Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Proses hidrotermal merupakan salah satu proses terbentuknya mineral, dimana fluida berupa air magmatik dan meteorik pembawa mineral mengalami proses intrusi dan mengisi pada rekahan-rekahan batuan, kemudian membeku membentuk urat-urat pada batuan.Proses terbentuknya mineralyang meliputi wadah (rekahan batuan, cekungan dan sebagainya), batuan pembawa mineral, fluida, temperatur dan tekanan, serta proses tektonik yang mengenai suatu tubuh mineral disebut Genesa Mineral. Mineral merupakan sumberdaya alam yang proses pembentukannya terjadi dalam waktu jutaan tahun serta sifat utamanya tidak dapat diperbaharui. Mineral dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri dan juga lebih dikenal sebagai bahan galian.Bahan galian diklasifikasikan oleh Pemerintah RI menjadi 3 golongan yaitu, Bahan Galian Strategis, Bahan Galian Vital, dan Bahan Galian Non Strategis. Sebagian besar bahan galian industri termasuk bahan galian C. Bahan galian industri sangat berkaitan untuk pembuatan peralatan rumah tangga, bangunan fisik, obat, kosmetik, alat tulis, berang pecah belah sampai kreasi seni yang dibuat langsung atau dari hasil pengolahan bahan galian industri melalui rekayasa teknik. Untuk pengolahan bahan galian industri lebih beraneka ragam daripada bahan galian logam yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan berbagai nilai seperti tingkat konsentrat, kadar sesuatu unsur kimia, mutu fisik, mutu bentuk, dan penampilan. Dalam makalah ini membahas tentang Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan proses ubahan Hidrotermal antara lain : barit, gypsum, kaolin, talk, magnesit, pirofilit, toseki, oker, dan tawas. Melalui makalah ini jugadapat diketahui tempat biasa ditemukannya mineral-mineral pemanfaatannya. tersebut, teknik penambangannya, proses pengolahan, dan

I.2

Tujuan Mengetahui tentangproses Hidrothermal Mengetahui mineral-mineral yang termasuk dalam golongan bahan galian industry yang berkaitan dengan proses ubahan hidrotermal Mengetahui tempat ditemukannya masing-masing mineral tersebut Mengetahui teknik penambangan dari masing-masing mineral tersbut

I.3

Batasan Masalah Dalam makalah mengenai bahan galian industry berkaitan dengan proses ubahan hidrotermal ini akan menjelaskan masalah : 1. Bagaimana hidrotermal terjadi ? 2. Bagaimana kegunaan dan cara penambangan bahan galian industry dengan proses ubahan hidrotermal?

BAB II DASAR TEORI


II.1. Proses Hidrotermal Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan.

Gambar 2.1. Proses Hidrotermal Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu: 1. Cavity Filing, mengisi lubang-lubang bukaan yang sudah ada di dalam batuan. 2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal. Dalam perjalanan menerobos batuan, larutan hidrotermal akan mendepositkan mineral-mineral yang dikandungnya di rongga-rongga batuan dan membentuk deposit 3

celah (cavity filling deposit) atau melalui proses metasomatik membentuk deposit pergantian (replacement deposit). Secara umum deposit replasemen terjadi pada kondisi suhu dan tekanan tinggi, pada daerah lebih dekat dengan batuan intrusifnya yang merupakan deposit hipotermal, sedang deposit celah lebih banyak terjadi di daerah dengan suhu dan tekanan rendah, yang merupakan deposit epitermal yang terletak agak jauh dari batuan intrusifnya.

Proses cavity filling dapat di kelompokan menjadi : Veins merupakan pengisian mineral pada celah-celah batuan yang berupa uraturat contohnya urat kuarsa terbentuk pada endapan larutan celah pada batuan yang terbuka, sehingga menbentuk mineral berupah urat-urat. Biasanya pada batuan yang bersifat britle. Endapan-endapan yang terisi pada urat-urat antara lain kuartz, gold, silver, Zink dan copper. Shear Zone deposits merupakan zona tipis, sheetlike, sambungkan celah-celah atau Zona, berfungsi sebagai saluran istimewa untuk proses mineralisasi, dan terjadi dalam lapisan batuan dan celah batuan yang dibentuk oleh endapanendapan yang berukuran halus. Stockwork merupakan hubungan yang berjalinan antara mineral biji yang berukuran kecil pada urat yang melewati batuan dengan skala yang luas. Dari ukuran centimeter sampai beberapa meter yang urat-uratnya saling mengikat. Pada umumnya terjadi pada pengisian celah yang terbuka, celah tersebut karena intrusi. Proses replacement terdiri dari : Endapan massive. Yang mencirikan adalah ukuran endapan bervariasi danterbentuk secara irregular. Pada umumnya terdapat pada batugamping dengan lapisan yang menebal sampai menipis karena mengikuti ronga-ronga pada batugamping. Replacement lode deposits merupakan pengisihan celah tipis yang telah mengalami replacement berupah lapisan sisipan atau sendiri. Biasanya mencapai beberapa centimeter sampai beberapa meter Disseminated replacement deposits merupakan endapan replacement yang menebar berupa urat-urat.

Syarat penting terjadinya deposit hidrotermal adalah: 1. Adanya larutan yang mampu melarutkan mineral. 2. Adanya rekahan/rongga pada batuan, di mana larutan dapat lewat. 3. Adanya tempat, di mana larutan akan mendepositkan kandungan mineralnya. 4. Adanya reaksi kimia yang menghasilkan pengendapan mineral 5. Konsentrasi mineral yang cukup di dalam deposit, sehingga menguntungkan kalau ditambang.

II.2. Yang Termasuk Bahan Galian Industri Yang Berkaitan Dengan Proses Ubahan Hidrotermal Yang termasuk dalam kelompok ini adalah barit, talk, magnesit, gips, toseki, pirofilit, dan kaolin. Ketiga jenis bahan galian yang tersebut terakhir pada umumnya berasosiasi satu sama lain karena terbentuk oleh proses dan dari sumber yang sama. 1. BARIT Barit dengan rumus kimia BaSO4, bentuk kristal tabular, tidak berwarna/putih apabila murni, kuning, merah, hijau, kadang-kadang hitam akibat adanya kontaminasi. Kimpulam Kristal dapat membentuk kenampakan seperti kipas, oset (= desert roses). Sifat Kristal yang lain kompak, granular, massive, ataupun berbentuk sebagai stalaktit. Mempunyai kekerasan 2,5 3,5 , berat jenis 4,48, cukup berat walapun bukan termasuk logam. Mudah pecah membentuk belahan prismatic, transparan ataupun translusen dengan luster vitreus, cerat putih, sulit terbakar, dan tidak larut dalam asam, apabila dipanasi member nyala kuning-hijau.

Gambar 2.2. Barit kristal dari Nevada, USA Barit sangat umum sebagai mineral gang pada proses hidrotermal tingkat menengah sampai rendah. Barit kadang-kadang berasosiasi dengan timbale, perak, sulfide antimonite. Endapan barit sangat menungkin berasosiasi dengan bijih emas epithermal dan merupakan salah satu mineral indeks. Saat ini bijih emas dijumpai pula barit mengisi celah batu gamping/dolomite (= saat ini dikenal sebagai endapan residual tipe karst). Dalam jumlah sedikit terbentuk pada mata air panas (=hot springs). Terdapat juga dalam bentuk massive pada iron-manganese bearing jasper, pada celah bauan basalt dalam bentuk kristal. Tempat diketemukan :

Jawa Barat : Cikondang, Kec. Cineam, Kab. Tasikmalaya (berupa urat-urat pada celah-celah batuan tufa breksi)

Jawa Tengah : Kp. Plampang Kukusan, watutugu, Serno, Kab. Kulon Progo (berupa urat-urat pada celah-celah batuan andesit, ditandai dengan kenampakan warna coklat tua); Durensari, Bagelen, Kab. Purworejo (seperti yang terdapat di Plampang)

Kalimantan Barat : Desa Lanjut, Kec. Kendawangan, Kab. Pontianak (berupa urat/pengisian pada rekahan-rekahan silicified limestone dengan komposisi BaSO4=96,5-98,5%, SiO2=0,9-2,2%, Fe2O3=0,3-0,57%

Nusa Tenggara Timur : Tg. Merah dan Pakuoyong (P. Lomblen), Kab. Flores timur (berupa urat-urat berasosiasi batuan kuarsa pada dasit); Kec. Riung Kab. Ngada (berupa urat-urat dalam batuan tufa dasit) 6

Sulawesi Selatan : Sangkanropi, Kab. Tanotoraja (berasosiasi dengan bijih sulfide pada zona riolit/dasit yang terkersikan)

Teknik Penambangan Penambangan barit lebih banyak ditunjukan oleh singkapan yang banyak tampak di permukaan. Oleh sebab itu system panambangan yang diterapkan adalah penambangan terbuka dengan peralatan sederhana. Pada umumnya barit terakumulasi pada reaktan-reaktan ataupun patahan. Oleh sebab itu penambangan sistem gophering sangat mungkin dilakukan tetapi harus sangat hati-hati karena terjadinya runtuhan tanah akan sangat mungkin terjadi.

Pengolahan dan Pemanfaatan Barit dari penambangan pada umumnya kotor dan dilekati oleh batuan yang lain. Sehingga langkah awal barit ini dicuci dengan air cara disemprot. Yang bersih dan kering dapat ditumbuk dan digerus, kemudian disaring dengan ukuran tertentu. Karena barit mempunyai berat jenis besar (4,4) maka proses floatasi dapat menghasilkan fraksi barit murni. Pada instalasi pengolahan yang agak modern, fraksi barit yang merupakan hasil proses pemecahan, dicuci dengan log-washer, kemudian disaring, fraksi yang berukuran halus diproses dengan jig untuk selanjutnya dikonsentrasi dengan cara floatasi. Hailnya dikeringkan untuk selanjutnya dibuat dalam bentuk tepung. Tepung barit dimanfaatkan sebagai bahan cat, industry karet, kaca atau gelas, kertas, dan plastic. Tepung barit juga dimanfaatkan untuk lumpur pemboran minyak dan gas (untuk mengakut cutting dari dasar lubang bor ke atas lubang bor). Dalam hal pemakaian yang demikian barit yang sudah dipakai dapat dimanfaatkan kembali (dengan system sirkulasi). Karena berat jenis besar, barit cukup baik untuk bahan tambahan dalam membangun reactor atom. Barit dicampur dengan fenol-formal dehid, silikat, asbes, dan arang kemudian digerus halus akan diperoleh semen fenolik yang mempunyai daya tahan yang besar terhadap berbagai bahan kimia. 2. GYPSUM Gypsum dengan rumus kimia CaSO4.2H2O atau dalam bentuk Anhydrit CaSO4 H2O dapat terbentuk karena proses segregasi dan evaporasi juga dapat terbentuk karena proses hydrothermal. 7

Gambar 2.3.Gypsum Gypsum adalah salah satu contoh mineral dengan kadar kalsium yang mendominasi pada mineralnya dan merupakan salah satu bahan galian industri. Gypsum yang paling umum ditemukan adalah jenis hidrat kalsium sulfat dengan rumus kimia CaSO4.2H2O.Gypsum adalah salah satu dari beberapa mineral yang teruapkan. Contoh lain dari mineral-mineral tersebut adalah karbonat, borat, nitrat, dan sulfat. Mineralmineral ini diendapkan di laut, danau, gua dan di lapian garam karena konsentrasi ionion oleh penguapan. Ketika air panas atau air memiliki kadar garam yang tinggi, gypsum berubah menjadi basanit (CaSO4.H2O) atau juga menjadi anhidrit (CaSO4). Dalam keadaan seimbang, gypsum yang berada di atas suhu 108 F atau 42 C dalam air murni akan berubah menjadi anhidrit.

Klasifiasi Gypsum secara umum mempunyai kelompok yang terdiri dari gypsum batuan, gipsit alabaster, satin spar, dan selenit. Gypsum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat terjadinya, yaitu endapan danau garam, berasosiasi dengan belerang, terbentuk sekitar fumarol vulkanik, efflorescence pada tanah atau gua-gua kapur, tudung kubah garam, penudung gossan|oksida besi (gossan) pada endapan pirit di daerah batu gamping.

Genesa Gypsum merupakan mineral sedimen kimiawi (evaporit) yg khas, terbentuk melalui pengendapan langsung dr air garam/ merupakan hasil hidrasi/alterasi anhidrit selama proses diagenesa. Gipsum dpt juga terbtk oleh sublimasi langsung dr 8

fumarola/diendapkan mata air panas. Juga diagenesa sebagai Galian block-block konkresi dlm lempung dan napal, sedang anhidrit merupakan hasil dehidrasi gypsum.

Kegunaan Gypsum memiliki banyak kegunaan sejak zaman prasejarah hingga sekarang. Beberapa kegunaan gypsum yaitu Drywall Bahan perekat. Penyaring dan sebagai pupuk tanah. Di akhir abad 18 dan awal abad 19, gypsum Nova Scotia atau yang lebih dikenal dengan sebutan plaster, digunakan dalam jumlah yang besar sebagai pupuk di ladang-ladang gandum di Amerika Serikat. Campuran bahan pembuatan lapangan tenis. Sebagai pengganti kayu pada zaman kerajaan-kerajaan. Contohnya ketika kayu menjadi langka pada Zaman Perunggu, gypsum digunakan sebagai bahan bangunan. Sebagai pengental tofu (tahu) karena memiliki kadar kalsium yang tinggi, khususnya di Benua Asia (beberapa negara Asia Timur) diproses dengan cara tradisonal. Sebagai penambah kekerasan untuk bahan bangunan Untuk bahan baku kapur tulis Sebagai salah satu bahan pembuat portland semen Sebagai indikator pada tanah dan air Sebagai agen medis pada ramuan tradisional China yang disebut Shi Gao.

3. KAOLIN Kaolin yang disebut oleh masyarakat tanh lempung putih atau tanh liat putih merupakan endapan residual atau dapat pula terjadi sebagai akibat proses hydrothermal. Kaolin tersusun dari bahan lempung kualitas tinggi mempunyai komposisi kimia hidrous alumunium (Al2O3 2SiO2 2H2O). mineral yang masuk dalam kelompok ini adalah : kaolinit, nakrit, dikrit dan holoysit. Sebagai Galian min utama : kaolinit 80%, min pengotor : kuarsa, feldspar.

Pembentukan kaolin ada 2 macam yaitu secara pelapukan dan altersai hydrothermal pada batuan beku feldspatik. Kaolin terjadi dari hasil pelapukan batuan kristalin asam (granit, diorit). Air panas dari dalam bumi naik ke permukaan melalui celah dari batuan induk, mengubah feldspar, mika menjadi kaolinit (alterasi hydrothermal). Komposisi mineral pada altersai hidrotermal adalah montmorilonit dan kaolinit dengan ciri : tubuh endapan membesar ke arah bawah, makin bawah makin miskin kandungan min asal yg masih segar. Pada proses pelapukan atau kaolin klimatik, min utamanya adalah holoysit, cirri tumbuh endapan meluas ke arah samping, makin ke bawah makin banyak dijumpai mineral asal yg masih segar.

Gambar 2.4. Kaolin Dari tingkat kejadianya dibedakan : a. Kaolin residual Jenis ini diketemukan ditempat terbentuknya bersama batuan induknya, belum mengalami perpindahan, kristal teratur, jarang terjadi substitusi ion, mineral murni b. Kaolin sedimenter Sudah mengalami perpindahan oleh air, angin, gletser, diendapkan dalam cekungan, kristal tdk teratur, bercampur dengan bahan lain (oksida besi, titan) lebih halus dan plastis Penambangan : a. tambang terbuka : pengupasan lapisan penutup (cangkul, dragline, scraper), penambangan dgn backhoe, bucket excavator b. Tambang semprot : penambangan dgn monetor diangkut dgn pompa dan pipa dikeringkan 10

c. Tambang dalam : scr gophering mengikuti arah endapan Pengolahan : Untuk membuang kotoran (pasir kuarsa, oksida besi, titan, mika). Untuk mendapatkan ukuran halus, untuk keputihan tinggi, kadar air, pH TTU dan sifat lainnya sesuai dengan konsumen. Penggunaan Khusus : Kaolin untuk batu bata tahan api Kaolin utk semen putih/kertas Kaolin Untuk Industri Karet Kaolin Untuk Industri Pestisida Kaolin Untuk Industri Cat Kaolin Untuk Industri Keramik

4. TALK Talk dengan rumus kimia Mg3 Si4 O10 (OH2) merupak kelompok mineral hydrous magnesium silicate, berwarna putih, putih kehijauan, abu-abu atau kecoklatan. Di lapangan menunjukan perlapisan yang sangat tipis, kenampakan seperti bersisik, memperlihatkan foliasi. Talk mempunyai tingkat kekerasan 1 (dipakai sebagai indeks skala Mohs), mudah dibentuk tetapi tidak elastic, perlapisannya mengkilap seperti lemak, tidak larut dalam air, dan tidak terbakar, mempunyai berat jenis 2,58-2,83, penghantar panas kurang baik. Talk terbentuk dari hasil alterasi mineral magnesium silikat dalam batuan beku ultrabasa, umum didaptkan pada batuan hasil proses metamorphose regional khususnya pada batuan sekis. Talk juga dapat terbentuk oleh proses metasomatisme pada marmer dolomitan. Talk yang mutunya baiok berasal dari batuan induk dolomite. Mineral talk umumnya berasosiasi dengan tremolit [ Ca Mg5 Si8 O22 (OH) ] = hydrous calcium magnesium silicate, aktinolit [ Ca2 (Mg,Fe)5 Si8 O22 (OH)2 ] = hydrous calcium magnesium iron silicate, dan mineral malihan lainnya. Talk yang merupakan hasil ubahan hydrothermal metamorfose sudah dapat terbentuk pada temperature 300 C atau lebih.

11

Gambar 2.5.Talk

Tempat Diketemukan

Jawa Tengah : Daerah karangsambung, Luk Ulo, Kebumen; daerah Bayat, Klaten (hasil alterasi batuan sekis)

Sulawesi Tengah : Daerah Pompongeo, kab. Poso-Taripa, S. Um\wemadago (terdapat sebagai sisipan/pengisian dalam sekis, merupak ubahan dari serpentinit)

Maluku : desa Fayaul sepanjang S. Wayalele, Kec. Wasikle, Halmahera Tengah (ubahan dalam breksi serpentinit di daerah jalur patahan denagn arah timur lautbarat daya); Kopel Labuna, P. Bacan (terdapat pada batuan ultrabasa, sekitar jalur patahan)

Irian Jaya : Dekat ifar (pengisian rekahan dalam batuan ultrabasa)

Teknik Penambangan Endapan talk dapat diketahui karena tampak di permukaan. Oleh sebab itu system penambangan yang dilakukan adalah system tambang terbuka, dapat dilakukan dengan peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan Pengolahan talk yang berhasil dikumpulkan dari tempat penambangan dapat dilakukan seperti pengolahan bentonit. Talk digunakan dalam berbagai industry seperti industry cat, farmasi, keramik, kosmetika, kertas, karet, isolator, tekstil, dan sebagai pembawa dalam insektisida.

12

5. MAGNESIT Magnesit dengan rumus kimia MgCaO3 = magnesium karbonat, dijumpai dalam bentuk kompak dan mikrokristalin, bentuk rhombhohedral jarang didapatkan, warna putih, kuning atau abu-abu, kadang-kadang memperlihatkan kenampakan seperti porselin denga fraktur konkoidal. Mineral ini mempunyai tingkat kekerasan (3,5-4,5), berat jenis 3,0, tidak larut dalam asam klorida tetapi berbuih bila dipanaskan, tidak terbakar. Apabila disinari ultraviolet maka akan memancarkan warna biru atau hijau.

Gambar 2.6. Magnesit

Kristal magnesit umumnya terbentuk oleh proses dolomitisasi hydrothermal batu gamping ganggang atau penggantian dolomite amfibolit, piroksenit, diabas, peridotit, riolit, basalt, dan granit. Magnesit kriptokristalin atau amorf terbetuk dari alterasi larutan serpentine atau larutan ultrabasa lainnya. Magnesit jenis yang tersebut terakhir ini umumnya terdapat dalam jumlah sedikit karena sebarannya terbatas hanya di permukaan batuan induk.

Tempat Diketemukan

Daerah Istimewa Aceh : Daerah Kr. Jreue kab. Aceh Besar (cukup baik, berupa urat-urat pada batuan ultrabasa berasosiasi dengan talk)

Nusa Tenggara Timur : P. Moa (berasosiasi dengan peridotit-serpentinit) Timor-Timur : Desa Vemase dan Laleia antara Manatuto, baucau (mengisi rekahan pada batuan ultrabasa, Kadar MgO = 6,75-9,24%)

Sulawesi Tenggara : P. Padamarang (bersosiasi dengan batuan ultrabasa, peridotit serpentinit yang berumur Pra Tersier); P. Lambasina (berasosiasi dengan batuan ultrabasa, peridotit serpentinit yang berumur Pra Tersier)

13

Teknik Penambangan Endapan magnesit di Indonesia kebanyakan megisi rekahan dalam bentuk uraturat dan tampak di permukaan. Oleh karenanya teknik penambangan dilakukan dengan tambang terbuka dengan alat-alat sederhana).

Pengolahan dan Pemanfaatan Magnesit dari hasil penambangan dibersihkan dari pengotor/kontaminan. Tahap berikutnya disemprot dengan air untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel. Proses lanjutan dapat diperlakukan seperti pada kaolin. Keterdapatan mineral alam sangat terbatas, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dibuat magnesit sintetis dari dolomite atau batu gamping dolomitan (dikenal sebagai seawater magnesia). Magnesit alam dan magnesit sintetis banyak digunakan dalam industry refraktori, farmasi, kosmetik, karet, plastic, kertas (terutama kertas rokok), cat, pembuatan logam Mg, pertanian, isolator, pipa.

6. PIROFILIT Pirofilit termasuk mineral hydrous alumunium silicate dengan rumus kimia Al2 Si4 O10 (OH) = Al2O3 4SiO4. H2O. Seperti halnua kaolin, pirofilit terbetuk pada zona ubahan argilik lanjut (hipogen) pada temperature tinggi (250 C) dah PH asam. Pirofilit mempunyai system Kristal monoklin, pada umumnya memperlihatkan lapisan tipis atau merupakan agregat foliasi yang radial berwarna kuning-putih, hijau-pucat atau hijaucoklat. Pirofilit mempunyai tingkat kekerasan rendah (1-2), berat jenis 2, relative ringan, mempunyai belahan nyata. Dalam keadaan pipih mudah dibentuk (flexible) tetapi tidak elastic. Kenampakan yang lain mengkilat atau terlihat seperti berminyak tidak larut dalam air, dan tidak terbakar tetapi apabila dipanaskan akan membentuk serpih. Secara megaskopis pirofilit sulit dibedakan dengan talk kecuali dengan analisa kimia atau analisa sinar-X. Apabila diperhatikan rumus kimianya pirofilit termasuk jenis mineral lempung yang berair dan mempunyai komposisi kimia hampir sama dengan mineral lempung lainnya. Di Jepang, batuan ubahan yang banyak mengandung pirofilit disebut sebagai roseki. Berdasarkan jenis mineral lempung yang dikandungnya pirofilit (roseki) dibedakan menjadi jenis kaolinit [=Al2Si2O5(OH)4], sericit dan roseki pirofilit. Di Indonesia pirofilit terbentuknya berkaitan erat dengan sebaran formasi Andesit Tua yang berumur Oligo-Miosen, memilki control struktur dan intesitas ubahan hydrothermal yang

14

kuat atau terbetuk sebagai hasil ubahan hydrothermal batuan gunung api (tufa riolit atau dasit).

Gambar 2.7. Pirofilit

Tempat Diketemukan

Derah Istemewa Aceh : Takengon kab. Aceh Tengah Bengkulu : Sungai Batuintan dan S. Musna, desa Air Kopras, Kec. Lebong Utara, Kab. Rejang Lebong (berwarna abu-abu muda keputihan, kompak, agak keras dari tufa dasitis terubah, komposisi SiO2=58,48 65,54%, Al2O3=13,25 14,37%, FeO3=1,27-2,36%, MgO=0,12-0,48%, CaO=4,03-4,37%)

Kalimantan Tengah : Kuala Kurun Tewah Kalimantan Barat : Desa Sememeng, Kec. Sekayam, Kab. Sanggau (berasal dari tufaterubah, berwarna putih)

Teknik Penambangan Dilakukan seperti penambangan kaolin.

Pengolahan dan Pemanfaatan Pengolahan dilakukan seperti pada kaolin. Pirofilit banyak digunakan pada industry keramik, refraktori, kosmetik, kertas,cat, plastic, karet, dan industry kimia/sabun.

7. TOSEKI Nama mineral ini relatif baru, sehingga belum banyak dikenal. Toseki atau batuan kuarsa-serisit terbentuk pada zona ubahan filik, yakni pada suhu 220 C, dan kondisi PH netral. Endapan toseki biasanya berasosiasi dengan batuan vulkanik yang berkomposisi asam dan terbentuk sebagai endapan ubahan hidrithermal batuan vulkanik

15

jenis tufariolitik ataupun dasitik. Komposisi utama dari toseki adalah mineral kuarsa 5970%, serisit 15-30%, feldspar 1-3%. Berdasarkan atas kandungan mineral utama toseki dibagi menjadi 3 tipe, yaitu tipe serisit, tipe kaolinit, dan tipe feldspar, sedang berdasar atas kandungan Fe2O3 nya toseki dikelompokkan menjadi 4 kelas yaitu kelas 1 dengan kandungan Fe2O3=(0,4-0,5%), kelas 2 dengan kandungan Fe2O3 (0,5-0,7%); kelas 3 dengan kandungan Fe2O3=(0,7-0,9%); kelas 4 dengan kandungan TiO2 kurang dari 0.004% dan MgO kurang dari 0,15. Sifat umum dari toseki hampir sama dengan sifat roseki khususnya pada sifat fisiknya.Warna putih agak kompak.

Gambar 2.8.Toseki

Tempat Diketemukan

Sumatra Barat : Barangan, Kab. Padang Pariaman Bengkulu : tambang Sawah : Muaraaman (warna putih keabuan, keras) Kalimantan Barat : Lumar, kab. Bengkoyang (hasil ubahan hydrothermal dari batuan tufa dasitik, mutu kurang baik)

Sulawesi Selatan : Sadang Malibong, Kec. Sesean, Kab. Tator (hasil ubahan hydrothermal dalam batuan tufa dasit)

Teknik Penambangan Dilakukan seperti penambangan pirofilit/roseki.

Pengolahan dan Pemanfaatan Pengolahan toseki dapat dilakukan seperti pengolahan pirofilit. Kegunaan toseki umumnya dikaitan dengan kadar Fe2O3. Toseki terutama untuk bahan baku keramik, refraktori, isolator. Sebagai bahan keramik toseki mudah dikerjakan dan tidak memerlukan bahan campuran lain.

16

8. OKER Oker adalah tanah yang lunak terdiri dari campuran oksida besi dan bahan yang liat kadang terdapat juga karbonat dan pasir kuarsa halus. Selain itu, disebutkan pula bahwa oker adalah tanah liat yang cukup banyak mengandung oksida logam dipergunakan sebagai bahan cat. Oksida besi yang telah digerus halus dan dapat dipergunakan sebagai bahan ctat disebut juga oker. Oker yang berwarna agak coklat atau kekuning-kuningan menagndung bijih besi dalam bentuk limonit (=2Fe2O3 3H2O), yang berwarna merah mengandung hematite Fe2O3. Diantaranya terdapat bermacam tingkatan warna yang kehitam-hitaman disebabkan oleh C atau Ti, dan apabila berwarna agak ungu karena mengandung Mn atau Cu.

Gambar 2.9. Oker Di pasaran/masyarakat dikenal 2 jenis oker yaitu oker gemuk bilamana oker tersebut banyak mengandung banyak tanah liat dan oker kurus apabila oker tersebut banyak mengandung banyak pasir dan sedikit tanah liat. Pada umumnya oker dinilai bukan dari susunan kimianya, tetapi dari kenyataannya di dalam praktek setelah dicampur dengan minyak dan dipulaskan. Oker dari Ciater, Telaga warna, dan Karaha terdapat di lereng-lereng bekas Gunung api. Oleh karena itu oker terjadi karena proses hodrothermal yang semula membawa bijih oksida besi dari batuan gunung api, yang dalam hal ini biasanya bersifat basa.

17

Tempat Diketemukan Di Indonesia cukup banyak proses hihrothermal baik yang terjadi pada Tersier maupun selam zaman Kuarter. Walaupun demikian tempat dimana oker dketemukan belum banyak. Beberapa tempat tersebut antara lain:

Jawa Barat : Ciater, Telaga Warna, Kawah Karaha, Kuningan dekat Cipasung Jawa Timur : Kampak, Panggul, Kab. Pacitan; Songgoriti Kab. Malang

Teknik Penambangan Oker keterdapatannya ditunjukan oleh adanya singkapan di permukaan. Oleh karenanya penambangan oker dapat dilakukan dengan cara tambang terbuka dengan peralatan yang sederhana. Untuk deposit yang terbentuk gang penam-bangan dilakukan dengan system gophering.

Pengolahan dan Pemanfaatan Sebelum oker digiling, kotoran yang ada harus dibuang terlebih dahulu, kemudian dilakukan penggilingan. Untuk memisahkan fraksi dari serbuk dapat dilakukan penyedotan sehingga nantinya diperoleh dalam bentuk tepung. Pada waktu tertentu proses pembakaran diperlukan guna mendapatkan warna tertentu. Pada saat pembakaran besi hidrat yang semula berwarna kekuningan akan berybah menjadi merah karena airnya menguap dan berbentuk besi oksida. Pada pembakaran diudara yang lebih lama dan suhu yang lebih tinggi, ferro akan berubah menjadi ferri oksida yang warnanya merah tua. Oker dimanfaatkan sebagai bahan utama cat merah, dapat pula untuk member warna pada ubin atau sebagia luluh. Sebagai cat merah, oker dicampur dengan minyak cat.

9. TAWAS Tawas atau talum merupakan persenyawaan garam komplek dengan rumus kimia K2SO4.Al2(SO4)3 24H2O (= tawas kalium) dan Na2SO4.Al2(SO4)3 24H2O (= tawas natrium). Di dalam tawas didapatkan dalam 2 bentuk yaitu dalam bentuk padat (dalam batuan/seperti yang dijumpai di daerah Ciater (dekat Bandung) dan dalam bentuk air kawah seperti yang didapatkan di kawah gunung Ijen. Pada air tersebut mengandung 1 gram K2O tiap satu liter dan mengandung 1,4 gram Na2O tiap satu liter. Tawas terjadi dari proses pelapukan dari batuan yang mengandung mineral sulfide di daerah vulkanis 18

(solfatara) atau terjai di daerah batu lempung, serpih atau batu asbak yang mengandung pirit (=Fe S) dan markasit (=FeS2). Kebanyakan tawas dijumpai dalam bentuk padat pada batu lempung, serpih ataupun batu sabak.

Gambar 2.10. Tawas Tempat Diketemukan Beberapa tempat yang telah diketahui keberadaan tawas antara lain :

Jawa Barat : daerah Ciater dalam keadaan padat, K. Wayang Jawa Tengah : Telaga Sari, Banyumas Jawa Timur : Kawah Ijen (dalam bentuk cairan) ; Gua Prusi, Kediri

Teknik Penambangan Tawas dijumpai pada batuan yang lunak /dijumpai dalam bentuk cair. Oleh sebab itu umumnya teknik penambangan tawas dilakukan dengan tambang terbuka dengan peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan Bahan tawas yang diperoleh dari hasil penambangan, dibentuk dalam bongkahbongkah kecil, kemudian digiling dengan crusher. Tahap kemudian dijemur pada panas matahari dengan cara dibentangkan/ditabur tipis atau dapat pula dipanggang (roasted) dengan tujuan untuk mengoksidasikan sulfide menjadi sulfat. Pada tahap akhir bahan yang diolah tersebut dibebaskan dari sulfuric acid, dan didapatkan tawas.Tawas dimanfaatkan untuk menjernihkan air/air sumur yang keruh. Air yang telah dijernihkan dengan tawas tidak boleh diminum secara langsung tetapi harus dimasak terlebih dahulu.Tawas dimanfaatkan pula sebagai sumber bahan pembuatan natrium dan kalium, untuk bahan antiseptic, bahan industry farmasi, untuk bahan cat, bahan penyamak kulit. 19

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa batuan yang terbentuk pada proses hidrotermal adalah batuan yang prosesnya dipicu oleh adanya intrusi jauh di bawah permukaan menjadi proses utama yang menyebabkan adanya pergerakan fluida ke dekat permukaan. Aliran fluida tersebut membawa logam-logam dan kemudian mengendap dan membentuk endapan-endapan yang dikelompokkan sebagai endapan hidrothermal. Proses ini berasosiasi dengan intrusi pada tahapan awal, mineralisasi Porfiri, pegmatit, copper(Cu) didominasi oleh fluida magmatic kemudian berreaksi dengan juvenile water dan conate water ketika larutan tersebut bergerak melalui rekaan-rekaan batuan, Mineral-mineral yang termasuk dalam golongan bahan galian industri yang berkaitan dengan proses ubahan hidrotermal yaitu barit, gypsum, kaolin, talk, magnesit, pirofilit, toseki, oker, dan tawas Tempat ditemukannya masing-masing mineral tersebut yaitu : 1. Barit : Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalbar, NTT, dan Sulsel 2. Talk : Jateng, Sulteng, Maluku, dan Irian Jaya 3. Magnesit : Daerah Istimewa Aceh, NTT, dan Sulteng 4. Pirofilit : Bengkulu, Daerah Istimewa Aceh, Jabar, dan Jatim 5. Toseki : Sumbar, Bengkulu, Jabar, Jateng, dan Jatim 6. Oker : Jabar, Jatim 7. Tawas : Jabar, Jateng, dan Jatim Teknik penambangan dari masing-masing mineral tersbut yaitu, untuk barit, magnesit, oker, dan tawas dapat dilakukan dengan penambangan terbuka.

20