Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PROGRAM PENGENALAN KLINIK (PPK) RUMAH SAKIT GRASIA BLOK KESEHATAN JIWA

Nama

Kelompok Tutor

Disusun oleh : : 1) Yudha Fauzan / 10711003 2) Fajrin Siti Nursadah / 10711036 3) Ulya Diana Hilma / 10711089 4) Metta Ayu Susanti / 10711230 : TUTORIAL 15 : dr. R. Edi Fitriyanto

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2012


STATUS PSIKIATRI

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Bangsa/suku Alamat No. RM : Ibu S : Perempuan : 50 tahun : Islam : SMA : penjual makanan ringan : Jawa : Maguwo kidul, Banguntapan, Bantul :

Tanggal masuk rumah sakit: 30 Oktober 2010

II.

ALLOANAMNESIS Alloanamnesis diperoleh dari:

Nara Sumber Nama Alamat Ambar Sariwati

Gondang Lutung, Donoharjo, Ngaglik

Pendidikan Pekerjaan Umur Hubungan Lama kenal Sifat kenal

SLTA Mengurus Rumah Tangga 34 tahun Adik kandung Sejak lahir Dekat

II.1. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama) Pasien mulai marah-marah dan berbicara kasar. II.2. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang) (30 Oktober 2012) Pasien datang dengan diantar anak dan adik kandungnya karena sejak satu jam yang lalu mulai marah-marah dan bicara kasar. Ketika ditanya pasien menceritakan bahwa ia disiram air panas oleh ibunya saat ia sedang melakukan sholat makanya pasien marah-marah. Tetapi tidak ada bukti pasien disiram air panas seperti kulit melepuh. Pasien juga tidak merasakan kesakitan. Pasien bercerita ia tidak kesakitan karena sudah disembuhkan oleh suaminya yang ahli dalam agama. Pasien juga mengeluhkan sulit tidur dan kurang tidur. Pasien makan rutin kecuali dengan anak perempuannya, makan sulit dan sulit mandi. Sebelumnya pasien pernah mondok di RSJ sebanyak 3 kali (terakhir 7 tahun yang lalu) dan diberikan pengobatan rumatan. Namun dalam setahun ini pasien berhenti minum obat. Kegiatan pasien biasanya membantu orang tua jualan makanan dan karena penyakitnya sekarang pasien tidak dapat membantu orang tuanya jualan lagi. (12 November 2012) Sekarang pasien sudah tidak marah-marah lagi. Keluhan pasien saat ini ia sering merasa diancam oleh teman sebangsalnya di RSJ. Menurut pasien temannya itu ingin membunuh anak semata wayangnya. Pasien juga pernah berhalusinasi melihat anaknya yang dengan kepala tugel dan bercucuran darah. Selain itu pasien juga sering merasakan anaknya merabanya untuk meminta tolong. II.3. Anamnesis Sistem Cerebrospinal : demam (-), nyeri kepala (-), lemas (-), disorientasi (-) Kardiovascular : berdebar-debar (-), nyeri dada (-) Respirasi : batuk (-), pilek (-), sesak nafas (-)

Digesti

: mual (-), muntah (-), nyeri perut (-), nafsu makan menurun (-), BAB dbn.

Urogenital Reproduksi

: dbn. : dbn.

Integumentum : kesemutan (-), tangan kaku (-) Musculoskeletal: sulit digerakkan (-), nyeri tengkuk (-) II.4. Grafik Perjalanan Penyakit

Mental Health Line/Time

2005

2011

2012

Fungsi Peran

II.3. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu II.3.1. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit II.3.1.1. Faktor Organik Tidak ada faktor organik yang mendahului penyakit pasien seperti panas, kejang, trauma fisik, dan lain-lain.

II.3.1.2. Faktor Psikososial (Stressor Psikososial) Pasien adalah seorang pribadi yang senang dan tidak sulit untuk berteman atau berkenalan dengan orang-orang baru. pasien sering dijelek-jelekan, ibu yang acuh, pasien ingin membantu jualan ibu tetapi tidak dihargai Pasien sering dilecehkan oleh ibunya saat bekerja II.3.1.3. Faktor Predisposisi Penyakit herediter disangkal oleh narasumber.

II.3.1.4. Faktor Presipitasi Dari penuturan narasumber alloanamnesis, narasumber merasa pasien mengalami perubahan dimulai ketika ia mencoba bunuh diri karena stress menghadapi orangtuanya yang akan bercerai dan ujian sekolah. II.3.2. Riwayat Penyakit Dahulu II.3.2.1. Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya Tidak ada riwayat penyakit serupa sebelumnya. Tetapi pasien pernah 3 kali mondok di RSJ. Yang terakhir 7 tahun yang lalu. Mondok yang pertama pada saat itu pasien mencoba bunuh diri dengan masuk ke sumur. Hal itu dilakukan pasien karena pasien mengalami stress berat karena ibu dan ayah pasien hendak bercerai dan saat itu pasien juga sedang menghadapi ujian kelulusan. Karena tekanan yang berat itu pasien dengan keinginan sendiri pasien melakukan bunuh diri. Saat ditanya pasien tidak merasakan ada yang menyuruhnya untuk bunuh diri, ia juga tidak merasakan halusinasi apapun.

II.3.2.2. Riwayat Sakit Berat/Opname Pasien tidak pernah menderita sakit berat atau opname.

II.4. Riwayat Keluarga II.4.1. Pola Asuh Keluarga Pasien sewaktu kecil tinggal bersama kedua orang tuanya dan kedua adik kandungnya. Pasien merupakan anak ke 1 dari 3 bersaudara. Pasien adalah anak perempuan dan adik ke-1 nya laki-laki, yang ke-2 perempuan. Pasien berasal dari keluarga sederhana, Keluarga pasien termasuk keluarga yang kurang memperhatikan

kewajiban beribadah tetapi pasien tidak mengikuti kebiasaan orang tuanya itu, pasien selalu rajin untuk shalat atau beribadah. Dalam keluarga pasien, memiliki pola asuh yang lebh cenderung bersifat demokratif. Hal ini didapat berdasarkan dari alloanamnesis bahwasannya pada saat pasien menginginkan sekolah di SMEA, walaupun orang tua sebenarnya agak keberatan mengenai biaya, akan tetapi sebisa mungkin berusaha memenuhi keinginan pasien dan mendukungnya.

Keluarga pasien sangat peduli dan mengkhawatirkan keadaan pasien dan selalu mengupayakan yang terbaik untuk kesehatan OS. Pasien selalu mendapatkan keinginannya dari orang tua saat kecil. Saat pasien berbuat salah tidak pernah dimarahi oleh orang tuanya.

II.4.2. Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa Tidak ada riwayat penyakit hipertensi, diabetes mellitus maupun penyakit kronis lainnya.

II.4.3. Silsilah Keluarga

Keterangan : Pasien (Ibu S.)

II.5. Riwayat Pribadi II.5.1. Riwayat Kelahiran Pasien lahir secara normal. Proses kelahirannya juga lancar, tak ada kelainan, sewaktu kecil imunisasi lengkap.

II.5.2. Latar Belakang Perkembangan Mental Menurut pengakuan adik pasien, perkembangan mental pasien sejak kecil sama dengan teman-teman sebayanya yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. Kepribadian cukup terbuka Emosi cukup stabil Pasien sangat sabar dalam menyikapi sesuatu

II.5.3. Perkembangan Awal Tumbuh kembang seperti anak-anak pada umumnya.

Pasien mengambil orang tuanya sebagai model percontohan Motivasi pasien adalah kedua orang tuanya Waktu masih kanak-kanak pasien termasuk pribadi yang terbuka dan mudah bergaul.

II.5.4. Riwayat Pendidikan SD SMP SMEA : lulus dengan baik : lulus dengan baik : lulus dengan baik

II.5.5. Riwayat Pekerjaan Pasien pernah bekerja selama 1 tahun sebagai buruh di dekat rumahnya sebelum menikah. Sebelum masuk RS pasien bekerja membantu orang tua menjual makanan dan mendapat upah sebesar 20 ribu rupiah setiap harinya

II.5.6. Riwayat Perkembangan Seksual Menurut alloanamnis adik pasien, pasien mendapatkan menstruasi normal seperti anak-anak pada umumnya. Pasien tidak pernah mempunyai pacar, ketika pasien tertarik dengan lawan jenis hanya dipendam saja sampai bertemu dengan suaminya sekarang yang langsung mengajaknya menikah. Pasien hamil dan melahirkan seorang anak dengan normal segera setelah ia menikah. II.5.7. Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual Agama Islam Pasien rajin ibadah solat lima waktu dan rajin berdoa Pasien sering mengeluh tidak mau seperti orang tuanya yang tidak mau beribadah Kecenderungan ke arah fanatisme agama disangkal

II.5.8. Riwayat Perkawinan Pasien sudah menikah dan memiliki 1 orang anak

II.5.9. Riwayat Kehidupan Emosional (Riwayat Kepribadian Premorbid) Id, ego dan superego pasien masa kanak-kanak dalam batas kewajaran. Sekarang ini sering terjadi disintegrasi ego untuk menilai realistik sehingga pasien sering mengalami halusisnasi. II.5.10. Hubungan Sosial Hubungan sosial pasien dengan lingkungan sekitar dan lingkungan kerja sangat baik. Pasien mudah bersosialisasi. Tidak ada masalah yang berarti II.5.11. Kebiasaan Pasien makan 3 kali sehari. Lauk sayur, tahu tempe, kadang dengan ikan dan daging. Pasien tidak merokok dan jarang berolahraga. Pasien tidak suka melamun dan menyendiri. Pasien termasuk pribadi yang terbuka dan mudah bergaul.

II.5.12. Status Sosial Ekonomi Status ekonomi pasien adalah ekonomi menengah ke bawah. Penghasilan utama dari suami pasien dan penghasilan tambahan didapatkan pasien dari hasil membantu orang tuanya berjualan makanan.

II.5.13. Riwayat Khusus Pasien tidak pernah mempunyai pengalaman militer Pasien tidak pernah mempunyai Urusan dengan polisi

II.6. Tingkat Kepercayaan Alloanamnesis Dapat dipercaya Kurang dapat dipercaya Sangat diragukan kebenarannya

II.7. Kesimpulan Alloanamnesis

Sejak duduk di kelas 3 SMEA pasien menderita gangguan jiwa szikoafektif dan pernah mencoba bunuh diri namun gagal. Tujuh tahun yang lalu pasien mondok kembali di rumah sakit grasia dengan gejala yang sama. Sekarang mondok kembali karena pasien marah-marah dan berbicara kasar. Keluarga pasien berasa dari keluarga social ekonomi menengah kebawah, akan tetapi cukup perhatian akan kesehatan dan keadaan OS. III. PEMERIKSAAN FISIK III.1. STATUS PRAESENS III.1.1. Status Internus Keadaan Umum Bentuk Badan Berat Badan Tinggi Badan Tanda Vital : compos mentis : tinggi langsing, tidak ditemukan kelainan : 50 kg : 161 cm : Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu Kepala : 100/70 mmHg : 96 kali/menit : 22 kali/menit : 37C

: tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien menolak untuk dilakukan pemeriksaan.

Leher

: tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien menolak untuk dilakukan pemeriksaan.

Thorax

: : tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien menolak untuk dilakukan

Sistem Kardiovaskuler

pemeriksaan. Sistem Respirasi : tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien menolak untuk dilakukan

pemeriksaan. Abdomen :

Sistem Gastrointestinal : tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien menolak untuk dilakukan

pemeriksaan. Sistem Urogenital : tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien menolak untuk dilakukan

pemeriksaan. Ekstremitas :

Sistem Muskuloskeletal : tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien III.1.2. Status Neurologis menolak untuk dilakukan

pemeriksaan. : tidak dilakukan pemeriksaan fisik karena pasien menolak untuk dilakukan pemeriksaan. III.1.3 Hasil Pemeriksaan Laboratorium/Penunjang Tidak ada data Pemeriksaan Darah, EKG, EEG, CT Scan, Foto Rontgen, dll yang pernah dilakukan pasien III.2. STATUS PSIKIATRI Tanggal Pemeriksaan: 13 November 2012 III.2.1. Kesan Umum : Seorang perempuan, sesuai umur, tampak gembira, penampilan dan rawat diri baik, dan tampak

bersemangat dalam menceritakan keluhannya sambil tertawa berlebihan, tampak sehat, tidak tampak lemah, tidak tampak pucat. E. 4 V.5 M.6 III.2.2. Kesadaran Kuantitatif Compos mentis Apatis Somnolen Kualitatif Berubah Tak Berubah III.2.3. Orientasi Orang/Waktu/Tempat/Situasi: Baik Buruk III.2.4. Penampilan/Rawat Diri: Baik Cukup Kurang III.2.5. Sikap dan Tingkah Laku: :

Hiperaktif Agitasi psikomotor Gaduh gelisah Hiperaktif

Merusak Lain-lain, sebutkan: ___________ III.2.6. Roman Muka (Ekspresi Muka): Tak ada kelainan Indifferent Banyak mimik Sedikit Mimik Curiga Sedih Marah Gembira III.2.7. Afek Tak ada kelainan Tumpul Datar Indifferent Euphoria Elasi Ectase Panik Tension Ambivalensi Takut Susah Depersonalisasi Derealisasi Inappropriate Labil Cemas Curiga Lain-lain, sebutkan: __________ III.2.8. Proses Pikir III.2.8.1. Bentuk Pikir : Realistik Autistik Dereistik Pikiran tak logis Gangguan fikiran formal :

10

III.2.8.2. Isi Pikir Tak ada kelainan Phobi Obsesi Idea of reference Waham Dikejar Diancam Curiga Berdosa Cemburu Kebesaran Seksual Rendah Diri Hipokondri Bizarre

Sisip pikir Siar pikir Dikendalikan Penyedotan pikiran Magik mistik Lainnya, sebutkan: _____________

III.2.8.3. Progresi Pikir Kualitatif

Tak ada kelainan Perseverasi Verbigerasi Ekholali Ganser sindrom Neologisme Inkoherensi Sirkumstansial Flight of ideas Flight into mysticism Flight into intelectualisme Gagap Irelevansi

11

Tangensial Lainnya, sebutkan : _____________ Kualitatif Tak ada kelainan Logorrhoe Remming Blocking Mutisme III.2.9. Mood dan Interest :

Dalam batas normal Depresi Kehilangan minat Hidup tidak berguna Rendah diri Tidak mampu Tidak punya harapan masa depan Merasa sedih, putus asa, murung Lainnya, sebutkan: ______________

Kecemasan Merasa cemas dan khawatir Sering berdebar-debar Mudah kaget Perasaan mudah berubah Cemas menjadi gila Takut mati Sulit tidur Tidak bisa tidur nyenyak Mimpi buruk Lingkungan berubah/asing Lainnya, sebutkan: _________ Paranoid Merasa terancam Curiga pada orang di sekitarnya Iritabilitas/Sensitifitas Mudah tersinggung Merasa diperlakukan tidak adil Euforia

12

Sangat bahagia Dalam kenikmatan luar biasa III.2.10.Hubungan Jiwa Sukar Mudah III.2.11. Perhatian : Mudah ditarik mudah dicantum Mudah ditarik sukar dicantum Sukar ditarik sukar dicantum III.2.12. Persepsi Halusinasi Dengar Pandang Penghidu Peraba Pengecap Seksual Ilusi III.2.13. Memori Amnesia Anterograd Retrograd Anteroretrograd Hipomnesia Hipermnesia Paramnesia Konfabulasi De ja vue Jamais vue De ja vacue III.2.14. Gangguan Inteligensi Sesuai Umur/Pendidikan Tidak ada Ada III.2.15. Insight Baik Buruk III.2.16.Gejala dan Tanda Lain yang Didapatkan: tidak ada III.3. Hasil Pemeriksaan Psikologi : : : :

13

III.3.1. Kepribadian : ekstrovert III.3.2. IQ: Tidak ada data pemeriksaan IQ serta sulit untuk dilakukan penilaian IQ secara cepat pada saat PPK III.3.3. Lain-lain: Tidak ada data dan tidak ada pemeriksaan psikologi lain yang dilakukan pasien III.4. Hasil Pemeriksaan Sosiologi Tidak ada data dan tidak ada pemeriksaan sosiologi yang dilakukan pasien. IV. RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA IV.1. Tanda-Tanda (Sign) Tidak ada sign secara fisik (dari pemeriksaan fisik dan status neurologis) IV.2. Gejala (Simtom) Kesadaran Orientasi : kompos mentis, tak berubah : baik

Penampilan dan rawat diri : baik Sikap dan tingkah laku : hiperaktif Roman muka Afek Bentuk Pikir Waham Progresi pikir Mood dan Interest Paranoid Euforia : banyak mimic : euphoria, labil : Autistik : Diancam, curiga, cemburu, magik mistik : Flight of ideas, Logorrhoe : : merasa terancam, curiga pada orang di sekitarnya : sangat bahagia : Sukar : Mudah ditarik mudah dicantum : Halusinasi dengar, pandang, peraba

Hubungan Jiwa Perhatian Persepsi

IV.3. Kumpulan Gejala (Sindrom) Sindrom manik : hiperaktif, euforia, banyak mimik, flight of ideas, logorrhoe.

14

V. DIAGNOSIS BANDING susp. F25.0 skizoafektif tipe manik Kegelisahan memuncak Terdapat suara halusinasi yang mengancam pasien Halusinasi visual Terdapat waham curiga, cemburu dan diancam Gangguan afektif terdapat dorongan kehendak F20.0 skizofrenia paranoid Terdapat suara halusinasi yang mengancam pasien Halusinasi visual Terdapat waham curiga, cemburu dan diancam F30.2 manik dengan gejala psikotik Mengacaukan aktivitas pekerjaan dan sosial Terdapat waham curiga Halusinasi VI. PEMBAHASAN Bentuk Pikir : Autistik Isi pikir : Waham: Diancam Curiga Cemburu : pasien merasa diancam oleh temannya bahwa temannya akan membunuh anaknya : pasien merasa curiga kepada temannya : pasien merasa cemburu kepada ibunya dan merasa ibunya da hubungan spesial dengan suaminya Magik mistik : pasien merasa suaminya memiliki kekuatan mistik yang mampu menyembuhkannya Progresi pikir : Kualitatif Flight of ideas Logorrhoe Mood dan Interest Paranoid Merasa terancam : Curiga pada orang di sekitarnya Euforia : : pembicaraan pasien meloncat-loncat : pasien banyak bicara dan sulit dihentikan : pasien kadang tertawa dan tiba-tiba diam

15

Sangat bahagia : pasien selalu merasa sangat bahagia Perhatian : Mudah ditarik mudah dicantum Persepsi :

Halusinasi Dengar Pandang Peraba : pasien sering mendengar anaknya meminta tolong : pasien sering melihat anaknya ingin dibunuh oleh temannya : pasien sering merasa diraba anaknya karena anaknya ingin minta tolong Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan adanya gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif. Penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui, tetapi empat model konseptual telah dikembangkan. Gangguan dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe gangguan mood. Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol. Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif.

Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol. Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif. Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ-III): Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya

16

dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a) - thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau - thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan - thought broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya; b) - delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau - delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus) - delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat; c) Halusinasi Auditorik: - Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau - Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau - Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain) . Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas: e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus; f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme; g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi

17

tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor; h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika; Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial. VII. RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG VII.1. Pemeriksaan Psikologi Pasien diminta untuk menggambar, hasil gambar akan dinilai untuk melihat suasana hati pasien saat ini. Pasien juga diminta membaca titik-titik tinta dan diminta untuk mengungkapkan apa yang ia lihat. VII.2. Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium, EKG, EEG, CT Scan) Tidak perlu dilakukan pemeriksaan penunjang karena pasien tidak mengeluhkan gejala fisik dan pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. VIII. DIAGNOSIS AKSIS I AKSIS II AKSIS III AKSIS IV AKSIS V : F25.0 skizoafektif tipe manik : Z 03.2 tidak ada diagnosis : tidak ada (none) : Masalah dengan primary support group (keluarga) : GAF = 80

IX. RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN IX.1. Terapi Organobiologik IX.1.1. Psikofarmaka Haloperidole Haloperidole merupakan antagonis reseptor dopamin. Dosis yang digunakan 3 x 1-5 mg/hari. Dosis

18

kecil digunakan untuk mengurangi efek samping yang mungkin muncul. Efek samping dari penggunaan haloperidole ini diantaranya menimbulkan kantuk dan lesu. Trihexyphenidyl (THP) 2 x 2 mg ( 1 0 1 ) Merupakan antidotum untuk efek samping dari

penggunaan haloperidol berupa gejala ekstrapiramidal seperti tremor, sindrom parkinson, dll. Digunakan sesuai kebutuhan bersamaan dengan pemberian

haloperidol. Dosis untuk pagi dan malam hari. Klozapine Klozapine menunjukan digunakan jika 2 pasien macam tidak obat

perbaikan

dengan

antagonis reseptor dopamine. Dosis awal digunakan dengan dosis rendah. Lalu dinaikkan dosisnya tiap 2-3 hari sampai dosis efektif dan dipertahankan selama 812 minggu. Setelah itu dosis diturunkan setiap 2 minggu sampai dosis maintenance dan dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun sebelum dilakukan tappering off. Penghentian mendadak klozapine dapat menyebabkan cholinergic rebound, gangguan lambung, mual, diare, pusing dan gemetar.

IX.1.2. Terapi Fisik Tidak dilakukan terapi fisik karena pada pemeriksaan fisik dan penunjang tidak didapatkan diagnosis adanya penyakit fisik. IX.2. Psikoedukatif/Psikoterapi Tujuannya psikoterapi adalah untuk menguatkan daya tahan mental yang ada, mempertahankan kontrol diri, mengembalikan keseimbangan adaptif supaya dapat menyesuaikan diri. Cara-cara psikoterapi suportif antara lain melalui bimbingan dan penyuluhan. Berdasarkan subjek psikoterapi bisa dilakukan dengan : Kelompok

19

Beberapa pasien dikumpulkan dalam satu ruangan kemudian ada seorang terapist sebagai fasilitator. Pasien itu kemudian dibiarkan saling berkomunikasi dan saling bertukar pikiran. Setelah saling berkomunikasi terapist akan

memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami masing-masing pasien. Tujuan dari psikoterapi

kelompok ini adalah agar pasien mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dan tidak terus menarik diri dari masyarakat. Keluarga Untuk pasien yang sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Keluarga diarahkan untuk bisa menghindari ungkapan emosi yang bisa menjadikan kambuhnya penyakit pasien. Keluarga juga diberi pengetahuan tentang keadaan pasien dan cara untuk menghadapi pasien jika pasien kambuh kembali. Berdasarkan caranya psikoterapi bisa dilakukan dengan : - Ventilasi : pasien dibimbing untuk menceritakan segala permasalahan sehingga dapat diberikan problem solving yang

baik. Pasien juga dibimbing untuk terbuka terhadap orang lain yang dapat dipercaya oleh pasien (untuk memperbaiki Dengan

kepribadian pasien

yang cenderung tertutup).

demikian diharapkan pikiran dan wacana pasien dapat terbuka lebar dalam menanggapi masalahnya. - Persuasi : Membujuk pasien agar kooperatif dalam terapi seperti minum obat dan rutin kontrol. - Insight Psikoterapi : Memberi informasi yang masuk akal

kepada pasien tentang timbulnya gejala-gejala sehingga dapat membebaskan pasien dari impuls-impuls yang sangat

mengganggu. Memberikan pengarahan kepada pasien atas masalahnya baik itu dari faktor ekonomi maupun masalah yang timbul dalam rumah tangga. Memberikan gambaran apakah yang dipikirkan pasien itu adalah benar, apakah keputusan yang terbaik dalam rumah tangga pasien dengan pertimbangan pertumbuhan dan perkembangan status psikologi dan status mental anak. - Sugesti : Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh (penyakit terkontrol), apabila pasien kontrol secara rutin dan rajin meminum obat. Memberikan masukan kepada

20

pasien dalam membina kembali hubungan yang baik dengan suami dan keluarganya, dalam merawat dan mengasuh anaknya. IX.3. Terapi Sosiokultural IX.3.1. Terapi Rehabilitatif Menciptakan kontak sosial yang sehat dan baik untuk pasien. Menerapkan sikap hidup sehat dan melihat hari kedepan dengan keberanian dan semangat. Mengusahakan pasien untuk jadi pribadi yang ekstrovert. Terapi ini dilakukan untuk mempersiapkan pasien untuk dapat kembali pada masyarakat dengan fungsi pekerjaan dan sosial. Terapi kerja dilakakukan dengan memberikan bekal ketrampilan kepada pasien sehingga pada saat

keluar nanti mempunyai bekal ketrampilan yang disesuaikan dengan kemampuan pasien. Terapi kerja ditujukan untuk

mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Juga ditujukan pada kemampuan dan kekurangan pasien. Mengajak pasien melakukan aktivitas kegiatan positif. Pemberian okupasi terapi atas dasar

kesadaran bukan paksaan. Memberikan keterampilan pada pasien untuk bekal dibawa pulang. Misal ketrampilan bercocok tanam, permesinan, dan perkebunan. Dengan memiliki bekal keterampilan berdasarkan kemampuan pasien, maka

diharapkan pasien setelah pulang dari rumah sakit dapat mengembangkan keterampilannya itu sehingga menjadi

sesuatu yang dapat menghasilkan, sehingga dapat menambah penghasilan. Dengan demikian diharapkan dapat meringankan beban ekonomi yang selama ini dirasakan menjadi faktor penyebab utama. IX.3.2. Terapi Spiritual Terapi spiritual dapat dilakukan dengan mengikutsertakan pasien pada kegiatan-kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah atau mendengarkan ceramah. Terapi ini

dimaksudkan agar pasien tetap mengingat dan menjalankan perintah dari ajaran/kepercayaannya sehingga dapat

21

membuatnya lebih merasa tenang, aman dan nyaman dalam hati dan batin. IX.3.3. Edukasi dan Modifikasi Keluarga Untuk pasien yang sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Keluarga diarahkan untuk bisa menghindari ungkapan emosi yang bisa menjadikan kambuhnya penyakit pasien. Keluarga juga diberi pengetahuan tentang keadaan pasien dan cara untuk menghadapi pasien jika pasien kambuh kembali.

X. PROGNOSIS X.1. Faktor Premorbid Riwayat Penyakit Keluarga : Pola Asuh Keluarga: Kepribadian Premorbid: Stressor Psikososial: Sosial Ekonomi: Ada Demokratis Introvert Ada Tinggi Bawah Status Perkawinan: Menikah Tidak menikah Tidak ada Over Protektif Ekstrovert Tidak ada Menengah Liberal

X.2. Faktor Morbid Usia Onset: Jenis Penyakit: Perjalanan Penyakit: Kelainan Organik: Regresi: Respon Terapi: Anak Psikotik Akut Ada Ada Bagus Remaja Non Psikotik Kronik Tidak ada Tidak ada Jelek Dewasa Tua

X.3. Kesimpulan Prognosis Baik Dubia ad bonam

Keimpulan prognosis ini didapatkan dari hasil studi pustaka berikut ini M O O R R R D Prognosis A K P E B F T I

Indikator

Pada Pasien

22

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.


FAKTOR MORBID

Faktor kepribadian Faktor genetik Pola asuh Faktor organik Dukungan keluarga Sosioekonomi Faktor pencetus status perkawinan Kegiatan spiritual Onset usia Perjalanan penyakit Jenis penyakit Respon terhadap terapi Riwayat disiplin minum obat

Percaya Diri Tidak ada Perhatian cukup tidak ada Ada Menengah kebawah Ada Tidak Menikah baik Remaja akhir-Dewasa Kronik psikotik Baik Baik

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik jelek Baik Jelek Jelek Jelek Baik baik

Baik

Baik

15. 16. 17.

Riwayat disiplin kontrol Riwayat peningkatan gejala Beraktivitas Meningkat Baik Tidak Baik

Kesimpulan prognosis: Dubia ad bonam

XI.RENCANA FOLLOW UP 1. Perawatan di Rumah Sakit Memberikan pengertian kepada keluarga dan penjelasan tentang penyakit yang diderita. Rencana Follow up yang dapat dilakukan yaitu evaluasi terhadap status psikiatrik selama pasien dirawat di RS Grhasia dengan terus memantau perkembangan pasien, pemberian obat, efek terapeutik obat, serta efek samping obat dan bagaimana efek terapi psikiatri lainnya.

23

Mengharapkan keluarga untuk mengunjungi pasien dibangsal. Sehingga dengan demikian dapat membantu proses penyembuhan.

2. Perawatan di rumah Memberikan pengertian kepada keluarga agar secara rutin kontrol dan mengingatkan pasien untuk rutin minum obat. Memberikan edukasi kepada keluarga pasien tentang efek samping dari pemberian obat. Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien apabila gejala negatif menonjol dengan demikian dapat dievaluasi terapi / pengobatan pasien.

XII. PEMBAHASAN Analisis Identitas Dari identitas pada pasien, tidak ada faktor predisposisi yang ditemukan. Nurmiati dalam Buku Ajar Psikiatri menyebutkan bahwa skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda, awitan pada laki-laki biasanya antara 1525 tahun dan pada perempuan antara 25-35 tahun. Analisis Riwayat Penyakit Sekarang Maramis dalam buku Ilmu Kedokteran Jiwa menjelaskan beberapa hipotesis yang saat ini diduga menjadi penyebab skizofrenia yaitu: 1. Hipotesis Dopamin: hipotesis ini menyebutkan bahwa penyebab skizofrenia adalah adanya aktivitas yang berlebihan pada dopamine yang berada di mesolimbik. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan bahwa amfetamin yang bekerja untuk meningkatkan neurotransmitter dopamin dapat

menyebabkan gejala psikosis yang mirip dengan gejala skizofrenia. 2. Hipotesis Perkembangan Saraf: Studi pencitraan otak pada penderita skizofrenia menunjukkan abnormalitas struktur dan morfologi otak seperti berat otak yang relative lebih kecil dari orang normal dan gangguan metabolism pada otak bagian frontal dan temporal.

Selain itu, Nurmalita dalam Buku Ajar Psikiatri menambahkan alasan hipotesis dopamine dibuat adalah: 1. Cara kerja obat-obat pada skizofrenia (missal fenotiazin) bekerja memblok reseptor dopamine pasca sinaps (D2) 2. Adanya peningkatan jumlah reseptor D2 di nucleus kaudatus, nucleus akumben dan putamen pada skizofrenia. Analisis Anamnesis Sistem Pada anamnesis system terhadap pasien tidak didapati keluhan apapun. Analisis Hal-Hal yang Mendahului Penyakit

24

Pada pasien tidak ditemukan faktor organik, faktor predisposisi dan faktor presipitasi yang mendahului terjadinya skizofrenia saat ini. Analisis Faktor Psikososial Pasien merasa sering dilecehkan dan tidak dihargai dalam bekerja oleh ibu pasien. Nurmiati dalam Buku Ajar Psikiatri menjelaskan bahwa pola komunikasi keluarga memegang peranan penting dalam terjadinya skizofrenia. Komunikasi yang baik dalam keluarga dan pola asuh orang tua akan sangat membantu dalam membentuk sikap kepribadian seseorang. Analisis Riwayat Penyakit Dahulu Nurmiati dalam Buku Ajar Psikiatri menjelaskan bahwa skizofrenia merupakan penyakit kronis sehingga sering berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan banyak yang memiliki prognosis buruk terutama bagi pasien skizofrenia yang

menyalahgunakan zat psikoaktif atau pasien yang hidup dalam keluarga yang kurang harmonis. Pada kasus ini, pasien mengaku merasa pekerjaannya tidak dihargai oleh ibunya, ia merasa dilecehkan dalam bekerja dan sering dimarahi. Hal inilah yang memungkinkan pasien mengalami relaps skizofrenia kembali. Analisis Riwayat Keluarga Keluarga pasien tidak ada yang menderita skizofrenia maupun gangguan jiwa lainnya. Pola asuh keluarga saat pasien kecilpun cukup baik. Namun, saat ini pasien sering merasa ibunya tidak menghargai pekerjaan yang pasien lakukan. Ibunya juga sering memarahinya saat bekerja. Analisis pemeriksaan status psikiatri Pemeriksaan status psikiatri pasien berupa kesan umum, orientasi terhadap tempat/orang/waktu serta penampilan diri dapat disimpulkan dalam keadaan baik. Kesan umum pasien tampak sadar penuh, tampak sehat, tidak lemah dan tidak pucat. Pasien masih dapat mengetahui ia berada dimana, saat ini tanggal berapa dan masih mengenal orang-orang di sekitarnya. Penampilannya pun dapat dikatakan baik dan cukup bersih. Untuk sikap dan tingkah laku pasien adalah hiperaktif dan banyak mimk saat bicara. Saat pasien bercerita tentang dirinya, ia banyak menggunakan kedua tangan untuk membantu menunjukkan apa yang pasien ceritakan. Ekspresi wajahnya pun mudah berubah-ubah dan bermacam-macam. Afek pada pasien adalah labil dan euphoria. Afek labil adalah perubahan afek yang jelas dalam jangka pendek (nurmiati: 20_________). Saat bercerita, pasien sering menunjukkan tingkah laku yang berbeda-beda, dari senang kemudian takut, tiba-tiba pasien senang kembali. Namun secara umum, pasien tampak senang dan tidak mengalami depresi. Analisis terapi

25

Rencana

terapi

yang

saya

implementasikan

juga

memperhitungkan

kebutuhan intervensi yang menentukan dalam jangka pendek serta melanjutkan treatment selama tahun-tahun selanjutnya. Keberhasilan terapi ini sangat bergantung pada ketersediaan pasien untuk mengkonsumsi obat yang telah diberikan. Tidak hanya itu saja, dukungan keluarga juga memegang peran yang sangat penting untuk keberhasilan pengobatan ini. Ketika pasien ditempatkan di rumah sakit jiwa diharapkan pengobatan dapat berjalan dengan optimal. Selain itu diharapkan juga hubungan dokter dengan pasien dapat berjalan dengan baik sehingga pasien percaya pada dokter dan pasien mau meminum obat yang telah diberikan dokter meskipun ia telah keluar dari rumah sakit. Pasien juga hendaknya mempelajari bagaimana cara merawat dirinya sendiri dan bagaimana memulai suatu kehidupan yang lebih normal.

DAFTAR PUSTAKA

Freedman R. Szikophrenia. N Engl J Med 2003;349:1738-49 Halgin, Richard P. 2011. Psikologi Abnormal Perspektif Klinis pada Gangguan Psikologis. Jakarta : Penerbit Salemba Humanika. Henderson DC, Goff DC. Risperidone as an adjunct to clozapine therapy in chronic schizophrenics. J Clin Psychiatry 2006;57:395-7.

26

Josiassen RC, Joseph A, Kohegyi E, et al. Clozapine augmented with risperidone in the treatment of skizophrenia: a randomized, double blind, placebo-controlled trial. Am J Psychiatry 2005;162:130-6. Kaplan, Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri, Jilid II, edisi Ketujuh. Jakarta: Binarupan Aksara Maslim, Rusdi. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. Soewandi. 2002. Simtomatologi Dalam Psikiatri. Yogyakarta: FKUGM

ANALISIS JURNAL

Judul Tulisan disorders a population based study Penulis

Predictors of the short-term responder rate of Electroconvulsive therapy in depressive :

Axel Nordenskjold, Lars von Knorring, and Ingemar Engstrom Nama jurnal, volume, nomor dan tahun terbit BoimedCentral 12:115, 2012 :

27

Topik Judul dan abstrak

No Keterangan

Ditemukan di halaman berapa, jelaskan

1 1. Indicate the studys material Ditemukan di halaman 1 (ex plant) and subject (human or animal) 2. Provide in the abstract an informative and balanced

1. This is a population-based study of all


patients (N = 990) treated with ECT for depressive disorders, between 20082010 in eight hospitals in Sweden Pasien diambil dari 8 rumah sakit di Swedia

summary of what was done and what was found 1. Menjelaskan

subyek berjumlah 990 yang diterapi dengan ECT antara tahun 2008-2009

penelitian 2. Memberikan ringkasan yang

informatif dan seimbang atas 2. This is a population-based study of all apa yang dilakukan dan apa patients (N = 990) treated with ECT for yang ditemukan (hasil) dalam depressive disorders, between 20082010 in abstrak eight hospitals in Sweden. Older patients, more severely ill patients, psychotically ill patients and patients without personality disorders had the highest responder rates. Inpatients..

semua pasien (990) di obati dengan TEK untuk gangguan depresi. Pasien depresi psikotik merespon (88,9% vs 81,5%) untuk yang mengalami depresi berat dan 72,8% untuk depresi ringan. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat responden antara pasien yang menderita bipolar, pertama, sindrom depresi berulang, atau episode depresif dari gangguan

schizoaffective . Pasien dengan gangguan kepribadian memiliki tingkat yang lebih rendah

responden (66,2% vs 81,4%). Juga, pasien rawat jalan telah tingkat rendah responden (66,3%) dibandingkan dengan pasien rawat inap (83,4%)

28

Introduksi Latarbel akang 2 Explain the scientific Pada halaman 1. therapy, ECT, is an background and rationale for Electroconvulsive the investigation

being effective treatment for severe forms of depression, such as psychotic or catatonic ECT has also been

reported

Menjelaskan latar belakang depression. yang

ilmiah dan rasional recommended in less severe forms of penelitian perlu depression after pharmacotherapeutic failure [1]. The efficacy of ECT in severe depression is demonstrated to be high in clinical trials with remission rates of 6070% or more repeatedly reported..

mengapa dilakukan

TEK merupakan terapi yang efektif untuk beberapa kasus depresi. Dan pada kasus depresi berat efek nya bisa mencapai 6070%. Tetapi ada perbedaan antara praktek di klinis dan penelitian. Dimana pada praktek klinis efikasi hanya 30-47%. Tujuan 3 State specific any objectives, Halaman 2 prespecified The aim of the present study is to investigate the responder rate of Electroconvulsive

including

hypotheses

Menentukan tujuan spesifik, therapy, ECT, in termasuk diajukan. hipotesis yang clinical routine work and to define clinical characteristics predictive of response to ECT. The main hypothesis is that the responder rate of ECT might be lower in clinical routine than in controlled trials.

Tujuan penelitian ini untuk meneliti tingkat respon dari terapi elektrokonvulsif pada

praktek klinis. Bahan dan Cara Bahan 4 Clearly defined how the Pada halaman 2. material were collected and In this study, 990 patients treated with ECT prepared for major depression or schizoaffective

Menjelaskan bagaimana data disorder, depressed type between January 1,

29

dikumpulkan dan disiapkan.

2008 and December 31, 2010 in eight hospitals in the middle of Sweden were identified. Information about the clinical

outcome was available for 936 patients. Our data therefore illustrate a population-based cohort treated in ordinary clinical routine.

Partisipan diambil dari 8 Rumah Sakit di Swedia. Didapatkan 990 pasien diterapi TEK karena depresi berat atau gangguan

skizoafektif antara 1 Januari 2008 dan 31 Desember 2010. Participa nt Subyek penelitia n 5 Eligibility criteria for Pada halaman 2. Inclusion criteria in the study were: 1) Diagnosis of Depressive Episode (F32), Major Depressive Disorder (F33) Bipolar Disorder, depressive episode (F31.3-F31.5) or Schizoaffective disorder, depressive type (F25.1). 2) Treatment with ECT in one of the eight hospitals in the middle of Sweden between January 1, 2008 and December 31, 2010. Each patient was included only with the first treatment series in the period. Exclusion criteria from statistical analysis was: 1) No Clinical Global Impression Improvement (CGI-I) data available after ECT.

participant / subject Kriteria subyek penelitian

Kriteria partisipan:

1. Diagnosis Depressive Episode (F32),


Major Depressive Disorder (F33) Bipolar Disorder, depressive episode (F31.3-F31.5) or Schizoaffective

disorder, depressive type (F25.1).

2. Diterapi TEK antara 1 Januari 2008 30

dan 31 Desember 2010 di salah satu dari 8 RS Swedia Dan disingkirkan bila: Tidak ada data CGI-I setelah TEK Intervens 6 i Precise details of the Most treatments were unilateral, but in 13%

intervention intended for each at least one of the treatments in the series group and how and when was bitemporal and in 4.8% at least one they were actually treatment was bifrontal. The mean dosage at the last treatment if unilateral was 0.49 ms

administered

Menjelaskan intervensi yang (SD 0.14), 73 Hz (SD 23), 7.4 s (SD 0.83), dilakukan pada tiap kelompok 840 (SD 53) mA and 451 (SD 186) mC. The perlakuan Termasuk dengan bagaimana detail. mean number of ECT sessions was 8.0 (SD dan 3.2)

kapan intervensi diberikan. ECT dilakukan dalam waktu 0,49 ms dengan frekuensi 73 Hz. Outcome 7 Clearly defined primary and Pada halaman 3. secondary measures applicable, and, any outcome ECT was administered using a bidirectional when constant current, brief pulse device. The methods Mecta Spectrum 5000Q device (Mecta Corp,

used to enhance the quality Lake Oswego, Ore) was used at six hospitals of measurements (e.g., and a Thymatron system IV and

multiple

observations, Pengukuran menggunakan CGI-I. Clinical

training of assessors). Menjelaskan

pengukuran Global Impression-Improvement Scale

outcome, baik utama maupun sekunder, Besar sampel 8 Subject number used in the Pada halaman 2 study Jumlah subyek penelitian. In this study, 990 patients treated with ECT for major depression or schizoaffective

disorder, depressed type between January 1, 2008 and December 31, 2010 in eight hospitals in the middle of Sweden were identified. Information about the clinical outcome was available for 936 patients pada studi ini, 990 pasien diterapi

31

dengan

ECT

untuk

gangguan

skizoaktif dan depresi mayor. Metode statistik 9 Statistical methods used to Halaman 3 compare groups for primary Frequency distributions were tested by outcome(s) outcome Metode digunakan membandingkan statistik and other means of chisquare tests. Differences

between means were tested by the Student's yang t-test. To assess the relative importance of untuk certain factors, a logistic regression, forward hasil conditional, with improved as dependent

kelompok satu dengan yang variable and factors with a trend toward kelompok statistical significance in the univariate

analysis entered (p < 0.10). The tests performed were two sided and alpha was set to 0.05. SPSS version 15.0 (SPSS Inc, Chicago, Ill) was used for the statistical analyses

Metode dilakukan dengan program SPSS versi 15.0 (SPSS Inc, Chicago, Ill). Hasil Alur penelitia n 10 Defining the periods of Halaman 2 Six hospitals started reporting data in 2008, waktu one hospital started in 2009 and one hospital in 2010.

study and follow-up Menjelaskan

penelitian dan follow-up

6 rumah sakit memulai pada tahun 28, satu rumah sakit pada tahun 2009 dan satu yang lainnya pada tahun 2010 Outcome dan estimasi 11 For each primary outcome, and Halaman 3. a Out of 936 patients, 750 were improved overall responder rate of 80.1%.

secondary

summary of results for each according to CGI-I corresponding to an group . Untuk tiap outcome utama dan atas sekunder, hasil ringkasan Dari 936 pasien, 750 membaik sesuai bagi tiap dengan skala CGI-I dengan responder rate 80,1%

kelompok. Diskusi

32

Interpret asi

12

Interpretation of the results, Halaman 5. taking into account study Four out of five patients in a consecutive hypotheses, sources of clinical sample were improved by ECT similar

potential bias or imprecision to earlier reports from clinical trials [3,4] and and the dangers associated from clinical routine [5]. More severe forms of with multiplicity of analyses depression were associated and outcomes. Interpretasi hasil, 4 dari 5 pasien yang mendapat terapi TEK

memperhitungkan hipotesis memiliki respon yang baik terhadap terapi. penelitian, sumber bias atau Dan pasien rawat inap lebih berespon ketidaktepatan dan bahaya terhadap terapi dibanding pasien rawat jalan, yang berhubungan dengan ini bisa dikarenakan karena pasien rawat keragaman outcome. analisis dan inap bisa lebih dikontrol. Dan perubahan kepribadian tidak bisa dengan mudah

dirubah dengan TEK tapi ini juga karena pada penilitian ini tidak dilakukan interview untuk mengumpulkan data mengenai

kelainan kepribadian. Generali zability 13 Generalizability (external Pada halaman 4 Older age, absence of schizoaffective

validity) of the trial findings. Apakah hasil

penelitian disorder, psychotic symptoms and inpatient were of independent response in a significant forward analysis.

dapat digeneralisasikan di status masyarakat. predictors

conditional

logistic

regression

Improvement was the dependent variable and age, diagnosis, severity of depression and in/out patient status were independent variables.

Dapat dilakukan karena sudah dilakukan di 8 rumah sakit dan pasien terdiri dari laki-laki perempuan, umur diatas dan dibawah 50 tahun, dan pasien rawat inap serta rawat jalan. Overall evidence 14 General interpretation of the Our results show that have a psychotically very high

results in the context of depressed current evidence.

patients

probability of benefit from ECT. We further

33

Interpretasi umum terhadap conclude that the responder rate to ECT hasil dalam konteks bukti tends to be high for all groups investigated. terkini. Even in the least responsive groups most patients responded to ECT. Furthermore, inpatient ECT may be more effective than outpatient ECT.

Pada pasien depresi psikotik menunjukkan respon yang baik terhadap ECT, pasien rawat inap mersepon lebih baik disbanding pasien rawat jalan.

34

Anda mungkin juga menyukai