Anda di halaman 1dari 21

Laporan Praktikum Sanitasi Dan Higiene

Hari/Tgl : Selasa, 11 Oktober 2012 Dosen Asisten : Mrr. Lukie T, STP, Msi : Wira Yani Febi H

SANITASI UDARA, RUANG, DAN PEKERJA


Oleh: Rico Fernando T Salma Fikriyah Aqmila Muthi Rafa Chintia Hutagalung Nia Alliffiana J3E111044 J3E111062 J3E111066 J3E111089 J3E111133

PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah memberikan pemahaman dan keterampilan mengenai metode pengujian sanitasi udara, ruang, dan pekerja. Selain itu praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan kontaminasi yang berasal dari udara, ruangan, dan dari pekerja itu sendiri.

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN


2.1 Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Sanitasi Udara mikroba NA 1 2 3 4 5 6 7 Toilet Lab Mikro Lab Olah 1 Lab Olah 2 Lab Olah 4 Lab Olah 5 Kantin 63 10 134 61 105 9 108 APDA 8 1 1 12 5 12 12 Densitas Mikroba mikroba/jam/m2 NA APDA 3,0 x 104 4,7 x 103 6,3 x 105 2,9 x 104 5,0 x 104 4,2 x 103 5,1 x 104 3,8 x 103 4,7 x 102 4,7 x 102 5,7 x 103 2,4 x 103 5,7 x 103 5,7 x 103

Kelompok

Lokasi

Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Sanitasi Ruang PCA Kelompok Perlakuan Desinfektan 1 2 3 4 5 6 7 TBUD TBUD 74 34 43 TBUD 50 Desinfektan TBUD TBUD 36 23 39 TBUD 0 3 3 3 3 3 3 3 Densitas Mikroba (cfu/m2) Perlakuan Desinfektan TBUD TBUD 1,0 x 105 4,8 x 104 6,1 x 104 TBUD 7,1 x 104 Desinfektan TBUD TBUD 5,1 x 104 3,2 x 104 5,5 x 104 TBUD 0

Diameter RODAC (cm)

Tabel 3. Hasil Pengamatan Sanitasi Rambut Media Kelompok NA Tidak Keramas2-3 hari + Keramas hari ini + APDA Tidak Keramas2- Keramas hari ini 3 hari hari Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan + Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan -

1 2 3 4 5 6 7 Keterangan:

+ ++ Tidak Dilakukan ++++ +++++ Tidak Dilakukan +++ ++++ Tidak Dilakukan

(-) = (+) = (++) = (+++) = (++++) =

Tidak ada pertumbuhan Pertumbuhan sedikit Pertumbuhan agak banyak Pertumbuhan banyak Pertumbuhan banyak sekali

Tabel 4. Hasil Pengamatan Sanitasi Pekerja (Kualitatif) Tidak Dicuci Perlakuan VJA 1 2 3 4 5 6 7 + EMBA (Fekal) Dicuci Air Dicuci Sabun Antiseptik

EMBA EMBA EMBA EMBA EMBA EMBA EMBA (Non VJA (Non VJA (Non VJA (Non (Fekal) (Fekal) (Fekal) Fekal) Fekal) Fekal) Fekal) + + + + + + + + +++ + + + ++ -

Keterangan :

(-) = (+) = (++) = (+++) = (++++) =

Tidak ada pertumbuhan Pertumbuhan sedikit Pertumbuhan agak banyak Pertumbuhan banyak Pertumbuhan banyak sekali

Tabel 5. Hasil Pengamatan Sanitasi Pekerja (Kualitatif) Mikroba No. 1. 2. 3. 4. Perlakuan Tidak Dicuci Dicuci Air Dicuci Sabun Dicuci Antiseptik Antiseptik + sentuh rambut Tisu basah Tissu basah + 7. sentuh jenggot 79/87 29/42 8/7 1,1 48/TBUD 14/22 1/4 TBUD/TBUD 10-0 TBUD/23 TBUD/ TBUD TBUD/TBUD 134/13 10-1 TBUD 247/168 126/144 11/5 10-2 95/4 41/52 14/4 3/2 CFU/ml 9,5 2,3 1,4 1,3

5. 6.

TBUD/TBUD TBUD/TBUD

TBUD 4,8

2.2 Pembahasan Pada tanggal 27 September 2012, dilakukan praktikum mengenai sanitasi udara, ruang, dan pekerja. Praktikum ini dilakukan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan mengenai metode pengujian sanitasi dan higiene udara, ruang, dan pekerja. Media yang digunakan dalam praktikum ini adalah PCA, NA, APDA, VJA, dan EMBA. Sanitasi menurut WHO adalah suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia terutama pada hal-hal yang mempunyai efek merusak perkembanagn fisik, kesehatan dan kelangsungan hidup. sedangkan higiene didefinisikan sebagai seluruh kondisi atau tindakan untuk meningkatkan kesehatan , tindakan-tindakan pemeliharaan kesehatan, atau suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari kesehatan. Sanitasi dan higiene dalam industri pangan merupakan suatu tindak kegiatan atau kreasi yang mengarah pada pemeliharaan kondisi sehat. Kondisi yang dimaksud meliputi kondisi bukan hanya bebas kontaminan yang dapat menyebabkan keadaan sehat, tetapi bebas dari faktor yang dapat memacu pada keadaan tidak bebas.

Kebersihan dan kehigienisan merupakan syarat utama dalam sistem kemanan pangan. untuk mengetahui tingkat sanitasi dan higiene daru suatu industri pangan, dapat dilakukan dengan uji sanitasi, seperti sanitasi udara, ruang, dan pekerja. 3.2.1 Sanitasi Udara Udara tidak mempunyai flora alami karena organisme tidak dapat hidup dan tumbuh terapung begitu saja di udara. Mikroba yang ada di udara dapat ditimbulkan akibat kontaminasi dari lingkungan sekitarnya, misalnya dari debu, air, proses aerasi, dari penderita saluran infeksi, dan lain-lain. Selain itu, setiap aktivitas manusia juga dapat menimbulkan mikroba di udara. Jumlah dan macam mikroorganisme dalam suatu volume udara akan bervariasi sesuai dengan lokasi, kondisi cuaca, dan jumlah orang yang ada di tempat tersebut. Daerah yang berdebu hampir selalu mempunyai populasi mikroorganisme atmosfer yang tinggi. Sebaliknya, hujan, salju atau hujan es akan cenderung mengurangi jumlah mikroorganisme di udara dengan membasuh partikel-partikel yang lebih berat dan mengendapkan debu. Mikroorganisme udara di dalam suatu ruangan dapat diuji secara kuantitatif menggunakan agar cawan yang dibiarkan terbuka selama beberapa waktu tertentu di dalam ruangan tersebut atau dikenal dengan Metoda Cawan Terbuka (Riani et al, 2010). Pada praktikum mengenai uji sanitasi udara, dilakukan pengujian densitas mikroba yang ada di udara pada tujuh tempat yang berbeda, yakni toilet, lab mikro, lab olah 1, lab olah 2, lab olah 4, lab olah 5, dan kantin. Adapun metode yang kami gunakan yaitu Opened Dust Method atau Metode Cawan Terbuka. Hal pertama yang kami lakukan yaitu menuangkan media NA dan APDA ke dalam dua cawan petri yang berbeda. Ditunggu hingga media agar membeku lalu ditempatkan kedua cawan berisi media agar tersebut di tujuh tempat berbeda dengan posisi tutup cawan terbuka. Dibiarkan selama 30 menit. Setelah 30 menit berlalu, ditutup kembali cawan tersebut lalu diinkubasi di dalam suhu 30oC selama 2 hari dengan posisi terbalik. Posisi cawan petri terbalik agar air yang mengembun di dalam tutup cawan saat diinkubasi tidak menetes ke dalam media karena akan menghasilkan suatu masa pertumbuhan yang menganak sungai dan menghancurkan pembentukan koloni secara individu. Untuk menghindari hal ini,

maka ketika diinkubasi, bagian bawah cawan petri diletakkan di atas atau terbalik. Setelah diinkubasi selama 2 hari, dihitung densitas mikroba yang terkandung di udara. Adapun densitas bakteri (mikroba/jam/m2) yang terkandung di udara pada toilet sebanyak 3,0x104, lab mikro sebanyak 4,7x103, lab olah 1 sebanyak 6,3x105, lab olah 2 sebanyak 2,9x104, lab olah 4 sebanyak 5,0x104, lab olah 5 sebanyak 4,2x103, dan kantin sebanyak 5,1x104. Sedangkan densitas kapang dan khamir (mikroba/jam/m2) yang terkandung di udara pada toilet sebanyak 3,8x103, lab mikro sebanyak 4,7x102, lab olah 1 sebanyak 4,7x102, lab olah 2 sebanyak 5,7x103, lab olah 4 sebanyak 2,4x103, lab olah 5 sebanyak 5,7x103, dan kantin sebanyak 5,7 x103 mikroba/jam/m2. Densitas bakteri di udara yang tertinggi ada pada lab olah 1 sedangkan densitas kapang dan khamir yang tertinggi ada pada lab lab olah 2, lab olah 5, dan kantin. Hal ini membuktikan lab olah 1, lab olah 2, lab olah 5, dan kantin.tersebut kurang mendapat perhatian dari segi kebersihan. Mikroba tersebut dapat bersumber dari bioaerosol. Bioaerosol adalah partikel debu yang terdiri atas makhluk hidup atau sisa yang berasal dari makhluk hidup (Anonim, 2010). Jenis mikroorganisme yang sering terdapat di udara pada umumnya bakteri batang pembentuk spora, baik yang bersifat aerobik maupun anaerobik, bakteri coccus, bakteri gram negatif, kapang dan khamir (Riani et al, 2010). Penyebaran bakteri, jamur, dan virus pada umumnya terjadi melalui sistem ventilasi. Sumber bioaerosol ada 2 yakni yang berasal dari luar ruangan dan dari perkembangbiakan dalam ruangan atau dari manusia, terutama bila kondisi terlalu berdesakan (crowded) (Anonim, 2010). Oleh karena itu banyaknya aktivitas manusia yang terjadi di dalam ruangan tersebut sangat mempengaruhi jumlah mikroba yang terkandung di udara. Selain itu, sumber mikroba udara yang paling umum adalah mikroba yang berasal dari tanah. Mikroorganisme tanah dibebaskan ke udara ketika terganggu oleh pukulan angin dan tetap tersuspensi di sana untuk jangka waktu yang panjang. Tindakan manusia seperti menggali atau membajak tanah juga dapat melepaskan mikroba ke udara. Demikian pula mikroorganisme yang ditemukan dalam air mungkin juga dilepaskan ke udara dalam bentuk tetesan air atau aerosol.

Percikan air oleh angin juga bisa menghasilkan tetesan atau aerosol. Oleh karena itu mengapa toilet banyak mengandung bakteri karena toilet merupakan tempat yang lembab sehingga mikroba terutama bakteri sangat nyaman berkembang biak di sana. Dari hasil praktikum ini perlu diperhatikan kondisi sanitasi udara pada lab olah 4 yang mengandung densitas kapang dan khamir tertinggi. Hal ini dapat menjadi ancaman yang serius karena lab olah 4 merupakan tempat pengolahan bahan pangan bagi mahasiswa jurusan Supervisor Jaminan Mutu Pangan. Kapang dan khamir yang terbawa oleh udara dapat mengontaminasi pangan yang akan diolah sehingga menyebabkan pangan tersebut menjadi tidak layak untuk dikonsumsi karena membahayakan kesehatan. Untuk mengurangi perkembangbiakan mikroba dalam udara di suatu ruangan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam hubungan kualitas udara dalam ruang adalah (a) kondisi lingkungan dalam ruang, kondisi lingkungan yang penting untuk diperhatikan adalah suhu ruangan, kelembaban, dan aliran udara. Ketiga hal tersebut dapat menyebabkan peningkatan absorbs polutan mikroba dalam ruangan, pertumbuhan mikroorganisme di udara, dan

meningkatkan bau yang tidak sedap; (b) konstruksi ruangan dan furnitur; (c) proses dan alat-alat dalam ruangan; (d) ventilasi, ventilasi udara yang buruk dapat menyebabkan kurangnya udara segar yang masuk dan buruknya distribusi udara di dalam ruang; (e) status kesehatan orang dalam ruangan (Anonim, 2010). 3.2.2 Sanitasi Ruang Ruangan merupakan salah satu sumber kontaminasi dalam pengolahan pangan. Jika di dalam suatu ruangan banyak terdapat debu dan air, mikroba yang ditemukan di dalamnya juga bervariasi, misalnya mikroba tanah dari tanah dan debu, mikroba air dari semprotan air, mikroba dari makanan fermentasi (spora tempe,oncom,dll.), mikroba ternak dan sebagainya. Oleh karena itu sanitasi dan kehigienisan suatu ruangan sangat perlu diperhatikan guna menjamin mutu dan keamanan pangan. Untuk mengetahui tingkat sanitasi dan hygienitas dari suatu ruangan (industri pangan) , dapat dilakukan uji sanitasi yaitu uji sanitasi dengan metode RODAC dimana hasilnya cepat diketahui. Kecepatan dalam pengujian juga sangat diperlukan terutama dalam lini produksi yang membutuhkan kecepatan dalam memperoleh hasil uji. Hal ini disebabkan karena hasil pengujian

yang lama akan menyebabkan produktivitas menurun, yang berakibat pada rendahnya efektivitas dan efisiensi produksi. Evaluasi mikrobiologi pada peralatan dan permukaan-permukaan yang kontak dengan pangan merupakan kegiatan penting untuk mengetahui efektivitas pembersihan dan desinfeksi yang diterapkan, termasuk tingkat cemaran pada proses tersebut. Pada praktikum ini, dilakukan pengujian kualitatif sanitasi ruangan

dengan menggunakan metode RODAC. Metode RODAC (The Replicate Organism Direct Agra Contact Method) merupakan metode menghitung jumlah mikroorganisme terutama dari suatu permukaan yang bersifat datar (peralatan, lantai, meja, dll) di lingkungan industri pangan sebagai salah satu pemantauan. Pemantauan bertujuan untuk menilai kualitas sanitasi atau higiene. Lokasi pengujian sanitasi rungan dilakukan pada meja dan lantai lab olah 1, 2, 3, dan 4. Pengujian dilakukan secara aseptis dan dilakukan dengan dua perlakuan, yaitu lantai atau meja sebelum dan sesudah diberi dengan desinfektan. Media agar pada alat suntik (RODAC) ditempelkan selama 4 detik pada permukaan meja atau lantai yang akan diuji. Lalu agar yang telah ditempelkan dipotong setebal 1-1,5 cm dn secara aseptik potongan agar diletakkan pada cawan petri. Posisi agar yang telah menempel pada permukaan yang akan diuji harus berada dibagian atas. Kemudian cawan petri ditutup dan diinkubasi (tanpa dibalikkan) pada suhu ruang (27oC) selama dua hari. Setelah dilakukaniinkubasi selama dua hari, hasil pengamatan dengan perlakuan sebelum diberi desinfektan menunjukkan jumlah coloni yang tumbuh dengan media PCA pada lantai lab olah 1 adalah TBUD, pada meja lab olah 1 adalah TBUD, pada lantai lab olah 2 sebanyak 1,0 x 105 koloni/m2, pada meja lab olah 2 sebanyak 4,8 x 104 koloni/m2, pada lantai lab olah 4 sebanyak 6,1 x 104 koloni/m2, pada meja lab olah 4 adalah TBUD, dan pada lantai lab olah 5 adalah7,1 x 104 koloni/m2. Sedangkan hasil pengamatan dengan perlakuan setelah diberi desinfektan dengan media PCA pada adalah TBUD, pada meja lab olah 1 adalah TBUD, pada lantai lab olah 2 sebanyak 5,1 x 104 koloni/m2, pada meja lab olah 2 sebanyak 3,2 x 104 koloni/m2, pada lantai lab olah 4 sebanyak 5,5 x 104 koloni/m2, pada meja lab olah 4 adalah TBUD, dan pada lantai lab olah 5 adalah 0 koloni/m2.

Setelah dilakukan pemberian desinfektan dengan Wipool dan antiseptik, terjadi pengurangan atau penurunan jumlah koloni mikroba < 5,5 x 104 koloni/m2. Desinfektan merupakan bahan kimia yang digunakan dalam sanitasi, bersifat dapat membunuh jasad renik yang mencemari bahan, alat dan ruangan pengolahan. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas dari desinfektan yang diberikan sangat baik. Jumlah koloni pada lantai dan meja lab olah 1 dan meja lab olah 4 dengan perlakuan sebelum dan sesudah pemberian memiliki hasil TBUD (terlalu banyak untuk dihitung). Seharusnya, dengan penggunaan desinfektan terjadi pengurangan jumlah koloni yang terbentuk. Terjadinya kontaminasi disebabkan oleh mikroorganisme yang terbawa oleh udara. Mikroorganisme yang terdapat diudara biasanya melekat pada bahan padat mikro misalnya debu atau terdapat didalam droplet atau tetesan air. Jika didalam suatu ruangan banyak terdapat debu dan air, maka mikroba yang ditemukan didalamnya juga bermacam- macam termasuk bakteri, kapang ataupun khamir . Winslow (2005) mengatakan bahwa setiap gram debu ruangan mengandung 5 juta mikroba. Disamping itu, sumber pembawa kontaminasi dapat berasal dari pekerja secara tidak langsung melalui pakaian maupun peralatan yang dibawa dan digunakan dalam ruangan. Seharusnya, lantai atau meja yang telah diberikan desinfektan dibersihkan menggunakan tissue bukan serbet pribadi. Serbet yang digunakan tidak bisa dijamin kebersihannya. Selain itu, tetesan air dari praktikan yang berbicara, batuk, dan bersin tanpa menggunakan masker dapat menjadi sumber kontaminasi dalam ruang. Peralatan dan dari benda-benda yang diangkut saat akan melakukan pengujian pada lantai atau meja merupakan media perpindahan sumber perpindahan mikroba. 3.2.3 Sanitasi Rambut Tangan dan rambut sangat rentan terkena bakteri dan kapang karena udarakotor mudah menempel pada tangan dan rambut. Tangan yang dicuci air belumtentu bersih karena air yang digunakan untuk membersihkan banyak tercemarkuman dan bakteri sehingga perlu menggunakan bahan antiseptik untuk menghilangkan bakteri dan kapang yang menempel pada bagian kulit. Oleh karena itu higiene pekerja juga sangat penting diperhatikan, penelitian Lues, et al. (2006) menunjukkan bahwa pekerja menyebabkan timbulnya bakteri seperti

E.coli, Staphylococcus aureus dan Salmonella. Staphylococcus aureus merupakan mikroba normal yang terdapat pada permukaan tubuh, seperti pada permukaan kulit, rambut, hidung, mulut dan tenggorokan. Begitu pula pada permukaan tangan manusia atau pekerja. Staphylococcus aureus banyak mencemari pangan karena tindakan yang tidak higienis dalam penanganan pangan (Adam and Moss 1995). Adapun cara uji kontaminasi rambut yaitu ambil 2 helai rambut dengan pinset, kemudian letakkan pada agar cawan NA dan APDA. Cawan diinkubasikan pada suhu 27oC selama 2 hari. Uji kontaminasi rambut dilakukan terhadap rambut yang baru dicuci dan rambut yang dicuci sehari sebelumnya. Selanjutnya, amati pertumbuhan mikroorganisme untuk media NA adalah total bakteri dan media APDA adalah kapang dan khamir. Pada kegiatan praktikum kali ini digunakan beberapa jenis media biakan, yaitumedia, NA (Nutrient Agar), dan APDA (Potato Dextrose Agar + Asam Tartarat). Masing-masing media tersebut memiliki komposisi penyusun yang berbeda-beda. NA (Nutrient Agar)Media ini merupakan jenis media umum yang digunakan untuk menumbuhkan lebih dari 1 jenis mikroorganisme secara umum. Media ini tersusun atas bacto peptone, bacto agar, dan bacto beef extract. Media ini mengandung komposisi senyawa nutrisi yang kaya akan protein sehingga cenderung untuk ditumbuhi oleh bakteri.PDA (Potato Dextrose Agar) Media ini merupakan jenis media umum yang digunakan untuk menumbuhkan lebih dari 1 jenis mikroorganisme secara umum. Media ini tersusun atas bacto dextrose, bacto agar, dan potato. Media ini mengandung komposisi senyawa nutrisi yang kaya akan karbohidrat dan gula sehingga lebih cenderung untuk ditumbuhi oleh kapang dan khamir. Pada kelompok 1,3, dan 7 dengan media APDA, tidak terdeteksi adanya kapang pada rambut yang tidak dicuci 2-3 hari, namun pada sampel rambut kelompok 7 yang dicuci hari ini terdeteksi pertumbuhan kapang sedikit. Hal ini dapat terjadi mungkin karena frekuensi terkena udara kotor pada rambut tersebut lebih besar dibanding rambut yang tidak dicuci 2-3 hari. Pada kelompok 1,2 dan 4 yang menggunakan media NA untuk mendeteksi adanya pertumbuhan bakteri dalam rambut. Dari hasil pengamatan dapat terlihat

pertumbuhan bakteri pada media yang diberi perlakuan tidak dicuci selama 2-3 hari mempunyai jumlah bakteri lebih banyak daripada yang dicuci hari ini. Hal ini dapat disebabkan karena rambut yang kotor dan suhu rambut yang lembab dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri Pada kelompok 3,5 dan 7 yang juga menggunakan media APDA, terdeteksi adanya pertumbuhan kapang yang banyak pada sampel rambut yang tidak dicuci 2-3 hari, sedangkan pada sampel rambut yang dicuci hari ini juga terdeteksi pertumbuhan kapang yang banyak. Hal ini dapat terjadi mungkin karena frekuensi kedua sampel rambut terkena udara kotor sama besarnya.. 3.2.4. Sanitasi Pekerja 3.2.4.1 Sanitasi Tangan Kualitatif Tangan dan rambut sangat rentan terkena bakteri dan kapang karena udarakotor mudah menempel pada tangan dan rambut. Tangan yang dicuci air belumtentu bersih karena air yang digunakan untuk membersihkan banyak tercemarkuman dan bakteri sehingga perlu menggunakan bahan antiseptik untuk menghilangkan bakteri dan kapang yang menempel pada bagian kulit. Oleh karena itu higiene pekerja juga sangat penting diperhatikan, penelitian Lues, et al. (2006) menunjukkan bahwa pekerja menyebabkan timbulnya bakteri seperti E.coli, Staphylococcus aureus dan Salmonella. Staphylococcus aureus merupakan mikroba normal yang terdapat pada permukaan tubuh, seperti pada permukaan kulit, rambut, hidung, mulut dan tenggorokan. Begitu pula pada permukaan tangan manusia atau pekerja. Staphylococcus aureus banyak mencemari pangan karena tindakan yang tidak higienis dalam penanganan pangan (Adam and Moss 1995). Pada praktikum kali ini dilakukan uji sanitasi pekerja secara kualitatif pada kebersihan jari tangan. Ada empat perlakuan, yaitu jari tangan tanpa di cuci, jari tangan di cuci hanya dengan air, jari tangan di cuci dengan air dan sabun, dan jari tangan di cuci dengan antiseptik. Pertama yaitu jari tangan tanpa dicuci, dilakukan dengan cara menempelkan terlebih dahulu 3 jari tangan pada media VJA dan EMBA kemudian 2 jari lainnya dan tutup cawan. Yang kedua yaitu jari tangan hanya di cuci dengan air, sebelumnya cuci tangan dahulu dengan air dan tempelkan 3 jari tangan pada media VJA dan EMBA kemudian 2 jari lainnya dan

tutp cawan. Perlakuan ketiga yaitu jari tangan dicuci dengan air dan sabun, sebelumnya jari tangan dicuci terlebih dahulu mengggunakan air dan sabun dan tempelkan 3 jari tangan pada media VJA dan EMBA kemuadian 2 jari lainnya dan tutup cawan. Perlakuan terakhir yaitu cuci jari tangan dengan antiseptik atau tissue basah. Sebelumnya tangan dicuci dengan antiseptik atau di lap dengan tissue basah dan tempelkan 3 jari tangan pada media VJA dan EMBA kemudian 2 jari lainnya dan tutup cawan. Setelah semua perlakuan selesai inkubasi cawan pada suhu 30o C selama 2 hari dan lakukan pengamatan. Setelah di inkubasi didapat hasil pada media VJA terlihat ada 1 koloni bakteri pada perlakuan tangan sebelum di cuci. Ada 1 koloni juga pada perlakuan tangan di cuci dengan air saja dan ada 1 koloni pada perlakuan tangan dicuci dengan sabun. Tetapi tidak ada koloni yang tumbuh pada perlakuan tangan di cuci denngan antiseptik. Dan untuk media EMBA ada 2 jenis bakteri yang tumbuh yaitu bakteri fekal dan non ffekal. Namun untuk bakteri fekal tidak ada yang tumbuh pada media EMBA di setiap perlakuan. Sedangkan untuk bakteri non fekal terdapat 7 koloni bakteri yang tumbuh,pada perlakuan tangan sebelum dicuci. Terlihat juga terdapat 8 koloni yang tumbuh pada perlakuan tangan dicuci dengan air saja, terlihat juga terdapat 16 koloni yang tumbuh pada perlakuan tangan dicuci dengan sabun. Dan terdapat 14 koloni yang tumbuh pada perlakuan tangan dicuci dengan antiseptik. Dari hasil tersebut di atas untuk media EMBA ternyata jumlah koloni non fekal yang tumbuh cukup banyak pada perlakuan tangan dicuci dengan antiseptik, hal dikarenakan kemungkinan antiseptik yang digunakan umur simpannya sudah lama atau sudah terkontaminasi Kebiasaan pribadi (personal habit) pada pekerja dan konsumen dalam mengelola bahan pangan dapat merupakan sumber yang penting dari kontaminan sekunder. Beberapa peristiwa dari keracunan bahan pangan yang tercemar oleh Staphylococcus aureus, diakibatkan oleh higiene yang buruk dari pengolahan bahan pangan tersebut . Luka-luka atau iritasi pada kulit merupakan sumber kontaminan mikroba, sehingga harus ditutup. Batuk atau bersin sekitar bahan pangan sebaiknya dihindarkan, demikian juga pekerja yang menderita diare tidak diperkenankan bekerja dengan bahan pangan. 3.2.4.1 Sanitasi Tangan Kualitatif

Dalam industri pangan sanitasi pekerja sangat diperhatikan khususnya pada tangan, karena tangan merupakan alat paling utama dalam melakukan semua pekerjaan. Kontaminasi yang disebabkan oleh pekerja dapat berlangsung selama jam kerja dari para pekerja menangani makanan. Setiap kali tangan pekerja yang tidak higienis dan bersih kontak dengan bahan pangan, maka mikroorganisme yang ada di tangan dapat berpindah ke makanan dan akan mencemari makanan (Puspitasari, 2004:14). Oleh karena itu kebersihan tangan pekerja sangat diperhatikan. Mikroba yang biasanya terdapat pada tangan pekerja adalah mikroba yang bersifat patogen, seperti Escherichia coli, Salmonella, Clostridium perfringens, Giardia lamblia, virus Norwalk dan virus hepatitis A (Snyder 2004). Selain itu Staphilococcus aureus juga sering ditemukan pada tangan pekerja. Untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang terdapat pada tangan pekerja dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan sampel yang mengandung mikroorganisme pada beberapa cawan agar. Dalam praktikum ini digunakan jenis media biakan, yaitu media PCA (Plate Count Agar). Media ini merupakan jenis media umum yang digunakan untuk menumbuhkan lebih dari 1 jenis mikroorganisme secara umum.Media ini tersusun atas bacto tryptone, bacto agar, bacto yeast extract, dan bacto dextrose/glucose. Media ini mengandung komposisi senyawa nutrisi yang kompleks, meliputi protein, karbohidrat, dan gula untuk kebutuhan pertumbuhan semua jenis mikroorganisme sehingga memungkinkan ditumbuhi oleh semua jenis mikroorganisme, seperti bakteri, kapang, dan khamir. Uji kebersihan tangan yang dilakukan terhadap tangan, yaitu tangan yang tidak dicuci, tangan setelah memegang benda dan tidak dicuci, tangan disemprot alkohol lalu memegang benda, tangan yang dilap pakai tissue basah, dan tangan yang dicuci dengan antiseptik kemudian mengusapkannya ke rambut. Prosedur kerja yang dilakukan untuk menguji kebersihan tangan pekerja adalah dengan memasukan tangan sesuai perlakuannya pada sebuah plasik steril yang berisi larfis steril, kemudian dilakukan pengenceran desimal sampai pengenceran 10-2. Dari setiap pengenceran tersebut diplating duplo pada cawan petri kosong, kemudian cawan yang telah berisi tersebut dituangkan media PCA

sebanyak 15 ml, kemudian didinginkan sampai beku lalu di inkubasi selama 2 hari pada suhu 30oC. Dari hasil pengamatan didapatkan hasil jumlah mikroba untuk tangan yang tidak dicuci (keadaan kotor) didapat total mikroba sebanyak 9,1 x 101 CFU/ml, dicuci dengan air sebanyak 2,3 sebanyak 1,4 CFU/ml, dan yang dicuci dengan sabun

CFU/ml. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa tangan yang

dicuci dengan sabun mempunyai mikroba yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang tidak dicuci dan dicuci air saja. Akan tetapi dari hasil praktikum tangan yang dicuci dengan air mempunyai mikroba lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak dicuci. Hal tersebut bisa terjadi karena praktikan sebelum melakukan pengujian praktikan yang menguji dengan tangan kotor telah melakukan proses sterilisasi sebelum melakukan praktikum dalam keadaan steril, atau sebelum melakukan praktikum telah menyemprotkan alkohol 96% pada tangannya sehingga kandungan mikroba pada tangan sedikit dibandingkan dengan tangan yang dicuci dengan air saja. Kemungkinan lainnya berasal dari air yang digunakan untuk mencuci tangan praktikan, seperti yang kita ketahui air banyak mengandung bakteri E. Coli yang juga merupakan parameter sanitasi air bersih. Selain itu tidak melakukan cuci tangan sesuai prosedur pun bisa menjadi penyebabnya, mikroba dan kotoran-kotoran bisa saja tertinggal di sela-sela jari tangan dan tidak terbilas oleh air. Selain itu kelemahan dari mencuci tangan dengan air adalah air tidak cukup efektif untuk melepaskan lemak, minyak, dan protein yang merupakan bagian dari kotoran organik dan tidak cukup efektif untuk menghilangkan bakteribakteri pathogen yang transit pada tangan kita. Akan tetapi tangan yang dicuci dengan sabun mempunyai kandungan mikroba lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan tanpa dicuci dan dicuci dengan air saja. Sabun adalah sebuah surfaktan yang dihasilkan dari proses saponifikasi (campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80 100 C) yang dapat berbentuk padatan (NaOH sebagai alkali) atau berbentuk cairan (KOH sebagai alkali) yang bisa digunakan bersama dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun terdiri atas rantai hidrokarbon dengan gugus COO- pada ujungnya, yang mana hidrokarbon tersebut ada yang bersifat hidrofob

artinya tidak suka dengan air atau tidak mudah larut dalam air dan hidrofilik, artinya suka dengan air jadi dapat larut dalam air. Sedangkan perlakuan yang dilakuan oleh kelompok 4 yaitu dicuci dengan antiseptik, pada PCA terdapat jumlah mikroba yang tumbuh yaitu 1,3 x 102 CFU/ml. Perlakuan yang dilakukan pada kelompok 5 yaitu dicuci dengan sabun dan memegang rambut, pada PCA terdapat jumlah mikroba yang tumbuh yaitu TBUD CFU/ml. Perlakuan yang dilakukan pada kelompok 6 di cuci tisu basah pada PCA terdapat jumlah mikroba yang tumbuh, yaitu 4,8 x 101. Perlakuan yang dilakukan pada kelompok 7 di cuci tisu basah dan memegang rambut, pada PCA terdapat jumlah mikroba yang tumbuh, yaitu 1,2 x 102. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh jumlah mikroba dari yang paling banyak pada sanitasi tangan terdapat pada perlakuan yang dicuci dengan sabun kemudian memegang rambut, selanjutnya perlakuan dengan antiseptik, di cuci tisu basah dan memegang rambut, dan terakhir perlakuan dengan dicuci tissu basah. Hal ini berbanding terbalik dengan literature yang menunjukan bahwa perlakuan dengan antiseptik memiliki jumlah mikroba yang sedikit, selanjutnya perakuan dengan dicuci tisu basah, dan yang terakhir perlakuan dengan dicuci sabun dan memegang rambut. Berdasarakan literature yang diperoleh penggunaan cairan sanitasi tangan berbentuk gel dan berbahan dasar alkohol lebih efektif untuk mengurangi kontaminan yang terdapat di tangan karena bakteri dapat dimatikan dengan alkohol. Jika dibandingkan dengan yang dibersihkan sabun dan air kurang efektif untuk membunuh bakteri. Cairan pembersih tangan atau antiseptik dan mencuci tangan dengan sabun keduanya efektif dalam membersihkan bakteri-bakteri tertentu. Karena alkohol tidak menghancurkan spora namun dengan sebelumnya mencuci tangan dengan sabun spora tersebut dapat terbasuh dari tangan dan dengan penambahan antiseptik maka akan lebih efektif karena dapat menghilangkan bakteri yang ada di tangan. (Kelly Wallace, 2007) Cairan pencuci tangan yang disarankan adalah mengandung paling sedikit 60% alkohol dan bahan pelembab. Cairan pembunuh kuman yang berbahan dasar alkohol tidak efektif untuk mematikan materi organic dan virus-virus tertentu

seperti, spora bakteri tertentu dan protozoa tertentu, namun untuk membersihkan mikroorganisme tersebut tetap disarankan menggunakan sabun dan air. Perlakuan mencuci tangan dengan menggunakan tisu basah digunakan sebagai alternatif membersihkan tangan dengan sabun karena lebih praktis dan tidak memerlukan air. Beberapa tisu basah telah mengembangkan kandungan wewangi beralkohol, tetapi pemakaian tisu basah itu sendiri hanya dapat menghilangkan bakteri tertentu saja. Pemakaian tisu basah bias saja tidak baik untuk mencuci tangan karena bila hanya mengembalikan kuman bolak-balik di tangan. Pemakaian tisu basah saja tidak baik untuk mencuci tangan karena bila hanya mengembalikan kuman bolak-balik di tangan dan dengan memegang rambut setelah tangan di cuci dengan tisu basah itu membuat bakteri yang hanya beberapa saja yang hilang akan tercampur dengan kapang yang terdapat pada rambut, karena rambut sebagai sumber kontaminan. Dari beberapa perlakuan yang dilakukan dan hasil yang di dapat berbeda dengan literature. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi dari pekerja pada saat melakukan praktikum.

BAB III KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum uji sanitasi udara, diperoleh densitas balteritertinggi ada pada lab olah 1 sedangkan densitas kapang dan khamir tertinggi ada pada lab olah 2, lab olah 5, dan kantin. Hal ini membuktikan pada lab olah 1, lab olah 2, lab olah 5, dan kantin tersebut kurang mendapat perhatian dari segi kebersihan. Banyaknya mikroba yang terkandung dalam udara di suatu ruangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni debu yang bertebangan, tetesan air, kondisi lantai maupun dinding ruangan, banyaknya aktivitas manusia serta kondisi udara yang bergerak dibawa angin melalui ventilasi. Berdasarkan hasil praktikum uji sanitasi ruang dapat disimpulkan pengamatan tersebut terlihat bahwa pada ruangan lab olah 1, lab olah 2, lab olah 4, dan lab olah 5 diperoleh penurunan densitas mikroba yang tidak terlalau signifikan setelah dilakukan desinfeksi. Jumlah mikroba sebelum dibersihkan dengan desinfekatan umumnya tidak berbebda dibandingkan setelah dibersihkan dengan desinfektan. Hal tersebut menunjukkan bahwa efektivitas dari desinfektan yang diberikan tidak cukup baik. Pada uji sanitasi pekerja dapat disimpulkan tangan dan rambut pekerja dapat menjadi sumber kontaminasi mikroba terhadap suatu bahan pangan. Umumya, tangan yang dicuci dengan antiseptik atau sabun memiliki jumlah pertumbuhan mikroba yang lebih sedikit dibandingkan tangan yang hanya dicuci dengan air atau bahkan tidak dicuci. Namun dari hasil pengamatan diketahui pertumbuhan mikroba yang tidak beraturan, hal ini dikarenakan terjadinya kontaminasi ulang dari tangan pekerja sebelum melakukan pengujian. Rambut yang dicuci mempunyai kandungan mikroba yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang tidak dicuci. Mikroba pada rambut biasanya berasal dari udara yang kotor ataupun debu yang berasal dari lingkungan pekerja.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Petunjuk Praktikum Sanitasi Industri dan Keamanan Pangan. Jember: Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Danang, H. 2011. Sanitasi pekerja. Jakarta: Gramedia.

Danang. 2011. Sanitasi pekerja. www.http://danang-kurang-kerjaan. blogspot.com [3 Oktober 2012]. Lay, B W. 1995. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: Rajawali Press. Susiwi, S. 2009. GMP (Good Manufacturing Practices) Cara Pengolahan Pangan Yang Baik. Bandung: UPI Press. Udin. 2010. Pencemaranpangan oleh mikroorganisme. http://higiene-

pangan.blogspot.com [10 Oktober 2012]

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Sanitasi Udara Lab Olah 4 (Meja)

NA

= 5,0 x 104 cfu/jam/m2 = 2,4 x 103 cfu/jam/m2

APDA

Lampiran 2. Perhitungan Sanitasi Ruang Kelompok 5 (Lab Olah 4) Desinfektan : Desinfektan :


( ( ) )

= 6,1 x 104 cfu/ m2 = 5,5 x 104 cfu/ m2

Lampiran 3. Perhitungan Sanitasi Tangan (Kuantitatif) Tissu Basah + Jenggot


( ) ( ) ( ) )

=(

1,1

CFU/ml