Anda di halaman 1dari 46

ANALISIS DATA CURAH HUJAN KOTA BLITAR DAN NEGARA THAILAND Disajikan untuk memenuhi tugas matakuliah meteorology

dan klimatologi yang dibimbing oleh bapak Dwiyono Hariutomo

Oleh: Aminul khoir Bagus Ari Ramadhan Edy Amin Imam Arifaillah Syaiful Huda Mohammad Safril MahviroVivi A

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI 2012

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002). Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono (2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus. Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi. Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat

(altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). Tjasyono (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim. 1.2 TUJUAN Untuk mengetahui kondisi iklim di Kabupaten Blitar dan negara thailand menurut Iklim Matahari, Iklim Koeppen, Iklim Tornthwaite, Iklim Mohr, Iklim Oldeman, Iklim Junghuhn, Iklim Schmidt dan Ferguson.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 PENGERTIAN IKLIM Iklim merupakan keadaan cuaca atau keseluruhan dari gejala cuaca di daerah tertentu sepanjang tahun atau keteraturan keadaan udara untuk periode yang lama. Menurut World Meteorological Organization, Warsawa, 1935, bahwa untuk menentukan iklim suatu daerah diperlukan data cuaca paling sedikit 30 tahun dan sebagai waktu standard dipakai tahun 1901-1930. Pengaruh iklim terhadap kehidupan di bumi ini (biosfer) sangatlah mendasar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh itu terutama disebabkan oleh keadaan unsur-unsur iklim di suatu daerah. Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang umum dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002). 2.2 KLASIFIKASI IKLIM Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi. Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat

(altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 4

dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian 2.3 FAKTOR FAKTOR PENGENDALI IKLIM 1. Matahari atau latitude Dalam geografi, garis lintang merupakan garis khayal yang digunakan untuk menentukan lokasi di Bumi terhadap garis khatulistiwa (utara atau selatan). Posisi lintang biasanya dinotasikan dengan simbol huruf Yunani . Posisi lintang merupakan penghitungan sudut dari 0 di khatulistiwa sampai ke +90 di kutub utara dan -90 di kutub selatan. Dalam bahasa Indonesia lintang di sebelah utara khatulistiwa diberi nama Lintang Utara (LU), demikian pula lintang di sebelah selatan khatulistiwa diberi nama Lintang Selatan (LS). Nama-nama ini tidak dijumpai dalam bahasa Inggris. Lintang Utara Lintang Selatan menyatakan besarnya sudut antara posisi lintang dengan garis Khatulistiwa. Garis Khatulistiwa sendiri adalah lintang 0 derajat. Setiap derajat lintang dibagi menjadi 60 menit (satu menit lintang mendekati satu mil laut atau 1852 meter, yang kemudian dibagi lagi menjadi 60 detik. Untuk keakurasian tinggi detik digunakan dengan pecahan desimal. Lintang yang cukup penting adalah Garis Balik Utara (2327 LU), Garis Balik Selatan (2327 LS), Lingkaran Arktik (6633 LU), dan Lingkaran Antarktik (6633 LS). Hanya antara kedua Garis Balik matahari dapat berada di zenith. Hanya di utara Lingkaran Arktik atau selatan Lingkaran Antarktik matahari tengah malam dapat terjadi. Perbedaan lintang akan menyebabkan perbedaan insolasi dan radiasi neto harian atau tahunan. Pada tanggal 21 Juni Insolasi harian maksimum terjadi pada lintang kira-kira 300 utara. Sebaliknya 22 Desember terjadi pada lintang 300 derajat selatan. Seangkan pada tanggal 21 Maret atau 23 September insolasi harian maksimum terjadi di equator. Pencapaian insolasi harian maksimum disebabkan adanya posisi surya berada di atas masing-masing lintang pada tanggal atau hari yang bersangkutan. Lamanya penyinaran matahari pada suatu tempat tergantung dari letak garis lintangnya. Semakin rendah letak garis lintangnya maka semakin lama daerah tersebut mendapatkan sinar matahari dan suhu udaranya semakin tinggi. Sebaliknya, semakin tinggi
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 5

letak garis lintang maka intensitas penyinaran matahari semakin kecil sehingga suhu udaranya semakin rendah. Indonesia yang terletak di daerah lintang rendah (6 LU 11 LS) mendapatkan penyinaran matahari relatif lebih lama sehingga suhu rata-rata hariannya cukup tinggi.

Untuk memahami bagaimana dinamika Bumi sebagai mesin cuaca bekerja, menjadi penting untuk memahami mengapa lintang yang berbeda menerima kuantitas yang berbeda dari energi matahari, mengapa kita mempunyai musim? Satu dari gerakan utama Bumi adalah rotasi, yaitu gerakan berputar dari Bumi pada sumbunya. Rotasi menghasilkan siklus harian dari siang dan malam. Satu rotasi memakan waktu 24 jam. Gerakan ke dua dari planet kita adalah revolusi, yaitu gerakan Bumi dalam orbitnya mengelilingi Matahari.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

2. Pusat Tekanan Rendah dan Tinggi Akibat bumi yang condong 23 garis balik utara 23 menyebabkan gerak semu matahari berkisar pada LS (tropic of

LU (tropic of cancer) dan garis balik selatan 23

Capricorn). Pergerakan semu matahari ini menyebabkan perbedaan intensitas isolasi untuk berbagai letak lintang. Pengaruh selanjutnya pada perbedaan suhu di berbagai letak lintang tersebut yang berakibat pada perbedaan tekanan udaranya. Sebab suhu mempunyai hubungan terbalik dengan tekanan udara, yaitu jika suhu udara tinggi maka tekanannya rendah, hal ini karena udara bersuhu tinggi akan naik dan berkembang. Perbedaan tekanan udara pada berbagai lintang dapat dikelompokkan, yaitu pada daerah lintang yang bertekanan rendah disebut sebagai pusat tekanan rendah dan daerah lintang yang bertekanan tinggi disebut disebut dengan pusat tekanan tinggi. Kondisi yang demikian menyebabkan dinamika udara, dimana udara bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Udara yang bergerak ini mempunyai arah pergerakan dipengaruhi oleh gaya coriolis, arah inilah yang selanjutnya mempengaruhi permusiman atau iklim wilayah. Sifat pusat tekanan rendah dan tekanan tinggi serta arah angin adalah semi permanen yang berubah secara periodik sebagaimana pergerakan semu matahari. Pusat-pusat tekanan rendah dan tekanan tinggi adalah sebagai berikut; a. Pusat tekanan rendah equator, yang terdapat di sekitar equator, kondisi ini disebabkan karena suhu tinggi yang berakibat pada naik dan berkembangnya massa udara sehingga tekanannya rendah, dan merupakan daerah doldrum (tenang). b. Pusat tekanan tinggi subtropik yang disebut daerah lintang kuda (horse latitude) karena adanya gerakan udara bagian atas (konvergensi) yang turun dan mengakibatkan penempatan massa udara sehingga tekanan udara menjadi lebih tinggi. Daerah lintang kuda berada pada garis lintang 30 LU/LS. c. Pusat tekanan rendah subpolar, karena efek termal yaitu semakin kea rah kutub suhunya semakin rendah dan tekanannya semakin tinggi, sehingga pada subpolar tekanan udaranya lebih rendah daripada di kutub. subpolar terletak pada garis lintang 60 LU/LS. d. Pusat tekanan tinggi kutub, karena efek termal maka tekanan di kutub lebih tinggi. Daerah pusat tekanan tinggi kutub berada pada garis lintang 90 LU/LS. Daerah pusat tekanan rendah

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

3. Arah Angin Angin merupakan udara yang bergerak horizontal dan gerakan udara tersebut merupakan gerakan udara relative terhadap permukaan bumi ( Prawirowardoyo, 1996). Angin adalah salah satu faktor yang paling bervariasi dalam membangkitkan arus. Selain itu juga angin berperan dalam pembangkitan gelombang laut. Sehingga kondisi fisik dari laut dapat kita pahami secara terintegrasi, baik yang berkaitan dengan sumber maupun faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Walaupun gerakan udara vertical sangat penting dalam pembentukan awan dan hujan, kecepetan pergerakan horizontal jauh lebih besar dan mempengaruhi iklim dan perubahan cuaca di suatu tempat, yang nantinya akan berguna bagi seluruh pihak, terutama pihak penerbangan. Perbedaan suhu menyebabkan perbedaan tekanan, dan tekan menyebabkan perbedaan gaya yang tibul di suatu daerah. Dalam hal ini daratan dan lautan menerima energi radiasi matahari, tetapi laju pemanasannya berbeda. Perbedaan ini tercermin dari suhu dan udaranya, udara pada suhu tinggi akan mengembang dan bergerak ke atas sehingga tekanan lebih rendah dari sekitarnya. Perbedaan ini yang menimbulkan gradien tekanan yang memicu terjadinya angin. Adapun fungsi angin yang terpenting : a. Memindahkan panas dari daerah lintang rendah ke lintang yang lebih tinggi, sehingga merupakan tenaga terpenting bagi keseimbangan panas antara lintang rendah dan lintang tinggi. b. Memberikan kepada massa daratan uap air atau kelembaban yang digunakan untuk memungkinkan jatuhnya hujan.

4. Gunng Penghalang (Mountain Barrier) Kondisi fisiografis wilayah Indonesia dan sekitarnya, seperti posisi lintang, ketinggian, pola angin (angin pasat dan monsun), sebaran bentang darat dan perairan, serta pegunungan atau gunung-gunung yang tinggi berpengaruh terhadap variasi dan tipe curah hujan di wilayah Indonesia. Berdasarkan pola umum terjadinya, terdapat 3 (tiga) tipe curah hujan, yakni: tipe ekuatorial, tipe monsun dan tipe lokal. Tipe ekuatorial proses terjadinya berhubungan dengan pergerakan zona konvergensi ke utara dan selatan, dicirikan oleh dua kali maksimum curah hujan bulanan dalam setahun, wilayah sebarannya adalah Sumatra dan
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 8

Kalimantan. Tipe monsun dipengaruhi oleh angin laut dalam skala yang sangat luas, tipe hujan ini dicirikan oleh adanya perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan kemarau dalam setahun, dan hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam setahun, wilayah sebarannya adalah di pulau Jawa, Bali dan Nusa tenggara. Tipe lokal dicirikan dengan besarnya pengaruh kondisi lingkungan fisis setempat, seperti bentang perairan atau lautan, pegunungan yang tinggi, serta pemanasan lokal yang intensif, pola ini hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam waktu satu tahun, dan terjadi beberapa bulan kering yang bertepatan dengan bertiupnya angin Muson Barat, sebarannya meliputi Papua, Maluku dan sebagian Sulawesi. Jumlah curah hujan juga dipengaruhi oleh arah datang angin, pada sisi pegunungan atau gunung yang menghadap arah datang angin lembab (windward side) curah hujannya tinggi dan pada sisi sebelahnya (leeward side) curah hujannya sangat rendah atau rendah. Pola curah hujan di Indonesia juga dipengaruhi oleh keberadaan deretan pegunungan. Pegunungan merupakan penghalang fisik bagi pergerakan angin. Hujan orografis akan terjadi jika udara lembab terdorong naik karena pergerakannya terhalang oleh keberadaan pegunungan, Curah hujan untuk sisi arah datang angin lembab (wind-ward side) akan tinggi dan pada sisi pegunungan disebelahnya (leeward) curah hujan akan sangat rendah. Nama gunung penghalang ini diberikan karena menghalangi angin yang bergarak membawa uap air yang akan menuju daerah sekitar, searah dengan arah angin tetapi dihalangi oleh gunung tersebut. Sehingga uap air yang dibawa oleh angin terhalang dan naik ke atas gunung dengan gaya adiabatik. Keberadaan gunung menjadi barrier atau penghalang yang memaksa angin bergerak menaiki gunung. Udara lembab yang dipaksa naik ini berakibat pada perubahan suhu dan kelembapan relatif yaitu suhu menjadi dingin karena gradien suhu vrtikal sehingga kelembapan relatif menjadi naik, sekalipun tanpa penambahan uap air. Kelembapan relatif yang semakin tinggi menyebabkan udara menjadi jenuh uap air dan terkondensasi menjadi titik-titik air yang kemudian turun sebagai hujan. Hujan yang demikian disebut hujan orografik.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

5. Massa Udara Udara yang menetap untuk waktu yang cukup lama di atas suatu bagian permukaan bumi, sifatnya cenderung menjadi ciri khas permukaan bumi itu, dimana permukaan bumi itu berada. Jika sifat permukaan tersebut kurang lebih sama untuk daerah yang luas, seperti bentangan samudra yang luas atau bentangan daratan yang luas, maka sifat udara diatas permukaan yang luas dan hampir seragam tu menjadi hampir seragam pula dalam bidang horisontal. Udara yang mempunyai sifat hampir seragam untuk daerah yang luas itu disebut massa udara. Sifat-sifat udara yang dimaksudkan itu terutama suhu dan kelembaban Massa udara dapat terbentuk jika udara itu diam atau bergerak untuk waktu yang lama diatas daerah yang luas yang memiliki sifat hampir seragam. Hal ini berarti daerah yang dikuasai oleh antisiklon yang bergerak lambat sebab biasanya antisiklon mempunyai daerah yang luas da berangin lemah.agar massa udara dapat terbentuk, angin lemah dan sifat permukaan yang seragam harus terdapat bersama-sama. Angin lemah ini yang dapat menjamin bahwa udara berada dalam suatu daerah cukup lama, sehingga mendekati keseimbangan dengan daerah itu. Berbagai sifat pokok daerah sumber yang menentukan sifat massa udara adalah suhunya dan apakah daerah tersebut berupa didaratan dan lautan. Sebagai petunjuk mengenai suhunya, daerah sumber digolongkan menurut jalur lintang yaitu equator, tropika, dan artic (antartika), dan sifat permukaannya ditunjukkan sebagai benua atau lautan. Berdasaran kelompok daerah sumber itu, massa udara dugolongkan sebagai berikut:

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

10

a. Massa udara artika................................A b. Massa udara kutub maritim.................mP (maritim Polar) c. Massa Udara Tropika maritim............mT (maritim tropikal) d. Massa udara kutub kontinental.............cP (continental Polar) e. Massa udara tropika kontinental.........cT (continental tropikal) f. Massa udara equator........................E Berdasarkan suhu udara di bawah massa udara itu suatu massa ada yang lebih panas (W) dan ada yang lebih dingin (K). Massa udara (W) mengalami pendinginan bagian bawah dan massa udara (K). Mengalami pemanasan bagian bawah. Oleh sebab itumassa udara (W) merupakan massa udara stabi, dan massa udar (K) merupkan massa udara tidak stabil. Perubahan stabilitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh alih panas antara massa udara dan permuaan di bawahnya, tetapi juga dipengaruhi oleh kenaikan dan penurunan arus udara. Udara naik dan turun akibat konvergensi dan divergensi akan mempengaruhi stabilitas massa udara. Udara yang turun menjadi lebih stabil dan udara yang naik disertai kecuraman gradien suhu vertikal akan cederug labil. 6. Arus laut Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air. Gerakan tersebut merupakan resultan dari beberapa gaya yang bekerja dan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping). Contoh-contoh gerakan itu seperti gaya coriolis, yaitu gaya yang membelok arah arus dari tenaga rotasi bumi. Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mangarah ke kiri di belahan bumi selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman (Pond dan Pickard, 1983).

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

11

Gambar. 1 Ketika berbicara tentang air, kita juga akan mengacu pada gerakan atau arus air. Arus ditemukan di sungai, kolam, rawa-rawa dan bahkan kolam renang. Arus laut adalah arus yang memiliki sistem yang rumit. Pada dasarnya, arus laut diakibatkan oleh gerakan udara di atas permukaan air laut. Selain itu, dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, salah satunya adalah rotasi bumi yang menyebabkan pembelokan arah arus laut (gaya coriolis). Menurut letaknya, arus dibedakan menjadi dua, yaitu arus atas dan arus bawah permukaan laut. Jika menurut suhunya, kita mengenal adanya arus panas dan arus dingin. Sedangkan berdasarkan penyebab terjadinya, arus terdiri dari: arus ekman, arus termohaline, arus pasut, arus geostropik, dan Wind Driven Current. Arus laut sangat mempengaruhi iklim di dunia. Arus laut yang dingin akan menurunkan suhu udara di daratan, sedangkan arus laut panas akan menaikan suhu udara di daratan. El Nino dan La Lina juga berkaitan dengan adanya arus laut. Kedua fenomena tersebut membawa dampak positif dan negatif terhadap lingkungan. Program pemantauan laut Indonesia semakin digencarkan agar kita mampu memprediksi kehadiran El Nino dan La Nina untuk 12 bulan sampai 24 bulan ke depan. Ini penting karena menyangkut gagal panen atau panen raya, perlu atau tidak impor beras, kekeringan atau kebanjiran, menyangkut kebakaran hutan dan sebaran asap yang bisa meningkatkan penyakit pernapasan, serta mengganggu negara tetangga. 7. Badai Badai merupakan angin yang bergerak sangat cepat bisa > 100 km/jam dan pada isobar yang lurus angin ini bergerak secara horizontal, tetapi pada isobar yang melengkung angin ini merupakan angin sikolonal yang bergerak melingkar. Namun ada sumber lain mengatakan bahwa badai adalah cuaca yang ekstrem, mulai dari hujan es dan badai salju
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 12

sampai badai pasir dan debu . Badai disebut juga siklon tropis oleh meteorolog, berasal dari samudera yang hangat. Badai bergerak di atas laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Badai bukan angin ribut biasa. Kekuatan anginnya dapat mencabut pohon besar dari akarnya, meruntuhkan jembatan, dan menerbangkan atap bangunan dengan mudah. Tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang.Terdapat berbagai macam badai, seperti badai hujan, badai guntur, dan badai salju. Badai paling merusak adalah badai topan (hurricane), yang dikenal sebagai angin siklon (cyclone) di Samudera Hindia atau topan (typhoon) di Samudera Pasifik. Wilayah Indonesia pada tahun 2007 terjadi badai lokal (angin kencang) dan angin siklonal yang disebut angin putting beliung atau lesus, tetapi bukan badai tropis. Badai tropis yang siklonal dapat mempercepat proses terjadinya hujan (rain) ataupun hujan es (hail). Adanya badai tropis menunjukkan cuaca buruk, selain angin yang kencang disertai hujan lebat. Alat pendeteksi badai adalah X-Net. Cara kerjanya cukup mudah dengan menempatkan sistem radal model Doppler yang dipasang dilima titik dsegala penjuru kota tokyo,radar Doppler tersebut disambungkan untuk memantau pergerakan angin lewat monitor,setelah itu radar utama X-Net akan bekerja dengan melihat serta mengontrol kadar udara,lalu mengukur kecepatan angin melalui kecepatan angin melalui perubahan awan yang berubah terus menerus.alat ini mampu bekerja dengan mendeteksi kehadiran angin dalam jarak radius 60-80 km,sehingga jika angin tersebut berpotensi membahayakan maka dengan cepat radar akan mengirim sinyal,sehingga kedatangan angin topan dan badai bisa segera diantisipasi. Klasifikasi iklim 1. Iklim Matahari Iklim Matahari merupakan metode klasifikasi iklim berdasarkan banyaknya radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di beberapa tempat. Oleh karena posisi bumi terhadap matahari mempunyai kemiringan 23 1/2o maka selama berevolusi terjadi perubahan posisi matahari terhadap bumi. Perubahan posisi ini merupakan gerakan semu matahari. Daerahyang berada pada lintasan gerak semu matahari yaitu antara 23 LU - 23 LS mendapatkan radiasi matahari dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan daerah dengan lintang lebih tinggi.Pembagian iklim matahari adalah sebagai berikut:

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

13

a. Iklim Tropik (23 LU - 23 LS) Iklim tropik mempunyai ciri adanya suhu yang selalu tinggi sepanjang tahun dengan amplitudo suhu tahunan rendah, sehingga permusiman didasarkan pada curah hujan. Curah hujan sangat tinggi dengan tipe hujan konvergen dan konvektif. b. Iklim Sub Tropik (23 LU - 40LU dan 23 LS- 40LS) Iklim sub tropik mempunyai ciri amplitudo suhu tahunan yang lebih besar daripada iklim tropik tetapi dengan curah hujan yang kecil sebab terjadi pergerakan angin divergen dan konvergensi. Pada musim dingin curah hujan tinggi sedangkan pada musim panas sangat kering. c. Iklim Sedang (40LU- 66 LU dan 40LS - 66 LS) Iklim sedang mempunyai ciri adanya amplitudo suhu tahunan yang lebih besar, sehingga pada aerah iklim sedang terdapat permusiman berdasarkan perbedaan suhu yaitu musim panas, musim gugur, musim semi dan musim dingin. Terjadi pergerakan massa udara konvergensi sehingga terjadi hujan yang cukup banyak. d. Iklim Kutub (66 LU - 90LU dan 66 LS - 90LS) Iklim kutub bercirikan suhu udara yang sangat dingin sepanjang tahun dengan musim panas pendek sebab sudut datang radiasi matahari sangat rendah. Suhu rata-rata tahunan mencapai -17C.

2. IklimFisis Dasar pembagian iklim fisis adalah kondisi fisik atau alam yang mempengaruhi iklim di daerah tertentu. Kondisi fisik yang dimaksud adalah topografi, arus laut, dan jarak suatu daratan terhadap laut. 3.Iklim Junghuhn Junghuhn melakukan klasifikasi iklim di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat dihubungkan dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan. Junghuhn membagi iklim menjadi empat zone/daerah iklim, yaitu: a. Zone Panas, daerah yang berada pada ketinggian 0 600 m dpl. Suhu udara ratarata di atas 22C. Tanaman budidaya yang cocok antara lain tembakau, kelapa, padi, jagung.
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 14

b. Zone Sedang, ketinggian antara 600 1500 m dpl. Suhu udara antara 22C - 17C. Tanaman budidaya yang tumbuh antara lain tembakau, padi, kopi, teh, coklat, sayur-sayuran. c. Zone Sejuk, ketinggian antara 1500-2500 m dpl. Suhu udara antara 17-11C. Tanaman budidaya yang tumbuh antara lain kina, kopi, teh, sayur-sayuran,pinus. d. Zone Dingin, ketinggian 2500 m dpl ke atas. Suhu udara di bawah 11C dan tidak ada tanaman budidaya yang tumbuh.

4.

Sistem Klasifikasi Koppen Wladimir Koppen (1846-1940) membuat klasifikasi iklim berdasarkan perbedaan

temperatur dan curah hujan rata-rata bulanan dan tahunan. Koppen memperkenalkan lima kelompok utama iklim di muka bumi yang didasarkanpadaprinsip kelompokvegetasi. Kelima kelompok iklim ini dilambangkan dengan lima huruf besar dimana tipe iklim A adalah tipe iklim hujan tropik (tropical rainy climates), iklim B adalah tipe iklim kering (dry climates), iklim C adalah tipe iklim hujan suhu sedang (warm temperate rainy climates), iklim D adalah tipe iklim hutan bersalju dingin (cold snowy forest climates) dan iklim E adalah tipe iklim kutub (polar climates) (Safii, 1995). Indonesia memiliki iklim tipe A yang merupakan iklim hujan tropis tanpa musim dingin. Iklim A mempunyai suhu bulan terdingin > 18C (16,44F) dengan suhu bulanan < 18C tanaman tropis tertentu yang peka tidak dapat hidup, jadi wilayah iklim ini merupakan kawasan tanaman megaterm yang memerlukan suhu yang tinggi secara terus-menerus dan hujan melimpah. Kelompok iklim A, yaitu: a. Af (iklim basah tropis), f: curah hujan pada bulan paling kering 60mm (2,4 inch). Iklim ini terdapat variasi musiman suhu minimum dan hujan yang tetap tinggi sepanjang tahun. b. Aw (iklim tropis, basah dan kering), w: musim kering yang jelas dalam periode musim dingin. Irama curah hujan musiman yang jelas, sekurang-kurangnya satu bulan <60 mm (2.4 inch). Suhu sama dengan Af. c. Am (muson) musim kering singkat, Am adalah tipe iklim antara Af dan Aw, menyerupai Af dalam jumlah hujan dan Aw dalam distribusi musiman. Curah hujan pada Aw dan Am bulan terkering <60mm.Iklim Am menunjukkan iklim tropis dimana jumlah curah hujan <60 mm selama satu bulan atau lebih tetapi
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 15

pada bulan-bulan lainnya jumlah curah hujannya besar. Dengan keadaan seperti ini diduga bahwa tanaman tidak dipengaruhi oleh kekeringan untuk sementara waktu. 5. Sistem Klasifikasi Thornthwaite C.W. Thornthwaite (1933) membuat klasifikasi iklim berdasarkan pada curah hujan yang sangat penting untuk tanaman dan intensitas penguapan. Perhitungan ratio keefektifan curah hujan (precipitation effectiveness) atau ratio P-E, sebagai jumlah curah hujan bulanan dibagi dengan jumlah penguapan bulanan. Jumlah 12 bulan ratio P-E disebut indeks P-E. Rumus: Ratio P-E = 115 [ P/T-10]10/9 Indeks P-E = P=Presipitasi bulanan dalam inch T=Suhu bulanan rata-rata dalam [ Pi/Ti -10]10/9

Tabel: Golongan Kelembaban menurut Thornthwaite Golongan Kelembaban 2. 3. 4. 5. 6. Basah Lembab Sub Humid Semi arid Arid Keefektifitasan Tanaman Hutan hujan Hutan Padang rumput Steppa Gurun 128 64-127 32-63 16-31 <16 Indeks P-E

Selain itu Thornthwaite mengemukakan adanya efisiensi panas dengan menggunakan Rumus: Ratio T-E = [T-32]/4 Indeks T-E = [Ti -32]/4}

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

16

Tabel: Golongan Suhu menurut Thornthwaite Golongan Suhu A = Tropis B = Mesothermal C = Microthermal D = Taiga E = Tundra F = Salju abadi Indeks T-E 128 64-127 31-63 16-31 1-15 0

Masing-masing golongan kelembaban dan golongan suhu dikonfirmasikan dengan penyebaran curah hujan musiman. Penyebaran curah hujan musiman dibedakan: r = curah hujan banyak pada setiap musim s = defisit curah hujan pada musim panas w = defisit curah hujan pada musim dingin d = defisit curah hujan pada setiap musim

7. Sistem Klasifikasi Mohr Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan >100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan dalam satu bulan berkisar antara 100 60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan. Berdasarkan kriteria tersebut maka dicari bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering setiap tahun, sehingga dikemukakan 5 golongan iklim, yaitu: Golongan I : daerah basah, yang hampir tidak terdapat bulan kering Golongan II : daerah agak basah, yaitu daerah dengan bulan kering 1-2 bulan Golongan III : daerah agak kering, yaitu daerah dengan bulan kering 3-4 bulan Golongan IV: daerah kering, dengan 5-6 bulan kering Golongan V : daerah sangat kering, yaitu terdapat >6bulan kering.

8.

Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000)

penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 17

bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah dalam klasifikasian iklim SchmidtFerguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan dengan banyaknya tahun pengamatan (Safii, 1995). Schmidt dan Ferguson (1951) membagi tipe-tipe iklim dan jenis vegetasi yang tumbuh pada daerah dengan tipe iklim tersebut adalah sebagai berikut; tipe iklim A (sangat basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim B (basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim C (agak basah) jenis vegetasinya adalah hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau, tipe iklim D (sedang) jenis vegetasi adalah hutan musim, tipe iklim E (agak kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim F (kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim G (sangat kering) jenis vegetasinya padang ilalang dan tipe iklim H (ekstrim kering) jenis vegetasinya adalah padang ilalang.

9.

Iklim Oldeman Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan

air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.Oldeman, et al (1980) mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm. Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004). Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu zone A, zone B, zone C, zone
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 18

D dan zone E sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkana angka yaitu sub 1, sub 2, sub 3 sub 4 dan sub 5. Zone A dapat ditanami padi terus menerus sepanjang tahun. Zone B hanya dapat ditanami padi 2 periode dalam setahun. Zone C, dapat ditanami padi 2 kali panen dalam setahun, dimana penanaman padi yang jatuh saat curah hujan di bawah 200 mm per bulan dilakukan dengan sistem gogo rancah. Zone D, hanya dapat ditanami padi satu kali masa tanam. Zone E, penanaman padi tidak dianjurkan tanpa adanya irigasi yang baik. (Oldeman, et al., 1980)

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

19

Tabel Klasifikasi iklim menurut Oldeman

DISCOMFORT INDEX (INDEKS KETIDAKNYAMANAN HIDUP) Discomfort Index (DI) merupakan indikasi kenyamanan hidup manusia (human comfort) berdasarkan parameter cuaca dikembangkan untuk mengevaluasi kondisi cuaca sehubungan dengan kenyamanan atau ketidaknyamanan hidup manusia. Kriteria yang digunakan adalah sensasi suhu udara terhadap tubuh manusia. Formulasi discomfort index yang digunakan adalah:

T = suhu udara (oF); rh = kelembapan relatif (%); DI = Discomfort Index

Bila nilai DI < 70 berarti nyaman (comfortoble), bila DI = 75 berarti mulai menunjukkan tidak nyaman, bila DI > 80 berarti acute discomfort atau sangat tidak nyaman.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

20

BAB III PEMBAHASAN PEMBAHASAN I (KOTA BLITAR) 3.1 Kondisi Geografis Kota Blitar Kota Blitar merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak diujung selatan Jawa Timur dengan ketnggian 156 m dari permukaan air laut, pada koordinat 112 14 - 112 28 Bujur Timur dan 8 2 - 8 10 Lintang Selatan, memiliki suhu udara cukup sejuk rata-rata 24 C- 34 C karena Kota Blitar berada di kaki Gunung Kelud dan dengan jarak 160 Km arah tenggara dari Ibukota Propinsi Surabaya. Ketinggian Dari Permukaan Laut Rata-rata ketinggian Kota Blitar dari permukaan air laut sekitar 156 m. Ketinggian dibagian Utara sekitar 245 m dengan tingkat kemiringan 2 sampai 15, bagian tengah 175 m dan bagian Selatan 140 m dari permukaan air laut dengan tingkat kemiringan 0 sampai 2. Dilihat dari Topografi wilayah Kota Blitar masih termasuk dataran rendah. Satu-satunya sungai yang mengalir di Kota Blitar adalah sungai Lahar dengan panjang 7,84 km. Sungai tersebut bermuara di gunung Kelud menuju ke sungai Brantas. Keadaan tanah di Kota Blitar berupa tanah Regusol dan Litusol. Jenis tanah Regusol berasal dari gunung Kelud (Vulkan) sedang jenis tanah Litusol mempunyai konsistensi gembur, korositas tinggi dan tahan terhadap erosi.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

21

3.2 DATA SUHU DAN CURAH HUJAN KOTA BLITAR

Tabel 1: Data Suhu Kabupaten Blitar Bulan Tahun 2004 Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus 27,39 27,01 29,19 27,63 23,76 23,27 23,25 24,47 2005 26.56 27,96 28,20 27,63 28,01 28,93 27,66 23,66 26,21 25,74 27.09 25,50 323,15 2006 27,06 26,59 27,14 25,08 26,06 24,43 23,75 24,49 26,30 27,96 26,83 24,92 310,61 2007 25,81 23,39 26,77 29,03 26,92 27,78 24,75 25,01 26,63 27,19 28,15 25,66 317,09 2008 28,81 29,69 26,99 29,03 27,00 26,23 25,90 25,85 26,23 26,19 25,93 26,56 324,41 135,63 134,64 138,29 138,4 131,75 130,64 125,31 123,48 131,39 134,34 136,16 130,08 1590,11 Jumlah Ratarata 27,13 26,93 27,66 27,68 26,35 26,13 25,06 24,69 26,28 26,87 27,23 26,02 318,02

September 26,02 Oktober November Desember Jumlah 27,26 28,16 27,44 314,85

Sumber: bappeda kabupaten blitar

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

22

Tabel 2: Data Curah Hujan Kabupaten Blitar Bulan Tahun 2004 2005 Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus 239 313 157 110 74 0 0 0 283 203 274 171 0 27 214 10 8 180 88 575,5 2006 2007 347 139 225 190 48 0 0 0 0 0 43 206 55 279 402 283,5 166 86 25 0 0 99 237 510 2008 127 217 270,5 110 15 5 0 0 0 77 141 181 1051 1151 1328,5 864,5 303 118 239 10 26 367 722 1887,5 Jumlah Ratarata (mm) 210,2 230,2 265,7 172,9 60,6 23,6 47,8 2 5,2 73,4 144,4 377,5 Ratarata (inch) 8,27 9,06 10,46 6,81 2,39 0,93 1,88 0,08 0,20 2,89 5,68 14,86

September 18 Oktober November Desember Jumlah BB (Mohr) BK (Mohr) BL (Mohr) BB (Old)* BK (Old)** 4 6 1 5 11 213 415

1550 2033,5 1225 2142,5 1143,5 8094,5 6 7 5 6 6 30

1618,9 63,50 6

25

4 2

2 7

3 5

2 6

3 5,2

*= bulan basah berurutan klasifikasi Oldeman **= bulan kering beurutan klasifikasi Oldeman

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

23

3.3 KLASIFIKASI IKLIM KABUPATEN BLITAR 1. IKLIM MATAHARI Secara geografis Kabupaten Blitar terletak antara 758 - 8951LS. Daerah ini berada di antara 23 LU - 23 LS maka berdasarkan iklim matahari, Kabupaten Blitar memiliki tipe Iklim Tropik. Iklim tropik mempunyai ciri dan suhu yang selalu tinggi sepanjang tahun. Amplitudo suhu tahunan kecil, sehingga permusiman berdasarkan perbedaan suhu tidak ada, tetapi yang ada permusiman berdasarkan perbedaan curah hujan. Pada daerah tropik terdapat jalur tekanan rendah equator yang disebut juga sebagai daerah doldrum. Daerah tropik juga merupakan daerah pertemuan angin yang berasal dari daerah lintang kuda di utara (angin pasat timur laut) dan selatan equator (angin pasat tenggara) yang disebut daerah konvergensi intertropik (ITC = Intertropic Convergen Zone). Curah hujan relatif tinggi dengan tipe hujan konvergen dan konvektif.

Gambar iklim matahari

2.

IKLIM JUNGHUHN Kabupaten Blitar mempunyai ketinggian kurang lebih 167 meter diatas permukaan

laut dengan suhu rata-rata diatas 22C. menurut klasifikasi iklim berdasarkan Junghuhn maka daerah ini termasuk Zona Panas. Oleh karena itu tanaman yang banyak dibudidayakan di blitar adalah tanaman padi, jagung dan tebu. Hal ini sesuai dengan klasifikasi iklim jung

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

24

Gambar 1: klasifikasi iklim Junghuhn 3. IKLIM KPPEN

Berdasarkan data suhu dan curah hujan Kabupaten Blitar dapat diketahui -Suhu bulan terdingin 24,69C, daerah ini termasuk tipe iklim A. -Curah Hujan pada Bulan Terkering 2 mm Batas antara Am dan Aw

w Berdasarkan perhitungan diatas menurut klasifikasi iklim Koppen maka Kabupaten Blitar termasuk dalam tipe iklim Aw.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

25

4.

IKLIM THORNTHWAITE Tabel 3: Perhitungan Ratio P-E dan T-E untuk tipe iklim Thornthwaite Bulan Suhu (F) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus 79,40 80,46 81,78 81,82 80,10 79,68 77,83 76,38 CH (inch) 8,41 9,21 10,63 6,04 2,42 0,94 1,91 0,08 0,21 2,94 5,78 15,39 Ratio P- Ratio TE 14,85 16,16 18,56 9,89 3,69 1,30 2,94 0,09 0,25 4,54 9,54 29,34 111,15 E 11,81 12,11 12,45 12,46 12,02 11,92 11,56 11,09 11,83 12,09 12,25 11,71 143,24

September 79,30 Oktober November Desember Jumlah 80,36 81,02 78,83

Sumber: bappeda kabupaten blitar

Berdasarkan tabel perhitungan ratio P-E dan T-E dapat diketahui o Indeks P-E = 111,15. Termasuk golongan B yakni daerah lembab dengan keefektifan tanaman berupa hutan. o Indeks T-E = 143,24. Termasuk golongan suhu A = tropis. Menurut Thornthwaite, Kabupaten Blitar memiliki tipe iklim BAw termasuk daerah tropis lembab dengan keefektifan tanaman berupa hutan dan defisit curah hujan terjadi pada musim dingin.

5.

IKLIM MOHR

Klasifikasi iklim menurut Mohr bahwa Kabupaten Blitar termasuk Golongan III (daerah agak kering) karena memiliki 3-4 bulan kering.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

26

6.

IKLIM SCHMIDT DAN FERGUSON

Harga quotient Q = 83,33% termasuk tipe iklim D, memiliki iklim sedang dengan vegetasi hutan musim

12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 H G F E D
33.3% 167% 700%

300%

100%

83,33%
60%

C B A 8 9 10 11 12
14.3%

Gambar 3: Diagram Iklim Schmidt-Ferguson

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

27

10.

IKLIM OLDEMAN D 3

Rata-rata bulan basah berurutan = 3 Rata-rata bulan kering berurutan = 5,2

Menurut klasifikasi iklim menurut Oldeman, Kabupaten Blitar termasuk dalam tipe iklim D3 dengan interpretasi agroklimat lahan pertanian yaitu satu kali panenan tanaman padi dan satu kali panenan tanaman pangan sekunder dalam satu tahun.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

28

PEMBAHSAN II (THAILAND) Deskipsi Negara Thailand

A. SEJARAH Kebudayaan Masa Perunggu diduga dimulai sejak 5600 tahun yang lalu di Thailand (Siam). Kemudian, datang berbagai imigran antara lain suku bangsa Mon, Khmer dan Thai. Salah satu kerajaan besar yang berpusat di Palembang, Sriwijaya, pernah berkuasa sampai ke negeri ini, dan banyak peninggalannya yang masih ada di Thailand. Bahkan, seni kerajinan di Palembang dengan Thailand banyak yang mirip. Thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, Kerajaan Sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kebudayaan Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun meskipun mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya negara
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 29

di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa, meski pengaruh Barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang Britania. Sebuah revolusi tak berdarah pada tahun 1932 menyebabkan dimulainya monarki konstitusional. Sebelumnya dikenal dengan nama Siam, negara ini mengganti namanya menjadi Thailand pada tahun 1939 dan untuk seterusnya, setelah pernah sekali mengganti kembali ke nama lamanya pasca-Perang Dunia II. Pada perang tersebut, Thailand bersekutu dengan Jepang; tetapi saat Perang Dunia II berakhir, Thailand menjadi sekutu Amerika Serikat. Beberapa kudeta terjadi dalam tahun-tahun setelah berakhirnya perang, namun Thailand mulai bergerak ke arah demokrasi sejak tahun 1980-an. Kalender Thailand didasarkan pada Tahun Buddha, yang lebih cepat 543 tahun dibandingkan kalender Barat. Tahun 2000 Masehi sama dengan tahun 2543 dalam kalender Thailand. Pada 26 Desember 2004, pesisir barat Thailand diterjang tsunami setinggi 10 meter setelah terjadinya gempa bumi Samudra Hindia 2004, menewaskan 5.000 orang di Thailand, dan setengahnya merupakan wisatawan. Pada awal 2005 terjadi sebuah tragedi di Thailand Selatan yang mempunyai populasi dengan mayoritas Muslim. Sekitar 70 orang terbunuh akibat kekerasan yang dilakukan oleh rezim Shinawatra. Banyak negara yang mengecam keras tragedi ini. Namun dalam pemilihan kepala pemerintahan, Thaksin Shinawatra kembali memerintah negara ini untuk empat tahun berikutnya. B. LETAK Thailand, sebuah negara yang terletak di bagian timur selatan dari Asia, terletak di antara 15 00' North latitude and 100 00' East longitude.. Thailand ibukota Bangkok memiliki garis lintang dan membaca longitudinal yang bervariasi dari negara itu sendiri. Lintang dan bujur Bangkok adalah 13 45 'Utara dan 100 31' Bujur Timur, masing-masing. Karena lokasi di lintang dan bujur tertentu, Thailand Waktu Standar berjalan ke depan dengan tujuh jam dari Greenwich Mean Time. Thailand berbatasan dengan Laos dan Myanmar di sebelah utara, dengan Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dengan Myanmar dan Laut Timur di barat dan dengan Laos dan Kamboja di timur. Negara ini memiliki luas 513.115 km2 sehingga merupakan Negara ketiga besarnya di Asia Tenggara. Panjang dari Negara ini 1.609 km dan lebarnya 805 km.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

30

C. UKURAN DAN BENTUK Thailand merupakan Negara kedua terbesar di benua dan daratan Asia Tenggara. Luas Thailand sekitar 515.902 persegi km (198.500 persegi mil). Panjang Thailand 1.609 km (1.000 mil) dan lebarnya 805 km (500 mil).

D. BENTANG ALAM Wilayah Thailand memiliki karakter geografis yang beragam. Bagian utara merupakan wilayah bergunung-gunung, bagian timur berupa dataran tinggi (Plato Khorat), bagian tengah sebagian besar berupa dataran rendah, bagian tenggara berupa lembah dan perbukitan, dan sebelah selatan berupa dataran sempit (Tanah Genting Kra) yang melebar hingga Semenanjung Malaysia. 1. Daerah pegunungan utara Pegunungan di bagian utara dan barat secara geomorfologi merupakan kelanjutan Pegunungan Myanmar. Ketinggian rata-rata 1.000 2.000 meter. Puncak tertingginya adalah Gunung Doi Inthanon ( 2.595 m), juga merupakan titik tertinggi di Thailand. Puncak-puncak lainnya adalah Gunung Doi Angka ( 2.581 m) dan Chieng Dao ( 2.482 m). 2. Plato Khorat Plato Khorat terhampar di bagian timur Thailand, dengan ketinggian bervariasi. Plato tersebut berupa pegunungan kapur tandus dengan irigasi yang kurang baik. Hamparan plato dibatasi oleh Sungai Mekong di sebelah timur. 3. Dataran rendah bagian tengah Dataran rendah di wilayah tengah Thailand merupakan lembah sungai Chao Phraya. Wilayah ini sangat subur, karena dialiri oleh Sungai Chao Phraya dan beberapa anak sungainya (Sungai Puig, Wang, Yom, dan Nan) yang bermuara ke Teluk Thailand. Dataran rendah Chao Phraya merupakan daerah pertanian yang sangat penting bagi Thailand. Di tepi Sungai Chao Phraya berdiri dua kota penting, yaitu Bangkok dan Thonburi. 4. Lembah dan perbukitan tenggara Lembah dan perbukitan di bagian tenggara ini merupakan kelanjutan dari sistem Pegunungan Kamboja yang disebut Pegunungan Kardamon. Di wilayah itu terdapat dua buah bukit, yaitu Khao Kampeng dan Dangrek. Puncak tertingginya adalah Gunung Khao Soi Dhao ( 1.000 m). 5. Tanah Genting Kra. Bagian selatan Thailand adalah bagian dari Semenanjung Malaysia, berupa dataran sempit antara Laut Andaman dan Teluk Siam. Daerah paling sempit di wilayah ini disebut Tanah Genting Kra, yang semakin melebar ke Semenanjung
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 31

Malaysia. Di wilayah ini terdapat beberapa aliran sungai penting, yaitu Sungai Mekong, Mae Klong, Chao Phraya, dan NamMun. E. DRAINASE Sistem drainase terkait erat dengan objek-objek fisik dan sistem drainase ini mengikuti arah dataran tinggi. Sistem drainase yang paling penting dan sungai terbesar adalah Menam Chao Phraya. Di dataran tinggi Korat, sungai mengalir ke timur ke Mekong. Di semenanjung Thailand, sungainya pendek dan deras mengikuti dataran pesisir. Di wilayah pegunungan barat, sungai cenderung mengikuti bukit pegunungan. F. KEADAAN ALAM Secara geografis, Thailand terbagi enam: perbukitan di utara di mana gajah-gajah bekerja di hutan dan udara musim dinginnya cukup baik untuk tanaman seperti strawberry dan peach; plateau luas di timur laut berbatasan dengan Sungai Mekong; dataran tengah yang sangat subur; daerah pantai di timur dengan resor-resor musim panas di atas hamparan pasir putih; pegunungan dan lembah di barat; serta daerah selatan yang sangat cantik. Thailand merupakan tempat terletaknya beberapa wilayah geografis yang berbeda. Di sebelah utara, keadaannya bergunung-gunung, dan titik tertingginya berada di Doi Inthanon (2.576 m). Sebelah timur laut terdiri dari Hamparan Khorat, yang dibatasi di timur oleh sungai Mekong. Wilayah tengah negara didominasi lembah sungai Chao Phraya yang hampir seluruhnya datar, dan mengalir ke Teluk Thailand. Di sebelah selatan terdapat Tanah Genting Kra yang melebar ke Semenanjung Melayu. Cuaca setempat adalah tropis dan bercirikan monsun. Ada monsun hujan, hangat dan berawan dari sebelah barat daya antara pertengahan Mei dan September, serta monsun yang kering dan sejuk dari sebelah timur laut dari November hingga pertengahan Maret. Tanah genting di sebelah selatan selalu panas dan lembab. Kota-kota besar selain ibu kota Bangkok termasuk Nakhon Ratchasima, Nak.hon Sawan, Chiang Mai, dan Songkhla. Thailand memiliki iklim tropis yang ramah, dengan musim semi dari Maret sampai Mei, musim hujan - namun tetap banyak matahari - di Juni sampai September, dan musim dingin dari Oktober sampai Februari. Rata-rata suhu tahunan adalah 28 derajat C.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

32

G. PEREKONOMIAN

1. Pertanian (agrikultur) Hasil pertanian yang utama di Thailand Beras, singkong (tapioca), karet, jagung, tebu, kelapa, kacang kedelai 2. Pertambangan Hasil pertambangan meliputi timah (hasil pertambangan utama), tembaga, minyak dan gas, bijih besi, emas, timbal, dan wolfram. 3. Industri Industri yang dikembangkan masih bersifat industri pengolahan hasil alam, seperti pengolahan beras, pengolahan karet mentah, pemintalan benang, tekstil, semen, dan berbagai produk olahan minyak bumi. Saat ini mulai berkembang industri perakitan komponen elektronika dan otomotif. 4. Pariwisata Pemerintah Thailand menggabungkan konsep wisata alam dan wisata budaya. Salah satu objek wisata alam yang terkenal adalah Pantai Pattaya di Teluk Siam dan panorama indah pegunungan di Chiang Mai (Pegunungan Utara). Wisata budaya berupa bangunan-bangunan sejarah atau tarian khas Thailand.

H. SOSIAL BUDAYA Populasi Thailand didominasi etnis Thai dan Lao, yang berjumlah 3/4 dari seluruh penduduk. Selain itu juga terdapat komunitas besar etnis Tionghoa yang secara sejarah memegang peranan yang besar dalam bidang ekonomi. Etnis lainnya termasuk etnis Melayu di selatan, Mon, Khmer dan berbagai suku orang bukit. Buddha Theravada adalah agama yang dianut lebih dari 90% penduduk Thai yang religius. Thailand juga sangat mendukung kebebasan beragama, dan terdapat umat Muslim, Kristen, Hindu dan Sikh yang bebas menganut agamanya di Thailand. Bahasa Thailand merupakan bahasa nasional Thailand, yang ditulis menggunakan aksaranya sendiri, tetapi ada banyak juga bahasa daerah lainnya. Bahasa Inggris juga diajarkan secara luas di sekolah. Meskipun bahasa Thai hampir tak dapat dimengerti oleh wisatawan, namun bahasa Inggris dipahami luas di tempat-tempat utama seperti Bangkok, dan juga menjadi bahasa bisnis resmi di sana. Nama-nama jalan menggunakan bahasa Inggris di bawah bahasa Thai.
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 33

Muay Thai, sejenis kickboxing ala Thailand, adalah olahraga nasional di Thailand dan merupakan seni beladiri setempat. Popularitasnya memuncak di seluruh dunia pada tahun 1990-an. Ada pula seni beladiri yang mirip dengan muay Thai di negara-negara lain di Asia Tenggara. Ucapan penyambutan yang umum di Thailand adalah isyarat bernama wai, yang gerakannya mirip dengan gerakan sembahyang. Hal-hal yang tabu dilakukan di antaranya menyentuh kepala seseorang dan menunjuk dengan kaki, karena kepala dan kaki masingmasing merupakan bagian tubuh yang paling atas dan bawah.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

34

ANALISIS DATA SUHU DAN CURAH HUJAN NEGARA THAILAND TAHUN 1840-1990

DATA RATA-RATA CURAH HUJAN DAN SUHU THAILAND TAHUN 1840-1990 CURAH HUJAN BULAN Mm inches Januari 10.6 0.4 Februari 28.2 1.1 Maret 30.7 1.2 April 71.8 2.8 Mei 189.4 7.5 Juni 151.7 6 Juli 158.2 6.2 Agustus 187 7.4 September 319.9 12.6 Oktober 230.8 9.1 November 57.3 2.3 Desember 0.4 9.4 Tahun 1445 SUHU BULAN C januari 25.9 februari 27.6 maret 29.2 april 30.1 Mei 29.6 Juni 29 Juli 28.5 Agustus 28.4 september 28.1 Oktober 27.7 november 26.8 desember 25.6 336.5 28

F 78.6 81.7 84.6 86.2 85.3 84.2 83.3 83.1 82.6 81.9 80.2 77.9 989.6 82

57 Tahun

1.

IKLIM MATAHARI

Yaitu iklim yang didasarkan atas perbedaan panas matahari yang diterima permukaan bumi. Daerah-daerah yang berada pada lintang tinggi lebih sedikit memperoleh sinar matahari, sedangkan daerah yang terletak pada lintang rendah lebih banyak menerima sinar
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 35

matahari, berdasarkan iklim matahari terbagi menjadi: iklim tropik; iklim sub tropik; iklim sedang dan iklim dingin.Berdasarkan letak lintang Thailand antara terletak di antara 15 00' North latitude and 100 00' East longitude. maka Thailand beriklim tropis kering dan basah. 2. IKLIM FISIS Kondisi iklim Thailand menurut Iklim fisis adalah: a. Iklim laut Iklim laut mempunyai ciri-ciri penguapan tinggi, udara selalu lembab, langit selalu tertutup awan, perbedaan suhu antara siang dan malam rendah, umumnya memiliki curah hujan yang tinggi.yaitu 1445 mm atau 57inches.Jadi, iklim negara Thailand menurut iklim fisis adalah iklim laut.

3.

IKLIM KOPPEN Berdasarkan data suhu dan curah hujan Thailand dapat diketahui Batas antara Am dan Aw Suhu bulan terdingin 25.6C atau 77.9 F , daerah ini termasuk tipe iklim A. Curah Hujan pada Bulan Terkering 9.4

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

36

w Berdasarkan perhitungan diatas menurut klasifikasi iklim Koppen maka Thailand termasuk dalam tipe iklim Aw

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

37

4.

IKLIM OLDEMAN DATA RATA-RATA CURAH HUJAN DAN SUHU THAILAND TAHUN 1840-1990 CURAH HUJAN mm 10.6 28.2 30.7 71.8 189.4 151.7 158.2 187 319.9 230.8 57.3 9.4 1445

BULAN Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Tahun

Bulan Kering Bulan Basah Bulan lembab

=6 =2 =4

Klasifikasi iklim oldeman berdasarkan pada keberurutan bulan basah dan bulan kering tanpa memeperhitungkan suhu. Oldeman menetapkan : Bulan basah dengan curah hujan > 200mm Bulan kering dengan curah hujan < 100mm Bulan lembab dengan curah hujan antara 100-200mm

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

38

Data bulan kering dan basah negara Thailand Bulan kering Bulan basah Bulan lembab =6 =2 =4

Pada negara Thailand iklim menurut Oldeman, bulan basahnya ada 2 berarti pada table klasifikasi oldeman termasuk Main type E karena pada main type E wet month = <3. Sedangkan bulan kering ada 6 berarti pada dry month respectively termasuk sub division 3 karena pada sub division 3 dry month = 4-6. Maka iklim di Thailand menurut oldeman termasuk iklim E3.

KRITERIA KLASIFIKASI IKLIM (AGROKLIMAT) OLDEMAN WET MONTH CONSECUTIVELY >9 7-9 5-6 3-4 <3 DRY MONTH RESPECTIVELY <2 2-3 4-6 >6

MAIN TYPE A B C D E

SUB DIVISION 1 2 3 4

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

39

CLIMATE TYPE A1 A2 B1

FARMING SYSTEM Suitable for rice field, now ield because of low radiation Suitable for rice field, high yield if harvesting in dry season

CROPPINGPATERRN Rice- rice-or rice rice secondary crop Rice- rice-or rice rice secondary crop Rice- rice secondary crop

B2

Suitable for 2 times for past ripping rice field, in dry season for secondary crop

C1

Rice field 1 time, and 2 time secondary crop

Rice + 2 secondary crop

C2,C3,C4

Rice field 1 time, and 1-2 time secondary crop

Rice + 1- 2 secondary crop

D1

Only field 1 time, and 1 times secondary crop

Rice + 1 secondary crop

D2,D3, D4

Only field 1 time, or 1 times secondary crop

Rice or secondary crop

Only 1 time secondary crop

Secondary crop

5. IKLIM MOHR Menurut Iklim Mohr dijelaskan bahwa membagi tiga derajat kelembapan sepanjang tahun yaitu bulan basah, lembab, dan kering dengan cara perhitungan jika curah hujan dalam 1 bulan kurang dari 60mm maka bulan tersebut disebut bulan kering, kemudian jika curah hujan antara 60-100mm maka disebut bulan lembab. Kemudian Iklim Mohr menggolongkan 5 golongan 1. Golongan I 2. Golongan II : Daerah basah, yaitu daerah yang hamper tidak terdapat bulan kering : Daerah agak basah, yaitu daerah dengan bulan kering 1-2 bulan

3. Golongan III : daerah agak kering, yaitu daerah dengan bulan kering 3-4 bulan 4. Golongan IV : Daerah kering, yaitu terdapat 5-6 bulan kering 5. Golongan V : Daerah sangat kering, dengan bulan kering >6 bulan

Dari data yang kami peroleh yaitu di Negara Thailand memiliki 5 bulan kering yaitu pada bulan Januari, Februari, Maret, November, dan Desember. Kemudian data yang kami peroleh tersebut dipadukan dengan teori Mohr, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Thailand termasuk golongan IV (daerah kering, yaitu terdapat 5-6 bulan kering).
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 40

6. Iklim Thornthwaite Dalam penentuan ikim Thornthwaite berdasarakan pada curah hujan yang sangat

penting untuk tanaman, sehingga jumlah penguapan atau intensitas penguapan. Jika penguapan besar curah hujan yang dipakai oleh tanaman akan lebih kecil, pada jumlah curah hujan Iklim di negara Thailand menurut Thornth white, sebagai berikut: DATA RATA-RATA CURAH HUJAN DAN SUHU THAILAND
TAHUN 1840-1990 CURAH HUJAN BULAN Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Septembe r Oktober Novembe r Desember mm 10.6 28.2 30.7 71.8 189.4 151.7 158.2 187 319.9 230.8 57.3 9.4 inche s 0.4 1.1 1.2 2.8 7.5 6 6.2 7.4 12.6 9.1 2.3 0.4 BULAN Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Septemb er Oktober Novemb er Desembe r Tahun SUHU C 25.9 27.6 29.2 30.1 29.6 29 28.5 28.4 28.1 27.7 26.8 25.6 F 78.6 81.7 84.6 86.2 85.3 84.2 83.3 83.1 82.6 81.9 80.2 77.9 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 115 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 68. 6 71. 7 74. 6 76. 2 75. 3 74. 2 73. 3 73. 1 72. 6 71. 9 70. 2 67. 9 0.4 1.1 1.2 2.9 8.9 7.0 7.4 9.0 16.4 11.6 2.6 0.4 11.65 12.43 13.15 13.55 13.33 13.05 12.83 12.78 12.65 12.48 12.05 11.48 kontan Konsta n T10 RASIO PE RASIO TE

Tahun

1445

57

336.5

989.6

68.9

151

Dengan demikian, sesuai hasil perhitungan yang berdasarkan iklim Thornthwaite negara Thailand beriklim BAw (tropis lembab deficit curah hujan pada musim dingin) IKLIM Dari data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Secara umum Thailand memiliki cuaca tropis dengan pengaruh iklim musiman. Sebagian besar dari Thailand memiliki iklim basah dan kering atau sabana tropis (Aw) menurut klasifikasi iklim Kppen, sementara
METEOROLOGI KLIMATOLOGI 41

Selatan dan ujung timur Timur memiliki iklim monsoon tropis (Am), negeri, suhu normal berkisar dari rata-rata tahunan tinggi 280C (820F) yang rendah dari 25.6 C (77.9 F). Musim hujan paling tinggi pada bulan September 319.9 mm oktober, 230.8mm ) ketika temperatur rata-rata bulanan berada antara 28.1 0C 27.7 0C (82.6 0F , 81.9 0F). Musim panas di Thailand adalah melalui bulan November sampai Februari. Dan musim hujan di negara ini mulai dari Mei dan umumnya berakhir pada bulan oktober. Secara umum Thailand memiliki cuaca tropis dengan pengaruh iklim musiman. Cuaca umumnya panas dan memiliki tingkat kelembaban tinggi.

Selama musim kemarau, suhu meningkat secara dramatis pada bulan Maret-april, sekitar 30 C (86.2 F) di beberapa daerah pada pertengahan April ketika matahari melewati Zenith. Angin musim barat daya yang datang antara bulan Mei dan Juli (kecuali di Selatan) sinyal munculnya musim hujan (ruedu fon), yang berlangsung dalam bulan Oktober dan penutup awan mengurangi suhu lagi tapi kelembaban yang tinggi dialami sebagai 'panas dan lengket' . November dan Desember menandai mulainya musim kering dan suhu malam di tanah yang tinggi kadang-kadang bisa turun ke frost ringan. Suhu mulai naik pada bulan Januari, dan panas matahari menyengat lanskap. Musim kemarau yang terpendek di Selatan karena kedekatan laut ke seluruh bagian Semenanjung Melayu. Dengan pengecualian hanya kecil, setiap wilayah negara menerima curah hujan yang memadai, tetapi lamanya musim hujan dan jumlah hujan bervariasi secara substansial dari daerah ke daerah dan dengan ketinggian. North east mengalami musim kemarau panjang meskipun musim 2007/2008 kering hanya berlangsung dari akhir November sampai pertengahan Maret. Merah, (laterit) tanah liat padat menahan air dengan baik, yang membatasi potensi pertanian mereka untuk tanaman banyak tetapi sangat ideal untuk menjaga air di sawah dan waduk desa setempat. The alluvium, drainase baik berpasir longgar dataran banjir Mekong sangat subur, tanaman utama menjadi tomat pada skala industri, tembakau, dan nanas. Fenomena ini beda dengan di Indonesia, padalah masih dalam satu lintang rendah. Indonesia pada bulan agustus oktober mengalami musim kemarau, sedangkan Thailand mengalami musim hujan yang cukup tinggi. Ini disebabkan karena negara Thailand di lewati angin pasat timur laut yang membawa uap air menuju ekuator, sehingga terjadi pertemuan angina pasat di ekuator. Akibatnya di Thailand terjadi sedangkan di Indonesia mengalami kemarau. hujan dengan intensitas tinggi,

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

42

BAB IV KESIMPULAN PEMBAHASAN I Berdasarkan analis klasifikasi iklim menurut beberapa ahli maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Iklim Matahari Secara geografis Kabupaten Blitar terletak antara 758 - 8951LS. Daerah ini berada di antara 23 LU - 23 LS maka berdasarkan iklim matahari, Kabupaten Blitar memiliki tipe Iklim Tropik. Iklim tropik mempunyai ciri dan suhu yang selalu tinggi sepanjang tahun 2. Iklim Junghun Kabupaten Blitar mempunyai ketinggian kurang lebih 167 meter diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata diatas 22C. menurut klasifikasi iklim berdasarkan Junghuhn maka daerah ini termasuk Zona Panas. Oleh karena itu tanaman yang banyak dibudidayakan di blitar adalah tanaman padi, jagung dan tebu. 3. Iklim Koppen Kabupaten Blitar termasuk dalam tipe iklim Aw. musim kering yang jelas dalam periode musim dingin. Irama curah hujan musiman yang jelas, sekurangkurangnya satu bulan <60 mm (2.4 inch). Suhu sama dengan Af. 4. Iklim Thornwaite Menurut Thornthwaite, Kabupaten Blitar memiliki tipe iklim BAw termasuk daerah tropis lembab dengan keefektifan tanaman berupa hutan dan defisit curah hujan terjadi pada musim dingin. 5. Iklim Mohr Klasifikasi iklim menurut Mohr bahwa Kabupaten Blitar termasuk Golongan III (daerah agak kering) karena memiliki 3-4 bulan kering 6. iklim smith ferguson Klasifikasi iklim menurut Mohr bahwa Kabupaten Blitar termasuk Golongan III (daerah agak kering) karena memiliki 3-4 bulan kering

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

43

7. Oldeman Menurut klasifikasi iklim menurut Oldeman, Kabupaten Blitar termasuk dalam tipe iklim D3 dengan interpretasi agroklimat lahan pertanian yaitu satu kali panenan tanaman padi dan satu kali panenan tanaman pangan sekunder dalam satu tahun. Dari pembahasan di atas semua klasifikasi iklim menunjukan bahwa blitar merupakan daerah yang beriklim tropis. Hal tersebut terutama dipengaruhi oleh ketinggian daerah, karena blitar terletak pada dataran rendah, selain itu daerahnya sudah lumayan cukup padat. Hutan di daerah pegunungan pantai selatan saat ini hanya tinggal separo saja karena ulah manusia.

PEMBAHASAN II (THAILAND) Berdasarkan analis klasifikasi iklim menurut beberapa ahli maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Iklim matahari Berdasarkan letak lintang Thailand antara terletak di antara 15 00' North latitude and 100 00' East longitude. maka Thailand beriklim tropis kering dan basah.

2.

Iklim Fisis Iklim laut mempunyai ciri-ciri penguapan tinggi, udara selalu lembab, langit

selalu tertutup awan, perbedaan suhu antara siang dan malam rendah, umumnya memiliki curah hujan yang tinggi.yaitu 1445 mm atau 57inches. Jadi, iklim negara Thailand menurut iklim fisis adalah iklim laut.

3.

Iklim Koppen Negara Thailand termasuk dalam tipe iklim Aw. musim kering yang jelas

dalam periode musim dingin. Irama curah hujan musiman yang jelas, sekurangkurangnya satu bulan <60 mm (2.4 inch). Suhu sama dengan Af.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

44

4.

Iklim Thornwaite Menurut Thornthwaite, negara Thailand memiliki tipe iklim BAw termasuk

daerah tropis lembab dengan keefektifan tanaman berupa hutan dan defisit curah hujan terjadi pada musim dingin.

5.

Iklim Mohr Dari data yang kami peroleh yaitu di Negara Thailand memiliki 5 bulan kering

yaitu pada bulan Januari, Februari, Maret, November, dan Desember. Kemudian data yang kami peroleh tersebut dipadukan dengan teori Mohr, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Thailand termasuk golongan IV (daerah kering, yaitu terdapat 5-6 bulan kering).iklim smith ferguson

6.

Oldeman Pada negara Thailand iklim menurut Oldeman, bulan basahnya ada 2 berarti

pada table klasifikasi oldeman termasuk Main type E karena pada main type E wet month = <3.Sedangkan bulan kering ada 6 berarti pada dry month respectively termasuk sub division3 karena pada sub division 3 dry month = 4-6. Maka iklim di Thailand menurut oldeman termasuk iklim E3.

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

45

DAFTAR PUSTAKA Hari Utomo, Dwiyono. 2009. Diktat Meteorologi Klimatologi dalam StudiGeografi. Malang: Laboratorium Geografi UM BAPPEDA Kabupaten Blitar. 2010. Kabupaten Blitar dalam Angka 2010. Blitar: BAPPEDA Kabupaten Blitar http://www.eastjava.com/plan/ind/kaab-blitar.html, (online) 22 Desember 2011 http://www.malimsonline.com/tag/dimana-letak-geografis-negara-thailand/ http://www.worldclimate.com/cgi-bin/grid.pl?gr=S12W077

METEOROLOGI KLIMATOLOGI

46