Anda di halaman 1dari 11

ANESTESI Kata anestesi berasal dari bahasa yunani yang berarti keadaan tanpa rasa sakit.

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan yang meliputi pemeberian anestesi ataupun analgesi, pengawasan keselamatan pasien dioperasi atau tindakan lainnya, bantuan hidup (resusitasi), perawatan intensif pasien gawat, pemeberian terapi inhalasi, dan penanggulangannya nyeri menahun. Anestesi dibagi menjadi 2 kelompok yaitu Anestesi Lokal dan Anestesi Umum. Pada anestesi lokal hilagnya rasa sakit tanpa disertai hilangnya kesadaran, sedangkan pada anestesi umum hilangnya rasa sakit disertai hilang kesadaran. ANESTESI UMUM Anestesi Umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversibel). Komponen trias anestesi ideal terdiri dari hipnotik, analgesi dan relaksasi otot. Cara pemberian anestesi umum: 1. Parenteral (intramuskular/intravena) Digunakan untuk tindakan yang singkat atau induksi anestesi. Umumnya diberikan tiopental, namun pada kasus tertentu dapat digunakan ketamin,dizepam dll. Untuk tindakan yang lama anestesi parenteral dikombinasikan dengan cara lain. 2. Perektal Dapat dipakai pada anak untuk induksi anestesi atau tindakan singkat. 3. Anestesi Inhalasi Anestesi dengan menggunakan gas atau cairan anestesi yang mudah menguap sebagai zat anestesi melalui udara pernapasan. ANESTESI LOKAL anestesi lokal adalah tindakan menghilangkan nyeri/ sakit secara lokal tanpa disertai hilangnya kesadaran. Pemberian anestesi lokal dapat dengan teknik: 1. Anestesi permukaan, yaitu mengoleskan atau penyemprotan analgetik lokal diatas selaput mukosa seperti mata, hidung atau faring. 2. Anestesi Inhalasi, yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal langsung diarahkan disekitar tempat lesi, luka atau insisi. Cara inflitrasi yang sering digunakan adalah blokade lingkar dan obat suntikan intradermal atau subkutan. 3. Anestesi Blok, yaitu penyuntikan analgetika lokal langsung kesaraf utama atau pleksus saraf. Hal ini bervariasi dari blokade pada saraf tunggal, misalnya saraf oksipital dan pleksus brakialis, anestesi spinal, anestesi epidural, dan anestesi kaudal. Pada anestesi spinal, analgetik lokal disuntikan langsung kedalam ruang subaraknoid diantara konus medularis dan bagian akhir ruang subaraknoid. Anestesi epidural diperoleh dengan menyuntikkan zat anestesi lokal kedalam ruang epidural. Pada anestesi kaudal, zal analgetik lokal disuntikan melalui hiatus sakralis. 4. Analgesi Regional, yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal intravena. Ekstrimitas dieksanguinasi dan diisolasi bagian proksimalnya dari sirkulasi sistemik dengan turniket pneumatik. OBAT ANESTESI OBAT PREMEDIKASI Pemberian obat premedikasi bertujuan: 1. Manimbulkan rasa nyaman pada pasien 2. Memperlancar induksi, rumatan, dan sadar dari anestesi. 3. Mengurangi timbulnyahipersalivasi, bradikardi, mual, dan muntah pascaanestesi. 4. Mnegurangi jumlah obat-obatan anestesi. 5. Mengurangi stress fisiologis (takikardia, napas cepat dll. 6. Mengurangi keasaman lambung.

Obat-obat yang dapat diberikan sebagai premedikasi pada tindakan anestesi sebagai berikut: Anelgetik Narkotik Morfin Dosis premedikasi dewasa 5-10 mg intramuskular diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan pasien menjelang operasi, menghindari takipnu pada pemberian trikloroetilen, dan agar anestesi berjalan dengan tenang dan dalam. Kerugiannya adalah terjadi perpanjangan waktu pemulihan, timbul spasme serta kolik biliaris dan ureter. Kadangkadang terjadi konstipasi, retensi urin, hipotensi, dan depresi napas. Petidin Dosis premedikasi dewasa 50-75 mg intravena diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos. Dosis induksi 1-2 mg/kgBB intravena. Barbiturat Pentobarbital dan Sekobarbital. Diberikan untuk menimbulkan sedasi. Dosis dewasa 100-200 mg, pada anak dan bayi 1 mg/kgBB secara oral atau intramuskular. Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang dan kurang menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Yang mudah didapat adalah fenobarbital dengan efen depresan ayng lemah terhadap pernapasan dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah. Antikoligernik Atropin. Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah dan bronkus selama 90 menit. Dosis 0,4-0,6 mg intramuskular bekerja setelah 10-15 menit. Obat Penenang (transquillizier) Diazepam. Diazepam merupakan golongan benzodiazepin. Pemberian dosis rendah, bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik. Dosis premedikasi dewasa 10 ms intramuskular atau 5-10 mg oral dengan dosis maksimal 15 mg. Dosis sedasi pada analgesi regional 5-10 mg intravena. Midazolam. Midazolam mempunyai awal dan lama kerja lebih pendek daripada diazepam. Midazolam lebih disukai dibandingkan dengan diazepam. Dosis 50% dari dosis diazepam. OBAT PELUMPUH OTOT Obat golongan ini menghambat transmisi neuromuskular sehingga menimbulkan kelumpuhan pada otot rangka. Menurut mekanisme kerjanya, obat ini dibagi menjadi 2 golongan yaitu obat penghamb at secara depolarisasi resisten dan obat penghambat kompetitif atau nondepolarisasi. Pada anestesi umum obat ini memudahkan dan mengurangi cidera tindakan laringoskopi dan intubadi trakhea, serta memberi relaksasi otot yang dibutuhkan dalam pembedahan dan ventilasi kendali. Perbedaan obat pelumpuh otot depolarisasi dan nondepolarisasi. Depolarisasi : ada fasikulasi otot, berpotensi dengan antikolinesterase, tidak menunjukkan kelumpuhan yang beertahap pada perangsangan tunggal atau tetanik, belum dapat diatasi dengan obat spesifik, kelumpuhan berkurang dengan pemberian obat pelumpuh otot nondepolarisasi dan asidosis. Nondepolarisasi : tidak ada fasikulasi otot, berpotensi dengan (hipokalemia, hipotermia, obat anestetik inhalasi, eter, halotan, enfluran, isofluran), menunjukkan kelumpuhan yang bertahap pada perangsangan tunggal atau tetanik, dapat diantagonis oleh antikolin esterase. Obat Pelumpuh Otot Nondepolarisasi Pavulon Pavulon merupakan steroid sintetis yang banyak digunakan. Mulai kerja pada menit keduaketiga untuk selama 30-40 menit. Memiliki efek akumulasi pada pemberian berulang sehingga dosis rumatan harus dikurangi dan selamg waktu diperpanjang. Dosis awal untuk relaksasi otot 0,08 mg/kgBB intravena pada dewasa. Dosis rumatan setengah dosis awal. Dosis Intubasi trakea 0,15 mg/kgBB intravena. Kemasan ampul 2 ml berisi 4 mg pavulon.

FARMAKOLOGI BEBERAPA OBAT ANESTESI OBAT PREMEDIKASI

A. KEMASAN = Tab.2 mg, 5 mg, 10 mg Inj. 5 mg/ml DOSIS = iv/im/po 0,1 0,2 mg/kg BB (2 10 mg)

Diazepam

FARMAKOKINETIK = i.v onset : 1 5 menit peak : 30 menit duration : 15 60 menit. i.m onset : 15 30 menit peak : 30 45 menit duration : 3 jam oral onset : 30 60 menit peak : 1 2 jam duration : 3 jam

REAKSI OBAT = Bradikardi, hipotensi, depresi nafas ringan, ngantuk, ataksia, amnesia retrograde

B. Sulfas Atropin

KEMASAN = Inj. 0,25 mg/ml DOSIS = Premedikasi Dewasa : 0,4 1 mg Anak-anak : 10-20 mcq (minimum 01 mg) FARMAKOLOGI = onset : 5 40 detik (im) 45 60 detik (iv) peak : 2 menit duration : blokade vagal 1-2 jam antisialogog 4 jam

REAKSI OBAT = Depresi napas, takhikardi (dosis tinggi), bradikardia (dosis rendah), palpitasi, midriasis, peningkatan tekanan intraokuler, urtikaria, reaksi alergi

Phenergan

Inj. 25 Tab. Premedikasi 12,5 50 mg

12,5

mg/ml, mg,

25

50 mg,

50

mg/ml mg

onset peak duration

: : :

15 < 2

30 8

menit jam jam

Hipotensi, bradikardia, takikardi, bronkospasme, hidung tersumbat, mual muntah, tremor

Petidin

Inj. 5 mg/ml

Dosis 1 2 mg/kg BB

i.v onset peak duration i.m onset peak duration

: : : : : : 1 30 2 5 2

<

1 20 4 5 50 4

menit menit jam menit menit jam

Hipotensi, depresi napas, laringospasme, euforia, disforia, konstipasi, urtikaria, kejang

Morfin

Inj. 1 mg/ml

Dosis 0,1 mg/kg BB

i.v onset : peak : duration : i.m onset : peak : duration : 2 7 jam

< 5 2 1 30

1 20 7 5 60

menit menit jam menit menit

Hipotensi, bradikardia, aritmia, bronkospasme, laringospasme, mual muntah, miosis

Dormicum midazolam

Inj. 5 mg/ml

mg/ml

dan

Sedasi < 60 > 60 Premedikasi 0,07 0,08 mg/kg BB

th th

: :

1-2,5 1,5

mg/kg mg/kg

(iv) BB BB (im)

i.v onset : 30 detik 1 menit peak : 3 5 menit duration : 15 80 menit i.m onset : 15 menit peak : 15 30 menit duration : 15 80 menit Takikardia, efek vasovagal, hipotensi, hipoventilasi, apnea, bronkospasme, laringospasme

premediaksi PREMEDIKASI

Tujuan utama dari pemberian obat premedikasi adalah untuk memberikan sedasi psikis, mengurangi rasa cemas dan melindungi dari stress mental atau factor-faktor lain yang berkaitan dengan tindakan anestesi yang spesifik. Hasil akhir yang diharapkan dari pemberian premedikasi adalah terjadinya sedasi dari pasien tanpa disertai depresi dari pernapasan dan sirkulasi. Kebutuhan premedikasi bagi masing-masing pasien dapat berbeda. Rasa takut dan nyeri harus diperhatikan betul pada pra bedah. Reaksi fisiologis terhadap nyeri dan rasa takut terdiri atas bagian yaitu reaksi somatic (voluntary) dan reaksi simpatetik (involuntary). Efek somatic ini timbul didalam kecerdasan dan menumbuhkan dorongan untuk bertahan atau menghindari kejadian tersebut. Kebanyakan pasien akan melakukan modifikasi terhadap manifestasi efek somatic tersebut dan menerima keadaan yaitu dengan Nampak tenang. Reaksi saraf simpatis terhadap rasa takut atau nyeri tidak dapat disembunyikan oleh pasien. Rasa takut dan nyeri mengaktifkan syaraf simpatis untuk menimbulkan perubahan system sirkulasi dalam tubuh. Perubahan ini disebabkan oleh stimulasi efferen simpatis yang ke pembuluh darah, dan sebagian karena naiknya katekolamin dalam sirkulasi. Impuls adrenergic dari rasa takut timbul dikorteks cerebri dan dapat ditekan dengan tiduratau dengan sedativa yang mencegah kemempuan untuk menjadi takut. Reaksi kardiovaskular secara neurologis berbeda dengan rasa takut, karena arcus reflek yang tersangkut seluruhnya ada dibatang otak dibawah sensorus thalamus. Ini berarti pendekatan klinis untuk menghilangkan kedua hal tersebut harus berbeda. Tanda akhir dari reaksi adrenergic terhadap rasa takut ialah meningkatnya detik jantung dan tekanan darah. Maka umumnya tujuan pemberian obat premedikasi adalah menghilangkan kecemasan, mendapat sedasi, mendapat analgesi, mendapat amnesi, dan mendapat efek antisialogoque. Disamping itu pada keadaan tertentu juga menaikkan pH cairan lambung, mengurangi volume cairan lambung, dan mencegah terjadinya reaksi alergi. Premedikasi diberikan berdasar atas keadaan psikis dan fisiologis pasien yang ditetapkan setelah dilakukan kunjngan pra bedah. Dengan demikian maka pemilihan obat premedikasi yang akan digunakan harus selalu dengan memperhitungkan umur pasien, berat badan, status fisik, derajat kecemasan, riwayat hospitalisasi sebelumnya (terutama pada anak), riwayat reaksi terhadap obat premedikasi sebelumnya (bila pasien pernah diberi anestesi sebelumnya), riwayat penggunaan obat-obat tertentu yang kemungkinan dapat berpengaruh pada jalannya anestesi (missal MAO inhibitor, kortikosteroid, antibiotic tertentu), perkiraan lamanya operasi, macamnya operasi (missal terencana, darurat, pasien rawat inap atau rawat jalan) dan rencana obat anestesi yang akan digunakan. Sesuai dengan tujuannya, maka obat-obat yang dapat digunakansebagia obat premedikasi dapat digolongkan seperti dibawah ini. (beberapa contoh yang ada di Indonesia)

Golongan Obat Barbiturate

Contoh Luminal

Narkotik Benzodiazepine Butyrophenon Antihistamin Antasida Anticholinergik H2 receptor antagonis

Petidin Morfin Diazepam Midazolam Dehydrobenperidol Prometazine Gelusil Atropine Cimetidin

Karena khasiat obat premedikasi ynag berlainan tersebut, dalam praktek sehari-hari dipakai kombinasi beberapa obat untuk mendapat hasil yang diinginkan, misalnya : Kombinasi narkotik, benzodiazepine, dan anticholinergik Kombinasi narkotik, butyrophenon dan anticholinergik Kombinasi narkotik, antihistamin dan anticholinergik Pada keadaan tertentu perlu diberikan antasida. Barbiturate Kebanyakan pasien yang telah direncanakan untuk menjalani operasi akan lebih baik bila diberikan hipnotik malam sebelum hari operasi, karena rasa cemas, hospitalisasi atau keadaan sekitar yang tidak biasa dapat menyebabkan insomnia. Untuk itu dapat digunakan golongan barbiturate per oral sebelum waktu tidur. Selain itu barbiturate juga digunakan obat premedikasi. Keuntungan penggunaan obat ini ialah dpat menimbulkan sedasi, efekterhadap depresi respirasi minimal (ini dibuktikan dengan tidak berubahnya respon ventilasi terhadap CO2), depresi sirkulasi minimal dan tidak menimbulakn efek mual dan muntah. Obat ini efektif bila diberikan peroral. Premedikasi per oral belum dapat dibudayakan di Indonesia (terutama bagi golongan menengah / bawah), karena masih ditakutkan bila disamping minum obat, pasien tidak dapat menahan diri untuk tidak minum lebih banyak. Kerugian penggunaan barbiturate termasuk tidak adanya efek analgesia, terjadinya disorientasi terutama pada pasien yang kesakitan, serta tidak ada antagonisnya. Barbiturate merupakan kontraindikasi untuk pasien dengan akut intermitten porphyria. Narkotik Morfin dan pethidin merupakan narkotik yang paling sering digunakan untuk premedikasi. Keuntungan penggunaan obat ini ialahmemudahkan induksi, mengurangi kebutuhan obat anestesi, menghasilkan analgesi pra dan pasca bedah, memudahkan melakukan pemberian pernapasan buatan, dapat diantagonisisr dengan naloxon. Narkotik ini dapat menyeabkan vasodilatasi perifer, sehingga dapat menyebaabkan hipotensi ortostatik. Hal ini akan lebih berat lagi bila digunakan pada pasien dengan hipovolemia. Berlawanan dengan barbiturate, narkotik ini dapat menyebabkan depresi pusat pernapasan di medulla yang dapat ditunjukkan dengan turunnya respon terhadap CO2. Mual dan muntah menunjukkan adanya stimulasi narkotik pada pusat muntah di medulla. Bila pasien dalam posisi tidur akan mengurangi efek tersebut.

Morfin diberikan dengan dosis 0,1 0,2 mg/kbBB, sedang petidin dengan dosis 1 2 mg/kgBB. Pada orang tua dan anak-anak diberikan dosis lebih kecil. Benzodiazepine Golongan ini sangat spesifik untuk menghilangkan rasa cemas. Diazepam bekerja pada reseptor otak yang spesifik, mengahisilkan efek anti anxiety yang selektif pada dosis yang tidak menimbulkan sedasi yang berlebihan, depresi napas, mual dan muntah. Kerugian penggunaan diazepam untuk premedikasi ini ialah kadang-kadang pada orang tertentu dapat menyebabkan sedasi yang berkepanjangan. Selain itu juga rasa sakit pada penyuntikan im. Serta absorbs sistemik yang jelek setelah pemberian im. Benzodiazepine yang larut dalam airdan cepat diabsorbsi setelah pemberian intramuscular, yaitu midazolam. Keuntungan obat ini tidak menimbulkan rasa nyeri pada penyuntikan baik im atau iv. Diazepam dapat diberikan pada orang dewasa dengan dosis 10mg, sedang pada anak kecil 0.2 0.5 mg/kgBB. Midazolam dapat diberikan dengan dosis 0,1 mg/kgBB. Penggunaan midazolam ini harus dengan pengawasan ketat, karena kemungkinan terjadi depresi respirasi. Butyrophenon Dari golongan ini droperidol dengan dosis ,5 5 mg i.m digunakan sebagai obat premedikasi dengan kombinasi narkotik. Keuntungan sangat besar dari penggunaan obat ini ialah efek anti emetic yang sangat kuat, dan bekerja secara sentral pada pusat muntah di medulla. Obat ini ideal untuk digunakan pada pasien pasien dengan resiko tinggi, missal pada operasi mata, pasien dengan riwayat sering muntah dan obesitas. Dapat juga diberikan secara intravena dengan dosis 1 1,5 mg. Kadang-kadang pada psien tertentu droperidol ini dapat menimbulkan dysphoria (pasien merasa takut mati). Droperidol juga mempunyai efek blockade terhadap dopaminergik reseptor sehingga dapat menimbulkan gejala extrapiramidal pada psien yang normal. Selain itu juga mempunyai efek alpha adrenergic antagonis yang ringan, sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah perifer. Efek ini dapat digunakan pada pasien hipertermi sebelum diberikan kompres basah seluruh tubuh. Namun perlu di ingat akan terjadinya relative hipovolemia. Pada pasien dengan riwayat alergi / rhinitis vasomotorika sebaiknya penggunaan obat ini dihindari. Antihistamin Dari golongan ini yang sering digunakan sebagai obat premedikasi ialah promethazin (phenergen) dengan dosis 12,5 25 mg i.m pada orang dewasa. Digunakan pada pasien dengan riwayat asma bronkiale. Antikholinergik Atropine mempunyai efek kompetitif inhibitor terhadap efek muskarinik dari asetylcholin. Atropine ini dapat menembus barier lemek misalnya blood brain barrier, plasenta barrier dan tractus gastrointestinal.

Reaksi tersering dari pemakaian obat ini ialah menghasilkan efek anti sialogoque, mengurangi sekresi ion asam lambung, menghambat reflek bradikardia dan efek sedative dan amnestik (terutama scopolamine). Efek lain yang merugikan adalah nadi yang meningkat, midriasis, cyclopegia, kenaikan suhu, mengeringnya secret jalan napas dan pada CNS toxicity terjadi gelisah dan agitasi. Antasida Pemberian antasida 15 30 menit prainduksi hamper 100% efektif untuk menaikkan pH asam lambung diatas 2,5. Seperti diketahui, aspirasi cairan asam lambung dengan pH yang rendah dapat menimbulkan apa yang dinamakan acid aspiration syndrome atau disebut juga Mendelson syndrome. Yang dianjurkan ialah preparat yang mengandung Mg trisiklat. Histamine H-reseptor antagonis Obat ini akan melawan kemepuan histamine dalam meningkatkan sekresi cairan lambung yang mengandung ion H tinggi. Dari kepustakaan disebutkan bahwa pemberian cimetidine oral 300 mg, 1 1,5 jam pra induksi dapat menaikkan pH cairan lambung diatas ,5 sebanyak lebih dari 80% pasien. Dapat pula diberikan secara intravena dengan dosis yang sama 2 jam sebelum induksi dimulai. Rangkuman Kunjungan pra anestesi dan pembedahan merupakan rangkaian untuk menetukan pem apa yang akan diberikan. Tanpa melihat pasien akan menyebabkan kesalahan dosis obat premedikasi yang dapat merugikan pasien. Perhatian khusus pada bayi dibawah 2 tahun dan orang tua diatas 60 tahun. Daftar pustaka. 1. Muhiman M,Thaib MR, Sunatrio S, Dahlan R, editor. Anestestiologi, Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1989. 2. Ganiswara SG, Setiabudy R, Suiyatna FD, Purwantyastuti, editor. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, 1995. 3. Morgan GE, Mikhail MS, Clinical anesthesiology. Stamford: Appleton & Lange, 1996. 4. Ayem E, Bewes PC, Bion JF, et al. Primary anesthesia. Oxford: Oxford University Preas, 1986.

Pemberian obat premedikasi bertujuan: 1. Menimbulkan rasa nyaman pada pasien (menghilangkan kekhawatiran, memberikan ketenangan, membuat amnesia, memberikan analgesi) 2. Memudahkan/memperlancar induksi, rumatan, dan sadar dari anestesi 3. Mengurangi jumlah obat-obatan anestesi 4. Mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradikardi, mual, dan muntahpascaanestesi 5. Mengurangi stres fisiologis (takikardia, napas cepat, dll) 6. Mengurangi keasaman lambung Obat-obat yang dapat diberikan sebagai premedikasi pada tindakan anestesi sebagai berikut: Analgetik narkotik Morfin. Dosis premedikasi dewasa 5-10 mg (0,1-0,2 mg/kgBB) intramuskular diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan pasien menjelang operasi, menghindari takipnu pada pemberian trikloroetilen, dan agar anestesi berjalan dengan tenang dan dalam. Kerugiannya adalah terjadi perpanjangan waktu pemulihan, timbul spasme serta kolik biliaris dan ureter. Kadang-kadang terjadi konstipasi, retensi urin, hipotensi, dan depresi napas. Petidin. Dosis premedikasi dewasa 50-75 mg ( 1-1,5 mg/kgBB) intravena diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos. Dosis induksi 12 mg/kgBB intravena. Barbiturat Pentobarbital dan sekobarbital. Diberikan untuk menimbulkan sedasi. Dosis dewasa 100200 mg, pada anak dan bayi 1 mg/kgBB secara oral atau intramuskular. Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang dan kurang menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Yang mudah didapat adalah fenobarbital dengan efek depresan yang lemah terhadap pernapasan dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah. Antikolinergik Atropin. Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah dan bronkus selama 90 menit. Dosis 0,4-0,6 mg intramuskular bekerja setelah 10-15 menit. Obat penenang (transquillizer) Diazepam. Diazepam (Valium) merupakan golongan benzodiazepin. Pemberian dosis rendah bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik. Dosis premedikasi dewasa 10 mg intramuskular atau 5-10 mg oral (0,2-0,5 mg/kgBB) dengan dosis maksimal 15 mg. Dosis sedasi pada analgesi regional 5-10 mg (0,04-0,2 mg/kgBB) intravena. Dosis induksi 0,2-l mg/kgBB intravena.

Midazolam. Dibandingkan dengan diazepam, midazolam mempunyai awal dan lama kerja lebih pendek. Belakangan ini midazolam lebih disukai dibandingkan dengan diazepam. Dosis 50% dari dosis diazepam.