ARTIKEL ILMIAH CONCEPTION RATE, SERVICES PER CONCEPTION, DAN CALVING RATE SETELAH IB PADA SAPI POTONG DI KABUPATEN

TULUNGAGUNG PERIODE JANUARI – DESEMBER 2010

Oleh : GESANG DWI SASONGKO NIM. 060710222

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2011

2) Departemen Anatomi Veteriner. drh. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ABSTRACT The aims of this study was to know Conception Rate. 060710222 NIP. 3) Suzanita Utama 1) Mahasiswa.) (Chairul Anwar.. 3) Departemen Reproduksi Veteriner. and the number of birth. To determine a value of reproduction eficiency by artificial insemination. Services per Conception. Then the data obtained was tabulated and supported by average value and standard deviation.S. M. Beef Cattle. M. Based on data. then the highest value of service per conception was 1.DECEMBER 2010 1) Gesang Dwi Sasongko. drh. the value was increasing from the last year.. The observations showed that the highest value of conception rate was 77%.) NIM. the highest value of calving rate was 97.3.. Menyetujui untuk dipublikasikan Surabaya.) (Suzanita Utama. 3 Mei 2011 Mahasiswa: Menyetujui Dosen Pembimbing I: Pembimbing II: Menyetujui Dosen (Gesang Dwi S. 131453179 NIP.CONCEPTION RATE. and Calving Rate After AI on Beef Cattle in Kabupaten Tulungagung Period January . Then the raw data were processed to get the Conception Rate. Keywords : Conception Rate.December 2010. and Calving Rate. At last. 2) Chairul Anwar. Services per Conception. Services per Conception. the first thing to do is collecting data on number of the inseminated cattle. number of pregnancy. AND CALVING RATE AFTER AI ON BEEF CATTLE IN KABUPATEN TULUNGAGUNG PERIOD JANUARY .Phil. and AI (Artificial Insemination). Calving Rate.9%. 196110021990022001 Menyetujui Menyetujui Menyetujui Dosen Terkait I: Dosen Terkait II: Dosen Terkait III: . SERVICES PER CONCEPTION.

Selanjutnya data mentah tersebut diproses guna mendapatkan Conception Rate. 196310021989032003 NIP. Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun sebelum masehi. Service per Conception. Abdul Samik. nilai tertinggi dari Calving Rate adalah 97. Terakhir. lalu nilai tertinggi dari Service per Conception adalah 1. M. Untuk menentukan nilai efisiensi reproduksi dari hasil inseminasi buatan. M.(Dr. jumlah kebuntingan.3. dan Calving Rate. drh. nilai tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya. sapi Ongole dari India dimasukkan ke Pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni (Firdaus. 3) Suzanita Utama 1) Mahasiswa.9%. drh.. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Berdasarkan data. Sri Pantja M. 2) Departemen Anatomi Veteriner. Afrika. SERVICES PER CONCEPTION. 2) Chairul Anwar. Kemudian data yang diperoleh ditabulasikan dan didukung oleh nilai rata-rata dan standar deviasi .Si) (Dr.Si) (Trilas Sardjito. 195505301987011001 CONCEPTION RATE.. 3) Departemen Reproduksi Veteriner. drh. Service per Conception. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa nilai tertinggi dari Conception Rate adalah 77%. Pendahuluan Hubungan antara sapi dan manusia telah terjalin sejak dahulu. kemudian menyebar ke Eropa. 196405081990111001 NIP. M. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Conception Rate.Si) NIP. dan banyaknya kelahiran. dan seluruh wilayah Asia. 2009). dan Calving Rate Setelah IB Pada Sapi Potong di Kabupaten Tulungagung Periode Januari Desember 2010. DAN CALVING RATE SETELAH IB PADA SAPI POTONG DI KABUPATEN TULUNGAGUNG PERIODE JANUARI – DESEMBER 2010 1) Gesang Dwi Sasongko. . Menjelang akhir abad ke-19. yang harus dilakukan pertama kali adalah mengumpulkan data jumlah ternak yang diinseminasi.

Hingga kini. 1990). Karena itu. dan hal ini telah mendorong peningkatan pemeliharaan ternak sapi oleh peternak di Indonesia. pengembangan sapi potong perlu dilakukan melalui pendekatan yang berkelanjutan.. yang merupakan salah satu komoditi yang mempunyai nilai tinggi di tengah masyarakat (Murtidjo. 2010). produksi maupun populasi sapi potong dalam rangka mendukung program kecukupan daging (PKD) 2010.Ternak sapi termasuk golongan ternak herbivora atau pemakan hijauan rerumputan dan dedaunan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menerapkan Inseminasi Buatan (IB) pada sapi potong Inseminasi buatan atau kawin suntik dilakukan melalui perkawinan silang antara betina lokal dengan semen beku pejantan unggul yang pada . Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Harga jualnya tinggi dan mudah menjualnya. Produksi daging dalam negeri diharapkan mampu memenuhi 90−95% kebutuhan daging nasional. upaya pengembangan sapi potong belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri. hal ini dapat disebabkan oleh berbagai kelemahan dalam sistem pengembangan peternakan (Mayulu et al. yang direvisi menjadi 2014 (Ditjen Peternakan. didukung dengan industri pakan yang mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan lokal spesifik lokasi melalui pola yang terintegrasi. Salah satu yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi daging dan anak sapi atau pedet adalah dengan meningkatkan jumlah pemilikan sapi potong dan mutu genetik ternak. Selain rentan terhadap serangan penyakit. 2010).

disamping itu juga menekan biaya produksi karena tidak harus memelihara sapi jantan yang biaya pakan. conception rate. dan perawatannya cukup mahal.. pemerintah saat ini sedang menjalankan program Sapi Berlian (Disnak Jatim. Guna mendukung terlaksanakannya program pemerintah tersebut. calving interval. 2009). service per conception. Pencatatan ini dapat mengukur banyak parameter efisiensi reproduksi pada sapi seperti: days to conception. pregnancy rate. non return rate.umumnya dipilih dari keluarga/bangsa sapi yang didatangkan dari luar negeri (Firdaus. Sapi Berlian merupakan singkatan dari sapi beranak lima juta dalam lima tahun. Berdasarkan kriteria efisiensi reproduksi yang bisa didapat dari pencatatan ini. dan calving rate.kriteria tersebut adalah conception rate. ada beberapa kriteria yang patut mendapat perhatian. Kriteria. Tujuannya adalah untuk memperbaiki genetik sapi lokal. tempat pemeliharaan. Sedangkan calving rate . services per conception. Demi mewujudkan program swasembada daging sapi tahun 2014. dilakukan pencatatan pada sapi potong. Susilawati (2005) juga menyatakan bahwa Services per conception adalah jumlah pelayanan inseminasi buatan dibagi jumlah sapi yang bunting. 2009). yang menunjukkan berapa kali inseminasi dilakukan sampai terjadi kebuntingan. adalah banyaknya ternak yang bunting pada IB pertama dibagi jumlah ternak yang diinseminasi dikali 100 persen (Arifiantini et al. Angka kebuntingan (%) atau conception rate (cr). dan calving rate. 2009). Selanjutnya adalah service per conception (S/C).

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran umum dari angka kebuntingan (cr). maka dilakukan suatu penelitian mengenai seberapa besar conception rate. dan Calving Rate . 2003).. 1981). Berdasarkan uraian tersebut. dan banyaknya kelahiran (CR) sapi potong di Kabupaten Tulungagung dalam periode Januari – Desember 2010. Services Per Conception. Hal ini perlu dilakukan untuk menunjukkan sampai dimanakah keberhasilan program IB di Kabupaten Tulungagung. Variabel yang diamati adalah Conception Rate. yaitu jumlah induk yang bunting pada IB pertama dibagi dengan jumlah seluruh induk yang dikawinkan kemudian dikalikan seratus (Toelihere. serta membandingkannya dengan data pada tahun sebelumnya. efisiensi pelayanan IB (S/C). Tulungagung sebagai salah satu daerah di Jawa Timur yang tergolong baik peternakannya penting untuk diketahui potensinya. 1981). Kemudian dilakukan pencatatan data secara manual terhadap data kejadian kebuntingan dan kelahiran pada sapi potong yang terdapat pada lembar laporan.(CR) adalah jumlah anak sapi yang lahir dibagi jumlah betina dikali seratus persen (Kutsiyah et al. yaitu jumlah inseminasi atau service yang dilakukan dibagi dengan jumlah sapi yang diinseminasi (Toelihere. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metoda survei. services per conception. Data sekunder diperoleh dari Dinas Peternakan setempat. dan calving rate setelah IB pada sapi potong di Kabupaten Tulungagung.

Menurut catatan Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung. Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut pada data laporan pemeriksaan kebuntingan tersebut. Pembahasan Berasarkan data laporan yang telah diteliti. 2010a). Lalu.17%. Tulungagung. Jadi. Data yang telah diperoleh selanjutnya dikelompokkan berdasarkan Conception rate. 2003).3 dan terendah 1.yaitu jumlah anak yang lahir pada IB pertama dibagi dengan jumlah sapi yang di IB dikalikan seratus persen (Kutsiyah et al. Pengolahan data yang digunakan selanjutnya adalah analisis deskriptif dengan menghitung mean (nilai rata-rata) dan standar deviasi. data tersebut diolah dan ditampilkan dengan tabulasi dan diagram batang. Hasil pengolahan data ini dapat digunakan untuk membandingkan CR.4 (Disnak Kab. dalam satu tahun cr di Kabupaten Tulungagung mencapai 76. dan calvng rate per bulan. Rata-rata. Menurut Hariadi (2010) conception rate sapi potong pada tahun 2009 rata-rata sebesar 76. nilai conception rate paling tinggi tercatat sebesar 77%. pada tahun 2010 terjadi peningkatan sebesar 0. dan calving rate pada sapi potong hasil inseminasi buatan di Kabupaten Tulungagung pada tahun 2010 dengan tahun sebelumnya. . Tulungagung. Rata-rata service per conception pada tahun 2010 adalah 1. yaitu 2009. service per conception. conception rate normal rata-rata sebesar 60%. S/C. dan yang terendah adalah 75% (Disnak Kab. 2010a).33%. didapatkan angka service per conception tertinggi 1.16%.33.

85%.Hardjopranjoto (1995) menyatakan bahwa di negara yang maju peternakannya nilai service per conception yang baik adalah 1.65. didapatkan rata-rata calving rate selama periode Januari sampai dengan Desember 2010 sebesar 95. ternak tidak .02. data calving rate pada tahun 2010 dapat digunakan jika ada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan permasalahan yang serupa. dengan jumlah kelahiran sebesar 34741 ekor (Disnak Kab. tanpa makanan yang baik dan dalam jumlah yang memadai.9% dan terendah yaitu 94. Data ini menunjukkan bahwa service per conception pada tahun 2010 mengalami kenaikan sebanyak 0. makanan dan manajemen. Murtidjo (1990) menyatakan bahwa untuk meningkatkan produksi ternak dapat melalui peningkatan mutu genetik.35. Jadi. Sapi-sapi yang berada di Kabupaten Tulungagung memang berasal dari induk-induk berkualitas baik hasil inseminasi buatan pada periode sebelumnya. Berdasarkan data pada tahun sebelumnya. (b) faktor makanan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa angka calving rate tertinggi yaitu 97. 2010b). rata-rata service per conception yang tercatat sebesar 1.6%. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya daya reproduksi kelompok ternak di Kabupaten Tulungagung adalah: (a) Faktor Genetik. Setelah diteliti lebih lanjut. Tulungagung. Nilai calving rate pada tahun 2010 tidak bisa dibandingkan dengan nilai calving rate pada tahun sebelumnya karena pada tahun 2009 tidak ada data tentang besaran calving rate di Kabupaten Tulungagung.

Sehingga hal ini berimbas pada tingginya daya reproduksi ternak yang dipelihara. curah hujan. Bandini (2004) menyatakan bahwa proses pemeliharaan dimulai dari masa pertumbuhan pedet. Menurut Salisbury dan Van Demark (1985) bahwa tatalaksana yang baik akan dapat memperpanjang masa hidup ternak sapi dan mengurangi kemungkinan terjadinya keguguran. peternak di Kabupaten Tulungagung pada umunya sudah mengetahui tata cara pengelolaan ternak yang baik dan benar. (c) faktor pengelolaan. pakan serta pengawasan kesehatan. tekanan dan gerakan udara. Hal itu ditunjang dengan campuran pakan dan konsentrat yang membantu meningkatkan performa reproduksi ternak. Kesalahan tatalaksana akan menyebabkan rendahnya kesuburan ternak betina antara lain terjadinya kegagalan birahi dan kegagalan kebuntingan (Partodihardjo dan Djoyo Sudarmo. (e) faktor iklim. Pemeliharaan ini meliputi kandang. serta cahaya yang tidak sesuai bagi kehidupan sapi merupakan beban berat bagi ternak (Sugeng. 1987). berlanjut pada sapi muda dan sapi dewasa. karena iklim yang meliputi keadaan suhu. faktor iklim tidak bisa dipisahkan dengan usaha pengembangan ternak sapi. kelembaban.akan dapat memperlihatkan keunggulannya meskipun bibit ternak itu unggul (Partodihardjo. (d) Kenyataannya. . 1979). Peternak di Kabupaten Tulungagung selalu mempunyai cadangan pakan.

baik pencegahan maupun pengobatan. Suhu yang tidak terlalu panas. Keadaan di Kabupaten Tulungagung cukup bagus untuk pengembangan ternak. kelembaban. keterampilan inseminator di Kabupaten Tulungagung cukup baik. Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung mempunyai program unggulan dalam pengendalian penyakit. Trichomoniasis. tekanan dan gerakan udara mendukung tingginya performa produksi ternak. 2010). Vibriosis.1992). Toelihere (1985) melaporkan bahwa penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian embrio adalah Brucellosis. . terutama pada sapi dara yang dipelihara yang dikandang. curah hujan yang cukup. Secara umum. Hal ini dikarenakan berbagai macam kursus dan pelatihan yang diberikan oleh Dinas Peternakan setempat. Hardjopranjoto (1995) menyatakan bahwa selama musim panas angka kebuntingan menjadi menurun pada induk sapi. (f) faktor keterampilan inseminator. keterampilan seorang inseminator diperlukan dalam usaha peningkatan efisiensi reproduksi (Sutrisno. (g) pengendalian penyakit Sugeng (1992) menyatakan bahwa penyakit menular timbul karena serangan jasad renik terhadap tubuh hewan. menghancurkan alat-alat tubuh dan menimbulkan kematian. Kebanyakan jasad renik ini mengeluarkan racun yang dapat merusak jaringan tubuh penderita.

2010. Angka Konsepsi Hasil Inseminasi Semen Cair Versus Semen Beku pada Kuda yang Disinkronisasi Estrus dan Ovulasi.S. Jakarta. Malang. Kabupaten Tulungagung. 2009. M. Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung. Purwantara. D. Universitas Brawijaya. Fakultas Kedokteran Hewan. Blueprint Program Swasembada Daging Sapi 2014. T. Laporan Kelahiran Sapi Hasil Inseminasi Buatan.P. 2004. A. Laporan Pemeriksaan Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.Program tersebut bertujuan agar daya reproduksi ternak berkembang tanpa gangguan penyakit yang serius. Rencana Strategis Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur 2009 -2014. L. R. W. Laporan Pemeriksaan Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung. Kabupaten Tulungagung. E. Deland. B. 2009a. 2009. dan Patologi. Malang. Y. Populasi Sapi Potong di Kabupaten Tulungagung. Reproduksi. Pusat Data & Informasi Pertanian.... Sajuthi. . 2009. Penebar Swadaya. Firdaus. 2001. Laporan Kelahiran Sapi Hasil Inseminasi Buatan. Jakarta. A. R. Abraham. 2010c. Dinas Peternakan Kebuntingan. Direktorat Jenderal Peternakan. 2010b. Ross. Calving Rates in Hereford Cow Herd Following Synchronised Artificial Insemination Programs. Dinas Peternakan Kebuntingan.A. Australia. Sapi Bali..A. Struan Research Centre. Bogor Bandini.B. 2009b. Budiarto.. I. dan Amrozi.. Fakultas Peternakan. Daftar Pustaka Arifiantini. Yusuf. Departemen Klinik. 2010a. A. Kementerian Pertanian. Universitas Brawijaya. Surabaya. Peningkatan Produktivitas Sapi Potong Lokal Peranakan Ongole (PO) Melalui Perbaikan Mutu Genetik. and Pitchford. 2008. Institut Pertanian Bogor. Domestikasi Sapi Madura.

Partodihardjo. Djoyo sudarmo.L. 2008. A. 1990. Kusriningrum RS. H.. Kusmartono. Philadelpia Hardjopranjoto. E. Japan. Ilmu Kemajiran Ternak. A. Pakistan Journal of Biological Sciences 6(2): 105-111. S. S. dan Trinil Susilawati.. Jakarta. Imam Sutrisno. 1985. Bandung. Hariadi. 1993. JITV 8(2): 98-106. Ubisi Mail | September 2008: 29. Perancangan Percobaan. Airlangga University Press. F. C. Mutiara Sumber Widya. Kanisius. J. Ilmu Reproduksi Hewan. H. 1995. Harya Putra..E. M. Beternak sapi potong.M. Fakultas Kedokteran Hewan. Surabaya. Improve Your AI Conception Rate. 6th Edition. Surabaya: Airlangga University Press. Surabaya. M. dan Sumarsono.M. Kutsiyah. PT..Hafez. Yogyakarta. Nkuna. 29(1). 1979. . Murtidjo. Salim.S.. Mayulu. Hoque. 2003. H. S.. Gajah Mada University Press. Penanggulangan Kasus-Kasus Kawin Berulang pada Ternak Sapi. 1987.. G.W. 1995. Partodihardjo. G.A. dan S. M. Salisbury. Universitas Airlangga. 2010. Universitas Airlangga. 2010.K. Yogyakarta. Saifuddin. Jurnal Litbang Pertanian. 2003. Fisiologi reproduksi dan Inseminasi Buatan pada ternak sapi. Artificial insemination in Indonesia paper printed at the Japan society. Fisiologi dan Teknologi Hewan Betina Domestik Terjemahan : DK. F. Van Demark. Hunter. Institut Teknologi Bandung.K. Fakultas Kedokteran Hewan. R.. Debnath. dan N. Studi Komparatif Produktivitas antara Sapi Madura dan Persilangannya dengan Limousin di Pulau Madura. 2009. Lea and Febiger. Rahman. Kebijakan Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Indonesia.A. B. Sunarso. A Study to Evaluate the Artificial Insemination (AI) Succes Rate in Cattle Population Based on Three Years Record among Different Sub-centers of Chittagong and Cox’s Bazar District of Bangladesh. 2010. Reproduction in Farm Animai.

Kantor Penelitian dab Pengembangan. Y. Sugeng. Penerbit Angkasa.R. Kajian Bioetika: Pemanfaatan Inseminasi Buatan (IB) Untuk Peningkatan Produktivitas Sapi. M. 1992. Inseminasi Buatan.R. Fakultas Peternakan. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Bandung Toelihere. Universitas Brawijaya. P. Pati.Pathways to Pregnancy and Parturition. 1981. Bandung . Institut Pertanian Bogor. T. Penebar Swadaya. 2010. Universitas Terbuka. P. 3-4. B. S. B. Pembibitan Sapi Potong Melalui Teknologi Inseminasi Buatan (IB) di Kabupaten Pati. Toelihere. 1985.L. 2009.Senger. Susilawati. Dewiki. Artificial insemination technique in the cow. Penerbit Angkasa. Sutrisno. Tingkat Keberhasilan Kebuntingan dan Ketepatan Jenis Kelamin Hasil Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Beku Sexing pada Sapi Peranakan Ongole. Koeshardini. Jakarta Sugoro. 2005. I. Taurin.. Bogor. Inseminasi Buatan Pada Ternak.Page 274. Jakarta. 2003. Sapi Potong.dan S. M. Malang. 2000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful