Anda di halaman 1dari 8

Latar belakang masalah 1. Peningkatan angka harapan hidup di negara-negara sub-Sahara Afrika tidak diiringi dengan fertilitas.

Beberapa negara di Afrika, berhasil mendapatkan kemerdekaan sekaligus

meningkatkan angka harapan hidup, namun penurunan angka kelahiran masih jarang dijumpai. Banyak negara di wilayah sub-Sahara Afrika yang masih berupa negara dengan sektor ekonomi yang tidak stabil, pelayanan kesehatan yang buruk, tingkat inflasi yang tinggi sementara tingkat pendapatan rendah, serta sektor pertanian yang terbelakang. 2. Tingginya tingkat anak yang mengalami gizi buruk merupakan dampak dari buruknya tingkat ekonomi serta tingginya angka kelahiran. Kondisi ekonomi yang buruk yang membuat keluarga di Afrika tidak mampu membeli makanan yang layak. Angka kelahiran yang tinggi menyebabkan sumber daya yang tidak seberapa jumlahnya harus dibagi ke banyak anggota keluarga mengakibatkan anak menderita gizi buruk. 3. Perempuan lebih rentan mengalami resiko gangguan kesehatan reproduksi dibanding laki-laki Sepertiga dari total kasus gangguan kesehatan di Afrika merupakan masalah wanita berkaitan dengan kehamilan, persalinan, aborsi, HIV, dan gangguan kesehatan lainnya. wanita cenderung menghadapi lebih banyak risiko dibandingkan laki-laki meskipun keduanya terlibat dalam hal seksualitas dan kesehatan reproduksi. Meningkatkan kesehatan reproduksi wanita diyakini mampu memberikan hasil yang setara dengan program pelayanan keluarga berencana. Rumusan Masalah Tingginya kelahiran dan buruknya kondisi ekonomi negara-negara sub-Sahara Afrika mengakibatnya tingginya kasus malnutrisi. Sementara gizi yang buruk akan mempengaruhi kesehatan reproduksi yang berperan penting dalam fertilitas. Berdasarkan hal di atas, menarik untuk meneliti keterkaitan antara gizi dan kesehatan reproduksi.

Kerangka teori Penjelasan: Kesehatan reproduksi yang buruk membuat seorang wanita mengalami komplikasi kehamilan yang berakibat pada menurunnya kesehatan bayi. Hal ini membuat anak yang lahir memiliki resiko kematian yang tinggi. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kematian anak-anaknya, orang tua di Afrika cenderung menambah jumlah anak mereka (APPRC, 1998). Meningkatnya jumlah anak mengakibatkan banyaknya jumlah orang yang harus diberi makan sementara jumlah pangan yang tersedia terbatas. Akibatnya terjadi kekurangan gizi atau gizi buruk pada anak. Sementara itu, status gizi juga mempengaruhi kesehatan reproduksi. Jika status gizi seorang wanita buruk, alat-alat reproduksinya pun terganggu. Resiko komplikasi kehamilan menjadi tinggi dan janin mendapatkan nutrisi yang tidak optimal. Akibatnya bayi terlahir memiliki berat badan rendah serta kondisi kesehatan yang buruk. Hal ini memperbesar peluang kematian pada bayi. Atau bisa saja ibu dengan gizi buruk mengalami keguguran. Akibatnya orang tua di Afrika cenderung ingin menambah lagi jumlah anaknya untuk mengantisipasi dua hal di atas yaitu: meninggalnya anak ataupun gugurnya janin. Meningkatnya keinginan orangtua untuk menambah jumlah anak menyebabkan jumlah penduduk meningkat yang berdampak pada tidak meratanya gizi yang diberikan kepada anak-anak sehingga anak-anak pun rentan menderita gizi buruk. Dari segi fertilitas, semakin besar ukuran suatu keluarga maka semakin banyak jumlah anggota keluarga yang harus diberikan makanan. Sementara makanan yang mampu disediakan terbatas sehingga keluarga mendapatkan nutrisi yang tidak optimal (gizi buruk). Dari kepala ruta, dalam penelitian ini disebutkan bahwa ruta dengan KRT perempuan akan lebih rentan mengalami gizi buruk dibanding yang KRT-nya laki-laki sebab di afrika ada perbedaan jender dalam pekerjaan, disamping itu KRT perempuan juga mempunyai beban yang besar disamping sebagai tulang punggung keluarga juga harus mengurus rumah tangga. Tingkat penggunaan program KB secara tidak langsung dapat menyebabkan status gizi dan kesehatan anak-anak lebih baik karena penggunaan kontrasepsi secara

langsung memperpanjang jarak kelahiran dan mengurangi jumlah anak. Adanya jarak kelahiran yang panjang meningkatkan durasi perawatan gizi anak oleh ibu. Dari segi ekonomi, indikatornya yg pertama adalah pendapatan. Besarnya pendapatan berhubungan dengan kemampuan menyediakan pangan yang lebih baik karena dengan adanya pendapatan yang besar suatu keluarga akan mampu membeli bahan makanan yang layak. Oleh karena itu, dirumuskan bahwa keluarga dengan pendapatan dari bidang non-pertanian akan memiliki hubungan positif dengan malnutrisi pada anak-anak. (KENAPA) Kemampuan baca tulis (literasi) mempengaruhi status gizi anak-anak melalui dua cara: Pertama, hal ini memungkinkan ibu maupun pengasuh lainnya untuk memberikan lebih banyak perawatan gizi kepada anak-anak karena adanya kemampuan membaca atau menulis. Kemampuan baca tulis juga meningkatkan peluang pasar tenaga kerja dan pendapatan ibu, yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan makanan dan kesehatan anak-anaknya. Dirumuskan bahwa semakin tinggi tingkat literasi maka tingkat kekurangan gizi pada anak-anak semakin rendah. Pemberian ASI: Pemberian ASI kepada anak-anak mampu meningkatkan kesehatan anak-anak karena ASI mengandung nutrisi yang dibutuhkan anak dan ASI memberikan kekebalan infeksi serta mencegah pertumbuhan bakteri. Map plan

Penjelasan: Hubungan antara gizi dan fertilitas ini bersifat siklik Seorang ibu yang menderita malnutrisi akan berdampak pada dua hal: komplikasi kehamilan (pada ibu yang tengah mengandung) dan menurunnya kemampuan reproduksi. Penurunan kemampuan reproduksi sejalan mengakibatkan jarak kelahiran menjadi semakin panjang dan paritas menjadi semakin kecil. Komplikasi atau gangguan kehamilan mengakibatkan terganggunya kesehatan janin akibatnya terjadi keguguran. Hal ini menyebabkan tidak adanya kegiatan menyusui (karena janin telah mati sebelum dilahirkan). Umumnya kegiatan menyusui selama masa nifas dapat memberikan tubuh pertahanan alami untuk mencegah kehamilan, namun karena kegiatan menyusui ini terhenti akibatnya tidak ada KB alami tubuh sehingga peluang seorang ibu untuk hamil lagi menjadi besar dan ini berarti memperpendek interval kelahiran dan meingkatkan paritas. Gangguan kehamilan juga berdampak pada meningkatnya keinginan orang tua untuk menambah jumlah anak. Saat ibu mengalami keguguran akibat komplikasi kehamilan, harapannya untuk memperoleh anak menjadi hilang. Akibatnya timbul keinginan untuk menambah lagi jumlah anak mereka. Hal ini akan memperpendek jarak kelahiran dan meningkatkan paritas. Malnutrisi pada ibu juga akan menurun kepada anaknya. Kekurangan gizi pada anak menyebabkan kematian akibat mereka tidak mampu bertahan hidup. Kematian anak ini membuat para orang tua cenderung untuk menambah jumlah anaknya untuk menggantikan anaknya yang telah meninggal. Keinginan menambah jumlah anak ini tentu akan memperpendek jarak kelahiran dan meningkatkan paritas. Dampak lebih lanjut dari pendeknya interval kelahiran dan meningkatnya paritas ini adalah meningkatnya kekurangan gizi pada ibu dan anak. Metodologi 1. Sumber Data Data Sekunder bersumber dari Survei Demografi dan Kesehatan (DHS) di beberapa negara sub-Sahara Afrika 2. Metode Analisis

Analisis Deskriptif ( tidak adanya hipotesis dan inferensia) Pembahasan Tabel 1: tabel proyeksi penduduk dunia tahun 1995-2020 ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tertinggi di dunia terdapat di Afrika di mana pertumbuhannya sebesar 2,4 persen dan di negara-negara sub-Sahara Afrika sebesar 2,6 persen. Hal ini terjadi karena didorong oleh tingginya tingkat kelahiran. Tabel 2: menunjukkan bahwa di negara-negara berkembang, diperkirakan 840 juta orang, termasuk di antaranya 179 juta anak-anak, tidak menerima cukup kalori untuk pertumbuhannya dan kesehatan fisiknya. Sekitar 43 persen dari penduduk di negara SubSahara dan sekitar 22 persen penduduk Asia Selatan serta 12 persen penduduk Afrika Utara yang kekurangan gizi. Tren menunjukkan bahwa jumlah orang yang kekurangan pangan telah berkurang secara drastis di belahan dunia lainnya, namun tidak di Afrika. Jumlah dan persentase penduduk yang menderita gizi buruk bukannya menurun namun terus meningkat disebabkan karena tingginya pertumbuhan penduduk. Tabel 3: menunjukkan bahwa pada umumnya IMR cenderung menurun di sebagian besar negara-negara Afrika kecuali Malawi dimana jumlah IMR-nya masih lebih dari 100. TFR masih sangat tinggi di Ethiopia, Uganda, Malawi dan Nigeria. Perkiraan jumlah kelahiran pada tahun 1999 yang tertinggi adalah di Nigeria diikuti oleh Ethiopia. Persentase kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih tertinggi adalah di Zimbabwe. Zimbabwe juga memiliki persentase tertinggi wanita yang menggunakan metode perencanaan keluarga modern, diikuti oleh Kenya. Sementara itu, tren HIV menunjukkan bahwa Zimbabwe memiliki persentase tertinggi orang dewasa yang menderita HIV / AIDS diikuti oleh Malawi dan Kenya. Tabel 4: menunjukkan bahwa semua negara memiliki kematian ibu pada umumnya tinggi. Ghana, Ethiopia dan Senegal menunjukkan lebih dari 900 kematian/100.000 kelahiran. Zimbabwe memiliki jumlah kematian ibu yang cukup rendah sebesar 77. Zimbabwe juga memiliki TFR terendah. Semua negara umumnya memiliki data yang hampir sama pada tingginya jumlah bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Persentase ibu hamil yang menderita anemia umumnya tinggi semua negara. Tabel 5: Semua negara menunjukkan proporsi yang sangat tinggi. Hanya 16 persen dari anak di Ghana dan Senegal disusui dalam waktu 1 jam setelah melahirkan dibandingkan dengan 59

persen di Malawi. Lebih dari 50 persen anak-anak di Ethiopia dan Uganda diberi ASI eksklusif 6 bulan dan hanya 1 persen dan 2 persen yang diberi ASI eksklusif di Nigeria dan Malawi. Semua negara telah menambahkan beberapa makanan pelengkap bagi anak-anak yang berusia 6-9 bulan. Di semua negara, median lamanya menyusui adalah sekitar 19-21 bulan. Tabel 6: tinggi seorang ibu yang kurang dari 145 cm dan BMI kurang dari 18,5 % dikategorikan sebagai status gizi buruk. Eritrea memiliki persentase terbesar untuk ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm. Eritrea juga merupakan yang tertinggi untuk persentase ibu dengan BMI di bawah 18,5 % yaitu sebesar 31,6 %. Tabel 7: menunjukkan persentase anak usia di bawah lima tahun yang dikategorikan kekurangan gizi menurut tiga indeks antropometri. Indeks Antropometri ada 3: Indeks Tinggi badan-untuk-usia (indeks HA), indeks Berat badan-untuk-usia (indeks WA) dan indeks Berat badan-untuk-tinggi (indeks WH). Cara perhitungannya adalah seorang anak diukur berat dan tinggi badannya untuk masing-masing indeks dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil pengukuran anak yang berasal dari kelompok referensi (anak yang mendapat nutrisi sesuai dengan jumlah nutrisi referensi NCHS dan CDC). Jika seorang anak setelah diukur untuk masing-masing indeks hasilnya berada di bawah (-2 SD)kelompok referensi akan dikategorikan gizi buruk. Jika hasilnya berada di bawah (-3 SD) dikategorikan mengalami gizi buruk akut dan kekerdilan. Dari tabel 7 diketahui untuk indeks HA lebih dari 35 % anakanak di Nigeria, Zambia, Kenya dan Eritrea berada di bawah -2 SD. Pada indeks WH, Eritrea dan Ghana memiliki lebih dari 10 persen anak-anak yang berada di bawah -2 SD. Sementara itu untuk WA, pada Tabel 7 menunjukkan bahwa Eritrea yang terburuk dengan 36 persen anak-anak dibawah -2 SD dan diikuti oleh Nigeria (36 persen). Mesir adalah satu-satunya negara dengan nilai indeks WA di bawah 10 persen. Pembahasan (8): dari data yang terkumpul diketahui beberapa kondisi di Afrika sebagai berikut 1. Jumlah kehamilan dan kelahiran : (penjelasannya) Di sebagian besar negara Afrika, tingkat fertilitasnya tinggi, penggunaan kontrasepsi masih rendah dan jarang, serta interval kelahiran yang pendek. Seorang wanita yang mengalami kurang gizi dan hidup dalam kemiskinan akan berdampak buruk terhadap kesehatannya

Beberapa suku Afrika menganggap ASI sebagai racun sehingga kegiatan menyusui dihentikan samasekali padahal ASI dapat secara alami memperpanjang interval kelahiran

Penelitian ini juga menunjukan bahwa anak yang terlahir dengan urutan lebih tinggi atau terlahir di keluarga dengan jumlah naak yang banyak cenderung menderita kekurangan gizi, tumbuh lebih lambat dan umumnya menderita anemia (Toroitich-Ruto, 1998; Alderman et al, 1997; Pollitt, 1990, NAC, 1975).

2. Usia pada setiap kehamilan dan kelahiran: tingginya mortalitas dan morbiditas statistik di kalangan perempuan dan anak-anak diperkirakan penyebabnya adalah karena para perempuan melahirkan saat masih sangat muda dimana tubuhnya belum siap secara fisik untuk melahirkan sebagian besar negara Afrika memiliki perawatan kebidanan yang minim akibatnya ibu-ibu muda ini tidak mampu mengakses fasilitas kesehatan disebutkan cara efektif mengatasinya: menunda usia pernikahan pertama dan usia kelahiran pertama => semakin muda usia pernikahan pertama, semakin besar jumlah anak yang kemungkinan akan dimiliki. Melahirkan usia dini menyebabkan kemiskinan perempuan sebab perempuan Afrika yang telah melahirkan tidak boleh kembali ke bangku sekolah akibatnya mereka sulit mendapat pekerjaan dengan gaji layak. 3. Keyakinan bahwa orang tua akan terus menambah jumlah anak : Di Afrika di mana tingkat kematian masih sangat tinggi, ada keyakinan bahwa orang tua akan terus menambah jumlah anak hingga mereka yakin bahwa anak-anak yang mereka miliki tidak akan mati. Namun saat anak-anak ternyata banyak yang mampu bertahan, efeknya adalah meningkatkan size keluarga dan mempercepat pertumbuhan penduduk (APPRC, 1998) Namun pertumbuhan penduduk akhirnya akan berkurang karena orang tua akan melihat bahwa anak-anak mereka ternyata mampu bertahan hidup dan mereka akan berhenti melahirkan lebih awal. Jika hal ini terjadi, berarti pertumbuhan penduduk hanya akan menurun jika terjadi peningkatan kesehatan dan gizi

4. Jangka waktu pemberian ASI setiap bayi dan periode frekuensi laktasi Kesimpulan: Antara kesehatan reproduksi dan status gizi memiliki keterkaitan yang saling timbal balik. Kesehatan reproduksi yang buruk membuat seorang wanita mengalami komplikasi kehamilan yang berakibat pada menurunnya kesehatan bayi. Hal ini membuat anak yang lahir memiliki resiko kematian yang tinggi. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kematian anak-anaknya, orang tua di Afrika cenderung menambah jumlah anak mereka (APPRC, 1998). Meningkatnya jumlah anak mengakibatkan banyaknya jumlah orang yang harus diberi makan sementara jumlah pangan yang tersedia terbatas. Akibatnya terjadi kekurangan gizi atau gizi buruk pada anak. Sementara itu, status gizi juga mempengaruhi kesehatan reproduksi. Jika status gizi seorang wanita buruk, alat-alat reproduksinya pun terganggu. Resiko komplikasi kehamilan menjadi tinggi dan janin mendapatkan nutrisi yang tidak optimal. Akibatnya bayi terlahir memiliki berat badan rendah serta kondisi kesehatan yang buruk. Hal ini memperbesar peluang kematian pada bayi. Atau bisa saja ibu dengan gizi buruk mengalami keguguran. Akibatnya orang tua di Afrika cenderung ingin menambah lagi jumlah anaknya untuk mengantisipasi dua hal di atas yaitu: meninggalnya anak ataupun gugurnya janin. Meningkatnya keinginan orangtua untuk menambah jumlah anak menyebabkan jumlah penduduk meningkat yang berdampak pada tidak meratanya gizi yang diberikan kepada anak-anak sehingga anak-anak pun rentan menderita gizi buruk.