Anda di halaman 1dari 7

KIAT BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI OLEH JAMRIDAFRIZAL,S.AG.S.S.,M.HUM A. Cara Mengikuti Kuliah 1.

Masuk Tepat Waktu Cara kuliah di perguruan tinggi yang ikut mempengaruhi kesuksesan studi adalah masuk kuliah tepat waktu. Masuk ruangan kuliah lima menit sebelum dosen datang dan masuk lebih baik daripada terlambat. Mahasiswa yang lebih dulu masuk ruangan dapat mempersiapkan diri dan menata peralatan yang diperlukan selama menerima kuliah dari dosen. Suasana hati tenang. Alam pikiran dapat dicurahkan untuk menelaah ringkasan kuliah yang tersimpan dengan rapi dalam catatan kuliah. Ketika dosen masuk, kita sudah siap secara fisik maupun mental untuk menerima kuliah dari dosen. Konsentrasi dapat didayagunakan untuk menyerap pokok-pokok bahasan dari bahan kuliah yang disampaikan oleh dosen. Mahasiswa yang terlambat masuk kuliah akan mendapatkan kerugian, tidak hanya tertinggal mencatat bahan kuliah, tetapi juga sukar mengerti pokok bahasan apa yang telah disampaikan dan dibahas oleh dosen. Keadaan seperti ini biasanya sukar dihindari. Belum lagi masalah beradaptasi dengan suasana ruangan kuliah dan mencari-cari di mana tempat duduk yang masih kosong. Keterlambatan kita masuk kuliah cenderung mengganggu jalannya perkuliahan. Boleh jadi dosen menghentikan pemberian bahan kuliah untuk sementara, karena terganggu oleh kita yang masih belum juga mendapatkan kursi. Konsentrasi mahasiswa yang sedang menerima kuliah terpecah karena terpancing memperhatikan perilaku kita yang lalu lalang, hilir mudik di sekitar kita. 2. Duduk di Kursi Depan Pada umumnya kuliah diperguruan tinggi hanya memakai kursi tanpa meja, kecuali dosen yang memakai kursi dan meja. Walaupun begitu, kursi-kursi tempat duduk itu sudah dirancang demikian rupa sehingga dapat dipergunakan untuk menulis/mencatat. Pada sandaran untuk tumpuan tangan kanan bentuknya diperlebar sebatas keperluan meletakkan buku catatan. Itulah yang dapat dipergunakan sebagai meja untuk menulis atau mencatat materi kuliah. Ketika perkuliahan sedang berlangsung di kursi-kursi itulah para mahasiswa duduk berjajar dari kiri ke kanan, dari depan ke belakang. Dalam memberi kulaih, dosen biasanya tidak menggunakan alat pengeras suara. Hal ini jelas, hanya dapat didengar jelas oleh mahasiswa tertentu. Mahasiswa yang duduk di kursi depan tentu lebih jelas mendengarkan apa yang diceramahkan dosen. Sedangkan mahasiswa yang duduk di kursi paling belakang kurang jelas mendengarkan apa yang diceramahkan dosen. Dalam hal daya jangkau ketajaman pandangan mata, jelas mereka yhang duduk di kursi depan lebih jelas melihat apa yang dosen tuliskan di papan tulis. Sedangkan bagi mahasiswa yang duduk di kursi belakang terkadang kurang dapat melihat dengan jelas apa yang dosen tuliskan di papan tulis. Duduk di kursi depan lebih banyak membantu untuk meningkatkan konsentrasi dan dapat memperkecil berbagai macam gangguan yang tidak diinginkan. Suara dosen yang rendah dapat didengar. Tulisan yang terlalu kecil atau cukup kecil pun dapat dilihat tanpa harus bertanya kepada mahasiswa yang duduk di samping kiri atau kanan, muka atau belakang. Dalam hal untuk memperoleh kesempatan bertanya lebih besar kemungkinannya. Lain halnya bagi mahasiswa yang duduk di kursi belakang. Mereka tentu merasakan kurang dapat mendengar apa yang dosen jelaskan. Kurang dapat melihat tulisan yang cukup kecil yang dosen tuliskan di papan tulis. Untuk menerima gangguan lebih besar kemungkinannya. Nah, pilihlah duduk di kursi depan atau di belakang! 3. Mendengarkan Ceramah Dosen Pada umumnya kuliah diperguruan tinggi lebih banyak mendengarkan. Dosen lebih banyak berceramah daripada menggunakan metode tanya jawab. Ini berarti metode ceramah adalah metode yang utama di perguruan tinggi. Inilah gambaran yang selama ini terlihat bila perkuliahan di dalam ruangan. Akibat metode ceramah yang dipergunakan dosen dalam menyampaikan materi kuliah, maka mahasiswa diharuskan menjadi pendengar yang baik. Tidak dibenarkan berbincang-bincang sekali waktu ketika dosen sedang memberikan ceramahnya. Sebab hal ini akan mengganggu jalannya prkuliahan. Selain merugikan diri sendiri, juga merugikan mahasiswa lain yang ada di

sekitar mahasiswa yang berbincang-bincang tersebut. Bila dosen mengetahui ada di antara mahasiswa yang berbicara, maka dosen tersebut pasti akan menegurnya agar jangan berbicara. Inilah sisi tertentu yang menjadi titik kelemahan metode ceramah. Oleh karena itu, metode ceramah menuntut kepada objeknya menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar adalah mudah, tetapi menjadi pendengar yang sekaligus menangkap dan meyerap pokok permasalahan yang menjadi isi ceramah tidaklah mudah. Apalagi, bila penceramahnya termasuk orang yang kurang pandai berceramah secara sistematis dan logis. Ditambah lagi, mahasiswanya yang termasuk orang yang tidak tahu teknik mencari informasi focus dari isi ceramah dosen. Alhasil, buku catatan kuliah pun tidak ada isinya atau ada tetapi sedikit sekali. Tetapi terlepas dari permasalahan dapat menyerap atau tidak terhadap isi yang diceramahkan oleh dosen, yang pasti aktivitas mendengarkan materi yang diceramahkan oleh dosen adalah penting selama mengikuti kuliah di dalam suatu ruangan. Bila tidak, maka sia-sialah mengikuti kuliah selama sekitar dua jam atau lebih. Akhirnya, uraian ini diakhiri dengan kalimat bahwa, pendengar yang baik akan mendapatkan hasil dari apa yang didengarnya. 4. Mencatat Hal-hal yang Penting Dalam mengikuti kuliah, tidak semua apa yang dosen ceramahkan harus dicatat. Kata demi kata atau kalimat demi kalimat dicatat, tidak diadakan pemilihan mana yang penting dan mana yang tidak penting, adalah cara mencatat yang kurang tepat. Seharusnya dicari mana informasi fokusnya dan mana yang bukan. Dengan cara begitu, maka mahasiswa tidak perlu mencatat semua apa yang dosen sampaikan. Cukup hal-hal yang dianggap penting saja. Pikiran-pikiran tambahan yang timbul dari diri sendiri karena asosiasi bahan kuliah yang didengar, baik berbentuk penambahan, sanggahan, ataupun pertanyaan sebaiknya dicatat sebagai nilai tambah dalam membuka wawasan. Pikiran-pikirann tambahan ini biasanya muncul pada pertemuan-pertemuan tertentu selama ada bahan apersepsi di dalam diri mahasiswa. Agar permasalahan di atas menjadi jelas, ada baiknya dibutiri sebagai berikut. a. Mencatat semua hal yang penting saja, dan yang lansung berhubungan dengan pokok pembicaraan. Bersikap pendengar aktif. b. Mencatat pikiran-pikiran tambahan yang timbul dari diri sendiri karena asosiasi bahan kuliah yang didengar, baik berbentuk penambahan, sanggahan, ataupun pertanyaan. c. Sekaligus menyusun pikirannya dan menggolongkan bahan itu dalam catatan, tanpa mengharapkan bantuan catatan orang lain. Demikianlah uraian ini semoga bermanfaat.. 5. Mencatat Hal-hal yang Belum Jelas Dalam menyampaikan materi kuliah, dosen pasti menempatkan penekanan pada permasalahan tertentu. Hal-hal lainnya yang dosen anggap kurang penting biasanya tidak diberikan penekanan yang berarti. Hal ini yang memberikan perbedaan dalam penjelasannya. Materi yang dosen anggap penting diuraikan secara panjang dan lebar. Sedangkan materi yang dosen anggap kurang penting cukup disinggung saja. Bagi mahasiswa, hal-hal yang belum jelas tidak mesti berpangkal dari penjelasan yang kurang memadai, tetapi bisa juga dari penjelasan secara panjang dan lebar. Perlukah hal itu dipermasalahkan? Hal itu perlu dipermasalahkan selama berhubungan dengan pokok permasalahan yang menjadi tujuan dari perkuliah. Bila tidak ada hubungannya, sebaiknya abaikan saja, kecuali hal itu sebagai perantara untuk meningkatkan pemahaman atas materi yangdikuliahkan. Permasalahan-permasalahan yang belum jelas dan masih berhubungan dengan tujuan kuliah itulah yang perlu dicatat. Pemecahannya tergantung kepada mahasiswa, apakah bertanya dengan teman di luar jam kuliah, apakah dengan membaca buku untuk menjawabnya, atau mengajukan pertanyaannya kepada dosen sewaktu kuliah berlangsung dan tentu saja kesempatan untuk bertanya itu disediakan. 6. Bertanya Jika Ada Pertanyaan Kesempatan untuk bertanya terbuka, maka ajukanlah pertanyaan yang bertolak dari permasalahan yang belum jelas itu. Jangan takut dan jangan gentar. Jangan gugup dan jangan ragu. Yakinkan bahwa itu memang permasalahan yang patut untuk dipertanyakan pada dosen.

Banyak mahasiswa yang takut bertanya tentang hal-hal yang dirsakannya belum jelas, sehingga menjadi beban berkepanjangan. Permasalahan materi kuliah yang lama belum terpecahkan muncul lagi permasalahan materi kuliah yang baru. Akhirnya, semua masalah itu menjadi teka-teki yang memecahkan konsentrasi sebagai akibat takut bertanya dan kurang kreatif mencari alternatif pemecahannya. Akhirnya, catatlah hal-hal yang belum jelas dan bertanyalah ajika ada kesempatan di dalam perkuliahan. 7. Ajukan Tanggapan Balik jika Perlu Sebagai embrio intelektual muda, mahasiswa tidak selalu menerima apa yang dosen sampaikan dalam perkuliahan, walaupun dituntut sebagai pendengar yangbaik. Karena apa yang dosen sampaikan itu belum tentu sesuai dengan pendapat sendiri. Sekali waktu tentu ada saja materi yang diceramahkan dosen bertentangan dengan pendapat sendiri disebabkan sudut pandangyang berbeda. Perbedaan itu disebabkan adanya bahan apersepsi yang telah ditemukan dalam berbagai literatur yang telah dibaca sebelumnya. Hal-hal yang bertentangan dengan pendapat sendiri, dan hal-hal yang ingin ditambahkan dari apa yang dosen ceramahkan merupakan momen yang tepat dan landasan yang baik untuk memberikan tanggapan atas apa yang dosen ceramahkan. Tanggapan di sini jangan disamakan dengan mengajukan pertanyaan pada dosen walaupun pada dasarnya keduanya sama. Tanggapan lebih umum sifatnya daripada bertanya. Bertanya berada dalam ruang lingkup tanggapan. Jadi, bila bertanya pasti memberikan tanggapan. Tetapi bila memberikan tanggapan belum tentu bertanya. Dengan memberikan tanggapan atas apa yang dosen ceramahkan akan menghidupkan suasana kuliah. Dan hal inilah yang diharapkan dosen dari setiap mahasiswanya. Dosen selalu bertanya dalam dirinya, apakah mahasiswanya mengerti terhadap materi yang disampaikan atau apakah dapat diserap sebagian besar materi yang diterangkan dalam jangka waktu tertentu, bila dari mahasiswanya tidak memberikan tnggapan atas apa yang dia sampaikan. Mahasiswa yang kreatif biasanya senang bila diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan, entah tanggapan itu dalam bentuk sanggahan atau sanggahan. Tentu saj asanggahan itu tidaksekedar sanggahan, tetapi sanggahan yang disertai dengan alas an-alasan yang argumentatif dengan pegangan dalil, konsep atau prinsip, atau dengan mengutip pendapat seorang ahli. Tambahan diberikan sebagai pelengkap dari uraian yang dosen sampaikan, bukan mencari kesalahan dan kelemahan dosen. 8. Mencatat Penugasan dari Dosen Selama mahasiswa berkuliah diperguruan tinggi pasti tidak pernah sepi dari berbagai macam penugasan yang harus diterima dari setiap dosen. Tidak ada satupun dosen yang tidak memberikan penugasan pada mahasiswa. Paling tidak penugasan itu berhubungan dengan tugas pembuatan paper terstruktur (paper wajib). Untuk dosen-dosen tertentu ada juga yang menugaskan kepada mahasiswa untuk membuat ringkasan kuliah (ihtisar) atau resume atau mengkliping artikel beserta tanggapannya. Hal ini tidak bisa tidak harus mahasiswa kerjakan sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan jangka waktunya. Mengabaikannya sudah pasti dijamin tidak lulus untuk suatu mata kuliah. Dosen tidak mau tau kenapa tugas wajib tidak dikerjakan. Yang dia tahu hanyalah tidak mengrjakan tugas yang diperintahkan. Karena tidak mengerjakan tugas berarti menentang peraturan. Jadi, wajar saja tidak diluluskan. Keterlambatan menyelesaikan tugas boleh jadi disebabkan lupa, karena tidak mempunyai catatan dalam agenda catatan. Tidak membuat tugas dalam bentuk paper bisa juga disebabkan tidak mencatat penugasan itu sewaktu dosen menyampaikannya di ruang kuliah, dengan alas an dapat diingat dengan otak. Jangan terlalu percaya dengan daya ingat otak. Ingatan manusia terbatas. Kekuatan catatan relatif lama. Maka catatlah semua penugasan dari dosen, sehingga dapat memperhitungkan pengerjaan dan penyelesaiannya. Jangan menunda-nunda pengerjaan, karena hal itu akan membebani pikiran. Pekerjaan mengingat-ingat sesuatu yang belum diselesaikan adalah kegiatan yang melelahkan kerja otak dan memngganggu mengerahkan konsentrasi dalam belajar. Akhirnya penugasan dari dosen lebih baik dicatat di dalam agenda dari pada mempercayakannya pada kekuatan ingatan.

9. Keluar dari Ruangan Kuliah dengan Meyakinkan Kuliah selalu ada batas waktunya. Ada awal dan ada akhir. Diawali dengan pertemuan dan diakhiri dengan perpisahan. Dari kegiatan masuk disudahi dengan kegiatan keluar ruangan. Begitulah kegiatan perkuliahan dari waktu-kewaktu, dari hari merangkai minggu, dari minggu yang terkumpul menjadi bulan, hingga akhirnya tersimpul dalam lingkaran tahun sepanjang masa. Rutinitas perkuliahan telah menumbuhkan suasana baru bagi mahasiswa. Perkembangan pola piker berubah seiring dengan bertambahnya usia kearah kedewasaan. Hal ini menuntut kepada mahasiswa untuk bertindak dan bersikap lebih dewasa, jauh dari sikap dan sifat kekanak-kanakan. Lebih arif dan bijaksana dalam berbagai hal, termasuk dalam hal keyakinan diri. Mahasiswa harus yakin kepada diri sendiri. Jangan selalu tergantung kepada orang lain. Kalaupun ada ketergantungan, tetapi hal itu relatif sedikit. Yang demikian itulah dituntut dari diri pribadi seorang mahasiswa. Materi perkuliahan yang telah diikuti dalam ruangan diyakini sesuai dengan tujuan kuliah. Sanggahan dan penambahan telah diberikan sebagai bukti atas keyakinan diri terhadap kebenaran ilmu, sebagai pelurus dan pelican pencapaian tujuan kuliah. Sehingga pertentangan dalam diri dan keraguan dalam diri bukan lagi dalam bentuk tanya, tetapi pengertian dan kesamaan pandang dari perbedaan. Ibarat benang kusut yangterurai dari buhulnya. Dengan begitu, akhirnya keluar dari ruangan kuliahpun dengan keyakinan diri. Tampil sebagai embrio intelektual yang mematrikan harapan kesuksesan studi di hari depan yang didamba. B. Diskusikan Hasi Kuliah Dengan Teman Dalam studi diperguruan tinggi, kreatifitas dari mahasiswa sangat dituntut. Lingkungan dan suasana perguruan tinggilah yang membentuknya. Duduk-duduk dengan santai bukanlah figur seorang mahasiswa, tetapi milik orang pemalas yang pesimis dalam menatap masa depan. Waktu yang bergulir dari detik kemenit harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan membiarkannya berlarut dalam kehampaan. Oleh karena itu, tumbuhkan dan kembangkanlah kreatifitas diri selama berstudi di perguruan tinggi. Salah satu cara utuk membangun kreatifitas diri adalah dengan cara gemar mendiskusikan hasil kuliah dengan teman. Diskusi tidak mesti dilakukan di dalam ruangan, di luar ruangan juga bisa dilakukan. Misalnya, ketika sedang duduk dibawah pohon di halaman kampus, duduk di warung, duduk diatas rumput, duduk di kursi di luar ruangan kuliah, dan sebagainya. Tetapi yang lebih baik adalah mendiskusikannya di dalam perpustakaan. Mendiskusikan hasil kuliah seperti disebutkan di atas memang tidak direncanakan oleh kedua belah pihak, tetapi dengan kesadaran utuk sama-sama mendiskusikannya dengan suatu tujuan untuk meningkatkan penguasaan bahan yang baru diterima. Mendiskusikannya pun tidak harus setelah selesai kuliah, tetapi selang beberapa hari juga bisa. Asalkan teman yang ingin diajak berdiskusi itu tidak keberatan untuk melayaninya. Tentu saja materi yang akan didiskusikan itu harus materi kuliah yang sama dengan memanfaatkan ilmu pendukung lainnyam, dengan harapan lebih menghidupkan suasana diskusi tersebut. Taktik ini adalah menguntungkan. Manfaatnya yang terasa sekali adalah dapat mengembangkan motifasi intrinsik, yaitu suatu dorongan yang timbul dari dalam diri. Manfaat lainnya adalah, pengertian terhadap materi kuliah lebih baik, dari yang cukup jelas menjadi lebih jelas, dari yang kurang jelas menjadi jelas. Materi kuliah yang jelas dimengerti itulah yang dapat membantu menjawab setiap soal yang diajukan dalam middle test atau tentamen. C. Melaksanakan Diskusi Kelompok Selama kuliah diperguruan tinggi tidak semua permasalahan dipecahkan seorang diri, tetapi ada juga permasalahan yang dipecahkan secara kelompok. Terutama permasalahan yang pemecahannya memerlukan berbagai sudut pandang. Pemecahan masalah yang dapat ditinjau dengan berbagai sudut pandang biasanya akan lebih hidup bila dibawa ke dalam diskusi kelompok. Ketika suatu permasalahan diajukan, setiap peserta diskusi dapat mengemukakan pendapatnya dengan sudut pandang masing-masing. Tentu saja dalam mengajukan pendapat itu tidak serentak tetapi satu persatu, selama kesempatan untuk mengajukan pendapat masih ada. Pelaksanaan diskusi kelompok biasanya diawali dengan pembacaan isi makalah yang telah dipersiapkan sebelum acara diskusi. Pemakalah yang membacakan makalahnya itu sudah ditentukan

sebelum acara diskusi. Orangnya diakui mampu membuat makalah dan mempertahankan di depan peserta diskusi. Ketika diskusi berlangsung bukan hanya pemakalah yang memegang makalahnya, tetapi juga setiap peserta memiliki makalah. Makalah itu harus sudah ada ditangan peserta dua hari sebelum acara diskusi dimulai. Apabila dalam acara diskusi hanya pemakalah yang mempunyai makalahnya, sedangkan semua peserta tidak memilikinya, maka diskusi yang akan dilaksanakan kurang semarak. Karena sebagian besar peserta kurang munguasai masalahnya, akibat pada hari sebelum pelaksanaan diskusi tidak ada makalah yang seharusnya mereka baca. Dalam acara diskusi, setiap peserta harus sudah mengetahui dan meguasai masalah yang akan didiskusikan. Jangan datang keacara diskusi dengan pemikiran kosong, sehingga pada akhirnya hanya bertindak sebagai peserta pasif. Berlaku pasif dalam diskusi tidak benar. Ada pendapat tetapi selalu mengikuti pendapat peserta terdahulu, adalah suatu sikap yang kurang baik. Apalagi mengikuti pendapat orang lain itu tidak disertai dengan pendapat yang argumentatif. Diskusi mempunyai andil yang besar dalam membentuk kepribadian mahasiswa. Mahasiswa yang terbiasa diskusi tidak mempunyai masalah dalam hal mengemukakan pendapat di forum-forum tertentu. Misalnya dalam acara diskusi panel, sarasehan, seminar, atau dalam acara loka karya. Soal bermain kata-kata atau kalimat juga tidak diragukan dapat memukai para pendengar. Ketika tampil ditengah-tengah masyarakat bukannya gugup, tetapi dengan sikap tenang dan meyakinkan, percaya diri sendiri dan jauh dari psimistis. Oleh karena itu, berdiskusi dalam kelompok salah satu taktik untuk membentuk sikap mental mahasiswa yang percaya pada diri sendiri dan pandai menghargai pendapat orang lain. D. Selesaikan Tugas Tepat Waktu Semua tugas yang dosen berikan harus dilaksanakan dan diselesaikan tepat pada waktunya. Jangan mengeluh dengan melihat tugas-tugas yang bertumpuk-tumpuk yang diberikan oleh setiap dosen. Karena tidak ada seorang dosen pun yang memberikan tugas tanpa tenggang waktu. Dosen biasanya memberikan batas waktunya cukup lama. Tidak ada yang menghendaki tugasnya harus diselesaikan selama satu hari dan dikumpulkan pada besok harinya. Kecuali mahasiswa itu sendiri yang menghendaki tugas itu diselesaikan dalam waktu satu hari. Kalaupun yang disebutkan terkhir ini ada, tetapi sangat jarang terjadi atas diri mahasiswa. Apalagi ditambah dengan kekurangan atau ketiadaan literatur sebagai bahan rujukan. Sekiranya masih ada waktu yang tersisa dalam menyelesaikan tugas yang satu, sebaiknya waktu yang tersisa itu digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum selesai. Tugas yang diselesaikan lebih awal adalah lebih baik daripada menunda-nunda penyelesainnya. Menunda-nunda penyelesaian tugas-tugas kuliah adalah suatu sikap yang kurang menguntungkan. Banyak mahasiswa yang resah dan gelisah akibat menunda-nunda penyelesaian tugas-tugas. Tidur kurang nyenyak, duduk tidak tenang, berjalan diburu-buru waktu, istirahat tidak sepenuhnya dapat dinikmati, dan sebagainya. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa penyelesaian tugas jauh-jauh hari memudahkan memudahkan mengadakan perbaikan jika ada kesalahan di dalamnya. Sekiranya tugas yang diselesaikan itu paper, maka paper itu dapat diperbaiki bila kesalahan yang terjadi pada kata-kata atau kalimat, pada daftar isi, pada kata pengantar, pada bab I, atau pada bab-bab berikutnya. Dengan demikian, menyelesaikan tugas tepat pada waktunya lebih baik dari pada menundanunda. Dengan begitu pengoreksian atas kesalahan dapat dilakukan sedini mungkin. E. Membentuk Kelompok Belajar Karena setiap mahasiswa dituntut untuk kreatif maka membentuk kelompok studi adalah sebagai jawabannya. Kelompok studi memegang peranan yang cukup penting dalam menunjang kesuksesan studi mahasiswa diperguruan tinggi. Bahan manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan ini, misalnya setiap masalah yang tidak dapat dipecahkan sendirian, dapat dipecahkan dalam kelompok studi, kelemahan terhadap suatu bidang studi atau mata kuliah tertentu dapat diperbaiki dengan bantuan kawan sekelompok, dapat dijadikan sebagai wadah konpetisi yang sehat diantara kawan sekelompok, motifasi belajar menjadi meningkat, dapat merasakan senasib dan sepenanggungan, dan sebagainya. Membentuk kelompok studi berarti melatih diri untuk berorganisai. Kelompok studi yang baik adalah bila semua anggota terkordinasi dengan baik, kelompok studi itu didukung pula oleh

kebutuhan anggota yang sama. Agar kelompok studi tetap langgeng, sebaiknya tentukanlah ketua, sekretaris, dan bendahara berdasarkan kesepakatan bersama. Kemudian untuk Pembina, tentukanlah pula. Pembina sebaiknya seorang dosen yang berkepribadian terbuka untuk membina. Masalah pelaksanaan kegiatan studi tidak harus setiap hari. Terlalu sering pertemuan kurang baik, sebab hal itu bisa mengganggu kegiatan perkuliahan. Alokasi waktu yang baik adalah tidak bertabrakan dengan jadwal kuliah untuk masing-masing anggota. Dalam hal ini yang tepat adalah pada hari Minggu. Tetapi tidak menutup kemungkinan pada hari-hari lain, selama tidak mengganggu waktu perkuliahan. Pertemuan tengah bulanan perlu dilakukan agar komunikasi antara anggota tidak terputus. Keakraban anggota menjadi lebih terjamin. Berbagai persoalan studi anggota dapat dimonitor dalam agenda kesulitan studi mahasiswa. Akhirnya, dalam membentuk kelompok studi, kesamaan langkah dan niat, seiring dan setujuan sebaiknya disatukan dalam diri menuju kiat sukses studi di perguruan tinggi. F. Kenali Tipe Dosen Dosen diperguruan tinggi tidak hanya satu, dua atau tiga orang, tetapi dalam jumlah yang cukup banyak. Setiap dosen mempunyai sikap, pembawaan, gaya bicara dan penampilan. Mereka mempunyai cirri khas masing-masing, hanya pada unsur-unsur tertentu yang mempunyai kesamaan. Misalnya mengenai jenis kelamin, mata, telinga, mulut, dan sebagainya. Wawasan keilmuan setiap dosen berbeda-beda, setiap dosen berfariasi dalam menanggapi masalah, gaya-gaya mengajar mereka berlainan, suara mereka ada yang nyaring dan ada pula yang cukup nyaring. Dalam mengajar, ada yang duduk saja dikursi sambil menjelaskan materi kuliah dan ada pula yang duduk, berdiri, menuliskan sesuatu di papan tulis, dan sebagainya. Sikap mereka terkadang ada yang terbuka dengan mahasiswa dan ada pula yang tertutup. Mahasiswa sebaiknya mengetahui kepribadian dosen sebagaimana disebutkan di atas. Pengetahuan yang demikian dapat dimanfaatkan untuk menyusun taktik belajar diperguruan tinggi. Mahasiswa yang tidak mau tahu dengan gaya-gaya mengajar dosen akan sulit menyerap bahan kuliah. Mahasiswa yang tidak menguasai gaya bahasa dosen juga mengalami kesukaran mencari pokok pikiran dari apa yang dikatakannya. Oleh karena itulah, mengenali tipe dosen tidak bisa dikesampingkan dari agenda taktik kuliah di perguruan tinggi. Mahasiswa yang kurang beruntung kuliah diperguruan tinggi, karena mereka tidak mau tahu dengantipe dosennya. Nah, bagaimana dengan Anda? Inginkah Anda seperti itu?

G. Kreatif Berdialog dengan Dosen


Dosen yang memberikan sejumlah ilmu jangan dijauhi, tetapi harus didekati, dengan begitu akan terjalin keakraban antara dosen dengan mahasiswa. Saling kenal- mengenal kepribadian masing-masing akan memudahkan dalam mengadakan penyesuaian. Pengertian pun akhirnya tumbuh. Dosen merasakan mahasiswa sebagai anak didiknya, dan mahasiswa pun merasakan dosen sebagai orang tuanya. Saling keterbukaan yang bertolak dari saling pengertian akan melahirkan dialog. Mahasiswa tidak merasa takut berkonsultasi dengan dosen, karena dosen tidak menutup diri dengan dalih banyak pekerjaan atau karena tidak ingin selalu diburu-buru oleh mahasiswa. Tentu saja konsultasi di sini tanpa tempat yang pasti. Di mana saja mahasiswa dapat berkonsultasi dengan dosen.Entah ketika di jalan, di kantor, di warung, di sisi ruang kuliah, di bawah pohon, dan sebagainya, selama ada kesempatan. Inilah konsep dialog kreatif mahasiswa dengan dosen yang dikehendaki. Sebab hanya dengan cara inilah salah satu alternatif untuk membuka pintu keharmonisan. Bila tidak, maka mahasiswa tetap mempunyai setumpuk persoalan dalam tanda tanya. Oleh karena itu, mahasiswa harus mendatangi dosen di mana dia berada. Tetapi harus diingat, jangan waktu dosen sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Carilah waktu-waktu senggang atau lowong, sehingga dapat leluasa berdialog. Dialog ilmu sesuai dengan keahlian dosen. Jangan asal berdialog tanpa tujuan yang jelas. Tentukan apa yang ingin dicari, baru berdialog dengan dosen. Itulah caranya. H. Memanfaatkan Perpustakaan Perguruan Tinggi Setiap perguruan tinggi/universitas pasti mempunyai perpustakaan, baik di daerah ibu kota maupun di setiap propinsi di Indonesia. Tak peduli apakah perguruan tinggi itu sudah maju atau

belum. Hanya yang membedakannya adalah lengkap tidaknya literatur yang mengisinya. Tertata tidaknya administrasi di dalamnya, baik tidaknya layanan personel perpustakaan melayani pengunjungnya setiap hari dan waktu dan bahkan setiap menit. Sebagai mahasiswa yang dikaderkan sebagai kader bangsa yang intelektual, ironis sekali tidak pernah berkunjung untuk membaca dan meminjam literatur di perpustakaan. Ini namanya saja mahasiswa yang bergelar "maha", tetapi kurang memanfaatkan lahan ilmu. Terbuai dengan kata "maha" dan lupa daratan. Mahasiswa bukan sekedar simbol diri tanpa merasakan beban moral. Di dalam kata mahasiswa tersimpan beban moral yang menuntut tanggung jawab dari pemiliknya. Salah satu tuntutan moral yang harus mahasiswa jawab adalah membekali diri dengan ilmu sebanyak-banyaknya. Gudang ilmu yang dapat dilihat dan dikunjungi adalah perpustakaan. Ke sanalah mahasiswa harus berkiblat dalam rangka menimba ilmu. Perpustakaan dengan semua pustakanya telah disiapkan oleh pemimpin perguruan tinggi bagi kepentingan mahasiswa selama berkuliah di sana. Setiap hari dibuka untuk memberikan pelayanan kepada mahasiswa yang ingin membaca buku, meminjam buku, berdiskusi dan sebagainya. Keterbukaan itu sebaiknya ditanggapi juga dengan sikap terbuka segera membuka diri. Sehingga perpustakaan benar-benar berarti di perguruan tinggi. Mahasiswa jangan terlalu berharap untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik berdasarkan ilmu, tanpa memanfaatkan perpustakaan. Kecuali Indeks Prestasi Komulatif (IPK) itu didapatkan dengan cara yang curang. IPK yang didapat berdasarkan cara-cara kecurangan bukanlah prestasi belajar yang sejati. Hanya prestasi belajar yang didapatkan dengan memanfaatkan ilmulah yang bisa dikatakan prestasi belajar yang sejati. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda ingin menjadi mahasiswa yang bermental ilmu dan bersikap intelektual? Jawablah sendiri! Mengenal Tradisi Perguruan Tinggi Setiap perguruan tinggi memiliki tradisi. Tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan yang berlaku turun temurun. Di perguruan tinggi tradisi yang sering dilihat adalah kegiatan dies natalis, lomba karya tulis ilmiah, melakukan penelitian, yudicium sarjana, wisuda sarjana, pengabdian pada masyarakat, dan sebagainya. Selain tradisi-tradisi di atas, tradisi perbaikan nilai adalah tradisi yang juga ada pada perguruan tinggi tertentu. Tradisi yang satu ini adalah tradisi yang menggembirakan bagi mahasiswa. Sebab tradisi ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang mempunyai nilai cukup (C) untuk memperbaikinya pada semester mendatang untuk mata kuliah yang sama. Artinya, mahasiswa boleh mengikuti kuliah untuk mata kuliah yang pada semester lalu mendapat nilai cukup (C). perbaikan nilai dimaksudkan di sini bukan dosen yang memberi nilai kepada mahasiswa yang bersangkutan, tetapi mahasiswa itu sendiri yang berusaha untuk memperbaiki nilainya dengan cara menguasai materi kuliah yang diberikan dosen. Sekiranya tidak menguasai materi kuliah dan tidak dapat menjawab sebagian besar soal-soal yang diajukan dosen dan kemudian dosen memberikan skor C adalah resiko. Jadi, jangan sangkal dan menyalahkan dosen dalam hal ini. Tradisi ini hanya untuk diketahui dan sebaiknya jangan terlalu berharap. Lebih baik mendapat nilai baik dari awal daripada mendapat nilai baik sesudah perbaikan. Tetapi tidak ada salahnya nilai yang cukup itu diperbaiki sementara ada kesempatan. Tradisi dengan istilah perbaikan nilai itu sudahkah pas atau tidak? Bagaimana dengan istilah "pendalaman ilmu"? I.