Anda di halaman 1dari 19

PENGATURAN RUANG KELAS A.

Pentingnya Pengaturan Ruang Kelas dalam Pembelajaran Proses pembelajaran yang efektif bagi anak usia TK akan dapat diwujudkan jika dilaksanakan pada suatu lingkungan yang mampu memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan lingkungan tersebut secara produktif. Dalam upaya mewujudkan hal ini guru hendaknya terampil dalam menata lingkungan belajar yang kondusif bagi anak untuk melaksanakan aktivitas belajarnya. Hal ini dapat dilakukan guru melalui kegiatan pengelolaan kelas. Dengan perkataan lain kegiatan pembelajaran yang efektif memerlukan pengelolaan kelas yang baik sehingga anak-anak merasa senang, gembira, aman, dan memiliki kebebasan untuk melakukan aktivitas belajar yang diminatinya. Kelas yang baik merupakan lingkungan belajar yang bersifat menantang dan merangsang anak untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan kepada anak dalam mencapai tujuan belajarnya. Oleh karena itu guru sebagai pengelola kelas yang sekaligus pengelola lingkungan belajar anak, harus mempu menggunakan pengetahuan tentang teori belajar dan dapat memahamai anak debngan segala aspek perkembangannya sehingga memungkinkan terciptanya situasi pembelajaran yang kondusif. Proses belajar akan terjadi pada diri anak melalui pengalaman yang diperolehnya dari lingkungan. Dengan demikian kelas sebagai salah satu lingkungan belajar bagi anak di sekolah perlu dikelola dengan baik karena dapat meningkatkan minat dan keseriusan anak dalam belajar sehingga memungkinkan anak dapat melibatkan diri dalam berbagai aktivitas belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun baiknya guru membuat persipan perencanaan yang dirancang untuk kegiatan pembelajaran, proses pembelajaran sepertinya akan tak berjalan dengan baik jika segala sesuatu yang diberikan kepada anak berlangsung dalam suatu ruangan kelas yang tidak mendukung dan tidak dikelola dengan baik. Menyusun perencanaan yang seksama dan bijaksana terhadap langkah-langkah yang akan dilakukan untuk pengelolaan kelas merupakan langkah permulaan yang amat penting dalam mewujudkan proses pembelajaran yang efektif. Untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif, faktor guru sebagai pengelola proses belajar mempunyai peran penting. Alasannya adalah karena semua aktivitas pembelajaran dirancang dan dilaksanakan oleh guru. Implementasi rancangan pembelajaran yang dibuat guru akan diterapkan di kelas dengan cara membangun interaksi dengan anak-anak yang ditujukan untuk membantu perkembangan anak ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, di samping guru, anak juga merupakan faktor penting yang dapat mempengharuhi situasi

pembelajaran yang efektif. Betdasarkan hal ini, Kellaugh (1996) menyatakan bahwa perpsepsi guru dan anak terhadap pembelajaran dapat mempengaruhi penciptaan situasi belajar yang efektif. Perpsepsi guru terhadap pembelajaran yang dimaksudkan di atas adalah sebagai berikut : 1. Kalau guru tidak percaya bahwa muridnya bisa belajar maka mereka tidak akan belajar. 2. Kalau guru tidak percaya bahwa ia bisa mengajar mereka maka guru tidak akan bisa. 3. Kalau murid-murid tidak percaya bahwa mereka bisa belajar sampai mereka mau belajar, mereka tidak akan bisa. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa untuk mendukung kesuksesan pengimplementasian rencana pembelajaran anak harus mempunyai perpsepsi berikut ini : 1. Anak merasa bahwa lingkungan kelas mendukung aktivitas belajar mereka 2. Anak merasa senang dalam kelas anda 3. Anak menganggap bahwa belajar yang diharapkan merupakan sebuah tantangan bukan merupakan sesuatu hal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan. 4. Anak percaya bahwa hasil belajar diharapkan sebagai suatu hal yang menyenangkan sehingga mereka berusaha untuk mencapainya. Oleh karena itu, menurut Kellaugh, guru yang berhasil dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah guru yaqng : 1. mengetahui bahwa semua anak dapat belajar; 2. mengharapkan yang terbaik dari setiap anak; 3. menciptakan suasana ruang kelas yabng kondusif bagi anak untuk belajar, yang akan memotivasi mereka untuk berbuat dengan cara yang terbaik; 4. mengelola kelas secara efektif sehingga waktu dapat digunakan seefektif mungkin, dengan paling sedikit gangguan terhadap proses belajar. Bertolak dari pendapat di atasa, dapat dikemukakan bahwa untuk menciptakan pembelajaran yang efektif guru harus mempunyai perpsepsi yang positif terhadap dirinya dan terhadap anak. Sebagai seorang guru professional ia mesti mempunyai keyakinan dalam diri bahwa ia akan mampu melaksanakan tugas mengajar dengan baik. Dorongan yang ada dalam diri guru ini akan sanagat mempengaruhi penampilan mengajar guru di kelas. Guru yang memiliki keyakinan tinggi dan positif akan berbeda penampilan mengajarnya dengan guru yang tidak yakin dan perpsepsi negatif terhadap dirinya, seorang guru perlu mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Menurut Mary Underwood (1987) dalam bukunya Effective Class Management, alih bahasa oleh Purwoko (1998) mengemukakan aspek-aspek penting yang perlu dikenali oleh guru terhadap dirinya dalam melakukan tugas pembelajaran adalah ; (1) kemampuan berbahasa, (2) bakat, (3) pengetahuan khusus dan umum, (4) keterampilan mengajar, (5) sikap terhadap disiplin danm (6) kesempatan untuk mengembangkan diri.

Di samping itu, anak juga mesti mempunyai perpsepsi yang tepat terhadap dirinya di mana ia akan mau dan mampu melaksanakan berbagai bentuk aktivitas belajar. Jika anak sudah memperpsepai diri bahwa ia tidak mau dan tidak mampu belajar maka ia memang tidak akan berbuat. Tugas guru adalah bagaimana merangsang minat dan kebutuhan belajar anak. Selain perpsepsi anak terhadap diri sendiri, perpsepsi anak terhadap guru juga akan mempengaruhi efektifitas pembelajaran. Artinya seorang anak juga harus mempunyai perpsepsi yang tepat terhadap guru sebagai orang dewasa yang mempunyai tugas untuk membimbing dan memfasilitasi mereka dalam berbagai kegiatan belajar. Hal yang dikemukakan di atas menunjukan bahwa aktivitas belajar anak dapat dipengaruhi oleh faktor kepercayaan anak untuk menyelesaikan tugas dengan sukses dan penguatan yang diberikan terhadap hasil yang dicapai serta arti penguatan itu bagi anak. Dalam proses pembelajaran yang efektif, aspek apa yang diharapkan anak dan arti dari harapan itu seharusnya dihadirkan, dengan demikian anak dapat melihat makna atau nilai dalam pengalaman dan mereka percaya bahwa dia akan dapat mencapai hasil yang dimaksud dari pengalaman itu. Seorang anak mungkin saja kurang berminat untuk belajar bila dia mempercayai bahwa tidak ada guna atau tidak ada nilai terhadap terhadap bahan atau merasa tak mampu dalam belajar. Dengan kata lain, sebelum anak berbuat, mereka harus merasa bahwa mereka dapat melakukan dan mereka harus percaya bahwa penting untuk berbuat dalam proses belajar. Berdasarkan hal tersebut, apabila guru ingin sukses menjalankan tugas sebagai orang dewasa professional di TK, guru harus memahami dirinya dengan baik dan benar, memahami diri anak secara komprehensif dan tepat, dan mengelola kelas dengan baik sehingga tercipta suasana pembelajaran yang kondusif. Hasil pemahaman guru terhadap diri sendiri dan anak hendaknya diaplikasikan terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Demikian juga halnya dengan kegiatan pengelolaan kelas yang baik, di mana harus dilakukan atas dasar pemahaman guru secara komprehensif terhadap anak usia TK sehingga suasasan kelas merupakan tempat yang menyenangkan bagi anak untuk melaksanakan berbagai aktivitas belajar. Guna mewujudkan kondisi tersebut Underwood (1987) mengusulkan beberapa hal berkenaan dengan perilaku guru dalam pembelajaran, yaitu : 1. Memanggil setiap anak dengan namanya 2. Selalu bersikap sopan kepada anak dan mengharapkan mereka bersikap sama terhadap guru dan teman lain 3. Memastikan bahwa guru tidak menunjukan sikap pilih kasih terhadap anak tertentu 4. Merencanakan dengan apa yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, tetapi tidak perlu kaku dalam pelaksanaannya 5. Mengungkapkan kepada anak-anak tentang apa yang ingin anda capai 6. Libatkan anak secara aktif dalam kegiatan belajar, jangan biarkan satu atau dua anak memonopoli kelas 7. Berikan kesempatan dan kebebasan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang diminatinya.

8. Bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan 9. Melaksanakan hal yang telah dikatakan kepada anak 10. Bersikap konsisten dalam menghadapi anak-anak. B. Menciptakan Lingkungan Kelas yang Kondusif untuk Belajar

1. Pertimbangan dalam Merencanakan dan Mengorganisasi Lingkungan Fisik. Menciptakan lingkungan fisik kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar anak adalah salah satu tugas pokok guru. Untuk mewujudkan kondisi ini guru perlu mempertimbangkan dua hal pokok, yaitu informasi tentang anak dan kegiatan yang akan dilakukan anak berkenaan dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang hendak dicapai (Patmonodewo, 2000). Kedua hal pokok tersebut digambarkan secara rinci sebagai berikut ; (1) pertama kali yang dapat membantu perencanaan dan pengorganisasian lingkungan fisik kelas adalah informasi yang berkaitan dengan anak yang akan mengikuti kegiatan belajar, informasi tersebut berupa catatan atau laporan tertulis yang diperoleh guru beberapa waktu sebelum sekolah dimulai, dan (2) guru perlu mempersiapkan apa yang harus dilakukan anak berkaitan dengan tujuan khusus yang hendak dicapai. Apabila direncanakan agar anak menjadi kreatif maka guru harus menyediakan materi berupa balok, alat berupa cat cair, kertas berwarna yang berkaitan dengan seni perlu disediakan. Alat-alat yang diperlukan untuk mendukung perkembangan fisik adalah alat-alat yang membutuhkan ruang yangn luas perlu disediakan baik yang ada dalam kelas maupun di luar kelas. Sejalan dengan pendapat diatas, untuk menciptakan lingkungan kelas yang mendukung proses belajar, berkenaan dengan ini Kellaugh (1996) menemukakan sejumlah hal yang berkaitan dengan anak yang mesti dipertimbangkan guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, antara lain, misalnya : (a) memahami anak-anak, (b) memahami pola-pola belajar anak, (c) menghargai anak baik belajar sendiri atau kelompok, (d) anak lebih menyukai belajar melalui proses yang disenangi untuk memperoleh informasi atau ide-ide baru, (e) tugas terstruktur dan tidak terstruktur, (f) gambaran umum dan atau detail, (g) latar belakang pengalaman anak. Selanjutnya, Purwokok, 1998 (dalam Mary Underwood, 1987) menemukakan aspek penting yang perlu dikenal guru tentang anak yaitu ; (a) nama, (b) latyar belakang, dan (c) minat. a. Mengenali anak berikut ini dikemukakan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat mengenali anak : 1, Berbagi informasi di kelas selama minggu pertama sekolah.

Dalam upaya memahami anak guru dapat memanfaatkan waktu pada harihario pertama sekolah. Guru dapat menggunakan cara dengan jalan menyuruh anak untuk bercerita tentang dirinya secara bergiliran dihadapan temantemannya. 2. Pengamatan anak dalam kelas. Pengamatan di kelas dapat memberikan informasi berkenaan dengan perilaku anak sebagai individu, minat, motivasi, kemampuan dan social anak pada saat berinteraksi dengan teman lainnya di kelas. 3. Pengamatan siswa di luar kelas. Berbagai aktivitas anak di luar kelas yang dapat diamati guru antara lain misalnya kegiatan anak pada saat istirahat dan sedang bermain di lapangan bersama dengan teman-temannya. 4. Bercengkrama dengan anak. Melalui interaksi ini guru akan dapat memahami anak secara individu dan karakter anak ketika ia berinteraksi dengan temannya. 5. Pertemuan dan wawancara dengan anak. Cara ini dapat dilakukan dalam situasi formal dan dapat pula dilaksanakan dalam suasana tidak resmi dengan lebih menonjolkan suasana kekeluargaan. Dengan cara terakhir ini biasanya anak lebih terbuka untuk menceritakan dan menginformasikan tentang dirinya kepada guru. Selanjutnya guru dapat pula mengajukan sejumlah pertanyaan penting sederhana kepada anak dan anak dapat pula dengan mudah menjawab apa yang ditanyakan oleh guru. 6. Laporan dalam dokumen. Biasanya pada setiap awal tahun ajaran baru anakanak mengisi sejumlah data yang memuat tentang identitas anak. Pengisian ini dilakukan oleh orang tua mereka. Melalui laporan atau data yang ada dalam dokumen tersebut guru dapat memperoleh informasi tentang anak. 7. Diskusi dengan professional lainnya. Tidak ada salahnyanya jika guru berupaya untuk mencari informasi yang lengkap tentang anak dengan cara menghubungi tenaga professional atau guru lainnya atau orang dewasa lainnya yang mengenal anak secara lebih dekat. b. Gaya Belajar agar belajar berlangsung efektif, guru perlu mengetahui tentang gaya belajar anak. Tanpa ada pemahaman guru terhada[p aspek ini, guru akan mendapat kesulitan dalam menciptakan iklim dan interaksi belajar yang kondusif bagi anak. Gueu perlu menyadari bahwa anak memiliki gaya belajar yang berbeda antara satu abak dengan anak lainnya. Perbedaan ini menuntut adanya perlakuan yang tidak sama terhadap semua anak dalam kegiatan pembelajaran. c. Cara kerja anak

mengetahui cara kerja anak merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dengan aspek lain tentang anak. Pemahaman tentang cara kerja anak, akan dapat dimanfaatkan guru untuk mendisain aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan anak. Di samping itu guru dapat menempatkan peran dalam pembelajaran sesuai dengan keadaan anak. Dalam kenyataannya akan ditemui ada anak yang lebih suka untuk bekerja sendiri atau bekerja dengan beberapa orang teman saja. Hal ini perlu dihormati dan dihargai oleh guru. Guru tidak boleh memaksakan kehendak sehingga apa yang diinginkan guru bertentangan dengan kesukaan anak. d. Anak lebih suka belajar dengan perasaan sebagai guru professional perlu menyadari bahwa salah satu karakteristik anak adalah lebih suka belajar dengan perasaan. Oleh karena itu guru hendaknya mampu memberikan stimulus yang tepat sehingga perasaan sebagai bagian aspek psikologis yang dimiliki anak dapat dimanfaatkan membantu dan membimbing perkembangan anak. e. Terstruktur versus tugas tidak terstruktur aspek ini merupakan bagian dari karakteristik yang dimiliki anak yang perlu diketaui oleh guru. Seorang anak akan ditemukan lebih menyukai tugas-tugas terstruktur, sementara anak yang lain dapat saja menyukai struktur tugas yang diinginkan sendiri. Kenyataan ini yang diterima dan dipahami oleh guru sehingga dapat menempatkan peran sesuai dengan kondisi anak. f. Rinci versus gambar menyeluruh membuat gambar secara rinci merupakan suatu hal yang disukai seorang anak, namun belum tentu diminati oleh anak yang lainnya. Sebaliknya, seorang anak akan ditemukan tidak menyenangi gambar yang rinci, tetapi ia lebih menyukai sebuah gambar yang sifatnya lebih umum dan menyeluruh. Konsekuensi bagi guru adalah bahwa guru tidak dapat memaksa anak untuk melakukan aktivitas menggambar yang bertentangan dengan kesukaannya. g. Latar belakang pengalaman anak Pembelajaran akan berlangsung efektif apabila guru mempunyai pemahaman tentang latar belakang pengalaman anak. Berkenaan dengan hal ini, Popham dan Baker (tanpa tahun) mengemukakan beberapa hal yang menyangkut dengan latar belakang anak yang perlu dikenal oleh guru, yaitu : 1. Latar belakang psikologis 2. Latar belakang kemampuan 3. Latar belakang kesehatan fisik 4. Latar belakang perhatian anak mengenai pendidikan 5. Latar belakang kehidupan anak di rumah.

Hal ini dikemukakan oleh Hubbard (1986) untuk menata ruang phisik kelas guru perlu memperhatikan kemudahan pelaksanaan aktivitas belajar terutama hal yang berkaitan dengan : (a) akses ke ruang kerja, (b) akses ke alat-alat permainan dan (c) akses ke anak-anak a. Akses ke ruang bekerja Penataan ruang kelas hendaknya memberikan akses ke ruang kerja anak. Jika keadaan memungkinkan akan lebih baik disediakan ruang kerja yang berbeda untuk anak. Guru perlu memahami bahwa cara kerja anak akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada saatnya anak menyukai kerja sendiri dan ada kalanya mereka ingin bekerja secara berkelompok. Oleh karena itu, guru hendaknya jangan menyediakan tempat yang kaku di mana anak ditempatkan secara tetap untuk semua jenis pekerjaan atau aktivitas yang dilakukannya. Jika ini terjadi maka jelas akan membosankan bagi anak. Penyediaan tempat yang pleksibel akan memungkinkan anak merasa senang menyelesaikan pekerjaan sendiri dan tanpa pula berinteraksi secara aktif dengan teman lain dalam suatu aktivitas kelompok. Dengan perkataan lain, di dalam penataan ruang kelas perlu diupayakan agar anak-anak mempunyai fleksibiltas untuk mengubah tempat mereka bekerja tergantung pada kebutuhan dan sifat tugas mereka yang bervariasi. Apabila kondisi ini dapat diwujudkan maka kebebasan anak dalam melakukan berbagai aktivitas dapat dikembangkan sehingga mereka diharapkan dapat mencapai tingkat perkembangan yang optimal. Sebaliknya, penataan ruang kelas yang tidak mengakses ke ruang kerja sesuai dengan kebutuhan anak akan berdampak negatif terhadap aktivitas belajar anak. Hal ini dapat dilihat dari kepasifan anak untuk tetap duduk di meja dengan tanpa aktivitas, karena ia tidak melihat adanya tempat yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan keinginannya. b. Akses ke alat permainan Penataan ruang phisik kelas hendaknya memudahkan anak-anak untuk mendapat material atau alat permainan yang dibutuhkan anak dalam berb agai aktivitas belajar. Sebagai contoh, dalam kegiatan yang ditujukan untuk perkembangan emosi dan social guru hendaknya sudah menyediakan balok bangunan di suatu tempat berdekatan dengan anak. Secara rinci alat permainan yang dapat disediakan guru untuk tujuan kegiatan perkembangan emosi dan social, menurut Sudono (1995) adalah sebagai berikut : 1. Berbagai macam balok seperti balok besar, kecil, polos, warna, bentuk geometri, kubus-kubus dan prisma 2. Berbagai macam mozaik 3. Puzzel lantai yang dapat dimainkan bersama 4. Papan permainan (board games)

5. Sudut keluarga, took-tokoan, permainan rumah sakit, polisi, kantor pos dan lain-lain c. Akses ke anak-anak Penataan ruang kelas yang dilakukan guru hendaknya dapat melayani perbedaan dan kebebasan individu anak dalam belajar. Seorang anak pada suatu ketika menginginkan aktivitas yang berbeda dengan temannya. Dalam hal ini guru mestinya sudah menyediakan tempat, peralatan dan memberikan kesempatan kepada anak yang bersangkutan sehingga anak merasa senang dalam melaksanakan kegiatan belajar. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka perkembangan anak yang optimal dapat pula tercapai. 2. Karakteristik Lingkungan Fisik Mendukung Kegiatan Belajar yang Tidak Mendukung dan

a. Lingkungan fisik yang tidak mendukung Berkenaan dengan lingkungan belajar ini, Marion (1991) mengemukakan dua contoh kelas sebagai lingkungan belajar yang kondusif dan tidak kondusif. Kelas yang tidak kondusif untuk kegiatan dapat dilihat dari beberapa cirri berikut ini : 1. Dalam kelas terdengar suara gadus yang sangat mengganggu aktivitas belajar di kelas 2. Beberapa orang anak tampak sedang berlari-lari di dalam kelas, dan anak-anak lainnya tampak berkeluyuran tanpa tujuan 3. Ruangan kelas terkesan tidak menarik dengan penataan warna yang tidak baik dan jendela tanpa gordeng serta keadaan yang kacau balau dimana-man. 4. Ruang kelas balok-balok yang terdiri berbagai ukuran dan bentuk, tetapi belum diorganisir di atas rak sesuai dengan ukuran dan bentuk 5. Tidak ada materi aksesori (figure binatang dan orang-orang, tanda-tanda jalan, mobil-mobilan dan truk-truk yang kecil) yang bisa digunakan anak-anak untuk memperluas dan mengembangkan permainan balok 6. Penempatan perabot yang tidak mempertimbangkan penggunaan oleh anak sehingga tidak mengganggu aktivitas anak lainnya 7. Bahan-bahan di area seni bercampur aduk antara satu dan lainnya 8. Terdapat tumpukan kertas gambar dan kertas sisa 9. Peralatan di area seni berserakan dan kelihatan tidak bersih 10. Pada area perpustakaan dan teka-teki buku-buku bertumpuk di atas meja, dan sulit bagi anak-anak untuk mendapat mendapat salah satu diantaranya tanpa menyingkirkan buku yang lainnya 11. Area perpustakaan tidak dipisahkan dari area balok, sehingga suara gaduh dari area balok membuat kegiatan membaca menjadi sangan sulit 12. Potongan-potongan puzzle teki telah banyak yang hilang dan bertumpuktumpuk.

Lingkungan belajar yang tidak kondusif akan menimbulkan kesan tidak menyenangkan dan tidak menantang bagi anak untuk mekakukan aktivitas belajar. Pada suatu lingkungan kelas yang tidak menarik, tidak menyenangkan dan tidak menantang bagi anak untuk melakukan kegiatan belajar berdampak terhadap pelaksanaan tugas guru. Menghadapi suasana kelas yang tidak kondusif, mengakibatkan guru juga merasakan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukannya tidak efektif. Alasannya adalah karena guru merasa tidak tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas pembelajaran dengan baik sesuai dengan perencanaan yang telah diprogramkan. Dalam situasi seperti ini waktu guru lebih banyak dihabiskan untuk mengurus perilaku anak yang menyimpang. Keadaan ini menimbulkan banyak keluhan yang muncul dari guru sebagai orang dewasa yang mempunyai tugas untuk mengelola kelas. Keluhan guru dimaksud berkenaan dengan munculnya sejumlah perilaku anak yang tidak mendukung aktivitas pembelajaran seperti berikut ini : 1. Anak-anak terus berlari-lari di sekeliling ruangan 2. Anak-anak tampaknya tidak mampu untuk berkonsentrasi dalam melakukan tugas tertentu 3. Mereka saling mendorong antara satu dengan yang lainnya dalam melakukan aktivitas di kelas 4. Tingkat suara yang tinggi 5. Ajakan guru tidak diindahkan oleh anak-anak 6. Anak-anak tidak mau melakukan antri secara teratur guna menunggu giliran untuk melakukan suatu aktivitas Pada kelas seperti ini guru-guru kelihatannya membuang waktu percuma waktu yang cukup banyak untuk hal-hal yang tidak menguntungkan terhadap kegiatan belajar dan perkembangan anak yaitu : 1. Memaksakan aturan kepada anak 2. Menghukum perilaku anak yang tak dapat diterima 3. Merendahkan martabat anak yang berperilaku salah 4. Memerintahkan kepada untuk duduk dan diam 5. Menghakimi beberapa orang anak yang tidak sepaham Kekurangmampuan guru untuk mengatur dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak mendukung kegiatan pemebelajaran sehingga mengakibatkan anak merasa bosan, tidak senang, kurang gairah untuk melakukan aktivitas belajar merupakan salah satu akibat dari kurangnya pemahaman guru terhadap karakteristik dan kebutuhan anak usia TK. Sebagai konsekuensinya guru akan dihadapkan pada persoalan yang cukup rumit yaitu mengurus dan mengendalikan pergerakan anak dan perilaku anak yang menyimpang dengan ketat. Tanpa disadari penampilan mengajar guru akan cenderung lebih otoriter dengan cara memperlakukan anak sewenang-wenang dengan mengabaikan karakteristik anak. Ini berarti bahwa lingkungan belajar yang tidak kondusif akan memunculkan banyak permasalahan disiplin yang harus diselesaikan guru. Keadaan semacam ini juga akan mengundang perilaku mengajar guru yang bertentangan dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia TK.

b. Lingkungan Fisik yang Mendukung Lingkungan fisik yang kondusif dapat merangsang anak untuk lebih aktif melakukan berbagai aktivitas yang berorientasi kepada perkembangannya yang optimal. Suatu lingkungan fisik yang mendukung memudahkan anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Kelas yang menarik dan menyenangkan untuk belajar dapat pula diciptakan dari sebuah kelas yang mempunyai ukuran yang sama dengan kelas sebelumnya, terdiri dari material yang sama, mempunyai mebel yang sama, dan juga mempunyai jumlah guru dan anak-anak yang sama. Suatu kelas yang kondusif, berdasarkan kelas yang dicontohkan Marion (1991) dapat dilihat cirri-ciri berikut : 1. Hasil pekerjaan anak-anak dipajangkan 2. Tumbuhan hijau yang sehat di seluruh ruangan 3. Poster berwarna-warni di dinding, dan gorden baru di jendela 4. Ruangan diatur dalam area aktivitas yang berbeda 5. Terdengar senandung berbicara dan tertawa, tetapi tidak ada teriakan 6. Anak-anak sedang mengerjakan beberapa aktivitas yang diatur oleh para guru 7. Material disimpan di atas rak terbuka yang rendah, dan anak-anak dapat menjangkaunya dengan mudah 8. Fasilitas dan peralatan ditempatkan berdekatan dengan aktivitas yang akan dilakukan anak seperti kran air, ember, dan spons 9. Anak-anak tampaknya benar-benar menikmati kegiatan pembelajarn dengan senang dan gembira 10. Peran guru tampat sebagai fasilitator dan pembimbing dimana guru berupaya menasihati anak-anak dari suatu perubahan aktivitas ke bentuk aktivitas lainnya yang dirancang. Keadaan yang digambarkan di atas menimbulkan pertanyaan tentang faktorfaktor yang dapat mempengharuhi terciptanya kelas yang kondusif sehingga menarik dan menyenangkan untuk melaksanakan kegiatan belajar. Dalam lingkungan kelas seperti ini, anak-anak tampak terlihat aktif melakukan berbagai kegiatan belajar dan mereka meleksanakan dengan perasaan senang dan gembira serta guru tidak disibukan untuk mengurus perilaku anak yang menyimpang. Sebaliknya, apa pula yang menjadi penyebab suatu kelas tampak tidak menarik, gaduh, dengan anak-anak yang ribut dan guru menghabiskan waktu untuk mengurus dan menyelesaikan masalah perilaku anak yangb tidak mendukung kegiatan pembelajaran. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terciptanya suatu atmosfir kelas yang kondusif untuk melaksanakan aktivitas belajar yaitu : 1. Pengetahuan guru mengenai perkembangan anak dan tingkat dukungannya 2. Penggunaan disiplin yang positif

10

3. Pengaturan batas-batas yang baik 4. Kemampuan untuk berkomunikasi yang baik dengan anak-anak 5. Faktor lainnya yaitu seberapa baik guru mengatur lingkungan fisik (Marion, 1991, yang dikutif dari Bredekamp, 1986; Day, 1983; Phyfe Perkins. 1980; Prescott, 1984). Sementara itu, Purnami dan Subekti (1991) mengemukakan karakteristik ruang kelas yang baik, yaitu : 1. Setiap interst area ditempatkan dan diatur dengan jelas 2. House corner diatur letaknya berdekatan dengan Block Corner 3. Rak-rak untuk melakukan benda-benda seni mudah dicapai dari tempat duduk dan meja anak-anak 4. Ada ruangan yang cukup luas untuk kegiatan seni tanpa ada benda-benda lain yang menghalangi gerak anak 5. Table toy dan libraro corner, merupakan dua interest area yang menuntut ketenangan kerja, diatur atau diletakan berdekatan 6. Ruangan diusahakan diatur agar tidak menghalang-halangi anak dalam bekerja 3. Pengaturan Waktu Waktu untuk melakukan aktivitas bagi anak perlu diatur sedemikian rupa, fleksibel dan mengacu pada karakteristik anak. Hal ini dikemukakan Patmonodewo (2000). Jadual kegiatan belajar disesuaikan dengan lamanya anak berada di sekolah. Agar dapat menyusun jadual yang baik, sebaiknya guru mengenal cirri anak didiknya. Gruru sebaiknya mengenal bagaimana pola reaksi anak, bagaimana kecepatan reaksi anak, berapa lama waktu istirahat yang dibutuhkan anak. Jadual kegiatan belajar sebaiknya disusun berdasarkan hal-hal sebagai berikut 8.15-8.45 Guru melakukan perencanaan dan persiapan 8.45-9.00 Kedatangan. Anak-anak mulai berdatangan dan masuk kelas. Guru harus selalu siap memberi salam secara pribadi kepada masingmasing anak. 9.00-9.20. Waktu dalam kelompok. Guru duduk di tengah kelompok anak. Tujuannya adalah mengecek kehadiran dan menyampaikan perencanaan guru untuk hari tersebut. Dalam kesempatan tersebut antara guru dan murid berbagi pengalaman, bertanya jawab atau melakukan diskusi. 9.20-10.10. Periode melakukan kegiatan. Pada periode ini masingmasing anak boleh kesempatan memilih satu di antara beberapa kegiatan, dan mereka boleh mengganti dengan pakaian lain selama masih di dalam periode kegiatan tersebut. Guru dapat bekerja dengan kelompok kecil atau dengan anak secara individual. Aktivitas yang dilakukan anak biasanya melakukan kegiatan pekerjaan tangan, misalnya menggunting, menempel, atau bermain dengan melakukan manipulasi. Anak lain mungkin akan bermain pasir, air

11

yang berkaitan dengan mendapatkan pengalaman ilmiah. Semua kegiatan yang dilakukan anak pada periode ini diketahui dan di bawah pengawasan guru. 10.10-10.30. Membersihkan diri, makan dan istirahat. Setelah melakukan kegiatan anaka-anak harus membersihkan ruang serta alat yang dipergunakan semula. 10.30-11.00. Musik dan bercerita. Biasanya dalam periode ini dilakukan dengan kegiatan yang diiringi musik dan ekspresi. 11.00-11.20. Kegiatan di luar ruang. Anak dapat melakukan kegiatan memanjat, berlari, berayun, melompat dapat pula bermain pasir atau air. 11.20-11.40. adalah wakru bersiap akan pulang. Anak-anak mengumpulkan barang sebelum pulang. 11.40-12.00. periode guru membersihkan atau membenahi kelas. Guru membutuhkan waktu selain untuk membenahi kelas juga melakukan pencatatan. Guru melakukan persiapan untuk hari berikutnya. Di dalam kelas anak-anak mempunyai waktu yang berbeda yang mereka butuhkan untuk menjangjau ke dalam pikiran mereka sendiri, mengingat kembali memori atau berkonsentrasi pada isu tertentu yang terlibat dalam aktivitas mereka. Mereka tidak kelihatan seperti melakukan tugas, melainkan mereka kelihatan seperti membuat ruang kreatif yang perlu untuk pemikiran mereka. C. Mengatur Ruang Kelas

1. Penyediaan ruang yang memadai Idealnya ruang kelas yang dipakai sebagai tempat pembelajaran di TK adalah ruangan yang dibangun secara khusus untuk itu, sehingga bangunan ruang kelas yang ada telah disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia TK. Untuk dapat menciptakan kelas yang kondusif bagi anak untuk melakukan berbagai aktivitas belajar, ruang kelas hendaknya memiliki ukuran yang memadai. Menurut Sudono (1995) dan Rachman (1998/1999) ukuran ruang kelas untuk TK adalam 7 x 8 bujur sangkar. Ukuran ruang kelas dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang akan dilakukan anak jumlah anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Keterbatasan ukuran ruang kelas pada dasarnya dapat diatasi dengan menambah tempat di luar ruangan sebagai suatu upaya untuk memenuhi aktivitas belajar anak. Hal ini dapat dilakukan apabila area atau lokasi yang ada di luar kelas juga memungkinkan. Selanjutnya, kapasitas atau muatan kelas juga merupakan faktor yang mempengaruhi penciptaan suasana yang kondusif di kelas. Berkenaan dengan hal ini, studi yang dilakukan oleh Roup, Traver, Glant dan Coelen, 1970 (Patmonodewo, 2000) merekomendasikan bahwa pemanfaatan sarana jika

12

dikaitkan dengan rasio guru dengan jumlah murid yang paling baik adalah 1 guru dengan 7 orang anak. Tetapi masih dibolehkan untuk 1 guru dengan dengan 14 orang anak usia prasekolah (3-5 tahun). Sudono (1995) berpendapat bahwa makin sedikit jumlah anak di kelas makin baik karena akan dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang akan dilakukan dan jumlah siswa memperlancar interaksi antara guru dan murid. Selain memperhatikan ukuran, Rachman berpendapat ruang kelas harus diusahakan memenuhi syarat sebagai berikut : a. Dapat memberikan keleluasaan gerak, komunikasi, pandangan dan pendengaran b. Cukup cahaya dan sirkulasi udara c. Pengaturan perabot agar memungkinkan guru dan murid dapat bergerak leluasa d. Daun jendela tidak mengganggu lalu lintas Berkenaan dengan ini pula, Underwood (1987) mengingatkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menggunakan suatu ruang kelas yaitu : a. Apakah ruang terang dan lampu menyala tetapi tidak terlalu menyilaukan ? b. Apakah suhunya nyaman dan ada udara segar ? c. Apakah setiap anak dapat dengan mudah mendengar anda ? d. Apakah semua anak bisa melihat anda dan papan tulis atau layar dengan mudah ? e. Apakah anda bebas mengubah susunan ruang kelas ? f. Bagaimana anda mengatur pemindahan meja-kursi ? susunan seperti apa yang paling cocok ? g. Bagaimana dengan furniture lain di tempat itu ? misalnya, meja guru, tempat penyimpanan, dan tempat meletakan peralatan pada saat anda membutuhkannya ? h. Dapatkah anda merekatkan atau menggantungkan sejumlah gambar di dinding ? Sejumlah pertanyaan di atas harus dijawab oleh guru secara objektif dan guru mesti mempunyai kreativitas untuk mencari solusi apabila ditemukan keadaan yang menyulitkan. Suhu, ventilasi dan penerangan merupakan aspek penting dalam menciptakan ruang kelas yang nyaman, walaupun guru sulit untuk mengaturnya karena sudah tersedia. Untuk menjamin kesehatan murid ventilasi harus cukup, dan ukuran jendela memadai sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk dengan bebas, udara sehat dengan ventilasi yang baik sehingga semua murid dalam kelas dapat menghirup udara segar yang cukup mengandung oksigen. 2. Mengatur tempat duduk secara fleksibel

13

mengatur tempat duduk untuk usia TK sudah jelas tidak sama kondisinya dengan pengaturan tempat duduk pada anak usia SD. Anak-anak pada masa kanak-kanak atau usia TK ini tidak dikondisikan untuk duduk di kursi mereka dalam waktu yang cukup lama. Mereka cenderung menghabiskan waktu mereka untuk beraktivitas di lantai atau selalu bergerak dengan pindah-pindah tempat. Oleh karena itu, pengaturan tempat duduk anak TK harus dilakukan secara fleksibel. Artinya guru harus mempunyai pertimbangan yang jelas kapan anak harus duduk di kursi yang dilengkapi dengan meja, berapa lama dan untuk melakukan kegiatan apa. Tempat duduk dengan memanfaatkan kursi yang dilengkapi meja hendaknya dengan mudah dapat dipindah-pindahkan. Alasannya adalah karena dalam kelas yang sama anak dapat dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan tema pembelajaran yang diminati anak. Ukuran dan tinggi kursi meja juga disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan anak. Akan lebih baik bila dapat diupayakan kursi-kursi atau meja yang bisa dilipat sehingga pada saat tidak dipakai dapat disimpan dengan tidak banyak memakan tempat. 3. Pengaturan perabot dan alat permainan Perabot dan alat permainan sangat dibutuhkan di TK guna mendukung penerapan konsep bermain sambil belajar yang merupakan aktivitas yang disenangi dan digemari oleh anak-anak usia TK. Alat permainan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan anak. Dalam hal ini sangat dituntut kreativitas guru untuk menciptakan dan mengadakan berbagai bentuk alat permainan yang mendukung aktivitas belajar anak. Alat permainan yang dapat berfungsi sebagai sumber belajar di TK sangat beragam sesuai dengan kebutuhan anak dan kreativitas guru dalam menciptakan berbagai bentuk alat permainan tersebut. Guna mendukung penyelenggaraan pembelajaran secara efektif, alat permainan yang sifatnya pokok mesti disediakan di TK. Berkaitan dengan hal ini, menurut Sudono (1995) alat permainan dan sumber belajar yang baku yang mesti ada di TK adalah : a. Pasir Untuk dapat bermain pasir perlu disediakan bak pasir yang dapat diletakan di dalam atau diluar ruangan. Untuk menjaga kebersihan, bak pasir dapat ditutup pada saat tidak digunakan. b. Air Untuk dapat bermain dengan air juga perlu disediakan bak air. Selain itu perlu juga disediakan alat permainan yang dapat dimanfaatkan di air, antara lain yaitu : 1. Gelas, mangkuk, cangkir plastik

14

2. 3. 4. 5.

Berbagai bentuk ukuran dan volume botol dari aneka bahan Bebagai macam ember dan alat penyiram tanaman, gayung Berbagai corong, ukuran benda cair, pipa air Zat pewarna makanan

c. Alat permainan balok Balok merupakan alat permainan yang sangat digemari oleh anak TK. Berbagai jenis alat permainan balok yang perlu disediakan di TK, antara lain adalah sebagai berikut : 1. Berbagai macam alat transportasi 2. Berbagai macam orang-orangan, binatang, tanaman 3. Berbagai macam tanda lalu lintas 4. Berbagai perabot dan rumah-rumahan d. Alat permainan manipulatif Seperti halnya alat permainan lain, alat permainan manipulatif juga sangat disukai oleh anak-anak. Bentuk-bentuk alat permainan manipulatif adalah : 1. papan hitung 2. mozaik 3. puzel 4. alat jahit 5. boneka e. Sudut rumah tangga dan tempat peyanana masyarakat Berbagai alat permainan pada sudut keluarga dan pelayanan masyarakat yang dapat disediakan di TK misalnya : 1. alat dapur 2. alat makan 3. rumah boneka lengkap dengan perabotnya 4. perabot rumah tangga 5. rumah sakit dengan segala perlengkapannya f. Perpustakaan Perpustakaan merupakan tempat sumber belajar bagi anak. Berbagai bahan yang perlu disediakan di perpustakaan ini, antara lain adalah : 1. buku untuk anak-anak 2. buku referensi 3. berbagai macam gambar

g. Alat untuk berekspresi Di TK perlu juga disediakan alat permainan untuk berekspresi. Alat permainan yang dapat disediakan misalnya peralatan pakaian dan tanda-tanda kecil yang menunjukan suatu profesi yang digemari anak.

15

Berkaitan dengan alat permainan yang dibutuhkan anak di TK, Sudono (1995) merinci sejumlah alat permainan yang dapat diletakan di dalam dan di luar ruangan. 1. Alat permainan di dalam ruangan Alat permainan di dalam ruang kelas TK terdiri dari : a. balok besar yang [polos atau berwarna b. balok kecil yang polos atau berwarna c. balok yang dibuat dari kardus d. balok bersusun yang terdiri dari balok yang ukurannya besar sampai yang kecil e. balok cuisenaire, yaitu balok sepuluh tingkat dar 1 10 cm f. balok kubus yang berukuran 2 cm persegi g. keping-keping dengan beragam bentuk geometri h. keping-keping dengan beragam bentuk dan warna i. mozaik kubus yaitu balok kubus bersisi 4 cm dengan desain di atas bidangnya j. mozaik bebas yaitu keeping yang berbentuk geometri untuk menciptakan desain k. mozaik terbatas di atas papan berukuran l. mozaik dari karton tebal m. papan pasak 25, yaitu papan yang berlubang 25 dengan 25 buah pasak n. papan pasak 25 dari rendah ke tinggi yaitu papan yang berlubang 25 dengan 25 pasak dari rendah ke tinggi o. papan geometri yaitu pada yang berisi 4 bentuk yang dibagi-bagi p. papan matematika bentuk kerucut, limas, kubus, silinder, papan hitung 1-5, dan papan hitung 1-10 q. papan warna yaitu papan dengan sembilan warna r. menara gelang lingkaran, segitiga, bujursangkar, segienam s. tangga kbus dan silinder, yaitu papan dengan lima tongkar dan butir manik-manik besar berbentuk silinder dan kubus t. meronce, berbagai bentuk butir manik-manik u. alat permainan Montessori v. puzzle dengan jumlah potongan 1-25 w. berbagai bentuk papan yang berlubang untuk menjahit x. media cetak 2. Alat permainan di luar kelas Alat permainan yang terletak di luar kelas adalah : a. papan jungkit dalam berbagai ukuran b. ayunan dengan tiang yang tinggi maupun ayunan kursi c. bak pasir dengan berbagai ukuran

16

d. e. f. g. h. i. j. k. l.

papan peluncuran bak air yang bervariasi bola dunia untuk panjatan anak tali untuk melompat terowongan yang terbuat dari gorong-gorong titian yang beragam tinggi dan lebar bola keranjang dengan bola yang terbuat dari kain ban mobil bekas untuk digulingkan kolam renang dangkal sebagai pengenalan berenang

patmodewo (2000) berpendapat bahwa sebaiknya perabotan yang ada di dalam ruang kela smudah dipindah-pindahkan, tidak mudah pecah dan disesuaikan dengan ukuran anak. Meja dan kursi sebaiknya bervariasi tinggi rendahnya maupun ukurannya. Meja yang diperguanakan sebaiknya dapat dipergunakan sebagai meja meja makan maupun untuk melakukan tugas kesenian. Akan sangat menarik apabila meja yang tersedia diubah-ubah bentuknya. Peralatan untuk ruang kelas sebaiknya dipertimbangkan beberapa hal, antara lain : a. Aman. Materi yang dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar, hendak aman. Tapi dari materi hendaknya tidak tajam, tidak ada paku yang menonjol, atau kawat yang lepas. Materi yang dipergunakan tidak mengandung racun. Alat permainan tidak menggunakan aliran listrik. Sebaiknya alat permainannya dapat dicuci, untuk menjaga kebersihannya. b. Biaya. Umumnya program pendidikan memperoleh biaya yang terbatas. Sebaiknya guru dapat menentukan mana yang lebih penting. Walaupun dana terbatas, guru juga diharapkan mampu menyelenggakan kegiatan belajar mengajar sehingga tujuan pendidikan tetap tercapai c. Kesesuaian dengan kondisi murid. Materi yang dipilih guru harus sesuai dengan minat, usia dan kemampuan murid d. Kualitas baik dan awet. Hendaknya alat yang diperguanakan di sekolah tetap dapat tahan lama tetapi relatif murah. Memilih bahan untuk sekolah tidak sama dengan yang dipergunakan di rumah. Di sekolah suatun alat akan dipergunakan oleh sejumlah anak secara bergantian dan terus menrus, sehingga harus dipilih alat yang kuat. e. Alat yang dipilih untuk sekolah harus dapat dipakai untuk berbagai penggunaan. Misalnya suatu alat harus dapat dipakai dalam kegiatan barmain dramatis, atau untuk karnaval. Mungkin suatu alat dapat untuk merangsang perkembangan kecerdasan, emosi atau untuk mengembangkan gerakan. Penyediaan alat permainan juga perlu memperhatikan area perkembangan anak secara relevan, sehingga alat permainan benar-benar dapat merangsang

17

pertumbuhan anak sesuai area perkembangan. Sebagai contoh, Patmonodewo (2000), mengemukakan hubungan antara area perkembangan dan materi serta peralatan untuk anak usia dini. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : Area Perkembangan - Perkembangan fisik Alat dan perlengkapan Alat panjatan, mainan yang beroda, balok-balok, ban, sepatu yang dengan tali, mute untuk dironce, kartu dengan pola, papan keseimbangan, tangga, gunting, alat perkayuan, alat-alat untuk main pasir, alat lain yang memungkinkan anak mengembangkan koordinasi otot besar dan halus Alat yang berhubungan dengan kantor pos, alat yang biasa dijual di took kelontong, alat rumah tangga, pakaian alat yang mendorong anak untuk bermain atau bekerja sama Binatang, tanaman, alat untuk dimanipulasi, pasir, air, kayu, balok, papan titian, gelas, ukuran, alat mainan yang berpasangan, buku, daun, bunga, gambar, puzzle dan sebaginya Berbagai macam alat gambar/lukis, berbagai macam ukuran, bentuk dan kulitas kertas, pensil berwarna, lilin, biji-bijian, gunting, krayon, sedotan Buku, tape, kartu yang dapat mengembangkan perkembangan bahasa, cerita, bermain jari-jemari, boneka, wayang, buku buatan anak sendiri, baju, kunjungan luar situasi social, bermain pura-pura Alat yang dapat membuat anak berhasil melakukan menasntang tetapi tidak membuat frustasi mainan yang dapat

- Perkembangan Sosial

- Perkembangan Intelektual

- Perkembangan Kreativitas

- Perkembangan Bahasa

- Perkembangan Emosional

18

membuat anak mampu. Selanjutnya, perlu dipikirkan bagaimana penggunaan perabotan-perabot yang ada. Sebuah rak dapat difungsikan sebagai alat untuk membatasi ruangan, tempat menyimpan barang-barang atau alat untuk sandiwara boneka dan piano yang ada di kelas juga dapat digunakan sebagai alat untuk berbagai runagan dan dapat difungsiikan untuk papab bulletin. Ketika pertemuan seslasi, rak tersebut bisa diputar kembali sehingga ruang dapat dipergunakan untuk menelusuri minat anak dengan berbagai kegiatan. 4. Membagi Ruangan ruangan yang terlalu besar sangat perlu untuk dibagi. Satu bagian bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang menggunakan alat permainan yang berukuran besar, tapi penggunaannya tidak mungkin dilakukan di luar ruangan. Selanjutnya jarak peralatan yang ada bisa diatur untuk menjaga ketenangan ruang tersebut. Jika, kita dihadapkan dengan sebuah ruangan yang sangat besar untuk dijadikan sebuah kelas, tentu kita akan membagi ruangan tersebut dimana sebagiannya akan dijadikan untuk ruangan kelas. Oleh karena itu, guru tidak perlu risau dengan ketidakcukupan ruang kelas. Sebab ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara kreatif dan fleksibel sehingga proses pembelajaran yang dilakukan tetap berorientasi pada perkembangan anak.

19