Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH Di Negara-negara berkembang osteomielitis masih merupakan masalah dalam bidang ortopedi. Sebelum ditemukannya antibiotik, osteomielitis masih merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Keberhasilan pengobatan osteomielitis ditentukan oleh fakor-faktor diagnosis yang dini dan penatalaksanaan pembedahan. Osteomielitis merupakan suatu proses peradangan pada tulang yang disebabkan oleh invasi mokroorganisme (bakteri dan jamur). Diagnosis perlu ditegakkan sedini mungkin, terutama pada anak-anak sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi dan kerusakan yang lebih lanjut pada tulang. Pada blok muskuloskeletal ini, diberikan kasus mengenai pasien wanita 18 tahun dengan nyeri tungkai bawah kiri, pyrexia, kemerahan, dan sinus di kulit yang hilang timbul. Dua setengah tahun yang lalu mengalami kecelakaan sehingga patah tulang di tungkai bawah di mana tulang tampak dari luar. Kemudian pasien dibawa ke dukun tulang. Pada pemeriksaan fisik sekarang, didapatkan deformitas, scar tissue diameter 10 cm di regio anterior tibia kiri, sinus dengan discharge seropurulaen melekat pada tulang di bawahnya, dan ekskoriasi kulit sekitar sinus. Pada plain photo didapatkan : penebalan periosteum, bone resorpsion, sclerosis di sekitar tulang, involucrum, squester, angulasi tibia dan fibula (varus). Kemudian pasien ini didiagnosis oleh dokter menderita Osteomielitis. Pasien merupakan pemilik kartu asuransi kesehatan, namun tidak dapat digunakan sehingga harus membayar seluruh biaya. Dari kasus di atas, kita perlu mengetahui lebih jauh mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada pasien tersebut, serta langkah yang harus ditempuh untuk penatalaksanaannya. Oleh karena itu, disusunlah laporan ini sehingga masyarakat pada umumnya, serta mahasiswa kedokteran pada khususnya, dapat menjawab pengobatan berupa pemberian antibiotik atau tindakan

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 1

permasalahan pada kasus tersebut dan melakukan penatalaksanaan sesuai standar profesi kedokteran. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah fisiologi, histologi, dan anatomi tulang? 2. Apakah yang disebut dengan fraktur tulang? 3. Bagaimana proses penyembuhan fraktur tulang? 4. Apakah osteomielitis itu? 5. Bagaimana patofisiologi dari gejala-gejala yag disebutkan dalam skenario? TUJUAN PENULISAN 1. Mengetahui fisiologi, histologi, dan anatomi tulang. 2. Mengetahui jenis-jenis fraktur tulang. 3. Mengetahui proses penyembuhan fraktur tulang. 4. Mengetahui penyakit osteomielitis. 5. Mengetahui patofisiologi gejala-gejala yang disebutkan dalam skenario. MANFAAT PENULISAN Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui, memahami pengetahuan dasar tentang sistem muskuloskeletal dari berbagai aspek seperti: anatomi, histologi, fisiologi, biokimia, dan penyakit-penyakit pada sistem muskuloskeletal.

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Histologi Tulang Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari komponen seluler dan nonseluler. Komponen seluler terdiri dari tiga jenis sel : osteoblast, osteosit, dan osteoclast. Osteoblast berfungsi mensintesis matriks organis tulang. Osteoblast yang berasal dari sel mesenkim membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteosit melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Dalam keadaan aktif, osteoblast berbentuk kuboid dan sitoplasmanya basofilik. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblast menyekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang berguna dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik untuk tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau metastase kanker ke tulang. Bila aktifitasnya menurun, bentuknya lebih pipih dan basofilik sitoplasmanya berkurang. Osteosit yang berasal dari osteoblast yang terbenam dalam matriks adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. Osteosit akan menempati lakuna dan akan saling berhubungan dengan prosesus protoplasmanya dengan menempati kanalikuli dan membentuk nexus. Osteoclast adalah sel berukuran besar, dapat bergerak, dan sitoplasmanya bercabang-cabang kepucatan serta banyak mengandung inti. Sel ini memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorpsi. Sel-sel ini juga menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. Komponen nonselular utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan matriks organik (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu garam kristal (hidroksi-apatit) yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik tulang disebut sebagai osteoid.

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 3

Sekitar 70% dari osteoid adalah kolagen tipe I yang kaku dan memberikan daya rentang tinggi pada tulang. Materi organik lain yang berupa proteoglikan yaitu asam hialuronat. (Price dan Wilson, 2006; Tim Laboratorium Histologi FK UNS, 2009; Setyohadi, 2007).

Permukaan luar dan dalam jaringan tulang dilapisi oleh jaringan pengikat yang disebut periosteum disebelah luar dan endosteum disebelah dalam. Periosteum terdiri dari dua lapisan. Lapisan luar adalah stratum fibrosum yang terdiri dari jaringan pengikat, pembuluh darah, dan saraf. Lapisan dalam adalah stratum germinativum yang banyak mengandung sel pipih yang dapat berdiferensiasi menjadi osteoblast; dan serabut elastis serta kolagen yang tersusun longgar. Serabut kolagen periosteum yang menembus matriks tulang dan berfungsi mengikatkan periosteum ke tulang disebut serabut Sharpey. Endosteum ke arah luar bersifat osteogenik dan ke arah dalam bersifat hemopoetik (Tim Laboratorium Histologi FK UNS, 2009). Pada jaringan tulang dewasa terdapat sebuah sistem yang disebut sistem Havers. Sistem Havers terdiri atas kanal Havers dan lamela-lamela yang mengelilinginya. Kanal Havers dilapisi oleh endosteum dan diisi oleh pembuluh darah, saraf, dan jaringan pengikat longgar. Diantara lamela terdapat lekukan yang berisi osteosit yang saling berhubungan dengan kanalikuli. Kanal Havers berhubungan dengan rongga sumsum tulang melalui kanal Volkman (Tim Laboratorium Histologi FK UNS, 2008).

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 4

Hampir semua tulang berongga di bagian tengahnya. Jaringan tulang dapat berbentuk anyaman atau lamelar. Tulang yang berbentuk anyaman terlihat saat pertumbuhan cepat, seperti saat perkembangan janin atau sesudah fraktur; selanjutnya akan digantikan tulang dewasa yang berbentuk lamelar. Pada orang dewasa, tulang anyaman ditemukan pada insersi ligamentum atau tendon. Tulang lamelar terdapat di seluruh tubuh orang dewasa yang tersusun dari lempengan mineral yang sangat padat, dan bukan suatu massa kristal padat. Pola susunan ini melengkapi tulang dengan kekuatan yang besar (Price dan Wilson, 2006).

B. Anatomi dan Fisiologi Tulang Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk alat gerak pasif, proteksi alat-alat di dalam tubuh, membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh, tempat melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh, metabolisme kalsium dan mineral, dan organ hemopoetik. (Price dan Wilson, 2006; Setyohadi, 2007). Pembagian tulang menurut morfologi atau bentuk terdiri dari : 1) os longum atau tulang panjang, contohnya os humerus, os femur, os tibia, os fibula,dll. 2) os breve atau tulang pendek, contohnya ossa carpalia, tarsalia,dll. 3) os planum atau tulang piph, contohnya os sternum, os scapula,dll. 4) os pneumaticum yaitu tulang bentuk lembaran, contohnya os ethmoidale, os maxilla,dll., 5) os irreguler atau tulang yang bentuknya tidak teratur, contohnya os vertebrae (Budianto dan Azizi, 2004).

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 5

Pada potongan tulang terdapat dua macam struktur yaitu substantia spongiosa (berongga) dan substantia compacta (padat). Secara histologis tulang dibedakan menjadi dua komponen utama, yaitu tulang muda (tulang primer) dan tulang dewasa (tulang sekunder). Kedua jenis ini memiliki komponen yang sama, tetapi tulang primer mempunyai serabut-serabut kolagen yang tersusun secara acak, sedangkan tulang sekunder tersusun secara teratur (Price dan Wilson, 2006; Setyohadi, 2007). Tulang primer berperan dalam pembentukan tulang atau juga dalam proses penyembuhan kerusakan tulang, maka tulang yang tumbuh tersebut bersifat muda dan bersifat sementara karena nantinya akan diganti dengan tulang sekunder. Tulang sekunder yang biasa terdapat pada kerangka orang dewasa dikenal juga sebagai lamellar bone karena jaringan tulang sekunder terdiri dari ikatan paralel kolagen yang tersusun dalam lembaran-lembaran lamella. Ciri khasnya adalah serabut-serabut kolagen yang tersusun dalam lamellae yang sejajar satu sama lain dan melingkari konsentris saluran di tengah yang dinamakan saluran havers atau canalis haversi. Dalam canalis haversi ini berjalan pembuluh darah, serabut saraf, dan diisi oleh jaringan pengikat longgar. Keseluruhan struktur konsentris ini dinamai sistem havers atau osteon (Price dan Wilson, 2006; Setyohadi, 2007). Epifisis merupakan bagian ujung dari tulang panjang. Bagian epifisis langsung berbatasan dengan sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang secara radier. Diafisis atau batang adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder dan tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan besar. Metafisis merupakan bagian melebar di dekat ujung akhir batang. Disusun oleh tulang trabekular atau tulang spongiosa yang mengandung sel hematopoetik. Sumsum merah juga terdapat di bagian epifisis dan diafisis tulang. Metafisis juga menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon dan ligamen pada epifisis. Lempeng epifisis merupakan daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak dan menghilang setelah dewasa. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan pada proses pertumbuhan tulang (Price dan Wilson, 2006).

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 6

Jaringan tulang merupakan jaringan yang vaskuler. Tulang mendapat suplai makanan dari arteri nutrisium yang masuk ke dalam foramen nutrisium pada diafisis tulang panjang. Pada umumnya sebuah tulang hanya memiliki satu pasang arteri dan vena nutrisium, namun beberapa tulang seperti femur, mempunyai arteri dan vena nutrsium lebih dari satu. Pembuluh darah pada metafisis memvaskularisasi permukaan dalam diafisis dimana disitu merupakan tempat kartilago digantikan oleh jaringan tulang. Pembuluh darah pada periosteum memvaskularisasi bagian superfisial dari osteon. Pada saat osifikasi endokondral, cabang dari pembuluh darah ini mencapai daerah epifisis guna menyediakan nutrisi untuk pusat osifikasi sekunder (Price dan Wilson, 2006). Pada periosteum juga terdapat pembuluh limfe dan saraf sensoris. Pembuluh limfe mencapai osteon melalui saluran perforasi. Saraf sensoris mencapai korteks bersama arteri nutrisium untuk menginervasi endosteum, substansia spongiosa, dan epifisis. Karena kaya akan saraf sensoris, maka biasanya jika terjadi kerusakan pada tulang rasanya akan sakit sekali (Price dan Wilson, 2006).

C. Klasifikasi Fraktur Pada Tulang Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Adapun jenis-jenis fraktur tulang antara lain: Fraktur transversal : fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah diresposisi atau direduksi kembali ke tempatnya semula, maka segmen-segmen itu akan stabil dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips. Fraktur oblik : fraktur yang garis patahnya membentuk sudut Fraktur spiral : timbul akibat torsi pada ekstremitas. Fraktur Fraktur segmental : dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki. semacam ini cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar. menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya. Fraktur semacam ini sulit ditangani. Biasanya satu ujung yang tidak memiliki

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 7

pembuluh darah menjadi sulit sembuh dan keadaan ini mungkin memerlukan pengobatan secara bedah. Fraktur kominuta : serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan Fraktur kompresi : terjadi ketika dua tulang menumbuk (akibat jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang. tubrukan) tulang ke tiga yang berada di antaranya, seperti satu vertebra dengan dua vertebra lainnya. Fraktur patologik : terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah Fraktur beban atau fraktur kelelahan : terjadi pada orang-orang menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya. yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka. Contohnya orang yang baru saja diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau orang-orang yang baru memulai latihan lari. Fraktur semacam ini akan sembuh dengan baik jika tulang itu diimobilisasi selama beberapa minggu. Fraktur greenstick : fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Korteks tulangnya sebagian masih utuh, dmeikian juga periosteum. Fraktur-fraktur ini akan segera sembuh dan segera mengalami remodelling ke bentuk dan fungsi normal. Fraktur avulsi : memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligamen. Biasanya tidak ada pengobatan yang spesifik yang diperlukan. Namun, bila diduga akan terjadi ketidakstabilan sendi atau hal-hal lain yang menyebabkan kecacatan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk membuang atau meletakkan kembali fragmen tulang tersebut. Fraktur sendi : jika tidak ditangani secara tepat akan menyebabkan Fraktur tertutup atau simpel : fraktur dengan kulit yang tidak osteoarthritis pasca trauma yang progresif pada sendi yang cedera tersebut. tembus oleh fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan. Fraktur terbuka atau gabungan : fraktur dengan kulit ekstremitas yang terlibat telah ditembus (A. Carter, Michael., 2006).

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 8

D. Penyembuhan Pasca Fraktur Tulang yang mengalami fraktur akan menyebabkan periosteum robek dan terjadi perdarahan yang cukup berat akibat robeknya pembuluh darah. Jarak antar tulang yang patah akan diisi oleh darah yang keluar dan bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi di dalamnya dengan sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik) berdiferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas. Kondroblas akan mensekresi fosfat, yang merangsang deposisi kalsium. Terbentuklah lapisan tebal (kalus) di sekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan kalus dari fragmen satunya dan menyatu. Penyatuan dari kedua fragmen (penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang melekat pada tulang dan meluas menyeberangi lokasi fraktur, atau yang disebut dengan mengalami osifikasi endokondral. Setelah itu terbentuk jaringan tulang muda berubah menjadi tulang dewasa. Syarat yang harus dpenuhi saat penyembuhan fraktur ini adalah tulang yang patah tidak boleh bergerak (harus diimobilisasi) karena jika bergerak maka yang terbentuk justru jaringan fibrous (A. Carter, Michael., 2006).

E. Osteomielitis 1) Definisi Osteomielitis adalah radang tulang yang disebabkan oleh organisme piogenik tetapi berbagai agen infeksi lain juga dapat menyebabkannya (misalnya jamur). Hal ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang dengan melibatkan sumsum tulang, korteks, jaringan retikular, dan periosteum. Radang tulang yang disebabkan oleh organisme piogenik yang bersifat terlokalisasi maupun dapat tersebar melalui tulang melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa, dan periosteum (Mayoclinic staff, 2008; Dorland, 2006).

2) Etiologi

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 9

Osteomielitis terjadi ketika infeksi berkembang dalam tulang atau tulang menyebar ke wilayah lain dari tubuh. Ini disebabkan oleh bakteri atau jamur. Bakteri tersebut antara lain Staphylococcus aureus (penyebab 50%), Salmonela sp, Staphylococcus aureus, Pseudomonas auragenosa, dan Escherichia coli (penyebab 25%). Pada penggguna obat-obat intravena, banyak disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa dan Serratia. Tulang yang terinfeksi dapat memburuk dan terjadi abses. Hal tersebut dapat menghambat pasokan darah ke tulang. Untuk kasus osteomielitis kronis hilangnya pasokan darah lama kelamaan dapat mengakibatkan kematian pada tulang (Mayoclinic staff, 2008).

3) Faktor Risiko Osteomielitis lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan rasio 2:1. Osteomielitis dapat terjadi pada siapa saja dan segala umur. Namun osteomielitis sangat rentan terjadi pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit diabetes, HIV dan anemia sel sabit; orang-orang yang melakukan suntik intravena ke dalam tubuh secara tidak benar; orang yang pernah mengalami cedera atau trauma tulang seperti fraktur terutama fraktur terbuka, dan luka akibat tusukan serta orang-orang yang mengalami pasca bedah (Mayoclinic staff, 2008).

4) Patofisiologi Mula-mula organisme piogenik dapat mencapai tulang melalui satu dari tiga jalur berikut, yaitu: penyebaran hematogen, perluasan langsung dari fokus infeksi di sendi atau jaringan lunak sekitar, atau implantasi traumatik setelah fraktur. Pada osteomielitis terdapat fokus infeksi di daerah metafisis lalu terjadi hiperemia dan edema. Karena tulang bukan jaringan yang bisa berekspansi, tekanan intraosal yang meningkat menyebabkan nyeri lokal yang hebat. Infeksi dapat pecah ke subperiosteal kemudian menembus subkutis dan menyebar menjadi selulitis. Penjalaran subperiostal yang ke arah diafisis merusak pembuluh darah sehingga menyebabkan nekrosis tulang yang disebut

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 10

squester. Periosteum akan membentuk tulang baru yang menyelubungi tulang mati tersebut yang disebut involucrum.

5) Klasifikasi Osteomielitis 1. Osteomielitis Hematogen Akut : merupakan penyakit tulang yang sedang tumbuh, fokus infeksi pada daerah metafisis lalu terjadi hiperemia dan edema. 2. Osteomielitis Kronik : merupakan osteomielitis akut yang tidak ditangani secara adekuat sehingga semakin menjalar. 3. Osteomielitis Pascacedera : biasanya akibat fraktur tulang tebuka, gambaran klinisnya mrirp osteomielitis kronik karena adanya squester. 4. Osteomielitis Perkontinuitatum : infeksi jaringan lunak pada kaki atau tangan yang menjalar ke dalam tulang sehingga terjadi osteomielitis (Sjamsuhidajat, 2005).

6) Cara Penyebaran 1. Aliran darah (Hematogen) Aliran darah bisa membawa suatu infeksi dari bagian tubuh yang lain ke tulang. Infeksi biasanya terjadi di ujung tulang tungkai dan lengan (pada anak-anak) dan di tulang belakang (pada dewasa). 2. Penyebaran langsung a. Orang yang menjalani dialisis ginjal dan penyalahgunaan obat suntik ilegal rentan terhadap infeksi tulang belakang (osteomielitis vertebral). b. Infeksi juga bisa terjadi jika sepotong logam telah ditempelkan pada tulang, seperti yang terjadi pada perbaikan panggul atau patah tulang lainnya. c. Bakteri yang menyebabkan tuberkulosis juga bisa menginfeksi tulang belakang (penyakit Pott).

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 11

d. Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui patah tulang terbuka, selama pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus tulang. e. Infeksi dari sendi buatan, biasanya didapat selama pembedahan dan bisa menyebar ke tulang di dekatnya. 3. Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya. Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau diabetes (kencing manis). Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi bisa menyebar ke tulang tengkorak (Medicastore, 2004).

7) Manifestasi Klinis Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah (hematogen), menyebabkan demam dan di kemudian hari, menyebabkan nyeri pada tulang yang terinfeksi. Daerah di atas tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri. Infeksi tulang belakang biasanya timbul secara bertahap dan

menyebabkan nyeri punggung dan nyeri tumpul jika disentuh. Nyeri akan memburuk bila penderita bergerak dan tidak berkurang dengan istirahat, pemanasan atau minum obat pereda nyeri. Demam yang merupakan tanda suatu infeksi sering tidak terjadi. Infeksi tulang yang disebabkan oleh infeksi jaringan lunak di dekatnya atau yang berasal dari penyebaran langsung menyebabkan nyeri dan pembengkakan di daerah di atas tulang. Selain itu, abses bisa terbentuk di jaringan sekitarnya. Infeksi ini tidak menyebabkan demam dan pemeriksaan darah menunjukkan hasil yang normal. Penderita yang mengalami infeksi pada sendi buatan atau anggota gerak, biasanya memiliki nyeri yang menetap di daerah tersebut. Jika suatu infeksi tulang tidak berhasil diobati, bisa terjadi

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 12

osteomielitis menahun (osteomielitis kronis). Kadang-kadang infeksi ini tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang, dan pengeluaran nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk dari tulang menuju kulit (Medicastore, 2004).

8) Penegakkan Diagnosis 1. Anamnesis seputar gejala yang mengarah pada osteomielitis. 2. Pemeriksaan fisik. 3. Pemeriksaan penunjang: a. Tes Darah (Tes Mei). Tes darah tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis apakah seseorang menderita osteomielitis atau tidak. Tes ini hanya mengungkapkan seputar tingginya tingkat sel darah putih (leukosit) dan tingginya laju endap darah (LED). b. c. d. Aspirasi pada daerah yang mengeluarkan pus (nanah). Pemeriksaan titer antibodi anti-Staphylococcus. X-Ray. Pemeriksaan ini dapat mengungkapkan kerusakan tulang. Namun, kerusakan mungkin tidak dapat terlihat sampai osteomielitis tampak dalam beberapa minggu. Pemeriksaan lebih rinci dapat dilakukan imaging-test yang mungkin diperlukan jika osteomielitis terjadi baru-baru ini. e. Imaging test. Tes ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai ektremitas pada tulang yang mengalami gangguan. Seperti computerized-tomography (CT-Scan) ataupun Magnetic Resonance Imaging (MRI). f. Bone biopsy atau biopsi tulang (Mayoclinic staff, 2008).

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 13

9) Penatalaksanaan 1. Perawatan dirumah sakit. 2. Pengobatan suportif dengan pemberian infus dan antibiotika. 3. Pemeriksaan biakan darah. 4. Antibiotika yang efektif terhadap gram negatif maupun gram positif diberikan langsung tanpa menunggu hasil biakan darah, dan dilakukan secara parenteral selama 3-6 minggu. 5. Imobilisasi anggota gerak yang terkena. 6. Tindakan pembedahan. Indikasi dilakukannya pembedahan ialah : a. Adanya sequester. b. Adanya abses. c. Rasa sakit yang hebat. d. Bila mencurigai adanya perubahan kearah keganasan (karsinoma Epidermoid). Jika infeksi bisa ditemukan pada stadium awal, biasanya tidak diperlukan pembedahan. Tetapi kadang-kadang suatu abses memerlukan pembedahan untuk mengeluarkan nanahnya (Mayoclinic staff, 2008).

10) Pencegahan Jika terjadi luka terbuka terutama pada fraktur terbuka, maka harus segera diberikan penatalaksanaan yang lengkap, tepat dan steril untuk menghindari terjadinya osteomielitis. Penatalaksanaan yang tepat tersebut harus segera diberikan pada orang yang berisiko tinggi menderita osteomielitis jika diduga ada tanda terjadinya infeksi pada bagian tubuh manapun (Babcock, 2006).

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 14

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 15

BAB III PEMBAHASAN


Osteomyelitis merupakan suatu penyakit inflamasi pada kavitas sumsum tulang, periosteum, dan jaringan tulangnya sendiri dapat bersifat akut ataupun kronik. Penyebabnya dapat berupa bakteri piogenik misalnya Stapylococcus aureus, pneumococcus, meningococcus, dan kadang-kadang Salmonella atau bacillus colon. Pada skenario diceritakan bahwa pasien datang dengan gejala nyeri tungkai bawah kiri, pyrexia, kemerahan dan sinus dikulit yang timbul hilang. Semua gejala tersebut merupakan manifestasi dari respon imun tubuh. Ketika bakteri piogenik seperti tersebut di atas masuk ke dalam tubuh, tubuh akan meresponnya dengan mengeluarkan berbagai macam mediator inflamasi, mediator-mediator inflamasi seperti prostaglandin dan histamin, yang akan menyebabkan berbagai gejala tersebut. Selain itu bakteri piogenik akan membentuk kloakha sebagai jalan keluarnya pus. Pada riwayat sebelumnya diketahui bahwa pasien pernah mengalami patah tulang sekitar 2,5 tahun yang lalu. Namun tidak ditangani secara medis dan bahkan hanya dibawa ke dukun tulang. Oleh karena itu, risiko terkena osteomyelitis meningkat. Bakteri piogenik akan dengan mudah masuk ke tubuh melalui tulang yang patah terlebih jika tidak ditangani dengan standar medis. Pada pemeriksaan radiologi didapat penebalan periosteum, bone resorpsion, sklerosis, involucrum, skuester dan angulasi tibia fibula. Dari hasil pemeriksaan radiologi dapat dilihat bahwa diagnosis mengarah pada osteomyelitis kronik karena gambaran-gambaran seperti pada skenario hanya terdapat pada keadaan kronis. Namun, jika dicermati dari gejala-gejala yang timbul diagnosis mengarah ke osteomyelitis akut. Oleh karena itu, penulis lebih mengarahkan diagnosis osteomyelitis kronik eksaserbasi akut. Osteomyelitis kronik eksaserbasi akut dapat terjadi karena adanya bakterimia dan septikemia. Ketika suatu saat respon imun tubuh melemah maka gejala-gejala akut akan timbul kembali. Penatalaksanaan osteomyelitis dapat berupa terapi farmakologis dengan antibiotik dan terapi operatif dengan indikasi tertentu. Untuk osteomyelitis akut dapat diberikan antibiotik sementara menunggu hasil kultur. Sedangakan untuk

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 16

osteomyelitis kronik tidak perlu diberikan antibiotik sementara menunggu hasil kultur keluar. Antibiotik yang diberikan harus berspektrum luas. Kemudian jika hasil kultur sudah keluar, antibiotik harus segera diganti dengan yang sesuai bakteri penyebab seperti hasil kultur. Terapi operatif dapat dilakukan dengan beberapa indikasi antara lain adanya pus/abses yang bertujuan mengalirkan pus tersebut, adanya skuestrum (jaringan nekrotik yang masih tersisa), dan rasa sakit/nyeri yang hebat. Rehabilitasi medisnya berupa terapi fisiologi yang menggunakan imobilisasi tubuh sebab tulang masih dalam keadaan rapuh dan penggunaan splint tungkai panjang yang bertujuan mencegah patah tulang. Selain itu, digunakan terapi fisik 6-8 minggu atau dapat lebih lama.

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 17

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan 1. Pasien pada skenario kemungkinan menderita osteomyelitis kronik eksaserbasi akut. 2. Risiko ostoemyelitis meningkat pada keadaan patah tulang karena bakteri piogenik penyebab dapat dengan mudah masuk ke tulang. 3. Manifestasi osteomyelitis akut dan kronik memberi gambaran yang berbeda terutama dari pemeriksaan radiologis. 4. Gejala-gejala umum osteomyelitis berupa kelelahan, demam tinggi mendadak, iritabilitas, malaise, terbatasnya gerakan, edem lokal dan nyeri pada penekanan. 5. Pemeriksaan penunjang berupa : tes darah (tes Mei), aspirasi pada daerah yang mengeluarkan pus (nanah), pemeriksaan titer antibodi antiStaphylococcus, x-Ray, imaging test, dan bone biopsy atau biopsi tulang. 6. Penatalaksanaan berupa terapi operatif dan antibiotik. 7. Rehabilitasi medik menggunakan imobilisasi anggota gerak yang terkena. Saran Pada keadaan patah tulang sebaiknya harus dirawat sesuai standar medis utuk mengurangi kemungkinan terinfeksi osteomyelitis

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 18

DAFTAR PUSTAKA
A. Carter, Michael. 2006. Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi. Dalam: Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Terjemahan B. U. Pendit, et.al. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. A. Carter, Michael. 2006. Fraktur dan Dislokasi. Dalam: Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Terjemahan B. U. Pendit, et.al. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Azizi, M. Syahrir dan Anang Budianto. 2004. Guidance to Anatomy 1. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Babcock, Hilary M. 2006. Osteomyelitis. http://shands.org/health/Health %20Illustrated%20Encyclopedia/1/00043.htm (diakses tanggal 17 November 2009). Dorland, W.A. Newman.2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC. Mayoclinic staff. 2008. Osteomyelitis. http://www.mayoclinic.com/health/osteomyelitis/DS00759 (diakses pada tanggal 17 November 2009). Medicastore. 2009. Osteomielitis. http://medicastore.com/penyakit/554/Osteomielitis.html (diakses tanggal 17 November 2009). Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC. Setyohadi, Bambang. 2007. Struktur dan Metabolisme Tulang. Dalam: Sudoyo, Aru W.,dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2007. Edisi IV. Jilid II. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Sjamsuhidajat, R dan Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC. Tim Laboratorium Histologi FK UNS. 2009. Buku Petunjuk Praktikum Blok Muskuloskeletal. Surakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

MUSKULOSKELETAL|KELOMPOK 4 | 19