-positif dan HIV-AIDS?


HIV/Human Immunodefiency Virus HIV adalah nama virus yang menyerang kekebalan tubuh. Dalam tubuh kita ada system kekebalan tubuh yang terdiri dari sel-sel, diantaranya adalah sel-T yang tugasnya memerangi kuman dan infeksi. Ketika virus HIV masuk ke dalam tubuh kita, virus itu akan menyerang sel-T dan masuk disana, sembunyi tanpa diketahui untuk berapa lama. Karena itu orang yang darahnya sudah terinfeksi HIV bisa nampak sehat, namun telah menjadi sumber penularan bagi orang lain. Pada suatu saat HIV akan memperbanyak diri dan mulai merusak sel-T. Maka pada saat inilah system pertahanan tubuh kita lemah dan tidak mampu memerangi kuman yang berada di sekitar tubuh kita. Ketika virus HIV sudah masuk ke dalam tubuh kita pada awalnya tidak ada gejalagejala khusus. Baru beberapa minggu sesudah itu orang yang terinfeksi mengalami penyakit ringan sehari-hari seperti demam, flu atau diare. Selebihnya tidak ada gejala khusus. Penderita HIV positif sering kali merasa sehat dan dari luar memang tampak sehat. Sering kali 34 tahun penderita tidak memperlihatkan gejala yang khas. Sesudah masa itu, bisa diatas lima tahun atau lebih mulai muncul penyakit-penyakit bawaan

akibat kekebalan tubuh menurun, seperti timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut dan terjadi pembengkakan di daerah kelenjar getah bening. Pada saat inilah orang ini dikatakan positif AIDS atau sudah memasuki tahap AIDS. Masa seseorang terinfeksi HIV hingga ke fase AIDS berbeda-beda, tergantung kepada gaya hidup dan asupan gizi yang masuk. Sebab virus HIV menyerang kekebalan tubuh, sehingga sakit ringan pada orang normal bisa sangat berbahaya pada penderita AIDS. Bahayanya adalah jika seseorang tidak mengetahui ia menderita HIV. Begitu diketahui pada darahnya ada HIV, maka pada saat itu ia sudah sangat potensial menularkan. Sayangnya ia terlambat mengetahui ada HIV di tubuhnya sehingga setahun dua tahun kemudian dia sudah masuk ke fase AIDS dan akhirnya meninggal. Ia tidak tahu sudah berapa lama virus itu bersarang ditubuhnya. Bagaimana Mengenali Tubuh Yang Terinfeksi HIV ??? Cara untuk mengenali atau mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV adalah melalui tes darah, jadi tidak bisa mengira-ngira dari gejala yang muncul saja. Jika seseorang mengalami sariawan berulang-ulang atau diare tak berkesudahan bukan berarti ia positif AIDS sebelum dilakukan pemeriksaan darah. Kenyataan ini sekaligus menghapus mitos yang salah bahwa berhubungan seks dengan orang yang kelihatan sehat, bugar dan gagah tidak mungkin kena HIV/AIDS. Sekali lagi HIV tidak bisa dipandang secara kasat mata seperti itu. Harus dilakukan pemeriksaan darah. Jika karena sesuatu hal kita hidup dengan resiko tinggi kena HIV, ada baiknya melakukan pemeriksaan darah setiap 6 bulan sekali meski pada pemeriksaan terakhir hasilnya negatif. Siapakah yang berisiko tinggi kena HIV ? Orang yang sering berganti-ganti pasangan seks tanpa memakai pelindung. Orang yang mendapatkan tranfusi darah yang tercemar. Saat ini masalah donor darah sudah semakin diperketat untuk mengantisipasi terjadinya hal ini. Pemakai narkoba. HIV menular melalui jarum suntik yang tidak steril dan dipakai secara bergantian. Biasanya ini terjadi pada pemakai narkoba yang enggan menggunakan jarum Seorang penderita AIDS adalah ketika tubuhnya mulai tidak bisa menghalau kuman atau infeksi yang datang, meskipun hanya kuman atau infeksi ringan seperti flu. Orang yang tubuhnya

terinfeksi HIV dan sudah memasuki tahap AIDS bisa meninggal hanya karena flu, radang paruparu atau diare yang tidak berkesudahan. Hal ini karena kekebalan tubuhnya tidak lagi berfungsi untuk menekan kuman dan infeksi yang ada sehingga infeksinya bertambah parah dan akhirnya meninggal. Suntik sendiri-sendiri. Biasanya mereka memakai bergantian. Tak heran jika tingkat penularan HIV di Indonesia tertinggi kedua adalah melalui jarum suntik pemakai narkoba. Ibu hamil yang tertular HIV akan menularkan pada bayi yang dikandungnya. AIDS Karena itu penderita HIV dianjurkan untuk menjalankan pola hidup sehat untuk menghindari gangguan kesehatan meski yang paling ringan sekalipun. Demikian pula dengan anjuran makan makanan bergizi yang diharapkan bisa memperkuat tubuhnya. Karena biasanya penderita HIV seringkali mudah lelah sehingga semakin mudah juga kuman dan infeksi masuk tubuhnya. Tapi kedua hal ini memang hanya proteksi agar seseorang bisa bertahan lama sebelum masuk ke AIDS. Sementara HIVnya sendiri tetap ada dan belum ada obatnya. Hanya ada 4 cara anda dapat menjadi HIV positif 1. Berhubungan seksual tanpa menggunakan pelindung dengan orang yang terinfeksi [kasus kebanyakan]; 2. Berbagi jarum suntik atau alat suntik yang terkontaminasi atau alat tindik; 3. Darah dan produk darah melalui, contohnya, transfusi, pencangkokan organ atau jaringan yang terinfeksi; 4. Penularan melalui ibu yang terinfeksi kepada anak dalam kandungan atau pada saat kelahiran dan pemberian ASI. Anda tidak dapat HIV dengan : 1. Berjabat tangan 2. Berbagi alat potong 3. Berpelukan 4. Minum dari mata air yang sama

5. Menggunakan gelas yang sama 6. Berteman dengan penderita 7. Bermain bersama 8. Belajar bersama atau bersekolah di tempat yang sama

Penularan
ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS. Peranan ODHA dalam upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS di masa mendatang semakin penting. Selaras dengan prinsip Greater Involvement of People with AIDS (GIPA). HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan seks oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. Penggunaan pelindung fisik seperti kondom lateks dianjurkan untuk mengurangi penularan HIV melalui seks. Belakangan ini, diusulkan bahwa penyunatan dapat mengurangi risiko penyebaran virus HIV, tetapi banyak ahli percaya bahwa hal ini masih terlalu awal untuk merekomendasikan penyunatan lelaki dalam rangka mencegah HIV. Di Asia, wabah HIV terutama disebabkan oleh para pengguna obat bius lewat jarum suntik, hubungan seks baik antarpria maupun dengan pekerja seks komersial, dan pelanggannya, serta pasangan seks mereka. Pencegahannya masih kurang memadai. Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS : 1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan 2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan 3. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan

4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis 5. Dimensia/HIV ensefalopati Gejala minor : 1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan 2. Dermatitis generalisata yang gatal 3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang 4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita Skrining Dengan Teknologi Modern Sebagian besar test HIV adalah test antibodi yang mengukur antibodi yang dibuat tubuh untuk melawan HIV. Ia memerlukan waktu bagi sistim imun untuk memproduksi antibodi yang cukup untuk dideteksi oleh test antibodi. Periode waktu ini dapat bervariasi antara satu orang dengan orang lainnya. Periode ini biasa disebut sebagai periode jendela. Sebagian besar orang akan mengembangkan antibodi yang dapat dideteksi dalam waktu 2 sampai 8 minggu. Bagaimanapun, terdapat kemungkinan bahwa beberapa individu akan memerlukan waktu lebih lama untuk mengembangkan antibodi yang dapat terdeteksi. Maka, jika test HIV awal negatif dilakukan dalam waktu 3 bulan setelah kemungkinan pemaparan kuman, test ulang harus dilakukan sekitar 3 bulan kemudian, untuk menghindari kemungkinan hasil negatif palsu. 97% manusia akan mengembangkan antibodi pada 3 bulan pertama setelah infeksi HIV terjadi. Pada kasus yang sangat langka, akan diperlukan 6 bulan untuk mengembangkan antibodi terhadap HIV. Tipe test yang lain adalah test RNA, yang dapat mendeteksi HIV secara langsung. Waktu antara infeksi HIV dan deteksi RNA adalah antara 9-11 hari. Test ini, yang lebih mahal dan digunakan lebih jarang daripada test antibodi, telah digunakan di beberapa daerah di Amerika Serikat. Dalam sebagian besar kasus, EIA (enzyme immunoassay) digunakan pada sampel darah yang diambil dari vena, adalah test skrining yang paling umum untuk mendeteksi antibodi HIV. EIA positif (reaktif) harus digunakan dengan test konformasi seperti Western Blot untuk memastikan diagnosis positif. Ada beberapa tipe test EIA yang menggunakan cairan tubuh lainnya untuk menemukan antibodi HIV. Mereka adalah

Test Cairan Oral. Menggunakan cairan oral (bukan saliva) yang dikumpulkan dari mulut menggunakan alat khusus. Ini adalah test antibodi EIA yang serupa dengan test darah dengan EIA. Test konformasi dengan metode Western Blot dilakukan dengan sampel yang sama.

Test Urine. Menggunakan urine, bukan darah. Sensitivitas dan spesifitas dari test ini adalah tidak sebaik test darah dan cairan oral. Ia juga memerlukan test konformasi dengan metode Western Blot dengan sampel urine yang sama. Pencegahan HIV/AIDS

HIV/AIDS adalah masalah kesehatan dan masalah sosial. Karena penyebaran HIV/AIDS sangat kuat dipengaruhi oleh tingkah laku manusia, dan segala usaha untuk pencegahannya haruslah mempertimbangkan faktor ini. Usaha pencegahan di antara populasi umum terdiri dari perbaikan ketrampilan dan pengetahuan, dalam cara yang dapat diterima oleh nilai-nilai agama dan normanorma budaya, tentang bagaimana virus ini berpindah, konsekuensi dan pencegahannya, penggunaan metode IEC yang telah ada. Penyebarluasan pengetahuan melalui jalur pendidikan formal dan informal begitu juga melalui jalur agama dicapai dengan cara sistematis memasukan material tentang HIV/AIDS ke dalam kurikulum reguler mereka. HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ; menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,tidak menggunakan jarum suntik secara bersama-sama, dan sedapat mungkin tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengobati AIDS, tetapi yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup.

Cegah Penularan HIV pada Bayi

Para pelaku yang terlibat dalam penanggulangan wabah HIV-AIDS di Indonesia, masih terjebak dalam cara berpikir yang sempit. Antara lain dalam upaya pencegahan penularan HIV pada bayi, masih terjebak dalam upaya mengidentifikasi ibu hamil yang telah terinfeksi HIV.

Konon dengan mengidentifikasi ibu hamil yang terkena HIV, maka upaya pencegahan penularan bisa dicegah. Kelihatanya sangat logis. Padahal bila ditelaah lebih lanjut cara seperti itu hanya dimungkinkan bila semua ibu hamil di Indonesia dites HIV. Ini tidak masuk diterima dengan akal sehat.

Angka kejadian HIV pada ibu hamil di Indonesia masih sangat rendah. Sebagian adalah pasangan dari lelaki yang berisiko, misalnya pengguna narkoba suntik. Sehingga program skrining ibu hamil sungguh tidak efektif dan sangat mahal. Sebagian besar ibu hamil yang terkena HIV adalah pasangan seks dari Lelaki yang berisiko, baik yang menggunakan jarum bersama ketika menginjeksi narkoba atau mempunyai banyak pasangan seks yang berganti-ganti.

Cara yang mudah adalah setiap layanan tes HIV, kita perlu menanyakan pasangannya dan kemudian melakukan tes HIV pada pasangan. Misalnya, semua pasangan pengguna narkoba suntik yang juga perlu dites HIV, selain penggunan narkoba yang pada umumnya lelaki. Jika seorang pasien mendapatkan hasil HIV positif, itu tidak berarti bahwa pasangan hidup dia juga positif. HIV tidak harus ditransmisikan setiap kali terjadi hubungan seksual. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pasangan hidup pasien tersebut mendapat HIV positif atau tidak adalah dengan melakukan test HIV terhadapnya.Test HIV selama kehamilan adalah penting, sebab terapi anti-viral dapat meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan kemungkinan dari wanita hamil yang HIV positif untuk menularkan HIV pada anaknya pada sebelum, selama, atau sesudah kelahiran. Terapi sebaiknya dimulai seawal mungkin pada masa kehamilan.