Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I ASIDI ALKALIMETRI

Disususun oleh : 1. RANI SASKIA JEANITA 2. INES NUR HENDRIANI 3. REZA SATRIA BAYUAJI 4. INNE ROSALINA YUNIANTI 5. SHARON SUSANTO (G1F011049) (G1F011051) (G1F011053) (G1F011055) (G1F011057)

Golongan : A Kelompok : 2 Hari/tanggal :Selasa, 23 Oktober 2012

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2012

I.

JUDUL PERCOBAAN Asidi Alkalimetri

II. TUJUAN Menetapkan kadar suatu senyawa obat dalam sampel menggunakan prinsip reaksi asam-basa.

III. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu labu ukur, buret, labu erlenmeyer, pipet tetes, batang pengaduk, sendok tuang, pipet volume, beker glass, gelas ukur, statip dan klem, gelas arloji, corong pisah, gelas piala, kertas perkamen, tissue, dan timbangan. Bahan yang digunakan yaitu HCL pekat, aqudes, natrium karbonat anhidrat, indikator pp, natrium hidroksida, asam oksalat dihidrat, NaOH, asam salisilat, etanol 95%, asam sitrat, natrium karbonat, dan indikator metal jingga. IV. DATA PENGAMATAN

Larutan baku

a. Larutan Natrium Hidroksida 0,1 N Titrasi 1 Larutan asam oksalat 10 ml 0,1 N, diperlukan : Larutan NaOH = 11,25 ml N NaOH =

=
= 0,08 N

Titrasi 2 Larutan asam oksalat = 10 ml 0,1 N, diperlukan : Larutan NaOH = 10,75 ml N NaOH = = = 0,09 N

N NaOH rata-rata

= 0,085 N

Rata-rata VNaOH

= 11 ml

b. LarutanAsamKlorida 0,1 N Titrasi 1 = 14,75 N HCl =

=
= = 0,25 N

Titrasi 2 = 16,35 N HCl = = = = 0,23 N

Titrasi 3 = 17,35 N HCl = = = = 0,22 N

N HCl rata-rata Penetapan Kadar Asam Sitrat Diketahui : N titran NaOH = 0,085 N V1 = 5,4 ml V2 = 5,78 ml mgsampel = 200 mg BE Asamsitrat = BM E = 192 3 = 64

= 0,23 N

Labu 1 Digunakan titran NaOH = 5,4 ml % Kadar ( b/b) = ml titran x N titran x BE zat x 100 mg sampel

% b/b

% Kadar ( b/b) = 5,4 x 0,085 x 64 200

X 100

%b/b

= 14,68% b/b Labu 2 Digunakan titran NaOH = 5,78ml % Kadar ( b/b) = ml titran x N titran x BE zat x 100 mg sampel

% b/b

% Kadar ( b/b) = 5,78x 0,085 x 64 200

X 100

%b/b

= 15,72 % b/b Labu 3 DigunakantitranNaOH = 5,5 ml % Kadar ( b/b) = ml titran x N titran x BE zatx 100 mgsampel

% b/b

% Kadar ( b/b) = 5,5x 0,085 x 64 200

X 100

%b/b

= 14,96 % b/b

Didapatkan kadar NaOH adalah 14,68 %, 15,72 %, 14,96 %. x= = 15,12 %

x 14,68 15,72 14,96 15,12

d[x- ] 0,44 0,6 0,16 = 1,2

d2 0,1936 0,36 0,0256 = 0,5792

d=

= 0,4

= 0,54 Jadi kadar asam sitrat adalah 15,12 % 0,54 * Hargaditolakjika = x - x d

> 2,5
> 2,5

= 14,68 15,12 0,4 = 1,1> 2,5 Jadi, harga TIDAK DITOLAK

V.

PEMBAHASAN Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat

dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi komlpeksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya (Underwood, 1999). Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambah sedikit demi sedikit pada titrat ( larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indicator baik titrat maupun titran biasanya berupa larutan. Saat terjadi perubahan warna indicator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna pada indicator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi (waktunya titrasi dihentikan, situasinya berupa kondisi setelah titik ekuivalen terlewati sehingga sudah terdapat sedikit titran berada dalam

Erlenmeyer yang ditandai dengan perubahan warna indicator) dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen (kondisi dimana analit yang ada di

Erlenmeyer tepat habis bereaksi dengan titran yang di buret). Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi oleh karena itu, pemilihan indicator menjadi sangat penting agar warna indicator berubaha saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pHnya 7 (Underwood, 1999). Menurut W. Ostwald, Indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dengan bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu (Vogel, 1978). Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hydrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisis juga dapat di katakana sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa). Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam menggunakan baku basa (Gandjar, 2007). Asidi-Alkalimetri merupakan metode yang mendasar pada reaksi netralisasi, yaitu reaksi antara ion hydrogen (berasal dari asam) dan ion hidroksida ( berasal dari basa) yang membentuk molekul air. Asidimetri adalah penetapan kadar basa dari suatu contoh dengan menggunakan larutan baku asam yang sesuai, sedangkan alkalimetri adalah penetapan kadar asam dari suatu contoh dengan menggunakan larutan baku basa yang sesuai (Muchtar, 1982). Bahan atau senyawa obat yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain : Natrium Hidroksida

Natrium Hidroksida mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali jumlah dihitung sebagai NaOH, dan tidak lebih dari 2,5% Na2CO3.Pemerian bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur : mudah meleleh, basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida. Kelarutan sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%). Identifikasi larutan bereaksi alkali kuat, jika dinetralkan dengan asam klorida encer, menunjukkan reaksi natrium yang tertera pada reaksi identifikasi. Klorida larutan 500 mg dalam air dengan penambahan 1,8 ml asam nitrat, memenuhi uji batas klorida. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik. Khasiat dan penggunaan sebagai zat tambaha ( Anonim, 1979). Aquades (H2O, BM 18,02) Air murni adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik, atau proses lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak mengandung zat tambahan lain. Pemeriannyacairanjernih, tidakberwarnadantidakberbau.

Asam Sitrat

Asam sitrat berbentuk anhidrat atau mengandung satu molekul air hidrat. Mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 100,5% C6H8O7

dihitung terhadap zat anhidrat. Pemeriannya hablur bening, tidak berwarna, atau serbuk hablur granul sampai halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau. Rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering. Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, disimpan dalam wadah tertutup rapat agak sukar larut dalam eter. Baiknya

Asam oksalat

(CO2H)2.2H2O. mengandung tidak kurang dari 99,5% C2H2O4.2H2O. pemerian hablur tidak berwarna. Larut dalam air dan dalam etanol 95%.Singkatnya, kita harus memilih indicator yang berubah warna disekitar titik ekivalensi dari titrasi. Untuk asam lemah. pH pada titik ekivalen di atas 7 dan fenolftalein merupakan indikator yang lazim. Untuk basa lemah, yang memiliki pH di bawah 7, indikator yang sering digunakan adalah metil merah atau metil orange. Untuk asam dan basa kuat, indikator yang sesuai adalah , metil merah, bromtimolbiru, dan fenolftalein (Underwood, 1999). A. Pembuatan larutan baku a. Larutan baku NaOH 0,1 N Pembuatan larutan baku Natrium Hidroksida (NaOH) adalah dengan mencampurkan 4,001 gram NaOH dengan aquades pada labu ukur hingga 1000 ml, lalu dikocok agar homogen. Titrasi asam oksalat menggunakan larutan NaOH 0,315 gram asam oksalat dihidrat ditmbang dengan menggunakan timbangan analitik, lalu dilarutkan dalam gelas piala 50 ml air. Dipipet 10 ml larutan baku primer asam oksalat, dimasukkan dalam Erlenmeyer. Kemudian dititrasi dengan larutan baku natrium hidroksida yang telah dibuat pada labu Erlenmeyer dengan menggunakan

indicator fenolftalein 3 tetes hingga warna putih bening berubah menjadi warna merah muda. Larutan ini dititrasi dengan larutan baku NaOH sampai terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda dan didapatkan hasil titrasi 1 sebanyak 10,35 ml, titrasi 2 sebanyak 10,6 ml dan titrasi 3 sebanyak 10,15 ml. V C2H2O4 x N C2H2O4 = V NaOH x N NaOH

DidapatkankadarNaOHsebesar 0,0085 N. Pembakuan larutan NaOH dilakukan dengan menambahkan setetes demi setetes larutan NaOH pada larutan oksalat dihidrat (C2H2O4 . 2 H20). Fungsinya dalam percobaan ini yaitu sebagai larutan standart untuk mentitrasi asam sitrat (titran). Penambahan tetes NaOH yang pertama menyebabkan system berubah menjadi larutan buffer, terjadi reaksi netralisasi sebagai berikut : C2H2O4 . 2 H20 + NaOH C2NaHO4.2H2O + H2O

Basa kuat terurai sempurna dalam air sedangkan asam lemah terurai sebagian dalam air, sehingga terbentuk garam. Penambahan NaOH dilakuikan sampai titik akhir titrasi yaitu titik dimana indicator berubah warna. Indicator yangb digunakan adalah fenolftalein. Sehuingga titik akhir titrasi didapat saat indicator berubah warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Perubahan warna tersebut khusus untuk indicator fenolftalein yang berwarna merah muda dalam bentuk basa dan dalam bentuk asamnya tidak berwarna dengan kisaran pH 8,3 sampai 10,10. Dalam suatu larutan indicator membentuk kesetimbangan : H2O + HIn H30+ + In (Bird, 1993).

Perubahan warna larutan yang dititrasi menandakan larutan titran (basa) yang ditambahkan sudah melebihi titik ekivalen, yaitu titik dimana jumlah ekivalen basa sama dengan jumlah ekivalen asam (asam dan basanya sudah bereaksi dengan tepat). Indicator fenolftalein sangat peka terhadap perpindahan proton dengan menunjukkan perubahan warna yang tajam. Nindikator ini sukar larut dalam air, tetapi dapat berinteraksi dengan air sehingga cincin laktonnya terbuka dan membentuk asam yang tidak berwarna. Lepasnya proton pertama dari molekul fenolftalein tidak banyak mengubah kerangka molekulnya. Tetapi lepasnya proton kedua menyebabkan perubahan besar pada molekulnya (Rivai,1995).

B. Penetapan Kadar a. Penetapan kadar asam sitrat Percobaan penetapan kadar asam sitrat dilakukan sebagai berikut : Lebih kurang 200 mg sampel yang ditimbang seksama, dilarutkan dalam 100 ml air. Dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,085 N menggunakan indicator PP hingga larutan berubah dari tak berwarna hingga larutan menjadi merah muda. PP berfungsi sebagai indicator yang menunjukkan titik akhir titrasi (titik ekivalen). Mempunyai rumus molekul C20H14O4 dengan massa jenisnya 1, 227. Reaksi yang terjadi adalah : CH2-COOH

CH2COOH

HOC-COOH + 3NaOH

HOC-COOH

+ 3H2O

CH2-COOH Penetapan Kadar Asam Sitrat Diketahui :

CH2-COOH

N titranNaOH = 0,085 N V1 = 5,4 ml V2 = 5,78 ml mgsampel = 200 mg BE Asamsitrat = BM E = 192 3 = 64 Labu 1 DigunakantitranNaOH = 5,4 ml % Kadar ( b/b) = ml titran x N titran x BE zatx 100 mgsampel

% b/b

% Kadar ( b/b) = 5,4 x 0,085 x 64 200

X 100

%b/b

= 14,68 % b/b Labu 2 DigunakantitranNaOH = 5,78 ml % Kadar ( b/b) = ml titran x N titran x BE zatx 100 mgsampel

% b/b

% Kadar ( b/b) = 5,78x 0,085 x 64 200

X 100

%b/b

= 15,72 % b/b Labu 3

DigunakantitranNaOH = 5,5 ml % Kadar ( b/b) = ml titran x N titran x BE zatx 100 mgsampel

% b/b

% Kadar ( b/b) = 5,5x 0,085 x 64 200

X 100

%b/b

= 14,96 % b/b

DidapatkankadarNaOHadalah14,68 %, 15,72 %, 14,96 %. x= = 15,12 %

x 14,68 15,72 14,96 15,12

d[x- ] 0,44 0,6 0,16 = 1,2

d2 0,1936 0,36 0,0256 = 0,5792

d=

= 0,4

= 0,54 Jadikadarasamsitratadalah 15,12 % 0,54 * Hargaditolakjika = x-x

> 2,5

d = 0,4 = 1,1> 2,5 Jadi, harga TIDAK DITOLAK 14,68 15,12 > 2,5

Menurut literatur kadar asam sitrat adalah mengandung tidak kurang dari 99,5% Tidak lebih dari 100,5% C6H8O7, dihitung terhadap zat anhidrat. Kadar asamsitrathasilpercobaan 15,12% 0,54berbeda seperti literatur (Anonim, 1995). Hal ini terjadi mungkin disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : 1. Kurang telitinya praktikan dalam melakukan proses titrasi 2. Kurang tepatnya pada saat pembuatan larutan baku NaOH, seperti pada saat penimbangannya 3. Kurang ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator 4. Penetesan titran yang berlebihan Menurut literatur kadar asam sitrat adalah mengandung tidak kurang dari 99,5 % tidak lebih dari 100,5% C6H8O7 Semua perhitungan dalam titrimetri didasarkan pada konsentrasi titran sehingga konsentrasi titran harus dibuat secara teliti. Titran semacam ini disebut dengan larutan baku (standar). Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan normalitas, molaritas, atau bobot per volume (Gandjar, 2007). Suatu larutan standar dapat dibuat dengan cara melarutkan sejumlah senyawa baku tertentu yang sebelumnya senyawa tersebut ditimbang secara tepat dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Larutan standar ada dua macam, yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan baku primer mempunyai kemurnian tinggi. Larutan baku sekunder harus dibakukan dengan larutan baku primer. Suatu proses yang mana larutan baku sekunder dibakukan dengan larutan baku primer disebut dengan standardisasi (Gandjar, 2007).

Menurut Gandjar dalam Kimia Farmasi Analisis, suatu senyawa dapat digunakan sebagai baku primer jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. Mudah didapatkan, dimurnikan, dikeringkan, dan disimpan dalam keadaan murni. 2. Mempunyai kemurnian yang sangat tinggi (1000,02)% atau dapat dimurnikan dengan penghabluran kembali. 3. Titran tidak berubah selama penimbangan (zat yang higroskopis bukan merupakan baku primer). 4. Tidak teroksidasi oleh oksigen dari udara dan tidak berubah oleh karbondioksida dari udara. 5. Susunan kimianya tepat sesuai jumlah. 6. Mempunyai berat ekivalen yang tinggi, sehingga kesalahan

penimbanagn akan menjadi lebih kecil. 7. Mudah larut. 8. Reaksi dengan zat yang ditetapkan harus stoikiometri, cepat, dan terukur. Titran-titran (larutan baku) seperti asam klorida dan natrium hidroksida tidak dapat dianggap sebagai baku primer karena kemurniannya cukup bervariasi. Oleh karena itu larutan baku natrium hidroksida harus dibakukan dengan kalium biftalat karena kalium biftalat tersedia dalam kemurnian yang tinggi. Larutan baku yang sudah dibakukan dengan kalium biftalat ini disebut juga dengan baku sekunder dan dapat digunakan untuk membakukan larutan baku asam klorida. Baku primer dan kegunaannya Sumber : Watson, 1999 Baku Primer Kalium biftalat Kegunaan Pembakuan larutan natrium hidroksida Pembakuan larutan asam perklorat Kalium iodat Pembakuan larutan natrium tiosulfat melalui pembentukan iodium Natrium karbonat Pembakuan asam klorida

anhidrat Logam Zn Pembakuan larutan EDTA

Sedikit berbeda dengan literatur, dalam percobaan yang kami lakukan pembakuan natrium hidroksida dilakukan dengan larutan asam oksalat dihidrat, dengan menggunakan indicator phenolftalein, sampai terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda (rosa). Indicator phenolftalein yang sudah dikenal merupakan asam diprotik dan tidak berwarna. Indicator ini terurai dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya dan kemudian dengan hilangnya proton kedua, menjadi ion dengan system terkonjugat, menghasilkan warna merah. Metal orange, indicator lainnya yang banyak digunakan, merupakan basa dan berwarna kuning dalam bentuk molekulnya. Penambahan proton menghasilkan kation yang berwarna merah muda( Underwood, 1999).

Rasio Bentuk Warna dari Indikator pada berbagai nilai pH pH larutan Rasio [ Hln]/[ln-] Warna

1 2 3 4 5 6 7 8

10.000 : 1 1000 : 1 100 : 1 10 : 1 1:1 1 : 10 1 : 100 1 : 1000

Merah Merah Merah Merah Orange Kuning Kuning Kuning

Perubahan minimum yang dibutuhkan untuk perubahan warna ini diacu sebagairentang indikator. Pada nilai pH menengah, warna yang

ditunjukkan oleh indikator bukan merah maupun kuning tetapi mendekati orange. Pada pH 5, yakni pKa dari Hln, kedua bentuk warna tersebut memiliki konsentrasi yang sama, artinya Hln separuh ternetralkan. Tabel dibawahinimendaftarkanbeberapaindikatorasambasabersamadenganperkiraanrentangmereka (Underwood, 1999). BeberapaIndikatorAsam-basa Perubahan indikator dengan pH Tidak berwarna ke kuning 0,1 0,8 Merah ke kuning 1,2 2,8 2,9 4.0 3,0 4,6 3,4 4,4 3,8 5,4 4,2 6,2 5,0 8,0 4,8 5,4 5,2 6,8 6,0 7,6 6,8 8,0 6,8 8,4 7,0 9,0 8,0 9,6 9,3 10,6 10,1 12,0 12,0 14,0 Tidak berwarna ke kuning 2,0 4,0 Merah ke kuning Kuning ke biru Merah ke kuning Kuning ke biru Merah ke kuning Merah ke biru Ungu ke hijau warna

Meningkatnya Rentang pH

asam pikrat Timol biru 2,6- Dinitrofenol Metil kuning Bromfenol biru Metil orange Bromkresol hijau Metil merah Litmus Metil ungu p-Nitrifenol Bromkresol ungu Bromtimol biru Netral merah Fenol merah p-a-Naftoltalein Fenolfhtalein Timolftalein Alizarin kuning R 1,3,5- Trinitrobenzene

Tidak berwarna ke kuning 5,6 7,6 Kuning ke ungu Kuning ke biru Merah ke kuning Kuning ke biru Kuning ke biru Tidak berwarna ke merah Tidak berwarna ke biru Kuning ke violet Tidak berwarna ke orange

Saat asam kuat dititrasi, perubahan pH yang besar pada titik ekivalen cukup untuk melebarkan rentang dari ketiga indikator. Kerana itu tiap-tiap indikator ini akan berubah warna dalam penambahan satu atau dua tetes dari titik ekivalen ini, seperti indikator lainnya yang akan berubah warna antara pH 4 hingga 10. Dalam titrasi asam lemah, pilihan indikatornya jauh lebih terbatas. Untuk asam dengan pKa 5, kira-kira sebesar pKa asam asetat, pH tersebut lebih tinggi daripada 7 pada titik ekivalen dan perubahan pH relatif kecil. Fenolftalein berubah warna di sekitar titik ekivalen dan merupakan indikator yang sesuai. Dalam kasus asam yang sangat lemah, misalnya pKa = 9, tidak ada perubahan pH yang terjadi di dekat titik ekivalen. Oleh karena itu basa bervolume besar akan dibutuhkan untuk mengubah warna indikator tersebut, dan titik ekivalennya tidak dapat dideteksi dengan kepresisian yang biasa (Underwood, 1999). Dalam bidang farmasi, asidi-alkalimetri dapat digunakan untuk menentukan kadar suatu obat dengan teliti karena dengan titrasi ini, penyimpangan titik ekivalen lebih kecil sehingga lebih mudah untuk mengetahui titik akhir titrasinya yang ditandai dengan suatu perubahan warna, begitu pula dengan waktu yang digunakan seefisien mungkin.

VI. KESIMPULAN Kesimpulan yang kami peroleh setelah melakukan praktikum ini adalah : 1. Aside dan alkalimetri merupakan metode yang mendasarkan pada reaksi netralisasi, yakni reaksi antara ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. 2. Penetapan kadar asam salisilat, asam sitrat, dan natrium bikarbonat dapat dilakukan melalui metode aside alkalimetri. Asidimetri merupakan penetapan kadar suatu sampel secara kuantitatif terhadap

senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sedangkan alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baknu basa. 3. Penetapan kadar asam sitrat dapat diperoleh hasil yaitupada penepan pertama sebesar 91,87%, penetapan kedua sebesar 89,395% dan penetapan ketiga sebesar 89,643%.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Faramakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Bird, T. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas. Gramedia. Jakarta. Ganjar, I. G. dan Abdul Rohman. 2007. Kimia FarmasiAnalisis. PustakaPelajar.

Yogyakarta. Rivai, H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. UI press. Jakarta. Svehla, G. 1985. Vogel : Buku Teks Analisis Kualitatif Makro dan Semimakro. PT Kalman Media Pustaka. Jakarta. Underwood, A. L.1999. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta.